Monday, August 15, 2016

PENGUMUMAN

Novel KPPL episode ke 2 ini sudah hampir selesai penulisannya. Sekarang saya sedang membuat novel baru dengan tema detektif. Tokohnya hampir-hampir mirip Chu Liu Xiang, hanya saja settingnya di dunia modern.

Monggo dinikmati, semoga para pembaca sekalian terhibur. 

Badai Awan Petir


Sunday, July 3, 2016

EPISODE 2 BAB 54 MUSUH DALAM SELIMUT


Ada belasan atau mungkin puluhan layang-layang di udara. Cio San dapat menduga bahwa pasti ada penunggang yang berada di atas layang-layang itu. Ia menoleh kepada Suma Sun untuk benar-benar memastikan sahabatnya itu baik-baik saja. Pendekar pedang itu tampak biasa saja, seolah tak ada apa-apa yang terjadi padanya. Segala racun telah berhasil ia keluarkan seluruhnya dari tubuhnya.Hanya lengan bajunya yang hancur hangus terbakar.

Cukat Tong pun sudah mendarat dengan ringan di atas bumi yang penuh dengan tumpukan mayat di mana-mana. Bau darah dan belerang menyesakkan hidung. Ketiga pendekar itu berdiri dikelilingi sisa-sisa pasukan kawan dan musuh yang terdiam. Tak perduli kawan dan lawan, para prajurit seluruhnya dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.

Suma Sun mengancungkan tangan kirinya ke depan. Katanya, “Kau ingin menghancurkan layang-layang di atas sana?”

“Tidak. Aku ingin kembali ke sebuah bukit kecil di sana,” jawab Cio San sambil menunjuk. Meskipun Suma Sun tak dapat melihat, ia dapat “mendengar” arah itu.

Cio San ingin pergi ke bukit itu karena ia tahu, Suma Sun dan Cukat Tong sudah tidak membutuhkannya lagi di sini. Mereka berdua saja sudah cukup untuk menghadapi semua orang yang berada di medan pertempuran ini.

Ia melangkah dengan mantap menyongsong tangan Suma Sun yang masih mengacung ke depan. Ia pun menyambut tangan itu dengan tangannya sendiri. Bertahun-tahun mereka bersahabat, mungkin baru kali ini mereka saling menggenggam tangan. Saling percaya. Saling menguatkan. Masing-masing memahami bahwa mereka tidak akan saling mengecewakan satu sama lain.

Apabila engkau memiliki satu saja sahabat seperti ini di sepanjang hidupmu, sesungguhnya kau tidak memerlukan orang lain lagi.

Cio San menoleh kepada Cukat Tong dan berkata, “Jangan biarkan ia membunuh terlalu banyak orang.”

‘Aku tidak dapat menjamin hal ini,” tukas Cukat Tong sambil tertawa.”Pergilah. Serahkan semua ini kepada kami.”

Ganggaman tangan semakin erat. Suma Sun cukup memutar tubuhnya satu kali, lalu ia melemparkan Cio San sangat jauh. Sang jenderal Phoenix melayang bagaikan burung Hong yang terbang menghujam menembus awan. Tubuhnya melesat secepat kilat ke arah bukit di mana sang kaisar bersembunyi.

Dengan sebuah poksai (salto) yang indah, Cio San sudah mendarat dengan mulus. Li Ping Han dan para anak buahnya telah berjaga-jaga mengelilingi kereta perang sang kaisar. Cio San tahu sang kaisar cukup aman berada di dalam kereta itu.

“Saudara sekalian baik-baik saja kah?” tanyanya.

“Sejauh ini kami baik. Tetapi lemparan peledak dari layang-layang di atas telah cukup menghancurkan daerah pertahanan kita,” jawab Li Ping Han.

Cio San memperhatikan sekeliling, memang keadaan di sana sudah sangat gawat. Satu-satunya pertahanan yang tersisa adalah tumpukan batu karang dan pepohonan yang menutupi kereta kaisar. Selain itu, tidak ada lagi unsur pertahanan yang bias mereka andalkan.

Dari atas langit bau belerang semakin tajam. Para penyerang sudah mempersiapkan serangan berikutnya. “Apa yang bisa saudara-saudara lakukan dalam menghadapi serangan ini?” tanya Cio San.

“Kami bisa memanah peledak itu ketika masih di udara, tetapi ada beberapa yang lolos dan tidak bias dihindari,” jawab Li Ping Han.

“Baik,” gumam Cio San. “Berikutnya, cayhe (saya) yang akan menghancurkan peledak itu, para saudara harap memanah yang tersisa”.

“Siap!” jawab beberapa pengawal gagah itu.

Peledak pun diluncurkan dari udara. Datangnya sangat deras. Puluhan, bahkan ratusan peledak yang amat sangat dahsyat daya hancurnya.

Cio San tidak perlu menunggu lebih lama, segera ia menghantam peledak itu jauh sebelum senjata mengerikan itu mendekati mereka.

“Naga Menggerung Menyesal!”

Siapa yang mampu meragukan kedahsyatan pukulan itu? Siapa yang jantungnya tidak bergetar saat kata-kata itu diucapkan?

Pukulan jarak jauh yang amat sangat diandalkannya. Jurus legendaris itu tidak pernah mengecewakannya!

Ledakan dahsyat terjadi di langit. Suaranya menggelegar bagaikan guntur di siang hari. Semua kepala menengadah ke angkasa. Layang-layang berjatuhan bagaikan kawanan burung yang terpotong sayapnya. Oleng dan meluncur menghempas ke bumi.

Rupanya ledakan senjata yang dihasilkan oleh pukulan Cio San telah berhasil menghancurkan pula layang-layang yang berisi para penyerang. Hanya dalam sekali pukul ia berhasil mematahkan siasat musuh yang menyerang dari udara.

Wussssssssss!

Sebuah suara yang amat sangat dikenal Cio San.

Suara lirih yang jauh lebih menakutkan dari suara apapun. Suara yang menyusup di antara keriuhan suara ledakan di angkasa.

“Awas panah!” terdengar Suma Sun mengirimkan suara dari jarak jauh kepada Cio San. Tetapi bahkan suara Suma Sun pun kalah cepat dengan laju suara mendesis itu.

Cio San bergerak!

Tetapi ia terlambat!

Panah itu sudah menghujam masuk ke dalam kereta. Braaaaaaakkkk!

Jlebbbbbbbbb!

Panah kecil itu menusuk dada kaisar dan tembus menancap di dinding belakang kereta. Betapa mengerikannya kekuatan panah ini. Betapa hebat sang pemanahnya!

Siapa gerangan dirinya?

“Yang mulia!” seluruh pengawal berlari ke arah sang kaisar yang kini terkulai lemas. Darah hitam menyembur dari mulutnya bagaikan air mancur di dalam taman. Darah itu amat hitam. Panah itu rupanya sudah diolesi racun yang amat mematikan. Dalam hitungan detik saja telah mampu menghitamkan darah manusia.

Keji.

Hanya Li Ping Han masih berdiri tegap di tempatnya. Ia memandang tubuh kaisarnya dengan nanar. Ada kesedihan, ada rasa kasihan, ada rasa bersalah. Namun juga ada rasa lega di sana.

Cio San memandangnya dengan penuh tanda tanya. Mengapa Li Ping Han merasa lega? Daya pikirnya bekerja dengan keras. Dalam sekejap saja, Cio San sudah memahami segalanya. Namun ia diam. Ia tidak ingin membongkar rahasia besar yang tersimpan rapat ini.

“Kaisar telah tewas! Kaisar telah tewas!” terdengar gemuruh suara dari pihak lawan. Mereka bersorak sorai gembira.

Cio San hanya bisa memandang Li Ping Han.

Pasukan kerajaan yang mendengar sorak sorai ini jadi kehilangan kendali. Mereka kehilangan semangat berperang. Apa yang harus mereka perjuangkan? Kaisar mereka telah tewas. Pemendangan yang terjadi di atas bukit memang bisa sedikit terlihat karena batu-batu dan pepohonan yang tadinya menutupi keadaan di sana sudah hancur terkena peledak.

Mereka yang memiliki mata tajam, akan mampu menyaksikan apa yang terjadi di bukit kecil itu.

“Letakkan senjata! Menyerahlah!” para prajurit musuh seperti mendapat angin. Keberanian mereka bertambah. Daya tempur mereka meningkat dalam sekejap. Mereka menang!

Para prajurit kerajaan mulai membuang senjata mereka satu persatu-satu. Dan tanpa ampun kepala mereka ditebas oleh musuh. Alangkah kejamnya pasukan musuh.

Pasukan kerajaan telah kehilangan seluruh semangatnya. Para penglima pun sudah tak tahu harus berbuat apa. Satu persatu mereka dibantai tanpa melakukan perlawanan sama sekali.

Cio San tetap memandang Li Ping Han dengan penuh keheranan.

“Paduka, tidak membuka rahasia yang sebenarnya?” tanyanya.

Sekejap Li Ping Han tersentak. Ia hanya memandang Cio San, lalu berkata, “Cukup. Sudah cukup. Aku tak ingin ada peperangan lagi. Sudah terlalu banyak orang yang mati karena ini semua…..,”

“Lalu kenapa paduka tidak segera membuka penyamaran dan kembali memberi semangat kepada pasukan? Kenapa di saat-saat seperti ini, paduka justru menyerah? Bukankah nyawa yang telah terbuang untuk kekuasaan paduka hanya terbuang sia-sia?” kata Cio San dengan setengah berteriak.

Para pengawal lain tidak mengerti mengapa Cio San memanggil atasan mereka dengan sebutan “Paduka”. Mereka berpikir mungkin Cio San sudah sedikit gila akibat peperangan.

Lalu Li Ping Han memegang wajahnya. Dengan sekali gerakan ia menarik lapisan kulit yang menutupi wajahnya. Muncul wajah agung sang kaisar.

Wajah itu Nampak sangat agung dan berwibawa. Tetapi begitu diliputi kesedihan. “Cio-hongswee, mohon bantu aku untuk menyelamatkan pasukan yang tersisa. Kita telah kalah segalanya. Kalah pasukan, kalah siasat, kalah ilmu, dan kalah segalanya. JIka perang diperpanjang, aku khawatir tiada lagi manusia yang tersisa di bumi ini.”

Ya, Cio San memahaminya. Pasukan kerajaan memang sudah sangat terdesak. Musuh seperti memiliki siasat yang sangat beragam dan berbahaya yang datang bagaikan gelombang badai yang tak pernah berhenti. Para penglima kerajaan tak sanggup menghadapi siasat dahsyat ini.

Siapa gerangan di balik siasat ini?

Siapa gerangan di balik kekejaman ini?

“Kau mundurkan lah pasukan. Selamatkanlah yang tersisa,” pinta sang kaisar.

Cio San hanya bisa mengangguk. Segera ia melayang turun bergabung dengan Cukat Tong dan Suma Sun yang masih bertempur menyelamatkan pasukan yang tersisa. Amarahnya melebur bersama kesedihan. Keinginannya hanya satu, menghancurkan siapa saja yang terlibat dengan pembantaian yang mengerikan ini.

Suma Sun dan Cukat Tong memandangnya dengan iba. Mereka tahu, kemampuan mereka bertiga masih belum sanggup untuk meruntuhkan siapa pengatur siasat ini. Rasanya sejak awal mereka telah terjatuh dalam permainan besar ini. Segala sesuatu tertata rapi dan mengalir bagaikan alur kehidupan yang harus mereka jalani. Ternyata semuanya adalah bagian dari siasat besar untuk menggulingkan kekuasaan.

Dan mereka adalah buah-buah catur kecil yang harus dihabiskan sebelum sang lawan sampai pada sang raja.

Dalam hati Cio San merintih. Ia telah bosan terhempas dalam pusaran perebutan kekuasaan. Sejak kecil ia telah terseret ke dalam gelombang dahsyat ini. Kehilangan orang tua, guru, dan sahabat. Kini terjadi lagi. Dalam siasat dan pengaturan yang tidak kalah hebatnya.

Semuanya berkaitan. Semuanya terjalin dalam potongan-potongan cerita kecil yang menjelma menjadi sebuah kisah yang besar nan agung.

Kekuasaan.

“Celaka!” tukas Suma Sun.

Cio San dan Cukat Tong menoleh. Suma Sun sedang menuding ke arah bukit tempat kaisar terbunuh. “Ada apa?” tanya Cio San.

“Musuh mengirimkan pasukan khusus ke bukit!” teriak Suma Sun.

“Cepat, lempar aku! Cukat Tong, kau bantu menarik mundur pasukan!”

Suma Sun dan Cio San kembali bergandeng tangan. Sekali gerak, Cio San sudah melayang ke udara. Tetapi kembali terdengar suara wussssssssss!

Panah itu mengejar lagi.

Semua hal ternyata sudah direncanakan sedemikan rupa! Segala hal sampai yang sekecil-kecilnya!

Suma Sun melemparkan potongan tombak ke arah panah itu. Tetapi bahkan kehebatan lemparan Suma Sun pun masih kalah cepat dengan luncuran panah yang kini mengejar pundak Cio San!

Sang jendral Phoenix memutar tubuh. Ia tahu ia tidak punya kuda-kuda yang cukup untuk melancarkan pukulan dahsyatnya.  Ia dapat menggunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh) nya yang sangat tinggi untuk tahu-tahu berhenti atau merubah gerak di udara. Tetapi ia tidak ingin melakukannya, karena ia tahu hal ini akan memperlambat sampainya ia di atas bukit untuk menolong kaisar.

Ia pun ingin melakukan satu hal, mengirimkan pesan yang padat dan jelas kepada siapa pun pengatur siasat dahsyat ini: Aku tidak takut kepadamu!

Cio San memutar tubuh dan menyambut anak panah dengan dua jarinya.

Cukup dua jari. Anak panah itu terjepit dengan sempurna. Penempatan waktu, kecepatan, naluri, serta perasaan yang terlibat di dalam gerakan ini sungguh tak dapat diungkapkan dalam kata-kata. Siapa yang memanah panah ini adalah seorang yang sungguh hebat dalam ilmunya dan tiada tandingannya. Tapi siapa yang mampu menangkap panah itu, justru dia lah pendekar sakti sebenarnya.

Cio San memasukkan panah itu dibalik bajunya. Sekejap ia melihat panah itu tidak beracun. Berarti sang pemanah mengetahui bahwa menggunakan racun terhadap dirinya adalah sia-sia. Dalam hati Cio San bergidik juga. Ternyata perhitungan si pengatur siasat sangat matang. Ia sengaja tidak mengolesi racun di anak panah itu juga agar panah itu dapat melaju lebih kencang.

Sang pendekar muda ini melayang turun, dengan indah. Ia terlambat, kaisar sudah tidak berada di sana. Para pengawalnya pun sudah tewas dengan menggenaskan. Telinganya mendengar derap kami pasukan yang melayang melalui jalan belakang bukit. Ia segera bergegas ke sana.

Ketika sampai di bawah ternyata Pek Giok Kwi Bo sudah berada di sana menunggunya. “Jika kau maju selangkah lagi, aku akan membunuh kaisar busuk ini,” ancam si nenek iblis.

Tentu saja Cio San tidak ingin sembarang bergerak. Hatinya mencelos, tetapi wajahnya biasa-biasa saja. Ia bahkan tersenyum dan berkata, “Kalian sudah menang. Untuk apa lagi membawa paduka?”

“Hahaha. Apalah artinya kemenangan jika kita tidak menyimpan pialanya?” tawa si nenek iblis. Matanya memendang Cio San dengan penuh nafsu. Seolah ingin menelan pendekar muda itu bulat-bulat.

Cio San mengerti arti pandangan ini, dan di dalam hati ia sungguh merasa jijik. Tetapi ia kembali tersenyum dan berkata, “Jika dipikir-pikir, bukankah justru lebih baik kau membawa aku pergi?”

“Membawamu?” tanya si nenek iblis.

“Ya. Aku tahu kau benar-benar menginginkannya. Dalam lima ratus tahun, ku jamin belum ada orang seperti aku,” tukas Cio San.

Pek Giok Kwi Bo menjilat bibir bawahnya. Ia mengakui perkataan Cio San. Dalam 500 tahun, belum ada orang yang tampan, berilmu tinggi, dengan darah murni dan tenaga sakti seperti pemuda itu. Jika si nenek memakannya, bisa dibayangkan berlipat-lipat keuntungan yang dapatkan. Tenaga sakti, darah murni, dan wajah tampan yang bisa ia pakai bersenang-senang terlebih dahulu.
Sejenak nenek itu melamun memikirkan betapa beruntungnya dirinya memiliki Cio San. Tetapi seseorang mengirimkan suara dari kejauhan memerintahkan nenek itu untuk segera bergegas. Mendadak wajah si nenek berubah penuh ketakutan dan kepatuhan.

“Kau tinggal di sini! Jika kau berani menyusulku, segara ku makan kaisar ini hidup-hidup! Pasukan jaga dia jangan sampai meninggalkan tempat ini!” kata si nenek iblis. Segera setelah meninggalkan perintah, tubuhnya melesat dengan cepat. Cio San mengukur sebentar, di dalam hati ia mengakui kecepatan nenek itu setara dengan dirinya. Amat sangat sulit mengalahkan nenek ini.

Tak lama setelah nenek itu pergi, Cio San berkata kepada pasukan penjaga yang terdiri dari beberapa pendekar tangguh, “Kalian tahu bahwa kalian bukan tandinganku bukan?”

“Ya, kami tahu. Tetapi dengan bersatu, kami semua pasti mampu menahanmu. Tidak menang, tapi juga tidak kalah,” jawab salah seorang.

Cio San memperhitungkan kata-kata ini. Jika ia bergerak, mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama. Si nenek pasti akan sudah jauh sekali. Ia sendiri pun pasti akan kehilangan tenaga. Ia berusaha menimbang-nimbang dengan cepat.

Akhirnya ia memilih berlari kembali ke atas bukit. Para penjaga mengejarnya dari belakang. Sambil berlari Cio San mengirmkan suara kepada Cukat Tong. Sang raja maling mendengar permintaan sahabatnya dengan jelas. Ia mengeluarkan sebuah sempritan kecil dan meniupnya. Dalam hitungan detik, burung-burung peliharaannya yang tadi ia istirahatkan di dalam hutan berterbangan menuju bukit di mana Cio San berada.

Sang jenderal phoenix melompat ke jurang yang dalam dan terjal. Ia membalikkan tubuhnya ke belakang dan melontarkan pukulan jarak jauhnya yang sejak tadi memang sudah ia persiapkan, “Naga Bertempur di Alam Liar”. Jurus ketiga dari 18 Tapak Naga.

Pukulan itu mengeluarkan sinar keemasan yang menghujam keras ke para pengejarnya yang seakan-akan kaget Cio San mampu melontarkan serangan dari keadaan yang begitu sulit. Sinar naga itu menghantam mereka tanpa ampun, mereka terhempas jauh ke belakang. Terluka dalam cukup parah.

Tubuh Cio San melayang ke jurang terjal di bawahnya. Ia selalu percaya terhadap kemampuan sahabatnya. Jika burung-burung peliharaan Cukat Tong tidak datang tepat waktu, tentu saja tubuhnya akan hancur menghujam ke dalam jurang, meskipun setingga apapun ilmu ginkangnya.

Tetapi ia percaya Cukat Tong tidak akan mengecewakannya.

Dan tentu saja Cukat Tong tidak mengecewakan sahabatnya.

Burung burung itu menyambut deras laju Cio San dengan sangat sempurna, mendapat “pijakan” ini, Cio San lalu melenting lagi ke depan, kawanan burung mengejarnya lagi, mendapat pijakan lagi, melenting lagi, begitu seterusnya sehingga Cio San melayang dengan selamat di antara kedua sahabatnya.

Cukat Tong dan Suma Sun pun telah berhasil menarik mundur pasukan. Meskipun mereka mundur, setidaknya mereka tidak tercerai berai dan dihancurkan lawan. Ketiga orang sahabat itu segera memimpin pasukan untuk mundur ke dalam hutan.

Setelah semua masuk cukup dalam ke hutan, Cio San lalu membagi-bagi mereka dalam pasukan kecil. Kelompok kecil ini ditempatkannya untuk berjaga-jaga dan bertahan. Hanya mereka yang sehat yang berjaga-jaga, prajurit yang terluka segera mendapat perawatan seadanya.

“Apakah masih ada panglima yang tersisa?” tanya Cio San.

“Aku.” Mendengar suara itu, Cio San cukup lega, itu adalah suara Khu-goanswe (Jendral Khu). Seorang jendral kerajaan yang hamper menjadi paman mertuanya.

“Mohon goanswe mengambil alih pasukan,” kata Cio San.

Sang jendral tua yang gagah besar itu menggeleng, “Di saat seperti ini, Hongswe lah yang paling pantas memimpin kami.”

Cio San tertegun. Kembali lagi ia mendapat beban yang cukup berat. Dalam keadaan biasa, ia mungkin akan menerima. Tetapi dalam keadaan seperti, ia mengeraskan hati untuk menolak. “Cayhe harus menyelamatkan kaisar.”

“Apa? Kaisar masih hidup?” tanya Khu-goanswe.

“Ya. Paduka tertawan musuh,” jelas Cio San.

“Aihhhh…..,” sang jendral berpikir keras apa yang harus ia lakukan. “Apakah hongswe akan menyusup ke tempat musuh untuk menyelamatkan kaisar?”

“Ya. Sekarang juga cayhe berangkat,” kata Cio San.

“Baiklah. Biar aku yang menangani keadaan di sini. Urusan ini sepenuhnya berada di tangan Hongswee. Kami benar-benar berharap Hongswee dapat menyelamatkan kaisar,” pinta Khu-goanswe dengan sungguh-sungguh.

“Baik goanswe. Doakan cayhe dapat menunaikan tugas ini dengan baik. Cayhe mohon diri.” Cio San kemudian melesat pergi dari situ. Ia menemui Suma Sun dan Cukat Tong yang sedang berjaga-jaga.

“Kau pergi sekarang?” tanya Cukat Tong.

“Ya. Mau kah kau ikut denganku?”

Cukat Tong hanya tertawa. Tentu saja ia mau. 

“Suma-tayhiap, aku terpaksa mempercayakan penjagaan di sini kepadamu. Mohon maaf sedikit merepotkanmu,” kata Cio San kepada Suma Sun.

Pendekar buta itu hanya mengangguk, katanya dingin, “Pergilah.”

Cio San dan Cukat Tong berangkat. Suma Sun mengantarkan kepergian mereka sampai di ujung hutan. Setelah kedua sahabatnya itu pergi, ia tidak segera kembali. Justru ia mengambil jalan memutar.

Cio San dan Cukat Tong yang sudah cukup jauh dari sana tidak menjadi heran melihat perbuatan Suma Sun.

“Jika seekor serigala sudah muncul kembali naluri pemburunya, rasa-rasanya manusia yang bakal mampus akan menjadi cukup banyak,” kata Cukat Tong.

“Sejujurnya, aku justru lebih senang ia kembali seperti ini. Meskipun menjadi dingin dan acuh, setidaknya aku tak perlu lagi mengkhawatirkan dirinya,” tukas Cio San.

“Suma Sun yang sekarang justru sangat jauh berbeda dengan Suma Sun yang dahulu,” ujar Cukat Tong.

“Eh?”

“Ya. Suma Sun yang dahulu membunuh orang berdasarkan dendam. Suma Sun yang sekarang membunuh orang berdasarkan cinta,” tukas si Raja Maling.

Cio San mengerti betul arti kata-kata ini. Jika seseorang sudah kehilangan seluruh kehidupannya, maka ada 2 hal yang sanggup membuat orang itu bertahan hidup. Yang pertama adalah benci, yang kedua adalah cinta.

Dan cinta kadang begitu menakutkan. Ia pernah menyaksikan orang yang membunuh karena cinta. Perbuatan itu jauh lebih menyedihkan ketimbang orang yang membunuh karena benci.

Karena cinta dapat menguatkan dan melemahkan. Ia membuat orang waras menjadi gila dan orang gila menjadi waras. Di dunia ini, satu-satunya hal yang sanggup merubah sejarah hidup manusia selain kebencian, tentu saja adalah cinta.

Apakah karena itu Cio San sangat takut untuk jatuh cinta? Apakah ia takut cinta dapat merubah seluruh kehidupannya? Merubahnya menjadi seorang yang asing? Karena itukah, ia menutup hatinya sepenuhnya dari perasaan terhadap seorang perempuan?

Ternyata selain indah, cinta itu memang menakutkan.

Kau mungkin akan menuduh seseorang sebagai pengecut karena ia takut untuk jatuh cinta. Tetapi jika kau telah mengalami hal-hal mengerikan yang terjadi karena cinta, tentu kau pun akan bisa mengerti.

Hari sudah semakin gelap. Kedua orang sahabat ini menyusup di dalam kegelapan hutan.

“Melihat peperangan ini, aku menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita akhir-akhir ini, ternyata telah diatur dengan seksama oleh si ‘dia” kata Cukat Tong.

“Ya. Kau pun bisa menebaknya bukan? Begitu pintar ia mengatur bidak-bidak caturnya sehingga kita sendiri pun tidak menyadari bahwa kita merupakan bagian dari permainan ini,” ujar Cio San.

“Percobaan pembunuhan kepadamu, kepada Suma Sun, dan juga apa yang terjadi kepada diriku, apakah merupakan semua ulahnya?”

“Tentu saja. Bahkan sampai pada hal yang sekecil-kecilnya. Aku bahkan curiga, si pengatur siasat ini pun memperhitungkan kapan kita bernafas, kapan kita makan, dan kapan kita buang air,” kata Cio San sambal tertawa.

“Kau sudah tahu siapa dirinya?”

“Tentu saja. Ia adalah seorang musuh dalam selimut.”

“Siapa?”

“Kita akan segera bertemu dengannya!”











Saturday, December 26, 2015

BAB 53 SEMUA TANPA PEDANG, DI BAWAH LANGIT


Rombongan ini melaju ke depan. Mereka bergegas ingin sampai ke depan, di medan peperangan yang tampaknya telah menanti. Sebuah pesan melalui burung merpati datang memberitahukan bahwa perang telah di mulai.

Wajah sang Kaisar mengeras. Matanya mencorong tajam membaca berita itu. Cio San memberanikan diri untuk bertanya, “Jika perang sudah terjadi, apa rencana Yang Mulia selanjutnya? Apakah terjun langsung, atau….,”

Kaisar tidak menjawab, ia malah menatap Li Ping Han,

“Kami telah menyiapkan tempat tersembunyi di mana kami bisa mengamati perang dan memberi perintah. Mohon Hongswee turut bersama kami ke tempat itu,”kata Li Ping Han.

Untuk sekejap Cio San terheran mengapa ia tidak diperintahkan untuk terjun ke medan perang, tenaganya jelas sangat diperlukan di sana. Tetapi ia segera menyadari bahwa rombongan kaisar ini sangat membutuhkan perlindungan darinya karena kejadian menghilangnya 5 siucay tadi.

“Apakah Kim Sim Koksu (Guru besar Kim Sim) tidak turut di dalam rombongan ini?” tanya Cio San.

“Entahlah. Gerak gerik beliau tidak bisa di duga. Semua tergantung kebijaksanaan beliau sendiri. Terkadang beliu terjun ke dalam pasukan untuk turut mengatur prajurit, terkadang beliu turut dalam pertempuran, tapi terkadang juga beliau tetap di belakang dan memperhatikan situasi. Dalam hal ini, kami tidak pernah berani untuk meminta beliau melakukan apa-apa,” jelas Li Ping Han.

Cio San mengangguk mengerti. Memang untuk tingkatan manusia yang “paripurna” seperti Kim Kok Su, perbuatan dan sikap mereka tak pernah bisa diduga.

Sayup sayup di depan terdengar bunyi menggelegar. Mereka telah mendekati peperangan yang dahsyat. Cio San bergidik. Ia belum pernah mengalami peperangan dahsyat seperti ini. Beberapa tahun yang lalu ia pernah turut berperang mempertahankan istana dari serangan pemberontak. Tetapi peperangan itu tidak sebesar dan semenakutkan peperangan yang akan dihadapinya ini. Dari jumlah pasukan, persenjataan, dan alasan penyebabnya.
Mengapa manusia harus berperang, padahal toh akhirnya mereka akan mati juga?

Rombongan bergerak memutar. Mereka tidak langsung menuju daerah peperangan melainkan mengambil jalur lain yang berbeda. Rupanya rombongan menuju tempat rahasia yang tadi dijelaskan Li Ping Han. Semakin dekat, suara gemuruh peperangan semakin membahana. Bau darah, asap, dan mesiu mulai memenuhi udara. Di kejauhan Cio San bisa memandang pertempuran yang sangat dahsyat itu!

Puluhan ribu orang di sebuah dataran yang luas beradu senjata. Ada yang kepalanya terbabat putus, ada yang lengannya dibacok, ada yang kakinya dihujam tombak. Entah berapa puluh ribu panah yang melayang di angkasa. Entah berapa banyak jiwa meregang oleh panah-panah ini.

Rombongan kaisar terus bergerak. Menapaki sebuah bukit kecil yang tersembunyi. Betapa hebat sais kereta, kuda, dan keretanya sendiri. Di jalanan yang sesukar ini, kereta dapat melaju dengan cukup kencang tanpa ada kesulitan berarti. Semakin dekat ke puncak, suara gemuruh peperangan semakin terdengar jelas, pemandangan mengerikan pun semakin terlihat dengan jelas.

Jarak bukit dengan medan perang itu cukup jauh. Tetapi segalanya jelas terlihat dan terdengar dari sini. Siapa pun yang menemukan tempat ini, tentulah seorang ahli perang yang amat hebat, selain juga memiliki keberuntungan amat besar. Dengan letak bukit yang tersembunyi, daerahnya yang sukar dijangkau, serta jarak pandang yang bagus, bukit ini sendiri sudah menjadi sebuah benteng tersendiri yang sangat kokoh.

Cio San keluar dari kereta dan membantu para pengawal yang dengan sigap membentuk lagi sebuah benteng sederhana dengan menggunakan batang-batang pohon yang roboh. Mereka juga menggunakan tanaman-tanaman dan dedaunan untuk menyamarkan keadaan kereta. Dalam sekejap saja, kereta sudah tidak kelihatan, dan benteng kokoh sudah dibuat.

Kaisar di dalam kereta memperhatikan keadaan perang dengan seksama. Para pengawal menuju ke tempat-tempat yang sudah mereka sepakati. Masing-masing berjaga di sana. Yang paling jauh berjaga-jaga di bagian bawa bukit. Jika ia melihat sesuatu yang mencurigakan, ia bisa mengirimkan tanda bahaya kepada yang lain. Yang paling dekat adalah Li Ping Han. Ia mungkin orang kepercayaan kaisar yang paling dekat. Cio San sendiri mengagumi kecekatannya. 

Li Ping Han memanjat sebuah pohon. Dari situ ia bisa lebih jelas melihat jalannya peperangan yang amat sangat dahsyat itu. Cio San juga mengikutinya dan duduk di sebuah dahan yang lain. Dua pengawal yang lain berjaga-jaga di bawah melindungi kereta kaisar.

Di kejauhan Cio San mulai mempelajari peperangan itu. Pasukan kerajaan menggunakan baju zirah dari tembaga. Panji-panji mereka berwarna emas. Pasukan khusus kekaisaran menggunakan baju zirah mentereng yang berwarna emas. Dari kejauhan gerakan mereka menimbulkan kilatan cahaya yang menyilaukan.

Pasukan musuh ternyata tidak kalah banyaknya. Mereka menggunakan baju zirah tembaga dan baju zirah berwarna keperakan. Panji mereka berwarna hitam bergambar macan. Panah berterbangan memenuhi langit. Suara mesiu pun meledak menghancurkan apa saja. Penemuan bubuk mesiu sekitar seratus tahun yang lalu, berdampak besar pada peperangan. Semakin banyak orang yang mati, semakin mudah pula membunuh mereka.

Apa gunanya ilmu silat melawan gempuran mesiu seperti itu?

Li Ping Han melihat jalannya pertempuran dengan seksama. Ia lalu mengeluarkan sebuah sangkakala yang cukup besar dari balik pinggangnya. Saat ia meniupkannya, suaranya terdengar sangat bergemuruh. Nada-nada yang mengalun berbeda-beda. Nada ini merupakan perintah kepada pasukan untuk bergerak sesuai siasat. Amat sangat pintar!

Pasukan kerajaan lalu bergerak sesuai perintah nada-nada itu. Rupanya ini merupakan nada-nada rahasia yang hanya beberapa orang dari pasukan yang mengerti. Orang-orang inilah yang kemudian mengendalikan pasukan di medan pertempuran.

Sebelum nada-nada sangkakala itu dibunyikan, Cio San dapat melihat jelas bahwa pasukan kekaisaran agak sedikit terdesak meskipun jumlah mereka banyak. Dengan adanya panduan dari nada-nada ini, keadaan pasukan kekaisaran menjadi lebih baik. Mereka menjadi lebih teratur dan lebih trengginas. Terlihat pasukan lawan mulai kewalahan.

Tapi hal ini hanya berjalan sebentar karena kembai terlihat pasukan Kekaisaran mulai terdesak lagi. Bukan karena pasukan lawan, melainkan karena semburan-semburan api berwarna biru. Semburan ini membawa bau yang sangat busuk, bagaikan bau bangkai manusia. Di mana api dan aroma itu menyembur, di situ puluhan orang mati terkapar dengan mengerikan. Pemandangan ini sangat menakutkan. Cio San dapat melihat apa yang terjadi.
Pek Giok Kwi Bo.

Nenek ini bergerak dengan sangat cepat dan telengas. Ke mana ia bergerak, puluhan orang mati. Tak ada yang sanggup menghentikannya. Para ahli silat yang berada di dalam pasukan kekaisaran pun tak dapat menghentikan nenek ini. Api biru beracun berasal dari hembusan mulutnya.

Nafasnya mengeluarkan api bagaikan naga yang mengamuk marah!

Siapapun yang terkena hembusan nafas ini mati gosong oleh api beracun.

Cio San hanya bisa bergidik. Ia teringat keadaan tumpukan mayat saat ia dulu menyelidiki pasukan musuh. Semuanya mati menggosong dalam keadaan yang menggenaskan. Rupanya perbuatan nenek iblis ini. Ia mengepalkan tinjunya. Ingin sekali ia terbang turun ke bawah untuk bertarung dengan nenek itu.

Li Ping Han memperhatikan segala peristiwa ini. Raut wajahnya menampakkan kekhawatiran besar, namun ia bersikap sangat tenang. “Kita tidak memiliki pendekar tangguh yang sanggup menghadapinya,” kata pengawal itu.

“Saya bersedia turun ke sana jika Yang Mulia Kaisar memerintahkan,” kata Cio San.

Li Ping Han menggeleng, “Kehadiran Hongwsee di sini lebih diperlukan.”

“Tapi kita di sini hanya duduk sambil memandang para prajurit mati sia-sia,” tukas Cio San.

“Tidak. Ada rencana yang lebih besar yang harus kita hadapi. Kita hanya bisa menunggu,” jelas pengawal kepercayaan kaisar itu.

Dalam hati Cio San sebenarnya paham pasti ada siasat yang sedang dijalankan oleh Li Ping Han, tetapi hatinya tidak bisa tenang melihat pembantaian hebat di depan matanya. Sebagai seorang pendekar, hati kecilnya berteriak memaksanya untuk terjun ke medan laga.

Inilah perbedaan pendekar dan para jenderal perang. Di dalam peperangan, para pendekar tak akan pernah bisa menjadi jenderal karena hati dan jiwa mereka tidak akan mungkin tega mengorbankan prajurit lain. Hanya jenderal yang benar-benar tangguh dan teruji yang mampu dengan tenang menjalankan rencana-rencananya meskipun keadaan semakin terdesak. Meskipun banyak korban yang berjatuhan.

Menjadi jenderal perang ternyata tidak semudah bayangan orang. Kebanyakan orang mengira menjadi jenderal hanyalah duduk santai sambil mengatur siasat. Ternyata jauh lebih menyeramkan dan menakutkan dari itu. Cio San baru benar-benar memahaminya setelah mengalami sendiri.

Waktu terus berjalan, dan kematian terus terjadi.

Di pihak musuh, Pek Giok Kwi Bo merajalela. Teman-temannya yang juga merupakan pendekar-pendekar kaum sesat juga menggila dengan dahsyatnya. Para petarung yang membela kekaisaran sangat sedikit yang bisa menandingi mereka.

Sekali lagi Cio San terpana, dan ia menyesali keputusan kaum Bu Lim yang menyatakan menjauhkan diri dari urusan kekaisaran. Karena hal ini justru melemahkan tanah air. Pada awalnya kaum Bu Lim memang tidak ingin memihak pada perseteruan di dalam kekaisaran, tetapi langkah ini seperti pisau bermata dua. Ketika tanah air di serang, maka tak ada seorang pun pendekar sakti yang mempertahankannya.

Jika tanah air kembali dikuasai oleh bangsa lain seperti jaman dahulu dijajah oleh bangsa Goan (Mongolia), maka sepenuhnya ini merupakan kesalahan para pendekar dunia persilatan. Memang ada banyak pendekar yang turut mendaftar menjadi prajurit saat perang berlangsung, tapi umumnya mereka ini pendekar kelas menengah yang alasan bergabungnya hanyalah karena uang. Para pendekar hebat kelas atas, malah lebih suka menyendiri atau saling beradu silat.

Pasukan musuh terus bergerak maju. Gerakan mereka tak tertahankan karena dibantu oleh pasukan panah yang sangat hebat. Panah mereka sangat banyak, jauh lebih tepat, lebih cepat, dan lebih mematikan. Bagaimana musuh melatih pasukan panah yang begitu dahsyat?

Cio San memusatkan pandangannya. Ia kemudian dapat melihat bahwa pasukan musuh menggunakan senjata panah yang berbeda. Mereka tidak menggunakan busur biasa harus dipentang dulu kemudian dilepaskan anak panahnya, melainkan menggunakan sebuah busur kecil yang tidak perlu dipentang, cukup menekan tuas kecil maka 5 anak panah dapat ditembakkan sekaligus. Busur itu pun dapat menyimpan puluhan anak panah. Seseorang tidak memerlukan kekuatan yang besar untuk menarik busurnya. Ia cukup menekan sebuah tuas dengan jari telunjuknya.

Rupanya senjata panah ini yang dulu menyerangnya bersama Suma Sun dan hampir membuat mereka terbunuh. Memang bukan serangan dari senjata ini yang dulu membahayakan jiwanya, melainkan sebuah anak panah yang diluncurkan secara licik, dengan kemampuan yang sangat mengagumkan yang hampir menembus jantungnya. Tetapi senjata panah ini yang dulunya dilancarkan dengan sangat banyak sehingga ia tidak bisa menangkis panah utama yang ditujukan ke jantungnya itu.

Cio San mengepalkan tinjunya. Musuh besarnya sudah di depan mata, jika ia mau terjun ke medan peperangan, ia mungkin akan bertemu musuh besarnya itu. Tetapi di sini, kaisar membutuhkan perlindungannya. Di depan matanya, banyak manusia yang dibantai dengan begitu kejamnya.

Ia melihat pasukan kekaisaran mulai kocar-kacir. Pek Giok Kwi Bo dan kawan-kawannya telah berhasil mngobrak-abrik pasukan kekaisaran dengan cukup mudah. Semakin lama pasukan kekaisaran semakin mundur. Musuh seolah bertambah banyak, hadir dari kiri dan kanan. Tahu-tahu bagian dalam menyeruak keluar. Dan entah bagaimana dari luar bisa menyorong ke dalam.

“Aku tahu mengapa mereka bisa sebanyak itu. Karena mereka adalah pasukan kekaisaran yang membelot,” seru Li Ping Han.

“Membelot?”

“Ya. Selama ini kita dipusingkan dengan pasukan yang musnah dan hilang begitu saja. Seolah-olah musuh terlalu banyak dan menelan mereka. Tapi kini aku yakin, sebagian besar pasukan ini tidak musnah dan mati. Mereka bergabung dengan pasukan musuh,” kata Li Ping Han. “Gaya serangan pasukan ini merupakan ciri khas serangan pasukan kekaisaran. Pasukan lain tidak mungkin mempelajarinya. Pasukan kita rupanya telah berkhianat.”

Cio San mengerti. Hal ini cocok dengan penyelidikannya dahulu. Ia merasa banyak sekali pasukan yang dikirim, namun korban mati yang ia temukan tidaklah begitu banyak. Sebagian tubuh mereka dibakar agar mengacaukan jumlah. Tetapi jika seseorang mau teliti, ia dapat melihat jumlah yang mati jauh lebih sedikit daripada yang dikirimkan dahulu. Cio San mengira mereka ditawan. Ia sama sekali tidak mengira bahwa mereka malah bergabung dengan pasukan musuh.

Tentu karena uang. Hanya uang yang dapat merubah seorang kawan menjadi lawan.

Pembantaian terus berlangsung.

Darah muncrat di mana-mana.

Potongan tubuh manusia melayang dan bergelimpangan.

Teriakan bercampur dengan dentingan bunyi senjata.

Pemandangan yang paling mengerikan adalah ketika manusia membunuh manusia yang lain untuk alasan yang sama sekali tidak dipahami oleh mereka sendiri.

Ketika Cio San memalingkan wajahnya, ia justru melihat hal yang jauh lebih mengerikan dari itu. Pek Giok Kwi Bo sedang membunuh untuk kesenangan. Setiap ia bergerak puluhan orang jatuh hangus oleh api beracun. Para pendekar lain yang membantunya pun tidak kalah ganasnya. Jumlah orang yang mereka bunuh hari itu jauh lebih banyak daripada siapapun yang membunuh di sepanjang hidupnya.

Teriakan yang mati sungguh mengenaskan.

Cio San sudah tidak kuat lagi. Air matanya berlinang membasahi wajahnya. Ia sudah siap melayang turun ke bawah. Ketika didengarnya sesuatu datang dari kejauhan.

Kepakan sayap puluhan burung.

Sekejap jantungnya hampir berhenti berdetak. Kini wajahnya berseri-seri bahagia. Selama ini sahabat-sahabatnya tidak pernah berhenti mengecewakannya.

Cukat Tong telah tiba!

Tetapi ia tidak sendirian. Ada seseorang datang bersamanya.

Ang Hoat Kiam Sian.

Sang Dewa Pedang Rambut Merah!

Dewa kematian telah muncul kembali.

Seketika rasa bahagia Cio San berubah menjadi sedikit ketakutan. Ia tahu apa yang sanggup diperbuat Suma Sun jika lelaki itu mencapai puncak kemarahannya. Hari ini, hanya sedikit manusia yang akan lolos dari kematian!
Cukat Tong terbang rendah. Burung-burungnya menukik dengan tajam. Tak ada seorang pun yang menyadari kedatangan kedua orang pendekar itu. Suma Sun melayang turun dengan perlahan. Jubah putihnya melambai.

Begitu ia mendarat di medan laga, puluhan orang terlempar hanya karena kibasan kain bajunya. Ia tidak lagi menggunakan pedang. Lengan baju kanannya yang menutupi lengannya yang buntung telah berubah menjadi sebuah senjata yang lebih menakutkan dari pedang mana pun!

Ke mana Suma Sun bergerak, pasukan musuh berjatuhan tanpa ampun!

Cio San bergidik. Sahabatnya itu telah mencapai tahap tertinggi dalam ilmu pedang, yaitu tahap “Tanpa Pedang”. Ia tidak memerlukan pedang, karena tubuhnya dan apa yang ada pada tubuhnya telah mampu diubahnya menjadi pedang!

Blaaaaaar!

Dhueeeeeeeeeeerrrrrrr!

wuuuuusssssssss! wuuuuuuuuuusssss!

Kemana ia bergerak, ledakan dan sabetan lengan bajunya pun bergerak dengan dahsyatnya. Lengan bajunya dapat menjadi lembut bagaikan cambuk, namun dapat keras menegang bagai pedang tanpa tanding. Tingkat ketinggian tenaga dalam Suma Sun sudah mencapai tahap “tak terbayang”. Hanya orang yang memiliki ketinggian tenaga dalam tahap sempurna baru bisa menggerakkan lengan baju seperti itu.

Ketika Suma Sun menghabisi musuh di darat, Cukat Tong menghancurkan musuh lewat udara. Ia melemparkan bola-bola berisi mesiu yang menghancurkan persenjataan dan pertahanan musuh. Para pasukan pemanah musuh mulai mengincarnya. Tapi Cukat Tong dan burung-burungnya bergerak dengan sangat cepat. Mereka terbang tinggi dan menghindari panah musuh.

Perajurit musuh pun tidak berani menembak sembarang karena khawatir panahnya justru akan menghujam kawan sendiri yang tengah bertempur.

Suma Sun berhenti bergerak. Di hadapannya adalah seorang laki-laki yang tinggi besar. Ia memakai topi bambu yang menutupi wajahnya. “Kau Suma Sun?” tanyanya.

Suma Sun tentu tidak bisa melihat orang, tetapi seluruh inderanya yang lain bekerja dengan begitu sempurna. Ia dapat menduga. “Tuan adalah Si Raja Golok dari Timur?”

Yang ditanya hanya menjawab dengan mencabut goloknya perlahan dari sarungnya. “Kita lihat siapa yang lebih cepat. aku atau kau,” katanya.

Gerakannya sangat cepat. Tidak ada suara sama sekali. Tahu-tahu goloknya telah mengincar leher Suma Sun. Tapi gaya menghindar Suma Sun pun tidak kalah cepatnya. Ia hanya mundur satu langkah, golok itu sudah lewat di depannya. Ia bergerak satu kali lagi.

Kali ini entah bagaimana golok itu telah berpindah tangan.

Si Raja Golok dari Timur hanya bisa melongo melihat bagaimana kini goloknya telah berada di genggaman tangan kiri Suma Sun. Dalam sejarah dunia persilatan sejak dulu sampai sekarang, baru kali ini ada jagoan golok nomer wahid yang goloknya diambil begitu gampang. Seperti mengambil manisan dari tangan anak-anak.

Ia tidak tahu harus marah ataukah menangis.

“Ju…jurus…a…apa itu?”

“Semua Tanpa Pedang Di Bawah Langit,” jawab Suma Sun pelan.

Si Raja Golok mengayunkan tangannya dan menghajar batok kepalanya sendiri. Baginya hidupnya sendiri sudah tak lagi berguna. Hidup seribu tahun pun ia tak akan mampu sampai pada tahap seperti Suma Sun. Rasa putus asa dan malu karena goloknya dirampas dengan mudah membuatnya menghabisi nyawanya sendiri.

Jika seseorang berhadapan dengan Suma Sun, sebaiknya ia memang mengambil nyawanya sendiri. Suma Sun yang sekarang jauh lebih menakutkan daripada Suma Sun yang dahulu. Cio San semakin bergidik.

Suma Sun kembali bergerak. Kali ini melayang tinggi setinggi kepala orang. Ia lalu mengibaskan tangan kanannya. Tubuhnya berputar bagaikan angin puyuh!
Lalu dengan mengerankan pedang serta golok dari prajurit-prajurit yang berada di sekitarnya seolah-olah terhisap masuk ke dalam angin puyuh itu!

Semua Tanpa Pedang Di Bawah Langit.

Setelah pulih dari lukanya, Suma Sun malah mampu membuka titik-titik rahasia di dalam tubuhnya. Titik-titik ini memberikan kekuatan sakti yang amat sangat dahsyat. Tak ada seorang pun yang mengetahui rahasia titik-titik ini jika ia belum mengalami kelumpuhan seluruh tubuh seperti yang dialami Suma Sun.

Ratusan pedang dan golok terhisap ke dalam angin puyuh itu. Ketika angin itu berhenti, pedang dan golok itu telah berubah menjadi sebuah bola besi yang sangat besar !

Suma Sun menandangnya jauh ke angkasa.

Bahkan prajurit yang sedang bertempur pun terpaksa berhenti sejenak melihat kejadian ini.

“Siapa yang ingin selamat silahkan buang pedang,” kata Suma Sun dengan tenang dan pelan. Tetapi kalimat ini terdengar jelas masuk ke telinga setiap mereka yang ada di situ. Betapa tingginya khi-kang milik pendekar ini!

Ia berjalan dengan tenang ke depan. Ribuan prajurit musuh dihadapannya mundur dengan perlahan. Mereka semua memang sudah siap untuk mati. Tapi tidak ada dari mereka yang siap mati di tangan Suma Sun.

Tahu-tahu Pek Giok Kwi Bo muncul dari balik kerumunan pasukan musuh. Tangannya membawa sebuah tabuhan perang yang sangat besar. Nenek itu lalu memukulnya dengan sangat kuat.

Boooooooommmmmmmmm!

Booooooooommmmmmm!

Suma Sun telah menutup jalan pendengarannya sebelum tetabuhan itu dibunyikan. Tetapi tetap saja bunyi dentuman yang dihasilkan telah mempu menggetarkan jantung. Karena nenek itu memukulnya dengan tenaga dalam dan cara yang khusus.

Para prajurit banyak yang terkapar mati dengan urat jantung yang putus dan gendang telinga yang pecah. Cukat Tong yang masih melayang di udara pun kini jatuh menghujam bumi karena burung-burungnya semua mati menggenaskan.

Siapa pun yang tidak memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi akan mati dengan urat jantung yang terputus.

Suma Sun tidak dapat bergerak. Ia sebenarnya justru  lebih menderita daripada orang lain. Karena orang buta pasti memiliki indera lain yang jauh lebih tajam daripada orang lain. Pendegarannya akan lebih tajam daripada orang lain, penciumannya, perasanya, seluruh tubuhnya!

Jadi ketika suara dentuman tetabuhan ini mengguntur dan membunuh siapa saja, justru Suma Sun sangat menderita. Meskipun ia telah menutup indera pendengarannya, getaran dentuman ini masih bisa dirasakan kulitnya, jantungnya, seluruh tubuhnya.

Pihak musuh rupanya telah mempersiapkan senjata untuk menghadapi Suma Sun. Pendekar itu kini diam terpaku dan tak dapat bergerak. Seluruh pergerakannya harus ia lakukan dengan hati-hati karena salah gerak sedikit dapat menghancurkan jantungnya.

“Serang dia!” teriak Pek Giok Kwi Bo.

Beberapa pendekar hebat yang menjadi anak buahnya kemudian berkelebat ke depan. Ada 4 orang yang menyerang secara bersamaan. Cio San pun melompat ke depan. Ia tak dapat menahan diri lagi. Demi nyawa sahabatnya, perintah kaisar pun berani ia langgar.

Tapi Cio San jelas kalah langkah. Ia berada ratusan Li jauhnya.

Musuh hampir menjangkau Suma Sun. Hati Cio San mencelos. Ia tak dapat melakukan apa-apa dari sana. Air matanya menderai.

Duarrr ! Duarrrr! Duarrr! Duarrrr!

Empat buah ledakan kecil terjadi. Ledakan itu berasal dari lemparan bola mesiu yang dilontarkan Cukat Tong dari udara. Dalam gerak jatuhnya ia masih bisa memberi pertolongan pada Suma Sun. Sekali lagi Cukat Tong menggerakkan tangannya ke depan, benang-benang halus yang ia gunakan untuk mengendalikan burung, telah melilit di tubuh Suma Sun. Dengan satu kali hentakan, ia telah melontarkan Suma Sun ke atas.

Melihat ini, lega lah hati Cio San. Dengan ringan ia melayang turun ke bawah. Dalam 20 langkah, ia telah tiba di medan pertempuran. Tak ada seorang pun di muka bumi ini sanggup menyamai kecepatan gerakan langkahnya.

Pek Giok Kwi Bo yang melihat Cio San datang mendekat, segera bergerak. Posisinya jauh lebih dekat ke Suma Sun daripada ke Cio San. Karena itu ia memilih menyerang Suma Sun, karena ia tahu Cio San tak akan bisa menyelamatkan sahabatnya itu.

Nenek iblis itu bergerak bersama dentuman terakhir yang ditabuhnya. Ia bergerak bersama gelombang suara yang dihasilkan dari tetabuhan itu. Bahkan ia lebih cepat ! Belum lagi gelombang itu terdengar dan mencapai Suma Sun, gerakan nenek iblis itu telah mendahului.

Suma Sun mengibaskan lengan bajunya ke depan. Lengan baju yang amat sangat dahsyat. Tetapi yang dihadapinya adalah seseorang nenek iblis yang sangat licik. Nenek itu menggunakan api!

Api beracun itu melahap lengan baju Suma Sun! Seketika tenaga dalam sakti yang mengalir di lengan baju itu hilang seketika. Gas beracunnya menghambur masuk melalui kulit Suma Sun. Wajahnya berubah ungu saat racun itu menjalar ke dalam tubuhnya.

“Naga Menggerung Menyesal!”

Terdengar teriakan dari kejauhan. Sinar keemasan berbentuk naga yang sedang mengamuk meluncur dengan deras. Inilah tapak yang pernah mengguncang dunia persilatan. Sinar emas itu menghujam dada Pek Giok Kwi Bo. Sang nenek berjumpalitan mundur.

“Hahahahahaha,” ia tetap tertawa meskipun darah termuntahkan dari tenggorokannya. Pukulan Cio San dilakukan dengan penuh amarah, kekuatannya menjadi berlipat ganda. Tetapi nenek itu hanya tertawa senang.

“Kau tak apa-apa?” tanya Cio San pada Suma Sun.

Pendekar itu berjumpalitan di udara dan mengerahkan tenaga dalamnya. Dengan mudah racun yang tadi terserap kulitnya sudah berhasil ia keluarkan seluruhnya. Wajahnya kini bercahaya seperti biasa. Tetapi Suma Sun tetap masih tenang seperti sedia kala. Ia hanya mengangguk.

Betapa lega hati Cio San, tetapi kini ia baru menyadari. Ada puluhan layang-layang merah di angkasa telah mendekati bukit di mana sang Kaisar bersembunyi.

Ia telah terpancing.

Manakah yang harus ia pilih? Kaisar atau sahabat?