Tuesday, November 4, 2014

EPISODE 2 BAB 35 KEJADIAN DI ATAS KAPAL KEKAISARAN




“Lun-te (adik Lun), kau masuklah ke dalam, temani Cio San,” kata Suma Sun kepada Kao Ceng Lun. Dengan sigap pemuda itu mengangguk dan segera beranjak masuk ke dalam kapal, ketika ia mendengar Gan-siauya berkata, “Kapal ini adalah kapal perang kerajaan.”

“Kapal kerajaan?” Kao Ceng Lun menghentikan langkahnya. “Jika itu benar kapal kerajaan, biarkan aku berbicara pada pemimpin kapalnya,” katanya. Suma Sun mengangguk setuju, katanya, “Jika begitu, aku saja yang masuk ke dalam menjaga Cio San,” segera ia sudah menghilang dari situ.

Gan-siauya menoleh kepada Kao Ceng Lun, “Ide bagus. Sebagai perwira dari Kim Ie Wie (pasukan baju sulam), kau tentu bisa berbicara kepada mereka.”
“Yang cayhe (saya) khawatirkan adalah maksud dan tujuan mereka,” tukas Kao Ceng Lun.

“Aku tidak membawa barang-barang terlarang, atau berbahaya. Kemungkinan besar, satu-satunya hal yang mereka cari, adalah Kitab Bu Bhok,” ujar Gan-siauya.

Kao Ceng Lun mengangguk, “Sudah lama para jenderal dan perwira kerajaan mencari kitab ini. Sebenarnya tidak ada perintah khusus dari kaisar yang sekarang untuk tugas ini.  Tetapi jika kitab ini jatuh ke tangan jenderal-jenderal yang merencanakan pemberontakan.....,” Kao Ceng Lun tidak berani meneruskan kata-katanya.

“Pemberontakan?” tanya Gan-siauya.

“Sebenarnya cayhe (saya) tidak boleh menceritakan rahasia ini. Tetapi kepada Beng-cu (ketua), tentu saja hal ini tidak mungkin cayhe tutup-tutupi. Ada pergerakan rahasia di dalam istana. Beberapa jenderal sedang merencanakan pemberontakan terhadap kaisar, dengan cara memanfaatkan keributan dengan suku-suku luar seperti Miao, dan Goan. Sayangnya, kami masih belum mengetahui siapa-siapa saja jenderal-jenderal ini. Tapi pergerakan mereka semakin jelas,” ujar Kao Ceng Lun.

“Jika kitab Bu Bhok jatuh ke tangan mereka, maka pergerakan mereka akan semakin berbahaya. Bagaikan harimau yang tumbuh sayap,” kata Gan-siauya lirih. Matanya memandang jauh ke depan, kapal yang semakin kencang menghampiri mereka, terlihat semakin mendekat. Ukuran kapal ini sangat besar, hampir 9 atau 10 kali kapalnya sendiri. Bisa dibayangkan, pasukan tentara yang berada di kapal itu pasti sangat banyak.

Bendera kerajaan yang berwarna kuning keemasan terlihat berkibar begitu gagah. Di anjungan depan kapal, banyak orang yang berkumpul dan berdiri dengan gagah. Dari pakaian dan gayanya yang berwibawa, Gan-siauya dapat melihat siapa pemimpin kapal itu.

“Laksamana Bu Sien....,” kata Kao Ceng Lun pelan. Ia mengenal laksamana itu.

“Dia orang baik?” tanya Gan-siauya.

“Cayhe tidak berani memastikan.....” jelas Kao Ceng Lun.

Kapal raksasa itu datang membawa gelombang yang cukup kuat sehingga kapal Gan-siauya sedikit terombang-ambing. Kapal kerajaan itu berhenti disamping kapal ketua dunia persilatan yang masih sangat muda itu.

Ia membuka suara, “Perkenalkan, nama cayhe Gan Siauw Liong (Siauw Liong berarti ‘naga kecil’). Cayhe adalah Bu Lim Beng Cu (ketua dunia persilatan) sah saat ini. Apakah cayhe sedang berhadapan dengan yang mulia laksamana Bu Sien yang terhormat? Mohon terima salam hormat kami,” ia menjura, suaranya terdengar lantang dan gagah, namun lembut dan tegas. Baru kali ini pula Kao Ceng Lun mengetahui nama asli Gan-siauya.

Seorang lelaki gagah, tinggi besar dan wajah kemerahan menyahut, “Salam. Benar aku adalah laksamana Bu Sien. Aku memiliki sedikit keperluan dengan saudara,” suaranya keras menggelegar.

“Laksamana yang terhormat memiliki keperluan apa, mohon titahkan,” kata Gan Siau Liong sambil tersenyum ramah.  Beberapa dayangnya yang cantik masih berada di belakangnya, tersenyum dengan ramah pula.

“Aku mendengar bahwa kapal ini memuat sebuah benda yang sangat penting bagi kekaisaran, aku berharap saudara mau menyerahkannya kepada kami sebagai perwakilan kekaisaran ,” laksamana ini memang bukan orang yang suka basa-basi.

“Benda apakah gerangan yang dimaksud laksamana yang terhormat?” tanya Gan Siau Liong.

“Kitab Bu Bhok!”

Gan Siau Liong terdiam beberapa saat, tapi ia segera berkata, “Kitab itu memang berada kepada kami, tetapi benda itu kini milik kaum persilatan. Menurut undang-undang yang berlaku, kekaisaran tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan kaum persilatan, kecuali jika yang mulia kaisar sendiri yang menurunkan titah,”

Braaaak! Sang laksamana menggebrak pagar anjungan kapalnya. Ia tahu kata-kata Gan Siau Liong memang ada benarnya. Tiba-tiba dari kerumunan pasukan tempatnya berdiri, majulah seseorang yang berperawakan aneh. Tubuhnya cebol, dan kepalanya jauh lebih besar daripada umumnya. Kepalanya botak dan ditumbuhi rambut tipis-tipis di sana sini. Kumis dan jambangnya lebat. Sepanjang hidupnya, seluruh yang berada di kapal Gan-siauya (tuan muda Gan) ini memang belum pernah bertemu dengan orang seperti ini. Karena pendek, lelaki cebol ini melompat dengan ringan dan berdiri di atas pagar anjungan kapal agar dapat berbicara dengan leluasa kepada kapal kecil dibawahnya.

“Menurut peraturan dunia persilatan, segala mamcam urusan antara kaum bu lim (kaum persilatan) dapat diselesaikan dengan mengadakan Pi Bu (adu tanding silat),” ia berhenti sejenak untuk melihat jawaban Gan Siau Liong. Pemuda ketua dunia persilatan itu mengangguk.

“Aku menantangmu untuk melakukan Pi Bu!” Ia menjura lalu menghentakkan kakinya tiga kali. Dalam budaya persilatan di Tionggoan, gerakan ini berarti secara resmi menantang tanding.

“Baik, apa pertaruhannya?” tanya Gao Ceng Lun balas menjura, yang berarti menerima tantangan.

“Jika aku menang, kami boleh membawa kitab Bu Bhok tanpa diganggu. Jika kau menang, kami akan membebaskan kalian pergi tanpa diganggu.”

Gao Ceng Lun mengangguk. “Tuan telah menentukan pertaruhannya, aku berhak menentukan aturannya,” katanya tegas.

Giliran si cebol yang mengangguk.

“Pertandingan ini hanya berlangsung sekali, antar 2 orang. Siapa yang jatuh ke laut dianggap kalah, siapa yang mati dianggap kalah. Boleh menggunakan senjata apa saja, kecuali racun. Tidak boleh dibantu orang lain, masing-masing petarung bertanggung jawab atas nyawanya sendiri, dan tidak ada kewajiban balas dendam kepada keluarga dan sahabat yang ditinggalkan,” kata Gan Siau Liong dengan lantang, lanjutnya, “Masih ada satu lagi. Arena pertempuran berada di kapal saudara, dan bukan kapal kami.”

“Baik. Aku menerima aturan,” kata si cebol menjura.

“Ijinkan hamba naik ke atas kapal laksamana yang mulia,” pinta Gan Siau Liong yang diikuti dengan anggukan kepala sang laksamana memberi ijin.

Dengan ringan, sang ketua dunia persilatan itu melayang dengan indahnya. Jubah merahnya yang longgar menutupi pakaiannya yang berwarna putih, berkibar-kibar tertiup angin laut. Ia mendarat di lantai kayu kapal itu dengan sangat ringan, bahkan tidak terdengar suara sedikitpun saat kakinya menginjak lantai. Bagaikan bunga kapas yang meliuk dengan indah dan jatuh di atas rerumputan.

Begitu mendarat, hanya satu hal yang menarik perhatiannya. Sesosok perempuan yang sejak tadi berada di balik kerumunan para prajurit. Pakaian perempuan ini ringkas namun bahan-bahannya sangat mewah. Rupanya ia adalah orang Bu Lim (kaum persilatan) pula. Gan Siau Liong memandang sekilas padanya. Senyumnya hanya di ujung bibir, seolah-olah tersenyum kepada dirinya sendiri. Nona cantik itu hanya diam memandangnya. Senyumnya pun tipis sekali. Seperti balas tersenyum kepada dirinya sendiri pula.

Para prajurit dengan sigap membuat barisan berupa lingkaran di anjungan kapal. Gan-siauya (tuan muda Gan) dan si cebol berada tepat di tengah-tengahnya. “Bolehkah aku mengetahui nama tuan yang terhormat?”

“Julukanku Sin Mo Locu (si iblis tua sakti),”

Gan Siau Liong mengangguk hormat. “Kita mulai?”

“Yang lebih mudah, silahkan memulai lebih dahulu,” katanya jumawa. Ia berkata begitu sambil menutup matanya dan kepala mendangak.

Gan Siau Liong, atau yang lebih dikenal dengan nama Gan-siauya (tuan muda Gan) itu melepas jubah merahnya. Bajunya yang putih ringkas, akan membuat gerakannya menjadi lincah dan tanpa hambatan. Ia lalu berseru, “Lihat serangan!”

Tubuh pemuda tampan itu melesat ke depan, si cebol hanya berdiri diam. Di dalam hati ia kagum juga melihat kecepatan pemuda lawannya ini. Begitu tiba di hadapannya, pemuda tampan itu melancarkan sebuah sapuan yang tiba-tiba. Serangan ini sangat unik, karena biasanya sebuah jurus pembuka adalah berupa pukulan atau tendangan. Tapi Gan Siau Liong malah menunduk rendah dan melakukan sebuah sapuan yang amat cepat. Gerakan ini sebenarnya kurang menguntungkan dibandingkan pukulan atau tendangan. Karena untuk melakukan sapuan, ia harus menunduk terlebih dahulu, dan karena ini ia kehilangan sepersekian detik yang berharga.

Karena hal inilah, si cebol tidak menghindar. Ia justru menyerang dengan telapak tangannya, karena ia merasa menang keadaan. Dalam perhitungannya, serangan telapaknya itu pasti sampai lebih dulu. Tapi ia terpaksa dibuat kagum ketika Gan-siauya secara tiba-tiba merubah sapuan itu menjadi tendangan yang dahsyat.

Nama jurus tendangan yang aneh ini adalah ‘Naga Mengibaskan Ekor’. Jurus yang merupakan pengembangan dari 18 Tapak Naga. Tetapi dilakukan dengan tendangan!

Terdengar suara angin yang menderu-deru dari tendangan maha dahsyat itu. Si cebol tidak sempat menghindar, dengan telapak tangannya yang kecil, ia menangkis tendangan maha hebat itu. Semua orang yang berada di situ berseru kaget karena telapak tangan kecil itu bergerak seperti tanpa tenaga menghadapi tendangan sedahsyat itu. Si cebol bisa terhempas tersapu kekuatan mengagumkan dari tendangan itu!

Tetapi semua yang menonton pertandingan ini justru lebih kaget lagi, ketika ternyata justru Gan-siauya yang terpental saat tendangannya beradu dengan tapak mungil itu. Seluruh kapal terasa bergetar ketika kedua serangan itu berada. Gan-siauya terhempas ke belakang hampir menabrak kerumunan para prajurit yang membentuk lingkaran. Dengan berjumpalitan, ia berhasil menguasai keadaan tubuhnya. Ia justru melayang melenting ke atas melewati barisan prajurit, dan mendarat dengan ringan di atas pagar anjungan dengan satu kaki.

Kaki yang satunya terangkat tinggi di udara. Wajahnya menampakkan senyum yang tenang. Meskipun hatinya berdebar-debar oleh semangat yang menggelora, wajahnya tetap menggambarkan ketenangan yang luar biasa.

Ia menguasai ilmu pecahan dari 18 Tapak Naga, yang dikenalnya dengan sebuat 10 Tapak Naga. Ilmu itu dulunya berjumlah 28. Ratusan tahun yang lalu, tetua Kay Pang (perkumpulan pengemis) yang bernama Siau Hong meringkas ilmu itu menjadi 18 jurus. Sedangkan 10 yang tersisa melebur ke dalam yang ke 18 itu. Tak ada seorang pun yang tahu bagaimana rupa asli dari 10 jurus yang dilebur itu. Sampai kemudian,beberapa tahun lalu Gan-siauya menggunakannya dalam perebutan Bu Lim Beng Cu di puncak Thay-San. Kesepuluh jurus ini adalah jurus maha dahsyat yang terbuang percuma, karena tetua Siau Hong saat itu belum benar-benar memecahkan inti rahasia kesepuluh jurus ini.

Tetapi Gan Siau Liong berhasil memecahkannya. Inti dari 18 Tapak Naga adalah pengerahan kekuatan maha dahsyat untuk menyerang musuh. Inti dari 10 tapak yang tersisa adalah bagaimana menggunakan tenaga lawan untuk digabungkan dengan tenaga sendiri untuk menyerang lawan.

Cio San dulu berhasil melakukan hal ini dengan menggabungkan 18 Tapak Naga dan Thay Kek Kun. Itu pun ia hanya menguasai 3 jurus pertama dari jurus 18 Tapak Naga. Tetapi Cio San sebenarnya telah mampu memecahkan rahasia tersembunyi di balik 18 Tapak Naga. Selain tenaganya yang sangat-sangat dahsyat untuk menghancurkan, ilmu ini sebenarnya bisa digabungkan dengan ilmu tenaga ‘lembut’ yang akan menambah kedahsyatannya.

Oleh karena itu Gan Siau Liong sama sekali tidak terluka walaupun ia terhempas lumayan jauh. Justru keadaan si cebol yang sangat berbahaya. Agar mempertahankan dirinya supaya tidak terlempar ke laut, si cebol mengeluarkan tenaga yang lebih dahsyat untuk menahan gerakannya. Hal ini mengakibatkan tenaganya sendiri saling beradu, apalagi ditambah dengan tenaga serangan Gan Siau Liong. Keadaannya sebenarnya memprihatinkan.

Tapi ia tampak tenang-tenang saja, meskipun ia terlihat sangat pucat karena menahan sakit. Sebisa mungkin ia tidak bersuara agar tenaganya tidak terbuang percuma. Dengan mata merah, ia memandang Gan Siau Liong penuh kebencian. Tubuhnya bergetar menahan perihnya luka dalam yang ia hadapi.

Ingin rasanya ia pergi dari situ karena pemenangnya sudah dapat ditentukan. Dalam satu kali gebrakan saja si cebol ini mungkin akan menderita lebih parah. Tetapi peraturan yang disepakati mengatakan bahwa pemenang baru akan ditentukan saat seseorang jatuh ke laut atau mati. Bukan terluka!

Maka dari itu dengan tidak ragu-ragu, pemuda itu membumbung tinggi untuk menyudahi pertarungan itu. Ia melayang dengan indah. Mata semua orang yang berada di sana terbelalak dalam kekaguman. Seolah-olah sedang melihat seorang dewa maha tampan yang melayang turun dari khayangan. Gerakan melayang ke atas ini dilakukan dengan sangat anggun, sepertinya seluruh dunia bergerak dengan sangat lambat mengikuti gerakan pemuda tampan ini. Rambutnya tertiup angin, membuat wajahnya semakin terlihat mengagumkan.
Lalu ia melayang turun. Sebuah hujaman tendangan yang dilakukan amat sangat cepat! Begitu berbeda dari gerakan melayang naiknya yang perlahan, anggun, dan mempesona, tendangan ini justru sebaliknya. Cepat, ganas, dan menakutkan!

Gerakannya menghujam deras! Bagaikan naga yang meluncur turun dengan kecepatan dan tenaga penuh. Terlihat cahaya berkilauan dari tubuh dan matanya. Seperti petir yang menyambar-nyambar! Belum pernah seorang pun melihat cahaya yang berkilauan yang keluar dari mata manusia. Ia seperti dewa naga!

Sangat menakutkan! Sangat mengagumkan!

Angin menderu-deru menimbulkan gelombang yang membuat kapal bergoyang-goyang. Angin yang keluar hanya dari gerakan melayang si pemuda tampan ini!

Si cebol sudah tak dapat bergerak, ia hanya menerima serangan itu dengan pasrah. Tendangan yang datang sudah tak mampu dihindari atau dihentikan.
Lalu si cebol ini bergerak. Gerakannya justru lebih cepat dari gerakan Gan-siauya!

Tetapi ia bergerak ke samping, dan tidak menerima serangan itu dari depan. Tak ada seorang pun yang menyangka dibalik sikapnya yang seperti telah menerima kematian, si cebol ini rupanya menyimpan tenaga yang amat sangat besar!

Rupanya ia berpura-pura terluka.

Ia sama sekali tidak terluka. Tenaga besar yang tadi menghujam tubuhnya, rupanya mampu dikendalikannya dan dimanfaatkannya dengan baik. Ia sepertinya menguasai sebuah ilmu yang mampu menyerap tenaga dan mengalirkannya.

Dulu pula, Cio San berhasil melakukannya dengan menggabungkan ilmu menghisap matahari dan Thay Kek Kun. Tetapi ilmu si cebol itu bukan gabungan kedua ilmu itu. Ilmunya jauh lebih penuh rahasia, jauh lebih menakutkan, karena dilakukan bersamaan dengan tipu daya.

Gerakan ke sampingnya membuka peluang baginya untuk menyerang bagian paha Gan Siau Liong yang terbuka. Dan itulah yang dilakukannya! Telapak tangannya menghujam ke paha Gan Siau Liong tanpa ampun. Pemuda itu terlontar ke samping!

Tapi ia tidak kehilangan akal. Dengan kaki satunya, ia mengait ketiak si cebol, dan dengan menggunakan tenaga dorongan hasil dari serangan si cebol sendiri, ia melontarkan si cebol jauh ke atas!

Tubuh Gan Siau Liong sendiri menghujam ke barisan prajurit lalu lanjut menghantam pagar anjungan. Terdengar raungan beberapa prajurit yang tulangnya hancur dan patah-patah karena tertabrak tubuh Gan Siau Liong.

Tulang pahanya patah, dan ia terluka dalam. Dengan tenaga yang tersisa, ia berpegangan di ujung haluan kapal. Si cebol sendiri melayang ke atas, dan tanpa ampun terhempas ke laut!

Menurut peraturan yang disepakati, Gan Siau Liong lah pemenangnya.

Sejak awal, Gan Siau Liong sudah curiga bahwa si cebol memiliki ilmu yang aneh. Karena itu ia sengaja menggunakan ilmu-ilmu terdahsyatnya agar si cebol terpancing juga mengeluarkan ilmunya yang sebenarnya. Ketika pertama kali ia terhempas saat tendangannya tertangkis si cebol, ia sudah curiga bahwa si cebol ini memiliki sejenis ilmu untuk mengalihkan tenaga.

Di serangannya yang kedua, ia tahu bahwa ia tidak boleh beradu tenaga dengan si cebol ini. Sebab itu, ia memancing dengan menggunakan tendangannya yang paling sakti. Ia menyangka si cebol akan menerima tendangannya dengan telapak pula, sehingga dengan begitu si cebol akan mampu menyerap tenaganya. Jika itu yang dilakukan si cebol, Gan Siau Liong sudah menyiapkan sebuah ilmu lain untuk menghadapi tipu daya itu. Tetapi si cebol justru bergerak di luar dugaan. Ia malah memilih bergerak ke samping dan menyerang paha Gan Siau Liong.

Hal ini dilakukan si cebol karena ia sendiri tidak yakin dengan kemampuannya menyerap tenaga maha dahsyat itu. Bisa jadi Gan Siau Liong mempersiapkan serangan yang lain. Kekhawatiran si cebol itu terbukti, karena memang Gan Siau Liong sudah menyiapkan sebuah serangan yang lain. Pengalamannya dalam bertanding ribuan kali memberikannya naluri untuk membaca serangan tipuan. Oleh karena itu ia bergerak ke samping untuk menyerang daerah kosong.

Satu-satunya kesalahan si cebol adalah bahwa ia tidak menyangka Gan Siau Liong akan bergerak cepat mengikuti perubahan, dan melahirkan ide untuk mengait dirinya dan melemparkannya ke laut!

Adu tenaga ia tidak kalah. Tetapi adu pintar, ia kalah setengah langkah.

Ia sama sekali tidak terluka. Justru Gan Siau Liong lah yang terluka sangat parah. Tulang pahanya remuk. Tetapi sesuai peraturan, Gan Siau Liong lah pemenangnya.

“Prajurit, bunuh Gan Siau Liong, dan serang kapal itu!” perintah laksamana Bu Sien.

Tetapi tidak ada seorang pun yang berani bergerak. Karena tahu-tahu di situ sudah muncul sesosok laki-laki yang berpakaian putih, rambutnya kemerahan-merahan. Tangannya buntung.

“Siapa yang berani bergerak, silahkan maju lebih dulu,”

Ia tidak bergerak. Hanya diam mematung. Tetapi hawa kematian memenuhi sekitar kapal dengan sangat pekat. Para prajurit ini sudah sering berperang, dan dekat dengan kematian. Oleh karena itu mereka mengenal hawa kematian dengan baik. Mereka amat sangat mengenal kematian. Dan laki-laki bertangan buntung di hadapan mereka ini adalah ‘kematian’.

Gerakannya amat tenang, padahal ada ratusan prajurit terlatih yang sedang mengepungnya.

“Bodoh! Ayo serang!” bentak sang laksamana.

“Jangan bergerak!” terdengar suara seorang perempuan mencegah para prajurit untung bergerak. Perempuan itu sendiri malah maju ke depan ke hadapan lelaki buntung itu.

“Lian-ji! (anak Lian)” seru sang laksamana. Nona cantik ini ternyata adalah anaknya.

Si nona tidak memperdulikan ayahnya, ia justru bertanya pada si lelaki buntung, “Apakah cayhe (saya) berhadapan dengan Suma-tayhiap yang namanya menggetarkan dunia?”

“Dengan siapa saya sedang berbicara?” tanya lelaki buntung itu tenang dan lirih.

“Nama cayhe (saya) adalah Bu Cin Lian, cayhe adalah murid perguruan Tian Kiam(Pedang Langit),” jelas nona cantik itu. Jika kejadian ini terjadi di masa lampau, lelaki buntung ini pasti akan mengajak nona itu duel pedang. Tetapi lelaki ini telah jauh berubah. Ia bukan lagi seorang laki-laki yang haus kemulian dan menggilai pedang. Ia hanyalah seorang laki-laki. Seorang laki-laki sejati.

“Maafkan ayah cayhe yang tidak mengerti peraturan dunia kang ouw (dunia persilatan), untuk selanjutnya, harap Suma-tayhiap membawa Gan-bengcu (ketua Gan) pergi dengan aman. Kami berjanji untuk tidak mengganggu lagi. Mohon maaf atas kesalahpahaman ini,” nona itu menjura dan tersenyum dengan sopan. Begitu ia mengangkat kepala, laki-laki buntung itu telah menghilang dan membawa Gan-siauya bersamanya. Tak ada seorang pun yang tahu kapan ia bergerak.

Si cebol sudah kembali naik ke kapal dengan basah kuyup. Dengan wajah memerah ia berlalu dari situ tanpa memperdulikan sang laksamana yang marah-marah kepadanya.

Kapal kekaisaran itu pun tak lama sudah menghilang dari sana.

Suma Sun kini berada di bilik Cio San, bersama Kao Ceng Lun. Tabib wanita yang cantik sedang merawat luka Gan Siau Liong. Cio San rupanya tidak tidur, ia membuka matanya lebar-lebar dan menatap langit-langit kapal.

“Dari ceritamu tentang pertandingan tadi, Gan-bengcu (ketua Gan) telah melakukan pengorbanan yang amat sangat besar,” rupanya Cio San mengikuti jalannya pertarungan dengan cara mendengar cerita Suma Sun.

“Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” tanya Suma Sun.

“Untuk sementara, carilah tempat kita bisa menyepi sementara dan memulihkan luka, dengan keadaan sekarang kita tak dapat bertahan lebih lama,” jawab Cio San.

“Ke istana Ular?” tanya Suma Sun lagi.

“Hua-moay (adik Hua, maksudnya Ang Lin Hua, istri Suma Sun) berada di sana?”

Suma Sun mengangguk.

“Sebaiknya jangan, kita justru akan membawa bahaya yang lebih besar,” kata Cio San.

“Aku punya ide yang lebih baik,” sahut Kao Ceng Lun.

“Di mana?” tanya Cio San dan Suma sun hampir bersamaan.


“Di istana kaisar,”

Sunday, October 12, 2014

EPISODE 2 BAB 34 LAYANG-LAYANG MERAH



Jika kematian datang, mereka pasti menghadapinya dengan senyuman. Cio San tersenyum. Sekilas Suma Sun memandang sahabatnya ini. Ia tersenyum pula. Harapannya akan kehidupan telah sirna. Jika bisa hidup bersama dengan bahagia, tentu mati bersama akan bahagia pula. Karena inilah Suma Sun tersenyum pula.

Ia mementang tangannya lebar-lebar, menyambut panah-panah yang tak terhitung jumlahnya ini. Tetapi begitu ia mengikhlaskan kematian, panah-panah itu justru berhenti. Karena entah dari mana sebuah perahu kecil telah melayang jatuh di depannya. Telinganya telah mendengar datangnya, ia berharap yang datang itu adalah sebuah senjata yang akan mengantarkan kematian, tetapi yang datang justru sebuah perahu yang berfungsi sebagai tameng.

“Kim Ie Wei datang, semua takluk!” terdengar teriakan menggema.

Seseorang menarik Suma Sun dan Cio San pergi dari situ. Di leher orang itu terdapat panah yang menancap. Darah mengalir di sekujur tubuhnya. Tetapi orang ini tetap bertahan. Ia datang bersama perahu yang melayang itu. Kao Ceng Lun!

“Mari kita pergi, kakak sekalian. Pasukanku akan menahan mereka!”

Suma Sun menggapit Cio San di ketiaknya. Kao Ceng Lun menggunakan perahu sebagai tameng. Mereka semua melompat ke belakang. Tak jauh dari sana terdapat sungai kecil. Ketiga orang ini melompat ke sana dengan menggunakan perahu sebagai tameng.

“Byurrrr!”

Di kegelapan malam, mereka menceburkan diri ke dalam sungai. Perahu itu melindungi mereka dari hujaman panah, saat mereka menyelam dibawahnya. Dengan semangat yang membara mereka berenang sampai jauh. Saat tidak terdengar lagi suara panah menancap di atas perahu.

Saat dirasa telah aman, mereka memanjat naik.Kondisi Kao Ceng Lun sangat parah, tetapi ia masih memiliki kekuatan tersisa. Suma Sun jauh lebih baik darinya. Cio San sudah kaku. Wajahnya pucat membiru.

Suma Sun menahan air matanya. Kao Ceng Lun tak bisa berkata apa-apa. Di tengah sungai yang sunyi ini, menatap kawan terbaik meregang nyawa, bukanlah sebuah peristiwa yang bisa diabaikan begitu saja.

“Bagaimana lukamu?” tanya Suma Sun kepada Kao Ceng Lun.

“Cukup parah....” jawab pemuda itu terbata-bata, “Tetapi tidak mengenai urat penting....”

Suma Sun mengangguk.

Ia hendak memeriksa luka itu ketika terdengar sebuah suara.

“Ah..”

Terdengar suara lenguhan. Cio San masih hidup!

Suma Sun memeriksa panah itu. Panah itu menancap di dada Cio San. Tetapi sebelumnya panah itu menancap pula di sebuah kitab yang lumayan tebal. Kitab Bu Bhok! Dengan penuh harapan, Suma Sun menyalurkan tenaga dalam ke tubuh Cio San. Ia pun menekan beberapa titik di tubuh Cio San. Saat hal itu dilakukan, terlihat air sungai menyembur dari mulut dan hidungnya. Bercampur dengan darah.

Cukup lama ia menyalurkan tenaganya sampai terlihat tubuh Cio San mulai memerah dan menghangat. Bagitu dirasanya cukup, Suma Sun menghentikan penyaluran tenaga itu. Ia memeriksa nadi di pergelangan tangan Cio San. Detaknya sangat lemah dan kacau. Tetapi setidaknya sahabatnya itu masih hidup!

Alangkah luar biasanya kebahagiaan Suma Sun saat itu.

Kao Ceng Lun pun terlihat sangat lega. Mereka tidak berani mencabut panah di dada Cio San karena khawatir justru akan melukai lebih parah. Giliran Suma Sun memeriksa luka Kao Ceng Lun. Setelah meneliti dengan seksama dengan sentuhan-sentuhan jarinya, Suma Sun baru yakin bahwa luka itu memang benar-benar tidak akan meenggut nyawa sahabat mudanya itu.

“Kau sangat beruntung. Jika panah ini tepat pada sasaran, urat besarmu akan putus dan kau akan mati seketika,” ia lalu menotok beberapa titik di tubuh Kao Ceng Lun. Setelah itu dengan hati-hati ia mencabut panah itu.

Suma Sun lalu mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik bajunya. Botol kecil itu berisi obat yang ampuh. Umumnya setiap orang Kang Ouw memang membawa perlengkapan seperti ini. Obat berupa bubuk itu diteteskan di luka Kao Ceng Lun. Tak berapa lama wajah Kao Ceng Lun yang pucat itu pun berangsur-angsur memerah. Ia telah lolos dari maut.

Entah kemana perahu ini membawa mereka. Tak ada dayung, tak ada layar. Seperti juga nasib manusia yang selalu terombang-ambing gelombang takdir, ketiga orang ini benar-benar menggantungkan diri kepada suratan takdir.

Tak jauh dari sana, sebuah kapal mewah mendekat. Kapal ini tidak begitu besar. Tetapi terlihat sangat mewah. Sebuah bendera penanda kapal berkibar di tiang layarnya. Sebuah bendera polos berwarna merah!

Pemilik kapal itu sedang berdiri di anjungan. Ia memakai jubah berwarna merah pula. Di sekelilingnya ada beberapa gadis maha cantik yang berdiri menatap pula. Siapapun yang melihatnya, pasti akan mengenal siapa orang ini.

Dialah Bu-Lim bengcu (ketua dunia persilatan), Gan-siauya (tuan muda Gan).
Setelah Beng Liong meninggal, jabatan ketua dunia persilatan menjadi tanggung jawabnya, sebagai orang yang dikalahkan Beng Liong.

“Apakah cayhe sedang berhadapan dengan Suma-tayhiap?” terdengar suara Gan-siauya. Ia berkata sangat pelan, tetapi suara itu terdengar sangat jelas.
Suma Sun hanya mengangguk.

“Kedua orang yang terluka itu membutuhkan pertolongan. Harap tayhiap sudi naik ke kapal kecil kami untuk menerima sedikit perawatan,” kata Gan-siauya sopan.

Setelah berpikir sebentar, Suma Sun akhirnya mengangguk lagi. Perahu kecil mereka sebenarnya sudah banyak memiliki bocor kecil di mana-mana akibat panah. Tak berapa lama seluruh perahu ini akan tenggelam sepenuhnya. Mendapatkan pertolongan yang tak diduga-duga ini, sungguh hati Suma Sun sangat berbahagia.

Kao Ceng Lun yang masin memiliki sedikit sisa tenaga, membopong Cio San dengan hati-hati. Mereka lalu melompat ke atas kapal dengan sisa tenaga mereka. Begitu mendarat, mereka disambut oleh nona-nona cantik itu. Nona-nona itu sangat sigap dalam memberi pertolongan. Mereka membawa Cio San ke sebuah kamar perawatan khusus.

Suma Sun dan Kao Ceng Lun menjura dan berterima kasih.

“Ji-wi enghiong (dua orang satria) tidak perlu sungkan. Hal ini sudah merupakan kewajiban cayhe. Harap ji-wi enghiong beristirahat. Kamar sudah disiapkan. Tetapi harap maklum, kapal ini kecil sehingga ji-wi enghiong terpaksa harus berbagi tempat dalam satu kamar,” kata Gan-siauya.

“Aih mana berani kami menolak. Bengcu (ketua) mau menampung kami saja, sudah merupakan hal yang sangat membahagiakan,” sahut Suma Sun penuh terima kasih.

Salah seorang nona lalu mengantarkan mereka ke sebuah kamar. Walaupun kecil, kamar ini sangat nyaman dan mewah. Tak berapa lama, hidangan berupa makanan mewah, dan dua mangkuk obat-obatan sudah dihantarkan pula.

“Betapa teliti bengcu kita ini. Semua makanan ini sangat enak, tetapi sangat bergizi dan bukan merupakan pantangan kepada luka-luka kami. Bahkan ia pun mengantarkan ramuan obat yang sangat mujarab. Sampaikan salam hormat kami kepada majikan anda,” kata Suma Sun kepada si nona yang sedang membereskan piring dan mangkok bekas makan mereka.

Nona itu tersenyum menggoda. “Siauya (majikan) kami juga memerintahkan, apa saja yang tuan-tuan butuhkan, kami nona-nona ‘kecil’ ini harus menurut,” perempuan cantik dan bahenol, jika sudah mengaku akan menurut semua perkataanmu, hal lain apa lagi yang bisa kau bayangkan?

“Terima kasih. Untuk saat ini, kami hanya butuh istirahat. Bantuan dan perhatian nona amat sangat berarti bagi kami. Eh, apakah saudara kami yang terluka berat ini, ada di kamar sebelah?”

“Benar sekali tuan. Saat ini Cio-hongswe sedang dirawat tabib kami. Jika sudah selesai, ia akan menjelaskan semuanya kepada tuan. Harap bersabar,” jelas si nona sambil tersenyum ramah.

Suma Sun mengangguk dan berterima kasih.

“Ji-wi enghiong (kedua tuan pendekar) beristirahatlah, hamba berada di depan. Jika sewaktu-waktu butuh, silahkan ketuk pintu kamar ini saja. Ini ada baju bersih yang bisa ji-wi berdua pakai,” ia lalu meminta diri.

“Berada di depan? Apakah mereka menawan kita?” bisik Kao Ceng Lun lemah. Suma Sun tidak berkata apa-apa. Di dalam suasana seperti ini, semua orang bisa menjadi musuh. Bahkan diri sendiri pun bisa menjadi musuh. Ia menggenggam pedangnya erat-erat. “Kau beristirahatlah, Lun-te (adik Lun).”
“Sun-ko (kakak Sun) saja yang beristirahat. Lukaku tidak parah,”

“Lukaku justru jauh lebih tidak parah. Sudahlah ayo istirahat,” tukas Suma Sun.

Kao Ceng Lun tidak berani membantah. Ia lalu menutup mata dan bersemedi memulihkan luka di lehernya. Makanan bergizi dan semangkuk ramuan berkhasiat yang tadi ia santap, bekerja sangat baik dalam memulihkan tenaga dalamnya. Ia yakin dalam dua atau tiga hari, lukanya akan sembuh sepenuhnya.

Suma Sun pun bersemedi memulihkan luka-lukanya. Ada beberapa panah yang sempat menancap di tubuhnya. Panah-panah ini beracun. Tetapi bukanlah racun yang amat sangat berbahaya seperti racun-racun para ahli silat umumnya. Dengan obat-obatan yang ia bawa sendiri, serta kekuatan tenaga dalamnya, racun-racun ini dapat dipunahkan seluruhnya.

Hari beranjak pagi. Seseorang mengetuk pintu. “Silahkan,” jawab Suma Sun.

Ternyata si nona yang semalam menjaga pintu depan, “Tuan, tabib kami hendak masuk dan berbicara sebentar,”

“Oh, mari silahkan masuk,”

Tabib yang masuk adalah seorang wanita yang amat cantik pula. Umurnya tidak begitu muda, mungkin belum sampai 35. Wajahnya menggambarkan wibawa, dan pembawaan yang halus. Mengisyaratkan bahwa ia wanita yang berpendidikan, dan cerdas.

Suma Sun menjura memberi hormat. Wanita itu pun membalas, “Perkenalkan, nama cayhe Peng Lin. Cayhe yang merawat luka Cio-hongswe.”

“Bagaimana keadaannya Lin-siansing?”

“Aih, sebutan siansing terlalu berat. Harap memanggil nama saja. Tayhiap (pendekar) jangan terlalu sungkan,” katanya sambil tersenyum. Lanjutnya, “Keadaan Cio-hongswe sudah membaik. Ia sangat beruntung karena panah tidak sampai menembus jantungnya. Sebuah kitab tebal secara kebetulan menahan laju panah itu. Sehingga panah itu tidak menembus jantungnya,”

“Aih, syukurlah,” kata Suma Sun penuh bahagia.

“Tetapi, walaupun penuh itu tidak menembus jantungnya, panah itu sedikit melukai jantungnya. Goresan ini tidak dalam dan hanya kecil saja. Namun karena luka itu berada di jantung, maka hasilnya sangat berbahaya. Cio-hongswe tidak boleh banyak bergerak, dan harus beristirahat total selama satu tahun. Bahkan turun dari tempat tidur saja tidak boleh. Jika tidak luka ini bisa membesar, dan akan menyebabkan kematian,” jelas Peng Lin.

Bagi seorang ahli silat, tidak boleh bergerak selama satu tahun adalah penderitaan yang amat sangat besar. Suma Sun amat sangat paham masalah ini,

“Apakah maksud Lin-ci (kakak perempuan Lin), ia sudah tak dapat bersilat lagi?”

“Untuk hal ini, cayhe tidak berani memutuskan. Harus melihat tingkat kesembuhan Cio-hongswe. Jika lukanya bisa pulih sepenuhnya, mungkin saja Cio-hongswe bisa kembali berlatih silat. Tetapi jika boleh jujur, luka seperti ini akan amat sangat membatasi seseorang. Pengerahan tenaga yang besar, bisa membuat lukanya terbuka lagi, dan justru akan mendatangkan bahaya yang lebih besar,”

Suma Sun mengangguk paham. “Bolehkah cayhe menjenguknya?”
“Tentu saja. Tetapi Cio-hongswe masih belum sadar. Dan ia tidak boleh dibuat letih dulu,” jelas tabib cantik ini.

“Cayhe mengerti. Terima kasih sekali atas pertolongan Lin-ci. Sampaikan pula terima kasih cayhe kepada bengcu,” kata Suma Sun sambil menjura. Ia lalu bergegas ke kamar Cio San. Di depan pintu kamar itu, ada dua orang nona sedang berjaga.

“Biarkan, Suma-tayhiap masuk,” kata Peng Lin. Kedua penjaga ini lalu memberi jalan, dan membukakan pintu, “Silahkan.”

Suma Sun masuk. Dilihatnya sahabatnya itu sedang berbaring lemah tak berdaya. Tubuhnya sudah tidak lagi dingin. Malahan terasa hangat seperti orang sedang demam. Hampir saja Suma Sun menumpahkan air mata ketika terdengar suara lemah,

“Kau belum mampus?”

Suma Sun terperangah, namun ia segera menjawab sambil tertawa, “Kau sendiri belum mampus, masakan aku mampus lebih dulu?”

Cio San tersenyum, tetapi matanya masih terpejam. “Kau istirahatlah,”

Dirinya sendiri terluka amat parah, tetapi masih memikirkan orang lain. Air mata Suma Sun menderai saat mendengarkan ini. “Kata tabib, kaulah yang harus istirahat selama satu tahun tidak boleh bergerak. Ingin ku lihat tampangmu apa masih bisa menggoda orang,” kata Suma Sun sambil tersenyum tetapi air matanya terus mengalir.

Si tabib masuk ke kamar, ia tidak menyangka Cio San akan sadar secepat itu, dan masih sanggup bercanda pula. “Hongswe, mohon istirahat dan tidak banyak bicara dulu. Luka Hongswe masih harus dipulihkan,” kata si tabib cantik.

Cio San tersenyum, “Terima kasih siansing,”

Sebenarnya si tabib cantik ingin membantah sebutan siansing ini, tetapi ia memilih diam agar Cio San dapat beristirahat. Ia lalu meramu beberapa ramuan yang berada di atas sebuah meja kecil di sebelah tempat tidur.
“Kita berada dimana?” tanya Cio San.

“Aih, hongswe, mohon istirahat dulu,” terdengar seruan tidak senang dari si tabib cantik. Mendengar ini, Suma Sun tersenyum, ia mendekatkan kepala lalu berbisik kepada Cio San, “Ada perempuan cerewet di sini yang mengurusimu. Ku kira hidupmu ke depan tidak akan tenang,”

Cio San menahan tawa sekuat mungkin, melihat ini si tabib cantik berseru pula, “Suma-tayhiap, mohon maaf, cayhe harus meminta tayhiap untuk keluar. Perawatan masih belum selesai. Dan cayhe memohon dengan sangat agar tayhiap tidak berkata atau melakukan apa-apa yang bisa berbahaya bagi kepulihan, Cio-hongswe,”

Suma Sun mengangguk dengan penuh hormat, lalu meminta diri. Senyum masih menganmbang di pipinya, tetapi entah kenapa, air matanya justru mengalir lebih deras.

Ia paham betul dengan kenyataan bahwa Cio San bisa kehilangan seluruh kemampuan silatnya. Dan ia tahu pula, Cio San mungkin akan tetap senang hidup dengan keadaan seperti itu. Justru hal inilah yang membuatnya semakin terharu. Ia paham betul sifat sahabatnya ini. Betapa besar kecintaan Cio San dengan kehidupan, dengan manusia, dengan alam.

Dengan segala bahaya besar yang harus Cio San hadapi, hidup tanpa kemampuan ilmu silat hanyalah akan mengantarkan neraka kepadanya. Tetapi Suma Sun sendiri sudah bertekad, selama hidpunya ia akan melindungi Cio San.

Persahabatan yang dalam selalu mengharukan. Karena di dalam penderitaanlah makna sebenarnya dari persahabatan itu sungguh berarti. Berapa banyak orang yang beruntung mengalaminya?

Suma Sun kembali ke kamarnya. Kao Ceng Lun terlihat amat segar, dan luka di lehernya terlihat sudah mulai mengering. “Bengcu mengundang kita makan pagi,” kata Ceng Lun. Suma Sun mengangguk, “Mari.”

Hidangan sudah tersedia. Hidangan mahal namun sangat bergizi dan berkhasiat bagi pemulihan. Tidak gampang membuat makanan seperti ini, karena pada umumnya makanan enak itu tidak bergizi. Dan makanan bergizi itu tidak selezat makanan ‘enak’.

“Ah, ji-wi enghiong sudah datang. Mari...mari..!” kata Gan-siauya (tuan muda Gan) ramah.

Mereka duduk lalu menikmati hidangan. Sambil mengobrol ringan tentang kehidupan sehari-hari. Gan-siauya sama sekali tidak bertanya-tanya tentang kejadian yang baru saja mereka alami. Seolah-olah kejadian ini tidak penah terjadi.

Setelah makan ia menjamu kedua tamunya itu dengan nyanyian dan permainan khimnya yang sangat indah. Lelaki tampan dan halus ini memiliki bakat yang sangat besar dalam sastra pula. Ia bercerita tentang lukisan-lukisan yang digantung di dinding kapal. Ternyata lukisan-lukisan ini sangat mahal dan terkenal.

Lelaki yang ‘hong liu’ seperti ini amat sangat sukar ditemukan. Hong Liu berarti anggun, flamboyan, elegan. Amat sangat banyak wanita yang akan jatuh hati terhadap lelaki ‘hong liu’ seperti ini. Keanggunan Gan-siauya mungkin hanya dapat disamakan dengan Beng Liong. Dalam urusan sastra, silat, dan seni, kedua orang ini hampir setara. Ketampananannya pun hampir setara. Ilmu silatnya pun hanya beda setengah tingkat. Dilihat dari segala hal, Gan-siauya ini amat mirip dengan Beng Liong!

“Melihat betapa tinggi pemahaman bengcu (ketua) terhadap bu (ilmu silat), dan bun (ilmu sastra), dan juga kesukaan bengcu terhadap warna merah, cayhe jadi teringat seorang pendekar besar di masa lalu,” kata Suma Sun.
“Aih, siapakah yang dimaksud Suma-tayhiap?”

“Si jubah merah, Li Hiang” jawab Suma Sun.

Gan-siauya tertawa. Kao Ceng Lun bertanya, “Siapakah sebenarnya si jubah merah ini, Sun-ko? Aku pernah mendengarnya, tetapi cerita yang jelas tentang dirinya masih samar-samar,”

Gan-siauya menukas, “Li Hiang adalah seorang tokoh yang cukup terkenal puluhan tahun yang lalu. Ia mendapat julukan sebagai ‘Ji Hua Sian’, dewa pemetik bunga. Banyak orang yang menuduhnya sebagai bajingan, tetapi banyak pula yang menganggapnya sebagai seorang enghiong sejati. Konon kabarnya, seluruh wanita bertekuk lutut di bawah senyumannya, dan banyak pula pendekar yang bertekuk lutut di bawah pedangnya. Suma-tayhiap membandingkan cayhe (saya) dengan beliau adalah seperti membandingkan langit dengan bumi,” tawanya.

“Sungguh bukan maksud cayhe untuk membandingkan, apalagi menghina bengcu dengan membandingkan bengcu dengan seorang ‘pemetik bunga’ (playboy, pemerkosa). Tetapi cayhe pernah bertemu sendiri dengan beliau, dan beliau jauh dari sangkaan orang. Beliau sangat baik, setia kawan, tahu balas budi, dan amat sangat tinggi ilmu silatnya.”

Gan-siuya hanya tertawa, “Ah, tayhiap jangan sungkan. Sama sekali cayhe tidak tersinggung. Malahan cayhe merasa sangat tersanjung. Tetapi masih butuh ratusan tahun bagi cayhe, untuk dapat menyamai nama beliau, mari bersulang untuk beliau,” ia mengangkat cawan araknya tinggi-tinggi.

Suma Sun dan Kao Ceng Lun pun melakukan hal yang sama, “menjura,”

Kao Ceng Lun lalu bertanya, “Sun-ko ceritakanlah tentang si jubah merah ini, aku sungguh tertarik,”

Kata Suma Sun, “Aku bertemunya saat aku masih kecil. Itu kejadian lama yang pahit dan sangat ingin kulupakan. Saat itulah di mana ayah dan ibuku terbunuh. Aku benar-benar tidak ingin bercerita. Tetapi satu hal yang kujamin, Si jubah merah adalah seorang kuncu. Seorang laki-laki sejati,”

Kao Ceng Lun hanya bisa mengangguk-angguk dengan perasaan tidak enak karena melihat bayangan kesedihan di wajah Suma Sun. Sejak tadi ia ingin menanyakan sebuah hal yang sangat menarik perhatiannya. Sebuah layang-layang besar yang tergantung di dinding.

Layang-layang besar berwarna merah!

“Bengcu suka bermain layang-layang?” tanyanya.

“Ah ya. Suka sekali. Aku mempunyai simpanan layang-layang yang amat sangat banyak di gudang kapal. Bahkan di seluruh tionggoan, orang mengenalku sebagai penggemar layang-layang kelas wahid. Ha ha ha, “ tawanya. Lanjutnya, “eh, marilah kita bermain. Ku tunjukkan sebuah hal yang menarik.”

Mereka bertiga bergegas keluar. “Yong-ji, terbangkan layangan. Angin sedang bagus, cuaca cerah. Mari bermain,” perintah Gan-siauya kepada salah seorang dayang-dayangnya.

“Baik, siauya,” si nona menjawab dengan penuh semangat.

Layangan sudah terbang. Tinggi sekali. Senyum di wajah  Gan-siauya seperti senyuman anak kecil yang menemukan mainan kesenangannya. “Nah, kita memasuki bagian yang seru,” sambil berkata begitu, tubuhnya melayang, kakinya menginjak benang tipis layangan itu. Lalu menggunakan benang tipis itu, ia mendaki ke atas langit. Jauh sekali. Ilmu meringankan tubuh yang ia pertontonkan ini sungguh sangat sukar dibayangkan. Bahkan benang layangan itu tidak bengkok karena berat tubuhnya. Tetap lurus mengambang diangkasa seperti tak ada apa-apa.

Suma Sun dan Kao Ceng Lun berdecak kagum melihat pertunjukan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sangat hebat itu.

“Ji-wi tayhiap naiklah kemari,” Gan-siauya mengirimkan suara dari atas langit. Suara itu datang degan jelas padahal ia berada jauh di atas langit bersama layang-layangnya yang terlihat bagai sebuah titik kecil di angkasa.

Ajakan ini sebenarnya adalah ‘tantangan’ untuk mempertunjukkan tingkat tingginya ginkang seseorang. Suma Sun tentu saja tidak tertarik kepada ‘tantangan’ ini, tetapi ia tertarik merasakan bagaimana rasanya menunggang layangan.

Tubuhnya pun sudah melesat ke atas. Tidak kalah ringan, dan tidak kalah cepat. Ginkang Suma Sun memang tidak pernah kalah ringan, dan tidak pernah kalah cepat oleh siapa pun. Tak berapa lama tubuhnya pun telah berubah menjadi sebuah titik di angkasa.

Layang-layang adalah sebuah benda yang sangat tipis yang terbuat dari bambu dan kertas. Jika layang-layang itu tetap dapat terbang dengan bebas di angkasa padahal di saat yang sama ada 2 orang lelaki dewasa berdiri di atasnya, berarti bukan layang-layang itu yang hebat, melainkan kedua orang laki-laki itulah yang hebat.

Di atas sana, angin terdengar sepoi-sepoi. Suara keramaian manusia pun hanya terdengar sayup-sayup. Manusia terasa begitu kecil dan tak berarti.
“Bagaimana, Suma-tayhiap? Seru bukan?” kata Gan-siauya sambil tertawa senang.

“Menarik. Amat sangat menarik! Walaupun aku buta dan tak dapat melihat apa-apa, sungguh suasana di atas sini sangat menyenangkan,” sahut Suma Sun.

“Karena itulah, cayhe sangat sering melakukannya. Dari atas sini, banyak sekali manfaat dan juga ketenangan yang bisa kudapatkan,” jelas Gan-siauya.
Suma Sun mengangguk mengerti.

“Siauya sedang urusan apa ke kota ini?” tanya Suma Sun.

“Oh, kota ini adalah tempat tinggal tetapku. Aku suka suasana gemerlapnya, tetapi tetap masih bisa membawa ketenangan,”

“Oh begitu....” kata Suma Sun.

“Memangnya kenapa, tayhiap?”

“Semua kejadian ini serasa seperti di atur oleh sebuah tangan gaib yang kejam,” kata Suma Sun.

“Cayhe (aku) mengerti. Segala kejadian semalam, cyahe sudah paham. Kalian diserang oleh sebuah pasukan panah yang amat sangat terlatih. Begitu mendengar hal ini dari seorang anak buah, cayhe langsung berangkat. Untungnya, walaupun sedikit terlambat, nyawa saudara sekalian masih bisa tertolong. Saat itu cayhe tidak tahu siapa yang diserang, dan memutuskan untuk tidak ikut campur dahulu sebelum mengetahui duduk permasalahan. Pasukan yang terlatih seperti itu, sangat menakutkan. Cayhe khawatir bahwa pasukan ini adalah pasukan khusus kerajaan,” jelasnya.

“Cayhe masih belum tahu pasti,” kata Suma Sun. “Pasukan seperti ini bisa dilatih siapa saja, asalkan mempunyai dana dan pengetahuan yang sangat kuat,”

“Apakah mereka mencari kitab Bu Bhok?”

“Mungkin saja. Sekarang kitab ini sudah menjadi incaran siapa saja. Kitab ini sekarang berada pada bengcu, bukan?” tanya Suma Sun.

“Ya benar. Saat panah dicabut dari dada Cio-hongswe, buku ini berhasil diselamatkan pula. Untunglah buku ini dilapisi sejenis lilin sehingga tahan air. Apakah tabibku menjelaskan bahwa buku ini berada padaku?”

“Tidak. Cayhe hanya menebak saja. Pastinya sudah berada pada bengcu, karena cayhe tidak menemukan buku itu di kamar Cio San. Cayhe harap, bengcu menyimpan buku itu dengan baik. Urusan yang akan datang kepada bengcu akan amat sangat banyak,” kata Suma Sun.

“Buku itu bukan milikku, dan tidak dipercayakan kepadaku. Cayhe (aku) hanya akan menyimpan buku itu sampai Cio-hongswe pulih. Atau jika mendapat ijin langsung dari Cio-hongswe,” kata Gan-siauya.

“Eh, Kao-tayhiap, ayo naiklah kemari,” dengan Khi-kang (ilmu pengaturan suara) nya ia memanggil Kao Ceng Lun. Ceng Lun membalas pula dengan mengirimkan suara,

“Terima kasih, cayhe takut ketinggian. Haha”

“Haha. Lucu juga Kao-enghiong. Dia apakah perwira Kim Ie Wie (pasuka Baju Sulam, pasukan elit rahasia milik kekaisaran)?” tanya Gan-siauya.

Suma Sun mengiyakan.

“Laporan dari salah satu anak buah cayhe itu, Kao-enghiong dengan gagah berani menyalakan suar (tanda cahaya, biasanya dibakar dan menyala di langit. Seperti kembang api) untuk memanggil anggota-anggotanya. Suar ini adalah suar khusus milik kesatuan Kim Ie Wie. Padahal saat itu katanya ia telah terluka oleh sebuah panah di lehernya. Saat pasukan itu berkumpul, ia lalu memerintahkan mereka menyerang pasukan pemanah, sedangkan ia sendiri menyelamatkan Suma-tayhiap dan Cio-hongswe,” kisah Gan-siauya.

“Eh, bagaimana nasib pasukan ini?” tanya Suma Sun.

“Mereka berhasil memporak-porandakan pasukan pamanah. Kelemahan pasukan pemanah memang adalah pertarungan jarak dekat. Apalagi belasan anggota Kim Ie Wie ini memiliki ilmu silat dan daya tempur yang sangat tinggi. Tak berapa lama, pasukan ini sudah kocar-kacir,”

Suma Sun mendengar penjelasan ini dengan sungguh-sungguh. Katanya, “Ini bukti bahwa mereka bukan pasukan milik pemerintah. Anggota Kim Ie Wie pasti akan menangkap salah satu dari mereka dan akan menanyakan hal ini sejelas-jelasnya. Semoga tak berapa lagi, kita bisa mendapat kabar,”

“Betul, tayhiap.”

Mereka menghabiskan waktu di atas ini untuk beberapa lama, lalu kemudian turun kembali ke kapal. Saat turun kembali Kao Ceng Lun dan beberapa nona masih berada di sana dan bercengkarama. “Bagaimana keadaan di atas sana, Sun-ko”

“Gelap. Aku kan buta,” jawab Suma Sun sambil tertawa. Yang lain ingin tertawa namun sedikit sungkan. Kata Suma Sun, “Jangan khawatir, justru karena kebutaanku ini, aku dapat melihat dan mengalami hal yang tidak bisa dirasakan oleh manusia yang sehat,” katanya tersenyum.

“Seperti apa contohnya, tayhiap?” tanya selah seorang dayang cantik yang ada di sana?

“Seperti sebuah kapal besar yang siap menyerang kemari,” senyumnya masih mengambang pula. Tapi entah dari mana, pedangnya sudah berada di tangannya.