Wednesday, August 12, 2015

EPISODE 2 BAB 51 SANG NAGA YANG BERTAHTA DI BUMI


Sepasang pendekar ini lalu berjalan menyusur jalan menanjak yang berada di hadapan mereka. Syafina terpaksa harus memapah Cio San karena ternyata luka-lukanya cukup parah. “Tadi di hadapan Kim Sim Koksu kau bisa berjalan tanpa ku bantu, mengapa sekarang seperti ini?” tanya Syafina bingung.

“Di hadapan orang sesakti beliau tentu saja aku harus menjaga muka. Haha,” tawa Cio San.

“Haha. Kau tak takut dituduh munafik?”

“Jika aku memang munafik, mengapa harus takut dituduh munafik pula? Justru jika aku sebagai orang munafik takut dituduh munafik, bukankah itu munafik yang sejati?” katanya ringan.

“Betul juga. Orang yang seperti engkau ini memang sangat jarang di kolong langit ini,” dengus Syafina sambil tersenyum.

“Orang yang seperti aku sebenarnya sungguh banyak, tetapi dunia tidak mengenal mereka. Karena mereka tidak ingin terkenal. Justru malahan mereka berharap tak ada seorang pun yang mengenal mereka,” tukas Cio San.

“Dengan begitu, mereka tak perlu menghadapi kesulitan yang terlalu banyak, bukan?” kata Syafina.

Cio San hanya tertawa dan menyambung, “Dengan begitu mereka dapat hidup dengan tenang.”

Syafina terdiam sebentar. Di dalam kepalanya ia memikirkan kata-kata Cio San dan kata-kata Kim Sim Koksu tadi. Ia lalu berkata, “Mengingat perkataan Kim Sim Koksu tadi, aku jadi bertanya-tanya. Mengapa pikiranmu begitu terbebani? Mengapa kau selalu diliputi kesedihan? Padahal kau orang yang penuh bakat. Namamu menjulang di dunia persilatan. Bahkan kaisar pun mengakui kehebatanmu. Mengapa jiwamu selalu hampa dan kosong?”

Cio San pun bingung menjawabnya. Ia hanya bisa berkata, “Entahlah. Bukankah setiap manusia mempunyai tantangan hidupnya sendiri-sendiri?”

Putri cantik asal Mongolia ini akhirnya tidak bisa berkata-kata lagi. Jawaban Cio San bukanlah jawaban yang ia cari. Tetapi ia sungkan bertanya lebih lanjut. Malah Cio San yang melanjutkan, “Mungkin jiwaku tak akan kosong lagi jika ada seseorang yang mengisinya.”

“Kau belum menemukan orang itu?”

“Belum.”

“Kenapa tidak mencarinya?” tanya Syafina penasaran.

“Jika takdirnya belum sampai, walaupun aku menghancurkan jiwa ragaku untuk mencarinya ke seluruh pelosok bumi, aku tak akan menemukannya. Tetapi jika takdirnya telah tiba, meskipun aku bersembunyi di dasar bumi paling bawah pun, orang ini justru akan tetap menemukanku.”

“Bagaimana jika takdir menentukan bahwa kalian tak akan bertemu?”

“Maka aku akan hidup sebagai orang baik-baik.”

Hidup sebagai orang baik-baik. Amat sangat ringan dan gampang terdengar. Hampir seluruh orang mengatakannya. Tapi sungguh untuk melakukannya diperlukan keberanian tersendiri.

“Menurutku kau hanya cepat menyerah!” sanggah Syafina. “Mungkin di masa lalu seseorang melukaimu dengan sangat dalam, sehingga kau menutup diri jika ada perempuan yang datang. Orang seperti engkau amat mudah menaklukan wanita. Amat mudah mencari pasangan jiwa.”

Cio San tertawa di dalam hati. Ia baru saja menghadapi pertempuran terhebat sepanjang hidupnya. Kini Syafina malah mengajaknya berdebat. Memang bagi perempuan, tidak ada “benar” dan “salah”. Mereka mengikuti keinginan hatinya saja. Jika mereka ingin mengatakan sesuatu, mencari keributan, atau melakukan apa yang mereka mau, maka mereka akan melakukannya. Tidak perduli apa dan bagaimana keadaan yang sedang mereka hadapi.

Ini adalah ciri-ciri perempuan. Sebuah sifat yang membuat mereka menarik dan menyebalkan pada saat yang sama.

“Mungkin kau benar. Tapi mungkin juga kau salah. Bisa saja semua ini terjadi karena hatiku memang belum menemukan seseorang yang cocok,” kata Cio San sambil tersenyum kecut.

“Itu karena kau terlalu pilih-pilih!”

“Aku tidak boleh memilih? Jadi jika ada kerbau datang padaku, meminta ku nikahi, aku harus menerimanya?”

“Eh...ya tidak harus begitu. Tapi masakah tidak ada perempuan cantik yang datang memberi cintanya untukmu?”

“Tidak” jawaban ini singkat, padat dan jelas.

“Aku tak percaya!” dengus Syafina.

“Contohnya kau. Apakah kau mau datang memberi cinta padaku?” tanya Cio San sungguh-sungguh.

“Aku...eh...aku....” tentu saja ia tak dapat menjawab. “Ish!” ia hanya dapat membanting kaki.

Setelah lama terdiam, Syafina berkata, “Perempuan pada umumnya tidak suka mendatangi laki-laki. Para laki-laki lah yang harus mendatangi mereka.”

“Mengapa perempuan tak boleh mendatangi laki-laki?”

“Huh! Karena aturannya sudah begitu!” kata Syafina gemas.

“Siapa pula yang membuat aturan ini? Mengapa orang lain harus mematuhi aturan yang ia buat?”

“Ah entahlah! Gemas aku berbicara padamu!” sambil berkata begitu Syafina meremas lengan Cio San yang sedang dipapahnya.

“Aaaaah....aduh....!”

“Rasakan. Itu akibatnya jika kau berdebat denganku!” wajahnya menampakkan kemarahan tetapi bibirnya membentuk senyum yang indah sekali. Seperti bulan sabit di malam yang terang.

Di hadapan Kim Sim Koksu, Cio San menampakkan kegagahannya. Namun di hadapan Syafina, ia justru menunjukkan kelemahannya. Jika perasaan seorang laki-laki kepada seorang perempuan sudah mendalam, ia tak akan ragu-ragu untuk menunjukkan kelemahannya.

Entah bagaimana perasaan Cio San kepada Syafina.

Entah bagaimana pula perasaan Syafina kepada Cio San.

Kedua manusia ini hanya bisa berjalan menyusuri takdir. Sampai akhirnya jalan mereka bertemu, atau malah sebaliknya memisahkan mereka.

Jalan yang sedang mereka susuri kini mulai terang karena pagi telah menjelang. Dari kejauhan Cio San dapat melihat sebuah rombongan yang sedang beristirahat dan membakar api anggun. Ia tahu salah seorang dari rombongan ini adalah sang kaisar sendiri.

Empat orang berjaga dan mungkin yang lainnya sedang tertidur pulas di dalam sebuah tenda sederhana. Begitu Cio San dan Syafina mendekati mereka, ke empat orang ini dengan tangkas telah membuat pertahanan ketat hanya dengan menggunakan letak berdiri mereka. Pandangan mata orang biasa tak mungkin melihat hal ini, tetapi Cio San bukan orang biasa.

Seorang penjaga yang masih cukup muda dan berbadan tegap maju dan berkata. “Berhenti!”

Cio San dan Syafina menurut.

“Maaf, bolehkah cayhe (saya) bertanya siapakah gerangan tuan berdua, dan mau apa malam-malam melewati jalan ini?” laki-laki yang bertanya ini memiliki wibawa yang sangat besar. Cambangnya sangat lebat hingga menutupi seluruh wajah bagian hidung dan bibir ke bawah. Sinar matanya mencorong tajam. Mau tidak mau hati Cio San cukup mencelos juga berhadapan dengannya.

Karena sudah yakin siapa rombongan ini sebenarnya, Cio San mengeluarkan lencana naga, dan berkata, “Nama hamba Cio San, dan ini putri Syafina dari kerajaan Qara Del. Kami bermaksud bertemu dengan Yang Mulia kaisar, tetapi tentu saja kami tidak berani mengganggu tidur Yang Mulia.”

Begitu melihat lencana naga itu sang penjaga hanya tersenyum, “Bagi kami lencana ini tak ada artinya.”

“Oh,” Cio San mengangguk dan tersenyum saja sambil memasukan lencana naga ke balik bajunya. Ia jadi salah tingkah sendiri tak tahu harus berbuat apa. Syafina menarik lengannya dan mengajaknya duduk di sebuah batu yang berada tak jauh dari sana.

Sebelum mereka sempat beranjak ke sana, sang penjaga berkata, “Jika Cio-Hongswee mau duduk bersama kami dan menikmati beberapa cawan arak, kami sungguh merasa terhormat.”

Tentu saja ia mau. Maunya pun sangat cepat.

Kini Cio San, Syafina, dan penjaga itu sudah duduk mengelilingi api unggun. Penjaga yang lain duduk kembali ke posisi penjagaan mereka. Cio San mempersilahkan Syafina untuk tidur dan beristirahat. Ia telah mengajak putri cantik ini bertualang dan menderita selama beberapa hari. Dalam hati ia merasa sangat bersalah. Sang putri pun menurut kata Cio San dan memilih rerumputan empuk yang berada di dekat Cio San untuk tidur. Tak berapa lama ia sudah tertidur. Tidurnya pun nampak anggun sekali.

Cio San sedang asik menatap wajah Syafina yang tertidur saat sang penjaga yang duduk di hadapannya menyodorkan secawan arak. Cio San menerimanya sambil menyatakan terima kasih.

“Memang nama Cio-hongswee sebanding dengan kemampuannya. Selama ini belum pernah ada orang yang sanggup melewati barisan para sastrawan,” kata sang pengawal memulai obrolan. Ia lalu memperkenalkan namanya, Li Ping Han.

“Aih, sesungguhnya saya hanya berhasil melewati 3 siucay (sastrawan). Sastrawan yang lain membiarkan saya lewat,” jelas Cio San.

“Oh, itu karena para siucay telah menyadari siapa Hongswee sebenarnya. Mereka mengirimkan pesan melalui burung merpati kepada kami,” kata Li Ping Han sambil tersenyum. Wajah orang ini sungguh menyenangkan. Sorot matanya, senyumnya, tutur katanya. Mengingatkan Cio San kepada Beng Liong.

Tentulah orang ini memiliki pangkat yang sangat tinggi di dalam kekaisaran. Cio San bersikap sederhana saja kepadanya, karena ia memang paling nyaman bersikap seperti ini. Li Ping Han pun senang karena Cio San bersikap seperti ini. Mereka seperti sahabat lama yang baru saja berjumpa kembali.

“Li-toako (kakak Li), siapakah sebenarnya para sastrawan ini? Tentu mereka bukan mantan tentara yang sudah purna tugas?” tanya Cio San.

Li Ping Han tersenyum dan berkata, “Benar. Sesungguhnya mereka adalah pendekar-pendekar hebat puluhan tahun yang lalu, saat kita belum lahir. Begitu mereka cuci tangan dari dunia Kang-Ouw, kekaisaran meminta mereka untuk menjadi pengawal rahasia kaisar.”

“Oh begitu. Jadi mereka sudah mengawal berapa kaisar sampai sekarang?” tanya Cio San lagi.

“Setahuku baru 2 ini. Kaisar yang sekarang, dan mendiang kaisar yang lalu. Kenapa kau bertanya? Ah aku mengerti, kau pasti bertanya-tanya mengapa mereka tidak muncul saat kejadian pemberontakan Beng Liong dahulu, kan?”
Li Ping Han sangat cerdas. Ia bisa menebak isi hati Cio San dengan cepat sekali. Cio San pun hanya bisa mengangguk sambil tertawa masam.

“Setahuku, mereka memang sengaja tidak turun karena mereka ingin melihat kemampuanmu. Selain itu juga kau kan menyamar sebagai kaisar, tentu saja mereka harus menjaga kaisar yang sebenarnya di tempat persembunyiannya,” jelas Li Ping Han.

Cio San mengangguk mengerti. Memang pergerakan kekaisaran ini sungguh hebat dan penuh perhitungan.

“Sastrawan yang paling lemah di antara mereka, itu tingkatan silatnya sudah sama tingginya dengan ketua-ketua partai persilatan seperti Bu Tong-pay atau Go Bi-pay. Tetapi sastrawan yang terkuat ilmunya sangat tinggi, mungkin hampir setara dengan maha guru kekaisaran kita, Kim Sim Koksu,” kata Li Ping Han lagi.

Mau tidak mau Cio San terhenyak. Orang-orang sehebat ini mau menjadi pengawal kaisar, jika mereka mau, salah seorang saja sudah bisa membunuh kaisar dan melakukan pemberontakan!

Mereka rela berjalan kaki di tengah malam hanya agar dapat melindungi sang kaisar. Kesetiaan dan kerendah-hatian mereka sungguh terpuji. Di dalam dunia Kang Ouw, orang-orang seperti ini mungkin sudah memiliki partai atau perguruan besar yang jumlahnya ribuan orang. Hidup dalam kekayaan yang berlimpah.

Mengetahui bahwa kaisar dilindungi oleh orang-orang yang hebat seperti ini, hati Cio San menjadi lebih tenang. Tetapi musuh di depan sana mempunyai gerakan yang rahasia dan tak diduga-duga. Bersikap tenang sambil tetap waspada adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya.

Sambil minum arak mereka bercerita banyak hal. Li Ping Han bertanya tentang beberapa sahabat Cio San seperti Suma Sun, Cukat Tong, Kao Ceng Lun, dan Gan Siau Liong.

“Kami di istana mendengar bahwa Suma-tayhiap terluka dan sampai sekarang tak sadarkan diri, kabar mengenai istrinya juga......,” Li Ping Han tak tega meneruskan kata-katanya.

“Hal ini juga sangat membuat saya prihatin, toako (kakak). Saat saya meninggalkannya, ia masih tak sadarkan diri. Tetapi Cukat Tong dan istrinya menjaganya di sana. Segala jalan penyembuhan sudah dicoba. Semoga saja ia bisa sembuh seperti sedia kala,” Cio San tidak bercerita bahwa Cukat Tong dan Bwee Hua sedang pergi ke pegunungan Himalaya untuk mencari Gan Siau Liong.

“Dan bagaimana dengan Gan-bengcu (ketua Gan)? Apa yang dicarinya di pegunungan Himalaya sana? Kami di istana mendengar gerutuan beberapa kalangan Bu Lim (kalangan persilatan) tentang Gan-bengcu yang meninggalkan tanggung jawabnya sebagai Bu Lim Beng Cu (ketua dunia persilatan) di saat keadaan sedang genting seperti ini,” tukas Li Ping Han.

“Bengcu menitipkan tanggung jawab ini kepada saya. Dan saya akan berusaha sebaik-baiknya untuk tidak mengecewakan kepercayaan bengcu,” demi sahabat-sahabatnya tentu saja ia rela “sedikit” berbohong. Gan Siau Liong tidak pernah menitipkan urusan ini kepadanya. Semua ini ia lakukan semata-mata sebagai tanggung jawabnya kepada seorang sahabat.

Seorang sahabat dapat memintanya untuk menerjang lautan api, atau terjun ke jurang berisi pedang. Ia akan melakukannya dengan senang hati. Karena ia tahu, sahabat itu pun akan melakukan hal yang sama jika ia memintanya.

Jika seorang sahabat menyakiti atau melukai hatinya dan dirinya, ia tak akan membalasnya. Karena ia lebih memilih terluka daripada melukai sahabatnya. Ini memang sudah sifatnya. Sudah menjadi ciri khas yang tertanam di dalam jiwanya. Orang lain boleh menertawakannya, tetapi mereka tak akan sanggup melakukan hal yang ia lakukan.

Jumlah sahabat yang ia miliki meskipun tidak banyak, sesungguhnya juga tidak sedikit. Karena ia menyukai bersahabat dengan orang lain. Itulah kebanggaannya. Itulah harga dirinya.

Semakin Li Ping Han mengobrol dengan  Cio San, semakin dilihatnya pemuda ini sangat sederhana, ramah, dan suka bercanda. Tetapi Li Ping Han selalu dapat melihat bayangan kesedihan di mata Cio San. Walaupun mata itu tetap menyinarkan cahaya kehidupan yang sangat terang.

 Ia telah banyak bertemu dengan pendekar-pendekar angkatan muda. Telah banyak kenal dengan mereka. Tapi umumnya mereka tinggi hati dan terlalu percaya diri. Dalam diri Cio San, yang terlihat hanyalah kepolosan dan kewajaran. Ia seperti seorang anak kecil yang sibuk bermain seorang diri dengan mainannya. Tak perduli dunia sekacau apa, anak kecil ini tetap bermain dengan senang hati.

Itulah sifat Cio San yang sebenarnya. Li Ping Han dapat menyelami hal ini karena ia telah banyak bertemu banyak orang dan sifatnya masing-masing. Mempelajari mereka, dan mengambil hikmah dari pengalaman-pengalamannya yang luas. Jika kesedihan terpancar dalam jiwa Cio San, semua hanya karena jiwa pemuda itu begitu haus akan cinta.

Cinta yang mungkin tidak bisa ia peroleh dari sahabat-sahabat terbaiknya. Mau atau tidak, seorang lelaki harus mengakui bahwa sahabat tak akan mampu menggantikan kekasih, seperti juga kekasih tak akan dapat menggantikan sahabat. Cinta keduanya berbeda. Cio San memang penuh cinta akan persahabatan, tetapi ia tidak memiliki cinta dari seorang kekasih.

Apakah karena ini jiwa Cio San begitu hampa?

Tetapi mengapa ia begitu gembira?

Mengapa pula ia tidak boleh gembira?

Cio San berbaring di atas rerumputan. Pagi telah menjelang. Perjalanan masih panjang. Ia menggunakan tangannya sebagai bantal. Memandang sisa-sisa bintang yang masih bersinar di langit. Untuk sekejap ia pun terlelap. Melepaskan segala letih dan lelahnya walau hanya sebentar.

Li Ping Han melihat ini dan hanya tersenyum saja. Kewajibannya untuk menjaga rombongan ini sangat besar. Ia tidak “berani” terlelap walau sebentar saja.  Ia bangkit dan berdiri lalu memeriksa keadaan sekitar. Kuda-kuda mereka sudah beristirahat dengan cukup. Sebuah kereta yang cukup reot pun dalam keadaan baik. Perbekalan masih banyak, dan anggota-anggota yang lainnya pun masih tetap berjaga.

Rasa damai seperti ini mengapa begitu cepat berakhir? Tak berapa lama lagi mereka akan memasuki peperangan. Entah mereka hancur atau menang, hanya langit yang tahu. Ada tugas-tugas negara yang harus ia jalankan. Jiwa dan raganya sudah milik tanah airnya sepenuhnya.

Nasib para tentara dan serdadu selalu menyedihkan. Berada di dalam intrik para pemimpinnya. Jika salah bersikap mereka akan dibenci rakyat. Tetapi mereka tidak pernah memiliki pilihan sepanjang hidup mereka. Mereka hanya memahami kata “patuh”. Jiwa dan raga mereka adalah milik negara sepenuhnya. Dan keadaan mereka justru yang paling menderita. Jika ada perang merekalah yang maju lebih dulu. Jika keadaan damai mereka selalu menduhulukan kepentingan rakyat.

Yang hidup mewah hanyalah para panglima.

Tetapi masih banyak orang yang ingin jadi tentara. Menyerahkan hidupnya bagi orang lain. Seperti Li Ping Han yang tetap dengan gagah menjalankan tugasnya mengawal kaisar. Sungguh bukan sebuah tugas yang gampang.  Ia tidak dapat tidur nyenyak seperti Cio San yang kini sudah mulai mengorok. Sedikit saja ia memejamkan mata, bisa-bisa seluruh negeri hancur berantakan.

Matahari sudah meninggi. Embun masih membekas di rerumputan. Li Ping Han sudah menyiapkan pasukannya yang hanya terdiri dari 4 orang termasuk ia sendiri. Dengan sopan ia membangunkan Cio San. Dengan sekali sentuh, Cio San sudah sadar sepenuhnya.

“Dalam beberapa menit kita akan berangkat. Makanan untukmu dan tuan putri Syafina sudah kami persiapkan. Mohon makan dahulu,” katanya sambilmenyodorkan dua mangkuk sup hangat. Cio San menerimanya dengan penuh terima kasih. Dengan perlahan ia membangunkan putri Syafina.

Mereka kemudian makan bersama-sama dengan para pengawal kaisar. Gaya mereka sederhana. Tenang dan tak banyak bicara. Para pengawal ini semuanya masih muda. Tapi sekali pandang Cio San yakin ilmu silat mereka tinggi sekali.

Saat mereka makan, seseorang keluar dari tenda. Semua yang ada disini hendak berdiri dan memberi hormat tetapi orang yang keluar dari tendah itu segera mencegahnya. “Santai saja. Tetaplah makan.”

Orang ini masih muda, hampir sebaya dengan Cio San. Tatap matanya bersinar tajam. Alisnya runcing ke atas seperti sayap elang. Bibirnya tersenyum namun dagunya selalu terangkat dengan tinggi. Sekali pandang saja Cio San sudah tahu bahwa orang ini adalah sang kaisar sendiri!

Syafina hendak meletakkan mangkok dan menjura, ia sebenarnya ingin berkata “Semoga Kaisar Panjang Umur!”, tetapi  kaisar segera mencegahnya. “Kita sedang dalam penyamaran, tentu tidak perlu melakukan hal-hal seperti ini, bukan?”

Ia bergabung dengan rombongan dan mengambil mangkuk sup yang memang sudah disediakan untuknya. “Hmmm, harum sekali? Ta Cia yang membuatnya?” tanyanya. Orang yang bernama Ta Cia mengangguk penuh hormat.

Kaisar makan dengan santai. Gayanya seperti orang biasa saja. Sambil mengunyah, ia malah berkata, “Maafkan tidak bisa menjamu Hongswee dan tuan putri Syafina dengan cukup pantas.”

Cio San dan Syafina kaget juga saat mengetahui bahwa kaisar ternyata mengenal mereka. Mungkin semalam sang kaisar sempat terbangun dan mendengar obrolan mereka.

Cio San tersenyum. Ia tahu tidak perlu bersikap menjilat di hadapan kaisar ini. Ia malah bersikap biasa saja dan berkata, “Bisa makan bersama dengan toako (kakak) sungguh merupakan kebanggan tersendiri,” Syafina menoleh kepadanya dengan penuh canggung. Seolah merasa tidak setuju dan malu atas sikap Cio San yang berbicara dengan kaisar seperti ini.

Tapi sang kaisar malah tertawa, ujarnya, “Justru berada di dekat Hongswee malah membuat hatiku tenang dan riang. Kita harus merayakan hari ini dengan sedikit arak. Setuju?”

Arak telah tertuang di sebuah pagi yang tenang di dalam sebuah hutan yang indah. Hanya orang-orang yang telah mengalami permasalahan yang begitu dahsyat yang bisa memahami keindahan yang sederhana. Semua orang yang berada di dalam rombongan ini tentu saja sudah mengalaminya. Karena itu mereka begitu menikmati keadaan ini.

Seumur hidup Syafina tak pernah menyangka bahwa ia akan duduk bersama dengan kaisar Tionggoan, bercakap-cakap dan bercanda sambil minum arak dengannya. Seumur hidup pula ia tak menyangka bahwa kaisar yang kekuasaannya paling luas di muka bumi ini hanyalah seorang pemuda sederhana yang lugas dan polos. Tak pernah pula disangkanya bahwa kaisar ini rela berjalan dalam sebuah rombongan kecil, tidur di tenda paling murah, dan naik kereta reot.

Jika ia menceritakan hal ini kepada orang lain, tak ada seorang pun yang akan percaya.

Kaisar, Cio San, dan Syafina bercakap-cakap cukup lama, di saat yang sama ke empat prajurit ini telah membersihkan dan membereskan tempat itu. Tak berapa tempat itu sudah bersih dan rapi. Kuda sudah disiapkan dan kereta pun sudah siap berangkat.

“Kita sudah bisa berangkat?” tanya kaisar kepada Li Ping Han yang dijawab perwira gagah itu dengan mengangguk. “Nah, kalian ikutlah ke dalam kereta. Di situ kita bisa bercerita sepuasnya,”

Kaisar, Cio San, dan Syafina naik ke dalam kereta. Li Ping Han dan salah seorang duduk di depan sebagai kusirnya. Ta Cia dan seorang lagi masing-masing mengendarai kudanya sendiri. Begitu masuk di dalam kereta reot itu, Cio San langsung menyadari satu hal. Kereta ini hanya luarnya yang reot. Di bagian dalam sangat nyaman, dan segala keperluan ada di sana. Ia yakin, kereta ini memiliki banyak tuas rahasia yang berfungsi sebagai alat pertahanan melawan musuh.

Benar saja, saat sang kaisar menekan sebuah tuas, tahu-tahu muncul sebotol arak dan sebuah piring berisi camilan kecil berupa kacang-kacangan. Bukan kacang-kacangan biasa, melainkan sejenis kacang-kacangan yang tumbuh diluar Tionggoan dan rasanya enak sekali. Kaisar menawarkan kepada mereka, dan mulai membuka obrolan,

“Hongswee sudah bertemu dengan guruku, bukan?” Cio San mengangguk, sebelum ia sempat membuka suara, kaisar sudah bertanya lagi, “Ia memberitahukan kepadamu tentang daftar yang ia buat?”

“Benar, yang mulia,” Cio San lalu menceritakan daftar itu beserta urut-urutannya.

“Suma-tayhiap sekarang berada di urutan ke empat?” tanyanya sedikit kaget. Lanjutnya, “Dari terakhir yang kudengar, guruku mengeluarkannya dari 50 besar!”

Sekarang justru Cio San yang kaget. Setelah berfikir sebentar ia tersenyum dan berkata, “Berarti Koksu yang mulia tahu, bahwa pengobatan Suma-tayhiap berhasil dan ia telah sembuh!”

“Hmmm, benar juga. Setelah kejadian di dermaga dan Suma-tayhiap menderita sakit, urutannya melorot jauh. Tetapi nampaknya guru telah mengetahui kesembuhannya. Sungguh, betapa luas pengetahuannya. Betapa dalam ilmu guruku ini….,” matanya menerawang dengan kagum.

“Kim Sim Koksu memang pantas disebut “batu penjuru dunia”. Menjadi patokan dan petunjuk bagi kita semua,” kata Cio San dengan kagum pula.

“Julukan itu terakhir disandang oleh mendiang Thio Sam Hong. Rasanya cukup pantas juga disandang oleh guruku,” kata sang kaisar tersenyum senang. “Tetapi yang paling bikin aku senang, adalah keberadaan Hongswee dalam pihakku. Untuk hal ini, aku sungguh sangat berterima kasih sekali. Negara akan memberikan imbalan yang pantas untuk jasa-jasa ini,”

Dalam hati Cio San hanya tertawa. Jika bukan karena serangan-serangan gelap terhadap sahabat-sahabatnya, ia tentu tidak akan turut campur dalam urusan Negara. Jika bukan karena penderitaan kaum-kaum jelata karena peperangan ini, ia tentu sudah menyepi di sebuah lembah yang tenang sambil minum arak sampai mampus.

“Seandainya sahabat-sahabat Hongswee pun bisa turut membantu rakyat di dalam peperangan ini, sungguh aku dapat tidur dengan tenang,” tukas sang Kaisar.

“Mengenai Suma-tayhiap, jika ia tidak ingin melakukan sesuatu, ia tak akan pernah melakukannya meskipun raja akhirat sendiri yang dating memintanya. Ini sudah menjadi sifatnya. Bahkan hamba sendiri pun tidak mampu memintanya melakukan hal yang tidak ingin ia lakukan,” jelas Cio San.

 “Bagus! Memang begitulah seharusnya seorang pendekar! Melakukan sesuatu harus dating dari hati nurani. Bukan karena terpaksa. Salut! Sungguh Salut!” seru sang Kaisar.

“Eh, tetapi jika kini guru memasukkannya ke urutan 4, ilmu pedangnya memang sudah sangat meningkat hebat!”

“Oh, memangnya sebelum ia dikeluarkan dari 50 besar, berada di urutan berapakah ia?” Tanya Cio San.

“Urutan ke 8,” kata Kaisar.

Seketika mata Cio San berkilat. Ia senang ilmu Suma Sun meningkat setelah sembuh dari sakitnya. Tetapi ia justru khawatir, jika Suma Sun mencapai taraf ini, ia akan kehilangan kemanusiaannya lagi. Kembali menjadi “dewa” lagi. Ia akan membunuh lagi.

Mentari bersinar, rumput yang hijau, samudra yang luas, serta manusia yang mati oleh pedang Suma Sun. Kesemuanya adalah hal-hal “sederhana” yang sudah digariskan langit.

Ungkapan itu adalah sebuah ungkapan yang sangat terkenal  di masa jaya-jayanya Suma Sun sebagai “dewa”. Membayangkan bahwa ungkapan ini akan terdengar kembali, membuat Cio San merinding.

“Tak berapa lama lagi, Kim Sim Koksu nampaknya harus merubah lagi daftar yang beliau buat, karena Suma-tayhiap akan segera menduduki peringkat pertama,” kata Cio San dengan sungguh-sungguh.

“Eh?”

“Karena sebentar lagi, orang yang akan mampus karena pedangnya akan begitu banyak sampai-sampai samudera yang luas ini tak mampu lagi menampung mayat mereka.”

Tanpa suara. Tanpa darah. Yang ada hanya kematian.










Wednesday, August 5, 2015

EPISODE 2 BAB 50 SANG MAHA GURU


Cio San dan Syafina melanjutkan perjalanan. Dalam hati masing-masing mereka mengetahui bahwa di depan sana akan ada sesuatu lagi yang harus mereka hadapi. Dan tebakan ini benar, setelah beberapa lama mereka berjalan, dari kejauhan terlihat seseorang yang duduk sendirian di pinggiran jalan setapak. Cio San dan Syafina berjalan dengan santai saja. Jika kau merasakan apa yang mereka rasakan, kau pun akan berjalan seperti Ini. Seolah-olah di dunia ini tak ada yang sanggup menghentikan langkahmu ini.  

“Selamat malam, siansing” Cio San menyapa dan menjura lebih dulu.

Orang yang diberi salam umurnya sudah cukup tua, kira-kira hampir setengah abad. Rambutnya digulung rapi seperti gulungan rambut para tosu (pendeta agama tao). Melihat kedua orang anak muda ini, wajahnya bersinar terang. “Kau kah yang bernama Cio San?” tanyanya.

Mendapat pertanyaan seperti ini, Cio San sudah tidak kaget lagi, ia hanya bisa tersenyum mengangguk. “Apakah cayhe harus menghadapi ujian sekali lagi?” Cio San balas bertanya.

“Tentu saja,” jawab tosu setengah baya itu. “Tak ada seorang pun yang bisa melewati aku sebelum ku coba terlebih dahulu. Sebelum aku membuktikan bahwa aku telah melakukan hal yang benar dengan meletakkan kau di urutan ke 7,” jawabnya sambil berdiri dari duduknya.

“Urutan ke 7?”

“Kau akan tahu nanti,” jawab sang tosu.

Cio San menarik nafas panjang. Syafina menyentuh tangannya dan tersenyum, “Kau pasti bisa,” kata putri cantik ini.

“Kau duduk di sana saja ya,” balas Cio San yang ditimpali dengan anggukan oleh Syafina. Saat Syafina memilih tempat, Cio San tertawa dan berkata, “Lebih mundur lagi.”

Syafina menurut dan berjalan lebih jauh, “Di sini?” tanyanya.

“Lebih jauh sedikit,”

“Di sini?”

“Ya, bolehlah,” kata Cio San tersenyum.

“Kali ini tidak ada main-main. Kau tak akan mampu melewatiku jika kau tidak mengeluarkan kemampuanmu yang seluruhnya,” kata si tosu.

Cio San mengerti. Ia memejamkan matanya sebentar. Mengumpulkan seluruh kepercayaan diri dan ketenangannya. Orang yang berada di hadapannya ini sama sekali bukan orang sembarangan. Cio San dapat menebak ini dari sinar wajah sang tosu yang bersinar dengan terang. Hanya orang yang memiliki tenaga sakti sangat tinggi yang memiliki wajah bersinar-sinar seperti ini.

“Majulah!” kata si tosu tenang.

Cio San mengepalkan tangannya. Kepalan itu seolah-olah mengeluarkan cahaya merah bersinar terang. Begitu kepalan itu terbuka, telapak tangannya sudah bercahaya pula. Ia tidak perlu bergerak maju. Hanya kuda-kuda yang tertanam dalam ke dasar bumi. Dari mulutnya terdengar teriakan bagaikan raungan seekor naga, “Naga menggerung menyesal!”

Pukulan telapak itu menyodok ke depan dengan sangat kuat. Bersamaan dengan itu keluarlah angin serangan yang berasal dari telapak itu. Angin itu meliuk-liuk bagaikan naga yang sedang mengamuk, menghancurkan apapun yang berada di sekelilingnya!

Sang tosu yang melihat ini pun tidak beranjak dari tempatnya. Sama seperti Cio San, kuda-kudanya pun kokoh berdiri di tempatnya. Hanya tangannya yang menjulang ke atas seolah-olah memegang bola yang bersinar-sinar. “Bola” itu dihantamkannya ke depan untuk beradu dengan “naga” yang keluar dari telapak tangan Cio San.

Dhuaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrr!!!!!!!!

Mereka berdua masing-masing terlempar ke belakang oleh ledakan dahsyat ini. Begitu kaki mereka menginjak tanah, segera mereka melenting maju ke depan menyerang. Cio San mengerahkan ginkangnya yang teramat tinggi itu. Telapak tangan kirinya sudah mengeluarkan suara bagaikan ekor ular derik. Kepalan tangan kanannya telah terkepal dan dihantamkannya ke depan.

Si tosu menerima tinju itu dengan telapak tangannya. Begitu kedua lengan itu bertemu, kembali terdengar lagi suara ledakan yang dahsyat.

Dar dar dar dar dar!

Setiap kali mereka beradu lengan, dentuman dahsyat terdengar pula beriringan. Cahaya yang keluar akibat benturan tenaga dalam yang sangat dahsyat ini menerangi malam jauh lebih terang daripada cahaya rembulan.

Syafina seperti merasa ia sedang berada pada sebuah perayaan besar di mana kembang api dinyalakan dengan meriahnya. Kedua orang ini bergerak tanpa bisa dilihatnya lagi. Hanya cahaya-cahaya beserta dentuman dahsyat yang bisa dilihatnya!

Duar! Duar! Duar! Duar! Duar! duar!

Alangkah dahsyatnya pertempuran ini sampai-sampai Syafina tak tahu lagi apa yang sedang mereka lakukan. Ia tak tahu lagi apakah ia sedang menyaksikan dua orang bertarung, ataukah ia sedang berada di angkasa di tengah-tengah badai dengan petir dan guntur yang menyambar-nyambar!

Kedua orang ini memang telah menciptakn badai yang memporak porandakan sekeliling hutan. Pohon-pohon tumbang hanya karena angn yang dihasilkan dari benturan kedua tangan mereka. Cahaya petir menyambar-nyambar keluar dari benturan itu. Untunglah ia berada cukup jauh dari pertempuran dan berlindung di balik sebuah batu besar.

Gelombang yang dihasilkan oleh pertarungan kedua orang di depan sana malahan membuat batu besar tempat Syafina berlindung seperti bergetar. Dhummmm dhummmm dhuuuummm!

Padahal ia berada berpuluh tombak jauhnya dari pertarungan ini. Seumur hidupnya baru kali ini Syafina melihat ada manusia yang sanggup menghasilkan guntur, petir, badai, serta gempa bumi secara bersamaan!

Cio San dan sang tosu justru tertawa bahagia. Baru kali inilah masing-masing menghadapi musuh yang setangguh ini. Angin serangan menderu-deru. Setiap serangan dan tangkisan menciptakan ledakan dahsyat. Tetapi tubuh mereka sanggup menahan goncangan ini agar tidak terlempar keluar. Ini berarti tubuh mereka harus bekerja dua kali. Bertarung dan mempertahankan posisi masing-masing. Jika salah seorang terlempar keluar dari pusaran badai ini, maka ia akan kalah!

Darah segar keluar dari bibir Cio San. 

Mereka sudah tak perduli lagi berapa pukulan yang masuk, berapa yang berhasil dihindarkan. Yang mereka tahu hanyalah bertarung!

Dalam 500 tahun, pertempuran semacam ini mungkin hanya terjadi sekali saja!

Pertarungan ini semakin menggila setiap detiknya. Pusaran badai yang tercipta karena gerakan mereka pun semakin mengerikan. Debu, bebatuan, dedaunan dan ranting pohon tersedot masuk ke dalam pusaran ini, untuk kemudian termuntahkan keluar dengan kecepatan yang berkali-kali lebih kuat daripada saat tersedotnya.

Duar! Duar! Duar!

Syafina hanya bisa berlindung sambil berdoa di dalam hati agar tidak terjadi sesuatu kepada Cio San. Meskipun ia khawatir, ia memiliki keyakinan yang besar terhadap lelaki itu.

Entah berapa lama pusaran badai menghanucrkan sekelilingnya. Entah berapa banyak sembaran ‘petir’ dan ‘guntur’ yang keluar dari dalam badai ini.

Zwiiinggggggggg zwiiiiiinggggggg zwiiiiiiiiiiing!!!!

Blaaaaaaarrrrrr! Blaaaarrrrrr!!!!!

Jika nanti Syafina bercerita kepada orang lain tentang pertarungan ini, ia mungkin hanya bisa menceritakan suara yang ia dengar. Karena matanya sudah tak sanggup lagi melihat apa yang terjadi. Hanya ada badai, petir, guntur, dan gempa bumi!

Lalu kemudian semuanya berhenti!

Senyap. Sunyi.

Syafina pun menoleh, dilihatnya kedua orang itu sedang duduk bersila. Ia ragu-ragu apakah ia harus segera berlari ke sana, ataukah duduk diam menunggu dibalik batu besar yang kini sudah pecah-pecah tidak karuan. Ia akhirnya memilih untuk tetap tinggal. Karena ia percaya pada lelaki itu.

Rasa percaya perempuan kepada seorang laki-laki sebenarnya jauh lebih membahagiakan dan menenangkan bagi kedua pihak, baik laki-laki maupun perempuan. Sayangnya tidak banyak perempuan yang melakukannya.

Cukup lama kedua orang ini bersemedhi. Uap dan asap keluar dari tubuh mereka. Rupanya kedua orang ini sedang memulihkan keadaan masing-masing. Si tosu selesai lebih dahulu, Cio San menyusul kemudian. Keadaan sang tosu biasa-biasa saja. Bahkan tidak kelihatan seperti baru selesai bertempur sama-sekali.

Kini Cio San sudah berjalan perlahan menuju ke tempat Syafina berteduh.

“Kau tak apa-apa?” tanya Cio San.

Melihat keadaannya Syafina sangat senang. Darah belepotan di wajah dan bajunya, tetapi wajahnya bersinar dengan terang. “Bagaimana hasilnya?” tanya Syafina.

“Aku tidak kalah,” kata Cio San tersenyum senang.

“Berarti kau menang? Syukurlah,” Syafina lalu menggumamkan sesuatu. Mungkin doa-doa dalam bahasa agamanya.

“Tidak. Aku tidak menang. Hanya tidak kalah saja,” jelas Cio San.

“Eh bagaimana itu?” tanya Syafina tidak mengerti. “Tidak kalah kan berarti menang?”

Cio San hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya.

“Maksudmu imbang?” tanya Syafina lagi.

“Tidak juga. Ah, sudahlah. Kau akan mengerti suatu saat nanti,” tukas Cio San.

“Ish! Terserah kau sajalah!” kata Syafina gemas sambil meninju lengan Cio San dengan manja.

“Aduh…..,”

“Ehhh, maaf-maaaf,” seketika Syafina sadar ia baru saja meninju seorang laki-laki yang baru saja pulang dari pertarungan terdahsyat di dalam hidupnya. Segera ia mengeluarkan beberapa bahan obat yang selalu ia bawa sebagai bekalnya. Ada juga kain perban untuk merawat luka.

Setelah luka-luka Cio San dirawat, ia segera menuju kepada sang tosu di depannya yang sedang duduk tersenyum memandang kemesraan mereka.

Cio San menjura dengan sangat dalam, “Siansing, terima kasih sekali atas pertarungan ini. Dalam seumur hidup boanpwee (saya yang lebih rendah), belum pernah mengalami pertarungan seperti ini,”

“Haha. Cio San memang Cio San. Sungguh betapa kagum hati cayhe(saya) melihat kehebatan angkatan muda jaman sekarang. Kami yang tua-tua ini sudah bolehlah cuci tangan selamanya, menyepi dan mendalami agama,” kata si tosu.

Cio San sendiri tak sanggup menebak siapa orang ini. Mengapa ada orang sesakti ini yang muncul tiba-tiba dan tak seorang pun pernah mendengar sepak terjangnya.

“Aih, maafkan aku yang tidak sopan belum memperkenalkan nama,” ujar si tosu seolah-olah mampu membaca isi hati Cio San. “Namaku aku sendiri sudah lupa. Tetapi orang-orang memanggilku dengan julukan Kim Sim Koksu (guru besar hati emas). Panggilan kosong yang cuma bikin malu,” katanya sambil tersenyum.

Seketika mata Cio San terbelalak. Semua orang di Tionggoan ini tentu saja tahu siapa Kim Sim Koksu. Ia adalah Koksu atau guru besar kerajaan! Ia adalah guru besar yang mengajari para kaisar! Mengajari sastra, mengajari tata negara, mengajari mereka ilmu perang. Ia adalah guru para kaisar!

Tapi konon katanya usianya sudah lebih dari 100 tahun. Bahkan ia adalah guru besar kerajaan sejak kaisar pertama dinasti Beng. Mengapa ia berpenampilan semuda ini? Segera Cio San sadar, sang guru bisa semuda ini adalah karena ilmunya yang begitu tinggi sehingga ia mampu mencapai taraf “kembali muda”. Taraf yang konon hanya bisa diraih oleh sang maha guru Thio Sam Hong.

Tak sadar kembali Cio San menjura dengan sangat dalam, “Maafkan boanpwee yang begitu sempit penglihatannya sehingga…,”

“Aih, kenapa kau seperti orang-orang munafik yang terlalu banyak sungkan? Aku justru hadir di sini karena ingin bertemu denganmu,” sela sang maha guru.

“Bertemu boanpwee?”

“Ya. Aku tahu kau pasti akan melibatkan diri di dalam perang ini. Karena itulah aku datang pula ke sini. Hanya sekedar ingin melihat keadaan peperangan, sekaligus mungkin bisa bercakap-cakap denganmu,” jelas sang maha guru.

“Boanpwee siap menerima petunjuk,” kata Cio San dengan tenang.

“Kau adalah pemegang lencana naga. Satu-satunya orang di dunia ini yang memegang lencana itu. Titahmu bagaikan titah kaisar. Oleh karena itu tanggung jawab yang kau emban pun tentu sangat besar. Aku yakin kau menyadari hal ini. Aku sendiri memperhatikan sepak terjangmu dan harus ku akui, orang seperti engkau memang muncul 100 tahun sekali,”

Sebenarnya Cio San ingn berkata “maha guru terlalu memuji”, tetapi ia takut dimarahi lagi.

“Peperangan ini sangat mencurigakan dan terlalu banyak rahasia. Kaisar yang sekarang hampir seumuran denganmu. Perhitungannya kadang belum matang, dan masih membutuhkan banyak bantuan. Aku sendiri sudah terlalu tua dan sudah saatnya mengundurkan diri sepenuhnya dari tanggung jawabku untuk mendidik para kaisar ini.”

Lanjutnya, “Tetapi mau tidak mau, aku sepertinya harus melibatkan diri dalam perang ini. Meskipun tidak terlibat langsung, setidaknya aku masih bisa memberi masukan-masukan yang penting bagi kaisar kita. Sejauh pengamatanku, kekuatan musuh yang kita hadapi justru lebih besar daripada kekaisaran kita. Padahal mereka hanya sekelompok pasukan dari suku-suku kecil di Selatan. Kau tahu mengapa mereka bisa begitu kuat?”

“Sepanjang pengamatan boanpwee, kekuatan mereka ada pada taktik tempur bergerilya. Mereka tidak mungkin berperang secara terbuka karena jumlah mereka lebih kecil daripada tentara kita. Selain itu, mereka mampu mengajak banyak sekali tokoh-tokoh persilatan yang teramat sakti,” jelas Cio San.

“Benar sekali. Tokoh-tokoh persilatan yang berkumpul di pihak musuh adalah tokoh-tokoh hitam sesat yang memang selalu menyukai pertempuran, dan imbalan yang tidak sedikit. Sedangkan tokoh-tokoh putih yang lurus selalu lebih memilih untuk menjauhkan diri dari urusan kekaisaran,” kata sang maha guru. Lanjutnya, “Kau tahu, aku telah membuat daftar urutan tokoh-tokoh silat yang masih hidup, berdasarkan kemampuan dan kehebatan mereka. Daftar ini setiap tahun kuperbaharui. Ini kubuat sebagai bahan pertimbangan bagi kaisar, agar kaisar pun memperhitungkan kekuatan orang-orang Kang Ouw (dunia persilatan).”

“Sayangnya, tokoh yang paling tinggi ilmunya di dalam daftarku ini, telah bergabung dengan pihak musuh,”

“Maksud koksu (maha guru), Pek Giok Kwi-bo, sang nenek sakti itu?”

“Ya. Dia. Urutannya memang yang paling tinggi di daftar yang kubuat. Ia berada di urutan 2. Urutan 3 adalah Pendekar Pedang Kelana. Urutan 4 adalah cucunya sendiri yaitu Suma Sun. Urutan 5 adalah Raja Golok dari Timur Ca Hio Li. Dan urutan ke 6 adalah Lu Hu Tu yang terkenal dengan telapak naga api nya. Urutan ke 5 dan 6 ini sudah bergabung dengan pihak musuh, kau sendiri berada di urutan ke 7.” jelas sang maha guru.

“Ah,” mata Cio San bersinar terang. “Sudah bisa masuk ke urutan 7 di dalam daftar yang thay suhu buat, adalah sebuah kehormatan yang teramat besar,” katanya dengan jujur. Lanjutnya, “Tetapi siapakah yang urutan 1? Oh, boanpwee mengerti,” tukas Cio San.

“Jika kau mengira bahwa aku memasukkan diriku sendiri di urutan 1, maka kau keterlaluan. Hahaha,” tawa sang mahaguru. Cio San segera tersadar bahwa tentu saja sang maha guru tidak memasukkan dirinya sendiri di daftar urutan ini. Ia terlalu tinggi, terlalu mulia, terlalu sederhana, dan terlalu bijaksana untuk masuk ke daftar itu.

Kata sang maha guru, “Urutan nomer 1 aku kosongkan. Sebenarnya urutan 1 ini bisa menjadi mlikmu. Jika kau cukup sadar dan cukup mawas diri,” ujar sng maha guru.

“Boanpwee menerima petunjuk,” kata Cio San sambil menjura dengan dalam.
“Kau memiliki kemampuan yang tak terbayangkan orang. Tidak terukur. Dalam artian kemampuan silatmu sangat tergantung pada suasana yang kau hadapi sendiri. Jika kau tidak sedang diliputi beban pikiran, maka ilmu silatmu akan berkembang sangat dahsyat. Tetapi jika adalah masalah yang membebani hatimu, maka ilmu mu menurun sangat jauh.”

Lanjutnya, “Oleh karena itu aku meletakkanmu di urutan ke 7, dan mengosongkan urutan pertama. Urutan pertama ini hanya milikmu seorang, tetapi kau harus berjuang keras untuk mendapatkannya. Melepaskan segala beban pikiranmu. Segala kekosongan jiwamu. Kehampaan hidupmu. Kesedihan hatimu. Hanya dengan cara inilah kau dapat sampai pada tingkatan tertinggi kemampuanmu sendiri,” jelas sang maha guru.

“Boanpwee mengerti. Terma kasih sekali, koksu,” kata Cio San mengangguk-angguk.

“Ini memang bukan kesalahanmu semata. Aku tahu kau mempelajari ilmu silat dengan caramu sendiri. Tanpa ada guru yang membimbing, tanpa ada pengarahan dari orang yang benar-benar mengerti tentang falsafah ilmu silat. Kau hanya mengikuti kata hati dan bisikan jiwamu sendiri. Tidak salah, tapi tidak benar. Kekuatan terbesarmu adalah hatimu sendiri. Ilmu silatmu akan mengikuti kemana hatimu membawanya.”

“Kesedihan tak pernah usai, ia hanya berganti wajah. Oleh karena itu jangan menunggu untuk bahagia. Bahagialah di dalam kesedihanmu. Bahagialah di dalam segala kekuranganmu, di dalam cobaan-cobaanmu. Karena kebahagiaan tidak akan pernah datang. Kebahagiaan itu dibuat dan diciptakan. Kaulah pencipta kebahagiaanmu sendiri,” ujar sang maha guru.

Cio San seperti mendapatkan pencerahan tertinggi di dalam hidupnya. Hanya duduk beberapa menit dengan sang maha guru kerajaan, ia seperti telah belajar ratusan tahun kepadanya. Tak heran mengapa ia pantas menjadi maha guru kekaisaran. Menjadi pendidik para kaisar selama puluhan tahun ini.
Begitu tinggi ilmunya, begitu rendah hatinya. Usianya mungkin sudah mencapai 150 tahun, tetapi raut wajahnya begitu muda seolah hanya sepertiga usianya. Kebijaksanaannya bagai tanpa batas.



Begitu Cio San mengangkat muka, sang maha guru telah menghilang dari hadapannya. Cio San hanya bisa bersoja (bersujud) pada bekas duduk sang maha guru ini.

Syafina yang duduk agak sedikit jauh di belakang, hanya bisa tersenyum saat Cio San menoleh kepadanya.

Sambil berdiri, Cio San berkata, “Seandainya bisa tetap urutan no 7, aku sungguh berbahagia. Apalagi jika tidak masuk sama sekali dalam urutan ini.”
“Kenapa?” tanya Syafina yang kini turut berjalan mengiringi Cio San.

“Orang-orang yang masuk ke dalam daftar urutan ini, tentu saja selalu mengalami kesulitan sepanjang hidup mereka,” tukasnya sambil tertawa.

“Meskipun kau tak masuk daftar itu, aku yakin kau akan selalu mengalami kesulitan,” tukas Syafina.

“Eh?”

“Ya. Karena meskipun kau membenci kesulitan, kesulitan justru mencintaimu,” tawa si putri terdengar renyah.

Ada sesuatu dalam tawa perempuan yang membuat engkau terbuai dan takut pada saat yang bersamaan. Karena yang paling menakutkan dari perempuan bukanlah tawa mereka, melainkan isi hati yang mereka simpan di balik tawa itu.

Syafina bertanya, “Apakah justru sebenarnya yang berada di urutan pertama adalah sang maha guru sendiri?”

“Tentu saja. Tapi tak ada satu orang pun di kalangan Kang Ouw yang menyangka hal ini. Selama ini kebanyakan orang di dunia ini mengira bahwa sang maha guru Kim Sim Koksu hanyalah guru yang mengajarkan ilmu sastra, ilmu peperangan, dan ilmu tata negara kepada para kaisar. Tak tahunya ia adalah seorang tokoh persilatan yang teramat sakti. Di jaman ini, aku yakin beliaulah yang paling tinggi ilmunya,” jelas Cio San.

“Jika dibandingkan dengan mendiang Thio Sam Hong-thay suhu?” tanya Syafina lagi.

“Aku tak tahu karena aku belum pernah bertemu dengan mendiang thay-suhu secara langsung. Tapi konon kabarnya beliau telah mencapai taraf “kembali muda”. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa mungkin kedua maha guru ini berada di tingkat yang hampir sama. Satu-satunya orang yang mungkin masih hidup yang mendekati tingkatan ini adalah..eh..kakek yang ku temui dulu saat mengunjungi makam kedua orang tuaku.”

“Siapa kakek ini?” tanya Syafina.

“Ia adalah cucu murid dari mendiang Thio Sam Hong-thay suhu, nama beliau adalah Thio Bu Kie-tayhiap”

“Oh. Apakah beliau hidup menyepi juga?”

“Ya, bersama istrinya. Tapi entahlah apakah mereka masih hidup atau tidak.....,”

Cio San menarik nafas panjang melihat jalan setapak yang masih harus dilaluinya ini. Melihat ini Syafina bertanya kepadanya, “Siapa lagi yang harus kita temui di depan nanti?”

“Orang yang membuat seluruh hewan lari ketakutan dari hutan ini,”

“Siapa dia?”

“Sang kaisar sendiri……,”