Saturday, December 26, 2015

BAB 53 SEMUA TANPA PEDANG, DI BAWAH LANGIT


Rombongan ini melaju ke depan. Mereka bergegas ingin sampai ke depan, di medan peperangan yang tampaknya telah menanti. Sebuah pesan melalui burung merpati datang memberitahukan bahwa perang telah di mulai.

Wajah sang Kaisar mengeras. Matanya mencorong tajam membaca berita itu. Cio San memberanikan diri untuk bertanya, “Jika perang sudah terjadi, apa rencana Yang Mulia selanjutnya? Apakah terjun langsung, atau….,”

Kaisar tidak menjawab, ia malah menatap Li Ping Han,

“Kami telah menyiapkan tempat tersembunyi di mana kami bisa mengamati perang dan memberi perintah. Mohon Hongswee turut bersama kami ke tempat itu,”kata Li Ping Han.

Untuk sekejap Cio San terheran mengapa ia tidak diperintahkan untuk terjun ke medan perang, tenaganya jelas sangat diperlukan di sana. Tetapi ia segera menyadari bahwa rombongan kaisar ini sangat membutuhkan perlindungan darinya karena kejadian menghilangnya 5 siucay tadi.

“Apakah Kim Sim Koksu (Guru besar Kim Sim) tidak turut di dalam rombongan ini?” tanya Cio San.

“Entahlah. Gerak gerik beliau tidak bisa di duga. Semua tergantung kebijaksanaan beliau sendiri. Terkadang beliu terjun ke dalam pasukan untuk turut mengatur prajurit, terkadang beliu turut dalam pertempuran, tapi terkadang juga beliau tetap di belakang dan memperhatikan situasi. Dalam hal ini, kami tidak pernah berani untuk meminta beliau melakukan apa-apa,” jelas Li Ping Han.

Cio San mengangguk mengerti. Memang untuk tingkatan manusia yang “paripurna” seperti Kim Kok Su, perbuatan dan sikap mereka tak pernah bisa diduga.

Sayup sayup di depan terdengar bunyi menggelegar. Mereka telah mendekati peperangan yang dahsyat. Cio San bergidik. Ia belum pernah mengalami peperangan dahsyat seperti ini. Beberapa tahun yang lalu ia pernah turut berperang mempertahankan istana dari serangan pemberontak. Tetapi peperangan itu tidak sebesar dan semenakutkan peperangan yang akan dihadapinya ini. Dari jumlah pasukan, persenjataan, dan alasan penyebabnya.
Mengapa manusia harus berperang, padahal toh akhirnya mereka akan mati juga?

Rombongan bergerak memutar. Mereka tidak langsung menuju daerah peperangan melainkan mengambil jalur lain yang berbeda. Rupanya rombongan menuju tempat rahasia yang tadi dijelaskan Li Ping Han. Semakin dekat, suara gemuruh peperangan semakin membahana. Bau darah, asap, dan mesiu mulai memenuhi udara. Di kejauhan Cio San bisa memandang pertempuran yang sangat dahsyat itu!

Puluhan ribu orang di sebuah dataran yang luas beradu senjata. Ada yang kepalanya terbabat putus, ada yang lengannya dibacok, ada yang kakinya dihujam tombak. Entah berapa puluh ribu panah yang melayang di angkasa. Entah berapa banyak jiwa meregang oleh panah-panah ini.

Rombongan kaisar terus bergerak. Menapaki sebuah bukit kecil yang tersembunyi. Betapa hebat sais kereta, kuda, dan keretanya sendiri. Di jalanan yang sesukar ini, kereta dapat melaju dengan cukup kencang tanpa ada kesulitan berarti. Semakin dekat ke puncak, suara gemuruh peperangan semakin terdengar jelas, pemandangan mengerikan pun semakin terlihat dengan jelas.

Jarak bukit dengan medan perang itu cukup jauh. Tetapi segalanya jelas terlihat dan terdengar dari sini. Siapa pun yang menemukan tempat ini, tentulah seorang ahli perang yang amat hebat, selain juga memiliki keberuntungan amat besar. Dengan letak bukit yang tersembunyi, daerahnya yang sukar dijangkau, serta jarak pandang yang bagus, bukit ini sendiri sudah menjadi sebuah benteng tersendiri yang sangat kokoh.

Cio San keluar dari kereta dan membantu para pengawal yang dengan sigap membentuk lagi sebuah benteng sederhana dengan menggunakan batang-batang pohon yang roboh. Mereka juga menggunakan tanaman-tanaman dan dedaunan untuk menyamarkan keadaan kereta. Dalam sekejap saja, kereta sudah tidak kelihatan, dan benteng kokoh sudah dibuat.

Kaisar di dalam kereta memperhatikan keadaan perang dengan seksama. Para pengawal menuju ke tempat-tempat yang sudah mereka sepakati. Masing-masing berjaga di sana. Yang paling jauh berjaga-jaga di bagian bawa bukit. Jika ia melihat sesuatu yang mencurigakan, ia bisa mengirimkan tanda bahaya kepada yang lain. Yang paling dekat adalah Li Ping Han. Ia mungkin orang kepercayaan kaisar yang paling dekat. Cio San sendiri mengagumi kecekatannya. 

Li Ping Han memanjat sebuah pohon. Dari situ ia bisa lebih jelas melihat jalannya peperangan yang amat sangat dahsyat itu. Cio San juga mengikutinya dan duduk di sebuah dahan yang lain. Dua pengawal yang lain berjaga-jaga di bawah melindungi kereta kaisar.

Di kejauhan Cio San mulai mempelajari peperangan itu. Pasukan kerajaan menggunakan baju zirah dari tembaga. Panji-panji mereka berwarna emas. Pasukan khusus kekaisaran menggunakan baju zirah mentereng yang berwarna emas. Dari kejauhan gerakan mereka menimbulkan kilatan cahaya yang menyilaukan.

Pasukan musuh ternyata tidak kalah banyaknya. Mereka menggunakan baju zirah tembaga dan baju zirah berwarna keperakan. Panji mereka berwarna hitam bergambar macan. Panah berterbangan memenuhi langit. Suara mesiu pun meledak menghancurkan apa saja. Penemuan bubuk mesiu sekitar seratus tahun yang lalu, berdampak besar pada peperangan. Semakin banyak orang yang mati, semakin mudah pula membunuh mereka.

Apa gunanya ilmu silat melawan gempuran mesiu seperti itu?

Li Ping Han melihat jalannya pertempuran dengan seksama. Ia lalu mengeluarkan sebuah sangkakala yang cukup besar dari balik pinggangnya. Saat ia meniupkannya, suaranya terdengar sangat bergemuruh. Nada-nada yang mengalun berbeda-beda. Nada ini merupakan perintah kepada pasukan untuk bergerak sesuai siasat. Amat sangat pintar!

Pasukan kerajaan lalu bergerak sesuai perintah nada-nada itu. Rupanya ini merupakan nada-nada rahasia yang hanya beberapa orang dari pasukan yang mengerti. Orang-orang inilah yang kemudian mengendalikan pasukan di medan pertempuran.

Sebelum nada-nada sangkakala itu dibunyikan, Cio San dapat melihat jelas bahwa pasukan kekaisaran agak sedikit terdesak meskipun jumlah mereka banyak. Dengan adanya panduan dari nada-nada ini, keadaan pasukan kekaisaran menjadi lebih baik. Mereka menjadi lebih teratur dan lebih trengginas. Terlihat pasukan lawan mulai kewalahan.

Tapi hal ini hanya berjalan sebentar karena kembai terlihat pasukan Kekaisaran mulai terdesak lagi. Bukan karena pasukan lawan, melainkan karena semburan-semburan api berwarna biru. Semburan ini membawa bau yang sangat busuk, bagaikan bau bangkai manusia. Di mana api dan aroma itu menyembur, di situ puluhan orang mati terkapar dengan mengerikan. Pemandangan ini sangat menakutkan. Cio San dapat melihat apa yang terjadi.
Pek Giok Kwi Bo.

Nenek ini bergerak dengan sangat cepat dan telengas. Ke mana ia bergerak, puluhan orang mati. Tak ada yang sanggup menghentikannya. Para ahli silat yang berada di dalam pasukan kekaisaran pun tak dapat menghentikan nenek ini. Api biru beracun berasal dari hembusan mulutnya.

Nafasnya mengeluarkan api bagaikan naga yang mengamuk marah!

Siapapun yang terkena hembusan nafas ini mati gosong oleh api beracun.

Cio San hanya bisa bergidik. Ia teringat keadaan tumpukan mayat saat ia dulu menyelidiki pasukan musuh. Semuanya mati menggosong dalam keadaan yang menggenaskan. Rupanya perbuatan nenek iblis ini. Ia mengepalkan tinjunya. Ingin sekali ia terbang turun ke bawah untuk bertarung dengan nenek itu.

Li Ping Han memperhatikan segala peristiwa ini. Raut wajahnya menampakkan kekhawatiran besar, namun ia bersikap sangat tenang. “Kita tidak memiliki pendekar tangguh yang sanggup menghadapinya,” kata pengawal itu.

“Saya bersedia turun ke sana jika Yang Mulia Kaisar memerintahkan,” kata Cio San.

Li Ping Han menggeleng, “Kehadiran Hongwsee di sini lebih diperlukan.”

“Tapi kita di sini hanya duduk sambil memandang para prajurit mati sia-sia,” tukas Cio San.

“Tidak. Ada rencana yang lebih besar yang harus kita hadapi. Kita hanya bisa menunggu,” jelas pengawal kepercayaan kaisar itu.

Dalam hati Cio San sebenarnya paham pasti ada siasat yang sedang dijalankan oleh Li Ping Han, tetapi hatinya tidak bisa tenang melihat pembantaian hebat di depan matanya. Sebagai seorang pendekar, hati kecilnya berteriak memaksanya untuk terjun ke medan laga.

Inilah perbedaan pendekar dan para jenderal perang. Di dalam peperangan, para pendekar tak akan pernah bisa menjadi jenderal karena hati dan jiwa mereka tidak akan mungkin tega mengorbankan prajurit lain. Hanya jenderal yang benar-benar tangguh dan teruji yang mampu dengan tenang menjalankan rencana-rencananya meskipun keadaan semakin terdesak. Meskipun banyak korban yang berjatuhan.

Menjadi jenderal perang ternyata tidak semudah bayangan orang. Kebanyakan orang mengira menjadi jenderal hanyalah duduk santai sambil mengatur siasat. Ternyata jauh lebih menyeramkan dan menakutkan dari itu. Cio San baru benar-benar memahaminya setelah mengalami sendiri.

Waktu terus berjalan, dan kematian terus terjadi.

Di pihak musuh, Pek Giok Kwi Bo merajalela. Teman-temannya yang juga merupakan pendekar-pendekar kaum sesat juga menggila dengan dahsyatnya. Para petarung yang membela kekaisaran sangat sedikit yang bisa menandingi mereka.

Sekali lagi Cio San terpana, dan ia menyesali keputusan kaum Bu Lim yang menyatakan menjauhkan diri dari urusan kekaisaran. Karena hal ini justru melemahkan tanah air. Pada awalnya kaum Bu Lim memang tidak ingin memihak pada perseteruan di dalam kekaisaran, tetapi langkah ini seperti pisau bermata dua. Ketika tanah air di serang, maka tak ada seorang pun pendekar sakti yang mempertahankannya.

Jika tanah air kembali dikuasai oleh bangsa lain seperti jaman dahulu dijajah oleh bangsa Goan (Mongolia), maka sepenuhnya ini merupakan kesalahan para pendekar dunia persilatan. Memang ada banyak pendekar yang turut mendaftar menjadi prajurit saat perang berlangsung, tapi umumnya mereka ini pendekar kelas menengah yang alasan bergabungnya hanyalah karena uang. Para pendekar hebat kelas atas, malah lebih suka menyendiri atau saling beradu silat.

Pasukan musuh terus bergerak maju. Gerakan mereka tak tertahankan karena dibantu oleh pasukan panah yang sangat hebat. Panah mereka sangat banyak, jauh lebih tepat, lebih cepat, dan lebih mematikan. Bagaimana musuh melatih pasukan panah yang begitu dahsyat?

Cio San memusatkan pandangannya. Ia kemudian dapat melihat bahwa pasukan musuh menggunakan senjata panah yang berbeda. Mereka tidak menggunakan busur biasa harus dipentang dulu kemudian dilepaskan anak panahnya, melainkan menggunakan sebuah busur kecil yang tidak perlu dipentang, cukup menekan tuas kecil maka 5 anak panah dapat ditembakkan sekaligus. Busur itu pun dapat menyimpan puluhan anak panah. Seseorang tidak memerlukan kekuatan yang besar untuk menarik busurnya. Ia cukup menekan sebuah tuas dengan jari telunjuknya.

Rupanya senjata panah ini yang dulu menyerangnya bersama Suma Sun dan hampir membuat mereka terbunuh. Memang bukan serangan dari senjata ini yang dulu membahayakan jiwanya, melainkan sebuah anak panah yang diluncurkan secara licik, dengan kemampuan yang sangat mengagumkan yang hampir menembus jantungnya. Tetapi senjata panah ini yang dulunya dilancarkan dengan sangat banyak sehingga ia tidak bisa menangkis panah utama yang ditujukan ke jantungnya itu.

Cio San mengepalkan tinjunya. Musuh besarnya sudah di depan mata, jika ia mau terjun ke medan peperangan, ia mungkin akan bertemu musuh besarnya itu. Tetapi di sini, kaisar membutuhkan perlindungannya. Di depan matanya, banyak manusia yang dibantai dengan begitu kejamnya.

Ia melihat pasukan kekaisaran mulai kocar-kacir. Pek Giok Kwi Bo dan kawan-kawannya telah berhasil mngobrak-abrik pasukan kekaisaran dengan cukup mudah. Semakin lama pasukan kekaisaran semakin mundur. Musuh seolah bertambah banyak, hadir dari kiri dan kanan. Tahu-tahu bagian dalam menyeruak keluar. Dan entah bagaimana dari luar bisa menyorong ke dalam.

“Aku tahu mengapa mereka bisa sebanyak itu. Karena mereka adalah pasukan kekaisaran yang membelot,” seru Li Ping Han.

“Membelot?”

“Ya. Selama ini kita dipusingkan dengan pasukan yang musnah dan hilang begitu saja. Seolah-olah musuh terlalu banyak dan menelan mereka. Tapi kini aku yakin, sebagian besar pasukan ini tidak musnah dan mati. Mereka bergabung dengan pasukan musuh,” kata Li Ping Han. “Gaya serangan pasukan ini merupakan ciri khas serangan pasukan kekaisaran. Pasukan lain tidak mungkin mempelajarinya. Pasukan kita rupanya telah berkhianat.”

Cio San mengerti. Hal ini cocok dengan penyelidikannya dahulu. Ia merasa banyak sekali pasukan yang dikirim, namun korban mati yang ia temukan tidaklah begitu banyak. Sebagian tubuh mereka dibakar agar mengacaukan jumlah. Tetapi jika seseorang mau teliti, ia dapat melihat jumlah yang mati jauh lebih sedikit daripada yang dikirimkan dahulu. Cio San mengira mereka ditawan. Ia sama sekali tidak mengira bahwa mereka malah bergabung dengan pasukan musuh.

Tentu karena uang. Hanya uang yang dapat merubah seorang kawan menjadi lawan.

Pembantaian terus berlangsung.

Darah muncrat di mana-mana.

Potongan tubuh manusia melayang dan bergelimpangan.

Teriakan bercampur dengan dentingan bunyi senjata.

Pemandangan yang paling mengerikan adalah ketika manusia membunuh manusia yang lain untuk alasan yang sama sekali tidak dipahami oleh mereka sendiri.

Ketika Cio San memalingkan wajahnya, ia justru melihat hal yang jauh lebih mengerikan dari itu. Pek Giok Kwi Bo sedang membunuh untuk kesenangan. Setiap ia bergerak puluhan orang jatuh hangus oleh api beracun. Para pendekar lain yang membantunya pun tidak kalah ganasnya. Jumlah orang yang mereka bunuh hari itu jauh lebih banyak daripada siapapun yang membunuh di sepanjang hidupnya.

Teriakan yang mati sungguh mengenaskan.

Cio San sudah tidak kuat lagi. Air matanya berlinang membasahi wajahnya. Ia sudah siap melayang turun ke bawah. Ketika didengarnya sesuatu datang dari kejauhan.

Kepakan sayap puluhan burung.

Sekejap jantungnya hampir berhenti berdetak. Kini wajahnya berseri-seri bahagia. Selama ini sahabat-sahabatnya tidak pernah berhenti mengecewakannya.

Cukat Tong telah tiba!

Tetapi ia tidak sendirian. Ada seseorang datang bersamanya.

Ang Hoat Kiam Sian.

Sang Dewa Pedang Rambut Merah!

Dewa kematian telah muncul kembali.

Seketika rasa bahagia Cio San berubah menjadi sedikit ketakutan. Ia tahu apa yang sanggup diperbuat Suma Sun jika lelaki itu mencapai puncak kemarahannya. Hari ini, hanya sedikit manusia yang akan lolos dari kematian!
Cukat Tong terbang rendah. Burung-burungnya menukik dengan tajam. Tak ada seorang pun yang menyadari kedatangan kedua orang pendekar itu. Suma Sun melayang turun dengan perlahan. Jubah putihnya melambai.

Begitu ia mendarat di medan laga, puluhan orang terlempar hanya karena kibasan kain bajunya. Ia tidak lagi menggunakan pedang. Lengan baju kanannya yang menutupi lengannya yang buntung telah berubah menjadi sebuah senjata yang lebih menakutkan dari pedang mana pun!

Ke mana Suma Sun bergerak, pasukan musuh berjatuhan tanpa ampun!

Cio San bergidik. Sahabatnya itu telah mencapai tahap tertinggi dalam ilmu pedang, yaitu tahap “Tanpa Pedang”. Ia tidak memerlukan pedang, karena tubuhnya dan apa yang ada pada tubuhnya telah mampu diubahnya menjadi pedang!

Blaaaaaar!

Dhueeeeeeeeeeerrrrrrr!

wuuuuusssssssss! wuuuuuuuuuusssss!

Kemana ia bergerak, ledakan dan sabetan lengan bajunya pun bergerak dengan dahsyatnya. Lengan bajunya dapat menjadi lembut bagaikan cambuk, namun dapat keras menegang bagai pedang tanpa tanding. Tingkat ketinggian tenaga dalam Suma Sun sudah mencapai tahap “tak terbayang”. Hanya orang yang memiliki ketinggian tenaga dalam tahap sempurna baru bisa menggerakkan lengan baju seperti itu.

Ketika Suma Sun menghabisi musuh di darat, Cukat Tong menghancurkan musuh lewat udara. Ia melemparkan bola-bola berisi mesiu yang menghancurkan persenjataan dan pertahanan musuh. Para pasukan pemanah musuh mulai mengincarnya. Tapi Cukat Tong dan burung-burungnya bergerak dengan sangat cepat. Mereka terbang tinggi dan menghindari panah musuh.

Perajurit musuh pun tidak berani menembak sembarang karena khawatir panahnya justru akan menghujam kawan sendiri yang tengah bertempur.

Suma Sun berhenti bergerak. Di hadapannya adalah seorang laki-laki yang tinggi besar. Ia memakai topi bambu yang menutupi wajahnya. “Kau Suma Sun?” tanyanya.

Suma Sun tentu tidak bisa melihat orang, tetapi seluruh inderanya yang lain bekerja dengan begitu sempurna. Ia dapat menduga. “Tuan adalah Si Raja Golok dari Timur?”

Yang ditanya hanya menjawab dengan mencabut goloknya perlahan dari sarungnya. “Kita lihat siapa yang lebih cepat. aku atau kau,” katanya.

Gerakannya sangat cepat. Tidak ada suara sama sekali. Tahu-tahu goloknya telah mengincar leher Suma Sun. Tapi gaya menghindar Suma Sun pun tidak kalah cepatnya. Ia hanya mundur satu langkah, golok itu sudah lewat di depannya. Ia bergerak satu kali lagi.

Kali ini entah bagaimana golok itu telah berpindah tangan.

Si Raja Golok dari Timur hanya bisa melongo melihat bagaimana kini goloknya telah berada di genggaman tangan kiri Suma Sun. Dalam sejarah dunia persilatan sejak dulu sampai sekarang, baru kali ini ada jagoan golok nomer wahid yang goloknya diambil begitu gampang. Seperti mengambil manisan dari tangan anak-anak.

Ia tidak tahu harus marah ataukah menangis.

“Ju…jurus…a…apa itu?”

“Semua Tanpa Pedang Di Bawah Langit,” jawab Suma Sun pelan.

Si Raja Golok mengayunkan tangannya dan menghajar batok kepalanya sendiri. Baginya hidupnya sendiri sudah tak lagi berguna. Hidup seribu tahun pun ia tak akan mampu sampai pada tahap seperti Suma Sun. Rasa putus asa dan malu karena goloknya dirampas dengan mudah membuatnya menghabisi nyawanya sendiri.

Jika seseorang berhadapan dengan Suma Sun, sebaiknya ia memang mengambil nyawanya sendiri. Suma Sun yang sekarang jauh lebih menakutkan daripada Suma Sun yang dahulu. Cio San semakin bergidik.

Suma Sun kembali bergerak. Kali ini melayang tinggi setinggi kepala orang. Ia lalu mengibaskan tangan kanannya. Tubuhnya berputar bagaikan angin puyuh!
Lalu dengan mengerankan pedang serta golok dari prajurit-prajurit yang berada di sekitarnya seolah-olah terhisap masuk ke dalam angin puyuh itu!

Semua Tanpa Pedang Di Bawah Langit.

Setelah pulih dari lukanya, Suma Sun malah mampu membuka titik-titik rahasia di dalam tubuhnya. Titik-titik ini memberikan kekuatan sakti yang amat sangat dahsyat. Tak ada seorang pun yang mengetahui rahasia titik-titik ini jika ia belum mengalami kelumpuhan seluruh tubuh seperti yang dialami Suma Sun.

Ratusan pedang dan golok terhisap ke dalam angin puyuh itu. Ketika angin itu berhenti, pedang dan golok itu telah berubah menjadi sebuah bola besi yang sangat besar !

Suma Sun menandangnya jauh ke angkasa.

Bahkan prajurit yang sedang bertempur pun terpaksa berhenti sejenak melihat kejadian ini.

“Siapa yang ingin selamat silahkan buang pedang,” kata Suma Sun dengan tenang dan pelan. Tetapi kalimat ini terdengar jelas masuk ke telinga setiap mereka yang ada di situ. Betapa tingginya khi-kang milik pendekar ini!

Ia berjalan dengan tenang ke depan. Ribuan prajurit musuh dihadapannya mundur dengan perlahan. Mereka semua memang sudah siap untuk mati. Tapi tidak ada dari mereka yang siap mati di tangan Suma Sun.

Tahu-tahu Pek Giok Kwi Bo muncul dari balik kerumunan pasukan musuh. Tangannya membawa sebuah tabuhan perang yang sangat besar. Nenek itu lalu memukulnya dengan sangat kuat.

Boooooooommmmmmmmm!

Booooooooommmmmmm!

Suma Sun telah menutup jalan pendengarannya sebelum tetabuhan itu dibunyikan. Tetapi tetap saja bunyi dentuman yang dihasilkan telah mempu menggetarkan jantung. Karena nenek itu memukulnya dengan tenaga dalam dan cara yang khusus.

Para prajurit banyak yang terkapar mati dengan urat jantung yang putus dan gendang telinga yang pecah. Cukat Tong yang masih melayang di udara pun kini jatuh menghujam bumi karena burung-burungnya semua mati menggenaskan.

Siapa pun yang tidak memiliki tenaga dalam yang cukup tinggi akan mati dengan urat jantung yang terputus.

Suma Sun tidak dapat bergerak. Ia sebenarnya justru  lebih menderita daripada orang lain. Karena orang buta pasti memiliki indera lain yang jauh lebih tajam daripada orang lain. Pendegarannya akan lebih tajam daripada orang lain, penciumannya, perasanya, seluruh tubuhnya!

Jadi ketika suara dentuman tetabuhan ini mengguntur dan membunuh siapa saja, justru Suma Sun sangat menderita. Meskipun ia telah menutup indera pendengarannya, getaran dentuman ini masih bisa dirasakan kulitnya, jantungnya, seluruh tubuhnya.

Pihak musuh rupanya telah mempersiapkan senjata untuk menghadapi Suma Sun. Pendekar itu kini diam terpaku dan tak dapat bergerak. Seluruh pergerakannya harus ia lakukan dengan hati-hati karena salah gerak sedikit dapat menghancurkan jantungnya.

“Serang dia!” teriak Pek Giok Kwi Bo.

Beberapa pendekar hebat yang menjadi anak buahnya kemudian berkelebat ke depan. Ada 4 orang yang menyerang secara bersamaan. Cio San pun melompat ke depan. Ia tak dapat menahan diri lagi. Demi nyawa sahabatnya, perintah kaisar pun berani ia langgar.

Tapi Cio San jelas kalah langkah. Ia berada ratusan Li jauhnya.

Musuh hampir menjangkau Suma Sun. Hati Cio San mencelos. Ia tak dapat melakukan apa-apa dari sana. Air matanya menderai.

Duarrr ! Duarrrr! Duarrr! Duarrrr!

Empat buah ledakan kecil terjadi. Ledakan itu berasal dari lemparan bola mesiu yang dilontarkan Cukat Tong dari udara. Dalam gerak jatuhnya ia masih bisa memberi pertolongan pada Suma Sun. Sekali lagi Cukat Tong menggerakkan tangannya ke depan, benang-benang halus yang ia gunakan untuk mengendalikan burung, telah melilit di tubuh Suma Sun. Dengan satu kali hentakan, ia telah melontarkan Suma Sun ke atas.

Melihat ini, lega lah hati Cio San. Dengan ringan ia melayang turun ke bawah. Dalam 20 langkah, ia telah tiba di medan pertempuran. Tak ada seorang pun di muka bumi ini sanggup menyamai kecepatan gerakan langkahnya.

Pek Giok Kwi Bo yang melihat Cio San datang mendekat, segera bergerak. Posisinya jauh lebih dekat ke Suma Sun daripada ke Cio San. Karena itu ia memilih menyerang Suma Sun, karena ia tahu Cio San tak akan bisa menyelamatkan sahabatnya itu.

Nenek iblis itu bergerak bersama dentuman terakhir yang ditabuhnya. Ia bergerak bersama gelombang suara yang dihasilkan dari tetabuhan itu. Bahkan ia lebih cepat ! Belum lagi gelombang itu terdengar dan mencapai Suma Sun, gerakan nenek iblis itu telah mendahului.

Suma Sun mengibaskan lengan bajunya ke depan. Lengan baju yang amat sangat dahsyat. Tetapi yang dihadapinya adalah seseorang nenek iblis yang sangat licik. Nenek itu menggunakan api!

Api beracun itu melahap lengan baju Suma Sun! Seketika tenaga dalam sakti yang mengalir di lengan baju itu hilang seketika. Gas beracunnya menghambur masuk melalui kulit Suma Sun. Wajahnya berubah ungu saat racun itu menjalar ke dalam tubuhnya.

“Naga Menggerung Menyesal!”

Terdengar teriakan dari kejauhan. Sinar keemasan berbentuk naga yang sedang mengamuk meluncur dengan deras. Inilah tapak yang pernah mengguncang dunia persilatan. Sinar emas itu menghujam dada Pek Giok Kwi Bo. Sang nenek berjumpalitan mundur.

“Hahahahahaha,” ia tetap tertawa meskipun darah termuntahkan dari tenggorokannya. Pukulan Cio San dilakukan dengan penuh amarah, kekuatannya menjadi berlipat ganda. Tetapi nenek itu hanya tertawa senang.

“Kau tak apa-apa?” tanya Cio San pada Suma Sun.

Pendekar itu berjumpalitan di udara dan mengerahkan tenaga dalamnya. Dengan mudah racun yang tadi terserap kulitnya sudah berhasil ia keluarkan seluruhnya. Wajahnya kini bercahaya seperti biasa. Tetapi Suma Sun tetap masih tenang seperti sedia kala. Ia hanya mengangguk.

Betapa lega hati Cio San, tetapi kini ia baru menyadari. Ada puluhan layang-layang merah di angkasa telah mendekati bukit di mana sang Kaisar bersembunyi.

Ia telah terpancing.

Manakah yang harus ia pilih? Kaisar atau sahabat?


  

  

Tuesday, September 15, 2015

EPISODE 2 BAB 52 KEMBALI DATANG, KEMBALI HIDUP, KEMBALI CINTA


“Apakah Suma-tayhiap memang semenakutkan itu?” tanya sang kaisar.
“Ketinggian ilmunya sukar diukur, karena  jiwa dan pikirannya pun sulit di duga. Selama ini ia telah hidup tenang bersama keluarganya, mengharapkan lahirnya seorang anak. Tapi putranya ini tewas sebelum sempat dilahirkan. Istrinya pun terluka. Dia sendiri pun terluka dalam yang sangat berat. Kita hanya bisa berharap bahwa pengobatannya berhasil,” jawab Cio San.

“Jika memang berhasil, apakah ada kemungkinan ilmunya meningkat dengan begitu tajam?” tanya kaisar lagi.

“Sejauh pengalaman hamba, kemungkinannya memang seperti itu. Dendam bisa menambah kekuatan seseorang. Amarah akan menambah daya tempurnya. Meskipun amarah mungkin akan membuka  banyak titik kelemahan, hamba pikir Suma Sun pasti akan berhasil menutupi titik kelemahan ini."

“Saat Hongswee mengalahkannya di dermaga, apakah karena Hongswee melihat titik kelemahannya itu?” tanya sang kaisar lagi. Cio San cukup heran juga mengetahui bahwa ternyata sang kaisar pun mengetahui peristiwa pertempuran dirinya dan Suma Sun di dermaga.

“Suma Sun adalah petarung yang mampu menyesuaikan diri. Sekali saja sebuah jurus atau serangan berhasil kepada dirinya, saat itu pula ia akan belajar untuk menutupi kelemahannya. Jurus yang sama tak akan pernah bisa digunakan menghadapi Suma Sun dua kali,” jelas Cio San.

“Hmmm, sangat menarik. Jadi bagaimana cara Hongswee mengalahkannya dulu di dermaga?” sang kaisar rupanya masih penasaran.

“Saat itu hamba sudah kalah, untung saja Suma-hujin (nyonya Suma- Ang Lin Hua) menolong hamba dengan menyerang suaminya sendiri dari arah belakang. Tanpa campur tangannya, hamba tentu sudah tewas,” kata Cio San.
“Begitu rupanya,” tukas sang kaisar. “Banyak orang bilang, Suma Sun memang tidak memiliki ilmu pedang tertinggi, tidak memiliki ginkang (ilmu meringinkan tubuh) tertinggi, tapi ia tidak dapat dibunuh. Justru ia lah yang membunuh orang.”

“Ungkapan ini sepertinya tidak terlalu berlebihan, yang Muila,” kata Cio San. Tiba-tiba saja Cio San merinding sendiri. Bagaimana jika kaisar menganggap Suma Sun adalah ancaman bagi negara, dan mencoba menyingkirkannya?
Ia tidak berani berpikir.

Kereta berjalan cukup jauh, ketika tiba-tiba berhenti.

“Mengapa berhenti?” tanya kaisar kepada Li Ping Han yang sedang berada di depan.

“Ada seseorang datang menuju kemari,” jawab Li Ping Han.

Segera Cio San mengerti kenapa kereta itu berhenti. Daerah yang mereka lalui seharusnya bersih dari siapapun. Karena siapapun yang akan berpapasan dengan kaisar, harus melewati 5 sastrawan yang menjaga di depan.

“Tidak ada kabar dari burung merpati? Mengapa ia bisa lewat?” tanya kaisar lagi.

“Inilah yang hamba herankan, paduka,” jawab Li Ping Han.

Kaisar lalu menekan sebuah tuas. Dengan segara bagian dalam kereta berubah menjadi sebuah benteng pertahanan yang amat kuat. Sangat mengagumkan!

Orang yang datang di depan sana semakin mendekat. Kaisar mengintip dari sebuah lubang kecil di balik “benteng pertahanan” itu. “Aku tidak kenal orang ini. Ia mungkin menyamar. Apakah Hongswee mengenalnya?”

Kini Cio San yang mengintip melalui lubang itu, ia pun hanya bisa menggeleng.

Terdengar suara Li Ping Han, “Selamat siang, enghiong (pendekar). Kami ingin bertanya, apakah tuan melihat 5 orang sahabat kami di depan sana?”

Orang itu menjawab dengan sopan, suaranya terdengar berat dan gagah, “Tidak tuan. Sepanjang hari cayhe (saya) berjalan, tidak bertemu seorang pun kecuali rombongan tentara yang sudah sangat jauh perginya.”

Mendengar suara ini, Syafina terhenyak. Cio San mngetahui ini dan bertanya dengan perlahan, “Kau kenal?”

Syafina tidak menjawab, ia hanya mengintip dari lubang kereta. Wajahnya memucat.

“Ia…., ia tunanganku…..,”

Entah kenapa Cio San merasa kata-kata ini sengaja diucapkan Syafina. Apakah perempuan memang selalu seperti ini?

“Turunlah, putri,” kata kaisar. Ia menekan tuas dan pintu pun terbuka.

Syafina pun turun dengan perlahan.

Lelaki gagah yang berada di hadapannya pun berubah wajahnya. Terasa seluruh beban di dalam hidupnya terhapus hilang saat ia menatap wajah putri yang cantik itu.

“Akhirnya aku menemukanmu, Sya!”

Syafina tidak menjawab apa-apa. Ia memang tidak dapat menjawab. Perempuan mana pun jika berada di dalam posisi seperti dirinya, tentu tak akan sanggup menjawab apa-apa.

Li Ping Han memerintah salah seorang anak buahnya untuk menyusul ke depan, melihat keadaan 5 sastrawan. Anak buah itu melesat dengan cepat. Ginkangnya sangat mengagumkan. Tetapi di saat seperti ini, kedua anak muda yang sedang berdiri berhadap-hadapan itu tidak perduli dengan ginkang seseorang.

“Mengapa kau ada di sini?” akhirnya Syafina berani bersuara.

“Aku…., aku…mencarimu,” jawab lelaki gagah itu.

“Mengapa begitu terlambat kau mencariku?”

“Aku harus menyelesaikan tugas rahasia dari guru. Segera setelah tugas itu selesai, aku langsung mencarimu, Sya.”



Bulir-bulir air berkumpul di pelupuk matanya. Perasaannya begitu bercampur aduk. Ia lari dari rumah justru karena lelaki ini. Ia pergi sejauh-jauhnya agar lelaki ini mengejarnya dan menjemputnya. Ia bahagia ketika kemudian lelaki ini benar-benar menemukannya. Ada perasaan marah mengapa lelaki ini tidak segera menemukannya.

Karena ia sendiri telah menemukan Cio San!

Syafina tidak tahu apakah ia harus tertawa atau menangis.

Begitu ingin ia berlari menuju lelaki ini, memeluknya dan melepas kerinduan. Di saat yang sama ia sendiri merasa kakinya terbelenggu oleh sebuah rantai yang tertaut pada seseorang di belakangnya.

Seseorang di sana!

Ia melangkah pelan-pelan. Setiap langkah diisinya dengan pertimbangan yang sebaik-baiknya. Ia harus memilih. Dan semakin dekat langkahnya kepada lelaki di hadapannya itu, semakin ia tahu bahwa hatinya tertinggal di belakang.

Dan ia pun memutuskan!

“Aku…sepertinya aku…tidak bisa…, aku..tidak mau pulang. Aku sudah menemukan….”

“Kau harus pulang, putri,” terdengar suara laki-laki di belakangnya

“Pulang?” Syafina bertanya dengan heran.

Herannya pun dengan amarah.

Ia telah memilih untuk menyerahkan seluruh jiwa dan cintanya untuk lelaki di belakangnya ini. Namun sang lelaki malah menyuruhnya pergi!

Hanya diperlukan sepersekian detik bagi perempuan untuk mengubah pendiriannya. Juga diperlulan sepersekian detik bagi seorang wanita untuk membenci lelaki yang dicintainya.

“Baik! Aku pulang!”

Ia menoleh pada Cio San dengan penuh amarah. Seolah-olah seluruh hatinya sudah hancur berantakan.

“Kita tak akan bertemu lagi!”

Ingin rasanya Cio San berkata untuk membiarkan takdir langit yang memutuskan. Tetapi ia diam saja.

Syafina bergerak ke arah kereta, ia menjura kepada kaisar, “Saya mohon diri. Terima kasih atas kebaikan padu…,”

Sang kaisar segera memotongnya dan berkata, “Aih, tidak perlu banyak aturan begini, liehiap (pendekar wanita), sebagai sesama orang persilatan kita kan harus selalu saling membantu,”

Syafina mengangguk dan tersenyum. Tetapi air matanya telah berlinang. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun kepada Cio San. Bagi seorang wanita, terkadang ucapan “selamat tinggal” pun tidak pantas diucapkan untuk seorang lelaki. Walaupun sebagian besar lelaki seperti ini pernah mengisi hati mereka.
Sekali lagi Cio San merasakan kejamnya kata “pernah”.

“Pernah” bukanlah sebuah kata yang sederhana. Ia adalah kata yang menjarah jiwa.

“Mari pergi,” Syafina tersenyum sambil menggandeng tangan lelaki gagah itu.
Ingin rasanya Cio San menampar dirinya sendiri, namun ia tidak bisa. Ia terpaksa membiarkan wanita yang dicintainya pergi, karena ia memiliki alasan.

Alasannya yang paling utama bahwa adalah ia sendiri pernah terluka. Ia pernah merasakan perihnya perasaan ketika orang yang ia cintai pergi dengan orang lain. Tetapi ia justru rela merasakan perasaan itu lagi karena ia tidak ingin lelaki lain merasakan hal yang sama.

Ia tidak ingin menjadi penyebab kepedihan hati lelaki lain. Ia tidak ingin merebut kebahagiaan orang lain.

Ia memang selalu berpikir tentang orang lain. Ia tidak pernah berpikir tentang dirinya sendiri. Jika orang lain menyakiti perasaannya, ia tak akan membalas. Ia cukup bahagia jika ia sendiri tidak menyakiti hati orang lain.

Lalu bagaimana dengan hati Syafina?

Cio San di pilihan yang sulit. Haruskah ia menyakiti Syafina ataukah menyakiti lelaki itu? Tetapi di dalam keadaan ini, Syafina adalah tunangan yang sah dari lelaki itu. Ditinjau dari sudut manapun, ia lah yang berada sebagai orang ketiga di dalam hubungan ini.

Kereta masih berhenti. Pengawal yang pergi ke depan belum kembali. Cio San masih berdiri mematung memandang sepasang kekasih yang bertemu kembali dan kini telah pergi menjauh.

Jika ia tidak menyuruhnya pergi, wanita itu tak akan pergi.

Jika seorang wanita telah pergi, ia tidak akan kembali.

Jika ia tidak kembali, maka ia tak menjadi jodohnya.

Jodoh adalah sebuah hal yang amat sangat sulit dimengerti. Jika jodoh, ia akan datang. Tetapi jika tidak diusahakan, jodoh tak akan datang. Padahal, mau berusaha sekuat apapun, jika bukan jodoh, tentu tak akan datang. Lalu bagaimana seorang manusia harus bersikap?

Cio San hanya bisa mengasihani dirinya sendiri dan mencoba percaya, bahwa jika jodoh, seorang wanita yang telah akan kembali datang, kembali hidup, dan kembali cinta.

Itulah mungkin cinta yang sebenarnya. Takdir akan mengacaukan jalannya, tetapi pada akhirnya mereka akan bertemu di suatu tujuan.

Tetapi bagaimana jika Syafina bukan jodohnya?

Bagaimana pula jika Syafina bukan jodohnya hanya gara-gara Cio San menyuruhnya pergi?

Semua hal ini lebih memusingkan daripada rencana jahat dari penjahat yang paling culas sekalipun.

“Mengapa kau membiarkan nona itu pergi, hongswee?” kaisar kembali bertanya.

“Karena lelaki itu adalah tunangannya, paduka,” jawab Cio San.

“Bagaimana jika ternyata nona itu lebih mencintaimu daripada tunangannya itu?”

“Maka ia tak akan pergi,” jawab Cio San pelan.

“Bagaimana ia tidak pergi, jika justru kaulah yang mengusirnya pergi?”

Cio San tak dapat menjawabnya.



Ia tak dapat pula menjawab, lelaki macam apa dirinya ini. Yang membiarkan gadis yang ia cintai untuk pergi. Padahal ia tahu si gadis berharap bahwa ia akan menariknya kembali ke dalam pelukannya, memintanya untuk tidak pergi.

Tetapi ia justru memintanya untuk pergi!

Lelaki macam apakah Cio San?

Apakah ia terlalu mengutamakan kegagahan sehingga menyampingkan kebahagiaan diri sendiri?

Para pendekar sejati memang tidak ada yang bahagia. Mereka kesepian. Karena mereka tidak seperti manusia umumnya. Justru karena mereka tidak seperti manusia umumnya, maka mereka melakukan hal-hal yang tidak dapat dipahami orang lain. Banyak orang menganggap mereka tolol dan dungu. Banyak orang menganggap mereka munafik.

Tetapi hanya langit yang mengetahui ketulusan hati mereka. Karena perbuatan-perbuatan mereka sanggup menggetarkan langit!

Sang pengawal yang baru kembali dari tugasnya menyelidiki keadaan di depan sana, kini sudah kembali.

“Jejak para siucay (sastrawan) menghilang dengan aneh. Tidak ada bekas pertempuran atau apa pun,” lapor sang pengawal itu.

“Biarkan hamba yang menyelidiki, paduka,” pinta Cio San.

“Silahkan!” jawab sang kaisar.

Cio San melesat pergi. Sepanjang jalan ia tidak melihat hal yang mencurigakan. Jejak para sastrawan ini pun berhenti di satu titik. Setelah itu mereka semua menghilang! Ia memeriksa dengan seksama. Sungguh tak ada satu hal pun yang menarik perhatian di sepanjang jalan.

Otaknya berpikir cepat. Ia menoleh ke atas dan memperhatikan ranting-ranting pohon. Segera tubuhnya pun melayang dan melenting ke atas ranting pohon. Di pepohonan yang tinggi menjulang itu ia memperhatikan rantingnya satu persatu. Meskipun tidak terlihat dengan mata telanjang, Cio San dapat memperhatikan bahwa ada beberapa dahan yang sedikit patah dari batangnya. Patahannya hanya sedikit sekali. Tidak sampai membuat dahan-dahan terlepas dari batangnya. Besar robekan dahan ini hanya beberapa ujung kuku. Tetapi ia dapat melihatnya.

Dengan hati-hati ia memeriksa seluruh dahan, dan mencoba mengikuti patahan-patahan yang sangat kecil itu. Matanya sangat awas. Gerak tubuhnya pun sangat lincah meloncat kesana kemari mengikuti jejak patahan dahan.

Hingga ia sampai kepada sebuah sungai. Kemana pun ke 5 Siucay ini pergi, ia tak akan bisa melacaknya melalui jalur sungai, karena ia tahu, sungai ini akan bertemu dengan sebuah sungai besar yang menjadi lintas utama kendaraan perairan.

Ia memutuskan untuk kembali. Secepat kilat ia telah kembali di hadapan kaisar. “Hongswee menemukan jejak mereka?” tanya kaisar.

“Ia paduka. Tetapi jejak itu menuju sungai, tapi hamba tak dapat menyusuri jejak mereka melalui sungai,” tukas Cio San.

“Kira-kira apa yang terjadi?”

“Menurut pandangan hamba, mereka mungkin memang sengaja pergi menghilang. Atau ada orang sakti yang mampu melumpuhkan mereka tanpa mereka bisa melawan sama sekali,” kata Cio San.

“Apa? Bagaimana mungkin seseorang dapat melumpuhkan mereka tanpa perlawanan sama sekali? Orang sesakti apa dia? Mengapa pihak musuh memiliki orang setangguh ini?”

Cio San tak dapat menjawab. Ia mempunyai tebakannya sendiri, tetapi ia tak akan mengatakannya kepada siapa pun sebelum ia benar-benar membuktikan siapa orang ini. Manusia jahat yang bersembunyi di balik bayang-bayang. Pelaku utama semua kejahatan ini!

“Apa yang harus kita lakukan, pengawal Li?” tanya kaisar kepada Li Ping Han.
“Menurut hamba, kita harus tetap meneruskan perjalanan,” jawabnya tenang.
“Baiklah,” jawab kaisar.

Ketenangan Li Ping Han cukup mengagumkan. Cio San jadi bertanya-tanya sendiri dalam hati, bagaimana kemampuan yang sebenarnya dari pengawal terpercaya kaisar ini? Ia memutuskan untuk memperhatikan lebih jauh tentang orang ini.

Perjalanan pun dimulai kembali. Sepanjang perjalanan pikiran Cio San memang tak bisa lepas dari dua kejadian ini. Perginya Syafina dan hilangnya kelima siucay. Apakah kedua peristiwa ini saling berkaitan? Jika iya, apa kaitannya?

Wajah kaisar sendiri menampakan sedikit kekhawatiran, tetapi keagungan dan ketenangannya masih tampak jelas. Ia mencoba untuk memulai percakapan dengan santai, “Jika perang ini selesai, kuharap kau mau pergi ke Qara Del,”
Qara Del adalah daerah tempat tinggal Syafina.

“Apakah ada tugas dari paduka?”

“Tidak. Tetapi aku hanya merasa kau benar-benar harus menemui nona itu lagi,” jelas sang kaisar. “Aku tahu kau memintanya pergi sebenarnya adalah untuk melindunginya dari peperangan ini. Melindunginya dari setiap permasalahan yang kau hadapi. Karena kau berpikir, kau hanya mendatangkan masalah ke dalam hidup orang lain. Apakah aku salah menduga?”

Cio San tak dapat menjawab. Ia hanya mampu tersenyum. Ia memang pernah berpikir seperti ini, kata-kata kaisar ini justru menambah keyakinannya sendiri. Ia mungkin tidak pantas bahagia. Hidup sebagaimana manusia pada umumnya. Ia mungkin ditakdirkan untuk terjebak di berbagai macam urusan kehidupan. Sehingga ia tidak memiliki kehidupannya sendiri.

Ia merasa bahwa ia  memiliki hak untuk tidak berbahagia. Jika orang boleh berbahagia, mengapa ia tidak boleh bersedih? Di dalam kesedihan ada kenikmatan yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang  yang terluka. Ia terlalu terbiasa dengan kesedihan, sampai-sampai ia merasa aneh jika hidupnya tidak diliputi kesedihan.

Apakah karena kesedihan ia mampu bertahan hingga saat ini?

“Kau tahu bukan, bahwa kesedihan dapat melahirkan kekuatannya tersendiri. Di masa lalu, ada seorang pendekar besar yang menciptakan ilmu pukulan maha dahsyat yang berdasarkan perasaan sedih ini,” tukas sang kaisar.

“Apakah yang paduka maksud adalah Sin-tiauw enghiong Yo-tayhiap?” tentu saja semua orang persilatan tahu siapa Yo-tayhiap ini.

“Benar. Ilmu pukulannya amat sakti dan tak ada satu orang pun yang sanggup mempelajarinya. Kau tahu nama ilmu itu?”

Cio San mengangguk, “Tapak Duka Nestapa,”

Kaisar tersenyum senang. “Benar sekali!”