Monday, April 21, 2014

EPISODE 2 BAB 6: DI TENGAH MALAM DI HUTAN PINUS

Tan Ling telah selesai menulis surat, lalu melipatnya dan mengikatnya di kaki seekor burung elang. Burung jenis ini biasanya ditemukan di daerah pegunungan bersalju. Setelah menerbangkannya, Tan Ling menoleh kepada Tan Cin, dilihatnya adik seperguruannya itu sedang melamun.

“Kau sedang memikirkan tentang dia, sumoy (adik seperguruan perempuan)?”
Tan Cin tak menjawab. Tan Ling tersenyum. “Kau tak usah malu menjawab. Aku rasa semua perempuan yang telah bertemu dia, tentu akan banyak melamun”.

“Suci (kakak seperguruan perempuan) kan tidak” kata Tan Cin tersenyum.
Tan Ling pun tersenyum pula, katanya “Aku masih ingat cerita tentang dia yang dikisahkan oleh guru. Begitu bertemu sendiri, aku kini merasa berdosa meragukan kisah itu”

“Benar. Suci tentu masih ingat bahwa guru berkata kita harus hati-hati menghadapinya. Ia seorang ‘Pemetik Bunga’ bejat yang memperdaya kaum perempuan dan membunuh korban-korbannya tanpa ampun”.

Tan Ling mengangguk. Lanjut Tan Cin, “Sebenarnya, apa yang membuat ia menjadi orang seperti itu?”

“Menurut kisah yang kudengar,” kata Tan Ling, “latar belakang hidupnya tidak jelas. Menurut kabar angin yang terdengar, ia terlahir tanpa ayah yang jelas. Ibunya adalah wanita penghibur di sebuah rumah bordil terkenal. Setelah dewasa ia bertemu seorang ahli silat tanpa nama namun sangat sakti. Ilmu silatnya sendiri pun tidak jelas berasal dari mana”

“Jika sejak kecil ia hidup bersama wanita-wanita penghibur, ia pasti terlatih sekali menghadapi perempuan” ujar Tan Cin.

“Begitulah” tukas Tan Ling. Mata mereka memandang jauh ke depan. Ke arah bayangan jubah merah itu menghilang. Ada perasaan aneh di hati mereka.

Hati perempuan seperti melekat pada langkah-langkahnya. Langkah-langkah yang sangat ringan namun tanpa beban. Tetapi orang yang terlihat tanpa beban, justru sebenarnya menyimpan penderitaan yang teramat dalam.

Matanya mencorong tajam dan bercahaya. Senyum hangat tak pernah lepas dari wajahnya. Jika seorang wanita terluka parah, hanya dengan memandang senyum ini, lukanya pasti akan tersembuhkan. Senyum adalah senjatanya yang paling hebat. Bukan untuk menaklukan hati orang, melainkan untuk menyembuhkan luka dan penderitaannya sendiri.

Teringat ia akan kisah hidupnya, ia terpaksa tersenyum. Senyuman hangat yang memilukan. Ia terlahir sebagai anak yang tidak jelas. Lahir dari rahim seorang wanita penghibur. Ibunya dulu adalah salah seorang wanita tercantik di sebuah rumah bordil di kotaraja. Ia tak tahu siapa ayahnya. Sejak kecil ia belajar mempertahankan hidup dengan menjadi pembantu di rumah bordil itu. Menjadi tukang bersih-bersih dan mempersiapkan segala kebutuhan para penghuninya.

Sebagai orang yang hidup di rumah bordil, ia tahu betul seluk beluk kehidupan wanita penghibur. Bagaimana mereka harus bertahan hidup dengan menjual tubuh. Apapun yang terjadi harus tampil cantik, harus dapat menyenangkan hati tamu. Salah sedikit mendapat hajaran dan hinaan. Ia menjadi saksi bagaimana wanita-wanita ini menyimpan airmata dan memasang topeng senyuman paling indah.

Saat berumur 15 tahun, ia jatuh cinta kepada seorang gadis. Seorang gadis yang berasal dari keluarga terhormat dan merupakan salah satu keluarga yang paling kaya di kotaraja. Dengan berani ia mengungkapkan perasaan itu kepada sang gadis pujaan. Apa nyana ternyata ia ditertawakan dan dihina. Latar belakang kehidupannya  sebagai jongos sebuah rumah bordil tentu saja tidak menarik bagi perempuan manapun.

Dalam kesedihannya, seorang gadis penghuni rumah bordil itu memberi perhatian yang dalam. Hiang Hiang namanya. Hiang Hiang mengajarkannya tentang banyak hal. Bagaimana seorang lelaki harus bersikap dan menghadapi wanita. Segala seluk beluk tentang perempuan dipelajarinya dari Hiang Hiang. Bagaimana menyenangkan mereka, meneduhkan hati mereka, menyikapi mereka.

Ia pun kehilangan keperjakaannya untuk pertama kali pada Hiang Hiang. Dengan sabar Hiang Hiang mencintai dan merawatnya, hingga suatu hari Hiang-Hiang ditebus seseorang. Sejak saat itu ia tak pernah bertemu kembali dengannya. Namun segala pelajaran Hiang Hiang telah merasuk di dalam jiwanya. Seluruh perempuan di rumah bordil itu ditaklukannya. Ibunya yang sudah beranjak tua, tidak perduli dengan kelakuannya. Selama ia tidak mencuri atau merampok, sang ibu membebaskannya untuk melakukan apa saja.

Semakin lama ia semakin berani. Setelah menaklukan gadis-gadis rumah bordil, ia pindah menaklukan gadis-gadis di luar rumah bordil. Siapapun yang ia temui, asal mereka perempuan, ia menaklukkannya. Bahkan kemudian istri-istri para hartawan dan pejabat pun tertarik padanya.

Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, tentu akan terjatuh juga. Hubungan gelapnya dengan istri salah seorang pejabat tertangkap basah. Ia dipukuli sampai hampir mati. Untunglah ada seseorang datang menolongnya. Seorang nenek tua yang teramat sakti.

Nenek itu merawatnya dan mengajarkannya ilmu-ilmu silat hebat. Mereka hidup di sebuah tempat terpencil. Tetapi semua kebaikan nenek itu tentu harus dibayar mahal. Ia harus memuaskan nafsu nenek itu. Seorang pemuda tampan melayani nenek-nenek tua. Walaupun sejak dahulu sampai sekarang cerita ini bukan cerita yang aneh, tetap saja orang-orang masih mual saat mendengar kisah seperti ini.

Apalagi hubungan guru dan murid adalah sebuah hubungan yang sakral bagi orang-orang Tionggoan. Hubungan itu seperti hubungan orang tua dan anak, sehingga jika terjadi cinta antara guru dan murid hal itu dianggap sangat tabu. Seorang pendekar besar di jaman dulu yang bernama Yo Ko pernah mengalami penderitaan yang besar saat memiliki hubungan cinta dengan gurunya. Ia harus mengalami penderitaan dan cobaan yang teramat besar.

Untuk menghindari penderitaan itulah nenek tua dan si jubah merah ini menyepi di sebuah gunung terpencil. Setelah nenek itu meninggal, si jubah merah memutuskan untuk turun gunung dan terjun ke dunia Kang Ouw.

Dengan warisan ilmu sakti dan sebilah pedang ungu yang konon merupakan milik pendekar Tok Ho Kiu Pay, si jubah merah melanglang dunia. Pada awalnya ia tidak pernah menggunakan pedang sakti itu dan disembunyikannya baik-baik dibalik jubahnya. Ilmunya teramat sakti sehingga ia tak pernah perlu untuk menggunakan pedang itu. Selama 3 tahun ia bertualang, tak pernah sekalipun ia menggunakan pedang itu. Hingga pada akhirnya, ia bertemu dengan lawan yang sangat kuat sehingga mau tidak mau ia harus menggunakan pedang itu.

Seperti dugaannya, kalangan Kang Ouw heboh mendengar bahwa pedang ungu Tok Ho Kiu Pay telah ditemukan. Berbagai pendekar dari bermacam kalangan mulai memburunya. Kehebatan pedang ini telah begitu melegenda dan menjadi impian begitu banyak orang.

Kini ia telah berada di sini. Namanya telah menggetarkan 8 penjuru angin. Semua orang mengenal namanya, mengenal kehebatannya. Tetapi dari semua hal dan semua penderitaan serta kenikmatan yang dilaluinya, hatinya masih merasakan kesepian. Rasa sepi itu begitu aneh. Selalu datang pada saat yang salah. Kepada orang yang salah pula.

Telah begitu banyak wanita yang memberikan hati untuknya, namun hatinya hanya untuk Hiang Hiang. Wanita itu kini telah sakit-sakitan. Sebuah sakit aneh yang mungkin di dapatkannya dari pekerjaannya sebagai wanita penghibur. Dengan segala kemampuannya, si jubah merah mencari jejak Hiang Hiang dan akhirnya menemukannya. Hidup menyendiri, sakit-sakitan, tanpa ada seorang pun merawatnya.

Ia telah membawakan berbagai macam tabib, tetapi tak ada seorang pun yang sanggup menyembuhkannya. Perjalanannya ke Himalaya ini pun dilakukannya demi Hiang Hiang. Tak ada seorang pun yang tahu sosok Hiang Hiang ini di hidup si jubah merah. Hanya ia yang paling tahu, dan paling paham betapa sosok itu begitu berarti di dalam hidupnya.

Seorang lelaki, jika telah mencinta, akan mencintai seumur hidupnya. Tidak perduli ada berapa banyak wanita yang hadir di dalam hidupnya, selalu ada sebuah ruang kosong yang indah, suci, dan terjaga bagi seorang wanita itu di dalam hatinya. Bidadari yang suci bersih karena cinta seorang lelaki, tak perduli apapun yang telah wanita itu lakukan sebelumnya di dalam hidupnya.

Meskipun ia telah bertualang sekian lama, dari perempuan ke perempuan, menaklukan hati mereka, tetap saja hatinya telah sepenuhnya milik Hiang Hiang. Sejauh apapun ia melangkah pergi, hatinya telah tertinggal pada wanita itu. Setinggi apapun ia terbang, akar cintanya tertanam terlalu dalam pada sosok Hiang Hiang.

Hiang berarti ‘harum’ atau ‘wangi’. Itulah kenapa ia memakai nama itu untuk menutupi nama aslinya yang bahkan terkadang ia pun lupa. Ia bukan orang yang suka mengingat masa lalu. Karena masa lalu adalah hal yang tak pernah bisa terulang kembali. Ia selalu menatap masa depan, dan masa depan yang gemilang telah berada di depannya. Ia hanya perlu untuk meraihnya. Dengan segalanya yang telah ia miliki, ia bisa menjadi orang paling ternama di dunia ini, tapi ia mengesampingkannya. Baginya Hiang Hiang adalah seluruh hidupnya. Ia harus mampu menyembuhkannya.

Kadang-kadang, lelaki atau perempuan yang paling bejat pun, mampu memiliki cinta yang teramat suci dan bersih.

Si jubah merah menatap ke depan, sebentar lagi ia akan memasuki sebuah hutan pinus yang indah. Wangi pepohonan pinus tertiup angin. Salju pada dedaunan membeku dan memutih. Seperti cinta, semakin membeku kadang malah bertambah putih dan suci. Mungkin seperti itulah cinta sejati. Beku, dingin, dan sepi.

Hari semakin gelap ketika ia melintasi hutan pinus itu. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak. Segera ia mengeluarkan peralatan masak dari dalam kantong peralatannya. Setelah membuat perapian, ia lalu berburu. Tidak perlu waktu lama ia telah berhasil menangkap seekor kelinci gemuk.

Makanan enak, dan arak. Tidak ada yang lebih nikmat dari kedua hal itu di tempat seperti ini. Bau panggangan bercampur dengan wangi hutan pinus, siapapun yang mampu membayangkannya pasti akan menginginkannya.

Tak lama kemudian ia mendengar suara langkah yang semakin mendekat. Ia menajamkan telinga. Lalu munculah sesosok bayangan. Tan Cin!
“oh, kau” tukas Li Hiang sambil tersenyum manis.

Tan Cin tidak menjawab, ia hanya terpana. Lalu berkata, “Aku tidak mengejar kau” katanya bersungut.

“Tentu saja. Tapi apapun yang ingin kau kerjakan, mengapa tidak beristirahat sejenak dan menikmati daging kelinci?” kata Li Hiang ringan.

“Apa yang tuan panggang?” kata ‘kau’ tadi sudah berubah menjadi ‘tuan’.

“Kelinci yang gemuk” sambil berkata begitu, ia mencabik paha kelinci, meletakkannya diatas daun yang bersih, lalu menyerahkannya kepada Tan Cin, “hati hati panas”.

Tan Cin menerimanya dengan tersenyum. Betapa perhatiannya laki-laki ini.

Setelah mengunyah sejenak, ia memuji “Masakan tuan enak!”

“Aku memang suka memasak”

“Benarkah? Ku kira para lelaki memandang pekerjaan itu hanya milik kaum perempuan” tukas Tan Cin.

“Pekerjaan perempuan toh bukan pekerjaan yang hina. Justru menjadi perempuan, dan mengerjakan pekerjaan perempuan amatlah sulit” jelas Li Hiang.

“Oh ya? Tuan beranggapan begitu?”

“Iya. Jika aku menjadi perempuan, aku tak dapat membayangkan segala persoalan berat yang akan kuhadapi. Menjadi perempuan itu tidak mudah”

“Contohnya?”

“Perempuan adalah makhluk indah, yang terindah adalah perasaannya. Mereka hidup dikendalikan oleh perasaan. Tidak perduli apapun yang mereka kerjakan atau hadapi, mereka selalu menggunakan perasaan untuk menjalaninya. Bahkan mereka rela melakukan apa saja karena dorongan perasaan. Mereka rela menjalani kesulitan-kesulitan hanya demi perasaan mereka” tutur Li Hiang.

“Benaaaaaar sekali. Tuan nampaknya sangat memahami perasaan perempuan. Sangat mengerti perempuan” puji Tan Cin.

“Laki-laki yang mengaku mengerti perempuan, jika bukan karena bodoh tentu karena pikun. Aku hanya mencoba menyelami perasaan perempuan saja. Jika laki-laki bisa melakukannya, sedikit banyak mereka akan mengerti mengapa perempuan bertingkah seperti perempuan”.

Tan Cin terdiam. Perkataan Li Hiang tepat menusuk di jantung hatinya. Lama sekali baru ia berkata, “Tuan, apakah tuan pernah membunuh orang?”

Li Hiang tidak kaget mendengar pertanyaan itu. Ia tersenyum. “Pernah”

Tan Cin hanya memandangnya. Lalu berkata, “Mengapa?”

“Karena mereka ingin membunuhku.”

Sebuah jawaban yang sangat tepat. Tan Cin seperti kehabisan kata-kata. Li Hiang pun membiarkannya sibuk dengan pikiran-pikirannya.

Setelah sekian lama, akhirnya Li Hiang yang bicara, “Kau ingin bertanya mengapa aku membunuh puluhan bahkan ratusan wanita-wanita yang tak berdaya, bukan?”

Perkataan yang sangat tepat. Memang pertanyaan itulah yang ada di benak Tan Cin, ia hanya tak tahu bagaimana mengutarakannya.

“Kau mungkin telah mendengar bahwa aku adalah seorang laki-laki bejat yang pekerjaannya merusak perempuan, lalu membunuh mereka saat sudah selesai”

Tan Cin terdiam, rupanya Li Hiang benar-benar telah membaca isi hatinya.

“Semua cerita itu hanya fitnah. Aku bahkan tak pernah membunuh seorang wanita pun. Segala pembunuhan-pembunuhan itu bukan aku yang melakukannya”

“Lalu siapa?” tanya Tan Cin.

“Entahlah. Mungkin salah seorang musuh-musuhku melakukannya demi memfitnahku.”

Tan Cin memandang wajah lelaki di hadapannya lama sekali. Ia baru beberapa jam mengenalnya. Tapi jika disiksapun ia tak akan mau percaya bahwa laki-laki ini sanggup melakukan kebejatan yang didengarnya.

“Aku percaya kepadamu” hanya itu yang keluar dari mulutnya setalah sekian lama terdiam.

“Terima kasih” sambil berkata begitu, ia melepaskan jubah merahnya dan menyelimuti tubuh Tan Cin. Nona mungil yang manis. Wajahnya kemerah-merahan saat jubah yang wangi itu menghangatkan tubuhnya.

“Tuan.., bagaimana tuan tahu pertanyaan itulah yang ingin kutanyakan?” tanya Tan Cin.

Li Hiang tertawa. “Sejak awal aku sudah curiga bahwa kau bukanlah anak pemilik toko perlengkapan. Tangan kalian begitu halus. Kalian pun tidak tahu letak barang-barang yang akan ku beli. Seharian kalian membuat toko itu berantakan” jelasnya.

“Aih....”

“Tapi sudahlah, apapun maksud kalian kepadaku, aku tak kan bertanya. Jika kau ingin pulang dan melapor kepada orang yang menyuruhmu, kau boleh pergi. Tapi jika kau ingin tetap di sini dan bercakap-cakap, aku ingin menemanimu” kata Li Hiang.

“A..aku harus pulang” kata Tan Cin terbata-bata.

Li Hiang tersenyum. Dalam hati ia berkata, “Ya, kau harus pulang. Tapi kau tak ingin melepaskan kesempatan untuk berduaan denganku”. Tapi ia berkata,
“Hari sudah malam, jika kau pulang sekarang kau bisa tersesat. Lagian, kau belum lagi melakukan yang diperintahkan kepadamu”

“Jangan sok tahu, memangnya apa yang diperintahkan kepadaku?”

Li Hiang yang tersenyum. Ia hanya menuangkan arak dari guci dan menenggaknya. Tan Cin hanya memperhatikan dengan penasaran.

“Eh tuan, memangnya kau tahu apa yang diperintahkan kepadaku?” tanya Tan Cin penasaran.

“Mengapa kau bertanya kepadaku? Isi perintah itu kan hanya kau yang tahu” jawab Li Hiang sambil tersenyum.

“Kau jahat!”

“Sedikit” tukas si jubah merah sambil tersenyum. Ia lalu melanjutkan meminum arak tanpa memperdulikan Tan Cin sama sekali.

Nona itu memandangnya dengan gemas.

Pelajaran kedua: semakin kau tidak memperhatikan seorang perempuan, semakin ingin ia engkau perhatikan.

Tentu saja Li Hiang telah lulus pelajaran ini.

“Aku tak ingin berbicara lagi kepadamu” kata Tan Cin dengan marah.

“Kenapa?”

“Kau jahat!” kata ‘tuan’ sudah berubah menjadi kata ‘kau’.

“Aku apa pernah menyakitimu?”

Tan Cin berpikir sebentar, “tidak”

“Nah”

“Tapi kau tetap jahat!”

“Sebabnya?”

“Kau bermain rahasia denganku!”

“Memangnya kau tidak bermain rahasia denganku?”

Tan Cin terdiam lagi.

“Ihhh” dengan gemas ia membanting kaki dan melempar kerikil-kerikil kecil ke arah Li Hiang. Si jubah merah tidak menghindarinya dan hanya tertawa.

“Masih berapa jauh lagi dari sini ke Pek Swat Ceng (Perkampungan Salju Putih)?” tanya Li Hiang.

“Entah” kata Tan Cin sambil membuang muka.

“Sekarang kau lah yang bermain rahasia denganku” tukas Li Hiang.

“Kau bertanya kepadaku, lantas aku bertanya kepada siapa?” tanya Tan Cin ketus.

“Kau tidak perlu bertanya kepada siapa-siapa. Kau kan hafal sekali jalan menuju ke sana” tawa Li Hiang.

“Sok tahu!”

Li Hiang tertawa. Dalam hati ia bertanya-tanya mengapa perkampungan itu mengirimkan anggotanya yang masih hijau untuk menghadapinya.

Untuk sejenak mereka terdiam. Menikmati pikiran masing-masing.

Malam beranjak semakin larut. Kekelaman menyelimuti dunia. Ada api unggun untuk penerang dan penghangat suasana. Ada kebersamaan. Dua orang anak manusia, duduk saling berhadap-hadapan.

Nona itu lalu menggigil. Cuaca di tempat itu memang sangat dingin.
Dengan sigap Li Hiang menambah kayu untuk memperbesar api, lalu pindah duduk ke sebelah nona itu. Katanya “Aku kedinginan”.

Dengan pintar ia mengaku kedinginan saat ia melihat nona itu kedinginan pula. Dengan pintar ia memindah posisi duduknya dengan alasan ini. Ia tidak bertanya apakah nona itu kedinginan. Tetapi mengaku diri sendiri yang kedinginan. Menghadapi perempuan, ia sangat paham caranya. Karena ia tahu, jika ia menyuruh nona itu mendekat kepadanya, nona itu akan menolak.

Mereka mengobrol dan bercanda. Li Hiang menceritakan kisah-kisah seru dan unik kepada nona itu. Tak terasa duduk mereka semakin dekat dan semakin rapat. Lalu entah kapan, lengan Li Hiang telah merangkul nona itu. Tak butuh waktu lama baginya agar nona itu berada di dalam pelukannya.

Menghadapi perempuan harus seperti ini. Dengan lembut namun pasti. Kau harus tahu kapan maju dan kapan mundur. Bujuk rayu lelaki memang berbahaya. Yang paling berbahaya adalah merayu tanpa kata-kata. Hanya lelaki yang berpegalaman yang mampu melakukannya. Dengan senyum, dengan perbuatan-perbuatan kecil yang remeh, hati perempuan akan dengan mudah di rayu.

Pelajaran ketiga: merayu perempuan bukanlah dengan kata-kata.

Tentu saja ia telah menguasai dengan baik pelajaran ini.

Bibir mereka bersentuhan. Ciuman yang lembut. Sentuhan yang halus. Rembulan di tengah malam. Wangi hutan pinus yang menyegarkan.

Lama sekali mereka berciuman, ketika Li Hiang tersadar bahwa ia telah tertotok oleh nona mungil ini!

“Ternyata nama besar Jai Hwa Sian hanya nama kosong” kata Tan Cin sambil tertawa.

Li Hiang pun hanya tertawa.


Pelajaran ke empat: Laki-laki manapun di dunia ini yang mengaku mengerti perempuan, jika bukan karena bodoh, tentu karena sudah pikun.




Sunday, April 20, 2014

EPISODE 2 BAB 5: DUA KEMBANG CANTIK

Kakinya melangkah dengan ringan. Tidak ada beban di dalam hidupnya. Kereta indahnya telah ia tinggalkan di dalam hutan. Ia memang lebih suka seperti ini, menembus malam sendirian dalam langkah-langkah kaki yang ringan.

Menjelang pagi ia telah memasuki sebuah dusun di pinggiran hutan. Sebuah dusun kecil dengan suasana yang amat tenang. Beberapa petani telah menyiapkan diri untuk bekerja di sawah dan ladang mereka.

Si jubah merah menanyakan di mana ia bisa menemukan penginapan kepada mereka. Seperti yang diduganya, tidak ada penginapan di dusun terpencil seperti itu. Akhirnya ia menanyakan di mana ada kedai yang menjual arak dan makanan. Salah seorang petani itu menunjukkan arah kepadanya. Dengan sedikit mencari-cari, akhirnya ia menemukan kedai itu.

Walaupun belum ‘resmi’ buka, pemiliknya mempersilahkan si jubah merah masuk. Rupanya kedai itu memang buka pagi-pagi, sekedar untuk menjual arak kepada para pekerja yang akan menggarap ladang mereka.

“Maaf masih berantakan, tuan ingin pesan apa?” tanya pemiliknya yang sudah cukup berumur. Mulutnya bertanya tapi tatapan matanya tidak pernah lepas dari wajah si jubah merah.

“Ah, lopek (orang tua) punya arak?” tanyanya sopan.

“Tentu saja. Tapi arak-arak ku tidak seenak di kota. Tapi lumayan untuk menghangatkan badan” katanya. Dengan segera pemilik kedai itu sudah mengantarkan seguci arak yang berbau harum.

Memang benar, arak itu tidak terlalu istimewa. Sejenis arak murahan yang bisa ditemukan di mana saja. Tapi di tempat terpencil seperti di dusun seperti ini, dapat menemukan arak saja sudah merupakan sebuah berkah yang luar biasa.

Si jubah merah meminumnya dengan tenang. Ia sangat menghargai arak. Baginya arak seperti perempuan, jika kau tahu cara menikmatinya, arak semasam apapun juga bisa terasa enak.

“Tuan hendak ke gunung himalaya?” tanya si pemilik kedai.

“Benar, bagaimana lopek bisa tahu?” tanyanya sambil tersenyum.

“Semua orang yang akan pergi ke Himalaya biasanya melewati tempat ini jika mengambil jalur timur” kata si lopek menjelaskan.

“Oh” si jubah merah mengangguk angguk sambil tersenyum.
“Di mana perlengkapan tuan?” tanya si lopek lagi.

“Aku tidak membawa perlengkapan apa-apa” jawabnya ringan.

“Wah, tuan bercanda? Pergi ke himalaya tanpa perlengkapan sama saja dengan bunuh diri”

“Memangnya aku perlu membawa apa saja?” tanya si jubah merah.

“Tuan perlu beberapa mantel bulu yang tebal. Cuaca di sana amat berbahaya. Tuan juga perlu menyiapkan bahan makanan yang cukup banyak”

“Di mana aku bisa membeli semua itu?”

“Si tua A Bin mempunyai toko khusus menjual perlengkapan ini. Tokonya di seberang utara. Mungkin 4 atau 5 rumah dari sini” jelas si lopek.

“Baik lah aku akan kesana sebentar lagi. Eh, apakah banyak orang yang pergi ke himalaya?” tanya si jubah merah.

“Setiap tahunnya pasti ada, dari kabar yang ku dengar ada benda berharga yang mereka cari di sana”

“Benda apa?”

“Loh, tuan bukannya hendak mencari juga?”

“Eh, tidak. Aku hanya ingin bertualang. Ku dengar di kaki gunungnya ada sejenis kaum yang amat aneh. Aku tertarik mengenal mereka”

“Oh, apakah yang tuan maksud Pek Swat Ceng (perkampungan salju putih)?”

“Benar sekali”

“Aih, kecantikan gadis-gadis Pek Swat Ceng memang amat sangat terkenal. Sampai orang-orang rela bepergian jauh hanya untuk menemui mereka.” Tukas si lopek.

“Apakah lopek pernah bertemu mereka?” tanya si jubah merah tertarik.

Si kakek mengangguk, “Beberapa anggotanya memang pernah lewat sini beberapa kali”

“Apakah mereka secantik legenda yang terdengar?”

“Tentu saja, aku yang setua ini belum pernah melihat kecantikan mereka”
Mata si jubah merah membesar.

“Apa yang mereka lakukan saat lewat sini?” tanyanya

“Cuma sekedar lewat. Tapi kami semua tahu mereka anggota Pek Swat Ceng. Dari bajunya kelihatan” jelasnya.

“Oh, ada ciri-ciri khusus di baju mereka?”

“Ya. Semua baju mereka ada bordiran huruf ‘swat’ (salju)” jawab si lopek.

Si jubah merah manggut-manggut.

“Eh tuan, bolehkah aku bertanya?” kata si lopek.

“Tentu saja”
“Tuan ini berasal dari mana?”

Si jubah merah tersenyum. Sepanjang hidupnya orang selalu menanyakan pertanyaan ini. Ia sendiri telah berusaha melupakannya. Bahkan namanya sendiri telah berusaha ia lupakan.

“Aku berasal dari kotaraja” jawabnya berbohong.

“Aih, tuan bepergian sejauh ini hanya untuk bertemu nona-nona Pek Swat Ceng?” tanya si lopek lagi.

“Benar” sahut si jubah merah sambil tersenyum, lanjutnya “Apakah pantas?”

“Pantas. Pantas sekali. Tuan tidak akan rugi berjalan sejauh ini hanya untuk bertemu mereka. Tapi......” si lopek ragu-ragu melanjutkan kata-katanya.

“Tapi apa, lopek?”

“Seharusnya tuan tinggal saja di rumah, dengan wajah setampan ini, aku rasa justru nona-nona Pek Swat Ceng yang seharusnya mendatangi tuan ke kotaraja”

“hahaha” ia hanya tertawa. Di dunia ini jika orang memujinya terlalu tampan, ia yakin mereka tidak mengada-ada. Justru ketika mereka berkata wajahnya buruk rupalah baru ia yakin mereka berbohong.

“Siapa nama tuan dan apa pekerjaan tuan?” tanya si lopek lagi.

“Aku adalah seorang Siucai (sastrawan), dan aku she (marga) Li bernama Hiang” katanya sembarangan.

“Ah tuan Li Hiang? Nama yang cocok sekali” kata si lopek. Hiang berarti ‘Harum’.

Mereka mengobrol lama hingga terang tanah. Li Hiang atau si jubah merah menanyakan banyak hal kepada kakek ini. Terutama tentang daerah ini, keistimewaannya, budayanya dan lain-lain. Ia memang sangat tertarik mempelajari manusia dan ciri khasnya.

Karena pemahamannya yang mendalam tentang manusia inilah, ia mampu menaklukkan golongan manusia yang paling sukar untuk ditaklukkan, perempuan.

Matahari sudah mulai bersinar terang. Berguci-guci arak pun sudah ia habiskan. Ia pun sudah sempat tertidur pulas beberapa jam. Badannya kini sudah segar, ia telah siap memulai perjalanan.

Setelah membayar arak dan berterima kasih kepada lopek itu, ia bergegas ke toko A Bin yang menjual perlengkapan mendaki. Setelah mencari sebentar, ia menemukan toko kecil itu.

Penjaga tokonya adalah seorang nona muda, berumur belasan tahun. Begitu ia memasuki toko itu, si nona terperanjat kaget. Li Hiang cuma tersenyum.

“Eh..eh selamat siang. Tuan mencari apa?” tanya si nona.

“Aku ingin mendaki Himalaya, dan ingin membeli perlengkapan” kata Li Hiang sambil tersenyum.

Si nona mendengarkan suaranya yang dalam dan lembut itu, sekian lama baru bisa menjawab,

“Eh..ada..ada..tunggu sebentar” segera ia bergegas ke belakang dengan wajah memerah.

Begitu kembali, ia tidak datang membawa perlengkapan, melainkan membawa seorang nona pula. Nampaknya kakak perempuannya.

Sang kakak yang terlihat menahan diri, mau tidak mau terhenyak juga saat dipandang Li Hiang.

“Eh...tuan mau membeli perlengkapan mendaki?” tanyanya pelan dan terbata-bata.

“Benar. Menurut nona, apa yang kira-kira harus ku beli?” tanyanya tenang namun senyum lembut tidak pernah hilang dari bibirnya.

“Mmmmm, tuan butuh...” katanya sambil membongkar-bongkar beberapa barang, “ini...” ia menunjukkan mantel bulu.

“Lalu?” tanya Li Hiang hampir menahan tawa.

“Mmmmm...ini juga” ia menunjukkan segulungan tali yang tebal. Wajah mereka berdua memerah. Pura-pura sibuk mencari-carikan barang.

Karena gugupnya, ada beberapa barang yang terjatuh dari rak. Dengan sigap Li Hiang membantu si nona mengambil barang itu. Tak sengaja tangan mereka berdua bersentuhan.

“Ahhh” lenguhan itu hanya terdengar perlahan. Tapi Li Hiang mendengarnya. Ia memang sengaja menyentuh tangan nona itu.

“Hati-hati nona” katanya sambil tersenyum.

Rupanya barang yang jatuh tadi adalah beberapa bungkusan makanan kering. “Tuan..tuan butuh ini juga” kata si nona terbata-bata. Adiknya malah sudah tidak berada di sana. Menenggelamkan diri dibalik tumpukan barang dagangan. Li Hiang tau nona kecil itu sedang tersenyum-senyum sendiri di balik tumpukan barang itu.

“Cici (kakak), tuan itu butuh juga peralatan memasak” kata adiknya berkata dari balik tumpukan.

“Ah betul sekali, cici” kata Li Hiang menirukan sebutan ‘cici’.

“Aih mengapa tuan memanggilku cici...” kata si nona, wajahnya sedikit merengut. Tetapi rona merah dari wajahnya tidak menghilang.

“Maaf aku tidak tahu namamu” kata Li Hiang, sambil berkata begitu tangannya secara ‘tidak sengaja’ menyentuh lengan atas nona itu yang putih mulus kemerah-merahan.

“Namaku, Tan Ling” katanya.

“Oh nona Tan” kata Li Hiang pelan.

“Kalau tuan siapa namanya?” tanya adiknya dari balik tumpukan barang.

“Namaku? Ah..” Li Hiang tersenyum penuh rahasia. Lanjutnya, “Namaku kan tidak penting” katanya sambil tertawa kecil.

“Curang. Tadi bukankah ciciku sudah memberitahukan namanya? Mengapa sekarang tuan merahasiakan nama tuan?”

“Kan yang bertanya kamu, bukan cicimu” goda Li Hiang.

Pelajaran pertama menaklukkan hati perempuan: buatlah mereka penasaran. Li Hiang sudah pasti telah menguasai sekali pelajaran ini.

“Baiklah! Namaku Tan Cin” kata si adik. Dari ekor matanya, Li Hiang melihat si kakak tersenyum-senyum saja melihat salah tingkah adiknya.

“Salam kenal, nona Tan kecil” kata Li Hiang.

“Aku bukan anak kecil, umurku sudah 16” tukasnya dari balik tumpukan barang. Kepalanya muncul sejenak.

Li Hiang tertawa kecil.

Ironi terbesar manusia adalah saat kecil mereka ingin cepat dewasa, saat dewasa mereka ingin kembali menjadi anak-anak.

“Baiklah, Biar ku bantu mengangkat barang-barang yang akan kubutuhkan. Aku mungkin akan berada di sana sekitar 5 atau 6 hari”

“Baiklah, aih tuan baik sekali mau membantu” kedua nona Tan itu bekerja dengan semangat.

Bau tubuh mereka bercampur antara keringat dan wangi sabun dan pewangi. Li Hiang paling menyukai bau ini. Kadang-kadang saat ia membantu mengangkatkan barang yang cukup berat, ia menghirup bau ini.

Hal yang paling menarik dari perempuan selain wajah dan tubuh mereka, adalah wangi mereka. Bau khas yang merupakan campuran keringat dan pewangi. Wanita yang bisa merawat tubuhnya akan memiliki bau khas yang menyenangkan. Kedua nona ini, walaupun belum terlalu mengerti tentang hal ini, bau mereka masih menyenangkan. Ini mungkin karena mereka rajin menjaga kebersihan.

“Eh kemana orang tua kalian?” tanya Li Hiang.

“Ibu sudah meninggal saat kami masih kecil, ayah sekarang sedang pergi ke kampung sebelah. Ada saudara kami yang meninggal” jelas Tan Cin.

“Oh, aku turut berduka” kata Li Hiang penuh simpati.

Setelah bekerja beberapa lama, akhirnya selesai juga. Li Heng membayar semua keperluannya, bahkan membayar dengan harga lebih, kedua nona desa yang manis itu tentu saja senang.

“Tuan ada keperluan apakah ke Himalaya? Ingin mencari pusaka berharga, atau mengunjungi Pek Swat Ceng (Perkampungan Salju Putih)?” tanya Tan Cin, nona kecil ini rupanya senang mengobrol.

Li Hiang menerawang, padangannya jauh ke kaki langit di mana Himalaya terasa masih begitu jauh. Ia masih diam begitu lama.

“Menurut yang kami dengar, para gadis-gadis Pek Swat Ceng itu memang cantik bak bidadari. Dibandingkan dengan gadis dusun seperti aku dan cici tentu jauh sekali” kata Tan Cin lagi.

Li Hiang seolah tersadar dari lamunannya,

“Benarkah?” tanyanya senyumnya yang tenang masih menyungging.

“Benar” tukas Tan Cin, yang dibenarkan oleh anggukan kepala Tan Ling.

“Aku tidak begitu tertarik dengan Pek Swat Ceng” kata Li Heng.

“Oh jadi tuan mencari pusaka?” tanya Tan Cin dengan mata membesar.

“Tidak juga” jawab Li Hiang pelan.

“Lalu?” serempak kedua nona mungil ini bertanya.

“Aku hanya ingin menyepi. Kalian tahu, aku adalah seorang siucai (sastrawan). Aku ingin membuat puisi yang indah dan lagu yang merdu tentang pemandangan di Himalaya”

“Kenapa..memilih himalaya” kini Tan Ling yang bertanya.

“Aku sudah mendatangi banyak tempat. Gunung dan gurun, sungai dan samudera. Hanya Himalaya ini yang belum” kata Li Heng.

Lelaki yang amat tampan, sopan, dan gagah. Pandai menuliskan kata indah, senang bertualang pula. Perempuan siapa yang tidak jatuh hati?

“Aih tuan punya syair yang bagus? Perdengarkan kepada kami” kata Tan Cin bersemangat.

“Alah, cuma syair dari penyair tak bernama, mana pantas diperdengarkan kepada peri-peri cantik” kata Li Hiang.

“Aih, tuan suka menggoda, mana pantas kami disebut peri-peri cantik?” kata Tan Cin, wajahnya semakin merona.

“Ayolah perdengarkan, tuan” kata Tan Ling.

“Baiklah jika kalian memaksa” kata Li Heng.

Ia terdiam sebentar. Memejamkan matanya. Wajahnya seperti menikmati wangi bunga yang semerbak.

Ia sendirian,
Menatap bulan dan bintang di angkasa,
Adakah seseorang di sana yang menatap pula angkasa ini?,
Merasakan yang dideritanya, Merasakan kerinduannya,
Sesungguhnya sendirian pun tak mengapa,
Asalkan ada seseorang di sana yang memikirkannya,
Sendirian pun tak mengapa.

Lalu Li Hiang terdiam, dan membuka matanya.

Puisi ini pendek dan sangat sederhana. Tapi seolah olah isi hati dan perasaannya telah tertuangkan ke dalam kata-kata yang sederhana itu.
Tan Cin dan Tan Ling seolah-olah terbawa pula oleh perasaan ini.

Lelaki yang penuh perasaan, memang memiliki pesonanya tersendiri. Kata-kata ini memang ada benarnya. Wanita mengutamakan perasaan, oleh sebab itu, lelaki yang penuh perasaan selalu dapat mengerti mereka.

“Beruntung sekali nona yang tuan rindukan itu” kata Tan Ling.

Li Hiang memandang jauh ke depan. Seolah-olah bayangan ‘nona’ yang dimaksud Tan Ling itu benar-benar berada di hadapannya. Sampai-sampai Tan Cin dan Tan Ling pun menoleh ke tempat Li Hiang menatap.

Sunyi.

Lalu Li Hiang tertawa.

“Nona itu tidak perduli” kata Li Hiang.

“Bagaimana mungkin ada orang yang tidak perduli kepada tuan?” kata Tan Cin. Terus terang ia tidak mungkin percaya ada seorang nona yang menyia-nyiakan orang seperti tuan di hadapannya ini.  Lanjutnya, “Kalau bukan karena buta atau gila, tentu saja tak ada seorang pun nona yang berani menyakiti tuan”

Nona sekecil ini mengerti apa tentang cinta?

Li Hiang hanya tertawa, dengan lembut ia menyentuh lengan Tan Cin. Lengan yang montok, dan menggairahkan untuk ukuran nona seumur dia. “Tentu saja ada. Aku kan bukan seorang dewa cinta yang mampu membuat semua orang jatuh cinta kepadaku” katanya sambil tersenyum.

“Aih, bodoh sekali nona itu” kata Tan Cin merengut. Hidung dan bibirnya menjadi lebih mancung.

“Nona itu tidak perduli atau tidak tahu? Apakah tuan pernah mengungkapkan perasaan tuan kepadanya?” Tan Ling bertanya.

“Pernah”

“Lalu apa jawabnya?” tanya mereka serempak.

“Ia hanya tertawa dan pergi”

Perempuan yang tertawa dan pergi bukan hanya dia seorang, pun dia bukan orang yang terakhir. Laki-laki di mana pun di dunia ini pasti suatu waktu pernah bertemu dengan perempuan yang tertawa dan pergi. Entah bagaimana perasaan laki-laki di saat itu, hanya laki-lakilah yang benar-benar mengetahuinya.

“Lalu?” tanya mereka serempak lagi.

“Apanya yang ‘lalu’?” tanya Li Hiang sambil tertawa.

“Apa yang kemudian tuan lakukan?”

“Aku pun pergi” katanya sambil mengangkat bahu.

“Tuan tidak mengejarnya?”

“Tidak” kata Li Heng.

“Aihhhh”

Jika perempuan mengatakan ‘tidak’ kepada lelaki, dan menyuruhnya pergi, maka kemungkinannya hanya dua. Ia ingin dikejar, atau ia benar-benar ingin lelaki itu pergi.

Sayangnya saat itu Li Hiang tidak mengerti pemahaman ini.

Laki-laki selalu memang terlambat memahami perempuan.

Saat ia akhirnya mengerti, ia memastikan kepada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah mengalami lagi penderitaan seperti ini.

“Ah sudahlah, aku harus berangkat. Tak lama lagi akan sore” kata Li Hiang. “untuk kenang-kenangan, ku harap nona berdua mau menerima ini”. Ia mengeluarkan dua buah giok yang indah dari kantongnya.

“Aih indah sekali, mana berani kami menerimanya” kata Tan Ling.

“Terima lah, suatu hari jika kita bertemu, aku kan bisa mengingat kalian berdua” kata Li Hiang. Ia lalu pergi dengan memanggul barang-barang yang dibelinya.

Lama keuda orang ini memandang Li Hiang.

“Ia nampaknya tidak seperti yang orang-orang ceritakan” kata Tan Cin.

“Benar. Ayo kita tuliskan laporan kepada suhu” kata Tan Ling.

Jauh berjalan, Li Hiang masih tersenyum,

“Nona-nona bodoh itu apa merasa aku tolol?” ia tertawa.








Wednesday, April 9, 2014

EPISODE 2 BAB 4: SI JUBAH MERAH

Mereka telah melalui perjalanan berbulan-bulan. Si Nona rupanya memiliki anak buah yang sangat banyak. Di mana-mana ia bertemu mereka dan memberi perintah. Menurut dugaan Suma Sun, si nona pasti telah mengabari keadaan dirinya kepada kedua orang tuanya. Dan dugaannya memang benar.

“Menurut berita yang kudengar, ayah ibumu sudah mulai melakukan perjalanan. Beberapa hari yang lalu orang-orangku sudah mengirimkan barang-barangmu dan sepucuk surat kepada mereka” kata si Nona.

“Mereka akan menemukanmu sebelum menemukan pedang itu” sahut Suma Sun tenang.

“Haha. Tidak segampang itu. Bahkan jika malaikat maut ingin mencariku pun mungkin bukan perkara yang mudah” tawanya renyah.

Suma Sun tidak tahu bagaimana ia bisa seyakin itu. Ia tidak tahu, perempuan yang teramat cantik biasanya amat yakin terhadap dirinya sendiri.

“Jangan harap ia akan menemukan jejak-jejak yang kau tinggalkan” kata si nona sambil tersenyum.

Suma Sun tidak menjawab.

“Kau jangan pura-pura bodoh. Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau meninggalkan jejak sepanjang perjalanan? Goresan pada pohon, tanda-tanda rahasia pada rerumputan, sisa-sisa makanan yang kau atur sedemikian rupa. Semuanya sudah dibersihkan dan dibereskan anak buahku. Ayah ibumu akan tersesat sejauh ribuan li saat mencarimu.” Tawa si nona.

Tiba-tiba Suma Sun merasa perempuan ini memang benar-benar menakutkan. Sayangnya, dirinya sendiri memang tidak pernah merasa takut.

“Nona memang hebat” hanya itu yang keluar dari mulutnya.

“Tentu saja” walaupun tidak dapat melihat, Suma Sun dapat membayangkan betapa cantiknya nona itu saat berkata begitu.

“Kau istirahatlah, besok kita akan memulai perjalanan lagi”

Suma Sun mengangguk. Ia memang tak dapat melakukan apa-apa. Tubuhnya selalu ditotok. Perjalanan pun dilakukan dengan kereta yang tertutup. Dari pendengarannya Suma Sun tahu ini bukanlah kereta biasa saja. Pasti merupakan kereta mewah yang mahal. Kuda penariknya pun merupakan kuda-kuda pilihan.

Siapa nona ini? Apa rencananya? Suma Sun hanya bisa menebak-nebak saja.

Selama perjalanan mereka singgah di berbagai tempat. Rumah tempat singgah mereka pun semuanya merupakan rumah-rumah mewah. Saat ini pun ia sedang berada di sebuah rumah mewah yang tamannya sangat indah. Angin membawa aroma sejuk dan wangi bunga-bunga yang beraneka rupa. Suara gemericik air dari sungai yang mengalir di sekitar menambah indahnya suasana. Seandainya ia sedang tidak disekap, tentulah ia akan keluar menikmati suasana ini.

Orang buta memang kadang lebih paham keindahan dunia ketimbang orang yang tidak buta. Itulah mengapa cinta itu buta pula.

Berdekatan dengan nona ini setiap hari, merasakan kehangatannya, mendengarkan suara indahnya, menciup wangi tubuhnya, menimbulkan perasaan yang Suma Sun sendiri tidak mengerti. Dalam keadaan ditawan seperti ini, ia tidak merasa takut. Jauh di lubuk hatinya terdalam, ia bahkan berharap agar kedua orang tuanya tidak segera menemukannya.

Perasaan aneh seperti ini bukankah pula tumbuh di hati semua umat manusia? Kadang-kadang membuat si manusia tidak sanggup berpikir dengan jernih. Bahkan menatap kenyataan dengan pandangan yang sama sekali berbeda.

Yang seharusnya dibenci justru dicintai, yang seharusnya dicintai justru dibenci.

Yang seharusnya didekati justru dijauhi, yang seharusnya dijauhi justru didekati.

Apakah karena kebodohan ini umat manusia mengalami penderitaan yang terus menerus?

Anak semuda ini, mana paham cara menahan perasaan? Mereka yang sdah berumur pun belum tentu bisa melakukannya. Apalagi Suma Sun yang baru berusia belasan tahun.

Si nona pun bukannya tidak mengetahui hal ini. Ia justru sangat mengetahuinya, dan malah ia telah merencanakannya. Ia justru paling ahli dalam masalah ini. Semua anak buahnya justru ditaklukannya dengan cara ini.
Kecantikan perempuan justru sebenarnya adalah hal yang mengerikan. Jika ia menggunakannya dengan pintar dan cerdik, alangkah banyaknya penderitaan yang mampu ia hasilkan.

Si nona telah mempelajari ini sejak ia kecil. Sejak menjadi tawanan perampok di Mongolia. Ia telah mengalami penyiksaan, penodaan, dan penderitaan. Tapi ia belajar dan belajar. Sehingga ia akhirnya menjadi kesayangan sang kepala perampok.

Saat gerombalan perampok itu ditumpas oleh kerajaan Goan (Mongolia), ia lalu menjadi tawanan prajurit. Dengan kecantikan dan pengalamannya, ia malah menjadi kesayangan seorang jenderal. Lalu tak sengaja sang Kaisar Goan melihatnya dan menjadikannya selir kesayangannya.

Thian (langit) memang memberkatinya dengan kemujuran demi kemujuran setelah penderitaan yang selama ini selalu dideritanya. Entah darimana ia mempelajari ilmu dan ramuan-ramuan yang semakin mempercantik dirinya. Ilmu ini bahkan mampu membuatnya melawan kekuatan umur yang menggerogotinya.

Ia menjadi semakin cantik dan semakin menggairahkan. Pengalamannya dalam menaklukan ratusan lelaki menjadi modal utamanya untuk menaklukan hati kaisar. Sampai akhirnya ia melahirkan benih sang kaisar sendiri. Walaupun anak itu bukanlah putra mahkota yang akan menggantikan sang kaisar kelak.

Tidak ada yang tahu umur pastinya. Bagi pandangan mata manusia, ia tetaplah nona cantik yang senyumnya dapat meluluhkan hati lelaki manapun. Suaranya yang mendesah bahkan mampu memberi perintah kepada sang kaisar sendiri.

Hingga suatu saat kerajaan Goan pun runtuh dan digantikan kerajaa Beng. Dengan susah payah ia berhasil menyelamatkan dirinya dan anaknya. Dengan sisa-sisa kekuatannya ia membangun kembali apa yang selama ini telah menjadi miliknya.

Kekuasaan.

Kekuasaan memang teramat sangat menggiurkan. Orang mampu melakukan apa saja.

Entah sudah berapa tahun ia membangun kembali kekuatan ini secara diam-diam. Entah seberapa besar kekuasaannya, entah berapa pula umurnya, tak ada seorang pun yang tahu.

Si nona kini memandang bintang-bintang di angkasa. Ia telah memandang bintang-bintang itu sekian lama seolah olah ingin mengambil seluruh cahaya bintang-bintang itu untuk diletakkan di kedua matanya yang indah.

Terdengar suara di belakangnya,

“Siocia, Song Wei datang melapor”

“Berita apa yang kau bawa, Song Wei?” tanya si nona.

“Pendekar Suma dan istrinya sedang menuju ke puncak Himalaya” kata Song Wei.

“Menurut kabar, si Jubah Merah sedang menuju perjalanan ke sana pula”

Dengan akalnya, si nona menghubung-hubungkan kedua berita ini.

“Apakah Pedang Ungu berada di tangan si Jubah Merah?” tanyanya.

“Benar siocia. Menurut kabar, ia telah berhasil menemukan pedang itu” jawab Song Wei.

“Wow, sangat menarik. Dan kau tahu mengapa si Jubah Merah menuju ke puncak Himalaya?” tanya si nona lagi.

“Hamba belum mendapatkan kabar yang pasti, tapi menurut hamba, ia mungkin melarikan diri dari kejaran orang-orang Bu Lim (kalangan persilatan)” jawab Song Wei.

“Haha. Orang seperti dia tak akan mungkin lari. Aku paham betul sifat lelaki seperti itu” ia berkata begitu sambil membasahi bibirnya. Pipinya merona merah.

Melihat itu Song Wei hanya bisa menelan ludahnya. Ia telah bepergian jauh dan menempuh banyak bahaya hanya untuk bisa menatap pipi yang merona merah itu.

“Untuk jasamu ini rasanya kau boleh menemaniku malam ini” kata si nona tersenyum mesra.

Rembulan bersinar terang.

Dua anak manusia lalu tenggelam dalam nikmatnya cinta.

Beribu-ribu li dari sana, seorang pria yang amat sangat tampan sedang memandang rembulan itu pula.

Ia duduk di atap kereta ditemani arak dan sebuah jubah merah untuk menghangatkannya. Jubah merah yang menggetarkan dunia. Bayangan jubah ini telah menancapkan rasa takut dan segan yang teramat dalam di hati manusia.

Dan ia teramat bangga dengan jubahnya ini. Baginya jubahnya ini adalah cerminan dari dirinya sendiri.

Ia teramat sangat tampan. Lelaki dengan wajah setampan ini amat sangat sukar untuk menjadi lelaki baik-baik. Tak terhitung banyaknya perempuan yang merelakan diri dan jiwanya terkoyak koyak. Mereka semua datang secara sukarela kepadanya. Jika kau memiliki wajah setampan ini, bidadari di khayangan pun akan datang secara sukarela kepadamu.

Dunia persilatan menyebutnya dengan julukan ‘Jai Hwa Sian’ sang Dewa Pemetik Bunga. Di mana ia hadir, akan ada puluhan bahkan ratusan ‘bunga’ yang akan ia petik dan ia hisap madunya. Bunga tentu saja adalah wanita.

Selama hidupnya, tidak ada satu pun wanita yang tidak pernah tidak menginginkan dirinya.

Tak terhitung nona-nona cantik ini rela meninggalkan rumah, rela meninggalkan keluarga hanya agar dapat bersama dirinya. Hanya agar dapat memandang matanya yang teduh, senyumnya yang hangat, dan suaranya yang dalam dan menenangkan.

Jika dunia kiamat sekalipun, wanita manapun akan merasa aman saat berada di dalam pelukannya.

Ia pintar menghadapi wanita. Ia tahu cara menghadapi mereka. Ia tahu cara memuaskan perasaan wanita-wanita ini. Ia mengerti mereka, memberikan apa yang selama ini mereka cari, dengan caranya yang berbeda-beda. Ia tahu isi hati perempuan luar dalam.

Dan itulah mungkin cara ia mampu menaklukkan mereka. Ketampanan saja tidak akan cukup. Ia memiliki banyak hal yang amat diinginkan perempuan darinya. Wajah yang sangat rupawan, tubuh yang tegap, uang, kata-kata yang manis, dan pengetahuan yang amat dalam tentang sifat-sifat perempuan.

Dengan kemampuannya ini ia dapat mengajak pergi nona kecil yang masih bau kencur untuk kabur dari rumah orang tua mereka. Dapat membawa lari istri pejabat-pejabat tinggi, dan bahkan sampai masuk ke dalam ruang selir-selir kaisar dan bersenang-senang dengan mereka.

Tak ada satu perempuan pun yang meninggalkan lengannya tanpa terpuaskan jiwa dan tubuhnya.

Maka bisa dibayangkan betapa berbahayanya laki-laki ini. Karena lelaki yang paling berbahaya adalah laki-laki yang dapat menaklukkan perempuan.

Seluruh kalangan mencarinya. Seluruh kalangan menetapkannya sebagai buronan. Karena dengan kemampuannya ini ia mampu mendapatkan apa saja.
Pedang Ungu yang sedang berada di depannya ini tentu saja adalah salah satu hasilnya.

Ia sangat paham pedang. Bahkan pedang adalah salah satu keahliannya yang paling ia banggakan. Dan ia tahu pedang apa yang berada di hadapannya ini.
“Tok Kiu Pai menaklukkan dunia dengan pedang ini. Aku pun akan menaklukan dunia dengan pedang ini pula” batinnya.

“Sayang, masuklah aku kedinginan” terdengar suara dari dalam kereta.
Sang Dewa Pemetik Bunga tersenyum, lalu melompat turun dan masuk ke dalam kereta.

“Kau belum tidur, sayang?” tanyanya mesra.

“Bagaimana aku bisa tidur kalau tidak kau peluk?” suara itu suara perempuan.
Tentu saja ia kedinginan karena saat itu ia tidak mengenakan sehelai benang pun.

“Hmm, memangnya apa yang akan kau berikan kepadaku jika aku memelukmu?” tanya si lelaki sambil tersenyum mesra.

“Apa saja. Kau minta apapun pasti akan ku berikan” jawab si perempuan. Wajahnya merona merah.

“Kalau aku meminta keningmu?” bisik si lelaki.

“Tentu saja ku berikan”

“kalau aku minta mata mu?”

“Tentu saja ku berikan pula”

“Kalau hidungmu”

“Boleh kau ambil saja” kata si wanita sambil merengut manja.

“Kalau bibirmu?” sambil bertanya ini, ia menghembuskan nafasnya ke kuping si wanita.

“Bibir ini toh punyamu, memangnya akan kau apakan jika kuberikan?” tanya si nona manja.

“Jika sudah menjadi milikku tentu saja terserah apa yang aku inginkan untuk kulakukan pada bibir itu” jawab si lelaki.

“memangnya apa yang akan kau lakukan?” desah si wanita.

Si lelaki tersenyum. Betapa tampannya wajah ini.

“Aku tidak mau mengatakannya kepadamu. Kau boleh membayangkan sendiri” katanya sambil tertawa kecil.

“Kau jahat! Aku tidak ingin melihatmu lagi” kata si wanita sambil memukul-mukul manja dada si lelaki.

Mereka berdua tertawa dengan mesra.

Kegelapan malam menyelimuti pinggiran hutan yang lebat dan sepi itu.
Suara nafas mereka berdua memburu. Hingga sang lelaki berhenti.

“Kenapa?” tanya si wanita.

“Kau tunggu di sini” kata si lelaki sambil cepat-cepat mengenakan bajunya.

Ia mengenakannya dengan cepat dan sudah keluar dari keretanya.
Di luar sudah ada seseorang yang terlihat mendekati kereta itu.

“Benar dugaanku penjahat hina ini berada di sini” kata lelaki yang datang itu. Ia sudah setengah baya.

“Ah, Bhok-tayhiap rupanya. Selamat datang” ia menjura dan memberi salam. 
Selamanya ia memang adalah lelaki yang sangat sopan dan mengerti adat.

“Tidak perlu bertele-tele” Bhok-tayhiap mengeluarkan pedang dari sarungnya.

“Di mana anakku?” tanyanya.

“Bhok-siocia sudah terlelap di dalam kereta, tayhiap.” Jawab si lelaki berjubah merah ini.

“Kurang ajar!” cepat cepat ia memburu ke kereta itu dan membuka pintunya. Dilihatnya putrinya sedang tertidur lelap. Dengan marah ia membentak dan menarik putrinya, “Ayo pulang!”

Putrinya tentu saja tidak terlelap. Ia hanya pura-pura saja sejak pertama kali ia mengetahui bahwa ayahnya datang.

“Eh, ada apa?” katanya ‘kaget’.

“Ayah?”

Plakkk! Itu jawaban dari ayahnya.

“Bikin malu keluarga!”

Dengan marah ia menoleh ke si Jubah Merah, “Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu” katanya sambil menuding pedang.

“Perbuatan apa?” tanya si Jubah Merah.

“Kau telah membawa kabur anakku. Kau pilih mati kubunuh atau mengawininya?”

Si jubah merah tertawa.

Orang seperti Bhok-tayhiap ini jika ada sepuluh pun belum tentu sanggup menggoreskan pedang kepada tubuhnya.

“Bhok-siocia secara sukarela untuk pergi dengan cayhe. Sama sekali cayhe tidak membawa lari. Bukankah ia telah menuliskan surat kepada tayhiap?” tanyanya sopan.

Bhok-tayhiap sama sekali tidak bisa menjawab karena ia menyadari kebenaran kata-kata ini. Tiga hari yang lalu ia menemukan surat ini di atas mejanya.
“Kau...kau...” katanya terbata-bata.

“Ayah....sudahlah....aku...aku mencintainya..aku ingin hidup selamanya bersamanya” kata si nona.

Alangkah pedihnya hati seorang ayah. Setelah bertahun-tahun membesarkan dan memberikan penghidupan yang layak kepada anak perempuannya, lalu si anak perempuan meninggalkannya karena jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang baru dikenalnya.

Kebanyakan laki-laki jika telah menjadi ayah baru akan mengerti pemahaman ini. Baru akan mengerti betapa mereka dulu tidak disukai calon mertuanya.

Bhok-tayhiap tidak tahu harus berkata dan berbuat apa-apa. Air mata menetes di pipinya. Entah air mata kemarahan, dan air mata kesedihan.
Lalu ia menarik anak perempuannya dengan paksa.

“Jika kau berani datang dan melamarnya secara baik-baik. Aku akan merestuinya.”

Ia tidak lagi menghiraukan tangisan anak perempuannya yang meronta-ronta tidak ingin diajak pergi.

Si Jubah Merah berkata dengan tenang,

“Tunggulah di rumah”

Dan tak lama kemudian ia telah sendirian berada di situ. Bayangan si nona dan ayahnya telah menghilang ditelan kegelapan.

Ia tersenyum.

“Mengapa perempuan begitu mudah dibohongi?”