Sunday, October 12, 2014

EPISODE 2 BAB 34 LAYANG-LAYANG MERAH



Jika kematian datang, mereka pasti menghadapinya dengan senyuman. Cio San tersenyum. Sekilas Suma Sun memandang sahabatnya ini. Ia tersenyum pula. Harapannya akan kehidupan telah sirna. Jika bisa hidup bersama dengan bahagia, tentu mati bersama akan bahagia pula. Karena inilah Suma Sun tersenyum pula.

Ia mementang tangannya lebar-lebar, menyambut panah-panah yang tak terhitung jumlahnya ini. Tetapi begitu ia mengikhlaskan kematian, panah-panah itu justru berhenti. Karena entah dari mana sebuah perahu kecil telah melayang jatuh di depannya. Telinganya telah mendengar datangnya, ia berharap yang datang itu adalah sebuah senjata yang akan mengantarkan kematian, tetapi yang datang justru sebuah perahu yang berfungsi sebagai tameng.

“Kim Ie Wei datang, semua takluk!” terdengar teriakan menggema.

Seseorang menarik Suma Sun dan Cio San pergi dari situ. Di leher orang itu terdapat panah yang menancap. Darah mengalir di sekujur tubuhnya. Tetapi orang ini tetap bertahan. Ia datang bersama perahu yang melayang itu. Kao Ceng Lun!

“Mari kita pergi, kakak sekalian. Pasukanku akan menahan mereka!”

Suma Sun menggapit Cio San di ketiaknya. Kao Ceng Lun menggunakan perahu sebagai tameng. Mereka semua melompat ke belakang. Tak jauh dari sana terdapat sungai kecil. Ketiga orang ini melompat ke sana dengan menggunakan perahu sebagai tameng.

“Byurrrr!”

Di kegelapan malam, mereka menceburkan diri ke dalam sungai. Perahu itu melindungi mereka dari hujaman panah, saat mereka menyelam dibawahnya. Dengan semangat yang membara mereka berenang sampai jauh. Saat tidak terdengar lagi suara panah menancap di atas perahu.

Saat dirasa telah aman, mereka memanjat naik.Kondisi Kao Ceng Lun sangat parah, tetapi ia masih memiliki kekuatan tersisa. Suma Sun jauh lebih baik darinya. Cio San sudah kaku. Wajahnya pucat membiru.

Suma Sun menahan air matanya. Kao Ceng Lun tak bisa berkata apa-apa. Di tengah sungai yang sunyi ini, menatap kawan terbaik meregang nyawa, bukanlah sebuah peristiwa yang bisa diabaikan begitu saja.

“Bagaimana lukamu?” tanya Suma Sun kepada Kao Ceng Lun.

“Cukup parah....” jawab pemuda itu terbata-bata, “Tetapi tidak mengenai urat penting....”

Suma Sun mengangguk.

Ia hendak memeriksa luka itu ketika terdengar sebuah suara.

“Ah..”

Terdengar suara lenguhan. Cio San masih hidup!

Suma Sun memeriksa panah itu. Panah itu menancap di dada Cio San. Tetapi sebelumnya panah itu menancap pula di sebuah kitab yang lumayan tebal. Kitab Bu Bhok! Dengan penuh harapan, Suma Sun menyalurkan tenaga dalam ke tubuh Cio San. Ia pun menekan beberapa titik di tubuh Cio San. Saat hal itu dilakukan, terlihat air sungai menyembur dari mulut dan hidungnya. Bercampur dengan darah.

Cukup lama ia menyalurkan tenaganya sampai terlihat tubuh Cio San mulai memerah dan menghangat. Bagitu dirasanya cukup, Suma Sun menghentikan penyaluran tenaga itu. Ia memeriksa nadi di pergelangan tangan Cio San. Detaknya sangat lemah dan kacau. Tetapi setidaknya sahabatnya itu masih hidup!

Alangkah luar biasanya kebahagiaan Suma Sun saat itu.

Kao Ceng Lun pun terlihat sangat lega. Mereka tidak berani mencabut panah di dada Cio San karena khawatir justru akan melukai lebih parah. Giliran Suma Sun memeriksa luka Kao Ceng Lun. Setelah meneliti dengan seksama dengan sentuhan-sentuhan jarinya, Suma Sun baru yakin bahwa luka itu memang benar-benar tidak akan meenggut nyawa sahabat mudanya itu.

“Kau sangat beruntung. Jika panah ini tepat pada sasaran, urat besarmu akan putus dan kau akan mati seketika,” ia lalu menotok beberapa titik di tubuh Kao Ceng Lun. Setelah itu dengan hati-hati ia mencabut panah itu.

Suma Sun lalu mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik bajunya. Botol kecil itu berisi obat yang ampuh. Umumnya setiap orang Kang Ouw memang membawa perlengkapan seperti ini. Obat berupa bubuk itu diteteskan di luka Kao Ceng Lun. Tak berapa lama wajah Kao Ceng Lun yang pucat itu pun berangsur-angsur memerah. Ia telah lolos dari maut.

Entah kemana perahu ini membawa mereka. Tak ada dayung, tak ada layar. Seperti juga nasib manusia yang selalu terombang-ambing gelombang takdir, ketiga orang ini benar-benar menggantungkan diri kepada suratan takdir.

Tak jauh dari sana, sebuah kapal mewah mendekat. Kapal ini tidak begitu besar. Tetapi terlihat sangat mewah. Sebuah bendera penanda kapal berkibar di tiang layarnya. Sebuah bendera polos berwarna merah!

Pemilik kapal itu sedang berdiri di anjungan. Ia memakai jubah berwarna merah pula. Di sekelilingnya ada beberapa gadis maha cantik yang berdiri menatap pula. Siapapun yang melihatnya, pasti akan mengenal siapa orang ini.

Dialah Bu-Lim bengcu (ketua dunia persilatan), Gan-siauya (tuan muda Gan).
Setelah Beng Liong meninggal, jabatan ketua dunia persilatan menjadi tanggung jawabnya, sebagai orang yang dikalahkan Beng Liong.

“Apakah cayhe sedang berhadapan dengan Suma-tayhiap?” terdengar suara Gan-siauya. Ia berkata sangat pelan, tetapi suara itu terdengar sangat jelas.
Suma Sun hanya mengangguk.

“Kedua orang yang terluka itu membutuhkan pertolongan. Harap tayhiap sudi naik ke kapal kecil kami untuk menerima sedikit perawatan,” kata Gan-siauya sopan.

Setelah berpikir sebentar, Suma Sun akhirnya mengangguk lagi. Perahu kecil mereka sebenarnya sudah banyak memiliki bocor kecil di mana-mana akibat panah. Tak berapa lama seluruh perahu ini akan tenggelam sepenuhnya. Mendapatkan pertolongan yang tak diduga-duga ini, sungguh hati Suma Sun sangat berbahagia.

Kao Ceng Lun yang masin memiliki sedikit sisa tenaga, membopong Cio San dengan hati-hati. Mereka lalu melompat ke atas kapal dengan sisa tenaga mereka. Begitu mendarat, mereka disambut oleh nona-nona cantik itu. Nona-nona itu sangat sigap dalam memberi pertolongan. Mereka membawa Cio San ke sebuah kamar perawatan khusus.

Suma Sun dan Kao Ceng Lun menjura dan berterima kasih.

“Ji-wi enghiong (dua orang satria) tidak perlu sungkan. Hal ini sudah merupakan kewajiban cayhe. Harap ji-wi enghiong beristirahat. Kamar sudah disiapkan. Tetapi harap maklum, kapal ini kecil sehingga ji-wi enghiong terpaksa harus berbagi tempat dalam satu kamar,” kata Gan-siauya.

“Aih mana berani kami menolak. Bengcu (ketua) mau menampung kami saja, sudah merupakan hal yang sangat membahagiakan,” sahut Suma Sun penuh terima kasih.

Salah seorang nona lalu mengantarkan mereka ke sebuah kamar. Walaupun kecil, kamar ini sangat nyaman dan mewah. Tak berapa lama, hidangan berupa makanan mewah, dan dua mangkuk obat-obatan sudah dihantarkan pula.

“Betapa teliti bengcu kita ini. Semua makanan ini sangat enak, tetapi sangat bergizi dan bukan merupakan pantangan kepada luka-luka kami. Bahkan ia pun mengantarkan ramuan obat yang sangat mujarab. Sampaikan salam hormat kami kepada majikan anda,” kata Suma Sun kepada si nona yang sedang membereskan piring dan mangkok bekas makan mereka.

Nona itu tersenyum menggoda. “Siauya (majikan) kami juga memerintahkan, apa saja yang tuan-tuan butuhkan, kami nona-nona ‘kecil’ ini harus menurut,” perempuan cantik dan bahenol, jika sudah mengaku akan menurut semua perkataanmu, hal lain apa lagi yang bisa kau bayangkan?

“Terima kasih. Untuk saat ini, kami hanya butuh istirahat. Bantuan dan perhatian nona amat sangat berarti bagi kami. Eh, apakah saudara kami yang terluka berat ini, ada di kamar sebelah?”

“Benar sekali tuan. Saat ini Cio-hongswe sedang dirawat tabib kami. Jika sudah selesai, ia akan menjelaskan semuanya kepada tuan. Harap bersabar,” jelas si nona sambil tersenyum ramah.

Suma Sun mengangguk dan berterima kasih.

“Ji-wi enghiong (kedua tuan pendekar) beristirahatlah, hamba berada di depan. Jika sewaktu-waktu butuh, silahkan ketuk pintu kamar ini saja. Ini ada baju bersih yang bisa ji-wi berdua pakai,” ia lalu meminta diri.

“Berada di depan? Apakah mereka menawan kita?” bisik Kao Ceng Lun lemah. Suma Sun tidak berkata apa-apa. Di dalam suasana seperti ini, semua orang bisa menjadi musuh. Bahkan diri sendiri pun bisa menjadi musuh. Ia menggenggam pedangnya erat-erat. “Kau beristirahatlah, Lun-te (adik Lun).”
“Sun-ko (kakak Sun) saja yang beristirahat. Lukaku tidak parah,”

“Lukaku justru jauh lebih tidak parah. Sudahlah ayo istirahat,” tukas Suma Sun.

Kao Ceng Lun tidak berani membantah. Ia lalu menutup mata dan bersemedi memulihkan luka di lehernya. Makanan bergizi dan semangkuk ramuan berkhasiat yang tadi ia santap, bekerja sangat baik dalam memulihkan tenaga dalamnya. Ia yakin dalam dua atau tiga hari, lukanya akan sembuh sepenuhnya.

Suma Sun pun bersemedi memulihkan luka-lukanya. Ada beberapa panah yang sempat menancap di tubuhnya. Panah-panah ini beracun. Tetapi bukanlah racun yang amat sangat berbahaya seperti racun-racun para ahli silat umumnya. Dengan obat-obatan yang ia bawa sendiri, serta kekuatan tenaga dalamnya, racun-racun ini dapat dipunahkan seluruhnya.

Hari beranjak pagi. Seseorang mengetuk pintu. “Silahkan,” jawab Suma Sun.

Ternyata si nona yang semalam menjaga pintu depan, “Tuan, tabib kami hendak masuk dan berbicara sebentar,”

“Oh, mari silahkan masuk,”

Tabib yang masuk adalah seorang wanita yang amat cantik pula. Umurnya tidak begitu muda, mungkin belum sampai 35. Wajahnya menggambarkan wibawa, dan pembawaan yang halus. Mengisyaratkan bahwa ia wanita yang berpendidikan, dan cerdas.

Suma Sun menjura memberi hormat. Wanita itu pun membalas, “Perkenalkan, nama cayhe Peng Lin. Cayhe yang merawat luka Cio-hongswe.”

“Bagaimana keadaannya Lin-siansing?”

“Aih, sebutan siansing terlalu berat. Harap memanggil nama saja. Tayhiap (pendekar) jangan terlalu sungkan,” katanya sambil tersenyum. Lanjutnya, “Keadaan Cio-hongswe sudah membaik. Ia sangat beruntung karena panah tidak sampai menembus jantungnya. Sebuah kitab tebal secara kebetulan menahan laju panah itu. Sehingga panah itu tidak menembus jantungnya,”

“Aih, syukurlah,” kata Suma Sun penuh bahagia.

“Tetapi, walaupun penuh itu tidak menembus jantungnya, panah itu sedikit melukai jantungnya. Goresan ini tidak dalam dan hanya kecil saja. Namun karena luka itu berada di jantung, maka hasilnya sangat berbahaya. Cio-hongswe tidak boleh banyak bergerak, dan harus beristirahat total selama satu tahun. Bahkan turun dari tempat tidur saja tidak boleh. Jika tidak luka ini bisa membesar, dan akan menyebabkan kematian,” jelas Peng Lin.

Bagi seorang ahli silat, tidak boleh bergerak selama satu tahun adalah penderitaan yang amat sangat besar. Suma Sun amat sangat paham masalah ini,

“Apakah maksud Lin-ci (kakak perempuan Lin), ia sudah tak dapat bersilat lagi?”

“Untuk hal ini, cayhe tidak berani memutuskan. Harus melihat tingkat kesembuhan Cio-hongswe. Jika lukanya bisa pulih sepenuhnya, mungkin saja Cio-hongswe bisa kembali berlatih silat. Tetapi jika boleh jujur, luka seperti ini akan amat sangat membatasi seseorang. Pengerahan tenaga yang besar, bisa membuat lukanya terbuka lagi, dan justru akan mendatangkan bahaya yang lebih besar,”

Suma Sun mengangguk paham. “Bolehkah cayhe menjenguknya?”
“Tentu saja. Tetapi Cio-hongswe masih belum sadar. Dan ia tidak boleh dibuat letih dulu,” jelas tabib cantik ini.

“Cayhe mengerti. Terima kasih sekali atas pertolongan Lin-ci. Sampaikan pula terima kasih cayhe kepada bengcu,” kata Suma Sun sambil menjura. Ia lalu bergegas ke kamar Cio San. Di depan pintu kamar itu, ada dua orang nona sedang berjaga.

“Biarkan, Suma-tayhiap masuk,” kata Peng Lin. Kedua penjaga ini lalu memberi jalan, dan membukakan pintu, “Silahkan.”

Suma Sun masuk. Dilihatnya sahabatnya itu sedang berbaring lemah tak berdaya. Tubuhnya sudah tidak lagi dingin. Malahan terasa hangat seperti orang sedang demam. Hampir saja Suma Sun menumpahkan air mata ketika terdengar suara lemah,

“Kau belum mampus?”

Suma Sun terperangah, namun ia segera menjawab sambil tertawa, “Kau sendiri belum mampus, masakan aku mampus lebih dulu?”

Cio San tersenyum, tetapi matanya masih terpejam. “Kau istirahatlah,”

Dirinya sendiri terluka amat parah, tetapi masih memikirkan orang lain. Air mata Suma Sun menderai saat mendengarkan ini. “Kata tabib, kaulah yang harus istirahat selama satu tahun tidak boleh bergerak. Ingin ku lihat tampangmu apa masih bisa menggoda orang,” kata Suma Sun sambil tersenyum tetapi air matanya terus mengalir.

Si tabib masuk ke kamar, ia tidak menyangka Cio San akan sadar secepat itu, dan masih sanggup bercanda pula. “Hongswe, mohon istirahat dan tidak banyak bicara dulu. Luka Hongswe masih harus dipulihkan,” kata si tabib cantik.

Cio San tersenyum, “Terima kasih siansing,”

Sebenarnya si tabib cantik ingin membantah sebutan siansing ini, tetapi ia memilih diam agar Cio San dapat beristirahat. Ia lalu meramu beberapa ramuan yang berada di atas sebuah meja kecil di sebelah tempat tidur.
“Kita berada dimana?” tanya Cio San.

“Aih, hongswe, mohon istirahat dulu,” terdengar seruan tidak senang dari si tabib cantik. Mendengar ini, Suma Sun tersenyum, ia mendekatkan kepala lalu berbisik kepada Cio San, “Ada perempuan cerewet di sini yang mengurusimu. Ku kira hidupmu ke depan tidak akan tenang,”

Cio San menahan tawa sekuat mungkin, melihat ini si tabib cantik berseru pula, “Suma-tayhiap, mohon maaf, cayhe harus meminta tayhiap untuk keluar. Perawatan masih belum selesai. Dan cayhe memohon dengan sangat agar tayhiap tidak berkata atau melakukan apa-apa yang bisa berbahaya bagi kepulihan, Cio-hongswe,”

Suma Sun mengangguk dengan penuh hormat, lalu meminta diri. Senyum masih menganmbang di pipinya, tetapi entah kenapa, air matanya justru mengalir lebih deras.

Ia paham betul dengan kenyataan bahwa Cio San bisa kehilangan seluruh kemampuan silatnya. Dan ia tahu pula, Cio San mungkin akan tetap senang hidup dengan keadaan seperti itu. Justru hal inilah yang membuatnya semakin terharu. Ia paham betul sifat sahabatnya ini. Betapa besar kecintaan Cio San dengan kehidupan, dengan manusia, dengan alam.

Dengan segala bahaya besar yang harus Cio San hadapi, hidup tanpa kemampuan ilmu silat hanyalah akan mengantarkan neraka kepadanya. Tetapi Suma Sun sendiri sudah bertekad, selama hidpunya ia akan melindungi Cio San.

Persahabatan yang dalam selalu mengharukan. Karena di dalam penderitaanlah makna sebenarnya dari persahabatan itu sungguh berarti. Berapa banyak orang yang beruntung mengalaminya?

Suma Sun kembali ke kamarnya. Kao Ceng Lun terlihat amat segar, dan luka di lehernya terlihat sudah mulai mengering. “Bengcu mengundang kita makan pagi,” kata Ceng Lun. Suma Sun mengangguk, “Mari.”

Hidangan sudah tersedia. Hidangan mahal namun sangat bergizi dan berkhasiat bagi pemulihan. Tidak gampang membuat makanan seperti ini, karena pada umumnya makanan enak itu tidak bergizi. Dan makanan bergizi itu tidak selezat makanan ‘enak’.

“Ah, ji-wi enghiong sudah datang. Mari...mari..!” kata Gan-siauya (tuan muda Gan) ramah.

Mereka duduk lalu menikmati hidangan. Sambil mengobrol ringan tentang kehidupan sehari-hari. Gan-siauya sama sekali tidak bertanya-tanya tentang kejadian yang baru saja mereka alami. Seolah-olah kejadian ini tidak penah terjadi.

Setelah makan ia menjamu kedua tamunya itu dengan nyanyian dan permainan khimnya yang sangat indah. Lelaki tampan dan halus ini memiliki bakat yang sangat besar dalam sastra pula. Ia bercerita tentang lukisan-lukisan yang digantung di dinding kapal. Ternyata lukisan-lukisan ini sangat mahal dan terkenal.

Lelaki yang ‘hong liu’ seperti ini amat sangat sukar ditemukan. Hong Liu berarti anggun, flamboyan, elegan. Amat sangat banyak wanita yang akan jatuh hati terhadap lelaki ‘hong liu’ seperti ini. Keanggunan Gan-siauya mungkin hanya dapat disamakan dengan Beng Liong. Dalam urusan sastra, silat, dan seni, kedua orang ini hampir setara. Ketampananannya pun hampir setara. Ilmu silatnya pun hanya beda setengah tingkat. Dilihat dari segala hal, Gan-siauya ini amat mirip dengan Beng Liong!

“Melihat betapa tinggi pemahaman bengcu (ketua) terhadap bu (ilmu silat), dan bun (ilmu sastra), dan juga kesukaan bengcu terhadap warna merah, cayhe jadi teringat seorang pendekar besar di masa lalu,” kata Suma Sun.
“Aih, siapakah yang dimaksud Suma-tayhiap?”

“Si jubah merah, Li Hiang” jawab Suma Sun.

Gan-siauya tertawa. Kao Ceng Lun bertanya, “Siapakah sebenarnya si jubah merah ini, Sun-ko? Aku pernah mendengarnya, tetapi cerita yang jelas tentang dirinya masih samar-samar,”

Gan-siauya menukas, “Li Hiang adalah seorang tokoh yang cukup terkenal puluhan tahun yang lalu. Ia mendapat julukan sebagai ‘Ji Hua Sian’, dewa pemetik bunga. Banyak orang yang menuduhnya sebagai bajingan, tetapi banyak pula yang menganggapnya sebagai seorang enghiong sejati. Konon kabarnya, seluruh wanita bertekuk lutut di bawah senyumannya, dan banyak pula pendekar yang bertekuk lutut di bawah pedangnya. Suma-tayhiap membandingkan cayhe (saya) dengan beliau adalah seperti membandingkan langit dengan bumi,” tawanya.

“Sungguh bukan maksud cayhe untuk membandingkan, apalagi menghina bengcu dengan membandingkan bengcu dengan seorang ‘pemetik bunga’ (playboy, pemerkosa). Tetapi cayhe pernah bertemu sendiri dengan beliau, dan beliau jauh dari sangkaan orang. Beliau sangat baik, setia kawan, tahu balas budi, dan amat sangat tinggi ilmu silatnya.”

Gan-siuya hanya tertawa, “Ah, tayhiap jangan sungkan. Sama sekali cayhe tidak tersinggung. Malahan cayhe merasa sangat tersanjung. Tetapi masih butuh ratusan tahun bagi cayhe, untuk dapat menyamai nama beliau, mari bersulang untuk beliau,” ia mengangkat cawan araknya tinggi-tinggi.

Suma Sun dan Kao Ceng Lun pun melakukan hal yang sama, “menjura,”

Kao Ceng Lun lalu bertanya, “Sun-ko ceritakanlah tentang si jubah merah ini, aku sungguh tertarik,”

Kata Suma Sun, “Aku bertemunya saat aku masih kecil. Itu kejadian lama yang pahit dan sangat ingin kulupakan. Saat itulah di mana ayah dan ibuku terbunuh. Aku benar-benar tidak ingin bercerita. Tetapi satu hal yang kujamin, Si jubah merah adalah seorang kuncu. Seorang laki-laki sejati,”

Kao Ceng Lun hanya bisa mengangguk-angguk dengan perasaan tidak enak karena melihat bayangan kesedihan di wajah Suma Sun. Sejak tadi ia ingin menanyakan sebuah hal yang sangat menarik perhatiannya. Sebuah layang-layang besar yang tergantung di dinding.

Layang-layang besar berwarna merah!

“Bengcu suka bermain layang-layang?” tanyanya.

“Ah ya. Suka sekali. Aku mempunyai simpanan layang-layang yang amat sangat banyak di gudang kapal. Bahkan di seluruh tionggoan, orang mengenalku sebagai penggemar layang-layang kelas wahid. Ha ha ha, “ tawanya. Lanjutnya, “eh, marilah kita bermain. Ku tunjukkan sebuah hal yang menarik.”

Mereka bertiga bergegas keluar. “Yong-ji, terbangkan layangan. Angin sedang bagus, cuaca cerah. Mari bermain,” perintah Gan-siauya kepada salah seorang dayang-dayangnya.

“Baik, siauya,” si nona menjawab dengan penuh semangat.

Layangan sudah terbang. Tinggi sekali. Senyum di wajah  Gan-siauya seperti senyuman anak kecil yang menemukan mainan kesenangannya. “Nah, kita memasuki bagian yang seru,” sambil berkata begitu, tubuhnya melayang, kakinya menginjak benang tipis layangan itu. Lalu menggunakan benang tipis itu, ia mendaki ke atas langit. Jauh sekali. Ilmu meringankan tubuh yang ia pertontonkan ini sungguh sangat sukar dibayangkan. Bahkan benang layangan itu tidak bengkok karena berat tubuhnya. Tetap lurus mengambang diangkasa seperti tak ada apa-apa.

Suma Sun dan Kao Ceng Lun berdecak kagum melihat pertunjukan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sangat hebat itu.

“Ji-wi tayhiap naiklah kemari,” Gan-siauya mengirimkan suara dari atas langit. Suara itu datang degan jelas padahal ia berada jauh di atas langit bersama layang-layangnya yang terlihat bagai sebuah titik kecil di angkasa.

Ajakan ini sebenarnya adalah ‘tantangan’ untuk mempertunjukkan tingkat tingginya ginkang seseorang. Suma Sun tentu saja tidak tertarik kepada ‘tantangan’ ini, tetapi ia tertarik merasakan bagaimana rasanya menunggang layangan.

Tubuhnya pun sudah melesat ke atas. Tidak kalah ringan, dan tidak kalah cepat. Ginkang Suma Sun memang tidak pernah kalah ringan, dan tidak pernah kalah cepat oleh siapa pun. Tak berapa lama tubuhnya pun telah berubah menjadi sebuah titik di angkasa.

Layang-layang adalah sebuah benda yang sangat tipis yang terbuat dari bambu dan kertas. Jika layang-layang itu tetap dapat terbang dengan bebas di angkasa padahal di saat yang sama ada 2 orang lelaki dewasa berdiri di atasnya, berarti bukan layang-layang itu yang hebat, melainkan kedua orang laki-laki itulah yang hebat.

Di atas sana, angin terdengar sepoi-sepoi. Suara keramaian manusia pun hanya terdengar sayup-sayup. Manusia terasa begitu kecil dan tak berarti.
“Bagaimana, Suma-tayhiap? Seru bukan?” kata Gan-siauya sambil tertawa senang.

“Menarik. Amat sangat menarik! Walaupun aku buta dan tak dapat melihat apa-apa, sungguh suasana di atas sini sangat menyenangkan,” sahut Suma Sun.

“Karena itulah, cayhe sangat sering melakukannya. Dari atas sini, banyak sekali manfaat dan juga ketenangan yang bisa kudapatkan,” jelas Gan-siauya.
Suma Sun mengangguk mengerti.

“Siauya sedang urusan apa ke kota ini?” tanya Suma Sun.

“Oh, kota ini adalah tempat tinggal tetapku. Aku suka suasana gemerlapnya, tetapi tetap masih bisa membawa ketenangan,”

“Oh begitu....” kata Suma Sun.

“Memangnya kenapa, tayhiap?”

“Semua kejadian ini serasa seperti di atur oleh sebuah tangan gaib yang kejam,” kata Suma Sun.

“Cayhe (aku) mengerti. Segala kejadian semalam, cyahe sudah paham. Kalian diserang oleh sebuah pasukan panah yang amat sangat terlatih. Begitu mendengar hal ini dari seorang anak buah, cayhe langsung berangkat. Untungnya, walaupun sedikit terlambat, nyawa saudara sekalian masih bisa tertolong. Saat itu cayhe tidak tahu siapa yang diserang, dan memutuskan untuk tidak ikut campur dahulu sebelum mengetahui duduk permasalahan. Pasukan yang terlatih seperti itu, sangat menakutkan. Cayhe khawatir bahwa pasukan ini adalah pasukan khusus kerajaan,” jelasnya.

“Cayhe masih belum tahu pasti,” kata Suma Sun. “Pasukan seperti ini bisa dilatih siapa saja, asalkan mempunyai dana dan pengetahuan yang sangat kuat,”

“Apakah mereka mencari kitab Bu Bhok?”

“Mungkin saja. Sekarang kitab ini sudah menjadi incaran siapa saja. Kitab ini sekarang berada pada bengcu, bukan?” tanya Suma Sun.

“Ya benar. Saat panah dicabut dari dada Cio-hongswe, buku ini berhasil diselamatkan pula. Untunglah buku ini dilapisi sejenis lilin sehingga tahan air. Apakah tabibku menjelaskan bahwa buku ini berada padaku?”

“Tidak. Cayhe hanya menebak saja. Pastinya sudah berada pada bengcu, karena cayhe tidak menemukan buku itu di kamar Cio San. Cayhe harap, bengcu menyimpan buku itu dengan baik. Urusan yang akan datang kepada bengcu akan amat sangat banyak,” kata Suma Sun.

“Buku itu bukan milikku, dan tidak dipercayakan kepadaku. Cayhe (aku) hanya akan menyimpan buku itu sampai Cio-hongswe pulih. Atau jika mendapat ijin langsung dari Cio-hongswe,” kata Gan-siauya.

“Eh, Kao-tayhiap, ayo naiklah kemari,” dengan Khi-kang (ilmu pengaturan suara) nya ia memanggil Kao Ceng Lun. Ceng Lun membalas pula dengan mengirimkan suara,

“Terima kasih, cayhe takut ketinggian. Haha”

“Haha. Lucu juga Kao-enghiong. Dia apakah perwira Kim Ie Wie (pasuka Baju Sulam, pasukan elit rahasia milik kekaisaran)?” tanya Gan-siauya.

Suma Sun mengiyakan.

“Laporan dari salah satu anak buah cayhe itu, Kao-enghiong dengan gagah berani menyalakan suar (tanda cahaya, biasanya dibakar dan menyala di langit. Seperti kembang api) untuk memanggil anggota-anggotanya. Suar ini adalah suar khusus milik kesatuan Kim Ie Wie. Padahal saat itu katanya ia telah terluka oleh sebuah panah di lehernya. Saat pasukan itu berkumpul, ia lalu memerintahkan mereka menyerang pasukan pemanah, sedangkan ia sendiri menyelamatkan Suma-tayhiap dan Cio-hongswe,” kisah Gan-siauya.

“Eh, bagaimana nasib pasukan ini?” tanya Suma Sun.

“Mereka berhasil memporak-porandakan pasukan pamanah. Kelemahan pasukan pemanah memang adalah pertarungan jarak dekat. Apalagi belasan anggota Kim Ie Wie ini memiliki ilmu silat dan daya tempur yang sangat tinggi. Tak berapa lama, pasukan ini sudah kocar-kacir,”

Suma Sun mendengar penjelasan ini dengan sungguh-sungguh. Katanya, “Ini bukti bahwa mereka bukan pasukan milik pemerintah. Anggota Kim Ie Wie pasti akan menangkap salah satu dari mereka dan akan menanyakan hal ini sejelas-jelasnya. Semoga tak berapa lagi, kita bisa mendapat kabar,”

“Betul, tayhiap.”

Mereka menghabiskan waktu di atas ini untuk beberapa lama, lalu kemudian turun kembali ke kapal. Saat turun kembali Kao Ceng Lun dan beberapa nona masih berada di sana dan bercengkarama. “Bagaimana keadaan di atas sana, Sun-ko”

“Gelap. Aku kan buta,” jawab Suma Sun sambil tertawa. Yang lain ingin tertawa namun sedikit sungkan. Kata Suma Sun, “Jangan khawatir, justru karena kebutaanku ini, aku dapat melihat dan mengalami hal yang tidak bisa dirasakan oleh manusia yang sehat,” katanya tersenyum.

“Seperti apa contohnya, tayhiap?” tanya selah seorang dayang cantik yang ada di sana?

“Seperti sebuah kapal besar yang siap menyerang kemari,” senyumnya masih mengambang pula. Tapi entah dari mana, pedangnya sudah berada di tangannya.











Wednesday, October 8, 2014

EPISODE 2 BAB 33 KEMATIAN




Makan malam telah berlalu. Kedua orang tuan rumah tidak bisa hadir karena harus menyelesaikan urusan dagang. Cio San berada di kamar Suma Sun. Ia sebenarnya telah diberikan kamar tersendiri. Tetapi dirasanya kamar itu terlalu besar dan terlalu luas, karenanya ia memilih ke kamar Suma Sun saja. Kamar yang ditempati sahabatnya itu pun tidak kalah besar. Penataannya sangat indah. Warna-warnanya serasi. Wangi hio (dupa) yang ada didalam ruangan memberikan perasaan yang nyaman  dan membuat tubuh terasa santai. Segala hal di dalam kamar rupanya sudah diatur sedemikian rupa sehingga penghuninya tidak ingin keluar. Arak dan hidangan makanan ringan juga telah tersedia di meja.

Suma Sun duduk menghadapi meja. Ia membelakangi pintu paviliun yang terbuka lebar memperlihatkan pemandangan indah kota itu di malam hari. Mereka berada di tingkat tiga gedung megah itu. Segala keindahan tentu terlihat dari sana. Cio San tidur malas-malasan di atas ranjang Suma Sun. Kasur ini sangat empuk dan wangi. Tentu harganya sangat mahal.

“Kau tidak bertanya, apakah kau sudah tahu?” Suma Sun buka suara.

“Tahu apa?” Cio San bertanya balik.

“Tentang keadaan Cukat Tong”

Cio San diam sejenak. Ia tidak tahu harus berkata apa. Lalu dengan perlahan ia berkata, “Sesungguhnya aku tidak ingin tahu. Ia terlihat begitu bahagia. Kehidupannya ini sangat nyaman.”

Suma Sun menghela nafas, katanya “Getaran kesedihan dari dalam suara dan gerak-geraknya terlalu besar kurasa. Ia tidak mungkin bahagia hidup seperti ini.”

“Bahagia atau tidak bahagia, apakah kita berhak menilainya? Jika ia sendiri ingin hidup seperti ini, apakah kita berhak melarangnya?”

Suma Sun termenung. Persahabatan mereka terlalu dalam, sehingga apabila salah satu dari mereka ingin terjun ke jurang api, yang lain tak akan menghalau, melainkan turut pula lompat bersama-sama tanpa perlu bertanya sama sekali. “Setidaknya kau harus memeriksa apa yang benar-benar sedang terjadi,”

“Kau belum memeriksa?” tanya Cio San.

Suma Sun menggeleng.

“Kau sendiri tidak tega, mengapa kau pikir aku bakalan tega pula?”

“Di dunia ini, segala pekerjaan yang tidak mungkin, hanya bisa dikerjakan oleh satu orang saja,” kata Suma Sun sambil tersenyum. Senyumnya adalah senyum yang menyedihkan, karena ia tahu betapa benar dan beratnya ucapan tersebut.
Cio San bangkit dari tidur malasnya. “Ia sudah bukan Cukat Tong yang dulu lagi. Semangat petualangannya telah hilang. Api membara yang membakar nyali seorang laki-laki sejati telah hilang sepenuhnya.”

Seorang lelaki petualang yang rajin mengarungi bahaya, tahu-tahu berubah menjadi menjadi seorang laki-laki penurut setelah menikah. Ini bukanlah sebuah cerita aneh. Sebagian besar laki-laki mengalami hal ini. Tapi Cio San tak dapat menerima bahwa sahabatnya itu berubah sedemikian cepat dan dalam. Cahaya semangat telah hilang sepenuhnya dari mata dan wajah Cukat Tong. Seolah-olah ia orang yang sama sekali berbeda. Langkahnya tak lagi ringan dan lincah. Gerak tubuhnya tak lagi cepat dan gesit.

“Bwee Hua,” kata Cio San. “Bwee yang merubahnya,”

Suma Sun mengangguk. “Aku tahu, tapi aku tak punya bukti, dan tak berani menyelidiki.”

Kata ‘tak berani’ ini sebenarnya pantang diucapkan seorang pendekar. Tetapi demi sahabat, terkadang orang bisa pula berani untuk ‘tidak berani’. Karena mereka masing-masing telah paham, jika seorang sahabat tidak ingin menceritakan sesuatu, mereka pun tak akan bertanya. Jika seorang sahabat ingin merahasiakan isi hatinya, maka yang lain tidak punya hak untuk bertanya.

Mereka adalah orang yang suka bercanda dan saling berolok-olok. Tetapi mereka tahu persis kapan harus berhenti, dan kapan harus menghargai perasaan orang lain. Kapan harus diam, dan kapan pula harus bicara. Kapan harus datang dan kapan harus pergi. Persahabatan bukanlah tentang bertemu dan menghabiskan waktu bersama-sama. Persahabatan adalah tentang sejauh mana kau memahami isi hati dan keinginan sahabatmu. Tidak semua orang memiliki isi hati dan keinginan yang sama. Tidak pula antar sahabat harus memiliki kesenangan dan sifat yang sama. Sahabat-sahabat sejati, kadang memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Karena yang mereka cari bukan kesamaan sifat. Melainkan pengertian.

Oleh karena itu jika salah satu harus mengorek rahasia yang lain, maka ia telah melakukan pelanggaran berat dan kehinaan yang besar. Mereka adalah orang-orang yang mengerti tentang pemahaman ini. Karena itulah Suma Sun sama sekali tidak melakukan apa-apa.

Dan kenapa pula Cio San yang harus melakukannya?

Karena memang, di dunia ini jika ada pekerjaan yang amat mustahil, tentu saja hanya dia yang bisa mengerjakannya. Entah siapa yang pertama kali menciptakan kalimat ini, tetapi rasa-rasanya semua orang yang mendengarnya pasti setuju. Yang tidak setuju pun pasti hanya satu orang. Cio San sendiri!

Ia hanya bisa termenung dan menertawakan penderitaannya sendiri.

Di luar terdengar suara ledakan kembang api yang meriah. Cahayanya warna-warna sungguh indah. Cio San tertarik untuk melihat keramaian. Ia melangkan ke pintu besar yang sejak tadi terbuka menghadap luar. Di atas paviliun kamar itu pemandangannya sungguh indah. Saat ia menoleh ke kanan, ternyata Kao Ceng Lun pun keluar dari kamarnya untuk menikmati keramaian.

“Kau ketiduran?” tanya Cio San sambil tertawa.

“Bagaimana bisa tidur, jika perempuan-perempuan di dalam justru tidak mau tidur?” katanya sambil tertawa. Cio San tertawa pula. Ia mengerti maksudnya. Cukat Tong memang sudah menyediakan perempuan-perempuan cantik untuk menemani mereka. Untungnya ia sudah pindah ke kamar Suma Sun. Dan karena Suma Sun sudah menikah, Cukat Tong sepertinya sedikit sungkan untuk menyediakan wanita kepadanya.

Cahaya ledakan indah merona di angkasa, jalanan ramai dipenuhi manusia. Air sungai memantulkan cahaya warna-warni yang sangat indah.  Cukup lama mereka menikmati pertunjukan itu.

Sebuah panah meluncur dari atas langit!

Panah itu mengarah tepat di tengah batok kepala bagian atas Cio San. Luncuran panah itu sangat cepat, seolah-olah bintang jatuh yang menghujam dari angkasa. Panah itu berat namun tak bersuara. Tinggal sedikit lagi panah itu menghujam batok kepala Cio San, tetapi kedua orang yang berada di paviliun lantai dua itu sama sekali tidak merasakan bahaya apa-apa.

Lalu Suma Sun terhenyak. Ia dapat mendengarkan hal yang tidak dapat didengarkan manusia biasa. Tangannya meraih cangkir yang berada di depannya dan langsung melemparkannya ke arah datangnya anak panah itu.

 Cio San menggerakkan tubuhnya condong ke belakang. Sebelum cangkir yang dilempar Suma Sun mengenai anak panah itu, dua jari Cio San sudah menjepit panah itu. Dengan jari yang lain ia menangkap cangkir itu.

Sungguh tak dapat dibayangkan kecepatan dan ketepatan jemari itu!

Begitu cangkir itu tertangkap, Suma Sun sudah berdiri di samping Cio San. Kao Ceng Lun baru menyadari apa yang terjadi. Ia melihat ke sekeliling. Tiada sesuatu yang mencurigakan.

“Layang-layang!” kata Suma Sun.

Cio San menoleh ke angkasa. Nun jauh di sana, di langit yang dipenuhi cahaya kerlap kerlip kembang api, sebuah layang-layang mengambang di angkasa. Ia membutuhkan sayap agar dapat melayang kesana. Jika Cukat Tong berada di sana, siulannya akan memanggil burung-burung peliharannya. Tetapi Cukat Tong tidak berada di sana.

Ada sesuatu yang hilang di dalam perasaan Cio San.

“Layang-layang itu apakah ada orang yang mengendarainya?” tanya Cio San kepada Suma Sun.

“Ada”

“Laki-laki atau perempuan?”

“Dari jarak sejauh ini, aku tak dapat membedakan,”

Kao Ceng Lun melompat, “Aku akan menelusuri layang-layang itu. Mungkin kita bisa menyelediki arah benangnya.” Saat suaranya masih berada di situ, bayanganya telah melesat jauh sekali.

“Senang juga melihat kepandaiannya meningkat pesat,” kata Cio San.

“Kau tidak mengikutinya?” tanya Suma Sun.

“Percuma,” jawab Cio San sambil terus memandang layang-layang itu. Ternyata layang-layang itu dengan cepat telah menghilang. Langit telah kembali gelap, cahaya kembang api telah berhenti. “Petunjuk yang paling penting berada di sini,”

Ia memperhatikan panah yang dipegangnya.

“Panah ini dirancang agar tidak meninggalkan bunyi. Bagian mata panahnya terbuat dari besi yang berat. Hmmm...., di batang panahnya, ada tulisan....,”

“Kematian Berwarna Merah Darah”

Panah itu pun sendiri berwarna merah.

“Kau mengenal tulisan siapa itu?” tanya Suma Sun.

“Tidak.”

Suma Sun meraih panah itu dan mengendusnya. Ia berpikir sebentar tapi kemudian tidak berkata apa-apa.

“Semua petunjuk mengarah ke Bwee Hua, bukan?” tanya Cio San.

Suma Sun mengangguk.

“Panah ini mengandung wangi yang sama dengan wangi tubuh Bwee Hua. Pesta kembang api di depan istana ini pun adalah hasil prakarsanya. Malam ini bukanlah malam perayaan apa-apa, mengapa harus ada pesta kembang api? Ia menggunakan ledakan-ledakan ini untuk menutupi suara datangnya anak panah,” kata Cio San.

Suma Sun hanya diam.

“Tetapi justru jika semakin jelas petunjuknya, aku malah semakin yakin jika ini adalah tipu daya untuk mengelabui,” tukas Cio San.

Tahu-tahu Suma Sun menoleh ke bawah. Ia merasakan sebuah hawa pembunuh yang sangat kuat berasal dari bawah sana. Dari tengah keramaian dan tawa canda yang membahana. Cio San pun ikut menoleh. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Tetapi ia sangat percaya dengan naluri Suma Sun.

“Ada apa?” bisiknya perlahan.

“Ada seorang pendekar sakti yang memperhatikan kita. Hawa pembunuhnya sangat tajam. Tetapi aku tidak tahu keberadaannya dengan jelas,” kata Suma Sun. Ia masuk ke dalam mengambil pedang. Saat keluar, tanpa berkata apa-apa ia sudah melayang dengan ringan ke bawah.

Cio San menggumama dalam hati, “Ada satu orang yang mati lagi malam ini,” sambil ikut melayang turun pula.

Tahu-tahu Suma Sun berkata, “Tiga,”

“Eh, jadi kau bisa mendengarkan isi hati orang pula?” tanya Cio San tidak percaya sambil tertawa.

“Aku bukan cacing di dalam perutmu, tentu saja tidak bisa.” Suma Sun tertawa pula tetapi gerakannya semakin halus dan lembut. Jika gerakan Suma Sun semakin halus dan lembut, itu tandanya ia sedang bersiap-siap membunuh orang.

“Lalu kenapa jawabanmu persis sama dengan ucapanku di dalam hati?” Cio San masih tertawa heran.

“Mungkin karena aku terlalu banyak menghabiskan waktu mendengarkan ocehanmu. Sehingga aku tahu hal-hal apa saja yang tidak sempat kau ocehkan,” tawa Suma Sun. Jalannya semakin lambat dan halus. Tetapi ia masih tertawa.

Ada semacam keanehan di dalam diri mereka. Jika semakin besar sebuah bahaya datang, semakin mereka akan sering bercanda dan tertawa. Ini mungkin untuk melonggarkan seluruh otot dan syaraf, agar benar-benar siap menghadapi perubahan. Hal ini juga untuk mengelabui keadaan kepada musuh.
Di tengah keramaian seperti itu, segala bahaya dapat datang kapan saja.

“Tuan...tuan, tolong....aku..aku..hilang..” seorang anak gadis kecil datang di hadapannya denga menangis.

“Hilang? Kau kan ada di sini, kata siapa kau hilang?” canda Cio San.

“Hu.....hu...ayah..dan ibu...tak tahu...hu...hu...” tangis si mungil ini malah bertambah deras.

“Oh, kau datang dengan ayah bundamu, lalu kau terpisah dari mereka?” tanya Cio San ramah.

Anak mungil itu masih menggunakan lengannya untuk menyapu air matanya, tetapi kepalanya mengangguk. Tangisannya terdengar menyedihkan sekali.

“Jangan khawatir, ayo kita cari ayah-ibumu. Apakah rumahmu jauh dari sini?”
Saat mendengar kata ‘rumah’ tangisan si kecil semakin membahana.

Cio San menggandeng tangan mungil itu dan berkata, “Jangan bersedih. Yuk, kita cari ayah-ibumu.”

Mereka lalu jalan bergandengan, Suma Sun mengikuti dari belakang.

“Eh adik kecil yang baik, siapa namamu?” tanya Cio San.

“Aku she (marga) Sim, namaku Ning Ning.....,” jawab si anak mungil.

“Oh, nama yang bagus sekali,” puji Cio San. Ia senang kepada anak kecil. Dan anak kecil ini manis dan polos. Ia tidak lagi menangis, tapi wajahnya masih menampakkan kekhawatiran. Dari tampilannya, Cio San bisa melihat bahwa anak ini berasal dari keluarga berada. Baju kembang-kembang yang dipakainya terbuat dari bahan yang cukup mahal. Tusuk rambutnya meskipun sederhana, juga terbuat dari bahan pilihan.

Langit kembali bergemuruh. Kembang api kembali dinyalakan. Sim Ning Ning memperhatikan langit dengan sedikit bahagia. Kekhawatiran masih terbayang, tetapi melihat cahaya warna-warni kembang api, sedikit banyak kekhawatiran itu agak menghilang.

Cio San tersenyum memandangnya.

Mereka berkeliling-keliling sambil mencari orang tua Ning Ning. Cio San bertanya tentang ciri-ciri orang tua Ning Ning.

“Ayah tinggi besar. Lebih tinggi daripada kau, paman. Ibu lebih pendek sedikit dari engkau. Ayah memakai baju biru. Rambutnya disanggul dengan pita putih. Ibu memakai baju biru muda. Sanggulnya berawarna biru muda pula.”

Cio San hanya mengangguk-angguk. Dengan seksama ia memperhatikan diantara kerumunan ratusan bahkan ribuan orang yang tumpah ruah di jalanan ini. Setelah lama mencari dan berkeliling, Cio San berkata, “Ning-Ning, kita beristirahat dulu ya. Siapa tau saat istirahat kita akan bertemu dengan ayah ibumu.”

“Baiklah,” jawab gadis mungil itu patuh. “Eh, kakak, aku tahu sebuah kedai teh langganan ayah. Siapa tahu ia berada di sana,”

“Baiklah!”

Mereka lalu menuju sebuah jalanan yang agak sepi karena bukan merupakan pusat keramaian. Di situ ada gang sempit yang agak menjorok ke dalam. Ada sebuah kedai teh di pinggiran sungai.

Secara tiba-tiba, Cio San melemparkan anak kecil itu ke udara. Tubuhnya meluncur cepat ke arah dinding kedai. Perbuatan yang tak disangka-sangka untunglah tidak mengakibatkan anak ini terluka, karena secara tidak disangka-sangka pula, anak kecil yang polos ini sudah berjumpalitan. Kakinya menendang dinding dan melenting ke atas. Tubuh itu lalu melayang turun perlahan.

“Paman sungguh kejam!” kata anak kecil itu tertawa.

“Dan kau sungguh bodoh,” tawa Cio San.

“Ku akui kepintaranmu dalam membongkar penyamaranku. Tapi, bagaimana kau bisa tahu?” tanya Ning-Ning.

“Di dalam cuaca musim gugur seperti ini, orang tua bodoh mana yang membiarkan anaknya yang masih kecil keluar tanpa mantel? Kuperhatikan semua orang di keramaian ini memakai mantel. Jika bukan karena tenaga dalam yang cukup, anak sekecil kau tidak mungkin mampu melawan dinginnya angin malam musim gugur,” jelas Cio San.

“Oh, jadi hanya dari baju saja kau bisa menebak semua ini? Sungguh tidak masuk akal!” kata Sim Ning Ning.

“Aku mengajak kau berkeliling cukup lama. Langkahku pun sedikit kupercepat. Ku lihat kau sama sekali tidak capek dan ngos-ngosan. Padahal untuk ukuran sepertimu, harusnya kau sudah lelah dari tadi,” ia menjelaskan masih sambil tersenyum.

Gang sempit ini cukup gelap, karena merupakan bagian kumuh dari kota yang indah ini. Suma Sun masih berdiri di belakang Cio San, ia berkata, “Mereka sudah datang,”

Dua orang muncul di gang sempit itu. Laki-laki dan perempuan. Ciri-cirinya persis seperti yang diungkapkan Sim Ning Ning.

“Kita rasanya tidak perlu basa basi.” Suma Sun langsung berdiri tegap menghadap kedua orang itu. Letak tubuhnya membelakangi Cio San yang sedang berhadapan dengan Sim Ning Ning.

Keramaian masih terdengar di luar. Herannya, keramaian itu semakin dekat dan mendekat.

Ratusan orang sudah berada di sana! Dari keramaian itu muncul ribuan anak panah!

Para pengunjung keramaian ini semuanya rupanya adalah pembunuh!

Ribuan panah menghujam dengan cepat. Melesat meninggalkan bunyi yang menyeramkan. Saat Cio San menoleh sejenak, Sim Ning Ning telah menghilang dari sana! Sepasang pendekar ‘ayah-ibu’ dari Ning-Ning juga sudah menghilang dari sana.

Suma Sun dan Cio San lalu merapatkan badan saling membelakangi. Hujan panah datang dari segala arah. Untuk ukuran pendekar kelas wahid seperti mereka, hujan anak panah bukanlah hal yang terlalu berbahaya. Tetapi jika para pemanahnya dapat menyembunyikan hawa pembunuh dan hawa kematian yang mereka bawa, tanpa ‘tercium’ oleh Suma Sun, maka mereka sama sekali tidak boleh dianggap remeh!

Ribuan panah ini seperti tidak pernah habis. Suma Sun dan Cio San seperti tidak punya kesempatan untuk maju ke depan dan menyerang para pemanah. Cio San tak dapat menggunakan pukulan jarak jauhnya karena ia tahu, jarak para penyerangnya terlalu jauh. Ia hanya dapat mengarahkan pukulannya untuk memunahkan panah. Tetapi panah selalu datang dan datang, seperti tiada akhir.

Kejadian ini hanya berlangsung beberapa detik, tetapi bahaya yang mereka hadapi ini sangat sukar dilukiskan.

Sebuah panah yang datang dari tempat berbeda, dari tempat yang gelap dan tersembunyi, datang bagaikan sebuah ular berbisa yang mematuk dari balik bayang-bayang. Cepat, dingin, dan mematikan.

Hanya sebuah panah.

Tetapi panah itu tersembunyi di balik ribuan panah yang datang susul menyusul bagai badai. Siapa yang dapat mengira akan datangnya sebuah panah semenyeramkan itu, di tengah serbuan ribuan panah yang lain?

Sehebat dan sesakti apapun seorang manusia, ia tak akan pernah dapat lolos dari maut, jika takdirnya telah tiba.

Cio San adalah manusia.

Suma Sun pun adalah manusia.

Panah itu datang dan menghujam jantung Cio San!

Suma Sun hanya dapat mendengar suaranya, ketika panah laknat itu menembus dada sahabatnya!

Ia tahu apa yang terjadi. Ia tahu betapa dahsyatnya panah itu. Ia pernah ‘berhadapan’ dengan panah itu beberapa menit yang lalu. Dengan segala naluri yang dimilikinya, ia baru mengetahui kedatangan panah itu ketika hampir menembus batok kepala sahabatnya. Kini, ditengah hujan badai panah dan keramaian kembang api, serta kesibukannya menangkis semua panah yang datang, bagaimana mungkin ia dapat mendengar sebuah panah yang memang dirancang dengan sangat hebat itu?

Siapapun yang dapat menembak panah dengan demikian tepat dan cepatnya, sungguh pantas mendapatkan rasa takutnya. Kaki Suma Sun bergetar, dalam sepersekian detik itu ia hanya bisa bergerak maju untuk menutupi tubuh kawannya dari hujaman panah lain yang datang.

Dengan marah ia hanya dapat menangkis panah-panah yang datang entah dari mana itu. Tangkisannya banyak yang mengembalikan panah itu kepada pemanahnya. Tapi mereka telah bersiap-siap. Tameng baja telah tersedia bagi para pemanah itu untuk menangkis hujaman panah yang dilesatkan kembali oleh Suma Sun.

Ia dapat merasakan genggaman tangan Cio San di punggungnya. Tangan itu belepotan darah yang hangat. Baju putih Suma Sun yang semula bersih tanpa noda, kini memerah terkena cipratan darah sahabat terdekatnya ini. Suma Sun tak tahu apa yang harus ia lakukan. Jika menyerang maju, ia tentu saja berani. Ia tidak perduli pada nyawanya. Tetapi ia sungguh perduli pada nyawa sahabatnya. Tidak ada yang lebih penting dari nyawa sahabatnya, bahkan nyawanya sendirinya pun tidak cukup penting.

“Pe..per..gi...lah....” itu sebuah kata terakhir yang keluar dari mulut Cio San. Sebelum akhirnya ia menutup mata di dalam kegelapan yang tak bertepi.

Sayup-sayup, Cio San masih mendengar Suma Sun berkata, “Hey, keparat. Ini bukan saat yang baik untuk mati.....”

Tetapi ucapan ini semakin lama-semakin mengecil, menjadi sayup-sayup, lalu menghilang di telan kegelapan dan kesunyian.

Suma Sun masih menangkis panah. Ia hanya punya satu tangan. Selama hidupnya, ia menggantungkan nasib dan takdir kepada tangannya. Dulu di tangan kanannya, beberapa waktu yang lalu di tangan kirinya. Kini ia benar-benar menggantungkan seluruh harapan itu kepada tangan satu-satunya ini. Ia sendiri tahu, ada beberapa panah yang telah menghujam dirinya. Tetapi ia tidak khawatir akan ada panah yang berbahaya yang akan datang. Karena ia tahu, untuk melepaskan panah seperti itu, seorang pemanah harus mengumpulkan nafas, ketenangan, tenaga dalam yang tinggi, serta pemusatan kesadaran tertinggi. Dan hal itu butuh waktu.

Segala kejadian ini hanya berlangsung beberapa detik, tetapi seolah-olah berlangsung seumur hidupnya. Nasib manusia, siapa pula yang tahu dan bisa menebak? Takdir adalah rahasia langit, baru diketahui saat sudah terjadi.

Kematian.