Sunday, April 1, 2018

EPISODE 3 BAB 2 PEMUDA YANG GAGAH



Liong Ce Lin.

Nama yang manis. Semanis orangnya yang mungil dan riang. Jika dipikir-pikir sebenarnya tingkah laku nona cilik itu sudah seperti nona dewasa. Biasanya memang anak remaja suka bergaya dewasa agar dipikir sudah dewasa. Nanti jika sudah tua, mereka sering bergaya seolah-olah masih berupa seorang nona cilik. Manusia memang penuh pertentangan. Cio San hanya bisa tertawa memikirkan hal ini.

Setelah membersihkan diri, ia berniat pergi sarapan. Tapi belum sempat ia keluar kamar, tahu-tahu pintu kamarnya sudah diketok orang. Dalam hati Cio San kagum karena langkah orang itu sama sekali tidak terdengar.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan itu halus namun terdengar sangat tegas. Dari ketokannya saja Cio San menduga-duga orang seperti apa yang berada di balik pintu. “Apakah Cio-hongswee bersedia menerima cayhe (saya)? Cayhe bernama Esen.”

“Esen?” Cio San bertanya dalam hati. Sepanjang hidupnya ia belum pernah kenal orang yang bernama Esen. Tapi suara orang ini seolah sudah dikenalnya. “Silahkan masuk, pintu tidak dikunci,” seru Cio San.

Begitu pintu terbuka nampaklah sosok pemuda yang sangat gagah. Tegap, bermata mencorong, dengan wajah yang bersenar. Mau tidak mau Cio San merasa kagum juga. Ia mengenal pemuda ini. Pemuda yang menyusul Putri Syafina untuk menjemputnya pulang. Sang kekasih yang gagah!

Dulu saat bertemu pertama kali, wajah pemuda ini dirundung kesedihan dan kesusahan. Kini segala kegelapan itu lenyap berganti cahaya terang penuh percaya diri.

“Mohon tutup pintunya kembali dan silahkan duduk, Esen-toako (saudara/kakak).”

“Cayhe (saya) memohon maaf karena mengganggu waktu hongswee (jenderal Phoenix),” katanya sopan namun tegas. Lanjutnya, “Penginapan ini adalah milik keluarga kami, dan begitu tahu hongswee (jenderal Phoenix) menginap di sini, cayhe segera datang sendiri untuk mengundang sekedar makan pagi bersama.”
“Oh, tentu saja. Terima kasih sekali atas undangannya. Kebetulan saya belum makan,” tawa Cio San. Ia sangat suka makan. Apalagi jika tidak perlu membayar. Sungguh kebetulan.

“Mari!” ajak pemuda bernama Esen itu. Mereka keluar kamar dan menyusuri lorong penginapan. Naik tangga ke lantai atas dan masuk ke sebuah ruangan khusus yang diperuntukkan untuk tamu-tamu penting. Para pelayan yang berada di sana terlihat sangat sungkan dan segan dengan keberadaan mereka.

Makanan pun datang cukup cepat. Setelah menata makanan dengan rapi di atas maja, seluruh pelayan keluar dari ruangan itu. Kini hanya tersisa mereka berdua.

“Mari silahkan dinikmati, Hongswee!” seru Esen dengan sopan.

“Mari!”

Mereka berdua saling menjura dan mulai menikmati makanan. Nampak cukup canggung juga Cio San makan. Akhirnya tidak tahan ia angkat suara, “Melihat suasana yang menyenangkan di sini, sepertinya Esen-toako (saudara/kakak) datang menemuiku rupanya bukan cuma untuk mengajak makan,” kata Cio San sambil tertawa masam.

“Eh? Hahaha. Rupanya betul kata orang, di hadapan Cio-hongswee, tiada gunanya menutup-nutupi sesuatu,” sebagai orang Goan (Mongol), Esen pun sangat menghargai keterbukaan tanpa basa-basi.

“Para pelayan yang sangat segan, mata-mata yang tersebar di seluruh kota, beberapa orang yang membuntutiku, juga toako (saudara/kakak) yang tahu-tahu datang, semua ini tentu bukan kebetulan. Aku belum sempat mencari tahu apa yang sedang terjadi di kota ini, tapi sesuatu yang besar rupanya sedang dipersiapkan,’’ kata Cio San.

Esen tertawa, ia lalu bertanya dengan sopan, “Tanpa bermaksud lancang, kalau boleh tahu, apa maksud Cio-hongswee datang ke mari?”

CIo Sna tahu ia tidak perlu berpura-pura di hadapan pemuda gagah ini. “Aku datang untuk menemui Putri Syafina.”

“Ada keperluan apakah?” pertanyaannya masih halus. Tapi ketegasannya makin menguat.

“Tidak ada. Hanya sekedar ingin bertemu.”

Hanya sekedar ingin bertemu.

Bukankah ini bukanlah sebuah kalimat yang enteng? Berapa banyak orang yang datang “hanya untuk sekedar bertemu” namun hanya menemui penderitaan yang dalam?

“Sayang putri Syafina tidak dapat ditemui untuk beberapa hari ke depan,” kata Esen.

“Eh?”

“Ya. Ia sedang dalam masa pingitan. Tiga hari lagi kami akan menikah.”

Entah kenapa Cio San justru merasa sangat lega begitu mendengar hal ini. Tidak ada kepedihan, tidak ada kesedihan. Seolah segala beban yang berada di hatinya terasa diangkat seluruhnya. Ia sendiri bahkan tidak tahu mengapa ia merasa seperti ini.

Esen melanjutkan, “Jika Cio-hongswee memiliki pesan, biar cayhe sampaikan kepadanya.”

“Baik. Tolong katakan kepadanya ‘Semoga berbahagia, aku selalu mendoakan”
“Hanya itu saja?”

Tentu saja hanya itu. Memangnya apa lagi yang dapat dikatakan seorang lelaki pada saat seperti ini?

Cio San mengangguk. Esen pun mengangguk. Jika dua orang lelaki berbicara dari hati ke hati, pada akhirnya mereka tidak perlu lagi berbicara. Karena masing-masing telah saling memahami. Lama mereka diam di dalam sunyi, hanya menikmati hidangan di atas meja.

Lalu Cio San buka suara, “Jika masih ada ganjalan di hati toako, mohon diungkapkan.”

Esen menatapnya, lalu ia tersenyum. Lalu kemudian senyum itu menghilang. Tatapannya tajam dan semakin mencorong, “Apakah Hongswee (jenderal phoenix) tidak datang kemari untuk mengajakku bertarung?”

“Mengajakmu bertarung?”

“Dalam budaya suku kami, itu salah satu cara menentukan jodoh,” jawab Esen.
Cio San tersenyum. Katanya, “Aku tidak berminat merebut kekasih orang.”

Seseorang yang kekasihnya pernah direbut orang lain, tentu tidak akan merebut kekasih orang lain.

Esen kini telihat yakin. Ia percaya Cio San tentu tidak akan berbohong. Tapi terlihat sesuatu yang masih mengganjal di hatinya.

“Jika toako ingin aku segera pergi dari sini, segera setelah makan aku berangkat,” tukas Cio San.

“Sebenarnya aku justru membutuhkan bantuan Cio-hongswee,” kata Esen.

“Silahkan. Jika mampu, tentu aku akan melaksanakannya.”

Setelah berfikir sebentar, Esen akhirnya memutuskan untuk menyampaikannya.
“Menurut kabar yang didapatkan oleh orang kepercayaanku, pada acara pernikahanku nanti akan ada percobaan pembunuhan kepada diriku.”

Mata-mata di mana-mana, suasana kota yang cukup mencurigakan, suasan penginapan, serta sikap pemuda ini sendiri, membuat Cio San mengambil kesimpulan.

“Jika boleh kutebak, toako bukanlah pemuda biasa. Toako memiliki kedudukan yang cukup tinggi di dalam kekuasaan. Karena itulah toako dapat menikah dengan seorang putri bangsawan. Persiapan pernikahan di seluruh kota juga dibarengi dengan bertebarannya mata-mata di berbagai penjuru, memberi petunjuk bahwa memang ada bahaya yang sedang mengintai sehingga toako mengambil langkah-langkah pencegahan. Karena itulah toako sendiri yang harus datang kemari menemuiku.”

“Betul sekali, Hongswee. Ada beberapa hal yang hanya bisa kutanyakan sendiri secara langsung,” jawab pemuda itu. “Mungkin sebaiknya aku bercerita.”

Lanjutnya, “Ayahku adalah adalah kepala oirat (suku) bernama Toghan-taishi (guru besar). Saat ini beliau sudah sakit-sakitan dan aku lah yang sementara menggantikan beliau. Di dalam bangsa Mongol, terdapat 4 persekutuan oirat (suku) besar. Ayahku ini salah satu ketuanya yang menguasai daerah selatan. Ada 3 ketua lain yang masing-masing menguasai timur, barat, dan utara. Menurut kabar rahasia yang terdengar, ada salah satu dari ketua oirat yang ingin membunuhku.”

Tentu karena urusan kekuasaan. Cio San tidak perlu bertanya alasannya.

“Dengan cara apa ia akan membunuh toako?” tanya Cio San. “Tidak mungkin mengirim pasukan. Yang paling masuk akal adalah mengirimkan seorang pembunuh bayaran yang tidak membawa kecurigaan. Tapi amat sukar penembus pasukan pengawalan seorang seperti toako. Cara yang paling masuk akal adalah dengan menggunakan racun.”

“Benar sekali. Menurut kabar rahasia, ia memang akan meracuni cawanku. Pada saat upacara minum anggur bersama yang hanya terdiri dari para ketua oirat.”

Cio San berpikir sebentar, “Toako ingin aku menemukan pelakunya dan mencegahnya melakukan pembunuhan itu?”

“Betul sekali, Hongswee. Sebagai balasannya, aku bersedia melakukan apa saja yang kau minta selama itu tidak melanggar kehormatanku.”

“Ada beberapa hal yang ingin kuketahui dalam permasalahan ini,” tukas Cio San.

“Silahkan tanyakan.”

“Mari kita anggap saja ada ketua 1, ketua 2, dan ketua 3. Coba ceritakan tentang mereka semua.”

“Ketua 1, adalah ketua tertua setelah ayahku. Kekuasaanya meliputi daerah barat. Punya pasukan paling kuat karena ia berhadapan dengan perbatasan negara luar. Ia yang paling menentang keputusan ayahku untuk mengangkat aku sebagai pengganti sementara. Baginya, seharusnya kekuasaan ayah diserahkan kepada ketiga ketua lainnya untuk dijaga. Jika ayah sembuh, kekuasaan itu akan dikembalikan. Karena ia tidak mempercayai orang semuda aku untuk duduk di jabatan seperti ini.”

“Ketua 2, menguasai daerah timur. Ia adalah ketua paling pintar secara ketentaraan. Ia berhasil menaklukan suku Jurchen di timur hanya dengan pasukan yang tidak terlalu besar. Orangnya tegas. Tapi ia tidak berpendapat apa-apa saat ayah menunjukku sebagai pengganti sementara. Jika aku mati, kemungkinan besar pasukan milik ayahku akan bergabung dengannya. Karena para tentara semua mengaguminya.”

“Ketua3, kekuasaannya meliputi daerah utara. Suku utara tidak suka berperang. Mereka adalah suku yang cinta damai karena mereka hidup di daerah bersalju. Daerah mereka berbatasan dengan Siberia. Jika aku mati, tidak ada keuntungan apa-apa yang ia dapatkan.”

Begitu penjelasan sekilas Esen. Cio San mendengar penuh seksama. Saat pemuda itu selesai bercerita, Cio San kemudian berkata, “Kemungkinan besar aku sudah tahu siapa pelakunya.”

“Hah?” Esen seperti tidak percaya hanya dengan cerita itu Cio San sudah bisa menebak siapa pelakunya, tetapi ia bertanya, “Siapa?”

“Dengarkan dulu penjelasanku,” tukas Cio San. Lanjutnya, “Dari penjelasan toako (saudara/kakak), sebenarnya tidak ada satu orang pun dari ketiga ketua itu yang akan mengambil keuntungan dari kematianmu. Meski ketua 1 tidak menyukaimu, ia tidak punya kepentingan apa-apa untuk membunuhmu. Karena jika toako mati, pasukan besar milik toako akan berpindah ke ketua 2 yang menguasai daerah timur.”

“Ketua 2 juga tidak punya kepentingan apa-apa untuk membunuhmu. Karena ia tidak membutuhkan pasukanmu. Dengan pasukannya yang kecil saja ia dapat menguasai suku Jurchen. Jika ia membutuhkan tambahan pasukan, ia cukup mengatakannya saja. Dengan serta merta para tentara akan bergabung dengannya. Dari dugaanku, ia sejenis pahlawan perang yang gagah. Jika ia mau, ia bisa menguasai seluruh pasukan yang ada baik di barat, utara, atau selatan.”

“Ketua 3 pun tidak mendapatkan apa-apa dari kematianmu. Ia terlalu sibuk mengurus keperluan suku utara yang berat karena hidup di daerah bersalju. Sandang pangan rakyatnya adalah hal yang paling utama. Merebut kekuasaan bukanlah sebuah hal yang masuk akal. Jika memang mereka tidak betah hidup di daerah bersalju, mereka tidak perlu merebut kekuasan. Cukup pindah saja ke daerah yang lebih hangat. Toh kalian semua adalah sesama suku sendiri.”

“Lalu menurut Hongswee siapa pelakunya di antara mereka?” tanya Esen.

‘’Pelakunya adalah orang yang memberitahukan kabar rahasia itu kepadamu!”
Esen terhenyak.

Cio San melanjutkan, “Orang itu bukan bagian dari ketentaraan, karena jika ia menguasai tentara, ia sudah melakukan pemberontakan. Orang itu ilmu silatnya jauh di bawah toako (saudara/kakak). Yang paling masuk akal, orang itu menguasai pasukan mata-mata di dalam oirat (suku). Ia juga lah yang menasehati toako untuk datang kemari menemuiku. Jika boleh ku tebak, orang ini memiliki hubungan persaudaran dengan toako. Melihat perannya yang penting, boleh kutebak, ia adalah salah satu saudara dari ayah toako.”

Mata Esen semakin bersinar. Sinar kekaguman yang sedari tadi tersimpan, kini menyeruak lebih terang. Cio-Hongswee adalah Cio-Hongswee!

Katanya pelan, “Benar. Pamanku adalah penasehat di dalam kekuasaan oirat (suku) ku. Ia pula yang menyuruhku datang menemui Hongswee (jenderal Phoenix).”

“Dengan pasukan mata-matanya, ia mengetahui aku memasuki kota ini, dan menginap di sini. Kebetulan penginapan ini adalah milik keluarga toako, sehingga ia segera melaporkan ini kepada toako. Ia sebenarnya sudah berencana untuk membunuhmu adalah dengan tujuan mengadu domba ketiga ketua. Jika toako mati karena diracun saat upacara minum arak, akan terjadi kegemparan dan rasa saling curiga di antara para ketua. Hal ini akan membawa kekacauan besar yang berujung pada peperangan. Pamanmu mungkin akan mengambil keuntungan besar dalam hal ini. Ia akan menggunting dalam lipatan. Karena jika toako mati dan ayah toako dalam keadaan sakit, kemungkinan besar kekuasaan akan jatuh pada tangannya.”

“Lalu mengapa ia mengirimku untuk menemui Hongswee?” tanya Esen.

“Sepertinya ia mengira ia dapat mengadu cayhe (aku) dan toako. Jika kita bertarung dan toako mati, setidaknya ia tidak perlu meracuni toako.”

“Tapi jika aku mati karena bertarung dengan Hongswee, bukankah ia tidak bisa memfitnah ketiga ketua dan menyebabkan peperangan?”

“Tetap saja bisa. Ia cukup menghembuskan cerita bahwa aku adalah kaki tangan dari salah seorang ketua. Di jaman ini, orang yang menguasai kabar, adalah orang yang paling berkuasa. Karena dengan kabar dan cerita, seseorang dapat mengubah pola pikiran masyarakat.”

Esen menganggukan kepalanya, “Cayhe akan mengingat selalu perkataan ini.”
Cio San tersenyum, “Sebenarnya, bukankah toako sudah tahu siapa pelaku sebenarnya? Toako kemari hanyalah untuk mengetahui pendapatku. Karena toako masih ragu-ragu dengan kesimpulan toako sendiri.”

Esen tersenyum lebar. “Memang sungguh benar perkataan orang terhadapmu, Hongswee. Di kolong langit ini, hanya ada satu orang Cio San. Tidak ada yang lain. Di masa lalu belum pernah ada. Di masa depan tidak akan ada pengganti.”
Dengan rasa hormat yang dalam, Esen menjura. Cio San pun menjura.

“Tapi masih ada satu kecurigaanku,” kata Esen. “Bagaimana jika justu Hongswee dan pamanku itu bersekongkol untuk membunuhku?”

Ia tersenyum tenang. Kecurigaannya ini pun sangat masuk akal.

Cio San tersenyum pula. “Kau tahu bukan, jika aku ingin membunuhmu, aku tidak perlu mengobrol panjang lebar?”

Ya, tentu saja Esen tahu. Berlatih 20 tahun pun ia tidak akan mampu menandingi ilmu silat Cio San. Namun mengapa ia bertanya seperti ini?

‘’Orang seperti toako tentu tahu, aku tidak mungkin merendahkan diri untuk menghamba kepada pamanmu. Jadi, apakah maksud toako bertanya seperti ini adalah untuk membuatku marah, lalu mengajakmu berkelahi?’’

Karena di dalam suku itu, berkelahi adalah salah satu cara menentukan jodoh.
Esen hanya tersenyum, katanya tulus, ‘’Di dunia ini, hanya 2 orang yang paling pantas bersanding dengan Syafina. Aku dan Hongswee sendiri.’’

Kata-katanya berhenti. Cio San tidak bisa memutuskan, apakah perkataan ini adalah pujian atau ancaman. Di dalam hatinya timbul perasaan yang aneh. Ada rasa kagum, namun juga rasa hati-hati akan bahaya. Pemuda gagah di depannya ini bukanlah seorang pemuda biasa. Semua perbuatan dan kata-katanya telah diatur sedemikian rupa.

Tapi meskipun hatinya gamang, di luaran, wajah Cio San tampak biasa-biasa saja. Ia malah tersenyum dan berkata, “Sudah ku bilang, aku tidak berminat berebut istri dengan orang lain.”

Esen tertawa ramah, katanya “Tentu saja aku percaya. Jika aku menantang Hongswee, itu sama saja bunuh diri. Tugas di depanku masih menunggu. Jika tidak berhati-hati, segala tugas ini tentu tak dapat aku selesaikan dengan baik. Ku harap Hongswee dapat mengerti.”

CIo San mengangguk. “Cita-cita toako sangat besar. Entah kehidupan macam apa yang akan toako hadapi di depan. Satu hal yang pasti, jangan pernah lupakan ada orang-orang yang harus toako perhatikan kehidupannya.”

“Tentu saja, Hongswee. Terima kasih atas segala nasehatnya. Eh, apakah toako bersedia memenuhi undanganku untuk datang ke acara perkawinanku 3 hari mendatang?”

Tentu saja tidak. Detik ini juga aku akan meninggalkan kota sialan ini.

Tapi Cio San hanya mengatakan hal ini di dalam hati. Sambil tertawa ia berkata, “Cayhe (saya) baru ingat ada keperluan yang harus cayhe selesaikan. Cukup sampaikan saja pesan cayhe pada istri toako. Cayhe akan selalu siap turun tangan jika toako dan istri membutuhkan.”

Esen tertawa. Cio San pun tertawa. Entah kenapa tawa mereka terasa aneh.
Cawan diangkat, dan mereka pun minum bersama. Tak lama kemudian Cio San minta diri. Ia memutuskan untuk segera pergi dari kota ini. Dalam beberapa hari lagi mungkin ada kejadian besar yang akan terjadi. Ia telah memutuskan untuk tidak turut campur. Ia hanya ingin hidup tenang!



Catatan: Esen Taishi adalah tokoh nyata. Bisa membaca tentangnya di wikipedia:  https://en.wikipedia.org/wiki/Esen_Taishi

Sunday, March 18, 2018

EPISODE 3 BAB 1 JIKA TIDAK PERGI, MEMANGNYA HARUS DATANG?




Padang rumput Mongolia.

Hamparan hijau menguning begitu luas. Bagaikan berenang di lautan hijau tanpa batas. Seorang lelaki berjalan sendirian. Langkahnya sangat ringan, namun entah kenapa langkah-langkah itu seperti menanggung beban yang teramat berat. Menurut sebagian orang, seperti inilah langkah seseorang yang sedang mencoba meninggalkan masa lalu. Ia begitu ringan menyongsong hari esok, tapi juga belum mampu meninggalkan kenangan hari lampau.

Matahari besinar cukup terik. Tidak banyak pohon yang tumbuh di padang rumput ini. Peluh menetes di dahinya, tetapi lelaki ini seolah begitu menikmati terik matahari siang bolong ini. Hari memang sudah agak beranjak sore. Kota yang ditujunya sudah tak lagi jauh. Mungkin saat malam, ia akan sampai di pintu gerbang kota itu. Qara Del. Itulah nama kota yang belum pernah didatanginya itu. Lucunya, setiap mendengar nama kota itu disebut di sepanjang perjalanannya, hatinya berdegup kencang. Tentu saja hal ini hanya bisa terjadi jika seseorang yang kau sukai tinggal di kota itu.
Seseorang yang kau suka.

Kalimat ini terdengar sangat sederhana, bahkan mungkin terdengar jenaka. Ada keriangan dan kelucuan tersendiri jika mendengarnya. Tetapi bagi orang yang merasakan, kalimat ini mempunyai makna yang tidak bisa dijelaskan meskipun kau bercerita setiap hari sepanjang tahun. Karena kisah tentang “seseorang yang kau suka” adalah kisah seumur hidup. Orangnya dapat berganti-ganti, tetapi perasaan yang berada di hatimu tidak pernah berbeda.

Kwee Mey Lan, Khu Ling Ling, dan Syafina. Ini adalah 3 nama yang mengisi hati lelaki yang berjalan sendirian ini. Ia telah merelakan Kwee Mey Lan. Ia pun baru saja bertemu dengan Khu Ling Ling dan menyembuhkan penyakit nona itu. Kini, ia pun datang ke tempat ini untuk bertemu dengan nama yang terakhir. Syafina, adalah seorang putri bangsawan Goan (Mongolia) yang sempat mengisi hatinya.

Dulu, nona itu telah menawarkan diri kepadanya. Memintanya untuk tidak meninggalkannya. Tetapi lelaki yang berjalan sendirian itu malah memintanya pergi. Ia tahu ia tidak dapat meminta nona itu untuk hidup bersamanya, karena pada saat itu sang nona telah dijemput oleh kekasihnya. Ia tahu rasa sakit yang timbul karena kekasih direbut orang.

Tetapi kini kenapa ia malah datang ?

Ia sendiri pun tidak tahu jawabannya. Tahu-tahu kakinya membawanya datang kemari. Beberapa bulan yang lalu ia pergi ke Himalaya untuk datang menyembuhkan Khu Ling Ling. Nona itu telah berkeluarga dan memiliki anak. Tetapi ia tetap dapat melihat sinar cinta di mata nona itu. Justru sinarnya semakin terang. Namun ia mengerti, cinta itu lebih merupakan sebuah kekaguman daripada rasa ingin memiliki. Karena sejak dahulu, Khu Ling Ling tahu, lelaki ini tak dapat dimilikinya seorang. Lelaki ini adalah milik dunia.

Kadang-kadang jika cinta seseorang begitu mendalam, ia justru mampu merelakan cintanya untuk pergi.

Begitu pulang dari Himalaya, kakinya justru berbelok dan tahu-tahu ia telah hampir sampai di Qara Del. Ia tersenyum dan berkata kepada dirinya sendiri, ‘’Cio San, Cio San. Apakah penderitaanmu masih belum cukup?”

“Memangnya jika kau bertemu Syafina, kau akan melamarnya? Apakah kau akan menantang kekasihnya bertarung untuk menentukan jodoh?”

Ada kalanya, seseorang rela menempuh berbagai kesusahan hanya agar dapat bertemu seseorang untuk kali terakhir. Mungkin ketika dulu berpisah, masih ada kata-kata yang belum terucapkan. Mungkin masih ada kisah yang belum tuntas. Atau juga, mungkin hanya agar ia dapat puas menatap wajah itu untuk yang terakhir kalinya.

Ia menikmati perjalanan ini dengan begitu ringan. Karena ia telah merasa begitu damai kepada dirinya sendiri. Ia tidak lagi menyalahkan dirinya atau orang lain. Ia tahu bahwa semua yang terjadi di dalam hidupnya adalah bagian dari cerita kehidupan manusia. Susah, gembira, pedih, atau bahagia, hanyalah sebuah cerita.

Pada akhirnyanya toh cerita ini akan berakhir.

Yang bisa ia lakukan hanyalah mejalani cerita itu sampai akhirnya.

Ia akan terus melangkah sampai pada akhirnya langkah itu terhenti. Jika belum terhenti ia tidak akan berhenti. Bukankah hidup adalah sebuah perjalanan?

Matahari telah menghilang dan bintang telah bermunculan. Cahaya kota Qara Del telah terlihat dari kejauhan. Sejak tadi Cio San telah berpapasan dengan para pelancong yang masuk dan keluar kota itu. Dari jauh terlihat gerbangnya berdiri dengan gagah. Meskipun bangsa Goan (Mongol) telah berhasil dikalahkan dan tidak lagi menjajah Tionggoan (China), tetapi keagungan dan keangkeran bangsa ini tidaklah berubah. Mereka telah berhasil membangun kota ini dengan megah.

Ia memasuki gerbang kota ini dengan perasaan bercampur aduk. Apa yang harus ia lakukan nanti ? Mencari Syafina dan mengajaknya bicara? Ataukah cukup menatapnya saja dari jauh? Entahlah. Yang pasti saat ini ingin beristirahat dulu.

Ia lalu memilih sebuah penginapan sederhana namun kelihatan bersih dan nyaman. Ia lalu memesan kamar dan meminta agar makan diantarkan ke kamarnya saja. Selesai membersihkan diri, ia duduk menikmati makanannya sendirian di hadapan jendela yang terbuka. Makan sendirian sambil menikmati suasana malam yang sudah terasa sunyi.

Di luar suasana masih sangat ramai, terdengar suara orang berjualan di malam hari. Tapi di kamar itu ia merasa sangat sepi. Tapi hatinya bahagia. Sungguh bahagia. Karena justru ketenanganlah yang ia cari-cari selama ini. Tidak ada lagi rencana jahat orang untuk mencelakainya. Tidak ada lagi peperangan.

Tapi justru ia memilih datang ke sini. Bukankah dengan datang ke kota ini, ia malah menghancurkan sendiri ketenangan yang selama ini dicari-carinya?

Manusia terkadang begitu lucu.

Itulah kenapa ia selalu banyak tertawa. Ia merasa dirinya ini begitu lucu. Sekarang ini ia malah tertawa terbahak-bahak.

“Hahahahahahahah. Nona, bagaimana jika kita keluar saja ke atas atap di memandang bintang di atas sana. Suasana saat ini sangat indah dan sangat rugi jika dihabiskan di dalam kamar saja,” entah kepada siapa ia berbicara.

Tak tahunya, terdengar suara dari sebelah kamarnya, “Kong-kong (kakek), memang benar. Mari keluar!”

Hampir muncrat arak yang berada dalam genggamannya, tapi ia hanya tertawa. Tahu-tahu tubuhnya telah menghilang melalui jendela dan telah berada di atas atap penginapan yang cukup tinggi.
Ia mencari tempat yang paling nyaman dan duduk di sana. Tak berapa lama nona itu juga sampai dan duduk tak jauh darinya. Semua kejadian ini hanya terjadi dalam sekedipan mata tapi seolah-olah mereka telah melakukan banyak hal.

‘’Kau hebat Kong-kong (kakek). Padahal aku yang bergerak duluan, kau yang malah sampai lebih dulu,” ujar nona itu. Si lelaki yang dipanggil kong-kong itu menatapnya dengan lembut. Nona ini usianya baru belasan tahun. Wajahnya masih sangat belia. Tapi ia sangat cantik dan terlihat sangat cerdas.

‘’Tadi saat kau panggil aku kong-kong, aku sempat berkaca sebentar. Ku lihat belum ada rambut atau janggutku yang memutih. Kulitku belum juga keriput, dan aku masih belum berpenyakitan. Alasan apa kau memanggilku kong-kong ?’’ tanya Cio San ambil menuangkan arak ke dalam cangkir.
‘’Masa aku harus memanggilmu Ang-Say (Suami sayang)?” kata si nona sambil tertawa. Suara tawanya terdengar masih kanak-kanak.

Sekali lagi hampir saja arak yang berada di tangannya tumpah. Tapi ia mampu menahan diri dan berkata dengan tenang, ‘’Anak seusia kau, sebaiknya tidak kabur dari rumah sejauh ini.’’
Nona itu cemberut, matanya membesar dan ia berkata, ‘’Sejak kapan kau menyadari bahwa aku menguntitmu?’’

‘’Sejak di Himalaya,’’ jawab Cio San pendek.

“Apa? Kau sudah mengetahuinya namun membiarkan saja aku menguntitmu sejauh ini? Kenapa tidak kau undang aku untuk berjalan bersamamu? Mengapa kau tega membiarkan anak kecil berjalan sendirian? Jika ada apa-apa denganku, bagaimana kau menjawab terhadap keluargaku?”

“Eh? Kan kau sendiri yang menguntitku? Mengapa jadi aku yang salah?”

“Jika orang dewasa mengetahui seorang anak gadis yang lemah seperti ini menempuh perjalanan yang berbahaya, bukankah justru orang dewasa itu yang harus mengingatkan si anak kecil? Mengapa kau begitu tidak bertanggung jawab?” celoteh si nona.

Lelaki itu hanya tertawa. Ia tahu jika ia membuka suara, ia pasti akan kalah omongan lagi. Maka, ia berusaha mengalihkan pembicaraan lagi, “Mengapa kau menguntitku?”

“Aku hanya ingin kabur dari rumah…,”

“Aku tahu kau ingin kabur dari rumah. Tapi mengapa memilih mengikutiku? Bukankah dunia begitu luas? Kau bisa ke mana saja yang kau mau.’’

‘’Mau ku adalah mengikutimu.’’

Ia tidak dapat berkata apa-apa selain menenggak arak.

‘’Sebenarnya orang yang paling diuntungkan ketika kau kabur dari rumah, adalah calon suamimu,’’ kali ini ia memberikan diri untuk menggoda nona itu.

‘’Heh? Kau sudah benar-benar pikun? Bagaimana mungkin dia bisa diuntungkan?’’ tanya si nona ketus. Rupanya ia paling tidak suka jika hal ini diungkit.

‘’Ia beruntung karena akhirnya ia tidak jadi meminang seorang perempuan cerewet. Hahaha.’’

‘’Seorang perempuan menjadi cerewet karena laki-lakinya yang tidak becus!’’ tukas si nona.

Sebenarnya ia ingin membalas ucapan nona itu, tetapi ia takut nona itu tersinggung. Ia lalu berkata, “Aku sempat bertemu sebentar denganmu di Lembah Naga Es. Kau adalah adik dari Liong-tayhiap (pendekar Liong). Tapi aku belum tahu namamu’’

‘’Kau boleh memanggil aku Liong-liehiap (pendekar wanita Liong)’’

“Hahahahahah!” ia tertawa lebar mendengar kata-kata nona itu yang terasa jenaka. Sudah lama ia tidak tertawa seriang ini. Nona ini pun mengetahui hal itu, kata si nona, “Kong-kong terlalu banyak urusan. Kurang hiburan. Itulah kenapa omonganku yang tidak lucu menjadi lucu jika kau dengarkan.’’ 

‘’Oh, jadi kau menguntitku hanya ingin menghiburku?”

“Huh, tak sudi,” katanya sambil tertawa. Lanjutnya, “Aku mengikutimu karena kau selalu memiliki petualangan yang menarik. Siapa yang tidak tahu pendekar besar, jenderal phoenix, Cio San yang terhormat?”

“Tapi kau keliru, aku datang kemari bukan untuk bertualang.”

“Lalu?”

“Entahlah. Aku sendiri tidak tahu alasan apa yang membuatku datang kemari. Setelah mampir ke Lembah Naga Es dan menyembuhkan kakak iparmu, aku tidak tahu lagi harus pergi ke mana. Akhirnya aku datang ke sini,’’  jelas Cio San.

Nona itu sejenak memandang Cio San, katanya, ‘’Aku dapat melihat kakak iparku masih mencintaimu. Tapi ia lebih memilih kakakku.’’

‘’Kau tahu alasannya?’’

‘’Tentu saja. Hahaha. Kakakku jauh lebih tampan daripada kau.’’ Jika orang lain yang berbicara, mungkin Cio San akan tersinggung. Tetapi jika nona ini yang berbicara terasa ada kejenakaan tersendiri.

“Yah, ku rasa memang itu alasannya.”

Si nona tersenyum dan berkata, “Terkadang seorang wanita melakukan hal-hal yang tidak dimengerti lelaki. Namun pada akhirnya si lelaki akan mengerti.”

Mengapa lelaki selalu terlambat memahami maksud perempuan?

“Aku sudah mengerti,” jawab Cio San.

“Lalu mengapa masih kau tanyakan kepadaku? Ku rasa kau sudah benar-benar pikun, kong-kong (kakek).”

“Hahahaha” mereka berdua tertawa lepas.

“Apa rencanamu besok pagi?” tanya si nona. Umurnya jauh lebih muda, tetapi ia berbicara kepada Cio San seperti berbicara dengan teman sebaya, padahal nona itu memanggil Cio San dengan sebutan kong-kong. Jika orang lain melihat percakapan mereka berdua, tentu akan merasa heran.

‘’Aku ingin mencari putri Syafina.’’

‘’Dia kekasihmu?’’

‘’Bukan.’’

Si nona sudah dapat menduga. Jika seorang laki-laki menempuh perjalanan sejauh ini demi seorang wanita yang bukan kekasihnya, tentu cintanya bertepuk sebelah tangan. Ia tidak berkata apa-apa. Karena ia tahu, ada hal-hal yang tidak bisa dibuat bahan bercanda.

Lama terdiam, si nona bertanya lagi, “Lalu apa yang akan kong-kong lakukan?”

‘’Aku tidak tahu.’’

‘’Ku rasa kau memang sudah benar-benar pikun, kong-kong (kakek).’’ Wajahnya membayangkan rasa kasihan yang ia buat-buat. Cio San tertawa melihatnya.

“Bolehkan aku mengutarakan pendapatku?” tanya si nona.

‘’Tentu saja.’’

Mereka bagaikan sahabat lama yang bercakap-cakap dengan akrab. Padahal baru kali inilah Cio San berbicara dengan nona itu.

“Siapa pun wanita itu, tentunya ia sudah memiliki suami atau kekasih. Menemuinya hanya akan menimbulkan luka lama di hati sang wanita, dan menumbuhkan luka baru di hati suaminya. Jalan yang terbaik adalah kau hanya bisa menatapnya dari jauh.”

“Kurasa memang itulah yang harus kau lakukan,” tukas Cio San.

“Ataukah ada perihal yang ingin kau sampaikan kepadanya? Aku bisa menjadi perantaranya jika kau tidak keberatan.”

Cio San menatapnya. Nona ini masih belasan tahun usianya tapi sudah memiliki kematangan seorang wanita dewasa. Katanya, “Tidak perlu merepotkan dirimu. Setelah melihat Syafina untuk terakhir kalinya, aku akan mengantarkanmu pulang ke Lembah Naga Es.”

“Eh, kok enak? Aku tidak mau pulang.”

‘’Jika keluargamu mencarimu bisa terjadi salah paham, mereka akan mengira aku telah membawa lari dirimu,’’ kata Cio San.

‘’Justru jika kau mengantarkanku pulang, aku akan berkata kepada keluargaku bahwa kau menculikku!’’

Cio San hanya tertawa sambil menghela nafas. Katanya, “Lalu bagaimana enaknya?”

“Ijinkan aku bertualang denganmu!”

“Aku tidak ada niat untuk bertualang. Sepulang dari sini, aku ingin menyepi di gunung dan mengundurkan diri dari dunia persilatan,” ada kesungguhan di wajah Cio San. Nona itu pun melihatnya. Ia sedikit terhenyak. Katanya, “Betul kah?”

Cio San mengangguk.

“Mengapa?” tanya si nona.

“Aku hanya ingin hidup tenang.”

Jika seorang lelaki berkata bahwa ia ingin hidup tenang, seorang wanita seharusnya bisa mengerti maksud kata-katanya.

“Baik.” Kata si nona pendek.

Sekejap Cio San merasakan penyesalan yang mendalam. Entah mengapa ia berkata seperti itu. Entah mengapa juga si nona kecil menjawab seperti itu.

Apakah ia melakukan kesalahan?

Mengapa jika berurusan dengan wanita, tidak ada satu hal pun yang bisa ia lakukan dengan benar?
Nona kecil itu tertawa dan menuangkan arak ke dalam cangkir. Ia minum dengan cukup anggun. Sejak kecil orang Tionggoan memang cukup akrab dengan arak. Karena arak adalah minuman kesehatan dan kemakmuran.

Kata si nona, “Daripada kong-kong sibuk memikirkan esok hari, bagaimana jika kita saling mengenal? Aku ingin mengenalmu lebih jauh.”

“Boleh. Tapi setiap pertanyaan yang kau ajukan, kau pun harus menjawabnya,” tukas Cio San.

“Baik, kita mulai. Apa kesukaanmu?”

CIo San berpikir sebentar, lalu menjawab, “Aku suka arak. Aku suka suasana yang tenang.’’
‘’Oh? Jadi itu sebabnya kau tidak suka wanita? hahaha.“

CIo San tertawa pula, katanya, “Dari mana kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu?”

“Arak kan sama-sama memabukkannya dengan wanita. Sudah ada arak, buat apa pula ada wanita? Bukan begitu? Entah dari mana pemahaman ini ku dengar,” jawab si nona.

Tak terasa Cio San jadi teringat kepada Cukat Tong, salah seorang sahabatnya. Jika berbicara dengan Cukat Tong, sering sekali mereka mengeluarkan guyonan seperti itu. “Hahaha. Kalau menurut sahabatku, jika tidak ada perempuan, hidup terasa sepi. Tetapi jika ada perempuan, bebek dan itik pun tidak bisa hidup tenang.”

“Pasti itu perkataan sahabatmu, Cukat Tong.”

“Eh bagaimana kau tahu?”

“Aku pernah bertemu dan bercakap-cakap dengannya.”

Dalam hati Cio San mengagumi kecerdasan nona cilik itu. Dan ia bisa menduga percakapan seperti apa yang terjadi dengan mereka berdua, “Kau mengguraunya ya?”

SI nona cilik tertawa.

“Sekarang, kau yang harus menjawab pertanyaan tadi. Apa kesukaanmu?” tanya Cio San.

“Aku paling suka bertualang. Sayangnya ini baru pertama kali aku bertualang di luar daerah Himalaya.”

“Hmmm, masih ada satu kesukaanmu yang tidak kau ceritakan kepadaku,” tukas Cio San.

“Eh, apa itu?” tanya si nona cilik dengan mimik wajah polos yang dibuat-buat.

“Kau sangat suka berjualan sari buah, menjadi pengemis, menjadi nenek tua, dan seorang tukang perahu,” kata Cio San sambil tersenyum.

“Eh jadi kau tahu juga penyamaranku? Rupanya betul kata orang. Tidak ada satu hal pun yang lolos dari pengamatan Cio-hongswee! Berarti di sepanjang perjalanan saat aku menyamar, kau mengetahui semuanya!’’

‘’Sebenarnya aku tidak sehebat itu. Ilmu menyamarmu juga sudah sangat hebat. Sayang ada bagian dari ilmu menyamar yang tak bisa ditutupi,’’ kata Cio San.

‘’Apa itu?’’

“Kau bisa memalsukan warna rambut, kulit, atau lainnya. Kau juga bisa membuat tubuh menjadi bungkuk atau tegap. Bisa bergaya pincang atau sehat. Bisa membuat wajahmu berubah seluruhnya. Tapi satu hal yang tidak diubah adalah jarak mata kiri dan kanan. Letak mata di wajah tidak akan bisa diubah!”

“Hmmm, betul juga. Tapi apakah kau selalu memperhatikan jarak mata setiap orang?”

“Tentu saja. Karena hal-hal kecil seperti inilah yang membuat aku dapat hidup sampai sekarang.”

“Tetapi hal-hal kecil seperti ini pula yang membuatmu tak dapat hidup dengan tenang, bukan?”

Seolah nona cilik itu mampu membaca isi hatinya.

“Sebenarnya berapa sih usiamu?” tanya Cio San penasaran.

“Eh, perjanjian kita tadi kan adalah kau boleh bertanya persis seperti pertanyaanku. Aku kan tidak pernah bertanya berapa umurmu,” si nona cilik tertawa. Katanya lagi, “Sekarang pertanyaan ke-2, apa hal yang kau rasa sebagai kekuranganmu?”

CIo San berpikir sebentar, lalu berkata, “Aku mungkin terlalu perduli dengan orang lain. Sehingga terkadang aku mendatangkan kesusahan bagi diriku sendiri. Bagaimana denganmu? Apa kekuranganmu?”

“Kata kakak-kakakku, aku terlalu usil. Terlalu suka menggoda orang. Bagiku ini malah bukan kekuarangan, melainkan sebuah kehebatan.”

“Ya, aku setuju. Dibutuhkan kepintaran tersendiri untuk mampu menggoda orang yang jauh lebih tua darimu,” tawa Cio San.

“Oh, jadi kau merasa sudah tua?” si nona cilik tertawa pula.

‘’Oh, jadi kau menggodaku? Anak perempuan seharusnya tidak suka menggoda lelaki. Nanti dikira yang tidak-tidak.”

“Tentu saja aku menggodamu. Memangnya kau pikir aku sedang menasehatimu? Dan kata siapa aku anak kecil? Memangnya kau tahu umurku?”

“Paling banyak umurmu baru 14 atau 15 tahun. Melihat raut wajahmu, aku merasa umurmu yang sebenarnya mungkin baru 12 tahunan.”

“Hahah. Cio-Hongswee (jendral Phoenix) yang maha sakti pun tidak bisa menebak umurku.“

“Halah, kau pun ya tidak bisa menebak umurku.”

“Bisa! Paling banyak kau berusia 30 tahunan. Hampir sama dengan kakak iparku. Lebih tua sedikit lah.”

“Salah besar!”

“Memangnya berapa umurmu?” tanya si nona cilik. Seketika ia menyadari ia telah terjatuh ke dalam perangkap Cio San. Karena bila bertanya seperti ini kepada Cio San, maka Cio San pun boleh mengajukan pertanyaan yang sama. Si nona cilik tertawa menyadari kesalahannya.

“Usiaku 40 tahun sebentar lagi,” jawab Cio San dengan wajah sungguh-sungguh.

“Heh? Sudah setua itu? Tapi wajahmu masih terlihat jauh lebih muda,” kata si nona cilik.

“Pada waktu kecil, aku makan sejenis jamur-jamuran yang memberikan aku kekuatan sakti dan awet muda. Kalau kau, berapa usiamu yang sebenarnya?”

“Begitukah? Kalau aku, sebenarnya usiaku pun hampir sama denganmu, bahkan aku lebih tua sedikit. Umurku sudah hampir 42 tahun.”

Cio San terhenyak, “Betul kah? Apakah kau juga memakan sejenis makanan sakti yang membuatmu tetap terlihat bagai gadis belasan tahun?”

“Aku hidup di daerah es. Tentu saja sangat berpengaruhnya kepada tubuh kami. Ditambah lagi bahan makanan dan pola makan kami, semua membuat tubuh penghuni Lembah Naga Es menjadi sedikit berbeda dengan orang lain,’’ jelas si nona.

‘’Masuk akal,’’ tukas Cio San. “Tapi sebaiknya kau berhenti membohongiku,” tawanya.

“Dari mana kau tahu aku berbohong?”

‘’Gerak gerik wanita dewasa sangat berbeda dengan gerak gerik anak remaja. Ada keanggunan dan pembawaan tersendiri bagi wanita dewasa dan anak remaja. Untuk hal ini kau tak dapat membohongiku.”

“Rupanya kau sangat paham mengenai perempuan ya?” tawa si nona.

‘’Tentu saja tidak. Tapi ada satu hal yang aku pahami.’’

‘’Apa itu?’’

‘’Aku paham jika aku dibohongi perempuan.’’

‘’Nah, ini membuktikan bahwa kau memang sering dibohongi perempuan,’’ tawanya terdengar renyah sekali. Sepertinya ia sangat menikmati kenyataan bahwa Cio San sering dibohongi perempuan.

“Memangnya ada lelaki yang belum pernah dibohongi perempuan?” Cio San pun ikut tertawa. Sepertinya ia pun menikmati kenyataan bahwa semua lelaki di dunia ini sudah sering dibohongi perempuan.

“Jika perempuan memang suka bohong, mengapa kaum lelaki selalu mau percaya saja?” tanya si nona.

“Karena jika tidak berpura-pura percaya, biasanya hidup si lelaki akan jauh lebih menderita.”

“Jadi kalian rela hidup di dalam kebohongan?” kali ini si nona bertanya dengan sungguh-sungguh.
“Bukan. Tapi kaum lelaki yang sudah memahami hal ini, akan hidup dengan penuh kesiapan. Bahwa kebahagiaan yang dinikmatinya sekarang ini bersama wanita yang ia cintai, suatu saat bisa menghilang dengan begitu cepat.”

Si nona kecil terdiam. Entah apa yang ia pikirkan.

Cio San menenggak arak. Jika sedang berbicara tentang perempuan, biasanya ia butuh lebih banyak arak.

Tahu-tahu nona itu berkata, “Kau pun membohongiku. Tadi kau bilang umurmu sudah mendekati 40. Tapi ku kira, kau memang baru sekitar 30an.’’

‘’Aku tidak berbohong. Aku bilang usiaku akan 40 sebentar lagi. Entah bagaimana kau mengartikan kata ‘sebentar lagi’, itu aku serahkan sepenuhnya kepadamu,’’ tawa Cio San.

Si nona tertawa, ‘’Urusan bohong-membohongi ternyata lelaki dan perempuan sama saja!’’

Tetapi bagi seorang lelaki, dibohongi perempuan jauh lebih menyakitkan. Begitu juga sebaliknya. Lalu sampai kapan hal ini berhenti?

Kedua orang ini sama sama menghela nafas. Seorang nona mungil yang lincah, dan seorang lelaki dewasa yang mencari ketenangan hidupnya. Keduanya duduk bersama di atap genteng sebuah penginapan. Sama sama mencari jawaban atas perjalanan hidup masing-masing.

“Besok aku mau pergi,” tahu-tahu si nona kecil memecah kesunyian.

“Sebaiknya kau ku antar pulang.”

“Jika kau mengantarku pulang, orang akan menuduh yang tidak-tidak,” kata si nona.

‘’Baiklah. Sebaiknya kau pergi tidur. Karena malam sudah larut dan kau harus menyimpan tenaga untuk perjalananmu.’’

‘’Terima kasih. Kau tidurlah juga, kong-kong. Kau sudah tua, nanti masuk angin. Hihi’’

Seiring dengan tawanya, nona itu sudah masuk ke dalam kamarnya dengan ringan. Ilmu Ginkang (meringankan tubuh) nona itu ternyata sangat hebat. Tidak percuma ia menjadi anggota keluarga Lembah Naga Es.

Besok paginya, si nona sudah mengetuk pintu kamarnya. Saat dibuka, ia ternyata sudah menyamar menjadi seorang pengemis tua. ‘’Begini lebih aman,’’ kata Cio San yang dibalas anggukan oleh nona itu.

‘’Kau pergi sekarang?’’ tanya Cio San.

‘’Ya. Jika tidak pergi, memangnya harus datang? Jika tidak sekarang, memangnya kapan lagi?”
Kata-kata ini diucapkan si nona cilik dengan ringan. Tapi menghujam berat di hati Cio San. Bayangan Syafina kembali mengisi relung hatinya.

“Aku pergi, ya. Ingatlah padaku jika suatu saat kita bertemu kembali,” kata si nona dengan riang.
“Baik. Aku berjanji akan mengingatmu. Tapi kau harus memberiku satu hal, agar kelak aku ingat padamu.”

“Apa itu?”

“Namamu.”

Si nona cilik tersenyum. “Sampai jumpa. Aku pergi.”

Lalu nona itu berlalu dengan riang. Bahkan Cio San pun belum sempat mengucapkan sampai jumpa di hadapannya. Ia hanya bisa mengirimkan suara dengan menggunakan Khi-Kang (ilmu suara) nya yang sakti, “Sampai jumpa. Hati-hati di jalan.”

Cio San masih memandang punggung mungil itu dari kejauhan. Seolah ia baru saja berpisah dengan adik perempuan yang tidak pernah dimilikinya. Lalu punggung itu menoleh dari kejauhan, kemudian terdengar suara yang datang ke telinganya. Rupanya nona cilik itu mengirimkan suara juga.

“Namaku Liong Ce Lin.”






   





EPISODE 3: AIR MATA TERAKHIR

Salam semua.

Akhirnya saya tergerak lagi untuk menyelesaikan kisah ini. Sejak awal saya merencanakan KPPL untuk menjadi sebuah trilogy. Ini adalah bagian terakhir dari trilogy itu. Cerita ini sudah ada di kepala saya sejak lama, cuma baru menemukan mood untuk menuliskannya akhir-akhir ini.

Saya belum tahu apakah endingnya nanti Cio San berbahagia, atau malah hidupnya tragis, saya belum memutuskan. Tapi satu yang pasti, saya berharap Tuhan memberikan saya umur dan kesehatan untuk menyelesaikan trilogy ini.

Jika di trilogy pertama bercerita tentang masa lalu Cio San, dan trilogy kedua bercerita tentang masa lalu Suma Sun, maka di trilogy terakhir ini akan menceritakan pula masa lalu Cukat Tong. Bagaimana ia bisa menjadi Raja Maling yang terkenal dan juga memiliki kesaktian yang hebat. Namun tentu saja tokoh utamanya tetap Cio San yang menjadi sentral cerita ini.

Untuk Episode 2, endingnya memang tidak ada di blog. Jika berminat silahkan membeli bukunya. Nomer kontak sudah saya cantumkan di postingan2 sebelumnya. 

Saya sangat terinspirasi lagu Jay Chou yang ini, dan selalu menyetelnya saat menulis. Semoga para pembaca pun menyukai lagu ini.


Sunday, March 19, 2017

ORDER: RAHASIA JUBAH MERAH


KISAH PARA PENGGETAR LANGIT EPISODE 2: RAHASIA JUBAH MERAH

Jumlah: 4 (empat) jilid.

Jilid 1: 300 Halaman.
Jilid 2: 230 halaman.
Jilid 3: 330 halaman.
Jilid 4: 270 halaman.
Harga: Rp.475.000,-

Karya: Norman Duarte Tolle

PEMESANAN:
whatsapp ke nomor: 08883800313
Email address : normannuno@gmail.com.

Pembayaran dapat di transfer melalui nomor rekening

- BCA 0183296121 atas nama Norman Tolle. 


Saturday, March 18, 2017

EPISODE 2 BAB 59 DEWA MELAWAN DEWA



Cahaya emas bersinar di tengah malam!

Jika orang lain yang mendapatkan serangan seperti itu tentu akan bingung dan tak dapat menghindarinya. Tetapi Suma Sun bukan orang lain. Ia adalah Dewa Pedang!

Dalam sekejap mata tubuhnya sudah “terbang” ke atas. Dengan berpoksai (salto) satu kali, ia sudah dapat menghindari sebuah jurus telapak yang diakui sebagai jurus yang paling menakutkan dan yang paling dahsyat yang pernah diciptakan manusia!

Gerak Suma Sun sangat sederhana dan mudah. Tetapi untuk merasakan kemudahannya, kau harus menjadi Suma Sun. Tidak ada cara lain.

“Bunuh Suma Sun!” hanya bisikan itu yang terdengar dalam kepala Cio San. Dan hanya bisikan itu yang terucap dari bibirnya. Matanya kosong dan nanar. Suma Sun segera mengetahui apa yang terjadi. Meskipun ia tidak dapat melihat, ia dapat merasakan getaran aneh yang menyelimuti seluruh hawa yang dimiliki Cio San.

Getaran itu berasal dari dengung putaran tongkat Pek Kwi Bo, si nenek iblis!
Segera Suma Sun meluncur ke arah nenek iblis itu, tetapi langkahnya terhenti. Cio San telah menutup jalannya. “Naga Terbang Di Langit!” seruan itu muncul dari bibir Cio San tanpa dapat ia kendalikan.

Kembali cahaya emas bersinar di tengah malam. Tetapi cahaya itu datang berbarengan dengan luncuran badan Cio San pula. Kembali Suma Sun menghindari serangan itu dengan anggun.

Keanggunannya bukan bagaikan seorang anak perawan yang menari dengan indah. Keanggunannya bagaikan seorang ratu kekaisaran yang telah matang dan dewasa.

Tentu saja ia tidak dapat menggunakan pedangnya. Karena jurus pedang yang dipelajarinya sepanjang hidupnya adalah jurus pedang untuk membunuh orang. Bagaimana mungkin ia membunuh sahabatnya sendiri?

Suma Sun menancapkan pedangnya di tanah. Dalam sepersekian detik ia mengerahkan tenaga saktinya. Tahu-tahu bagian lengan bajunya kanannya kini bergerak bagaikan memiliki tangan.

Beberapa tahun yang lalu, Suma Sun mengorbankan tangan itu karena ia tidak ingin membunuh seorang Dewa Pedang yang lain. Apakah kini ia akan mengorbankan tangannya yang satunya lagi karena ia tidak ingin membunuh sahabatnya sendiri?

Tidak ada seorang pun yang dapat memahami isi hati seorang Suma Sun.

Cio San kembali bergerak, ia tidak menunggu lama dan membiarkan Suma Sun mengumpulkan tenaganya. Semua kejadian ini berlangsung dengan cepat dalam sekejap mata.

“Naga Bertempur di Alam Liar!’’ jurus ke-3 yang dikeluarkan Cio San. Suma Sun menerima cahaya emas itu dengan lengan bajunya. Ada tenaga sakti aneh yang terkumpul di lengan baju itu sehingga membuatnya terasa hidup bagaikan naga yang menari-nari.

Selama ini tidak ada satu senjata pun yang dapat digunakan cahaya emas yang lahir dari jurus 18 Tapak Naga. Tapi setiap hal pastilah memiliki “saat pertama”-nya. Dan malam ini adalah kali pertama jurus yang dahsyat itu ditangkis oleh sebuah lengan baju.

Hanya kain!

Tetapi kain itu berisi tenaga sakti yang lahir dari terbukanya titik-titik syaraf Suma Sun. Pengobatan yang dilakukan oleh Cio San terhadap Suma Sun telah membuka titik-titik tertentu di dalam tubuh dewa pedang itu sehingga tenaga saktinya muncul dan mengalir lebih deras. Hal ini tidak dapat terjadi jika sebelumnya Suma Sun tidak terluka dengan parah dan menjadi lumpuh.

Blaaaaaaaar!

Ledakan besar yang terjadi karena pertemuan tenaga sakti dua orang dewa. Masing-masing terlempar dengan mengeluarkan sedikit darah dari mulut mereka.

Cio San  hanya menguasai 3 jurus dari keseluruhan 18 Tapak Naga. Jurus-jurus berikutnya belum pernah dilihatnya, dan ia hanya mampu mengolahnya sesuai pemahamannya sendiri. Berhubung sekarang pikiran dan pemahamannya sedang dikuasai oleh si nenek iblis, maka jurus-jurusnya tak dapat dikeluarkan seutuhnya. Hanya berdasarkan nalurinya saja.

Kini nalurinya membuat Cio San melancarkan sebuah jurus lain. Jurus ular derik yang menakutkan! Telapak tangan kirinya bergetar mengeluarkan suara bagaikan ekor ular derik.

Mereka kembali beradu. Gerakan Cio San merupakan perpaduan gerak Thay Kek Koen (Tai Chi Chuan) dan gerakan ular sakti yang ditemuinya di dalam sebuah goa di bawah tanah. Gerakan Suma Sun adalah gerakan ilmu pedang keluarganya yang dilakukan dengan lengan baju di tangannya yang buntung.
Blaaaar! Blaaaaaar!

Tak ada orang yang sanggup melihat bagaimana mereka bergerak. Tak ada yang sanggup mengira-ngira sudah berapa jurus yang terlewati. Guntur dan kilat seperti lahir dari gerakan mereka. Setiap kali mereka beradu tenaga, kilatan cahaya dan gemuruh badai terdengar.

Rerumputan dan tumbuhan di sekitar mereka rontok bagaikan disapu musim gugur. Bebatuan dan debu berterbangan di udara. Bahkan di umur setua ini, di dalam pengalamannya bertempur ribuan kali, menggunakan ilmu tinggi yang dimilikinya, si nenek iblis ini belum pernah menyaksikan hal seperti ini.

“Dewa melawan dewa…..,” hanya itu yang muncul di dalam benaknya. Tanpa ilmu meraga sukma yang dimilikinya, bagaimana mungkin ia bisa mengalahkan salah seorang diantara mereka?

Tanpa tipu daya bagaimana seseorang dapat menguasai dunia?

Ilmu, niat baik, dan kerja keras saja tidak cukup. Seseorang harus lah mematikan hati nuraninya dan menjadi jahat agar ia bisa dapat menguasai dunia. Karena dunia sendiri adalah sebuah tempat yang kejam.

Apakah dunia membuat manusia menjadi kejam, ataukah manusia yang membuat dunia menjadi kejam?

Siapa pula yang mampu menjawabnya?

Dewa melawan dewa. Entah sudah berapa jurus. Entah sudah berapa banyak pukulan. Entah sudah berapa banyak tenaga terbuang.

Suma Sun tahu, ia tak dapat menyembuhkan Cio San jika ia tidak lebih dulu melumpuhkan nenek iblis itu. Tetapi ia pun tahu, ia tidak dapat melumpuhkan si nenek jika ia tidak melumpuhkan si nenek terlebih dahulu.

Perhatiannya terpecah dan ia menjadi bingung.

Jika menghadapi orang lain, ia bisa saja menyerang nenek itu dari jarak jauh, tetapi saat ini ia melawan Cio San. Tak ada satu kesempatan sekecil debu dan pasir yang bisa didapatkannya. Seluruh serangan Cio San teramat rapat. Tidak ada lubang sekecil apapun yang bisa ia manfaatkan. Jika bukan karena langkah-langkah jurus pedang keluarga Suma, tentu Suma Sun telah keok sedari tadi.

Ia hanya bisa menghindar. Menyerang pun adalah untuk membuat Cio San mundur sedikit. Jika Suma Sun “boleh” membunuh, mungkin ia tidak akan mengalami kesulitan seperti ini. Meskipun ia sendiri tidak yakin apakah ia dapat membunuh Cio San.

Baru kali ini ia meragukan kemampuannya sendiri. Memang betul kata Cukat Tong pada suatu hari, “Jika kau berhadapan dengannya, kau akan meragukan kemampuanmu sendiri. Beruntunglah siapa pun yang menjadi sahabatnya. Alangkah sialnya menjadi musuhnya. Untungnya ia bukan golongan orang yang suka mencari musuh. Sayangnya, orang yang suka bermusuhan dengannya jumlahnya tidak pernah bisa dihitung dengan mudah.”

Dalam hitungan Suma Sun, mereka telah melampaui 113 jurus. Jurus yang mereka kuasai dengan baik, ataupun yang tahu-tahu mengalir dikarenakan keadaan pertarungan. Jika ini terjadi saat latihan, tentu mereka berdua akan dengan bahagia menuliskan catatan-catatan tentang gerakan baru yang muncul karena pertarungan ini.

Suma Sun akhirnya mengambil keputusan. Hanya itu satu-satunya cara untuk menghentikan kegilaan ini.

Cio San melancarkan tapaknya yang mematikan. Gemuruh Guntur dan kilat muncul dari telapak itu. Entah penggabungan jurus dan tenaga sakti apa yang ia gunakan. Telapak ini malah terlihat lebih menyeramkan ketimbang cahaya yang lahir dari jurus 18 Tapak Naga.

Suma Sun mengadu tapak itu dengan telapak kirinya. Sejak tadi beradu tenaga dengan Cio San ia sudah memahami betapa hebatnya ilmu Cio San. Jika tenaga Cio San lebih kuat maka, telapaknya akan menyalurkan tenaga dalam besar untuk menyerang musuh. Tetapi jika telapaknya lebih lama, maka secara aneh, telapak itu akan menyedot tenaga lawan.

Sang dewa pedang tahu, jika ia beradu tenaga maka mereka berdua bisa saja terluka parah. Maka ia memilih untuk mengalah. Dengan segenap hati ia mengumpulkan seluruh tenaga saktinya dan menyalurkan seluruhnya ke telapak tangan kirinya.

Syuuuuuuuuuuuuuuuuuutttttttttttttt!

Blaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar!!!!

Ketika ledakan besar itu terjadi, Suma Sun masih sempat berputar dan menggunakan lengan bajunya untuk menyerang si nenek iblis dari jarak jauh. Inilah tenaga simpanan terakhir yang ia tahan untuk dipergunakan menyerang si nenek.

Tenaga dalam jarak jauh yang tajam bagaikan pedang. Dapat memutus apa saja yang dilewatinya. Tajam dan tipis, seperti pedang. Dingin, seperti kekasih yang berubah hatinya.

Claaappp!!!

Tenaga dalam itu menembus kerongkongan si nenek iblis.

Tak ada suara. Tak ada darah.

Yang ada hanya kematian.

Suma Sun telah mampu menciptakan pedang dengan tenaga dalamnya yang terakhir. Ia bukan saja telah melewati taraf “tanpa pedang”, dan “kembali menggunakan pedang”. Ia telah mampu mencapai taraf “Menciptakan pedang dari ketiadaan”.

Siapa manusia di muka bumi dan di kolong langit ini yang telah mencapai taraf seperti lelaki tampan yang tenang ini?

Begitu si nenek mati, buyar lah pula seluruh pengaruh aneh yang emyelimuti pikiran Cio San. Sejak dikuasai oleh si nenek, Cio San dapat mengetahui apa yang terjadi, namun ia tidak dapat mengendalikan pikiran dan tubuhnya.

Air matanya mengalir deras. Dengan sigap ia menangkap tubuh Suma Sun yang jatuh lunglai tanpa tenaga.

“Aaaaaaaaaaaaaaarghhhhhhh!” teriakan kesedihannya bagaikan bergema di seluruh penjuru bumi. 

“Kenapa kau berkorban seperti ini, sahabat?” tangisannya tak dapat ditahan lagi.

Suma Sun masih sedikit memiliki kesadaran. Ia masih mampu tersenyum.

“Sahabat.”

Itulah kata terakhir yang keluar dari mulutnya. Matanya tertutup. Senyumnya masih mengambang. Tidak ada air mata perpisahan. Karena bagi Suma Sun, hal ini bukan perpisahan. Keadaan ini adalah pemberian terbaik seorang manusia kepada sahabatnya.

“Tidak. Kau tidak boleh mati. Kau tidak kuijinkan mati!’’

Dengan segenap tenaga ia menyalurkan tenaga saktinya. Hal ini bukan dilakukan karena putus asa, melainkan ia tahu, Suma Sun sekarat bukan karena pukulannya melainkan karena merelakan seluruh tenaga saktinya terhisap oleh Cio San.

Kedua tangannya ditempelkan ke dada Suma Sun, dan ia mengalirkan tenaga dalamnya sendiri. Begitu lama ia mencoba tetapi Suma Sun tidak bergerak. Detak jantungnya pun sangat lemah.

“Kau adalah dewa kematian, mana mungkin kau mati?” Cio San tersenyum sedih. Ada begitu banyak senyum. Senyumnya kali ini bercampur kesedihan yang sangat dalam.

Suma Sun tetap tidak bergerak.

Hal ini amat sangat mengherankan bagi Cio San. “Bagaimana mungkin ini terjadi? Ia sudah tidak memiliki tenaga dalam sama sekali, tetapi tubuhnya menolak tenaga dalam pemberianku. Kenapa ini?”

Sambil terus berusaha menyalurkan tenaga dalamnya, Cio San menelusuri urat-urat darah dan titik-titik tenaga di tubuh Suma Sun. “Ah, titik-titik tenaganya telah terbuka semua sebelumnya. Mungkin karena pengobatan yang dulu pernah ku lakukan secara tidak sengaja membuka titik-titik ini. Tetapi kenapa aku tidak bisa menyalurkan tenaga dalamku? Padahal jika titik-titik ini telah terbuka, seharusnya dengan sangat mudah aku melakukannya.”

“Apakah…., apakah tubuhnya telah mampu menghasilkan sendiri tenaga dalam tanpa perlu dilatih? Bagaimana mungkin?”

Dengan penuh rasa ingin tahu, Cio San kembali memeriksa tubuh Suma Sun dengan cara menyalurkan saluran tenaga dalamnya. Dengan cara ini ia bisa lebih “melihat” seluruh keadaan urat syaraf Suma Sun. Bagian mana yang tertutup, bagian mana yang terbuka, dan lain-lain.

Ketika ia belajar ilmu pengobatan dari buku yang diberikan oleh tetua Kam Ki Hiang, Cio San mengetahui bahwa ilmu silat dan ilmu pengobatan di Tionggoan (China daratan) berasal dari negeri India. Dari buka ini pula Cio Sna membaca tentang 7 titik Chakra manusia. Tetapi ada banyak Chakra tersembunyi yang tidak diketahui manusia.

Seluruh titik Chakra Suma Sun telah terbuka. Bahkan titik Chakra yang tersembunyi pun telah terbuka. Dalam kitab yang dibacanya, ada penjelasan tentang Chakra ‘bertahan’ yang mengalir ke luar ‘menyerang’ yang justru bergerak ke dalam. Banyak ahli silat tingkat tertinggi yang berhasil menyelaraskan kedua Chakra ini. Namun yang berhasil menyatukannya belum pernah terdengar sejarah.

Mungkin ada, tapi tidak tercatat dalam sejarah.

Kedua Chakra ini amat sulit dipersatukan, dan hanya bisa digabungkan jika seluruh tenaga dihilangkan.

Dalam artian, kedua Chakra rahasia ini baru benar-benar bisa bersatu saat manusia mati, atau mencapai ‘moksha’ menuju Nirwana. Manusia hidup yang bisa melakukannya haruslah kehilangan seluruh tenaganya, kehilangan keinginannya, kehilangan nafsunya, bahkan kehilangan kehidupannya.

“Apakah ini yang dimaksud dengan Moksha itu? Tentu tidak. Detak jantungnya masih ada. Ia masih hidup. Ia mungkin hanya mencapai taraf ‘hampir’ Moksha?”
“Bukan main. Ia telah benar-benar hampir menjadi dewa dalam artian yang sebenarnya!”

Tenaga dalam yang disalurkan Cio San tertolak oleh tubuh Suma Sun yang sedang kosong oleh tenaga sakti. Hal ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Bagaikan mengisi air ke mangkuk kosong, tetapi air itu tidak dapat masuk dan airnya tetap kosong.

“Apakah mungkin ada tenaga sakti lain yang tidak terasa dan tidak terlihat? Wah, sungguh tidak masuk akal.”

Di dalam kepasrahannya, di dalam ketulusan hatinya, Suma Sun mengorbankan seluruh tenaganya untuk disedot oleh Cio San. Ia telah siap mengorbankan jiwa raganya bagi salah satu sahabat terbaiknya itu. Tetapi keadaan ini tidak membunuhnya, malahan membuat Suma Sun berada pada sebuah keadaan tertentu yang belum pernah diketahui dan dialami orang sebelumnya.

Kini dari seluruh titik Chakranya baik yang tersembunyi maupun tidak, muncul getaran-getaran kecil yang bisa dirasakan Cio San. “Tubuhnya menciptakan tenaga tanpa perlu dilatih? Bagaimana mungkin?”

Tetapi kemudian ia teringat jamur sakti yang dimakannya di dalam gua. Jamur itu sebenarnya mungkin tidak memberinya tenaga sakti. Melainkan berkhasiat untuk membuka titik-titik Chakra tersembunyi yang ada di dalam tubuhnya tanpa diketahuinya!

“Terima kasih, Thian (Tuhan)! Kau memberikan keajaiban kepada sahabatku!” dalam tangisnya Cio San berseru dengan bahagia.

Ia dapat merasakan getaran-getaran kecil dari titik Chakra itu telah membuat detak jantung Suma Sun mulai bergetar dengan semestinya. Aliran darah yang tadinya berhenti kini mulai mengalir lagi dengan lancar. Wajahnya yang pucat bagaikan mayat kini mulai merona kembali. Tubuhnya yang dingin membeku kini sudah mulai menghangat lagi.

Cio San kini terduduk dengan lega. Seluruh bebannya terasa terangkat seluruhnya.

“Kau masih di sini?” tiba-tiba suara yang lemah terdengar dari bibir Suma Sun.
“Kau masih hidup? Kenapa masih belum mampus juga?’’ canda Cio San. Sungguh bahagia hatinya melihat sahabatnya kembali sadar.

“Aku masih belum bisa bergerak. Sepertinya aku tak akan bisa bergerak selamanya,” kata Suma Sun.

“Kau mungkin akan lumpuh dalam beberapa bulan. Tetapi jika kau sembuh, kau akan menjadi manusia yang paling menakutkan di bumi dan langit,” kata Cio San. Matanya masih mengalirkan air mata mengingat betapa dalamnya pengorbanan Suma Sun.

“Memangnya aku belum pernah menjadi manusia yang menakutkan?”

“Haha. Betul juga. Dalam keadaan apapun kau adalah manusia yang menakutkan,” jawab Cio San.

“Nah, jika sudah tahu, mengapa tidak segara kau bawa pergi pantat busukmu dan segera mengejar penjahat busuk yang melarikan diri?”

“Pantat busuk dan penjahat busuk jika bertemu, akan membuat dunia bertambah busuk,” tawa Cio San.

“Pergilah,” kata Suma Sun tersenyum sambil menahan sakit.

“Jika aku pergi, siapa yang akan menjagamu di sini?”

“Aku!’’ tahu-tahu Cukat Tong muncul di situ. Ia datang bersama seorang gadis cantik. Cio San mengenalnya. Lim Siau Ting. Murid wanita dari Lama jahat yang menyakiti sahabatnya, sang pangeran terbuang.

“Kau?” segera ia menyadari Lim Siau Ting ini adalah Bwee Hua!

“Jadi selama ini kau adalah Lim Siau Ting? Jadi kejadian di masa lalu itu adalah kau?” tanya Cio San.

“Hahahaha,” Bwee Hua hanya tertawa. Tawanya sungguh indah. Padahal di sekeliling mereka terdapat banyak mayat yang mati menggenaskan. Begitu Bwee Hua tertawa, entah bagaimana pemandangan mayat itu justru terasa indah.

“Kau kan lelaki yang pintar, masa tidak bisa memikirkan?” tukas Bwee Hua.

Cio San bepikir sejenak. Lalu katanya, “Ah. Aku tau. Kau baru menjadi Lim Siau Ting malam ini. Setelah kami memintamu lewat surat.’’

Bwee Hua hanya tersenyum.

“Bagaimana nasib raja Miao?’’ tanya Cio San kepada Cukat Tong.

“Saat aku datang, seluruh rombongan mereka telah mampus seluruhnya. Istriku telah meracuni mereka dengan perbekalan yang ada,” jelas Cukat Tong. “Aku kaget sekali saat ia berdiri sendirian sambil tersenyum menungguku di sana.’’

Cio San hanya mengangguk dan tersenyum. Dalam hatinya ia tidak sanggup membayangkan betapa mengerikannya Bwee Hua berdiri dengan cantiknya di sana menanti suaminya datang sementara puluhan mayat bergelimpangan. Hanya Bwee Hua yang mampu melakukan segala kengerian ini dengan indah. Dan hanya Bwee Hua lah yang mampu melakukannya dengan sangat halus.

“Lalu Lim Siau Ting?” tanya Cio San.

“Tentu saja dia sudah mampus pula sebelumnya. Eh, kau perduli sekali padanya. Memangnya kenapa?’’ tanya Bwee Hua.

Cio San hanya melengos. Kelak jika bertemu sahabatnya, bagaimana ia harus menjelaskan semua ini?

“Bisakah kalian mengantarkan Suma Sun pulang?”

“Eh, kau tidak ingin tahu siapa pelaku seluruhnya kejadian ini?” tanya Bwee Hua. Lalu ia segera menyambung, “Oh, tentu kau sudah tahu. Jika tidak kau pasti akan menyalahkan aku kenapa aku membunuh gerombolan itu tanpa menanyai mereka lebih dulu.”

“Ya, aku sudah tahu.” Kata Cio San sambil menghela nafas. “Kalian sudah tahu pula, kan?”

Cukat Tong mengangguk, “Tadi istriku menceritakan seluruhnya kepadaku.”

Suma Sun ingin bertanya lebih jauh, tetapi memikirkan keadaan tubuhnya sendiri, ia memutuskan untuk memberitahukan sesuatu yang lebih penting.

“Ada 3 bau tubuh di dalam tenda itu selain bau kalian berdua. Bau yang 2, sangat pekat. Bau yang 1 tidak begitu pekat.’’

“Bau 1 yang tidak begitu pekat adalah bau kaisar. Dua Bau yang pekat adalah 2 orang pelaku kejahatan ini.’’ Jelas Cio San.

“Pelakunya ada dua?’’ tanya kedua suami istri berbarengan.

“Yang 2 bau pekat kemudian berpisah. Yang satu pergi menggunakan kuda ke arah utara. Aku dapat mencium bau kudanya tadi di sana. Yang satu lagi pergi membawa kaisar ke arah timur sana,” tunjuk Suma Sun.

Laut! Ia menggunakan kapal untuk melarikan diri membawa kaisar!

Cukat Tong duduk di sebelah Suma Sun dan memperhatikan keadaannya. “Suma-tayhiap lumpuh lagi? Mengapa kau tidak segera menyalurkan tenaga kepadanya?” tanyanya kepada Cukat Tong.

Cio San menjelaskan seluruh kejadian dan memberi pengertian kepada Cukat Tong. Sang Raja Maling itu mendengarkan sepenuh hati. Tak terasa air matanya menetes pula.

Tahu-tahu Bwee Hua menyahut, “Seluruh tenaga saktinya hilang, dan seluruh titik Chakranya terbuka?”

Cio San mengangguk.

“Jangan-jangan ia sudah menguasai ilmu itu tanpa ia sadari?” tanya Bwee Hua.

“Ilmu Baju Pengantin. Khia Ih.’’


Cio San dan Cukat Tong saling menoleh. Sepanjang hayat mereka belum pernah mendengar nama ilmu selucu itu.