Sunday, March 19, 2017

ORDER: RAHASIA JUBAH MERAH


KISAH PARA PENGGETAR LANGIT EPISODE 2: RAHASIA JUBAH MERAH

Jumlah: 4 (empat) jilid.

Jilid 1: 300 Halaman.
Jilid 2: 230 halaman.
Jilid 3: 330 halaman.
Jilid 4: 270 halaman.
Harga: Rp.475.000,-

Karya: Norman Duarte Tolle

PEMESANAN:
whatsapp ke nomor: 08883800313
Email address : normannuno@gmail.com.

Pembayaran dapat di transfer melalui nomor rekening

- BCA 0183296121 atas nama Norman Tolle. 


Saturday, March 18, 2017

EPISODE 2 BAB 59 DEWA MELAWAN DEWA



Cahaya emas bersinar di tengah malam!

Jika orang lain yang mendapatkan serangan seperti itu tentu akan bingung dan tak dapat menghindarinya. Tetapi Suma Sun bukan orang lain. Ia adalah Dewa Pedang!

Dalam sekejap mata tubuhnya sudah “terbang” ke atas. Dengan berpoksai (salto) satu kali, ia sudah dapat menghindari sebuah jurus telapak yang diakui sebagai jurus yang paling menakutkan dan yang paling dahsyat yang pernah diciptakan manusia!

Gerak Suma Sun sangat sederhana dan mudah. Tetapi untuk merasakan kemudahannya, kau harus menjadi Suma Sun. Tidak ada cara lain.

“Bunuh Suma Sun!” hanya bisikan itu yang terdengar dalam kepala Cio San. Dan hanya bisikan itu yang terucap dari bibirnya. Matanya kosong dan nanar. Suma Sun segera mengetahui apa yang terjadi. Meskipun ia tidak dapat melihat, ia dapat merasakan getaran aneh yang menyelimuti seluruh hawa yang dimiliki Cio San.

Getaran itu berasal dari dengung putaran tongkat Pek Kwi Bo, si nenek iblis!
Segera Suma Sun meluncur ke arah nenek iblis itu, tetapi langkahnya terhenti. Cio San telah menutup jalannya. “Naga Terbang Di Langit!” seruan itu muncul dari bibir Cio San tanpa dapat ia kendalikan.

Kembali cahaya emas bersinar di tengah malam. Tetapi cahaya itu datang berbarengan dengan luncuran badan Cio San pula. Kembali Suma Sun menghindari serangan itu dengan anggun.

Keanggunannya bukan bagaikan seorang anak perawan yang menari dengan indah. Keanggunannya bagaikan seorang ratu kekaisaran yang telah matang dan dewasa.

Tentu saja ia tidak dapat menggunakan pedangnya. Karena jurus pedang yang dipelajarinya sepanjang hidupnya adalah jurus pedang untuk membunuh orang. Bagaimana mungkin ia membunuh sahabatnya sendiri?

Suma Sun menancapkan pedangnya di tanah. Dalam sepersekian detik ia mengerahkan tenaga saktinya. Tahu-tahu bagian lengan bajunya kanannya kini bergerak bagaikan memiliki tangan.

Beberapa tahun yang lalu, Suma Sun mengorbankan tangan itu karena ia tidak ingin membunuh seorang Dewa Pedang yang lain. Apakah kini ia akan mengorbankan tangannya yang satunya lagi karena ia tidak ingin membunuh sahabatnya sendiri?

Tidak ada seorang pun yang dapat memahami isi hati seorang Suma Sun.

Cio San kembali bergerak, ia tidak menunggu lama dan membiarkan Suma Sun mengumpulkan tenaganya. Semua kejadian ini berlangsung dengan cepat dalam sekejap mata.

“Naga Bertempur di Alam Liar!’’ jurus ke-3 yang dikeluarkan Cio San. Suma Sun menerima cahaya emas itu dengan lengan bajunya. Ada tenaga sakti aneh yang terkumpul di lengan baju itu sehingga membuatnya terasa hidup bagaikan naga yang menari-nari.

Selama ini tidak ada satu senjata pun yang dapat digunakan cahaya emas yang lahir dari jurus 18 Tapak Naga. Tapi setiap hal pastilah memiliki “saat pertama”-nya. Dan malam ini adalah kali pertama jurus yang dahsyat itu ditangkis oleh sebuah lengan baju.

Hanya kain!

Tetapi kain itu berisi tenaga sakti yang lahir dari terbukanya titik-titik syaraf Suma Sun. Pengobatan yang dilakukan oleh Cio San terhadap Suma Sun telah membuka titik-titik tertentu di dalam tubuh dewa pedang itu sehingga tenaga saktinya muncul dan mengalir lebih deras. Hal ini tidak dapat terjadi jika sebelumnya Suma Sun tidak terluka dengan parah dan menjadi lumpuh.

Blaaaaaaaar!

Ledakan besar yang terjadi karena pertemuan tenaga sakti dua orang dewa. Masing-masing terlempar dengan mengeluarkan sedikit darah dari mulut mereka.

Cio San  hanya menguasai 3 jurus dari keseluruhan 18 Tapak Naga. Jurus-jurus berikutnya belum pernah dilihatnya, dan ia hanya mampu mengolahnya sesuai pemahamannya sendiri. Berhubung sekarang pikiran dan pemahamannya sedang dikuasai oleh si nenek iblis, maka jurus-jurusnya tak dapat dikeluarkan seutuhnya. Hanya berdasarkan nalurinya saja.

Kini nalurinya membuat Cio San melancarkan sebuah jurus lain. Jurus ular derik yang menakutkan! Telapak tangan kirinya bergetar mengeluarkan suara bagaikan ekor ular derik.

Mereka kembali beradu. Gerakan Cio San merupakan perpaduan gerak Thay Kek Koen (Tai Chi Chuan) dan gerakan ular sakti yang ditemuinya di dalam sebuah goa di bawah tanah. Gerakan Suma Sun adalah gerakan ilmu pedang keluarganya yang dilakukan dengan lengan baju di tangannya yang buntung.
Blaaaar! Blaaaaaar!

Tak ada orang yang sanggup melihat bagaimana mereka bergerak. Tak ada yang sanggup mengira-ngira sudah berapa jurus yang terlewati. Guntur dan kilat seperti lahir dari gerakan mereka. Setiap kali mereka beradu tenaga, kilatan cahaya dan gemuruh badai terdengar.

Rerumputan dan tumbuhan di sekitar mereka rontok bagaikan disapu musim gugur. Bebatuan dan debu berterbangan di udara. Bahkan di umur setua ini, di dalam pengalamannya bertempur ribuan kali, menggunakan ilmu tinggi yang dimilikinya, si nenek iblis ini belum pernah menyaksikan hal seperti ini.

“Dewa melawan dewa…..,” hanya itu yang muncul di dalam benaknya. Tanpa ilmu meraga sukma yang dimilikinya, bagaimana mungkin ia bisa mengalahkan salah seorang diantara mereka?

Tanpa tipu daya bagaimana seseorang dapat menguasai dunia?

Ilmu, niat baik, dan kerja keras saja tidak cukup. Seseorang harus lah mematikan hati nuraninya dan menjadi jahat agar ia bisa dapat menguasai dunia. Karena dunia sendiri adalah sebuah tempat yang kejam.

Apakah dunia membuat manusia menjadi kejam, ataukah manusia yang membuat dunia menjadi kejam?

Siapa pula yang mampu menjawabnya?

Dewa melawan dewa. Entah sudah berapa jurus. Entah sudah berapa banyak pukulan. Entah sudah berapa banyak tenaga terbuang.

Suma Sun tahu, ia tak dapat menyembuhkan Cio San jika ia tidak lebih dulu melumpuhkan nenek iblis itu. Tetapi ia pun tahu, ia tidak dapat melumpuhkan si nenek jika ia tidak melumpuhkan si nenek terlebih dahulu.

Perhatiannya terpecah dan ia menjadi bingung.

Jika menghadapi orang lain, ia bisa saja menyerang nenek itu dari jarak jauh, tetapi saat ini ia melawan Cio San. Tak ada satu kesempatan sekecil debu dan pasir yang bisa didapatkannya. Seluruh serangan Cio San teramat rapat. Tidak ada lubang sekecil apapun yang bisa ia manfaatkan. Jika bukan karena langkah-langkah jurus pedang keluarga Suma, tentu Suma Sun telah keok sedari tadi.

Ia hanya bisa menghindar. Menyerang pun adalah untuk membuat Cio San mundur sedikit. Jika Suma Sun “boleh” membunuh, mungkin ia tidak akan mengalami kesulitan seperti ini. Meskipun ia sendiri tidak yakin apakah ia dapat membunuh Cio San.

Baru kali ini ia meragukan kemampuannya sendiri. Memang betul kata Cukat Tong pada suatu hari, “Jika kau berhadapan dengannya, kau akan meragukan kemampuanmu sendiri. Beruntunglah siapa pun yang menjadi sahabatnya. Alangkah sialnya menjadi musuhnya. Untungnya ia bukan golongan orang yang suka mencari musuh. Sayangnya, orang yang suka bermusuhan dengannya jumlahnya tidak pernah bisa dihitung dengan mudah.”

Dalam hitungan Suma Sun, mereka telah melampaui 113 jurus. Jurus yang mereka kuasai dengan baik, ataupun yang tahu-tahu mengalir dikarenakan keadaan pertarungan. Jika ini terjadi saat latihan, tentu mereka berdua akan dengan bahagia menuliskan catatan-catatan tentang gerakan baru yang muncul karena pertarungan ini.

Suma Sun akhirnya mengambil keputusan. Hanya itu satu-satunya cara untuk menghentikan kegilaan ini.

Cio San melancarkan tapaknya yang mematikan. Gemuruh Guntur dan kilat muncul dari telapak itu. Entah penggabungan jurus dan tenaga sakti apa yang ia gunakan. Telapak ini malah terlihat lebih menyeramkan ketimbang cahaya yang lahir dari jurus 18 Tapak Naga.

Suma Sun mengadu tapak itu dengan telapak kirinya. Sejak tadi beradu tenaga dengan Cio San ia sudah memahami betapa hebatnya ilmu Cio San. Jika tenaga Cio San lebih kuat maka, telapaknya akan menyalurkan tenaga dalam besar untuk menyerang musuh. Tetapi jika telapaknya lebih lama, maka secara aneh, telapak itu akan menyedot tenaga lawan.

Sang dewa pedang tahu, jika ia beradu tenaga maka mereka berdua bisa saja terluka parah. Maka ia memilih untuk mengalah. Dengan segenap hati ia mengumpulkan seluruh tenaga saktinya dan menyalurkan seluruhnya ke telapak tangan kirinya.

Syuuuuuuuuuuuuuuuuuutttttttttttttt!

Blaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar!!!!

Ketika ledakan besar itu terjadi, Suma Sun masih sempat berputar dan menggunakan lengan bajunya untuk menyerang si nenek iblis dari jarak jauh. Inilah tenaga simpanan terakhir yang ia tahan untuk dipergunakan menyerang si nenek.

Tenaga dalam jarak jauh yang tajam bagaikan pedang. Dapat memutus apa saja yang dilewatinya. Tajam dan tipis, seperti pedang. Dingin, seperti kekasih yang berubah hatinya.

Claaappp!!!

Tenaga dalam itu menembus kerongkongan si nenek iblis.

Tak ada suara. Tak ada darah.

Yang ada hanya kematian.

Suma Sun telah mampu menciptakan pedang dengan tenaga dalamnya yang terakhir. Ia bukan saja telah melewati taraf “tanpa pedang”, dan “kembali menggunakan pedang”. Ia telah mampu mencapai taraf “Menciptakan pedang dari ketiadaan”.

Siapa manusia di muka bumi dan di kolong langit ini yang telah mencapai taraf seperti lelaki tampan yang tenang ini?

Begitu si nenek mati, buyar lah pula seluruh pengaruh aneh yang emyelimuti pikiran Cio San. Sejak dikuasai oleh si nenek, Cio San dapat mengetahui apa yang terjadi, namun ia tidak dapat mengendalikan pikiran dan tubuhnya.

Air matanya mengalir deras. Dengan sigap ia menangkap tubuh Suma Sun yang jatuh lunglai tanpa tenaga.

“Aaaaaaaaaaaaaaarghhhhhhh!” teriakan kesedihannya bagaikan bergema di seluruh penjuru bumi. 

“Kenapa kau berkorban seperti ini, sahabat?” tangisannya tak dapat ditahan lagi.

Suma Sun masih sedikit memiliki kesadaran. Ia masih mampu tersenyum.

“Sahabat.”

Itulah kata terakhir yang keluar dari mulutnya. Matanya tertutup. Senyumnya masih mengambang. Tidak ada air mata perpisahan. Karena bagi Suma Sun, hal ini bukan perpisahan. Keadaan ini adalah pemberian terbaik seorang manusia kepada sahabatnya.

“Tidak. Kau tidak boleh mati. Kau tidak kuijinkan mati!’’

Dengan segenap tenaga ia menyalurkan tenaga saktinya. Hal ini bukan dilakukan karena putus asa, melainkan ia tahu, Suma Sun sekarat bukan karena pukulannya melainkan karena merelakan seluruh tenaga saktinya terhisap oleh Cio San.

Kedua tangannya ditempelkan ke dada Suma Sun, dan ia mengalirkan tenaga dalamnya sendiri. Begitu lama ia mencoba tetapi Suma Sun tidak bergerak. Detak jantungnya pun sangat lemah.

“Kau adalah dewa kematian, mana mungkin kau mati?” Cio San tersenyum sedih. Ada begitu banyak senyum. Senyumnya kali ini bercampur kesedihan yang sangat dalam.

Suma Sun tetap tidak bergerak.

Hal ini amat sangat mengherankan bagi Cio San. “Bagaimana mungkin ini terjadi? Ia sudah tidak memiliki tenaga dalam sama sekali, tetapi tubuhnya menolak tenaga dalam pemberianku. Kenapa ini?”

Sambil terus berusaha menyalurkan tenaga dalamnya, Cio San menelusuri urat-urat darah dan titik-titik tenaga di tubuh Suma Sun. “Ah, titik-titik tenaganya telah terbuka semua sebelumnya. Mungkin karena pengobatan yang dulu pernah ku lakukan secara tidak sengaja membuka titik-titik ini. Tetapi kenapa aku tidak bisa menyalurkan tenaga dalamku? Padahal jika titik-titik ini telah terbuka, seharusnya dengan sangat mudah aku melakukannya.”

“Apakah…., apakah tubuhnya telah mampu menghasilkan sendiri tenaga dalam tanpa perlu dilatih? Bagaimana mungkin?”

Dengan penuh rasa ingin tahu, Cio San kembali memeriksa tubuh Suma Sun dengan cara menyalurkan saluran tenaga dalamnya. Dengan cara ini ia bisa lebih “melihat” seluruh keadaan urat syaraf Suma Sun. Bagian mana yang tertutup, bagian mana yang terbuka, dan lain-lain.

Ketika ia belajar ilmu pengobatan dari buku yang diberikan oleh tetua Kam Ki Hiang, Cio San mengetahui bahwa ilmu silat dan ilmu pengobatan di Tionggoan (China daratan) berasal dari negeri India. Dari buka ini pula Cio Sna membaca tentang 7 titik Chakra manusia. Tetapi ada banyak Chakra tersembunyi yang tidak diketahui manusia.

Seluruh titik Chakra Suma Sun telah terbuka. Bahkan titik Chakra yang tersembunyi pun telah terbuka. Dalam kitab yang dibacanya, ada penjelasan tentang Chakra ‘bertahan’ yang mengalir ke luar ‘menyerang’ yang justru bergerak ke dalam. Banyak ahli silat tingkat tertinggi yang berhasil menyelaraskan kedua Chakra ini. Namun yang berhasil menyatukannya belum pernah terdengar sejarah.

Mungkin ada, tapi tidak tercatat dalam sejarah.

Kedua Chakra ini amat sulit dipersatukan, dan hanya bisa digabungkan jika seluruh tenaga dihilangkan.

Dalam artian, kedua Chakra rahasia ini baru benar-benar bisa bersatu saat manusia mati, atau mencapai ‘moksha’ menuju Nirwana. Manusia hidup yang bisa melakukannya haruslah kehilangan seluruh tenaganya, kehilangan keinginannya, kehilangan nafsunya, bahkan kehilangan kehidupannya.

“Apakah ini yang dimaksud dengan Moksha itu? Tentu tidak. Detak jantungnya masih ada. Ia masih hidup. Ia mungkin hanya mencapai taraf ‘hampir’ Moksha?”
“Bukan main. Ia telah benar-benar hampir menjadi dewa dalam artian yang sebenarnya!”

Tenaga dalam yang disalurkan Cio San tertolak oleh tubuh Suma Sun yang sedang kosong oleh tenaga sakti. Hal ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Bagaikan mengisi air ke mangkuk kosong, tetapi air itu tidak dapat masuk dan airnya tetap kosong.

“Apakah mungkin ada tenaga sakti lain yang tidak terasa dan tidak terlihat? Wah, sungguh tidak masuk akal.”

Di dalam kepasrahannya, di dalam ketulusan hatinya, Suma Sun mengorbankan seluruh tenaganya untuk disedot oleh Cio San. Ia telah siap mengorbankan jiwa raganya bagi salah satu sahabat terbaiknya itu. Tetapi keadaan ini tidak membunuhnya, malahan membuat Suma Sun berada pada sebuah keadaan tertentu yang belum pernah diketahui dan dialami orang sebelumnya.

Kini dari seluruh titik Chakranya baik yang tersembunyi maupun tidak, muncul getaran-getaran kecil yang bisa dirasakan Cio San. “Tubuhnya menciptakan tenaga tanpa perlu dilatih? Bagaimana mungkin?”

Tetapi kemudian ia teringat jamur sakti yang dimakannya di dalam gua. Jamur itu sebenarnya mungkin tidak memberinya tenaga sakti. Melainkan berkhasiat untuk membuka titik-titik Chakra tersembunyi yang ada di dalam tubuhnya tanpa diketahuinya!

“Terima kasih, Thian (Tuhan)! Kau memberikan keajaiban kepada sahabatku!” dalam tangisnya Cio San berseru dengan bahagia.

Ia dapat merasakan getaran-getaran kecil dari titik Chakra itu telah membuat detak jantung Suma Sun mulai bergetar dengan semestinya. Aliran darah yang tadinya berhenti kini mulai mengalir lagi dengan lancar. Wajahnya yang pucat bagaikan mayat kini mulai merona kembali. Tubuhnya yang dingin membeku kini sudah mulai menghangat lagi.

Cio San kini terduduk dengan lega. Seluruh bebannya terasa terangkat seluruhnya.

“Kau masih di sini?” tiba-tiba suara yang lemah terdengar dari bibir Suma Sun.
“Kau masih hidup? Kenapa masih belum mampus juga?’’ canda Cio San. Sungguh bahagia hatinya melihat sahabatnya kembali sadar.

“Aku masih belum bisa bergerak. Sepertinya aku tak akan bisa bergerak selamanya,” kata Suma Sun.

“Kau mungkin akan lumpuh dalam beberapa bulan. Tetapi jika kau sembuh, kau akan menjadi manusia yang paling menakutkan di bumi dan langit,” kata Cio San. Matanya masih mengalirkan air mata mengingat betapa dalamnya pengorbanan Suma Sun.

“Memangnya aku belum pernah menjadi manusia yang menakutkan?”

“Haha. Betul juga. Dalam keadaan apapun kau adalah manusia yang menakutkan,” jawab Cio San.

“Nah, jika sudah tahu, mengapa tidak segara kau bawa pergi pantat busukmu dan segera mengejar penjahat busuk yang melarikan diri?”

“Pantat busuk dan penjahat busuk jika bertemu, akan membuat dunia bertambah busuk,” tawa Cio San.

“Pergilah,” kata Suma Sun tersenyum sambil menahan sakit.

“Jika aku pergi, siapa yang akan menjagamu di sini?”

“Aku!’’ tahu-tahu Cukat Tong muncul di situ. Ia datang bersama seorang gadis cantik. Cio San mengenalnya. Lim Siau Ting. Murid wanita dari Lama jahat yang menyakiti sahabatnya, sang pangeran terbuang.

“Kau?” segera ia menyadari Lim Siau Ting ini adalah Bwee Hua!

“Jadi selama ini kau adalah Lim Siau Ting? Jadi kejadian di masa lalu itu adalah kau?” tanya Cio San.

“Hahahaha,” Bwee Hua hanya tertawa. Tawanya sungguh indah. Padahal di sekeliling mereka terdapat banyak mayat yang mati menggenaskan. Begitu Bwee Hua tertawa, entah bagaimana pemandangan mayat itu justru terasa indah.

“Kau kan lelaki yang pintar, masa tidak bisa memikirkan?” tukas Bwee Hua.

Cio San bepikir sejenak. Lalu katanya, “Ah. Aku tau. Kau baru menjadi Lim Siau Ting malam ini. Setelah kami memintamu lewat surat.’’

Bwee Hua hanya tersenyum.

“Bagaimana nasib raja Miao?’’ tanya Cio San kepada Cukat Tong.

“Saat aku datang, seluruh rombongan mereka telah mampus seluruhnya. Istriku telah meracuni mereka dengan perbekalan yang ada,” jelas Cukat Tong. “Aku kaget sekali saat ia berdiri sendirian sambil tersenyum menungguku di sana.’’

Cio San hanya mengangguk dan tersenyum. Dalam hatinya ia tidak sanggup membayangkan betapa mengerikannya Bwee Hua berdiri dengan cantiknya di sana menanti suaminya datang sementara puluhan mayat bergelimpangan. Hanya Bwee Hua yang mampu melakukan segala kengerian ini dengan indah. Dan hanya Bwee Hua lah yang mampu melakukannya dengan sangat halus.

“Lalu Lim Siau Ting?” tanya Cio San.

“Tentu saja dia sudah mampus pula sebelumnya. Eh, kau perduli sekali padanya. Memangnya kenapa?’’ tanya Bwee Hua.

Cio San hanya melengos. Kelak jika bertemu sahabatnya, bagaimana ia harus menjelaskan semua ini?

“Bisakah kalian mengantarkan Suma Sun pulang?”

“Eh, kau tidak ingin tahu siapa pelaku seluruhnya kejadian ini?” tanya Bwee Hua. Lalu ia segera menyambung, “Oh, tentu kau sudah tahu. Jika tidak kau pasti akan menyalahkan aku kenapa aku membunuh gerombolan itu tanpa menanyai mereka lebih dulu.”

“Ya, aku sudah tahu.” Kata Cio San sambil menghela nafas. “Kalian sudah tahu pula, kan?”

Cukat Tong mengangguk, “Tadi istriku menceritakan seluruhnya kepadaku.”

Suma Sun ingin bertanya lebih jauh, tetapi memikirkan keadaan tubuhnya sendiri, ia memutuskan untuk memberitahukan sesuatu yang lebih penting.

“Ada 3 bau tubuh di dalam tenda itu selain bau kalian berdua. Bau yang 2, sangat pekat. Bau yang 1 tidak begitu pekat.’’

“Bau 1 yang tidak begitu pekat adalah bau kaisar. Dua Bau yang pekat adalah 2 orang pelaku kejahatan ini.’’ Jelas Cio San.

“Pelakunya ada dua?’’ tanya kedua suami istri berbarengan.

“Yang 2 bau pekat kemudian berpisah. Yang satu pergi menggunakan kuda ke arah utara. Aku dapat mencium bau kudanya tadi di sana. Yang satu lagi pergi membawa kaisar ke arah timur sana,” tunjuk Suma Sun.

Laut! Ia menggunakan kapal untuk melarikan diri membawa kaisar!

Cukat Tong duduk di sebelah Suma Sun dan memperhatikan keadaannya. “Suma-tayhiap lumpuh lagi? Mengapa kau tidak segera menyalurkan tenaga kepadanya?” tanyanya kepada Cukat Tong.

Cio San menjelaskan seluruh kejadian dan memberi pengertian kepada Cukat Tong. Sang Raja Maling itu mendengarkan sepenuh hati. Tak terasa air matanya menetes pula.

Tahu-tahu Bwee Hua menyahut, “Seluruh tenaga saktinya hilang, dan seluruh titik Chakranya terbuka?”

Cio San mengangguk.

“Jangan-jangan ia sudah menguasai ilmu itu tanpa ia sadari?” tanya Bwee Hua.

“Ilmu Baju Pengantin. Khia Ih.’’


Cio San dan Cukat Tong saling menoleh. Sepanjang hayat mereka belum pernah mendengar nama ilmu selucu itu.



Friday, February 24, 2017

EPISODE 2 BAB 58 MERAGA SUKMA



Begitu mendarat di atas atap, Cukat Tong menunduk sebentar untuk memperhatikan situasi. Aman. Ada seorang prajurit di dalam tenda yang sedang berjongkok memeriksa sesuatu di pojokan. Sang Raja Maling sejenak memikirkan cara untuk melumpuhkan prajurit itu. Ia lalu bergerak!

Dengan sekali hentakan ia sudah tiba di bawah, dan masuk ke dalam tenda dengan cepat. Tangannya bergerak melempar Am Gi (senjata rahasia). Ketepatan, kecepatan, dan keganasan lemparan ini tidak dapat dibandingkan dengan siapa pun di dunia ini!

Tentu saja siapapun di dunia ini bakalan mampus menerima serangan itu.

Anehnya, sang prajurit tanpa menoleh, dengan santainya menangkap senjata rahasia itu. Bahkan ia tidak merasa terganggu, dan tetap meneruskan pekerjaannya berjongkok memeriksa sesuatu di pojok tenda.

Cukat Tong terhenyak. Namun sekejap ia sadar dan berkata, ”Oh, kau!”

Jika bukan ‘kau’ ini, siapa lagi yang sanggup menangkap lemparannya? Tetapi si “kau” ini tidak menjawab, karena ia masih memperhatikan sesuatu di tanah. Cukat Tong sebenarnya penasaran dengan apa yang dilihat oleh si “kau” ini, tetapi ia memilih diam dan menunggu. Ia takut mengganggu.

Setelah puas, si “kau” ini lantas berdiri, berbalik, dan tersenyum. Katanya, ”Hampir saja aku mampus oleh senjata rahasiamu.’’

“Orang yang mampu membunuhmu belumlah dilahirkan. Kau tidak perlu sok khawatir. Apa yang kau lihat di pojok sana?’’

Si “kau’’ ini tentu saja adalah Cio San. Ia memakai pakaian dan topi prajurit dan wajah yang dicoreng arang. Pantas saja Cukat Tong tidak mengenalnya.

“Dari langit sana aku mengetahui letak keberadaanmu dan Suma Sun. Kenapa tahu-tahu kau sudah berada di sini?” tanya Cukat Tong.

“Wah, mungkin pikiranmu bergeser pada hal lain sehingga untuk sekejap aku hilang dari perhatianmu,” tukas Cukat Tong.

Mereka berbicara dengan santai padahal tak jauh dari sana, keributan besar terus terjadi. Ledakan-ledakan yang dilakukan Cio San ternyata mampu membuat pasukan musuh kocar-kacir.

“Betul juga. Untuk beberapa saat, aku memperhatikan Suma Sun.”

“Oh, apa yang dilakukannya?”

“Masa aku perlu menjawab?”

Keduanya sebisa mungkin menahan tawa. Lalu Cio San berkata, “Bisakah kau memanggil Suma Sun kemari?”

Cukat Tong tidak menjawab. Tubuhnya telah menghilang dari situ dalam sekejap mata. Cio San hanya bisa menggeleng sambil tersenyum, “Orang ini jika ingin menjadi nomer satu di dunia, tentu bisa dilakukannya dengan mudah.”

Entah kenapa senyum Cio San terasa mengandung kesedihan.

Tak berapa lama mereka berdua telah datang. Betapa menyenangkannya berkumpul kembali, padahal mereka baru berpisah beberapa saat.

Cio San menunjukkan sesuatu yang berada di tangannya. Seutas benang.

Suma Sun menunjukkan wajah bertanya. Kata Cio San, “Tolong kau cium bau benang ini.”

Seperti sapi dicocok hidung Suma Sun melakukan permintaan Cio San.
“Sudah hafal baunya?”

Suma Sun mengangguk.

“Benang ini adalah sebuah benang khusus yang dipintal dari bahan yang sangat kuat. Dibutuhkan tenaga dalam yang cukup besar untuk memutuskannya,” kata Cio San sambil menyerahkan benang itu kepada Cukat Tong.

“Oh jadi ini barang yang kau perhatikan tadi di pojok sana?” kata Cukat Tong sambil menerima benang itu. Ia memperhatikan dengan seksama. Lalu katanya, “Setahuku cara untuk membuat benang seperti ini telah lama hilang dari dunia persilatan. Dan benang ini dipakai untuk busur panah!”

Cio San tersenyum dan berkata, “Ya, aku tahu.”

Dari luar terdengar lagi suara gemuruh semakin membahana. Cukat Tong menoleh sekilas ke luar, lalu berkata sambil tersenyum, “Pasukan kekaisaran sudah menyerang kemari. Mereka rupanya sudah berhasil mengumpulkan kekuatan lagi!’’

“Bagus sekali! Jenderal Khu memang hebat,’’ sahut Cio San. Lalu katanya, “Benang ini milik si ‘dia’. Otak dari segala keramaian ini. Jika kau lihat sudutnya, tempat inilah yang paling cocok untuk mengatur pasukan. Dari tempat ini pulalah ia memanah kaisar.”

“Lalu ke mana dia sekarang?”

“Lari. Ia tahu pergerakannya telah gagal,” jawab Cio San.

“Pengecut!” maki Cukat Tong.

“Karena tergesa-gesa, ia meninggalkan seutas benang kecil ini. Mungkin ia baru saja mengganti benang di busurnya.”

“Kau pun keterlaluan. Dapat menemukan benang ini di dalam malam gelap di tengah semak belukar,” tukas Cukat Tong.

Kali ini Suma Sun yang menyahut, “Kebohongan perempuan saja dapat ditemukan dan dipecahkannya, apalagi cuma menemukan benang busuk segala.”

Mereka tertawa terbahak-bahak.

Tahu-tahu badan Suma Sun menegak, ia berkata,”Musuh sudah menyerbu kemari.”

“Mari,” kata Cio San.

“Mari!” mereka menjawab serentak.

Jika kau sudah berkumpul dengan sahabat-sahabatmu yang paling setia, memangnya hal apa lagi yang sanggup menahanmu? Jika masing-masing bersedia berkorban dan mempertaruhkan jiwa raga, memangnya hal apa lagi yang tidak sanggup mereka capai?

Dengan gagah ketiga orang ini keluar tenda dan menunggu di sana. Tak lama rombongan musuh pun tiba!

Raja suku Miao yang memimpin pemberontakan beserta pengawal-pengawalnya. Ada Pek Kwi Bo, si nenek iblis. Ada Lama beserta murid-muridnya yang dulu dikalahkan Cio San saat kejadian bersama pangeran yang terbuang. Dan beberapa pendekar yang cukup kereng penampilannya.

“Kalian sudah terkepung! Menyerahlah!” bentak sang Raja.

Cio San tersenyum dengan santai dan berkata, “Justu pasukan paduka sudah tercerai berai. Sekongkol yang paduka andalkan untuk melawan kaisar pun kini sudah menghilang!”

Terbayang perasaan marah, takut, dan kecewa bercampur menjadi satu. Sang raja dengan berteriak berkata, “Tapi aku menawan kaisarmu!”

“Oh ya? Mana? Mengapa tidak kulihat ia berada di rombongan yang akan melarikan diri ini?”

“Tak usah banyak bacot! Ayo maju kau!” kali ini si nenek iblis yang berteriak. Semburan api beracun dengan ganas keluar bersama teriakannya. Para pendekar dari pihak musuh pun bergerak serempak menyerang ketiga orang di hadapan mereka. Sang raja bersama rombongan yang tersisa memanfaatkan hal ini untuk melarikan diri.

Cio San menerima serangan si nenek iblis dengan telapaknya. Terlihat tangannya bergetar dan mengeluarkan suara menderik. Sebuah jurus telapak kebanggaannya yang ia ciptakan sendiri.

Semburan api si nenek iblis buyar seketika saat bertemu dengan getaran telapak tangan ini. Begitu dahsyat getaran tangan itu sehingga menciptakan angin yang cukup kuat untuk membuyarkan serangan api itu.

Dengan tongkat hitamnya yang mengeluarkan bau belerang, nenek itu melancarkan sebuah jurus tongkat yang sangat cepat. Tongkat untuk menghujam sambil mengeluarkan cahaya api!

Dengan tenang Cio San menerima serangan itu dengan telapak ular deriknya. Traaaang! Traaaaaang! Tangkisannya terdengar bagaikan dua besi baja yang beradu. Melengking dan menusuk-nusuk telinga yang mendengarkan.

Melihat serangan jurus keduanya gagal, si nenek mundur sebentar. Dengan marah ia memutar-mutar tongkatnya di udara. Begitu cepat tongkat itu diputar-putarkannya sehingga menimbulkan cahaya api saat tongkat itu “bergesekkan” dengan udara!

Cahaya api yang indah namun mengerikan. Bagaikan kilat di atas kepala si nenek iblis.

Wuuuuung!

Wuuuuuuung!

Wuuuuuuuuuung!

Suara tongkat dan cahaya indah nan mengerikan itu terus datang mengalir.

Wuuuuung!

Wuuuuuuuuuung!

Perlahan-lahan suaranya mulai merasuk sukma dan raga. Cahayanya membuat mata Cio San sedikit demi sedikit mulai terpana dan kabur.

Seoah-olah jiwanya mulai tersedot ke dalam riuh suara dan cahaya yang dihasilkan oleh tongkat itu. Pelan. Perlahan. Sedikit demi sedikit.

Nenek ini rupanya menguasai sejenis ilmu untuk menguasai ruh dan jiwa manusia. Alangkah mengerikannya. Perlahan-lahan Cio San kehilangan kesadarannya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Dunia beranjak menghilang.

Suma Sun dan Cukat Tong pun sedang sedang menghalau musuh. Sehingga tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Bagi mereka, saat ini Cio San dan si nenek iblis sedang berhadap-hadapan seperti biasa saling memperhitungkan keadaan musuh.

Suma Sun mengeluarkan pedang karatan yang ia simpan dibalik bajunya. Untuk melawan musuh seperti ini, ia tidak perlu mengeluarkan ilmunya yang paling tinggi. Ia justru ingin mencoba menggunakan pedang karatan pemberian Oey Kun Peng.

Bagaikan seorang anak kecil yang mendapatkan mainan baru.

Pedang ini ringan, namun ketika dipakai untuk menyerang terasa bobotnya bertambah. Pantasan saja satu jurus tusukan dari Oey Kun Peng terasa sangat dahsyat. Ternyata pedang ini sendiri memberi daya kecepatan dan serang yang tak pernah diduganya.

Betapa senangnya hatinya.

Kesempatan ini digunakannya untuk menggunakan ilmu pedangnya yang untuk sementara waktu telah ia tinggalkan. Ilmu pedang keluarga Suma!

Jurus pedang tangan kidal yang belum ada lawannya sampai saat ini. Mengandalkan langkah-langkah sederhana untuk memperpendek jarak lawan dan menciptakan sudut serangan, sekaligus menutup kesempatan lawan untuk balas menyerang.

Puluhan musuh yang menyerangnya, namun ia bergerak dengan sederhana dan mengalir dengan tenang.

Seeeettt

Seeeeeetttt

Langkah-langkahnya halus. Setiap ia bergerak, ada satu atau dua yang tumbang. Ia bagaikan melangkah dari “sini” ke “sana” dengan lugas. Meliuk. Memutar tubuh. Berhenti. Bergerak lagi. Melangkah.

Begitu anggun. Begitu mematikan.

Tanpa suara. Tanpa darah.

Yang ada hanya kematian.

Inilah sosok Suma Sun yang paling membuatnya terkenal. Ketika ia memegang pedang!

Bagaimana ilmu seseorang yang telah mencapai tahap “tanpa pedang”, ketika ia kembali memegang pedang?

Apakah ia telah melebihi tahap tertinggi dalam ilmu pedang?

“Tanpa pedang” menjadi “Kembali memegang pedang”.

Langkahnya terhenti. Tubuh manusia bergelimpangan. Ia berdiri dengan tenang. Angin malam membuat pakaiannya yang putih bersih melambai-lambai dengan indahnya.

Begitu mengherankan orang yang sanggup membunuh manusia sedemikian banyaknya, tidak memiliki sedikit pun bercak darah pada tubuh atau bajunya.

Tangannya tetap menjulur ke depan. Pedang tetap ia pegang. Rambutnya melambai dengan indah. Di saat-saat seperti inilah manusia menyadari: Jika Suma Sun bertarung dengan dewa pencabut nyawa, maka kemungkinan besar Suma Sun lah pemenangnya.

Cukat Tong pun telah selesai melumpuhkan lawan-lawannya. Dengan segera ia berlari untuk mengejar rombongan raja yang telah melarikan diri sana. Ia tidak menyadari bahwa kini sahabat terbaiknya sepenuhnya telah dikuasai oleh si nenek iblis. Jika ia menyadarinya, tentu ia tak akan pergi beranjak dari situ.

Dunia terasa gelap bagi Cio San. Ia bahkan tak lagi mengenal namanya sendiri.
“Aku lah tuanmu!” terdengar bisikan yang tak mampu dijawabnya.

“Tunduk padaku!” ingin ia melawan bisikan itu tetapi ia tak mampu.

“Bunuh Suma Sun!” perintah itu datang seolah menguasai jiwa raganya. Ia mendengarnya, ia ingin melawannya, tetapi ia tidak mampu. Malahan dari bibirnya ia mengucapkan pula kata-kata itu, “Bunuh Suma Sun!”

Cio San melompat menghambur ke depan. “Naga Menggerung Menyesal” teriakan itu keluar dari mulutnya bersamaan dengan cahaya emas berbentuk naga yang keluar dari telapak tangannya. Meluncur menghujam Suma Sun yang berdiri tak jauh dari sana!


Sunday, February 19, 2017

EPISODE 2 BAB 57: RACUN



“Saatnya kita menerobos ke dalam!” kata Cukat Tong. Ia lalu mengeluarkan sempritannya dan memanggil burung-burungnya. “Aku rasa serangan udara kini sudah aman. Ku pasrahkan serangan darat kepadamu!” sambil berkata begitu tubuhnya sudah membumbung tinggi ke langit hitam di atas sana.

“Sang Raja Maling kini menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya,” batin Suma Sun sambil geleng-geleng kepala. “Cio San telah berhasil mengeluarkan racun dari dalam tubuh Cukat Tong. Nampaknya sang Raja Maling telah berhasil pula mengeluarkan racun dari dalam hatinya sendiri,” Suma Sun tersenyum sendirian.

Memang jika kau telah berhasil mengeluarkan racun dari dalam hatimu, kau akan merasakan kemerdekaan yang tak pernah kau rasakan sebelumnya. Seolah-olah seluruh beban yang menghimpit dadamu terangkat seluruhnya. Kau menjadi dirimu seutuhnya. Bukankah itu merupakan kebahagiaan terbaik di dalam hidup manusia? Berhasil menjadi dirinya sendiri. Menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya.

Manusia memiliki “racun”-nya sendiri-sendiri. Uang dapat menjadi racun. Kekuasaan dapat menjadi racun. Jabatan dapat menjadi racun. Keinginan dapat menjadi racun. Persahabatan pun dapat menjadi racun.

Cinta pun dapat menjadi racun.

Racun paling manis yang paling berbahaya dan mampu menghancurkan hidup seseorang dari dalam. Dari dasar jiwanya.

Jika kau pernah jatuh cinta, kau tentu mengetahui betapa dalamnya racun itu menjalar di setiap ujung tubuhmu. Betapa racun itu menguasai seluruh detak jantungmu, dan tarikan nafasmu. Menguasai pikiran dan benakmu. Racun yang membuatmu kehilangan dirimu sendiri. Racun yang membuatmu kehilangan segalanya.

Tapi racun itu begitu manis sehingga kau rela menderita setiap saat. Sehingga jika kau mati karena racun itu pun, kau merasa mati dalam kebahagiaan.

Alangkah menakutkannya racun itu.

Dan alangkah bahagianya mereka yang telah mampu membersihkan racun itu di dalam hidupnya.

Cukat Tong terbang tinggi. Walaupun di hatinya terdapat sedikit kepedihan saat mendengar “dia” disebut, ia telah mampu menenangkan dirinya.

Semua manusia berhak untuk hidup tenang. Meskipun kenangan dan harapan masih tersisa, sungguh, setiap manusia berhak untuk hidup dengan tenang.

Angin dan rintik hujan menyapa tubuhnya yang melayang tinggi bergelantungan pada burung-burung peliharaannya. Jauh di bawah sana, suara meriam terdengar menggetarkan bumi. Suara manusia yang bertempur dan menghilangkan nyawa terdengar sangat mengerikan.

Tetapi Cukat Tong dapat menikmati ketenangan di dalam keriuhan ini. Segala pikiran dan kenangan melintas di dalam benaknya. Ada sedikit sakit yang tahu-tahu muncul. Tetapi ia kini merasa damai.

Ya. Damai.

Itulah perasaan yang muncul saat kau akhirnya berhasil mengeluarkan “racun” dari dalam tubuhmu.

Meskipun harapannya tidak tercapai, meskipun cinta tidak mampu diraihnya, meskipun orang yang sangat ia cintai mengkhianatinya, ia tetap mampu merasa damai.

Karena ia telah menyadari, cara terbaik untuk merasakan cinta adalah dengan menghargai dirinya sendiri.

Sungguh, kau hanya akan memahami pengertian ini jika kau sudah benar-benar mengalaminya. Sudah pernah dihancurkan oleh cinta. Sudah pernah kehilangan segala-galanya karena cinta.

Pada akhirnya, kau akan merasakan damai di dalam setiap langkah hidupmu. Tetapi untuk sampai pada kedamaian itu, kau harus merasakan luluh lantaknya hidupmu terlebih dahulu.

Kau hanya bisa mengerti tentang terang, setelah kau mengerti tentang kegelapan.

Ini adalah hukum alam.

Hujan semakin deras. Pertempuran di bawah sana semakin dahsyat. Cukat Tong mempersiapkan persenjataannya. Benang-benang yang mengendalikan burung kini ia pindahkan ke kakinya. Tubuhnya kini terbalik, kepala di bawah, kaki di atas. Dengan tenang ia mengeluarkan benda-benda dari dalam kantong besar yang selalu berada di pinggangnya. Tak ada satu pun benda yang terjatuh saat ia sedang berada dalam posisi terbalik seperti itu. Gerak-geriknya sangat tenang. Ia mencampurkan serbuk dan beberapa cairan. Walaupun angin bertiup kencang, dan hujan sudah mengguyur, pekerjaannya sama sekali tidak terganggu. Dibutuhkan ketenangan dan pengalaman puluhan ribu kali untuk dapat melakukan hal ini.

Ia mencampurkan ribuan paku-paku kecil di dalam racikannya dan membentuknya menjadi bola-bola kecil seukuran kelereng besar. Rupanya Cukat Tong sedang membuat peledak. Kemampuan hebat yang dimilikinya ini telah ia pelajari semenjak ia masih kecil. Tak heran ia amat mahir melakukannya. Dengan sangat tenang, sambil terbang, dan tubuh terbalik. Padahal pekerjaan ini sangat berbahaya karena jika keliru sedikit saja nyawanya pasti melayang.

Tak terhitung banyaknya bola-bola peledak yang dibikinnya dalam waktu sekejap saja. Begitu semuanya sudah selesai, ia lalu memasukkannya ke dalam kantong. Kemudian ia menarik kakinya untuk menggiring burung-burungnya turun. Begitu sampai pada jarak yang diinginkannya, ia diam sejenak memperhatikan suasana.

Cukat Tong lalu bersemedhi sebentar agar ia mampu mempelajari keadaan yang terjadi di bawah sana. Gemuruh suara seolah menghilang. Yang ada hanya kesunyian di dalam benaknya. Seolah-olah dunia berhenti berputar.
Lalu matanya terbuka!

Wajahnya yang tadi begitu tenang kini seolah terbakar api semangat yang membara. Jiwa petarungnya pun muncul dengan begitu kuat.

Apakah ini kekuatan Cukat Tong yang sebenarnya?

Ia melemparkan bola-bola itu satu demi satu!

Blaaaar! Blaaaaaar! Blaaaaaaar!

Ledakan besar terjadi di mana-mana. Orang mati terpanggang dengan tubuh hancur. Paku-paku tajam menghujam dengan kecepatan yang mampu menembus tembok baja.

Dengan bola-bola kecil ini, orang tidak perlu lagi belajar ilmu silat dan ilmu perang. Daya ledaknya jauh lebih hebat dari peledak manapun. Dilemparkan dengan kecepatan dan ketepatan yang amat sangat mengagumkan.

Setiap bola-bola itu menghujam, ada puluhan nyawa melayang.

Suma Sun “memandang” kejadian ini dengan bergidik. Baginya membunuh orang sudah sangat biasa, tetapi membunuh orang dengan cara seperti ini membuatnya merinding. Ia tahu Cukat Tong yang melakukannya. Ia hanya tidak menyangka betapa Raja Maling yang berpilaku tenang dan suka bercanda dapat membunuh orang sekejam ini.

Apakah ini jiwa dan kepribadian Cukat Tong sebenarnya?

Suma Sun memperlambat langkahnya. Rasa khawatirnya akan perbuatan Cukat Tong membuat ia merasa harus lebih berjaga-jaga. Tak lama lagi di masa depan, orang tak lagi perlu mempelajari ilmu silat. Mereka hanya perlu menciptakan senjata yang dahsyat.

Bagi Suma Sun, masa depan manusia sungguh terasa kelam.

Apakah kesedihan dapat merubah hati manusia menjadi sekelam ini?

Mungkin saja. Suma Sun pernah mengalaminya oleh karena itu ia dapat mengerti mengapa Cukat Tong menjadi seperti sekarang ini.

“Racun” ternyata belum sepenuhnya hilang dari dalam diri si Raja Maling.

Tak terasa air mata Suma Sun menetes. Sudah lama ia tidak pernah menangis. Ketika anaknya di dalam kandungan istrinya mati pun, ia tidak menangis. Tetapi kini ia menangis memikirkan perasaan dan keadaan sahabatnya itu.

Terkadang penderitaan orang lain terasa jauh lebih menyiksa ketimbang penderitaan diri sendiri.

Di dalam hati Suma Sun bertekad untuk menemani sahabatnya di dalam segala penderitaannya. Langkahnya kini mulai mantap. Ia sudah merasakan musuh di depannya.

“Aku tahu kau pasti datang!” kata seseorang di hadapan Suma Sun. Meskipun nadanya bersifat menantang, suaranya tenang, pembawaannya pun tenang.

“Bagus. Mari!” jawab Suma Sun.

Ia tidak tahu siapa di hadapannya. Ada urusan apa dengan orang ini. Tetapi orang ini membawa pedang dan menantangnya. Suma Sun juga tidak bertanya siapa namanya.

Baginya, pedang dan tantangan adalah jawaban. Oleh sebab itu ia tidak perlu bertanya.

“Kau tidak membawa pedang?” tanya orang itu. Tiba-tiba ia mengerti mengapa Suma Sun tidak membawa pedang. Suma Sun telah sampai pada tingkatan tertinggi ilmu pedang: Tanpa pedang!

Tiba-tiba rasa takut menjalar di seluruh tubuhnya. Hanya sekejap saja rasa takut itu menjalar, digantikan oleh kebahagiaan yang luar biasa.

“Akhirnya aku bisa mati oleh jurus pedang tertinggi! Hahahahaha, mari!”

Ia mencabut pedangnya dengan gembira seolah-seolah sedang disuruh berpesta. Kegirangan tertinggi yang mungkin bisa dirasakan manusia. Semangat ini begitu menggelora sehingga membuat gerakannya jauh lebih cepat dari biasanya. Ia sendiri heran mengapa bisa begitu.

Sreeeeeeet!

Satu tusukan tipis menyarang ulu hati Suma Sun. “Bagus!” puji Suma Sun. Si penyerang semakin riang hatinya. Dipuji seperti itu oleh Dewa Pedang, bukanlah sebuah hal yang sederhana. Meskipun hanya satu kata.

Suma Sun menghindari serangan itu dengan sebuah gerakan cepat. Serangan ringan itu bukanlah sebuah gerakan main-main. Kurang perhitungan sedikit saja, nyawanya pasti melayang.

“Anda adalah Pendekar Pedang Karat, Oey Kun Peng-tayhiap?” bahasa Suma Sun menghalus.

Si pendekar tua itu mengangguk. Anggukannya ini dipenuhi perasaan campur aduk antara senang dan malu. 

“Gerakan satu tusukan itu meskipun boanpwee (saya yang lebih muda) belum pernah menyaksikannya, tentu pernah mendengarkan kehebatannya. Di muka bumi ini tentu hanya jurus ‘Menusuk Rembulan’ yang bisa bergerak dengan sehebat itu,’’ kata Suma Sun.

 “Di muka bumi ini, cuma anda dan sahabat anda yang berhasil menghindarinya!” jika orang lain mengatakan bahwa jurus mereka berhasil dihindari orang, tentu akan malu. Tetapi orang tua ini mengatakannya dengan penuh kebanggaan.

Suma Sun tertawa. Katanya, “Jurus pedang apapun tentu mampu dihindari oleh Cio-tayhiap. Tayhiap tidak perlu berkecil hati.’’

“Bahkan pedang anda?” tanya Oey Kun Peng.

“Bahkan pedang saya.”

“Orang seperti Cio-tayhiap memang cuma ada satu-satunya di dunia ini. Aku beruntung pernah mengantarkannya dengan perahu,” kata Oey Kun Peng.

“Mengapa tayhiap bergabung dengan pemberontak?” tanya Suma Sun.

“Hutang budi,” jawab orang tua itu pendek.

Suma Sun tidak perlu bertanya kepada siapa orang itu berhutang. Ia tahu seluruh kejadiannya adalah sebuah aib bagi pendekar tua itu. Suma Sun sangat bisa mengerti keadaannya.

“Hutang budi yang hanya bisa dibalas dengan kematian….,’’ gumam Suma Sun.
“Benar sekali. Ku harap kau mau memberikan kehormatan ini untukku,” pinta si kakek tua.

“Sungguh boanpwee yang merasa terhormat sekali,” Suma Sun menjura dengan sangat dalam.

Mereka berbicara tentang bunuh-membunuh dengan amat dalam dan sopan santun. Seolah-olah kehormatan jiwa mereka berada pada percakapan ini.

“Jika aku mati, mau kah Suma-tayhiap menyimpan pedang ini?” tanya orang tua itu. Pedang itu pernah terpukul jatuh oleh Cio San ke dalam sungai. Ia menghabiskan berhari-hari menyelam ke dasar sungai hanya untuk menemukannya kembali. Pedang memang adalah harga diri bagi pendekar pedang. “Hanya pedang karatan yang tidak patut dipegang oleh ujang jari Suma-tayhiap yang terhormat. Tetapi sangat berarti untukku.”

“Tentu saja, Oey-tayhiap. Mari!”

“Mari!”

Tidak ada basa-basi. Tidak ada kata-kata perpisahan. Masing-masing mengerti bahwa mereka saling menghormati satu sama lain dengan cara saling membunuh. Sebuah pemahaman yang hanya bisa dimengerti oleh para pendekar pedang.

Masing-masing hanya mengeluarkan satu jurus. Satu jurus terbaik yang mereka miliki dan mereka simpan rapat-rapat. Hanya dikeluarkan di saat yang paling pantas dan paling terhormat.

Saat-saat seperti ini.

Oey Kun Pang tergeletak. Sebuah kelopak daun menembus dahinya. Tiada darah.

Namun kali ini terdengar suara. Suara orang yang baru saja diserang dengan ilmu pedang tertinggi di muka bumi. Suma Sun memang memberinya kehormatan itu. Kehormatan untuk bersuara di saat telah diserang oleh ilmunya. Karena semua lawannya pasti mati tanpa pernah bersuara. Hanya orang inilah satu-satunya yang memperoleh kehormatan itu.

“Inilah..ilmu…pedang…tanpa…pedang. Apa…namanya?”

“Semua di bawah langit tanpa pedang, gerakan terakhir”

“Bagus….aku..puas…Terimakasih!”

Ia mati sambil tersenyum. Segala aib dan hutang budi telah ia bayarkan kepada pemiliknya. Sekali lagi Suma Sun menetaskan air mata. Orang ini pantas mendapat penghormatannya. Ia berlutut dan bersujud di depan orang itu 3 kali.
Dengan satu pukulan tangannya, ia membuat lubang besar di tanah dan menguburkan Oey Kun Peng. Ia lalu membuat sebuah batu nisan dari batu besar yang berada di sekitar situ. Dengan pedang karat itu Suma Sun menuliskan kalimat :

“Hutang Sudah Dibayar Nyawa. Mati Dengan Membawa Kehormatan. Oey Kun Peng.’’

Ia bersujud 3 kali lagi, lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Dari langit kejauhan, Cukat Tong memperhatikan peristiwa ini. Hasil semedhinya telah membuka mata batinnya dengan mengetahui posisi kedua sahabatnya yang berada di sana. Ia masih melayang untuk mencari seorang lagi. Istrinya sendiri. Apakah Bwee Hua tidak datang untuk menolong mereka? Entahlah. Cukat Tong tidak berani menjawab.

Dari atas sini ia telah menyaksikan awal kehancuran pihak musuh. Sesuatu yang sangat sukar dilakukan sebelumnya. Jika sebelumnya musuh tidak lengah karena berhasil menculik kaisar, jika sebelumnya mereka tidak tertipu dengan kabar palsu yang dituliskan Cukat Tong pada burung pembawa pesan, jika Cio San tidak menyusup diam-diam dan menghancurkan pertahanan udara lawan dan menghancurkan gudang persenjataan musuh, tentu tidak mudah baginya untuk menyerang dari udara seperti ini.

Satu saja kekeliruan di dalam taktik perang, akan memberi kehancuran dan kekalahan yang maha dahsyat.

Musuh mengira dengan menawan kaisar, mereka bisa menggunakannya untuk menekan pihak kekaisaran untuk mundur dan turun dari tahta. Mereka mengira pasukan akan kocar-kacir dan mundur sejauh-jauhnya. Tetapi mereka melupakan 3 orang yang paling penting: Cio San, Cukat Tong, dan Suma Sun.

Mereka tidak memikirkan bahwa Cio San memiliki kemampuan untuk bertindak mengikuti arah angin. Segala perencanaan yang matang pasti akan buyar jika Cio San mampu membaca titik kecil kelemahannya.

Sebuah pasukan yang besar akan hancur jika Suma Sun sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya sebagai Dewa Pedang. Apalagi setelah sembuh dari luka dalamnya, kemampuannya justru meningkat berlipat-lipat.

Mereka pun lupa bahwa Cukat Tong dapat menembus benteng seketat apapun. Dan ia memiliki begitu banyak peralatan dan tipu daya yang sangat berguna untuk melumpuhkan lawan-lawannya.

Musuh mengira dengan melukai mereka satu persatu, ketiga orang ini tidak dapat bangkit dan membalaskannya. Malahan justru ketika mereka bangkit, mereka semakin kuat dan semakin bersemangat untuk melawan!

Ada sementara orang yang selalu bangkit saat kau pukul jatuh. Semakin sering kau menjatuhkannya, semakin kuat pula dirinya dari hari kehari. Pada akhirnya ia akan jauh lebih kuat daripada dirimu!

Cio San boleh terluka jantungnya, tetapi ia sembuh dengan pikiran dan jiwa yang jauh lebih kuat. Suma Sun telah terkena pukulan berat bagi jiwa dan tubuhnya saat anaknya meninggal di dalam kandungan, dan ia menjadi lumpuh. Tetapi ia telah sembuh dan justru jauh lebih berbahaya bagi siapapun. Cukat Tong telah menderita diracun oleh istrinya sendiri, dan mengalami penderitaan cinta yang amat berat. Tetapi ia bertahan dan kuat menjalaninya.

Orang-orang ini pantas disebut para penggetar langit!

Cukat Tong melayang turun, tugasnya menyerang dari angkasa sudah selesai. Dengan ringan ia melayang dan mendarat di atap sebuah tenda yang terpisah sedikit jauh dari gelanggang pertarungan.

Tempat apa ini? Kenapa begitu mencurigakan?