Wednesday, June 24, 2015

EPISODE 2 BAB 49 SASTRAWAN DI TENGAH HUTAN


Cio San menarik tangan Syafina agar putri cantik itu mengikuti arah langkahnya. Katanya sambil bisik-bisik, “Ada beberapa hal yang membuatku saar bahwa kaisar tidak berada di dalam rombongan. Pertama, pasukan pemeriksa yang paling awal datang, cuma beberapa orang. Pemeriksaan mereka kurang hati-hati. Untuk sekelas pengawalan kaisar, banyak hal janggal yang ku lihat dari mereka. Kedua, jenderal Khu tidak langsung menghadap kaisar saat ia selesai membuat tenda. Biasanya untuk pasukan sebesar ini yang kaisar sendiri berada di dalamnya, seorang jenderal harus segera melapor terhadap kaisarnya,” jelas Cio San.

“Ah, benar. Aku baru menyadari ini setelah dijelaskan Hongswee,”

Sambil tertawa pelan, Cio San berkata, “Mengapa putri terus memanggilku “hongswee”?”

“Mengapa hongswee terus memanggilku “putri”?”

Cio San tertawa lagi, “Sejak lahir, kau adalah seorang putri. Sedangkan saat aku lahir sampai dewasa, tak ada seorang pun yang memanggilku Hongswee. Entah siapa pula yang memanggilku pertama kali dengan sebutan itu.”

Syafina melengos, katanya, “Mengapa setiap kali aku berbicara denganmu, kau selalu benar dan aku selalu salah?”

Tanpa sadar mereka berdua telah saling menyebut “kau” dan “aku” dengan luwesnya. Di dalam kegelapan malam, pandangan mereka beradu. Bibir mereka saling tersenyum. Entah apa yang berada di dalam isi hati mereka.

Cio San lalu berkata, “Di dunia ini mana pernah laki-laki bisa lebih benar dari perempuan?”

“Kita berdua buktinya!” sahut Syafina tertawa.

“Itu bukan karena aku benar, itu hanya karena kau tak mampu menjawab,” tawa Cio San

“Nah, kau benar lagi!” tukas Syafina

“Nah, kau tak dapat menjawab lagi,” kata Cio San

“Kau kan tidak bertanya,” tawa si putri cantik.

“Eh, kau benar,” kata Cio San. “Aku kan tidak bertanya…..,”

“Nah!” terlihat raut kemenangan di wajah Syafina

“Karena kau benar, dan aku salah. Itu membuktikan bahwa perempuan selalu benar, dan laki-laki selalu salah,” kata Cio San  sambil tertawa lepas.

Mendengar ini Syafina jadi gemas dan mencubit lengan Cio San.

“Aku tak mau bicara dengan kau!”

Jika seorang perempuan berkata bahwa ia tidak ingin berbicara denganmu, maka itu artinya kau harus menggodanya, berbicara semampu dan sekuatmu, membuatnya tertawa, dan lain-lain.

Tentu saja Cio San paham rumus ini. Tapi ia tetap diam saja. Melihat “kesunyian” ini, Syafina menoleh. Wajah Cio San terlihat serius. Si putri sendiri lalu menajamkan pendengarannya. Tetapi ia tidak mendengarkan apapun. Hanya terdengar suara hewan saling bersahutan.

“Ada seseorang yang datang?” tanyanya berbisik. Cio San hanya mengangguk. Sebenarnya Syafina ingin menanyakan kenapa ia tidak mendengarnya, tetapi Cio San telah mengerti isi hatinya dan berkata, “Langkah mereka tak terdengar. Aku pun tak mendengarnya. Hanya saja, kau lihat hewan-hewan ini berlarian karena takut.”

Syafina baru memperhatikan, dan berkata, “Kau benar.”

“Siapa pun yang berada di depan sana, tanpa melakukan apa-apa telah dapat membuat hewan lari ketakutan,”

Wajah Syafina terlihat sedikit bayang ketakutan, tapi ia segera dapat mengatur perasaan hatinya. Kini ia malah tenang sepenuhnya. Melihat ini Cio San sedikit heran juga. Tapi Syafina seolah-olah mengetahui isi hati Cio San, ia hanya berkata,

“Ada kau di sini, apa yang harus kutakutkan?” 

Seorang lak-laki tidak menginginkan apa-apa dari perempuan. Ia hanya butuh perempuan itu percaya akan kemampuan dirinya. Bahwa ia mampu melinduinginya. Bahwa ia mampu memberikan kebahagiaan kepadanya. Laki-laki hanya butuh sebuah ucapan sederhana “Aku percaya padamu”. Dengan ucapan sederhana seperti itu, seorang laki-laki akan lebih berani dan lebih kuat menyongsong segala badai terburuk di dalam kehidupan.

Sayangnya amat sedikit perempuan yang mengatakannya.

Sayangnya pula, lebih sedikit lagi laki-laki yang pernah mendengarkan perkataan seperti ini.

Siapapun laki-laki yang pernah mendengarkan hal ini dari perempuan, ia laki-laki yang beruntung.

Tak terasa ada kekuatan tersendiri yang merasuki jiwa Cio San. Ia merasa langkahnya lebih ringan. Beban di pundaknya seolah enteng. Matanya bersinar lebih terang. Jika ada seorang perempuan mempercayakan hidupnya karena percaya kepada seorang laki-laki, tentu saja laki-laki itu tidak boleh tidak percaya kepada dirinya sendiri.

Tak terasa kini lengan mereka bersentuhan. Lalu tangan mereka saling menggenggam.

Tapi Syafina menarik kembali tangannya. Cio San mengerti. Ada banyak hal yang membuat Syafina menarik tangannya. Tetapi pandangan mata dan raut wajah gadis itu tidak berbohong atas perasaannya sendiri. Terdapat berjuta perasaan dalam sebuah pandangan mata Syafina, senang, bahagia, bersalah, takut, dan sedih. Tak ada seorang laki-laki pun yang bisa memecahkan rahasia pandangan perempuan.

Tetapi Cio San telah mengalami berbagai macam penderitaan perasaan. Meskipun ia tidak mengerti alasannya, setidaknya ia tahu bahwa perempuan pasti memiliki alasan tersendiri. Dan untuk hal itu, ia tak akan bertanya.

Mereka tetap berjalan, sampai akhirnya terlihat titik cahaya dari kejauhan. Di dalam hutan seperti ini hanya ada satu jalan setapak. Di ujung jalan itu terlihat cahaya obor semakin mendekat. Ada 5 orang datang mendekat. Melihat penampilan mereka, kelima orang ini adalah sejenis Siucai (sastrawan) yang suka berkelana. Umur mereka sudah sekitar 50 tahunan.

“Selamat malam,” Cio San menyapa.

“Selamat malam,” para Siucai membalas pula. “Adik berdua hendak ke manakah malam-malam begini?” tanya salah seorang.

Sambil menjura Cio San berkata, “Nama wanpee (saya yang lebih muda), adalah Tan San, dan ini istri wanpee, In-In. Sedang mencoba berkelana dan menimba pengalaman di dunia Kang-Ouw,” kata Cio San.

“Oh, dua orang muda yang mencari nama? Ah, sungguh indah-sungguh indah. Hahaha,” tawa salah seorang yang kemudian diikuti oleh yang lain.

“Aih, sungguh wanpee tidak berani berlagak dihadapan Ngo-suicai (kelima siucai) yang terhormat,” kata Cio San sambil menjura sekali lagi.

“Eh, Siauhiap (pendekar muda), siapa gurumu?”

“Wanpee berasal dari Butong-pay. Guru wanpee ada beberapa, yang paling utama bernama Tan Hoat-suhu,” jelas Cio San.

“Tan Hoat dari Butongpay? Hmmmm, aku belum pernah mendengar namanya,” kata salah seorang Siucai.

Sikap mereka sudah mulai sejak awal sudah mulai kurang sopan karena tidak memperkenalkan diri sendiri, padahal Cio San sudah memperkenalkan diri duluan. Ditambah lagi ucapan-ucapan yang mulai terdengar tidak enak.

“Mendiang Tan Hoat sudah meninggal beberapa tahun yang lalu,” jelas Cio San.

“Mengapa kalian tiba-tiba lewat sini?” tanya salah seorang Siucai

“Kami berkelana saja berkeliling dunia. Sekedar menambah pengalaman. Tak tahunya bertemu tentara kerajaan di belakang sana. Akhirnya karena khawatir nanti ada masalah dengan tentara, kami memilih menjauh,” jelas Cio San.

Salah seorang Siucai dengan tersenyum berkata, “Karena siauhiap (pendekar muda) sendiri berkata bahwa siauhiap sedang mencari pengalaman. Bagaimana jika kita melakukan pi-bu (adu tanding) secara persahabatan? Karena kata orang Kang-ouw, ‘belum kenal jika belum berkelahi’. Rasa-rasanya cukup toh sebagai bentuk perkenalan?”

Cio San segera menjura, “Aih, ilmu wanpee yang rendah ini bagaimana mungkin pantas jika melakukan pi-bu dengan….,”

“Awas serangan!”

Cio San belum selesai berbicara sebuah serangan sudah menghujam dirinya. Sebuah pena yang biasanya dipakai para Siucai untuk menulis dan melukis. Mendapatkan serangan ini Cio San tidak panik, segera ia menghindar ke samping dengan jurus “Melangkah Di Awan” milik Butongpay.

Melihat gerakan menghindar yang indah ini, sang Siucai tertawa senang. Sambil melancarkan jurus kedua, ia berkata, “Bagus! Langkah khas milik Butongpay, awas serangan kedua!”

Serangan siucai separuh baya ini seperti gerakan orang melukis. Para Siucai yang mendalami ilmu silat memang biasanya menggunakan ilmu silat seperti ini. Sekali lagi Cio San dengan tenang menerima jurus ini dengan sebuah tangkisan pelan yang merubah arah pukulan sang Siucai.

“Thay Kek Koen?! Hebat! Sungguh hebat!” kelima Siucai itu tertawa senang.

Si siucai yang bertarung dengan Cio San semakin besar tawanya, semakin sangar juga serangannya. Jurusnya kali ini membentuk huruf aksara “Sam” yang berarti “3”. Ini memang jurus ketiganya. Terdapat tiga garis yang membentuk angka 3. Dan ketiga garis ini dibuat oleh serangan cepat yang sangat berbahaya.

Cio San menerima ketiga serangan beruntun itu dengan Thay Kek Koen lagi. Hanya dengan satu kali “usapan” lengannya, ketiga serangan itu buyar dengan sendirinya.

Melihat serangannya berhasil digagalkan dengan mudah, sang siucai kini mulai lebih sungguh-gungguh. Wajahnya menegang. Kali ini gerakannya menjadi jauh lebih cepat. “Pendekar muda, hati-hatilah.” Pena kuas di tangannya berputar mengeluarkan suara “wussss…wuuuusss” yang cukup menggetarkan. Setiap suara wuss itu datang, seolah-olah udara terasa terbelah oleh suara itu. Daun-daunan yang gugur karena gerakan kedua orang ini malah kini terpotong-potong dengan tipis-tipis. Bukan main kekuatan pena kuas itu. Anginnya saja dapat memotong dedaunan.

Sebenarnya dengan jurus ular deriknya, Cio San dapat mematahkan jurus ini. Sayangnya ia ingin menyembunyikan jati dirinya. Ia belum tahu apakah kelima orang ini kawan atau lawan. Oleh karena itu Cio San hanya bisa menggunakan jurus-jurus asal Butongpay yang ia sendiri tidak begitu terlalu menguasai. Cio San hanya paham inti sarinya saja. Sedangkan bentuk jurus baku yang ia ketahui amat terbatas.

Jurus keempat dari siucai ini diterima Cio San langkah menghindar. Ia tidak berani beradu kekuatan dengan kuas itu. Ia hanya dapat menunggu lubang kosong dari siucai itu. Karena sudah menjadi pemahaman dalam ilmu silat bahwa setiap seseorang menyerang, ia pasti meninggalkan lubang kosong dalam pertahanannya. Susahnya, siucai ini sudah sangat memahami rumus ini sehingga dengan mudah ia menutup lubang kosong ini dengan gerakan-gerakan sederhana yang dapat menutup lubang kosong ini.

Siucai ini hanya perlu menunduk sedikit, atau memundurkan langkahnya sedikit, maka ruang kosong ini sudah dapat tertutup seluruhnya. Yang membuat Cio San kesulitan adalah ia tak dapat mengembangkan Thay Kek Koen sekehendaknya karena hal ini akan membocorkan jati dirinya. Padahal jika ia bertarung sebagaimana mestinya, dalam satu dua gerakan ia telah dapat memecahkan rahasia gerakan siucai.

Dengan gemas Cio San menjalani hal ini. Ia bisa mnedapatkan kemenangan dengan mudah asalkan ia mau mencampurkan Thay Kek Koen dengan ilmu-ilmu lain seperti Jurus Ular Derik atau Tongkat Pemukul Anjing. Tetapi ia terpaksa tidak dapat melakukannya.

Beberapa jurus berlalu dengan cepat. Setiap jurus pun kejadiannya selalu sama. Sang siucai menyerang, dan Cio San menghindar sambil mencari celah. Namun celah itu selalu tertutup. Lama-lama Cio San sendiri terdesak karena ia tak dapat mengembangkan ilmunya.

Dalam hati Cio San berpikir, apakah ia harus mengalah atau menang? Siapa kelima orang ini? Kawan atau lawan?

Karena terlalu banyak berpikir, gerakan Cio San pun tak dapat mengalir seperti biasanya. Thay Kek Koen yang seharusnya luwes, kini menjadi kaku. Untunglah ia segera menyadari hal ini.

Thay Kek Koen begitu hebat bukanlah karena banyaknya jurus yang diketahui. Melainkan bagaimana mengembangkan pemahaman tentang Im dan Yang (Yin dan Yang). Bagaimana menyeimbangkan gerakan. Menyeimbangkan kehidupan. Menyeimbangkan jiwa dengan alam sekitar.

Karena itulah Cio San tak lagi berfikir bagaimana cara mengelabui para siuacai ini dengan Thay Kek Koen yang asli seperti yang diajarkan Butongpay. Thay Kek Koen selalu akan asli dan murni selalu yang menggunakannya memahami inti sarinya. Memahami maksudnya.

Kini ia tak lagi ragu. Disambutnya serangan ke 27 dari siucay itu dengan kedua tangan yang mengambang ke depan. Jurus sang siucai kali ini adalah menuliskan sebuah huruf kuno. Cio San menutup matanya, meskipun ia tak tahu huruf apa yang ditulis si sastrawan, ia dapat merasakan alurnya. Karena huruf-huruf aksara Tionggoan (China) semua memiliki alurnya tersendiri. Memiliki jalannya sendiri. Dan ia sendiri pun telah mempelajari aksara-aksara kuno dari ayahnya.

Sebuah gerakan awal dari jurus ke 27 sang sastrawan, adalah sebuah garis yang menghantam tengkuknya. Garis ini dibarengi dengan putaran kuas yang anginnya dapat mengiris apa saja. Cio San menggerakan kepalanya untuk menyongsog serangan itu, sedangkan kedua tangannya yang tadi mengembang ke depan kini sudah ia turunkan dengan perlahan.

Betapa terkejutnya sang siucay menghadapi gerak Cio San seperti ini. Selama hidupnya ia menggunakan jurus ini, tak ada seorang pun yang berani menyongsong serangan dahsyatnya dengan batok kepala!

Karena kagetnya itu sang siucay  merubah gerakannya. Ia tak ingin membunuh Cio San. Dan Cio San pun mengetahui hal ini. Saat menyongsong kepalanya ke depan, ia tahu dengan pasti sang siucay akan merubah gerakannya. Cara yang ia lakukan hanyalah untuk mengacaukan gerak sang siucay. Begitu geraknya kacau, si sastrawan itu membuat sebuah ruang kosong di sisi bawah perutnya.

Cio San melihat sedikit ruang di situ, dan ia segera melancarkan serangannya. Sebuah telapak tangan yang dilancarkan dengan pelan dan penuh perasaan. Inilah kehebatan Thay Kek Koen. Bergerak lebih lambat, namun sampai lebih dulu.

Begitu terkena telapak itu sang siucai terdorong ke belakang. Ia tidak terluka. Tetapi ia tertawa terbahak-bahak, “Hahah. Kau hebat. Kau memancingku untuk merubah gerakanku. Namun untuk berikutnya, aku tak akan tertipu lagi!”

Segera ia menerjang ke depan. Ilmu dari sastrawan ini hanyalah ilmu menulis huruf seperti yang biasanya dipakai oleh para siucay. Tetapi berbeda dengan  yang lain, lawan yang dihadapi Cio San ini menggunakannya dengan sangat cerdas. Ia berhasil menutup segala ruang dengan cerdik, sehingga tak ada ruang bagi lawan untuk balas menyerang.

Kini sekali lagi ia melontarkan serangannya. Cio San tidak lagi mengincar ruang terbuka di tubuh sang siucai. Kali ini ia tetap menjulurkan kepala ke depan. Sang siucat yang tidak mau tertipu lagi, tetap melanjutkan serangannya, tetapi ia kini mengincar pundak Cio San. Kini ia tidak harus merubah gerakannya, karena sejak awal ia memang telah mengincar pundak Cio San.

Begitu melihat pundak yang terbuka, serangan sang siucay semakin bertambah cepat. Ia yakin ia akan menotok pundak itu dan angin serangannya akan mengiris pundak Cio San. Tetapi ia keliru, Cio San yang sejak tadi bergerak lambat, kini bergerak dengan amat sangat cepat, jauh lebih cepat dari serangan sang siucay. Ia hanya menarik kepalanya jauh ke belakang. Dengan penasaran siucay itu meneruskan serangannya terus memburu kepala Cio San.

Begitu tubuhnya condong ke depan untuk mengejar pundak Cio San,  dengan sedikit sentuhan Cio San menepis serangan itu. Meskipun hal ini terlihat sederhana, diperlukan ketangkasan tersendiri agar tangkisannya tidak terkena putaran kuas yang berbahaya itu. Cio San ternyata menghitung seberapa cepat putaran kuas itu, dan memasukan tangannya sendiri ke dalam putaran itu!

Bayangkan betapa cepatnya tangannya bergerak masuk ke dalam bayangan kuas yang sangat berbahaya itu. Tangannya sendiri mungkin akan terpenggal. Tetapi ia telah memiliki kemampuan yang tak terukur lagi. Tak ada bandingannya lagi.

Bayangan kuas yang berputar bagaikan kincir angin itu kini benar-benar berhenti. Dijepit oleh jari telunjuk dan ibu jari Cio San!

Dan ketika pusaran kuas itu berhenti, dengan pundaknya Cio San melakukan dorongan ke depan. Tenaganya berlipat ganda karena sebelumnya ia telah mencondongkan tubuh ke belakang, sehingga gerakan dorongannya bagaikan sebuah pegas yang diluncurkan dengan cepat.

Siucay itu terlempar ke belakang tanpa terluka.

Ia kalah.

Karena pena kuasnya kini telah berada di tangan Cio San.

“Hebaaaat! Hebaaaaat! Cerdaaaaas!” puji keempat siucay yang lain, “Kau kalah Ngo-te (adik kelima),” kata mereka sambil tertawa.

“Aku belum pernah melihat Thay Kek Koen sehebat ini dari murid Butongpay mana pun. Apakah ini jurus baru kalian?” tanya siucay kelima itu.

“Benar sekali, tayhiap (pendekar besar),” jawab Cio San.

“Apakah Yo-totiang (pendeta Yo, ketua Butog-pay yang sekarang) yang menciptakannya?”

“Bukan, tayhiap. Mengenai penciptanya, wanpee tidak bisa menjelaskan,” kata Cio San.

“Hmmm. Bagus. Karena jika kau berkata Yo-totiang yang menciptakan jurus itu, aku tak akan percaya. Aku telah beberapa kali melakukan pibu dengannya. Aku paham betul kemampuannya.”

“Pendekar muda, siapa kah kau sebenarnya? Mengapa kau begitu mencurigakan?” tanya salah seorang siucay.

“Wanpee benar-benar adalah murid Butong-pay. Karena ada kesalahpahaman, wanpee sempat diusir. Tapi semua sudah jelas dan sekrang wanpee diterima kembali,” jawab Cio San jujur.

Peristiwa murid yang diusir namun diterima kembali pun juga bukan peristiwa hebat. Banyak perguruan yang mengalaminya, sehingga hal ini dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja.

“Lalu bagaimana mungkin kau bisa menangkap kuas milik Ngo-te (adik kelima) kami? Apakah kau berguru pada seseorang di luar Butongpay?” tanya salah seorang.

“Benar, ngo-tayhiap (lima pendekar),” jawab Cio San.

“Hmmmm.....,”

Kelima siucay itu berfikir sebentar lalu kata salah seorang, “Sebenarnya kami sudah mulai suka denganmu, namun karena kau sedikit mencurigakan, kami harus memintamu untuk menemani kami sebentar.”

Menemani sebentar, tentu saja maksudnya adalah agar Cio San menyerahkan diri.

“Mengapa wanpee dianggap mencurigakan? Memangnya ada apa?” tanya Cio San.

“Karena kau muncul di tempat seperti ini, pada saat seperti ini,”

“Tempat ini ada tempat umum bagi mereka yang melintas daerah. Waktu seperti ini adalah waktu yang umum pula karena kami tidak mungkin bermalam di dalam hutan,” jawab Cio San.

“Jika kau menolak, maafkan kami yang harus menggunakan kekerasan untuk memaksamu!”

“Silahkan!”

Karena melihat para sastrawan yang angkuh namun cukup sakti ini, Cio San sengaja memancing mereka, “Kuharap Ngo-tayhiap maju saja sekalian. Biar urusan ini cepat selesai,” katanya sambil tersenyum.

“Anak muda, kau sombong! Jangan pikir karena kau mampu menaklukkan adik kelima kami, kau bisa seenaknya berbicara kepada kami!”

“Jurus kalian biasa saja. Aku sudah bisa memecahkan seluruhnya. Jika tidak percaya, silahkan dicoba!” kembali kata-kata ini memanaskan kuping mereka yang memang agak angkuh ini. Para sastrawan memang umumnya seperti ini. Terlihat lemah lembut namun sebenarnya keras kepala.

Karena terpancang amarah, salah satu dari mereka melompat ke depan dan menerjang Cio San. “Awas serangan!”

“Suamiku, hati-hati,” kata Syafina. Cio San hanya tersenyum.

Ia menyambut serangan itu dengan jurus yang digunakan oleh siucay kelima. Cio San menggunakannya dengan luwes dan bebas, seolah-olah ia telah mempelajari jurus sastra itu sejak lahir. Alangkah kagetnya para siucay saat melihat Cio San bergerak. Tapi mereka segera tertawa dan berkata, “Jurus yang kami pakai ini jurus umum. Banyak orang telah menggunakannya,”

Cio San tertawa juga, “Wanpee, malah bisa berbagai jurus rahasia sastrawan yang jarang diketahui orang.,”

“Pendekar muda ini rupanya suka membual,” kata salah seorang.

“Perhatikan!” kata Cio San.

Dengan gerakan yang sangat indah, Cio San melakukan jurus-jurus aneh yang asing namun sangat bertenaga dan indah dipandang. Seperti orang menari dan melukis. Mereka semua melongo!

“Kau...kau...da..da..ri mana kau mempelajarinya?”

Ayah Cio San adalah sastrawan. Tentu saja ia pernah membaca buku-buku kuno dan ujaran-ujaran kuno. Banyak puisi yang dihapalnya luar kepala. Bahkan kitab-kitab langka yang tidak pernah dibaca sastrawan umum pun pernah dibacanya. Karena itulah Cio San mampu menuliskan huruf-huruf kuno itu dengan indah dan mengubahnya menjadi gerakan silat. Jurus silat yang baru saja ditunjukkannya adalah pengembangan dari ujar-ujaran kuno jaman dulu yang datang dari negara barat. Sebuah huruf yang merupakan gabungan aksara China dan aksara Arab!



Hanya sedikit orang yang bisa membaca aksara itu di jaman ini. Mungkin tidak lebih dari 20 orang. Dan Cio San adalah satu diantaranya!

Cio San menuliskan, “Kehormatan Membawa Berkah, Namun Pemahaman membawa Pencerahan”. Ini adalah kalimat yang dihafalkannya dari sebuah kitab kuno milik ayahnya.

Aksara Tionghoa terdiri dari ribuan huruf. Siucay yang terdidik akan mengenal seluruhnya. Namun aksara yang dimainkan Cio San adalah aksara langka. Kelima Siucay ini hanya sanggup membaca beberapa huruf saja. Karena itu mereka paham bahwa Cio San tidak sedang menipu. Semua gerakannya berdasarkan huruf-huruf kuno yang mereka sendiri pun belum menghafal seluruhnya!

Mata mereka memancarkan kekaguman luar biasa. Mulut mereka melongo. Tak pernah dalam hidup mereka menyaksikan tulisan yang dibuat oleh gerakan silat yang seindah itu.

“Siapa..siapa gurumu sebenarnya, wahai pendekar muda?”

Sebenarnya Cio San ingin mengatakan bahwa gurunya adalah dirinya sendiri, tetapi hal ini akan menimbulkan kecurigaan lebih dalam. Ia hanya berkata, “Wanpee memiliki banyak guru. Namun wanpee telah bersumpah untuk tidak mengatakannya. Tentu para siucay yang mulia dapat mengerti.”

“Pendekar yang terbuka tidak akan menutupi siapa jati dirinya. Jika kau tertutup, kami memiliki alasan untuk mencurigaimu!”

“Mencurigai dalam hal apa? Aku bukan perampok. Bukan pula maling. Tak ada seorang pun yang kujahati. Mengapa para siucay terus memaksa?”

“Cepat katakan siapa gurumu agar kami tak kesalahan tangan menangkap orang!”

“Menangkap?” batin Cio San. Kini pahamlah sudah dengan siapa ia berhadapan. Tetapi ia tidak ingin bersikap ceroboh, dan ia hanya berkata, “silahkan!”

Ia tidak mau membuang-buang waktu lagi. Dalam gebrakannya yang pertama dengan siucay kelima. Pikiran Cio San telah terbuka lebar. Ia kini mengetahui rahasia bagaimana cara merubah seni sastra menjadi ilmu silat. Pemahaman ini muncul karena ia telah bertarung dengan siucay kelima itu, dan matanya terbuka.

Ternyata silat bisa diciptakan dari apa saja. Asalkan mengandung unsur serang, bertahan, dan tipu, maka semua gerakan adalah gerakan silat! Karena itulah ia dapat menggubah puisi kuno menjadi sebuah ilmu silat hebat. Semenjak bergebrak dengan si siucay kelima, ia kini paham bahwa apabila seseorang dapat menutup segala ruang kosong yang timbul dalam pertahanan, maka ilmu melukis huruf ini menjadi bukan mainan biasa!

Selama ini memang ilmu ini lumayan dikenal di kalangan persilatan, tetapi bukan dianggap ilmu hebat yang maha sakti. Sekedar ilmu bela diri umum di kalangan siucay yang terkadang hanya dianggap sebagai ilmu hiburan atau sekedar tontonan. Ketika siucay kelima ini menggunakannya, Cio San baru memahami bahwa ilmu ini adalah ilmu yang dapat dikembangkan menjadi jauh lebih hebat daripada cuma sekedar gerakan indah layaknya orang menulis indah.

Sesungguhnya ia tidak tahu, bahwa lebih dari seabad yang lalu, Thio Sam Hong, sang mahaguru Butong-pay telah menciptakan ilmu yang ia “ciptakan” sekarang. Saat itu Thio Sam Hong menciptakan ilmu ini dengan menggabungkanilmu Bun (sastra) dan Bu (silat). Dari sini pula lah Thio Sam Hong kemudian memiliki dasar-dasar untuk mengembangkan Thay Kek Koen. Sayangnya ketika kemudian mahaguru itu mengembangkan Thay Kek Koen, ia sedikit “melupakan” ilmu menulis ini. Baru ketika beberapa tahun di akhir hayatnya setelah Thay Kek Koen menjadi sempurna seluruhnya, Thio Sam Hong kembali teringat kepada ilmu ini dan menyempurnakannya pula.

Sayang seribu sayang, penyempurnaan ilmu ini tidak sempat ia turunkan kepada murid-muridnya. Meskipun dulu ia pernah mengajarkan dasar-dasar ilmu ini di perguruan Butong-pay, tetapi ia tidak sempat mengajarkannya saat ilmu ini telah sempurna. Jika sekarang mendiang Thio Sam Hong bangkit dari kuburnya, ia akan begitu bangga melihat Cio San telah mampu mengembangkannya tanpa ada seorangpun yang mengajarkannya!

Kini kelima siucay yang kecurigaannya semakin bertambah, sudah mulai pasang kuda-kuda. Sebenarnya Cio San agak khawatir juga jika ia dikeroyok oleh kelima siucay yang terlihat lemah ini. Tetapi ia tahu bahwa mereka akan memegang tinggi kehormatan sehingga tidak mungkin yang tua menindas yang muda dengan cara mengeroyok.

“Pendekar muda, lihat serangan!” kali ini siucay keempat yang maju.

Senjatanya kali ini adalah sebuah kipas besi yang mengeluarkan suara berdecit-decit. Saat kipas itu bergerak, kuping terasa pedih karena suara berdecit-decit ini. Cio San segera menutup jalan pendengarannya dan memusatkan perhatian kepada serangan lawan.

Jurus pertama yang digunakan siucay keempat agak berbeda dengan jurus milik siucay kelima. Ternyata mereka ini bukan seperguruan karena ilmu mereka sungguh berbeda. Jika tadi gerakan sang siucay kelima luwes dan lembut, gerakan siucay keempat ini berat dan ganas. Huruf pertama yang ia tuliskan adalah “Kuat”.

Cio San telah sadar bahwa setiap huruf yang dituliskan memiliki sifatnya sendiri-sendiri. Menulis huruf “kuat” pun garis-garisnya harus kuat dan berat. Inilah inti dari ilmu silat sastra ini. Setiap jurus akan berbeda, tergantung dari huruf yang ditulis. Huruf yang mengandung kelembutan akan menghasilkan jurus yang lembut, sedangkan huruf yang sifatnya keras, akan mengandung sifat keras dalam gerakannya.

Untuk melawan keras, diperlukan kelembutan. Ini adalah pemahaman mendasar dalam Thay Kek Koen, sehingga Cio San memilih juga huruf yang mengandung kelembutan. Ia memilih huruf “Kebijakan”.Huruf ini bisa dibagi menjadi dua huruf, sehingga Cio San pun bisa mengembangkan gerakanya menjadi lebih beraneka rupa. Menjadi bertahan dan menyerang secara bersamaan.

Sang siucay keempat yang melancarkan serangannya itu sedikit terheran ketika Cio San menggunakan jurus ini, karena pemuda itu dapat menyerang dan bertahan pada saat yang sama!

Serangan sang siucay bukanlah sebuah serangan biasa-biasa saja, karena menurut perhitungan Cio San, serangan ini hampir sama dahsyatnya dengan serangan milik tokoh-tokoh persilatan nomer satu. Kemampuan siucay keempat ini berada setingkat di atas ketua-ketua perguruan silat nomer satu di Tionggoan di jaman sekarang. Mungkin hampir mendekati kekuatan ketua Siau Lim Pay saat ini!

Kelima Siucay ini bukanlah orang sembarangan. Serangan demi serangan siucay kelima semakin mengganas dan Cio San kembali mematahkannya dengan beberapa huruf.

“Anak muda, kau sungguh hebat! Mari kita lihat seberapa hebat kau dalam menghadapi ilmu simpananku!” kata Siucay keempat.

Cio San mengangguk senang, katanya, “Silahkan, tayhiap!”

Sang siucay memasukan kipasnya. Kini kuda-kudanya kokoh di tanah. Seolah-olah tertanam sangat dalam ke dalam bumi.

“Wah, ia mengeluarkan jurus andalannya!” seru siucay yang lain.

Dalam beberapa jurus saja ia sudah mengeluarkan jurus andalannya, maka bisa dibayangkan betapa tidak sabarannya orang ini, dan betapa hebat pula ilmu yang baru saja diciptakan Cio San.

Sang siucay merapal jurusnya, tangannya melambai membentuk sebuah gerakan. Dilihat dari cara ini, ia pasti engeluarkan sebuah pukulan jarak jauh yang maha dahsyat. Wajahnya memerah pertanda bahwa tenaga yang dikumpulkan sangatlah dahsyat. Sebenarnya Cio San hampir tertawa melihat hal ini, karena ilmu pukulan jarak jauh seperti ini harus diam menunggu tenaga dikumpulkan agar bisa dilepaskan menjadi sebuah pukuan dahsyat.

Sungguh berbeda dengan pukulan jarak jauh maha sakti seperti “18 Tapak Naga” yang langsung bisa dikeluarkan tanpa harus “mengisi” tenaga terlebih dahulu. Tetapi melihat kesungguhan wajah si siucay, mau tak mau Cio San berhati-hati juga. Ia diam menanti jurus itu dilepaskan. Sebenarnya waktu “pengisian” tenaga ini hanya 2-3 detik. Tetapi dalam pertarungan hal ini sudah dianggap cukup lama.

“Haaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!” suara ini bergetar memenuhi sekitar hutan bagaikan auman naga yang dahsyat. Terlihat tenaga yang keluar dari telapak tangan sang siucay mengeluarkan cahaya seolah-olah udara itu bersinar dengan terang!

Sinar itu datang dengan sangat cepat! Menghujam bagai badai topan menghancurkan alam.

Tapi Cio San sudah siap. Ia telah paham bahwa kekuatan yang dihasilkan jurus ini pasti maha dahsyat. Itulah sebabnya ia tidak berani menerima sinar itu, meskipun ia memiliki Thay Kek Koen dan ilmu Menghisap Matahari. Itulah sebabnya pula, tubuhnya sudah melenting tinggi di angkasa dan tendangannya menghujam dengan cepat ke bawah.

Kekurangan jurus sang siucay adalah perlu menunggu beberapa detik untuk mengisi tenaga. Cio San yang telah terbiasa dengan pertarungan maha dahsyat seperti ini telah bersiap sehingga begitu pukulan lawan dilepaskan ia terlebih dulu melayang ke atas dengan cepat. Perbedaan gerakannya ini hanya sepersekian detik dari serangan lawan. Cio San bergerak lebih dulu sehingga ia aman dari serangan sinar yang telah menghancurkan apa saja yang diterjangnya. Pepohonan, batu cadas, dan semak-semak, semuanya kini hancur berantakan dan rata dengan tanah!

Dalam sepersekian detik ini, Cio San berjumpalitan dengan indah, melakukan poksay (salto), dan melancarkan tendangan yang sangat cepat. Sang siucay tak menyangka ketika pukulannya dilepaskan, tahu-tahu kaki Cio San telah menyapu lengan kanannya.

“Braaak!” lengan kanan siucay kelima retak dan ia terlempar ke samping. Untung teman-temannya dengan sigap menangkapnya. “Harap para siucay memaafkan jika wanpee terlalu berlebihan,” kata Cio San sambil menjura.
“Anak muda kau hebat! Aku mengaku kalah!” kata siucay keempat sambil meringis menahan sakit.

“Ilmu pukulan siucay sungguh hebat, wanpee (saya yang lebih muda) hanya menang cepat sedikit karena lebih muda. Sungguh wanpee sangat kagum dengan kedahsyatan pukulan siucay,” kata Cio San dengan tulus.

Ilmu pukulan milik siucay keempat itu memang sangat dahsyat. Kekuatannya bahkan hampir sama dengan “18 Tapak Naga”. Hanya saja kekurangannya adalah ilmu ini harus menunggu beberapa detik agar bisa dilepaskan. Harus melakukan kuda-kuda tertentu. Bagi mereka yang cerdas dan memiliki pengalaman bertarung sangat luas seperti Cio San, dapat menentukan waktu serangan pukulan itu dilepaskan cukup dengan cara memperhatikan. Sehingga dengan penentuan yang pas, mereka bisa membuat serangan balasan dengan waktu yang tepat.

Nampaknya para siucay ini adalah sekumpulan orang berilmu tinggi yang jarang turun ke dunia persilatan. Mereka mungkin hanya menyibukkan diri dengan mempelajari sastra, musik, dan lukisan. Sehingga pengalaman bertarung mereka tidak sebanyak orang yang biasanya malang melintang di dunia Kang-Ouw (dunia persilatan). Ilmu mereka tinggi namun kaku dan kurang pengembangan. Mereka pun sepertinya berasal dari perguruan yang berbeda-beda karena ilmu mereka terlihat begitu berbeda. Cio San dalam hati telah mengetahui siapa mereka, hanya saja ia tidak berani ceroboh untuk mengambil langkah.

“Perkenankan aku maju,” kali ini pasti siucay ketiga pikir Cio San. Siucay yang ketinggi badannya tinggi kurus. Bagaikan sebuah bambu. Betulsaja, ternyata ia mengeluarkan senjatanya berupa sebuah seruling bambu. Setelah saling menjura, ia memasang kuda-kuda. Serulingnya diletakkan di bibirnya dan ia mulai meniupkan seruling bambu berwarna merah itu.

Lagu yang dinyanyikan begitu sendu dan menyayat hati. Cio San menoleh ke Syafina dan ingin berkata agar Syafina menutup jalan pendengarannya. Tetapi putri cantik  itu seperti telah mengerti maksud hati Cio San. Ia hanya menunjuk kuping sendiri dan tersenyum. Cio San balas tersenyum. Senang rasanya bertemu wanita yang bisa mengerti maksud hatinya.



Seruling itu mengalun di nada rendah, kemudian perlahan-lahan meninggi. Hawa di sekitar tempat itu mulai menjadi dingin tak karuan. Rupanya selain mengandalkan Khi-kang (ilmu suara) yang tinggi, sang siucay ketiga memiliki tenaga Im (yin, dingin). Udara dingin ini sangat enusuk tulang. Cio San menoleh pada Syafina, dilihatnya putri itu sudah bersemedhi menghangatkan tubuhnya. Lega lah hati Cio San.

Begitu hebat ilmu seruling ini hingga dapat mengubah cuaca di sekitarnya! Rupanya alunan nada ini mengandung gelombang aneh yang dapat mempengaruhi udara. Dalam hati Cio San sungguh terheran ada ilmu sebegitu ajaibnya seperti ilmu siucay ketiga ini. Tapi wajahnya menampakkan ketenangan luar biasa, malahan ia tersenyumsimpul, seolah-olah ilmu yang dipertunjukkan ini hanyalah permainan anak kecil yang lucu dan menyenangkan.

Secara alami, tenaga dalamnya telah melindunginya dari balutan hawa dingin yang menusuk tulang ini. Melawan dingin harus dengan panas. Cio San masih belum berani menggunakan ilmu lain selain Thay Kek Koen dan Ilmu Sastra karena hanya kedua ilmu inilah yang mempunyai akar kuat di Butongpay. Jika ia mengeluarkan Hong Liong Sip Pat Cang (18 Tapak Naga) maka penyamarannya akan ketahuan. Jika ia mengeluarkan Gip Sing Tay Hoat (Ilmu Menghisap Bintang) milik Ma Kauw, jati dirinya pun akan semakin dicurigai. Apabila ia mengeluarkan Ilmu Ular Derik, semakin mencurigakan lagi karena di dunia ini hanya dirinyalah satu-satunya yang bisa menggunakan jurus itu.

Memang, jika seseorang memiliki rencana dalam melakukan sesuatu, terkadang ia mengalami keraguan dalam menentukan langkahnya. Ketika dulu menghadapi kawanan Beng Liong, Cio San hanya membiarkan segala kejadian mengalir apa adanya. Ia tidak mengatur rencananya, membiarkan takdir terjadi dan berjalan sesuai yang digariskan langit. Tetapi kali ini, ia harus mengatur rencana dengan matang. Meleset sedikit saja, maka rencana ini akan gagal. Karena itulah muncul keraguan di dalam hatinya dalam mengambil langkah.

Ilmu silatnya tak lagi mengalir dengan alami. Tak lagi bergerak sesuai perubahan. Tak lagi luwes dan apa adanya. Karena Cio San terlalu berpikir dan ragu-ragu. Ilmu silatnya pun menjadi penuh keraguan. Menghadapi hawa dingin ini tentu saja Cio San masih dapat bergerak bebas. Satu-satunya cara untuk menghentikan serangan dingin itu adalah dengan menyerang sumbernya, yaitu seruling itu.

Dengan mengembangkan jurus Ilmu Sastra nya, Cio San menyerang dengan menggunakan huruf “Mendengar”. Begitu serangannya tiba, sang siucay ketiga menyambut pukulan itu dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya tetap memainkan seruling.

Kedua tapak mereka beradu. Dari telapak tangan lawan, mengalir sebuah tenaga In (Yin, dingin) yang sangat kuat. Sebenarnya dengan Gip Sing Tay Hoat (Ilmu Menghisap Bintang), ia bisa saja menyedot tenaga ini. Tetapi selain takut ketahuan, ia sendiri khawatir jika tenaga dingin yang diserapnya justru akan melukainya sendiri. Karena selama ini inti kekuatan tenaga Cio San berada pada pemusatan Yang (panas). Hanya Thay Kek Koen lah yang memiliki keseimbangan Im-Yang, sehingga hanya ilmu inilah yang bisa dipakainya.

Cio San tidak menyerap tenaga Im lawan, melainkan mengalirkannya ke tangannya yang lain. Terasa tenaga dalamnya berpindah dari telapak tangan kanan ke telapak tangan kiri. Dalam sekejap mata Cio San sudah menghajar lawan dengan telapak tangan kirinya dengan menggunakan tenaga lawan yang dialirkannya.

Begitu tenaga itu dilepaskan melalui telapak kiri Cio San, sang siucay malah tersenyum dan berkata, “Sudah kuduga!” Lalu dengan cepat sang siuthay menarik sendiri tenaga dalamnya yang ia hantamkan ke Cio San.

Posisi mereka berdua adalah telapak kanan bertemu telapak kanan. Sedangkan telapak kiri Cio San rencananya ingin ia hantamkan untung menyalurkan tenaga lawan yang ia serap dari tangan kanan. Tetapi sang siucay ini entah bagaimana, menarik sendiri tenaga dalamnya. Jika Cio San menggunakan ilmu Gip Sing Tay Hoat (Ilmu Menghisap Bintang) tentu tak akan mudahnya lawan menarik kembali tenaga dalamnya sendiri. Tetapi Cio San menggunakan Thay Kek Koen yang bergerak mengikuti alur.

Yang terjadi adalah ketika sang siucay menarik tenaga dalamnya sendiri, tenaga yang Cio San salurkan melalui tangan kirinya ikut tertarik juga, sehingga yang terjadi adalah tenaga yang hampir keluar melalui tangan kiri itu kena menyerang balik dirinya sendiri!

Seandainya orang ini bukan Cio San tentu saja serangan balik tenaga sendiri itu akan melukainya. Tetapi Cio San bukan orang lain. Tubuhnya secara alami pula melindunginya dari serangan tenaga dalam manapun juga. Thay Kek Koen bekerja dengan luwes dan mengalir. Dalam sekejap, tenaga Im yang menyerang tubuhnya itu pun buyar seketika.

“Duaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrr!!!!!”

Ia terlempar jauh ke belakang. Tetapi tidak terluka sedikit pun. Hanya tumbuhan sekitar sana yang menjadi beku. Bebatuan pun membeku. Debu dan tanah pun seolah membeku!

Bukan main!

Tenaga Im siucay ketiga ini memang sungguh tiada bandingannya! Seumur hidupnya Cio San belum pernah bertemu orang yang memiliki tenaga Im sedahsyat ini. Untuk mendapatkan tenaga Im seperti ini, seseorang harus berlatih selama puluhan tahun di tempat bersalju yang beku. Tak boleh terkena hangat atau panas sedikit pun. Harus pula memakan tumbuhan khusus yang membuat tenaga Im dapat terkumpul di dalam tubuh dan tidak menyerang dirinya sendiri.

“Hebat.....sungguh hebat....,” puji Cio San tulus.

“Kau lebih hebat lagi! Dapat membuyarkan seranganku. Sungguh aku kagum kepadamu!” jawab si siucay ketiga. Ia sendiri tidak terluka. Rupanya dalam benturan tadi, ia berhasil mengalirkan tenaga dalamnya keluar sehingga tidak melukai dirinya sendiri. Hasilnya adalah seluruh daerah tempat mereka berada semuanya beku dan terbungkus es. “Aku mengaku kalah,” katanya sambil menjura dan mundur.

Sebenarnya pertarungan ini masih imbang. Siucay ketiga mengaku kalah hanya karena ia sudah tidak memiliki ilmu lain lagi yang bisa dikeluarkannya. Dan jika orang tua kehabisan ilmu menghadapi anak muda, bukankah kejadian ini merupakan sebuah hal yang memalukan? Karena itu ia mundur dengan terhormat.

Sudah tiga orang. Kurang 2 orang lagi.

Jika yang ketiga saja memiliki ilmu setinggi ini, bagaimana yang kedua dan pertama. Cio San tidak mau membayangkan. Ia hanya menoleh kepada Syafina yang telah menyelesaikan semedhinya. Hawa dingin membeku itu kini sudah mulai menghilang dan ia bisa kembali duduk seperti biasanya. Saat Cio San memandangnya, gadis itu hanya tersenyum kepadanya. Seolah-olah berkata, “Kau pasti bisa!”

“Kau pasti bisa!”

Bukankah itu sebuah kalimat pendek yang indah? Laki-laki mana yang tak akan terbakar semangat membara saat mendengarkan hal ini? Laki-laki mana yang tak akan bangkit dari luka jiwanya dan menyongsong kehidupan dengan gagah berani?

Cio San memang tidak mendengarkan kata-kata Syafina ini di telinganya. Tapi ia mendengarkannya di hatinya. Di dalam sanubari dan jiwanya yang paling dalam. Dan hal ini sudah cukup. Sudah lebih dari cukup. Ia melangkah maju ke hadapan para siucay itu, lalu berkata, “Silahkan.”

Kata-kata ini sederhana. Namun diucapkan dengan tenang, gagah, dan penuh keberanian. Laki-laki manapun jika mendengarkan hal seperti ini hatinya akan tergoncang. Apalagi perempuan. Dan Syafina hanya bisa memandang Cio San dengan penuh kekaguman. Hanya laki-laki sejati yang mampu bersikap seperti ini. Dan untuk menjadi laki-laki sejati, ia terlebih dahulu harus menjadi pecundang. Ia terlebih dahulu harus dihajar oleh penderitaan, harus ditempa oleh dinginnya kesepian, harus diuji dengan panasnya luka yang membara. Hanya inilah satu-satunya jalan agar seorang laki-laki dapat menjadi laki-laki sejati. Seorang Kuncu (lelaki sejati)!

“Pendekar muda, kau pergilah. Kami tak akan menahanmu lebih jauh,” kata salah seorang siucay.

“Eh?” Cio San keheranan.

“Dari caramu bertarung, dan caramu bersikap. Kami yakin engkau bukan orang jahat. Meskipun kau penuh rahasia, di dunia ini mana ada orang yang tak punya rahasia?”

Cio San mengangguk-angguk dan menjura, “Terima kasih atas pandangan ngo-siucay (kelima siucay) yang baik hati. Harap hati-hati meneruskan perjalanan. Di depan sana siauhiap (pendekar muda) mungkin akan menghadapi tantangan yang lebih berat,” kata Siucay yang paling tua.

Dalam hati Cio San berkata, “Aku sudah tahu,” tetapi mulutnya hanya tersenyum dan berkata, “Terima kasih. Wanpee mohon diri,” ia menjura dan beranjak dari situ. Syafina berdiri dan ikut menjura juga.

Saat Cio San dan Syafina telah menghilang dari sana, para siucay ini berkumpul dan membicarakan sesuatu dengan bisik-bisik. Mereka lalu menerbangkan seekor burung merpati pengantar surat.

“Kau yakin dia adalah Cio San?” tanya salah seorang.

“Yakin seyakin-yakinnya,” jawab salah seorang.

“Hmmmm.....,”


Dan malam pun semakin kelam.


Tuesday, May 19, 2015

EPISODE 2 BAB 48 GEMURUH PASUKAN KAISAR



Sepanjang perjalanan mereka lakukan menggunakan sebuah kereta reot. Ilmu merias milik anggota-anggota Ma Kauw memang cukup tinggi, Cio San dan putri Syafina benar-benar terlihat sebagai dua orang pasangan renta yang sedang berpergian. Ada beberapa banyak tempat yang mereka singgahi, untuk mengelabui musuh mereka menyamar sebagai penjual dendeng (daging asap yang dikeringkan). Tempat-tempat yang mereka singgahi kebanyakan adalah rumah atau tempat milik anggota Ma Kauw juga.

Perjalanan menuju gunung Himalaya membutuhkan waktu beberapa bulan. Mereka telah menempuh perjalanan selama satu minggu. Perjalanan masih panjang, tapi semangat di hati putri Syafina tetap berkobar. Sepanjang perjalanan Cio San memperlakukannya dengan penuh perhatian. Meskipun hal ini bagian dari penyamaran, tetap saja Syafina merasa senang diperlakukan seperti itu.

Jika ingin membersihkan diri, Cio San sudah menyiapkan baskom dan wewangian. Jika ingin makan, Cio San sudah menyiapkan hidangan. Jika ingin tidur pun, Cio San sudah membereskan bagian dalam kereta sehingga menjadi hangat dan nyaman. Satu hal yang menyusahkan hati Syafina adalah secara agama ia tidak diperbolehkan tidur bersama Cio San. Tetapi saat itu mereka sedang menyamar dan keadaan sangat genting. Untunglah Cio San mengerti hal ini. Ia ‘pura-pura’ berjaga di luar saat nona itu tidur. Dengan begitu jika ada orang yang melihat mereka, hal ini tak akan menimbulkan kecurigaan.

Di hari ke sepuluh, mereka bertuduh di pinggiran hutan pinus. Cuaca saat itu tidak terlalu dingin sehingga mereka memutuskan untuk membuat kemah kecil di luar kereta dan menyalakan api anggun. Langit bersinar terang dan bintang bertaburan di angkasa. Syafina memandang bintang-bintang itu begitu lama. Seolah-olah mencari sesuatu pada jutaan bintang itu. Hati perempuan siapa yang tahu?

Cio San membiarkannya melamun. Ia sibuk memanggang seekor ayam hutan hasil buruannya. Baunya sangat wangi setelah diolesi bumbu olahan Cio San. Ketikasudah selesai, ia menyiapkannya di atas daun dan menyuguhkannya kepada Syafina. Nona cantik berwajah nenek tua itu baru tersadar dari lamunannya setelah Cio San menyentuh kakinya dan tersenyum kepadanya. Dengan mengangguk ia menerima suguhan itu dan berkata, “Terima kasih suamiku.”

“Nona tidak perlu bersandiwara lagi di sini,” kata Cio San. “Di sekitar sini tak ada orang yang menguntit kita,” katanya.

“Oh, baiklah. Maaf,” kata Syafina

“Tidak perlu minta maaf,” tawa Cio San. “Lama-lama jika kita terbiasa menyamar seperti ini memang bisa jadi keterusan. Hahaha.”

Syafina tertawa. Tetapi ada sesuatu di matanya. Cio San sudah mengerti. Ia telah terbiasa membaca sinar mata perempuan. Ada sesuatu di sana yang tidak bisa mereka ungkapkan melalui kata-kata. Ada kesedihan, ada harapan, ada tanda tanya, ada pula jawaban. Mata perempuan memang selalu seperti ini.

“Apakah Hongswee selalu bersikap seperti ini kepada perempuan?”

“Bersikap seperti apa?” tanya Cio San pura-pura tidak mengerti.

“Selalu memberi perhatian, dan selalu selembut ini?”

“Tidak,” jawab Cio San.

“Oh. Kenapa? Setiap wanita kan selalu senang diperlakukan seperti ini,” tukas Syafina.

“Sepertinya justru tidak,” kata Cio San sambil tersenyum lebar.

“Ah, apakah Hongswee merasa lebih mengerti tentang wanita ketimbang para wanita sendiri?”

“Oh itu tidak mungkin. Aku pernah mendengar orang bijak berkata: Laki-laki yang mengaku mengerti perempuan, jika bukan karena sudah pikun tentu karena sudah gila,”

“Haha. Orang bijak mana itu? Apakah perempuan memang selalu sesulit itu untuk dimengerti?” tanya si nona penasaran.

Cio San hanya tersenyum sambil memandangi rerumputan di depannya.

“Coba jelaskan padaku, aku belum mengerti,” kata putri Syafina.

“Perempuan selalu menginginkan semuanya. Seorang laki-laki tidak boleh hanya perhatian saja. Ia harus juga tidak perhatian. Ia tidak boleh lembut saja, tetapi di suatu waktu ia pun harus tegas dan sedikit keras,” jelas Cio San.

“Hmmmm...” Syafina memikirkan kata-kata ini. “Lalu?” tanyanya.

“Laki-laki tidak hanya paham ilmu bun (sastra), tetapi juga harus paham ilmu bu (silat). Harus tenang di rumah, tetapi juga harus berjiwa petualang. Harus baik, tetapi juga harus sedikit nakal. Harus memahami filsafat tetapi juga harus bisa menggunakan perkakas. Intinya, lelaki harus bisa segalanya untuk perempuan,” ujar Cio San.

“Wajar saja kan wanita menginginkan lelaki seperti itu. Kaum lelaki kan yang nanti menghidupi perempuan, melindungi mereka, dan bertanggung jawab atas mereka,” tukas Syafina.

“Menurut putri, ada berapa laki-laki di dunia ini yang sanggup memenuhinya?”
Syafina berpikir sebentar, lalu katanya, “Pasti ada!”

“Pernahkah putri bertemu dengan lelaki semacam ini?”

Si nona berpikir lagi, “Belum.”

“Jika belum, mengapa nona begitu yakin bahwa lelaki semacam ini pasti ada?”
“Setidaknya meskipun belum seluruhnya ia memenuhi persyaratan itu, sebenarnya aku telah menemukan satu orang,” kata Syafina.

“Siapa?”

“Hongswee sendiri,” jawab nona itu pelan.

“Haha,” Cio San sedikit kaget juga mendengar jawaban nona itu. Katanya, “Di masa lalu seorang perempuan meninggalkan aku justru karena aku tidak sanggup menjadi lelaki seperti itu.”

“Itu kan di masa lalu, di masa depan seorang manusia kan bisa menjadi lebih baik. Nona yang meninggalkan Hongswee mungkin tidak bisa melihat hal itu,” tukas si nona. Katanya, “Melihat Hongswee yang sekarang, aku yakin nona itu kini menyesal.”

Cio San hanya terdiam, butuh waktu cukup lama untuknya berkata, “Aku justru berharap ia tidak menyesal.”

“Seorang wanita yang menyesali pilihan cintanya, adalah seorang wanita yang menderita selamanya,” ujarnya pelan.

Jawaban ini begitu menusuk hati Syafina. Ia sendiri berada di dalam keadaan seperti ini. Apakah ia harus memilih bertahan dengan kekasih lamanya, ataukah memberi harapan kepada sebuah cinta yang baru?

“Mengapa laki-laki tidak pernah memahami perempuan?” tanyanya. Suaranya bergetar. Seolah-olah seluruh beban hidupnya berada di perkataan ini.

“Karena perempuan tidak pernah mengatakan keinginannya,” kata Cio San.

“Mengapa perempuan harus mengatakan keinginannya? Mengapa lelaki tidak dapat mengerti sendiri tanpa harus kami katakan?”

“Karena kami bukan tukang sihir,”

“Ish!” Syafina hanya dapat membanting tulang sisa makananya di tanah. “Kalian para lelaki memang sama saja!”

Cio San ingin tertawa di dalam hati. Tetapi ia menahannya. Hanya laki-laki yang pintar menutupi isi hatinya yang bisa bertahan ‘hidup’ di hadapan perempuan. Ia hanya bisa berkata, “Kami pun memiliki permasalahan yang sama dengan kaum perempuan. Kami merasa perempuan memang tidak pernah mengerti laki-laki, dan semua perempuan seluruhnya sama saja.”

“Laki laki kan yang memimpin perempuan, harusnya mereka bisa mengerti terhadap yang dipimpinnya,” tukas si nona.

“Jika yang dipimpin tidak mau mengatakan apa yang ia inginkan, dan melakukan hal-hal aneh lalu berharap keinginannya dimengerti, apa kira-kira pemimpinnya bisa mengambil keputusan dengan tepat?” kata Cio San.

Di dalam hati Cio San semakin tertawa. Selama ini ia menganggap Syafina adalah perempuan yang cerdas, berkeinginan kuat, mandiri, dan tabah. Tak tahunya jika menyangkut perasaan, semua perempuan memang sama saja.

Syafina diam saja. Cio San memandangnya dengan penuh senyuman yang lembut. Kata Cio San, “Aku tahu, seorang perempuan memang lebih suka jika segala keinginan dan maksudnya dimengerti laki-laki tanpa harus dikatakan. Dengan begitu ia akan merasalebih diperhatikan, lebih dicintai, dan merasa lebih cocok dengannya.”

“Nah. Hongswee sudah paham rupanya.”

“Mengenai rumus ini tentu saja sudah paham. Pelaksanaannya yang masih susah. Hahaha,” lanjutnya “Ketika ingin mengatakan sesuatu atau menginginkan sesuatu, kaum perempuan biasanya mengirimkan tanda-tanda. Entah dari perilakunya atau dari hal yang tidak dikatakannya. Seorang laki-laki harus selalu berusaha memahami tanda-tanda ini,” kata Cio San.

“Hmmm. Mungkin saja. Tapi tidak semua. Jika aku menginginkan sesuatu, aku akan mengatakannya,” sanggah si nona.

Ingin Cio San tertawa sekeras-kerasnya, tetapi ia hanya tersenyum dengan lembut lalu berkata, “Tentu saja. Nona memang berbeda dengan perempuan yang lain.”

Mendengar ini senang lah hati Syafina. Mungkin sejak tadi ia berharap Cio San mengatakan ini kepadanya. Untuk sampai pada perkataan ini seorang wanita mungkin akan melakukan perdebatan panjang dengan laki-laki.

Kenapa tidak meminta saja? Kenapa tidak langsung bertanya saja?

Karena perempuan sejak kecil dibesarkan untuk tidak mengungkapkan isi hatinya. Seorang perempuan mungkin harus tunduk dengan aturan. Jika mereka berkata atau melakukan sesuatu, orang lain akan mencap buruk. Takut dicibir orang. Oleh karena itu mereka terbiasa menyimpan isi hati. Laki-lakilah yang harus menebak dan memutuskan, agar kaum wanita sendiri ‘selamat’ dari aturan atau mungkin cibiran. Hal ini memang sudah menjadi permasalahan wanita sejak jaman dahulu. Diwariskan turun menurun sepanjang jaman.

“Beristirahatlah, putri. Besok kita akan mengubah penyamaran dan merubah arah perjalanan,” tukas Cio San.

“Merubah arah? Kemana kita akan pergi?”

“Sebuah tempat yang penuh petualangan. Putri percaya saja kepadaku,”

“Hmmm, rahasia lagi. Kenapa Hongswee selalu penuh dengan rahasia?’ kata Syafina.

“Bukankah hal itu membuat segala sesuatunya menjadi jauh lebih menarik?”

***

Pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat. Ketika hampir tengah hari, mereka tiba di sebuah rumah yang sangat besar. Begitu penjaga depan melihat kereta yang dikendarai Cio San datang, segera ia tersenyum dan menyambutnya, “Eh, kau baru datang sekarang? Wei-wangwe (juragan Wei) sudah menantimu beberapa hari ini? Majikan kami sudah rindu sekali dengan daging asapmu,”

“Waah, maaf. Banyak sekali pembeli yang minta diantarkan dagingnya satu persatu. Tubuh sudah sereot ini mana mungkin bisa cepat? Maaf sekali yaaaa...,” jawab Cio San.

“Sudahlah ayo cepat masuk dan bawa keretamu ke dalam. Wei-wangwe sendiri yang akan memilih dagingnya!”

Tidak menunggu lama Cio San dan Syafina kemudian sudah masuk ke dalam. Tak berapa lama pula Wei-wangwe sudah muncul dan memilih sendiri daging asap kering itu. Wajahnya tampak senang sekali. Rupanya makanan ini adalah kegemarannya. Hampir seluruh isi kereta dibeli oleh juragan yang badannya tambun ini.

“Eh, kakek dan nenek, kalian sudah makan?” tanya Wei-wangwe. “Makanlah dulu mumpung di dapur belakang sedang makan siang,”

Si kakek dan nenek saling berpandangan malu-malu.

“Aih tidak usah malu-malu. Hey, A Fan, antarkan mereka ke dapur belakang,” kata Wei-wangwe. Mau tidak mau akhirnya pasangan tua itu mengikuti saja saat diantarkan pembantu Wei-wangwe yang bernama A-Fan itu ke dapur belakang.

Begitu tiba di dapur belakang, alangkah kagetnya Syafina ketika ternyata di dapur itu sudah ada pasangan kakek nenek yang wajahnya mirip sekali dengan penyamaran dirinya dan Cio San. Bahkan baju yang mereka pakai pun sama persis. Ia hanya bisa menoleh kepada Cio San yang saat itu sedang tersenyum.

Cio San berkata kepada kakek di depannya, “Aku tahu kau pasti datang.”

Yang menjawab bukannya si kakek, tetapi si nenek, “Tentu saja ia datang. Jika kau yang memintanya, ia pasti datang.”

Cio San hanya bisa mengangguk. Di matanya terdapat bayang-bayang kesedihan. Tetapi ia segera menjura dan berkata, “Sekali lagi meminta pertolonganmu.”

“Kau cepatlah pergi,” kata si nenek. “Biarkan kami yang menanganinya dari sini.”

“Baik. Terima kasih. Berhati-hatilah.”

Cio San menarik tangan Syafina dan mereka segera ke ruang belakang. Di ruang belakang terdapat 2 buah bilik. Di masing-masing bilik itu ada penjaga. Laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki mempersilahkan Cio San masuk ke dalam, sedang yang perempuan mempersilahkan Syafina masuk ke dalamnya.
Tak berapa lama mereka keluar dari bilik itu, tampang mereka sudah berubah seluruhnya. Cio San kini berubah menjadi laki-laki muda bertampang kampung. Begitu juga dengan Syafina yang berubah menjadi perempuan desa yang wajahnya cukup buruk.

Cio San tersenyum memandangnya. “Mari kita pergi. Aku akan menjelaskannya kepadamu di tengah jalan.”

Syafina mengangguk saja dan mengikuti Cio San. Mereka lalu memasuki sebuah gudang jerami. Di gudang jerami pun sudah ada orang yang menunggu. “Mari lewat sini, Kauwsu (ketua).” Dengan cepat mereka sudah masuk melalui sebuah tingkap yang menghubungkan mereka dengan tangga ke bawah. Mereka berdua menuruni tangga itu dan kemudian sampai pada sebuah terowongan. Terowongan yang lumayan terang karena banyak obor penerang.

“Nah kita sudah aman,” sambil berjalan Cio San mulai bercerita.

“Putri tentu sudah paham bahwa mereka semua ini adalah anak buah Ma Kauw,” kata Cio San.

“Ya, cukup jelas.”

“Kita sedang menuju ke arah yang berbeda. Kita tidak pergi ke Himalaya,”

“Itu juga aku sudah paham. Yang pergi ke Himalaya adalah kedua kakek dan nenek yang penyamarannya sama dengan kita, bukan?”

“Benar sekali,”

“Mereka apakah teman akrabmu kah, Hongswee?”

“Dulu,” jawab Cio San sambil menerawang jauh langkahnya menjadi sedikit tersendat.

“Hmmmm....” nona itu tidak melanjutkan kata-katanya. Justru Cio San yang berkata, “Nama mereka adalah Cukat Tong dan Bwee Hua.”

“Ah, aku secara tidak sengaja mendengar Hongswee bercerita kepada Kao Ceng Lun....” kata putri itu lirih.

“Apa saja yang tuan putri dengar?”

“Bahwa...bahwa ia sekarang memusuhimu karena..eh...karena cemburu..,”

“Benar sekali,”

“Tetapi mengapa ia tetap datang saat kau meminta pertolongannya? Datang dengan istrinya pula kan?”

“Ya”
“Hmmm, mengherankan.”

“Tidak mengherankan. Karena ia adalah Cukat Tong.”

Si putri terdiam. Lalu tersenyum dan berkata, “Dan karena kau adalah Cio San,”

“Benar.”

Mereka berdua tetap melangkah di tengah kesunyian terowongan. Menyisakan banyak pertanyaan tentang persahabatan antar lelaki yang tak pernah bisa dimengerti Syafina. Persahabatan yang mendalam seperti ini telah mengakar di dalam hati. Tak akan pernah bisa terputuskan oleh apapun. Bahkan oleh permasalahan yang paling pelik sekalipun. Hanya kaum lelaki yang bisa bersahabat seperti ini. Di luar saling membenci tapi saling memperhatikan satu sama lain. Mungkin karena ini pula di dunia persilatan ada musuh bebuyutan yang saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Ada pula sahabat akrab yang tidak pernah menyapa satu sama lain pula.

Persahabatan kedua orang ini adalah persahabatan yang sejati. Sesuatu yang tak akan bisa dipahami manusia biasa. Hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah mengalami dalamnya persahabatan.

Meskipun mereka tak saling menyapa, tak saling cocok satu sama lain, tetapi jika salah seorang membutuhkan pertolongan, yang lain pasti tak akan ragu-ragu datang menyerahkan nyawa. Hanya karena kepercayaan terhadap hal ini lah Cio San berani mengatur rencana. Bayangkan jika Cukat Tong tidak datang, seluruh rencananya pasti sudah berantakan. Tapi ia yakin seyakin-yakinnya bahwa Cukat Tong akan datang. Ia pun yakin-seyakinnya jika saat selesai nanti Cukat Tong meminta kepalanya sebagai imbalannya, Cio San akan memberikannya dengan puas dan senang hati.

Karena mereka berdua adalah sahabat sejati!

Kalimat ini saja sudah cukup menjelaskan segala persoalan ini.

Ujung terowongan adalah sebuah pintu kecil. Ketika dibuka mereka sudah berada di tepi sungai kecil di pinggiran hutan. Sebuah perahu kosong menanti di sana. Segera kedua pasangan ini naik dan mengayuh. Syafina beristirahat di bilik kecil yang berada di perahu itu. Ia bertanya, “Kita kemana?”

“Kita akan bergabung dengan pasukan kaisar. Menghancurkan pemberontakan di Selatan.”

Syafina mengangguk. Kekagumannya terhadap laki-laki ini bertambah lebih dalam.

Air sungai mengalir bagai kehidupan manusia. Mengalir ke tempat yang tidak seorang pun tahu. Ada kalanya air itu ke laut. Namun ada kalanya air itu berhenti di tengah jalan. Perahu itu berjalan dengan kencang karena layarnya tertiup angin. Entah sudah berada di mana. Cio San tak bisa mengendarai perahu. Ia hanya pernah mendengar orang lain menjelaskan caranya kepadanya. Tetapi dalam situasi seperti ini, ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Toh ia sudah tahu tempat yang ditujunya. Aliran sungai ini pun hanya mengarah ke tempat tujuannya itu. Jika tidak memasrahkan takdir, apalagi yang bisa dilakukan manusia?

Ketika sore menjelang, Cio San melihat tanda yang dinantinya. Sebuah dermaga kecil dan tulisan nama kotanya. Kota ini yang memang ditujunya.

“Kita turun di sini,” katanya kepada Syafina. Dengan sedikit bingung Cio San akhirnya berhasil mendaratkan perahunya ke dermaga kecil itu. Tidak banyak orang di sana karena dermaga ini memang bukan dermaga umum. Hanya beberapa orang kampung yang menggunakannya. Sebagai mantan ketua Ma Kauw yang sangat besar, Cio San banyak memiliki pengetahuan tentang tempat-tempat khusus yang bisa mereka pakai dalam keadaan tertentu.

Cio San mengikat perahunya pada tiang kayu di tepi dermaga. Ia lalu mengambil bungkusan yang nampaknya sudah dipersiapkan di dalam bilik perahu. Setelah memperhatikan suasana sekitar, ia menjadi lega karena tak ada orang yang membayangi atau membuntuti mereka. Ia nampaknya cukup puas dengan rencana yang telah diaturnya ini.

“Menurut perhitunganku saat malam menjelang pasukan kerajaan akan tiba di daerah ini. Kita harus menyamar lagi menjadi tentara. Ku harap hal ini tidak merepotkan putri,” tukas Cio San.

“Ah tidak. Menurutku malah hal ini semakin seru dan menarik. Aku ingin tahu apa rencana Hongswee selanjutnya,” kata Syafina.

Mereka kemudian berganti baju. Syafina berganti baju di dalam bilik sedangkan Cio San berganti baju di atas perahu. Kedua orang ini memang adalah orang persilatan sehingga gerak-gerik mereka cukup cepat dan lugas. Setelah itu Cio San mengajak Syafina untuk pergi dari sana dan memasuki sebuah hutan yang cukup lebat.

Lama mereka menyusuri hutan dan tibalah mereka di sebuah hamparan padang rumput yang cukup luas. Syafina memperhatikan padang rumput itu dan berkata, “Tempat ini sangat bagus untuk tempat istirahat pasukan. Apakah Hongswee berpikir mereka akan beristirahat di sini?”

“Ya. Menurut keterangan mata-mata Ma Kauw, mereka pasti beristirahat di sini. Jika malam tiba kita harus segera menyusup ke dalam pasukan. Mungkin besok pagi-pagi sekali mereka sudah akan berangkat. Untuk sementara kita bersembunyi di atas pohon yang rindang. Biasanya sebelum pasukan tiba, ada pasukan kecil yang datang lebih dulu untuk memeriksa keadaan.”

Cukup lama mereka sembunyi sambil mengumpulkan tenaga. Rencana menyusup ini bukan sebuah rencana yang terlalu berbahaya. Jika ada apa-apa Cio San bisa menunjukkan lencana naganya. Ia hanya tak ingin penyusupan ini terbongkar agar ia bisa mengelabui musuh yang tak terlihat.

Saat malam tiba, suasana seluruh wilayah itu menjadi gelap gulita. Cio San meminta Syafina untuk bersemedi agar mereka dapat mengatur detak jantung dan nafas sekecil dan sepelan mungkin. Dalam keadaan bersemedi, seorang manusia dapat bersatu dengan alam sehingga kehadirannya cukup sulit untuk ditemukan.

Ketika menjelang tengah malam dari kejauhan  terdengar suara. Beberapa langkah kaki manusia yang hampir tak terdengar. Mereka memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sangat tinggi sehingga sangat sulit untuk mendengarkan langkah mereka. Tetapi telinga Cio San tak dapat dibohongi. Walaupun langkah itu hampir-hampir tak terdengar, ia dapat mendengar sedikit gesekan dedaunan saat beberapa orang itu melintasi hutan.

Cio San dan Syafina lalu memusatkan pikiran. Mereka menjadi semakin dalam bersemedhi. Rasa keakuan, nafsu, dan keinginan manusiawi yang berada di dalam jiwa mereka menghilang seluruhnya. Di dalam keadaan seperti ini seorang manusia akan dapat menyatu dengan alam, menjadi bagian dari alam yang maha luas tanpa batas dan tanpa dasar. Di saat-saat seperti ini bahkan jika Cio San ingin mencari dirinya sendiri, ia tak akan dapat menemukannya.

Saat bersemedi, seorang manusia memasuki kekosongan tanpa batas. Ada hal yang bertolak belakang yang terjadi jika seseorang bersemedi. Ia tak lagi mengetahui keberadaan dirinya. Tak lagi memiliki jiwanya, tetapi herannya alam bawah sadarnya semakin menguat dan semakin mengerti tentang apa yang terjadi di sekelilingnya. Inilah hebatnya bersemedhi. Hanya ahli-ahli silat tingkat tinggi yang sanggup melakukannya.

Dari alam bawah sadarnya Cio San mengetahui bahwa pemeriksaan yang dilakukan oleh pasukan pengintai sudah selesai. Mereka memberi tanda pada pasukan inti di belakang mereka bahwa keadaan aman dan dapat didatangi. Cio San dan Syafina masih tetap bersemedhi. Keadaan mereka seperti keadaan hewan buas yang tidur dan menanti saat yang tepat untuk bangun dan menerkam mangsa. Begitu tenang, tetapi begitu menakutkan.

Tak berapa lama terdengar derap kuda dari kejauhan. Pasukan kekaisaran sudah datang!

Suasana mulai terang benderang di kejauhan. Ribuan obor menyala. Bahkan meskipun gelap, debu terlihat jelas berterbangan di udara. Suara gemuruh kaki kuda, kereta perang, dan langkah kaki laskar perang yang menggetarkan bumi!

Hanya cukup mendengarkan suara gemuruhnya saja, seseorang dapat menangis ketakutan dan terkencing-kencing. Apalagi saat melihat gemuruh itu berubah menjadi puluhan ribu pasukan yang bergerak dengan gagahnya. Setiap tentara pun menyanyikan teriakan perang yang menakutkan!

Baju besi mereka berkilatan ditempa cahaya obor yang mereka bawa. Sinar mata mereka mencorong bagai harimau yang siap menerkam semua musuh. Dalam satu perintah, pasukan itu berhenti secara tiba-tiba!

Alangkah hebatnya panglima yang memimpin puluhan ribu pasukan ini!

Beliau adalah Khu-tai goanswe (Jenderal besar Khu), putra pertama dari Khu-hujin (Nyonya Khu) yang tersohor itu. Cio San mengenalnya. Ia adalah paman dari mantan kekasihnya, Khu Ling Ling. Jenderal yang usianya sudah lebih dari separuh baya ini terlihat gagah dalam jubah perangnya yang berwarna kuning keemasan. Pedang di pinggangnya, tombak di punggungnya. Ia mengendarai seekor kuda perang gagah yang berwarna hitam mengkilat.

“Kita beristirahat di sini! Dirikan tenda dan lakukan formasi khusus untuk pertahanan!”

“Siaapppp!” terdengar gemuruh puluhan ribu pasukan ini.

Setelah itu sang jenderal menuju ke sebuah titik di mana sebuah tenda untuk para jenderal didirikan.

Cio San membuka matanya. Ia mencari keberadaan kaisar. Penglihatannya kemudian tertuju pada sebuah kereta paling besar dan paling mewah di tengah-tengah pasukan. Pengawalan di sana pun sangat ketat. Dalam hati Cio San sedikit lega karena pengawalan ini sesuai dengan yang dibayangkannya. Sangat kuat, sangat rapat, dan sangat rapi.

Syafina pun sudah membuka mata dan melihat ke arah pandangan mata Cio San. Seolah-olah mengerti isi pikiran Cio San, ia bertanya, “Hongswee akan menemui kaisar?”

“Tidak. Kita hanya perlu menyusup di dalam rombongan pasukan. Tetapi ada hal yang cukup mengkhawatirkan,” katanya.

“Ada apa?”

“Semua pasukan ini adalah pasukan khusus. Mereka pasti saling mengenal satu sama lain. Aku khawatir jika kita menyusup, kita akan ketahuan.”

“Apakah Hongswee tidak memikirkan hal ini sejak awal?”

“Tidak. Aku baru mengetahui hal ini setelah melihat cara mereka menyusun barisan saat membuat tenda dan membuat formasi bertahan. Dari cara mereka, setiap orang memiliki tugasnya tersendiri. Jika tidak memiliki tugas pun, masing-masing berdiri di barisan yang jumlahnya tertata rapi. Tatapan mata mereka saling mengenal. Jika kita masuk menyusup ke dalam barisan itu, maka barisan itu akan kacau dan kita jelas akan ketahuan,” jelas Cio San.
“Hebat sekali pasukan ini!”

“Pasukan seperti ini meskipun jumlahnya sedikit, amat sangat sulit untuk dikalahkan. Gerakan mereka seperti satu tubuh dan satu jiwa. Hebat sekali Khu-tai goanswe membentuk pasukan seperti ini. Perlu latihan keras bertahun-tahun. Tak boleh ada salah sedikit pun. Tetapi melihat ini, aku cukup lega. Mudah-mudahan kita akan meraih kemenangan di Selatan nanti,” ujar Cio San.

“Jadi, apa rencana Hongswee?”

“Kita hanya bisa membayangi pasukan ini. Berjaga-jaga jika ada serangan pemberontak. Syukur-syukur perjalanan aman sampai ke Selatan. Jika sudah tiba di sana, musuh yang dihadapi akan lebih kelihatan.”

“Hmmm, jadi kita hanya berdiam di sini?” tanya Syafina lagi.

“Tidak. Kita harus bergerak di depan mereka. Setidaknya dengan cara ini kita akan lebih dulu mengetahui pergerakan musuh.”

“Baiklah.”

Kedua orang ini melayang turun perlahan-lahan tanpa suara. Baju tentara mereka sudah mereka tanggalkan di atas pohon. Dalam sekejap mata mereka menghilang di dalam kegelapan hutan itu.

Setelah cukup jauh Syafina berkata, “Ada yang ingin aku tanyakan kepada Hongswee.”

“Apa itu?”

“Bagaimana jika pasukan pemberontak menyusup ke dalam pasukan khusus itu?”

“Tidak mungkin. Seperti yang kubilang tadi, pasukan itu tidak mungkin bisa disusupi. Mereka saling mengenal satu sama lain. Gerak-gerik mereka tertata rapi.”

“Tapi bagaimana jika seluruh pasukan itu memberontak?”

“Jika mereka ingin memberontak, kenapa menunggu sejauh ini untuk melakukannya?” kata Cio San.

“Hmmmm, betul juga. Eh, ada lagi yang ingin kutanyakan,” tukas Syafina.

“Mengapa kita justru jalan ke belakang pasukan, kata Hongswee kita harus ke depan?”

“Ada satu hal yang baru kusadari,” kata Cio San enteng.

“Apa itu?”

“Kemungkinan besar kaisar tidak berada di dalam rombongan pasukan ini.”