Sunday, February 19, 2017

EPISODE 2 BAB 57: RACUN



“Saatnya kita menerobos ke dalam!” kata Cukat Tong. Ia lalu mengeluarkan sempritannya dan memanggil burung-burungnya. “Aku rasa serangan udara kini sudah aman. Ku pasrahkan serangan darat kepadamu!” sambil berkata begitu tubuhnya sudah membumbung tinggi ke langit hitam di atas sana.

“Sang Raja Maling kini menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya,” batin Suma Sun sambil geleng-geleng kepala. “Cio San telah berhasil mengeluarkan racun dari dalam tubuh Cukat Tong. Nampaknya sang Raja Maling telah berhasil pula mengeluarkan racun dari dalam hatinya sendiri,” Suma Sun tersenyum sendirian.

Memang jika kau telah berhasil mengeluarkan racun dari dalam hatimu, kau akan merasakan kemerdekaan yang tak pernah kau rasakan sebelumnya. Seolah-olah seluruh beban yang menghimpit dadamu terangkat seluruhnya. Kau menjadi dirimu seutuhnya. Bukankah itu merupakan kebahagiaan terbaik di dalam hidup manusia? Berhasil menjadi dirinya sendiri. Menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya.

Manusia memiliki “racun”-nya sendiri-sendiri. Uang dapat menjadi racun. Kekuasaan dapat menjadi racun. Jabatan dapat menjadi racun. Keinginan dapat menjadi racun. Persahabatan pun dapat menjadi racun.

Cinta pun dapat menjadi racun.

Racun paling manis yang paling berbahaya dan mampu menghancurkan hidup seseorang dari dalam. Dari dasar jiwanya.

Jika kau pernah jatuh cinta, kau tentu mengetahui betapa dalamnya racun itu menjalar di setiap ujung tubuhmu. Betapa racun itu menguasai seluruh detak jantungmu, dan tarikan nafasmu. Menguasai pikiran dan benakmu. Racun yang membuatmu kehilangan dirimu sendiri. Racun yang membuatmu kehilangan segalanya.

Tapi racun itu begitu manis sehingga kau rela menderita setiap saat. Sehingga jika kau mati karena racun itu pun, kau merasa mati dalam kebahagiaan.

Alangkah menakutkannya racun itu.

Dan alangkah bahagianya mereka yang telah mampu membersihkan racun itu di dalam hidupnya.

Cukat Tong terbang tinggi. Walaupun di hatinya terdapat sedikit kepedihan saat mendengar “dia” disebut, ia telah mampu menenangkan dirinya.

Semua manusia berhak untuk hidup tenang. Meskipun kenangan dan harapan masih tersisa, sungguh, setiap manusia berhak untuk hidup dengan tenang.

Angin dan rintik hujan menyapa tubuhnya yang melayang tinggi bergelantungan pada burung-burung peliharaannya. Jauh di bawah sana, suara meriam terdengar menggetarkan bumi. Suara manusia yang bertempur dan menghilangkan nyawa terdengar sangat mengerikan.

Tetapi Cukat Tong dapat menikmati ketenangan di dalam keriuhan ini. Segala pikiran dan kenangan melintas di dalam benaknya. Ada sedikit sakit yang tahu-tahu muncul. Tetapi ia kini merasa damai.

Ya. Damai.

Itulah perasaan yang muncul saat kau akhirnya berhasil mengeluarkan “racun” dari dalam tubuhmu.

Meskipun harapannya tidak tercapai, meskipun cinta tidak mampu diraihnya, meskipun orang yang sangat ia cintai mengkhianatinya, ia tetap mampu merasa damai.

Karena ia telah menyadari, cara terbaik untuk merasakan cinta adalah dengan menghargai dirinya sendiri.

Sungguh, kau hanya akan memahami pengertian ini jika kau sudah benar-benar mengalaminya. Sudah pernah dihancurkan oleh cinta. Sudah pernah kehilangan segala-galanya karena cinta.

Pada akhirnya, kau akan merasakan damai di dalam setiap langkah hidupmu. Tetapi untuk sampai pada kedamaian itu, kau harus merasakan luluh lantaknya hidupmu terlebih dahulu.

Kau hanya bisa mengerti tentang terang, setelah kau mengerti tentang kegelapan.

Ini adalah hukum alam.

Hujan semakin deras. Pertempuran di bawah sana semakin dahsyat. Cukat Tong mempersiapkan persenjataannya. Benang-benang yang mengendalikan burung kini ia pindahkan ke kakinya. Tubuhnya kini terbalik, kepala di bawah, kaki di atas. Dengan tenang ia mengeluarkan benda-benda dari dalam kantong besar yang selalu berada di pinggangnya. Tak ada satu pun benda yang terjatuh saat ia sedang berada dalam posisi terbalik seperti itu. Gerak-geriknya sangat tenang. Ia mencampurkan serbuk dan beberapa cairan. Walaupun angin bertiup kencang, dan hujan sudah mengguyur, pekerjaannya sama sekali tidak terganggu. Dibutuhkan ketenangan dan pengalaman puluhan ribu kali untuk dapat melakukan hal ini.

Ia mencampurkan ribuan paku-paku kecil di dalam racikannya dan membentuknya menjadi bola-bola kecil seukuran kelereng besar. Rupanya Cukat Tong sedang membuat peledak. Kemampuan hebat yang dimilikinya ini telah ia pelajari semenjak ia masih kecil. Tak heran ia amat mahir melakukannya. Dengan sangat tenang, sambil terbang, dan tubuh terbalik. Padahal pekerjaan ini sangat berbahaya karena jika keliru sedikit saja nyawanya pasti melayang.

Tak terhitung banyaknya bola-bola peledak yang dibikinnya dalam waktu sekejap saja. Begitu semuanya sudah selesai, ia lalu memasukkannya ke dalam kantong. Kemudian ia menarik kakinya untuk menggiring burung-burungnya turun. Begitu sampai pada jarak yang diinginkannya, ia diam sejenak memperhatikan suasana.

Cukat Tong lalu bersemedhi sebentar agar ia mampu mempelajari keadaan yang terjadi di bawah sana. Gemuruh suara seolah menghilang. Yang ada hanya kesunyian di dalam benaknya. Seolah-olah dunia berhenti berputar.
Lalu matanya terbuka!

Wajahnya yang tadi begitu tenang kini seolah terbakar api semangat yang membara. Jiwa petarungnya pun muncul dengan begitu kuat.

Apakah ini kekuatan Cukat Tong yang sebenarnya?

Ia melemparkan bola-bola itu satu demi satu!

Blaaaar! Blaaaaaar! Blaaaaaaar!

Ledakan besar terjadi di mana-mana. Orang mati terpanggang dengan tubuh hancur. Paku-paku tajam menghujam dengan kecepatan yang mampu menembus tembok baja.

Dengan bola-bola kecil ini, orang tidak perlu lagi belajar ilmu silat dan ilmu perang. Daya ledaknya jauh lebih hebat dari peledak manapun. Dilemparkan dengan kecepatan dan ketepatan yang amat sangat mengagumkan.

Setiap bola-bola itu menghujam, ada puluhan nyawa melayang.

Suma Sun “memandang” kejadian ini dengan bergidik. Baginya membunuh orang sudah sangat biasa, tetapi membunuh orang dengan cara seperti ini membuatnya merinding. Ia tahu Cukat Tong yang melakukannya. Ia hanya tidak menyangka betapa Raja Maling yang berpilaku tenang dan suka bercanda dapat membunuh orang sekejam ini.

Apakah ini jiwa dan kepribadian Cukat Tong sebenarnya?

Suma Sun memperlambat langkahnya. Rasa khawatirnya akan perbuatan Cukat Tong membuat ia merasa harus lebih berjaga-jaga. Tak lama lagi di masa depan, orang tak lagi perlu mempelajari ilmu silat. Mereka hanya perlu menciptakan senjata yang dahsyat.

Bagi Suma Sun, masa depan manusia sungguh terasa kelam.

Apakah kesedihan dapat merubah hati manusia menjadi sekelam ini?

Mungkin saja. Suma Sun pernah mengalaminya oleh karena itu ia dapat mengerti mengapa Cukat Tong menjadi seperti sekarang ini.

“Racun” ternyata belum sepenuhnya hilang dari dalam diri si Raja Maling.

Tak terasa air mata Suma Sun menetes. Sudah lama ia tidak pernah menangis. Ketika anaknya di dalam kandungan istrinya mati pun, ia tidak menangis. Tetapi kini ia menangis memikirkan perasaan dan keadaan sahabatnya itu.

Terkadang penderitaan orang lain terasa jauh lebih menyiksa ketimbang penderitaan diri sendiri.

Di dalam hati Suma Sun bertekad untuk menemani sahabatnya di dalam segala penderitaannya. Langkahnya kini mulai mantap. Ia sudah merasakan musuh di depannya.

“Aku tahu kau pasti datang!” kata seseorang di hadapan Suma Sun. Meskipun nadanya bersifat menantang, suaranya tenang, pembawaannya pun tenang.

“Bagus. Mari!” jawab Suma Sun.

Ia tidak tahu siapa di hadapannya. Ada urusan apa dengan orang ini. Tetapi orang ini membawa pedang dan menantangnya. Suma Sun juga tidak bertanya siapa namanya.

Baginya, pedang dan tantangan adalah jawaban. Oleh sebab itu ia tidak perlu bertanya.

“Kau tidak membawa pedang?” tanya orang itu. Tiba-tiba ia mengerti mengapa Suma Sun tidak membawa pedang. Suma Sun telah sampai pada tingkatan tertinggi ilmu pedang: Tanpa pedang!

Tiba-tiba rasa takut menjalar di seluruh tubuhnya. Hanya sekejap saja rasa takut itu menjalar, digantikan oleh kebahagiaan yang luar biasa.

“Akhirnya aku bisa mati oleh jurus pedang tertinggi! Hahahahaha, mari!”

Ia mencabut pedangnya dengan gembira seolah-seolah sedang disuruh berpesta. Kegirangan tertinggi yang mungkin bisa dirasakan manusia. Semangat ini begitu menggelora sehingga membuat gerakannya jauh lebih cepat dari biasanya. Ia sendiri heran mengapa bisa begitu.

Sreeeeeeet!

Satu tusukan tipis menyarang ulu hati Suma Sun. “Bagus!” puji Suma Sun. Si penyerang semakin riang hatinya. Dipuji seperti itu oleh Dewa Pedang, bukanlah sebuah hal yang sederhana. Meskipun hanya satu kata.

Suma Sun menghindari serangan itu dengan sebuah gerakan cepat. Serangan ringan itu bukanlah sebuah gerakan main-main. Kurang perhitungan sedikit saja, nyawanya pasti melayang.

“Anda adalah Pendekar Pedang Karat, Oey Kun Peng-tayhiap?” bahasa Suma Sun menghalus.

Si pendekar tua itu mengangguk. Anggukannya ini dipenuhi perasaan campur aduk antara senang dan malu. 

“Gerakan satu tusukan itu meskipun boanpwee (saya yang lebih muda) belum pernah menyaksikannya, tentu pernah mendengarkan kehebatannya. Di muka bumi ini tentu hanya jurus ‘Menusuk Rembulan’ yang bisa bergerak dengan sehebat itu,’’ kata Suma Sun.

 “Di muka bumi ini, cuma anda dan sahabat anda yang berhasil menghindarinya!” jika orang lain mengatakan bahwa jurus mereka berhasil dihindari orang, tentu akan malu. Tetapi orang tua ini mengatakannya dengan penuh kebanggaan.

Suma Sun tertawa. Katanya, “Jurus pedang apapun tentu mampu dihindari oleh Cio-tayhiap. Tayhiap tidak perlu berkecil hati.’’

“Bahkan pedang anda?” tanya Oey Kun Peng.

“Bahkan pedang saya.”

“Orang seperti Cio-tayhiap memang cuma ada satu-satunya di dunia ini. Aku beruntung pernah mengantarkannya dengan perahu,” kata Oey Kun Peng.

“Mengapa tayhiap bergabung dengan pemberontak?” tanya Suma Sun.

“Hutang budi,” jawab orang tua itu pendek.

Suma Sun tidak perlu bertanya kepada siapa orang itu berhutang. Ia tahu seluruh kejadiannya adalah sebuah aib bagi pendekar tua itu. Suma Sun sangat bisa mengerti keadaannya.

“Hutang budi yang hanya bisa dibalas dengan kematian….,’’ gumam Suma Sun.
“Benar sekali. Ku harap kau mau memberikan kehormatan ini untukku,” pinta si kakek tua.

“Sungguh boanpwee yang merasa terhormat sekali,” Suma Sun menjura dengan sangat dalam.

Mereka berbicara tentang bunuh-membunuh dengan amat dalam dan sopan santun. Seolah-olah kehormatan jiwa mereka berada pada percakapan ini.

“Jika aku mati, mau kah Suma-tayhiap menyimpan pedang ini?” tanya orang tua itu. Pedang itu pernah terpukul jatuh oleh Cio San ke dalam sungai. Ia menghabiskan berhari-hari menyelam ke dasar sungai hanya untuk menemukannya kembali. Pedang memang adalah harga diri bagi pendekar pedang. “Hanya pedang karatan yang tidak patut dipegang oleh ujang jari Suma-tayhiap yang terhormat. Tetapi sangat berarti untukku.”

“Tentu saja, Oey-tayhiap. Mari!”

“Mari!”

Tidak ada basa-basi. Tidak ada kata-kata perpisahan. Masing-masing mengerti bahwa mereka saling menghormati satu sama lain dengan cara saling membunuh. Sebuah pemahaman yang hanya bisa dimengerti oleh para pendekar pedang.

Masing-masing hanya mengeluarkan satu jurus. Satu jurus terbaik yang mereka miliki dan mereka simpan rapat-rapat. Hanya dikeluarkan di saat yang paling pantas dan paling terhormat.

Saat-saat seperti ini.

Oey Kun Pang tergeletak. Sebuah kelopak daun menembus dahinya. Tiada darah.

Namun kali ini terdengar suara. Suara orang yang baru saja diserang dengan ilmu pedang tertinggi di muka bumi. Suma Sun memang memberinya kehormatan itu. Kehormatan untuk bersuara di saat telah diserang oleh ilmunya. Karena semua lawannya pasti mati tanpa pernah bersuara. Hanya orang inilah satu-satunya yang memperoleh kehormatan itu.

“Inilah..ilmu…pedang…tanpa…pedang. Apa…namanya?”

“Semua di bawah langit tanpa pedang, gerakan terakhir”

“Bagus….aku..puas…Terimakasih!”

Ia mati sambil tersenyum. Segala aib dan hutang budi telah ia bayarkan kepada pemiliknya. Sekali lagi Suma Sun menetaskan air mata. Orang ini pantas mendapat penghormatannya. Ia berlutut dan bersujud di depan orang itu 3 kali.
Dengan satu pukulan tangannya, ia membuat lubang besar di tanah dan menguburkan Oey Kun Peng. Ia lalu membuat sebuah batu nisan dari batu besar yang berada di sekitar situ. Dengan pedang karat itu Suma Sun menuliskan kalimat :

“Hutang Sudah Dibayar Nyawa. Mati Dengan Membawa Kehormatan. Oey Kun Peng.’’

Ia bersujud 3 kali lagi, lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Dari langit kejauhan, Cukat Tong memperhatikan peristiwa ini. Hasil semedhinya telah membuka mata batinnya dengan mengetahui posisi kedua sahabatnya yang berada di sana. Ia masih melayang untuk mencari seorang lagi. Istrinya sendiri. Apakah Bwee Hua tidak datang untuk menolong mereka? Entahlah. Cukat Tong tidak berani menjawab.

Dari atas sini ia telah menyaksikan awal kehancuran pihak musuh. Sesuatu yang sangat sukar dilakukan sebelumnya. Jika sebelumnya musuh tidak lengah karena berhasil menculik kaisar, jika sebelumnya mereka tidak tertipu dengan kabar palsu yang dituliskan Cukat Tong pada burung pembawa pesan, jika Cio San tidak menyusup diam-diam dan menghancurkan pertahanan udara lawan dan menghancurkan gudang persenjataan musuh, tentu tidak mudah baginya untuk menyerang dari udara seperti ini.

Satu saja kekeliruan di dalam taktik perang, akan memberi kehancuran dan kekalahan yang maha dahsyat.

Musuh mengira dengan menawan kaisar, mereka bisa menggunakannya untuk menekan pihak kekaisaran untuk mundur dan turun dari tahta. Mereka mengira pasukan akan kocar-kacir dan mundur sejauh-jauhnya. Tetapi mereka melupakan 3 orang yang paling penting: Cio San, Cukat Tong, dan Suma Sun.

Mereka tidak memikirkan bahwa Cio San memiliki kemampuan untuk bertindak mengikuti arah angin. Segala perencanaan yang matang pasti akan buyar jika Cio San mampu membaca titik kecil kelemahannya.

Sebuah pasukan yang besar akan hancur jika Suma Sun sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya sebagai Dewa Pedang. Apalagi setelah sembuh dari luka dalamnya, kemampuannya justru meningkat berlipat-lipat.

Mereka pun lupa bahwa Cukat Tong dapat menembus benteng seketat apapun. Dan ia memiliki begitu banyak peralatan dan tipu daya yang sangat berguna untuk melumpuhkan lawan-lawannya.

Musuh mengira dengan melukai mereka satu persatu, ketiga orang ini tidak dapat bangkit dan membalaskannya. Malahan justru ketika mereka bangkit, mereka semakin kuat dan semakin bersemangat untuk melawan!

Ada sementara orang yang selalu bangkit saat kau pukul jatuh. Semakin sering kau menjatuhkannya, semakin kuat pula dirinya dari hari kehari. Pada akhirnya ia akan jauh lebih kuat daripada dirimu!

Cio San boleh terluka jantungnya, tetapi ia sembuh dengan pikiran dan jiwa yang jauh lebih kuat. Suma Sun telah terkena pukulan berat bagi jiwa dan tubuhnya saat anaknya meninggal di dalam kandungan, dan ia menjadi lumpuh. Tetapi ia telah sembuh dan justru jauh lebih berbahaya bagi siapapun. Cukat Tong telah menderita diracun oleh istrinya sendiri, dan mengalami penderitaan cinta yang amat berat. Tetapi ia bertahan dan kuat menjalaninya.

Orang-orang ini pantas disebut para penggetar langit!

Cukat Tong melayang turun, tugasnya menyerang dari angkasa sudah selesai. Dengan ringan ia melayang dan mendarat di atap sebuah tenda yang terpisah sedikit jauh dari gelanggang pertarungan.

Tempat apa ini? Kenapa begitu mencurigakan?



Thursday, February 2, 2017

EPISODE 2 BAB 56 HUKUM ALAM


Langkah Suma Sun begitu lembut, seolah-olah ia begitu takut merusak rerumputan pada jalan yang dilaluinya. Ratusan pendekar kini sudah mengepungnya dalam sebuah lingkaran yang besar.

Lalu dengan cepat mereka mengeluarkan sesuatu dari balik punggung mereka.
Kentongan!

Ratusan orang memukul kentongan dengan sangat riuh. Suasana di malam yang gelap itu berubah menjadi ramai. Rupanya inilah cara mereka menghadapi Suma Sun. Menggunakan keributan untuk mengacaukan perhatian Suma Sun.

Suara ratusan kentongan semakin beradu. Suara gemuruh yang memecahkan telinga! Apalagi kentongan ini dipukul dengan mengerahkan tenaga dalam. Dari kejauhan suara kentongan ini terdengar menggelegar. Cukat Tong memandang Cio San dengan penuh rasa khawatir. Kata, “Mereka telah menemukan cara untuk melawan Suma Sun.”

Cio San tersenyum menggeleng, “Suma Sun hanya bisa dikalahkan dengan cara yang sama sebanyak satu kali. Setelah itu ia akan menemukan cara untuk memecahkannya.”

Lega hati Cukat Tong mendengar hal itu. Katanya, “Jadi semakin ia kalah, semakin bertambah hebat pula kemampuannya? Aku beruntung menjadi sahabatnya. Jika aku menjadi musuhnya, aku memilih pergi menghilang dan tak menunjukkan batang hidungku sama sekali di dunia persilatan.”

“Apabila Suma Sun mencarimu, memangnya kemana kau dapat bersembunyi?” tukas Cio San sambil tertawa.

“Betul juga! Hahahaha!”

Mereka tertawa dengan riang meskipun saat ini sahabat mereka sedang dirundung bahaya yang amat besar. Itu karena mereka sangat mempercayai kemampuan sahabat mereka itu. Sebaliknya, sahabat itu pun sendiri mempercayai kemampuan mereka. Itulah mengapa ia meminta mereka pergi menjalankan tugas masing-masing.

“Kali ini, aku harus masuk ke sarang naga sendirian,” kata Cio San.

“Eh? Kok enak? Lalu kau menyuruh aku tinggal di sini menjadi sasaran empuk nyamuk hutan? Mengapa kau boleh berpesta sedangkan aku harus duduk di sini seperti orang tolol?”

“Hahaha. Tidak. Justru tugasmu di sini sangat besar. Kau harus menghentikan burung pembawa berita yang pasti akan mereka kirimkan untuk memberitahukan keadaan di sini.”

“Hm……,”

“Hentikan burung itu. Lalu ganti beritanya. Beritakan bahwa mereka telah berhasil menjalankan tugas. Kau kan bisa meniru tulisan orang dengan sangat baik,” jelas Cio San.

“Eh, bagaimana kau tahu aku bisa meniru tulisan orang?”

“Kau dengan mudah meniru wajah gadis perawan yang sedang minta kawin, apalagi hanya meniru tulisan cakar ayam kaum petarung. Haha,’ tawa Cio San.
“Haha. Setelah itu?”

“Setelah itu kembali lah menemui Suma Sun. Jika bisa, kalian berdua segera menyusul ke sarang naga.”

“Baik.”

“Baik, aku pergi!”

“Selamat jalan!”

Cio San segera menghilang dari situ. Cukat Tong segera melayang ke pucuk pepohonan dengan sekali lompatan. Ilmu meringankan tubuhnya sungguh sudah sangat sukar diukur. Ia memang mampu menyembunyikan kehebatan dirinya yang sebenarnya.

Dengan tenang ia bersemedhi dan memperhatikan keadaan sekitar dengan mata batinnya. Jika seseorang sudah mampu mengosongkan pikirannya, maka jiwanya akan bersatu dengan alam sekitar. Ia dapat mampu memperhatikan pergerakan sekecil apapun. Dapat membedakan langkah semut dari serangga lain dari kejauhan. Ia menanti kepakan sayap sebuah burung pembawa pesan itu. Kepakan kecil yang harus dibedakannya dari kepakan suara burung-burung yang lain.

Di kejauhan, berpuluh-puluh li dari situ, Suma Sun sedang berhadapan dengan ratusan pendekar yang mengepungnya dengan suara kentongan. Keringatnya mengalir deras. Langkahnya mulai tidak beraturan.

Melihat ini, para pengepungnya menjadi sangat senang. Salah satu dari mereka berteriak, “Terus maju dan terus mengepungnya. Sedikit lagi, kita sudah bisa menghabisinya!”

Mereka terus memperpendek jarak sambil terus membunyikan kentongan yang mereka pukul dengan senjata masing-masing. Suara semakin bergemuruh memekakkan telinga!

Suma Sun jatuh tersungkur. Tangannya terlihat bergetar menopang tubuhnya agar tidak terjembab menghantam tanah.

Lalu ratusan orang itu menyerang bersama-sama. Kilatan ratusan pedang, golong, tombak, dan seluruh senjata yang bisa dibayangkan manusia, bergerak secara serempak menyerang sebuah sosok seputih salju di tengah malam yang gelap.

Begitu mengerikannya pemandangan.

Awan menutup rembulan. Malam yang gelap semakin gelap.

Detik berjalan dengan sangat lambat.

Lalu Suma Sun pun bergerak.

Sebuah gerakan memutar yang sangat cepat. Tetapi bumi terasa bergerak begitu lambat. Seolah-olah seluruh dunia bergerak dengan kecepatan yang sangat lamban.

Suma Sun bergerak seolah-olah lebih cepat dari perputaran roda kehidupan. Ia bagaikan menembus ruang dan waktu!

Kemudian ratusan orang itu terjengkang seluruhnya.

Pergerakan Suma Sun memang tanpa suara.

Tetapi darah lalu moncrot ke mana-mana. Darah yang keluar dari setiap pasang biji mata orang yang menyerangnya.

Teriakan ratusan orang yang melolong kesakitan di tengah malam yang sunyi di tengah hutan. Membuat buluk kuduk siapapun merinding ketika mendengarnya. Lolongan yang lebih perih dari suara kematian.

Mata mereka buta karena debu yang dilemparkan Suma Sun ke setiap pasang mata para penyerang ini.

Setiap titik debu itu tepat masuk ke mata, menghancurkan alat penglihatan mereka itu. Setiap orang hanya mendapatkan satu titik debu untuk setiap biji mata mereka. Tidak ada debu yang menyasar ke rambut, pipi, hidung, atau mulut mereka. Setiap debu itu hanya masuk di mata mereka!

Alangkah menakutkannya orang ini!

“Kalian menyerang orang buta dengan memanfaatkan kebutaannya. Kini rasakanlah menjadi buta,” sambil berkata begitu ia berjalan dengan tenang keluar dari gelimang tubuh yang tak berdaya.

Begitu menakutkan teriakan mereka. Begitu tenang dan pelan suara Suma Sun.

Darah bermuncratan di mana-mana. Tapi tiada setetes pun yang menyentuh tubuh Suma Sun. Ia begitu murni. Begitu bercahaya.

Putih bersinar di dalam kegelapan.

Sebuah burung kecil terbang keluar dari gelimang tubuh itu. Suma Sun mengetahui. Untuk sepersekian detik muncul keinginan untuk membunuh burung itu. Tetapi ia mengurungkan niatnya. Burung itu tidak memiliki kesalahan terhadapnya. Siapa pun yang tidak memiliki kesalahan kepadanya, berhak untuk hidup. Siapapun yang bersalah kepadanya, harus mati.

Itu adalah hukum alam yang berlaku atas manusia bernama Suma Sun.

Ia terus maju berjalan dengan ringan. Langkahnya perlahan. Begitu ia meninggalkan tempat itu, barulah muncul para tentara kekaisaran yang dengan ganas datang untuk menggorok leher para penyerang yang telah buta itu.

“Tidak perlu dibunuh,” kata Suma Sun. “Jadikan tawanan saja.”

Berjalan cukup lama, Suma Sun bertemu dengan ratusan prajurit yang sudah dilumpuhkan Cukat Tong dan Cio San. Ia tahu ini merupakan hasil kerja mereka berdua. Ia membiarkan saja ratusan prajurit itu karena ia tahu pasukan kerajaan akan segera ‘membereskan’ mereka. Tak berapa lama ia berjalan lagi, ia bertemu Cukat Tong di tengah jalan.

“Kau tidak menemani Cio San?” tanyanya.

“Ia memberikanku tugas untuk menangkap burung pembawa berita, dan menukar beritanya. Sudah selesai. Mari kita berdua pergi menyusulnya.”

“Dengan berjalan? Kenapa tidak naik burung-burungmu saja?” tanya Suma Sun.

“Aku khawatir jika mereka sudah memasang pengintai dan penyerang untuk memanah kita. Oleh karena itu lewat jalan darat lebih aman. Kita bisa lebih menyusup ke dalam kegelapan. Tapi aku khawatir baju putihmu akan membuat kita ketahuan.”

Suma Sun membuka jubahnya dan menggulungnya. Lalu ia memasukkan jubah itu ke kantong kecil yang biasa dibawanya.

“Kau pakailah jubahku ini,” kata Cukat Tong sambil memberikan jubah hitam yang dipakainya.

Suma Sun memakai jubah itu dengan senang. Katanya, “Meskipun jubahmu ini bau, rasa-rasanya cukup menyenangkan juga ketimbang kedinginan. Hahaha.”

“Jangan salah. Meskipun bau, sudah banyak perempuan yang dihangatkan oleh jubah itu,” tukas Cukat Tong bangga.

“Oh, jadi sekarang jubahmu ini untuk menghangatkan laki-laki? Aku sungguh khawatir,” tawa Suma Sun sambil geleng-geleng kepala.

“Hahaha. Demi kau, apa sih yang tidak ku lakukan?” canda Cukat Tong.

Perjalanan seberbahaya apapun, jika mampu kau lakukan dengan bercanda bersama sahabatmu, memangnya ha lapa lagi yang bisa menahanmu pergi?
”Kira-kira seberapa besar kekuatan musuh di depan sana?” tanya Cukat Tong tiba-tiba.

“Sangat kuat,” sahut Suma Sun. Lanjutnya, “Aku sendiri tidak yakin kita bakalan keluar hidup-hidup dari sana.”

“Sang dewa kematian saja tidak yakin, bagaimana dengan aku si ‘maling kecil’ ini?” tawa Cukat Tong.

“Bisa mati bersama-sama kan sudah bagus. Jauh lebih baik ketimbang mati sendirian.”

“Jika kau berkata seperti ini kepada Cio San, ia pasti akan tertawa,” ujar Cukat Tong.

“Kenapa?”

“Karena kupikir, ia justru lebih suka mati sendirian. Baginya, jika bisa mati tanpa menyusahkan orang lain, maka hal itu merupakan sebuah rejeki yang amat besar.”

“Orang seperti dia memang hanya ada satu di kolong langit langit ini. Saking sukanya mati sendirian, ia jadinya suka pula hidup sendirian.”

“Menurutmu, apakah itulah penyebabnya kenapa ia tidak mau menikah?” tanya Cukat Tong.

“Jangankan menikah, memiliki kekasih saja ia tidak tertarik.”

“Mungkin karena ia terlalu sering patah hati,” tukas si raja maling.

“Perempuan yang ia patahkan hatinya kemungkinan lebih banyak dari yang pernah menyakiti hatinya. Ku pikir hal itu bukanlah alasan yang tepat?”

“Lalu apa?”

“Ia hanya belum menemukan orang yang tepat,” jawab Suma Sun.

“Kira-kira perempuan seperti apa yang paling tepat menjadi kekasihnya?”

“Satu hal yang pasti, perempuan yang tidak cerewet.”

“Memangnya ada perempuan seperti itu?”

“Setahuku tidak. Perempuan yang bisu saja pun tetaplah adalah perempuan yang cerewet,” tawa Suma Sun.

“Yang aku herankan, mengapa perempuan selalu cerewet? Tidak bisakah mereka membiarkan laki-laki hidup dengan tenang?” tanya Cukat Tong sungguh-sungguh.

“Perempuan yang cerewet adalah merupakan sebuah hukum alam. Membuat langit berhenti hujan, atau membuat matahari berhenti bersinar, sungguh jauh lebih gampang ketimbang membuat perempuan bawel menutup mulut.”

“Tetapi ku lihat istrimu sama sekali tidak bawel,” tukas Cukat Tong.

“Kau kan tidak bersamanya terus sepanjang hari. Kau tak tahu apa yang diomelinya kepadaku jika tidak ada orang lain yang melihat.”

“Hahahaha. Ternyata dewa kematian pun takut kepada istrinya. Aduh…, aduuuh. Sampai sakit perutku.”

Mereka berdua tertawa dengan lepasnya.

“Eh, kau belum sempat bercerita mengenai hasil perjalananmu ke Himalaya,” kata Suma Sun.

“Aku berhasil menyelamatkan Gan Siau Liong. Ia terluka parah saat mempelajari sebuah ilmu yang ditemukannya di dalam sebuah gua di puncak Himalaya.”

“Oh? Ilmu macam apa itu?”

“Ilmu yang tertulis di sebuah jenazah laki-laki yang sangat tampan. Entah sudah berapa lama usia jenazah itu. Mungkin karena terkubur di dalam es, mayat itu bertahan sangat lama. Usianya saat ia meninggal mungkin sekitar 40 tahunan.”

Suma Sun tiba-tiba teringat kisah masa lalunya yang pahit. Apakah jenazah itu ada hubungannya dengan kasih pahitnya saat ia masih kecil dahulu?
“Apakah di sekitar jenazah lelaki itu, ada juga jenazah seorang perempuan?” tanya Suma Sun.

“Tidak. Mengapa kau bertanya demikian?”

“Apakah ada senjata yang kau temukan di dekatnya?”

“Ya. Sebuah pedang lemas dan sebuah suling emas.”

Suma Sun terhenyak. Sedikit banyak ia mulai yakin siapa jati diri jenazah itu. Lalu ia bertanya lagi, ”Apakah ia mengenakan sebuah kalung giok berbentuk naga yang terbelah dua?”

”Benar sekali! Kau tahu siapa dia?’’

”Ya. Ia adalah pamanku. Namanya Suma Liang,’’ Suma Sun mengeluarkan sebuah kalung yang selama ini selalu tersembunyi di balik bajunya.

”Ya benar. Kalung giok ini adalah separuh bagian dari kalung naga yang ku lihat di jenazah itu!’’.

“Bagaimana keadaan jenazah itu sekarang?”

Cukat Tong lalu menceritakan hal yang sama seperti yang diceritakannya kepada Cio San.

“Sayang sekali. Suatu saat aku harus pergi ke sana untuk menguburkan jenazah paman dengan semestinya. Kemungkinan besar ia sempat hidup lama di dalam jurang itu. Karena pada saat jatuh, umurnya mungkin tidak lebih dari 30 tahunan.”

“Aku sempat memakaikan kembali pakaiannya setelah mungkin sebelumnya dibuka oleh Gan Siau Liong untuk mempelajari catatan ilmu silat yang berada di tubuhnya,” jelas Cukat Tong.

“Setahuku, di tubuh pamanku, tidak ada tulisan apapun. Ia adalah lelaki tampan yang banyak diburu wanita. Sejauh yang ku dengar, tidak ada tulisan macam-macam pada tubuhnya.”

“Apa mungkin seseorang menuliskan ilmu di jenazahnya?”

“Bisa saja, tapi terlalu aneh. Untuk apa seseorang menuliskan ilmu silat di sekujur tubuh sebuah jenazah?’’

“Yang lebih aneh lagi, di dalam jurang itu aku menemukan benda-benda aneh. Ada pakaian dan jubah yang dilihat dari modelnya mungkin sudah seribu tahunan. Ada pula boneka, dan beberapa benda pusaka lain yang berada di dalam gua di dalam jurang itu.’’

“Kemungkinan besar memang paman tidak langsung meninggal. Ia masih bertahan hidup dan menemukan sebuah goa rahasia di dalam jurang itu.”

Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mencoba memikirkan segala kemungkinan yang terjadi terhadap keanehan ini. Tak terasa perjalanan mereka sudah semakin dekat dengan markas musuh.

Gerak-gerik Suma Sun menjadi lebih tenang. “Ada beberapa mayat di depan sana. Kemungkinan adalah pekerjaan Cio San. Ia sudah membukakan jalan untuk kita. Kira-kira, taktik macam apa yang harus kita pergunakan?”

“Paling baik adalah kita tetap menyusup. Baru bergerak ketika kesempatan yang baik muncul karena jumlah kita kalah banyak. Aku masih mengharapkan bantuan Bwee Hua. Tetapi tidak tahu apa yang bakalan ia lakukan.”

Baru saja ia berkata begitu, terdengar ledakan-ledakan yang berasal dari markas musuh. Api membumbung tinggi. Cukat Tong segera melayang ke pucung pepohonan yang paling tinggi.

“Wah, meriam-meriam mereka ditembakkan ke markas mereka sendiri!” kata Cukat Tong.

“Menurutmu itu perbuatan siapa? Cio San atau Bwee Hua?” tanya Suma Sun.
“Tentu saja Cio San. Jika Bwee Hua melakukan sesuatu, pasti lebih halus namun lebih ganas,” tawa Cukat Tong.

“Sepertinya orang yang paling berbahaya di muka bumi ini adalah istrimu.”

“Tentu saja,” ia tertawa namun matanya menampakkan kesedihan.

“Boleh dibilang, orang yang paling sakti di dunia ini adalah kau,” kata Suma Sun.

“Kenapa bisa begitu?”

“Karena kau dapat hidup bersama manusia yang paling berbahaya di muka bumi.”

Ia tidak sedang bercanda. Ia mengatakannya dengan sungguh-sungguh.





Thursday, January 19, 2017

EPISODE 2 BAB 55 MALAM YANG PANJANG



Cukat Tong dan Cio San berjalan dengan santai. Mereka menyadari betul apa yang akan mereka hadapi di depan. Musuh yang teramat sangat kuat. Karenanya mereka sebisa mungkin menghilangkan ketegangan dan keraguan di dalam hati mereka dengan mengobrol dengan santai.

“Terakhir bertemu, ku lihat kau bersama seorang perempuan. Kenapa sekarang kau malah sendirian?” tanya Cukat Tong.

Sebenarnya ini pertanyaan yang cukup menusuk, tetapi karena Cio San tahu Cukat Tong sedang mencoba mengajaknya bercanda, ia menjawab dengan santai, ”Perempuan cantik seperti bidadari seperti dia, mana mau kuajak bertualang segala ?’’

’’Lah, bukannya saat kita bertemu itu, kalian sedang bertualang ?’’

“Semakin sering kau ajak seorang perempuan bertualang, semakin dalam hatinya ingin kembali ke rumah,” tukas Cio San.

Lama mereka berjalan dalam diam, lalu Cukat Tong kembali bertanya,
"Menurutmu, apa sumber kebahagiaan dalam hidup? tanya Cukat Tong.

Cio San tidak menjawab. Malahan ia hanya melengos.

"Uang?" tanya Cukat Tong. Cio San tetap melengos.

"Kemahsyuran?"

Cio San tetap melengos.

"Cinta?" begitu Cukat Tong menanyakan itu, Cio San segera menoleh kepadanya dan berkata sambil tertawa, "Jika ada lelaki yang mengatakan cinta adalah sumber kebahagiaannya, maka ku jamin, hidupnya pasti lebih sering menderita".

"Lalu apa?" Cukat Tong masih penasaran.

"Aku tidak tahu," tawa Cio San terbahak bahak. "Jika aku tahu, memangnya kau pikir hidupku akan selucu ini?"

Mereka berdua terbahak-bahak.

Semakin dahsyat pertarungan yang akan mereka hadapi, semakin mereka tertawa dan bersenang-senang.

"Aku heran padamu. Kau tampan. Kau telah melakukan banyak hal yang mengagumkan. Kau pun sangat memahami hati perempuan. Seharusnya orang sepertimu sudah bergelimangan harta dan wanita. Tapi mengapa kulihat tidak ada satupun wanita yang menempel kepadamu? Mengapa juga ku lihat kau hidup rudin seperti ini?" tanya Cukat Tong sambil tertawa.

Jawab Cio San, "Semakin kau mengerti sifat perempuan, semakin kau tidak ingin berurusan dengannya"

"Lalu bagaimana kau memuaskan kebutuhanmu?" tanya Cukat Tong dengan wajah heran.

"Jika kau ingin makan, kau cukup datang ke warung. Kau tak perlu memiliki warungmu sendiri" tawa Cio San.

"Dari seluruh ocehanmu sejak tadi, ku rasa omonganmu inilah yang paling masuk akal. Mengapa aku tidak pernah memikirkannya?"

Mereka berdua tertawa. Meskipun beban hidup mereka sebagian besar disebabkan urusan perempuan, tidak sedikit pun hal itu mempengaruhi mereka saat ini. Meski di masa lalu, kedua sahabat ini sempat bersitegang tentang seorang wanita, malam ini mereka telah memutuskan di dalam hati mereka untuk mengesampingkan segala permasalahan dan menikmati gelak tawa.
“Eh, bagaimana hasil perjalananmu ke Himalaya? Mengapa kau dapat kembali secepat ini?” tanya Cio San.

“Seperti yang kau tahu, dengan menggunakan burung-burungku perjalanan kami menjadi lebih cepat. Meski akhirnya burung-burung ini tidak bisa digunakan saat kami menemui daerah bersalju, setidaknya perjalanan kami jauh lebih singkat ketimbang lewat darat.”

Lanjutnya, “Cukup sulit mencari orang di tengah pegunungan dengan cuaca seperti itu. Untunglah aku sempat sedikit-sedikit belajar dari Suma Sun. Kami akhirnya bertemu dengannya.”

“Kau bertemu dengan Gan-bengcu? Bagaimana kabarnya?”

“Ia terluka parah karena salah mempelajari ilmu?”

“Ilmu? Bagaimana ceritanya?”

“Dalam perjalanannya, ia menemukan sebuah mayat laki-laki yang terbalut es di dalam sebuah jurang. Mayat itu sudah berumur puluhan tahun, namun tetap utuh karena dilindungi cuaca yang dingin. Di tubuh mayat itu terdapat tulisan-tulisan yang mengajarkan tentang ilmu silat. Rupanya Gan-siauya mempelajari imu di tubuh mayat itu tetapi salah mempelajarinya. Ia terluka parah dan hampir lumpuh. Beruntung kami menemukannya dan membawanya pulang. Dan yang lebih beruntung lagi, begitu kami keluar dari jurang itu, sebuah longsoran es yang sangat dahsyat kemudian menutupi jurang itu,” kisah Cukat Tong.

“Wah, beruntung sekali! Syukurlah Thian (langit) masih memberikan perlindungan kepada kalian!”

“Tetapi mayat itu kemudian tertutup es selamanya. Seingatku ada beberapa barang berharga yang ikut terkubur bersamanya selama-lamanya.”

“Dasar otak maling. Yang kau pikirkan selalu pusakan berharga. Hahaha. Memangnya barang apa yang tidak sempat kau ambil?” tanya Cio San.

“Sebuah suling emas!”

“Hmmmmm. Apa lagi?”

“Ada beberapa kitab dan beberapa senjata. Bwee HUa berhasil mengambil satu senjata. Sebuah pedang lemas yang sangat berharga. Dari hawanya saja sudah ketahuan pedang itu merupakan mustika yang sangat sakti.”

“Apakah pedang itu merupakan mustika pedang yang selama ini dicari-cari kaum persilatan?” tanya Cio San.

“Iya, menurut Bwee Hua,” jelas Cukat Tong.

“Hmmmm, berarti lengkap sudah 6 mustika ditemukan. Empat mustika berada padaku; yaitu mustika ular, mustika sutra, dan mustika ikan. Mustika yang ke-empat sudah kuberikan kepadamu saat aku menyembuhkanmu. Mustika yang ke-lima adalah mustika kitab yang kini berada di gudang kekaisaran. Mustika ke-enam adalah mustika pedang. Dan mustika Kulit yang sampai sekarang masih belum ditemukan. Apakah mustika pedang berada padamu?”

“Bwee Hua yang membawanya,” jawab Cukat Tong.

Cio San ingin bertanya di mana Bwee Hua saat ini, tetapi ia memutuskan untuk tidak bertanya.

“Lalu bagaimana keadaan Gan-bengcu?”

“Kami sudah mengantarkannya ke kapal miliknya. Ada kedua orang tuanya di sana yang merawatnya.”

“Baguslah,” desah Cio San menghela nafas.

“Tak berapa lama lagi kita akan memasuki daerah kekuasaan musuh, apa rencanamu?” tanya Cukat Tong.

“Mereka pasti telah menunggu kedatangan kita. Mereka tahu kita mungkin akan melalui jalan udara, sehingga kemungkinan mereka akan mempersiapkan penyambutan. Lewat jalan darat dan air pun pasti sudah dijaga ketat,” jawab Cio San.

“Lalu lewat mana?”

“Kita tidak perlu menyerang ke sana. Kita tunggu saja mereka di sini!”

”Itu rencanamu ?’’

Cio San hanya mengangguk.

“Dari mana kau yakin bahwa mereka akan mengejar kita ke sini?” tanya Cukat Tong lagi.

“Karena mereka tahu tentara kita sedang kocar-kacir sehingga mereka tidak ingin melepaskan kesempatan ini. Kesempatan untuk menghancurkan seluruhnya kekuatan kekaisaran. Karena mereka tahu, masih banyak prajurit yang loyal terhadap dinasti ini.” Cio San berhenti sejenak dan memperhatikan keadaan sekitar. Lalu berkata, “Kita menunggu mereka di sini”

Cukat Tong menurut saja, namun ia bertanya,“Lalu bagaimana dengan nasib kaisar yang sudah diculik?”

“Mereka tidak akan membunuhnya saat ini. Karena jika mereka ingin membunuhnya, mereka tak perlu menculiknya. Mereka ingin menggunakan kaisar sebagai sandera, untuk memaksa dinasti ini turun dari tahta,”

“Betul juga. Lalu apa rencanamu? Kita menunggu saja di sini ?’’

“Kita pergunakan teknik gerilya. Dengan mengandalkan ginkang dan kegelapan malam, kita hancurkan tentara mereka sedikit demi sedikit.’’

Cukat Tong berpikir sebentar, lalu ia berkata, “Baiklah. Terserah kau saja!”

“Jangan khawatir. Kita kan masih punya satu senjata rahasia!” ujar Cio San.
“Apa itu?”

“Bwee Hua!”

“Kau mempercayakan tugas kepadanya? Kau mempercayainya? Bahkan aku saja tidak percaya kepadanya!” kata Cukat Tong dengan penuh rasa sedih.
“Mau tidak mau, aku harus meminta pertolongannya.”

Cukat Tong hanya terdiam sambil tersenyum perih, “Memang jika kau yang memintanya, ia akan melakukan apapun yang kau mau.”

Alangkah menyedihkannya keadaan ini. Tetapi ini adalah sebuah kenyataan yang harus mereka semua terima.

“Aku akan menuliskan surat kepadanya saat ini juga. Bisakah kau mengirimkannya?’’

“Aku dapat memanggil burung pengantar pesan kami kapan saja. Kujamin pasti sampai ke Bwee Hua,’’ tukas Cukat Tong.

“Baiklah.”

Dengan cepat merobek kain bajunya dan menuliskan pesan di kain itu.

Bwee Hua yang terhormat,

Kali ini bangsa dan negara membutuhkan pertolonganmu. Juga mengingat persahabatan kita, aku meminta tolong kepadamu. Kerahkan segala upayamu untuk melemahkan musuh di markas mereka. Aku berjanji akan membalas pertolonganmu dengan melakukan apapun yang kau minta selama hal ini tidak bertentangan dengan hukum negara, dan hukum dunia persilatan

Tertanda

Cio San

Ia segera menggulung kain itu dan memberikannya pada Cukat Tong. Sang raja maling lalu meniup sebuah peluit yang hampir tak ada suaranya. Tak berapa lama sebuah burung gagak pun datang. Cukat Tong mengikat lembaran kain itu dan menerbangkan gagaknya menghilang di kegelapan malam.

“Terima kasih,” kata Cio San yang hanya dibalas oleh anggukan kecil oleh Cukat Tong. Biasanya mereka berdua tidak pernah saling mengucapkan terima kasih. Tetapi untuk hal yang menyangkut Bwee Hua, terdapat sedikit kecanggungan di antara mereka berdua.

“Mari bersiap. Kita bersemedhi untuk mengumpulkan tenaga.”

“Mari!”

Kedua orang sakti ini kemudian melayang ke pucuk pepohonan. Mengambil sikap semedhi dan segera tenggelam dalam semedhi itu. Mereka betul-betul mengumpulkan tenaga dan menenangkan pikiran.

Selama ini tak seorang pun yang dapat mengukur ketinggian ilmu silat Cukat Tong, karena ia tak pernah menghadapi pertarungan hidup dan mati. Ia tidak pernah menunjukkan ilmu silatnya yang sebenarnya. Namun ketika Cio San sempat bergebrak dengan Cukat Tong beberapa waktu yang lalu, di dalam hati Cukat Tong bergidik membayangkan kemampuan sahabatnya itu.

Cukat Tong yang sebenarnya belum lah muncul di permukaan!

Hening dan tenang. Kegelapan malam di dalam hutan rimba. Tak ada setitik cahaya pun karena rembulan dan bintang tertutup awan mendung. Malam ini mungkin akan ada hujan lebat.

Mereka semakin dalam memasuki semedhi masing-masing. Pikiran yang kosong. Tenaga yang terkumpul. Jiwa yang menyatu dengan alam.

Entah berapa lama mereka berada di dalam keheningan. Seolah-olah tidak menyadari bahwa dari kejauhan tentara musuh sudah bergerak diam-diam. Jumlah mereka sangat banyak namun mereka bergerak dalam gelap dan kesunyian. Nampaknya mereka ingin membuat serangan tiba-tiba terhadap tentara kekaisaran.

Cio San dan Cukat Tong masih melakukan semedhi mereka di atas pohon. Tentara musuh berjalan di bawah mereka tanpa menyadari bahwa kedua orang pendekar sakti itu sedang berada di atas pohon.

Rombongan ribuan tentara itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melewati tempat itu. Sebuah tempat yang diapit dua bukit kecil. Tidak ada seorang pun dari mereka yang menyadari bahwa tempat itu adalah tempat penyerangan yang sempurna.

Cio San ternyata memilih bersemedhi di situ karena ia menyadari betapa sempurnanya tempat itu. Pengetahuannya tentang peperangan dan taktik tentu saja ia pelajari sekilas dari kita Bu Bhok.

Sekilas saja sudah cukup baginya.

Begitu tentara memasuki daerah itu, mereka harus memperkecil barisan karena jalan di tempat itu dikelilingi dua bukit yang mempersempit jalan mereka. Dua bukit ini tidak terlalu mencolok, dan jalannya pun tidak terlalu terlihat menyempit. Hanya orang yang benar-benar paham keadaannya baru bisa memahami betapa sempurnanya keadaan tempat itu.

Jalur yang menyempit ini ternyata cukup panjang. Barisan tentara yang terakhir telah memasuki jalan sempit ini, sedangkan barisan terdepan malah belum keluar.

Cio San membuka matanya. Cukat Tong membuka matanya.

Mereka melayang turun.

Dengan ginkang yang sempurna mereka bergerak!

Di dalam kegelapan mereka melumpuhkan satu persatu tentara itu dengan begitu cepat mulai dari barisan paling belakang!

Barisan yang di depan tidak tahu apa yang terjadi di belakang mereka!

Ginkang (ilmu meringankan tubuh) serta ilmu totok kedua orang ini sudah berada di puncak kesempurnaannya. Begitu menakutkan! Begitu tanpa ampun!
Jika kau berada di sana, kau sendiri pun tak akan percaya akan kejadian ini.

Dua bayangan yang bergerak bagai malaikat kematian. Dua bayangan yang bergerak di balik bayang-bayang!

***

Suma Sun berdiri dengan tenang.

Ia mungkin tidak pernah setenang ini dalam hidupnya.

Padahal ia tahu, musuh berat sedang datang menghampirinya dari kejauhan. Ia tidak menenteng pedang, karena ia tidak lagi memerlukan pedang.

Ia telah mengganti bajunya yang tadi gosong terbakar. Kini jubah barunya yang berwarna putih menyala, berkilat di dalam kegelapan malam yang kelam. Entah berapa lama ia berdiri di sana.

Wajahnya tidak menampakkan ketegangan seperti orang yang akan berhadapan dengan peperangan. Wajahnya kosong melompong seperti orang sedang melamun. Tetapi jiwanya terisi penuh dengan semangat membara.

Di saat seperti ini, baju yang dipakainya adalah pedang. Rambutnya yang menjuntai tak diikat adalah pedang. Dedaunan yang berada di sekitarnya adalah pedang. Bahkan debu yang menempel di ujung sepatunya pun adalah pedang!

Lalu musuh pun datang!

Barisan terdepan adalah barisan para pendekar yang cukup sakti.

Sedangkan barisan belakang adalah prajurit biasa yang kini sedang dilumpukan Cio San dan Cukat Tong satu persatu tanpa ada seorang pun dari pasukan ini yang menyadarinya.

Barisan para pendekar sakti terhenti. Sesosok pria tampan yang berpakain seputih salju sedang menghalangi jalan mereka.

“Kau Suma Sun?” tanya salah seorang.

Tentu saja Suma Sun tidak menjawab. Ia berada di sana untuk membunuh orang. Bukan untuk menjawab pertanyaan.

“Hmmm. Manusia sombong! Kau pikir kau bisa menghadapi keroyokan kami?”

Ada sekitar 100 orang barisan pendekar yang berada di hadapan Suma Sun. Seluruhnya adalah pendekar hebat kelas atas.

Suma Sun maju selangkah demi selangkah dengan sangat tenang.

“Siapa yang ingin hidup, silahkan mundur,” ia mengucapkannya pun dengan sangat tenang pula.

Tentu saja mereka tertawa. Dengan jumlah sebanyak ini, tak ada seorang pendekar pun yang sanggup mengalahkan mereka.


***

Cio San dan Cukat Tong telah menghentikan pergerakan mereka. Lebih dari duapertiga musuh telah mereka lumpuhkan dalam sekejap. Meskipun dengan cara sembunyi-sembunyi dan bertentangan dengan nilai-nilai kependekaran, namun mereka tetap melakukannya.

Kini mereka berdua memandang jauh ke depan. Di mana barisan yang tersisa sedang maju untuk menyerang tentara kekaisaran.

"Akan banyak orang yg mati malam ini, kau tidak khawatir?" tanya Cukat Tong.

"Khawatir atau tidak, apakah ada bedanya? Memangnya Suma Sun akan berhenti menjadi Suma Sun hanya gara-gara kau khawatir?" bibir Cio San tersenyum tetapi di dalam hati ia khawatir.

Ia bukan mengkhawatirkan keadaan Suma Sun. Yang ia khawatirkan adalah berapa banyak orang yang harus mereka kuburkan malam ini.

"Memang jika ia ingin membunuh orang, tiada sesuatu pun yang sanggup menghalangi" tukas Cukat Tong.

"Bahkan dewa kematian sekalipun menuruti kemauannya. Jika dewa kematian sedang berlibur, tetapi Suma Sun hendak membunuh orang, maka sang dewa harus menghentikan liburannya dan datang memenuhi keinginan Suma Sun" tawa Cio San.

"Jangan jangan Suma Sun adalah dewa kematian itu sendiri?" ujar Cukat Tong.
Cio San menggeleng sambil menghela nafas, "Tidak. Dewa masih memiliki perasaan."

Lanjutnya, “Kita hanya melumpuhkan para tentara ini dengan totokan. Sebenarnya adalah untuk menyelamatkan mereka sendiri dari kematian. Tetapi hanya itu yang sanggup kita lakukan. Sisanya lagi tak dapat kita selamatkan karena jika kita bergerak lebih jauh, gerakan kita akan ketahuan dengan barisan depan yang jauh lebih tangguh,”

“Kau sengaja menyisakan barisan yang tangguh untuk Suma Sun?”

“Tidak. Karena kita tak dapat bergerak lebih jauh. Kita harus segera pergi ke benteng musuh untuk menyelamatkan Kaisar.”

Malam ini, akan ada ratusan orang yang mati. Hal ini adalah sebuah hal yang wajar dalam sebuah peperangan.

Hal ini adalah sebuah hal yang wajar jika mereka berhadapan dengan Suma Sun.