Friday, August 22, 2014

EPISODE 2 BAB 28 URUSAN YANG TERLALU BANYAK


Cio San sudah bercukur. Rambutnya disanggul rapi. Tubuhnya pun kini sangat wangi. Sekilas ia teringat Beng Liong yang memiliki wangi yang khas. Hatinya terasa kecut kita memikirkan sahabatnya itu. Tetapi ia mengeraskan hatinya dan mencoba melupakannya. Baju baru yang disediakan para pelayan di rumah itu untuk Cio San terlihat sederhana namun serasi dengan bentuk tubuhnya. Wajahnya terlihat jauh lebih muda. Cahaya terang bersinar dari raut wajahnya yang gembira.

Ia pergi ke Lai-Lai. Tempat yang menyimpan begitu banyak cerita. Ia pernah tinggal di sana cukup lama. Ia hafal hampir seluruh sudut tempat itu. Tetapi tempat itu sudah amat berubah. Saat sampai di pintu depan, seorang pelayan menyapanya, “Maaf tuan, tempat kami penuh. Tuan bisa memesan tempat, tetapi harus menunggu cukup lama”

“Oh, aku sudah memesan tempat,” sahut Cio San sambil tersenyum. “Atas nama A San.” Sang pelayan memandang catatannya sebentar lalu tersenyum dan mengangguk, “Ah, mari silakan masuk tuan.”

Si pelayan mengantar Cio San duduk di kursinya. Kebetulan tempat itu berada di pojok dan mejanya kecil, hanya cukup untuk dua orang. “Maaf hanya tempat ini yang tersedia, tuan,” kata si pelayan. Cio San memuji, “Ah sempurna sekali. Cocok.”

“Baiklah kalau tuan suka. Tuan ingin memesan apa? Kami punya masakan dan arak terbaik. Kalau boleh menyarankan, saya menyarankan bebek panggang merah tabur kacang, dan arak gun siu. Itu adalah masakan unggulan kedai kami.”

Melihat si pelayan yang tangkas dan ramah, Cio San tersenyum senang dan berkata, “Kedengarannya enak! Baiklah, aku memesan itu saja.”

Ia tahu masakan itu harganya mahal. Tetapi ia tahu pula, di dalam kantong baju barunya, uangnya sangat banyak. Pelayan di rumah Khu-hujin sudah menyelipkan sebuah kantong uang yang cukup dalam di balik sakunya. Saat itu ia pura-pura tidak tahu saja. Karena untuk mengembalikan uang itu tentu tidak mungkin, sebab akan menyinggung Khu-hujin.

Seperti biasa, ia memperhatikan keadaan sekitar. Otaknya telah bekerja secara alami untuk memperhatikan, dan mengambil kesimpulan. Dari jejak tanah di sepatu, ia tahu bahwa orang yang duduk di meja sebelah baru saja datang dari kota Ceng Pau. Dari sarung pedang dan gagangnya, Cio San tahu bahwa seseorang yang duduk di pojok nun jauh di sana baru saja membunuh orang.

Begitu seterusnya. Otak dan pemikirannya tak pernah berhenti memperhatikan dan mengambil kesimpulan. Bahkan kelebihan inilah yang membuat ia bertahan hidup sampai sekarang.

Ta perlu menunggu terlalu lama, pesanannya sudah datang. Baunya wangi sekali. “Sungguh wangi! Terima kasih” puji Cio San. Si pelayan cuma mengangguk tersenyum bangga. Hanya itulah kebanggaan pelayan. Jika pekerjaan mereka dihargai dan dipuji. Cukup tersenyum manis, dan berterima kasih. Para pelayan akan sangat berterima kasih kepadamu pula. Malahan kemungkinan pelayanan mereka kepadamu malah semakin baik.

Tanpa tedeng aling, Cio San langsung menyantap hidangan di hadapannya. Ia paling suka makan. Apalagi makanan enak. Jika ada makanan tidak enak, ia akan selalu menemukan cara untuk membuatnya jadi lebih enak. Ini salah satu kelebihan kecil yang amat sangat dibanggakannya di hadapan sahabat-sahabatnya. Dan sahabat-sahabatnya pun mengakui hal ini. Apa yang dipesan Cio San akan mereka pesan pula. Apa yang dilakukan Cio San terhadap makanannya, akan mereka lakukan pula terhadap makanan mereka. Cio San makan di mana, di situ pula mereka akan makan. Pendek kata, jika Cio San makan batu. Sahabat-sahabatnya pun akan makan batu, karena mereka yakin, batu itu pasti enak rasanya.

Ia menikmati masakan ini dengan sungguh-sungguh. Rasanya sangat enak. Kwee-ciangkui (pemilik rumah makan), ayah Kwee Mey Lan, rupanya berhasil menemukan tukang masak yang berbakat. Teringat akan Kwee-ciangkui, Cio San penasaran. Kemana orang tua yang baik hati itu? Yang menjaga bagian kasir bukanlah dirinya, melainkan seorang wanita tua dengan dandanan cukup menor. Apakah ini istri barunya? Cio San tersenyum sendiri. Pintar juga Kwee-ciangkui mencari istri.

Wanita itu masih lumayan muda. Mungkin sekitar 35 tahunan. Tubuhnya padat memikat. Bajunya pun lumayan ketat. Wajahnya masih cantik, sayang dandanannya cukup tebal. Kebanyakan perempuan memang seperti ini. Semakin tua, dandanannya semakin tebal. Mungkin untuk menutupi kerutan wajah yang perlahan-lahan muncul menjarah kecantikan mereka.

Perempuan cantik yang menjadi tua, selalu menjadi sebuah ironi tersendiri.
Lagak wanita di bagian kasir ini juga cukup menarik. Ia mengatur urusan Ciaulauw (kedai makan/arak) ini dengan cukup luwes dan ramah. Cio San jadi asik sendiri memperhatikan wanita ini. Tentu saja dengan cara sembunyi-sembunyi. Ia tidak ingin ketahuan memelototi wanita ini.

Tiba-tiba terdengar keributan di luar. Rupanya seorang tamu memaksa masuk, padahal sang pelayan telah memberitahukan bahwa tempat itu sudah penuh.
“Biarkan aku masuk!” terdengar suara yang cukup menggelegar.

“Maaf, tuan. Tidak bisa, tempat kami sudah penuh,” si pelayan mencoba mencegahnya. Tapi apa daya, dengan satu tarikan, si pelayan sudah dilempar orang itu keluar. Rupanya orang ini adalah seorang ahli Gwa-kang (tenaga luar). Melihat caranya melempar pelayan itu, Cio San terkesan. Bukan terkesan dengan tenaganya, melainkan terkesan dengan cara lemparnya. Orang itu menggunakan gerak sedemikian rupa sehingga pelayan itu jatuhnya tepat dengan kedua kakinya dan tidak terluka pula. Dari sini saja, Cio San menilai bahwa orang ini bukan orang yang jahat. Ia cuma bersifat keras dan kasar.

Orang itu masuk ke dalam. Dari cara berpakaiannya Cio San tahu bahwa orang ini berasal dari suku Miao. Sebuah suku dari banyaknya suku yang hidup di Tionggoan (China daratan). Hubungan suku Han (suku mayoritas di China daratan) dengan suku Miao akhir-akhir ini memang kurang baik. Dari kabar yang terdengar, ada gerakan pemberontakan yang dilakukan suku ini di beberapa tempat. Karena itulah, saat orang ini masuk, seluruh orang yang berada di dalam Lai Lai-ciulauw (kedai Lai Lai) ini langsung membuang muka.
Cio San menyambutnya dengan senyum, “Toako (kakak)! Duduk lah di sini. Masih ada sebuah kursi kosong.”

Melihat teguran yang bersahabat itu, orang Miao ini lalu tersenyum senang, ia menoleh kepada si wanita penjaga kasir, “Tuh, ada kan! Kalian saja yang tidak mau menerima orang Miao!” Sebenarnya tabu membicarakan urusan antar suku seperti ini, tetapi orang Miao memang lebih terbuka dalam urusan berbicara.

Ia lalu duduk tepat di sebelah Cio San. Karena bangku yang tersisa cuma sebuah bangku yang agak panjang yang diduduki Cio San. “Salam kenal!” katanya sambil menjura. Cio San tersenyum dan membalas salamnya. “Nama cahye, A San. Kalau boleh tahu, siapakah nama toako (kakak) yang gagah?”

“Namaku Tia Cati. Senang berkenalan dengan anda!” mulutnya tersenyum tetapi matanya memandang bebek dan arak yang ada di atas meja.

“Tia-toako (kakak Tia) nampaknya lapar dan barusan berjalan jauh. Ini makan dulu bebekku. Masih ada beberapa bagian yang utuh. Biar ku pesan lagi hidangan yang lain,” kata Cio San sambil melambaikan tangan memanggil pelayan. Tia Cati ini tanpa ragu-ragu langsung mengambil bebek itu dan melahapnya. “Baik. Bagus sekali. Terima kasih.”

Bagi orang lain, perbuatan ini sangat tidak sopan. Apalagi mereka mendengar bahwa kedua orang ini baru saling kenal. Dalam suku Miao sendiri pun ada aturan tata kesopanan tersendiri. Nampaknya memang sudah sifat dan pembawaan Tia Cati sendiri yang seperti ini. Cio San tersenyum dalam hati memperhatikan lagak orang di sebelahnya ini. Tanpa tedeng aling, tanpa basa-basi, jujur dan terbuka. Cio San menghargai ini. Sekali pandang saja ia tahu, orang ini cocok dijadikan sahabat.

Perawakannya tinggi besar, bercambang lebat, rambutnya disanggul namun sedikit awut-awutan. Ketika bebeknya selesai masuk perutnya, hidangan lain yang dipesan Cio San sudah datang pula. Mereka berdua menghabiskan makanan ini dengan lahap tanpa bercakap-cakap.

Jika makanan enak berada di dalam mulut, apa pula gunanya berbicara? Orang lain yang memperhatikan tingkah kedua orang ini cuma bisa geleng-geleng kepala.

“San-toako (kakak San), aku tahu engkau bukan orang biasa. Tetapi musuhku sedang mengejarku. Aku terpaksa makan untuk mengisi tenaga. Jika nanti ia masuk kemari, ku mohon kau pergilah. Aku tidak ingin sahabat baruku terkena urusanku,” kata Tia Ciati.

“Memangnya ada orang yang berani mencari perkara denganmu?” tanya Cio San sambil tersenyum.

“Orang lain tidak berani. Tapi orang ini berani. Aku sudah bosan lari darinya, kuputuskan untuk melawannya di sini saja,” tukas Tia Ciati sambil gegares paha domba yang cukup besar.

Dalam hati Cio San cukup kaget. Musuh yang mampu membuat laki-laki gagah seperti ini melarikan diri, bukanlah orang yang bisa dianggap enteng.

Tia Ciati menatap pintu dengan sedikit khawatir. Tapi mulutnya tidak berhenti makan dan menenggak arak. “Aih, enak sekali arak ini!” tapi begitu kata ‘ini’ selesai, wajahnya memucat. Rupanya bayangan musuhnya telah tiba di depan pintu. Mau tidak mau, Cio San menoleh ke pintu juga. Entah bagaimana musuh itu bisa masuk tanpa dihadang pelayan. Mungkin karena ada beberapa kursi yang sudah kosong.

Musuh itu sudah tiba!

Alangkah herannya Cio San ketika melihat yang masuk itu adalah seorang perempuan kurus langsing, dengan pakaian khas suku Miao. Wajahnya lumayan walaupun bukan wajah perempuan paling cantik nomer satu di dunia. Cio San berani memberi nilai 7 untuk wajah ini.



“Sekarang kau tak bisa lari lagi!” kata wanita itu. Suaranya melengking.

“Aku memang tidak kepingin lari,” jawab Tia Ciati tenang sambil melahap paha domba. Meskipun tenang, Cio San dapat melihat keringat sebesar butiran jagung di dahinya.

“Jadi kau setuju akan menikahiku?”

Hampir pecah tawa Cio San mendengar hal ini. Tetapi ia berpura-pura menenggak arak. Biarpun mangkoknya sudah kosong, ia masih berpura-pura menenggak, agar menutupi tawanya.

“Tidak kepingin lari, kan bukan berarti kepingin nikah,” jawab Tia Ciati pelan.

Braaaaak!! Si nona menggebrak meja.

“Jadi apa maumu???!!!” tanyanya dengan mata membelalak.

Cio San tak tahu apa yang harus ia lakukan. Rasanya yang paling baik dilakukan seseorang ketika sahabatnya dimarahi kekasihnya, adalah duduk diam dan tidak ikut campur.

“A...aku, hanya ingin kau memberiku kebebasan. Tidak perlu mengejar-ngejar sampai kemari....” kata Tia Ciati.

“Bicaran sembarangan!Kau sendiri yang berjanji akan menikahiku. Kini mau ingkar janji?” bentak si nona.

Orang-orang disekeliling menahan tawa. Rupanya laki-laki yang galak dan gagah berani ini takut kepada calon istrinya. Laki-laki yang galak memang cuma takluk kepada satu hal. Perempuan yang galak.

Perempuan yang galak ini sedang melototi mereka. Walaupun Cio San tidak ikut-ikutan masalah ini, sedikit banyak ia merasa dipelototi juga. Rasanya sungguh tidak enak. Cio San lalu berdiri dan berkata, “Nona, duduklah dulu. Biar saya ambilkan kursi yang kosong.”

“Tidak perlu! Kau siapanya?” galak betul pertanyaannya.

Tentu saja Cio San tidak bisa menjawab. Dikatakan baru saja kenal, mereka sudah menyantap hidangan bersama-sama seperti orang kelaparan, duduk berdampingan pula. Dikatakan kenal pun, mereka baru saja bertemu beberapa menit yang lalu.

“Eh...aku..aku..”

“Kau yang membantunya melarikan diri kesini?”

“Eh bukaaaan...bukaaaan,” Tia Ciati buru-buru memotong. “Aku baru saja kenal. Ia menawarkan untuk duduk di sebelahnya karena meja yang lain penuh.”

Si nona memandang ke sekeliling. Meja banyak yang kosong. Entah karena memang pengunjung yang lain sudah selesai makan, atau karena Tia Ciati sedang sial.

“Bohong besar! Meja kosong segitu banyaknya!”

Tia Ciati memandang ke sekeliling dan terpaksa tertenduk lemas.

“Kau! Siapa namamu?” pertanyaannya sungguh tidak sopan.

“Namaku A San”

“Kau sahabatnya?”

“Benar”

Apa salahnya mengakui seseorang sebagai sahabat? Seburuk apapun sifatnya,ia pasti juga punya kebaikan.

“Sejak kapan kau mengenalnya?”

“Baru beberapa saat yang lalu,” Cio San menjawab seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.

“Baru saja kenal, kalian sudah duduk berdampingan, makan dengan mesra pula. Kau begini licin dandannya. Tampan pula. Ah jangan...jangan....., kalian...kalian...saling mencinta?”

Cio San cuma melongo. Cara nona ini mengambil kesimpulan memang lumayan cerdas. Kalau saja bukan dia yang dituduh seperti itu, tentu ia akan tertawa.

Sayangnya tidak ada seorang laki-laki pun yang bisa tertawa jika dirinya sendiri yang dituduh mencintai sesama jenis.

“Omongan ngawur!” Tia Ciati akhirnya angkat bicara. “Kau boleh mempermalukan aku, tetapi tidak boleh mempermalukan sahabatku!”

Nah! Kata-kata ini sungguh merdu di telinga Cio San. Sejak awal, pandangannya terhadap Tia Ciati memang tidak salah. Laki-laki berdiri gagah seolah-olah ingin melindungi Cio San dari semprotan amarah kekasihnya.

“Kau berani membentakku?!”

“Tentu saja berani. Kenapa tidak berani?!” matanya melotot.

“Aku adalah tuan putrimu! Ayahku adalah Siauw-ong (raja kecil)!”

“Dan, lelaki ini adalah sahabatku!” suara bentakan Tia Ciati jauh lebih menggelegar dan membahana.

Semua orang yang mendengar ini terhenyak. Untuk ukuran tuan putri, nona ini derajatnya sangat terhormat. Jika kemana-mana, para tuan putri seperti ini harus diiringi dayang-dayang dan pengawal. Tetapi nona ini datang sendirian.
Yang lebih mengherankan, si lelaki tegap ini berani membentaknya. Jika dipikir-pikir, walaupun lelaki ini sudah dijodohkan dengan si tuan putri, tetap saja sekarang derajadnya masih di bawah si putri. Entah mungkin anak pejabat atau panglima.

Persahabatan.

Bukankah persahabatan sungguh berat nilainya?

Tia Ciati tahu nilainya. Tentu saja Cio San juga tahu nilainya.

Telingan Cio San yang tajam, mendengar keributan yang datang dari jauh. Belasan kuda datang menghampiri. “Nona, pengawal-pengawal anda sudah datang.”

Si nona bingung sebentar, ia menoleh dan tidak ada siapa-siapa di pintu. Para pengunjung masing-masing duduk di mejanya ingin mengetahui akhir dari tontonan menarik ini.

“Dasar tukang bohong. Mereka tidak tahu aku pergi,”

“Tunggu saja, sebentar lagi mereka muncul”

Karena penasaran si nona menatap terus ke arah pintu. Ia baru yakin ketika terdengar suara kuda dari jauh. Dengan memasang wajah sebal, dan mempelototi Cio San, ia berkata, “Aku akan membuat perhitungan denganmu.” Dalam sekelebat nona itu melayang dan menghilang dari jendela.

Tia Ciati pun berdiri dan menepuk pundah Cio San, “San-toako, sepertinya aku juga harus pergi. Sampai bertemu lagi. Terima kasih atas suguhannya.” Ia pun menghilang melalui jendela.

Tinggalah Cio San yang kini duduk menenggak arak. Semua mata memandang ke arah pintu. Menanti siapa lagi yang akan datang. Kejutan apa lagi yang akan terjadi.

Derap kuda itu berhenti tepat di halaman kedai. Ada belasan orang yang datang. Mereka dipimpin oleh seorang lelaki berpakaian khas suku Miao juga. Lagaknya cukup gagah, sepertinya seorang serdadu. Anak buahnya segera memasuki kedai dan mulai berkeliling mencari orang. Para pengunjung tetap duduk diam dan tenang. Rupanya mereka sudah terbiasa dengan hal seperi ini.

“Selamat sore, tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Maaf mengganggu. Kami ingin bertanya, apakah tuan-tuan melihat seorang gadis yang cantik, yang berpakaian suku Miao, masuk ke tempat ini?”

Semua mata pengunjung tertuju pada Cio San.

Si kepala pasukan juga bukan orang yang bodoh. Ia segera paham arti pandangan orang-orang ini. “Tuan, apakah tuan...”

“Ia sudah pergi lewat jendela” potong Cio San.

Si kepala pasukan meneliti Cio San dengan tajam, lalu berkata, “Tuan siapakah nona kami?”

“Aku sahabatnya”

“Hmmm....” ia berpikir sebentar, kemudian berkata, “Mau kah tuan ikut dengan kami? Ada beberapa pertanyaan yang ingin kami tanyakan.”

“Tidak”

Singkat, padat, dan jelas.

“Maafkan jika kami harus memaksa,” kata si kepala pasukan. Ia hendak berteriak memberi perintah kepada pasukannya, ketika Cio San kemudian memotong,

“Jika aku berkata kepada tuan putrimu, kau mengkasari sahabatnya, kira-kira hukuman apa yang akan ia berikan kepadamu?”

“Aih....” rupanya perkataan itu menusuk dengan tepat. Tapi ia bisa menguasai diri lalu bertanya dengan tenang, “Maafkan jika kami kasar, tuan. Kami hanya mengkhawatirkan keadaan tuan putri. Tapi jika boleh tahu, dari mana tuan mengenal tuan putri kami?”

“Tuan putrimu kan bukan baru sekali ini berkelana. Tidak mengherankan jika ia banyak menjalin persahabatan.”

Sekali lagi ucapan Cio San mengena pula. Dengan pikirannya ia sudah bisa mengetahui apa yang sedang terjadi. Si tuan puteri ini adalah jenis puteri yang susah diatur dan banyak perkara. Dilihat dari gelagatnya, tentu si tuan puteri ini sedang melarikan diri dan berkelana di dunia yang bebas.

“Baiklah jika begitu. Bolehkah saya mengetahui nama tuan yang terhormat?” tanya si kepala pasukan.

“Namaku A San.”

“Tanpa she (marga)?”

“She ku tidak penting”

“Baik. Kami mohon diri dulu. Jika tuan bertemu dengan tuan putri, harap sampaikan pesan bahwa siau-ong (raja kecil) marah besar tuan putri kabur lagi. Dimohon tuan putri segera pulang.”

“Baiklah. Akan ku sampaikan.”

“Terima kasih banyak, San-enghiong (ksatria San),” si kepala pasukan menjura lalu mohon diri. Cio San balas menjura pula. Lalu duduk kembali menikmati arak dan makanannya. Pasukan berkuda itu sudah menghilang dari sana.

“Urusan perempuan yang keras kepala memang amat banyak,” katanya pelan.

“Benar!”

Ternyata si nona putri yang dicari-cari itu sudah berada di situ. Sejak tadi ia tidak kabur melainkan bersembunyi di atas genteng. Tentu saja Cio San tahu hal ini. Itulah sebabnya ia mengucapkan kata-kata tadi. Rupanya kata-kata itu memang ditujukan kepada si tuan putri.

Si nona duduk di hadapannya. Mengambil pula daging domba, tanpa minta ijin. Sepertinya si nona dengan Tia Ciati memang mempunyai sifat yang mirip. Sama-sama tanpa tedeng aling dan bebas tidak terikat aturan.

“Kenapa kau lari?” tanya Cio San.

“Aku dipaksa menikah!”

“Ooooh? Kau sendiri tidak suka dipaksa menikah. Kenapa kau memaksa orang lain menikah denganmu?”

“Karena ia sudah berjanji kepadaku!”

“Janji itu mungkin dilakukannya saat mabuk, atau tidak sadarkan diri,” kata Cio San.

“Eh enak saja bicara! Aku ingat betul ia sadar sesadar-sadarnya. Aku pun ingat betul tanggal berapa ia mengatakan hal itu!”

“Oh? Kapan itu?”

Si nona menerawang sambil tersenyu sendiri, “Tanggal 20 bulan 6, tepat 20 tahun yang lalu!”

Cio San hampir memuntahkan arak yang sudah melewati tenggorokannya. “Itu kalian umur berapa? 5 tahun?!”

“Aku berumur 5 tahun. Ia berusia 7 tahun saat itu,”

Sebenarnya Cio San ingin menuturinya tentang berbagai hal, tapi ia tahu nona ini tidak bisa dinasehati. Ada dua macam manusia yang tidak bisa dinasehati, manusia yang sedang jatuh cinta, dan manusia yang sudah mati.

Akhirnya ia hanya bisa bertanya, “Jadi kau benar-benar mencintainya?”

“Mengapa pertanyaanmu sebodoh ini? Tentu saja aku mencintainya!”

Cio San tertawa. Orang yang memakinya bodoh seumur hidupnya memang baru perempuan ini. Tetapi ia tidak tersinggung malahan tertawa.

“Jika kau mencintainya, buatlah agar ia yang mengejarmu. Jangan kau yang mengejar dia.”

“Melihat tampangku saja, ia lari terbirit-birit. Bagaimana mungkin ia akan berbalik mengejarku?”

“Semua ada cara dan siasat. Jika kau tahu caranya, kau akan bisa menaklukannya.”

“Oh, jadi kau tahu caranya?”

“Tidak”

Braaaaaak! Suara tangan sang nona menghentak meja.

“Tetapi aku mengenal seseorang yang mengetahui caranya,” jelas Cio San sambil tersenyum.

“Siapa?”

“Aku akan memberitahukan kepadamu saat seluruh urusanku selesai. Sambil menunggu, kau harus berjanji untuk tidak mengejar-ngejar dirinya.”

Si nona memikirkan matang-matang perkataan itu. Membutuhkan waktu cukup lama baginya untuk kemudian berkata, “Baiklah! Entah kenapa, aku percaya kepadamu.”

Nona ini bukan orang pertama yang mengatakan hal ini, pun ia bukan orang yang terakhir.

“Nah sekarang pergilah. Saat urusanku selesai, aku akan mencarimu.”

Tuan putri ini memandangnya dalam-dalam. Lalu pergi tanpa suara. Cio San memandangnya pergi.

Jika seseorang sudah jatuh cinta dengan begitu tak berdaya, tiada hal yang dapat ia lakukan selain mempercayai apapun yang orang katakan kepadanya.
Si nona pergi menghilang, bersama mentari sore yang tenggelam di ufuk barat.

Suasana Lai Lai sudah mulai sepi. Cio San masih menikmati araknya. Lalu terdengar suara Tia Ciati, “Kau berhasil mengusirnya, San-toako! Aku harus berterima kasih kepadamu!”

Cio San memandangnya sambil tersenyum, lalu katanya, “Duduklah!”

Tia Ciati duduk dengan santai lalu menuangkan arak. Tetapi wajahnya segera berubah ketika melihat wajah Cio San yang sangat sungguh-sungguh. “Ada apa?” tanya Tia Ciati.

“Jika kalian ingin meminta sesuatu dariku, cukup datang saja dan katakan sejujurnya. Tidak perlu mengarang-ngarang cerita segala!”

Wednesday, August 20, 2014

EPISODE 2 BAB 27 PULANG, DAMAI


Perjalanan memakan waktu berhari-hari. Sepanjang perjalanan, Cio San menggunakan apa saja untuk mempercepat perjalanan. Terkadang ia menggunakan jasa tukang perahu, kadang ia harus berjalan kaki menembus hutan belantara. Semua ini untuk mempersingkat waktu perjalanannya. Ketika ia tidak membutuhkan kuda, ia menjual hewan ini untuk kemudian membeli lagi saat ia membutuhkan tenaganya.

Hari ke 11, Cio San tiba di sebuah kota. Kota ini membawa kenangan tersendiri baginya. Kota Liu Ya. Kota ini adalah kota di mana seluruh petualangannya dulu di mulai. Kota di mana ia bertemu pertama kali dengan Kwee Mey Lan.

Kwee Mey Lan.

Nama yang indah. Cinta pertama selalu membekas. Setiap orang  dapat jatuh cinta kepada orang lain, namun selalu ada seseorang yang begitu membekas di dalam hati hingga ia mati.

Cio San sudah tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Mey Lan. Tetapi kenangan manis dan indah selalu membayang dalam setiap jejak langkahnya. 
“Semoga kau selalu berbahagia. Menemukan apa yang kau cari selama ini” bisiknya di dalam hati.

Setelah menimbang-nimbang sebentar, Cio San memutuskan untuk mampir ke kedai milik keluarga Kwee. Sekedar untuk membangkitkan kenangan dan perasaan masa lampau.

Ia melawati jalanan menuju kedai itu. Jalanan ini sudah banyak berubah. Kota ini bertambah ramai. Ada nuansa tersendiri yang timbul di hatinya. Kenangan seperih apapun di suatu saat nanti toh akan terasa manis. Ia percaya itu.
Ketika sampai di depan kedai itu, ia sedikit takjub. Kedai itu sudah berubah menjadi sangat megah. Pengunjungnya pun bertambah ramai. ‘Lai-Lai’ tertulis di papan namanya. Ia tersenyum. Dunia boleh berubah, tetapi kenangan tidak akan berubah.

Langkahnya ringan memasuki kedai itu,

“Maaf tuan, sekarang pengunjung sedang penuh. Jika tuan mau memesan tempat, tuan bisa kembali lagi 2 jam dari sekarang” tegur seorang pelayan yang berdiri di depan pintu.

“Oh? Ramai sekali. Baiklah aku memesan tempat. Dua jam lagi aku datang”

“Maaf, atas nama siapa?” tanya si pelayan sopan.

“A San”

Setelah mencatat nama, si pelayan lalu berkata, “Untuk memesan tempat, tuan harus membayar uang jaminan.” Si pelayan menyebut harga dan Cio San pun membayar, setelah itu ia pun pergi.

“Kebetulan. Aku bisa mengunjungi rumah peristirahatan Khu-hujin di daerah ini” pikirnya dalam hati.

Dengan perasaan berkecamuk ia pun berangkat. Ada perasaan senang saat ia berpikir bahwa sebentar lagi ia akan bertamu ke rumah mewah itu. Tetapi ia khawatir jika Khu-hujin tidak berada di sana. Nyonya itu memiliki kesibukan yang amat padat.

Sesampai di depan gerbang rumahm ia malah disapa duluan oleh seorang penjaga, “Ah, siauya (tuan muda) sudah pulang? Mari masuk. Hujin (nyonya) sudah menunggu.”

Cio San hanya mengangguk dan tersenyum. Rupanya keangkeran keluarga ini memang masih belum luntur. Baru sebentar saja ia berada di kota ini, sang nyonya dan anak buahnya sudah mengetahui. Orang-orang hebat yang dipekerjakan keluarga ini memang tak terhitung jumlahnya dan tersebar di mana-mana.

Ia diantar sampai ke sebuah pavilliun di halaman belakang yang sangat luas. Sang nyonya besar sedang duduk sambil asik memperhatikan ikan-ikan peliharaannya yang berenang di kolam yang sangat indah.

“Kau sudah pulang?” sang nyonya tersenyum.

“Ya. Saya sudah pulang,” Cio San pun tersenyum.

Pulang adalah sebuah kata yang sederhana. Tapi maknanya terlalu dalam. Terkadang manusia banyak meneteskan air mata ketika membicarakan kata ini.

“Duduklah,” kata Khu-hujin mempersilakan. Cio San ia duduk di dekat tangga kecil paviliun itu. Paviliun itu lumayan besar, sehingga jarak antara mereka berdua lumayan jauh. Khu-hujin tidak berkata apa-apa. Ia hanya memainkan sebuah lagu. Sebuah lagu ciptaan kekasihnya, yang dulu sempat dimainkan Cio San. Alunan merdu lagu indah itu mengalir bagaikan angin di musim gugur. Dingin namun hangat.

Seperti sebuah kenangan.

Kenangan selalu dingin, namun menghangatkan.

Rimbunan bambu hijau meliuk diterpa angin. Dedaunannya mulai menguning. Lentingan nada dari jari-jari yang memetik khim seolah-olah menari bersama ranting-ranting pohon willow. Gemericik air di kolam membuat lagu ini terasa lebih indah dan sendu.

Lagu yang sedih dan menyentuh hati. Lalu entah bagaimana tanpa terasa, nada yang sedih itu berubah menjadi sebuah lagu yang indah dan penuh pengharapan.

Cio San hanya bisa termenung. Kesedihan selalu beriringan dengan harapan. Sesedih apapun kehidupan seseorang, lilin kecil yang menyalakan api harapan selalu menanti di ujung perjalanan.

Khu-hujin bernyanyi. Suaranya terdengar bagai seorang anak gadis yang penuh cinta dan kerinduan. Cinta dan kesetiaan memang akan membuat seorang setua apapun menjadi jauh lebih muda.

Bunga Bwee mekar di batu merah, 
Si dia berdiri di atas es dan salju dari ribuan mil, 
Ia tidak berani menghadapi dingin dan pahitnya musim dingin, 
Ia setia menanti datangnya matahari. 

Bunga Bwee mekar, 
setiap kuntumnya berkemilauan, 
Si dia mengangkat kepalanya menatap mekar ribuan bunga, 
Aroma wangi tubuhnya terbang ke awan dan angkasa, 
Ia mengajak bunga untuk mekar bersama-sama, 
Untuk menyanyi dan merayakan musim semi baru akan datang...



Air mata mengalir di pipinya yang masih begitu indah di usianya yang sudah senja. Tetapi senyumnya tetap tersungging. Matanya jauh memandang ke depan. Ke angkasa raya yang biru.

Air mata ini adalah air mata pengharapan. Karena kesedihan telah hilang seluruhnya dari dalam hatinya. Kenangan memang tak pernah berada di dalam pikiran atau perasaan. Ia mendarah daging.

Cio San pun turut meneteskan air mata. Bibirnya pun turut tersenyum. Matanya pun turut memandang langit biru nun jauh di sana. Di dalam suasana seperti ini, bahkan bernafas pun adalah dosa. Apalagi mengucapkan kata-kata.

Lalu lagu itu usai.

Air mata dan senyum masih berada di sana.

Kenangan pun sudah terlupa seluruhnya. Karena jika kau terlalu dalam mencintai seseorang, kau akan jarang mengingatnya. Karena kau tahu ia telah menjadi bagian dari hidupmu, nafasmu, tubuhmu, dan harapan-harapanmu.

Khu-hujin dan Cio San telah memasuki tahap ini. Tahap di mana perasaan mereka sudah mati seluruhnya. Kenangan telah pudar seluruhnya. Yang tertinggal hanyalah doa dan harapan akan kebaikan.

Memangnya selain mendoakan yang terbaik, apa pula yang bisa kau lakukan terhadap cinta masa lalu?

“Kau sudah mengerti?” tanya sang nyonya besar.

Cio San hanya mengangguk. Air matanya masih mengalir deras. Tetapi air mata ini bukan air mata kesedihan. Manusia yang mampu memiliki air mata seperti ini hanyalah manusia-manusia mulia dan setia. Amat sangat sedikit manusia yang memiliki air mata ini. Namun orang yang menjadi penyebab air mata ini amat sangat banyak.

“Kau sudah bertemu Ling-Ling?” tanya sang nyonya lagi.

Cio San pun mengangguk pula.

“Berarti kau sudah tahu alasan mengapa ia pergi?” 

“Sudah, hujin.”

“Jelaskan kepadaku,” pinta Khu-hujin.

“Ada sebuah permasalahan yang membuat ia memilih pergi. Bukan karena sudah tidak mencintai saya lagi, melainkan justru karena cintanya terlalu dalam.”

Lanjutnya,

“Ia pergi karena ia tahu, jika saya terus bersamanya, saya akan berhenti menjadi diri saya sendiri.”

“Benar sekali,” sahut Khu-hujin. Ia melanjutkan, “Khu Ling-Ling terkena sebuah sakit yang aneh. Penyakit ini sudah menghinggapinya sejak ia masih kecil. Selama ini ia bisa bertahan hidup karena ramuan-ramuan khusus, dan sumbangan tenaga sakti dari tetua-tetua sakti di Siao Lim-pay, dan beberapa perguruan lain. Ia terlihat sehat dan biasa saja saat telah meminum ramuan itu dan mendapat curahan sinkang (tenaga sakti). Tetapi satu persatu tetua ini telah meninggal. Ling-Ling pun tidak ingin menggantungkan hidup kepada mereka. Ia pun tidak ingin menggantungkan hidup kepadamu. Karena ia tahu, engkau bukan miliknya seorang. Kau adalah milik dunia. Semua orang di kolong langit ini berhak memilikimu. Kecerdasan dan kepandaianmu dibutuhkan umat manusia. Karena itulah ia memilih pergi. Mengorbankan cintanya. Mengorbankan dirinya sendiri. Kau tentu bisa mengerti....”

Ia hanya bisa memejamkan mata. Berharap air yang menggantung di mata itu bisa ‘tertelan’ kembali. Namun justru air mata itu semakin melimpah ruah. Tetapi ia memberanikan diri untuk bicara,

“Saya telah tahu ia sakit. Saat saya ingin memegang tangannya, ia menarik tangannya. Ia tidak ingin saat saya memegangnya, saya akan mengetahui sakitnya. Karena dulu saat masih bersama, saat saya memegang tangannya, ia akan membalas pegangan tangan saya.”

Dari pegangan tangan seorang perempuan, kau akan tahu perasaannya kepadamu. Dari matanya, dari helaan nafasnya. Dari apa yang tidak ia katakan. Seorang lelaki memang harus mempelajari semua ini agar kelak ia sendiri tidak kecewa.

“Apakah tidak ada sesuatu apapun yang dapat mengobatinya?” tanya Cio San.
“Hanya ada satu, ‘Anggrek Tengah Malam,” jawab sang hujin (nyonya besar).

Cio San pernah membaca tentang bunga ini. Sebuah bunga sakti yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit, bahkan membuat seseorang awet muda dan panjang umur. Tetapi bunga ini bagaikan dongeng, tak ada satu pun orang di muka bumi yang mengetahui keberadaannya.

“Saya akan mencari bunga itu,” tukas Cio San.

“Justru perkataan inilah yang ditakutkan Ling-ji (anak Ling). Kau akan menghabiskan seluruh waktumu untuk mencari bunga ini. Lalu meninggalkan segala urusan yang lain. Padahal urusan dunia ini begitu banyak yang harus kau selesaikan,” kata Khu-hujin.

Cio San menghela nafas. Tidak tahu apa yang harus ia katakan. Mengapa pula urusannya begitu banyak? Mengapa pula ia diberi kemampuan seperti ini?

Khu-hujin seolah-olah mengerti perasaan Cio San. Ia lalu berkata, “Semakin kuat seseorang, semakin banyak pula urusan yang harus ia selesaikan. Ku harap kau pernah mendengar pemahaman ini, San-ji (anak Ji).”

Lanjutnya,

“Kau harus menghargai keputusan Ling-ji (anak Ling). Pengorbanan yang ia lakukan, tidak boleh kau sia-siakan. Hiduplah sebaik-baiknya. Berikan sebesar-besarnya manfaat kepada orang yang membutuhkan kekuatanmu. Hanya itulah satu-satunya cara yang bisa kau lakukan untuk menghargai pengorbanan Ling-ji.”

Apa boleh buat?

Itulah sebuah pertanyaan yang bukan merupakan pertanyaan. Begitu berat, namun harus dihadapi. Dihadapi sendirian pula. “Apa boleh buat?”

Lama sekali ia termenung. Khu-hujin pun membiarkan anak muda itu tenggelam di dalam pikirannya sendiri. Cukup lama kesunyian itu berlangsung. Hanya suara desiran angin dan gemercik kolam yang terdengar. 

Air mata lelaki muda ini pun perlahan-lahan mengering. Sejak beberapa tahun yang lalu, ia mengira ia tak dapat lagi menangis. Tetapi ia salah sesalah-salahnya. Manusia yang tak dapat menangis hanyalah manusia yang sudah mati. Ia mengira perasaannya yang telah mati ini tak akan membuatnya meneteskan air mata barang setetes pun. Tapi ia salah. Perasaan yang sudah mati, sebenarnya hidup sehidup-hidupnya. Perasaan itu hanya menanti sebuah cahaya kecil untuk menerangi kegelapannya. Saat cahaya itu datang, manusianya akan mengalami hidup yang lebih hidup. Akan mengalami pencerahan. Akan menghadapi kehidupan setelah kematian. Terlahir kembali!

Cio San terlahir kembali!

Kenangan, harapan, dan kesunyian adalah cahaya-cahaya kecil yang menuntun umat manusia. Ia tak akan pernah bisa berlari atau sembunyi darinya. Ia mungkin akan mampu membohongi dirinya sendiri. Tetapi kebohongan terhadap diri sendiri tak akan dapat bertahan lama. Pada akhirnya seseorang akan mengakui bahwa cinta adalah sebuah hal yang agung yang akan merubah hidupnya. Sepedih apapun cinta itu, cinta selalu mampu merubah seorang manusia menjadi lebih baik.

Air mata telah mengering seluruhnya. Pandangan mata itu kembali jernih. Wajahnya kini berseri-seri. Beban berat yang menghimpit dadanya seolah-olah telah terangkat seluruhnya. Khu-hujin menatap perubahan itu dengan senyum,

“Kau tak perlu malu menjadi seorang yang patah hatinya. Keadaan itu justru akan menyelamatkanmu. Membuatmu menjadi manusia yang lebih baik. Membuatmu mampu merubah dunia dengan hal-hal besar. Seseorang yang hanya mendapatkan kesenangan di sepanjang hidupnya, tak akan pernah menghargai manusia dan kehidupan. Tak akan pernah menghargai rejeki. Tak akan pernah menghargai usia dan waktu. Tak akan pernah menghargai jerih payah, dan pengorbanan.”

Cio San mengangguk dan tersenyum, “Saya paham seluruhnya!”

“Bagus. Kau pantas mendapatkan julukan Hongswee!”

Burung Hong Hong adalah burung yang selalu bangkit dari kematian. Lahir dari abu tubuhnya sendiri. Walaupun tiada manusia yang seperti burung Hong Hong, setidaknya ada beberapa manusia yang mampu bangkit dari keterpurukan hidupnya. Manusia-manusia seperti ini patut pula mendapat julukan ‘Hongswee’. Sang jenderal phoenix.

Ia benar-benar telah pulang. Telah kembali menjadi dirinya sendiri. Telah kembali utuh menjadi manusia. Selama beberapa tahun ini ia hanyalah sebuah tubuh yang bergerak tanpa perasaan. Karena ia mencoba mematikan perasaan itu. Sekarang perasaan itu telah hidup. Karena cinta. Bukan cinta kepada orang lain, melainkan cinta yang tulus kepada diri sendiri. Terhadap kekurangan dan penderitaan diri sendiri. Seseorang jika sudah bisa menghargai dirinya sendiri, barulah ia menjadi manusia seutuhnya. Menghargai diri sendiri bukan berarti egois, tamak, dan serakah. Menghargai diri sendiri adalah dengan cara mensyukuri segala kejadian yang terjadi. Mencoba memperbaiki, tidak patah semangat, dan selalu bisa berdamai dengan keadaan.

Damai.

Itulah yang ia rasakan sekarang. Sebuah kata kecil yang sederhana namun teramat sangat berharga. Terlalu sering diremehkan, namun sesungguhnya tak terhitung nilainya.

“Hari sudah menjelang sore. Bukankah kau memesan makan di Lai-Lai?” tanya Khu-hujin. Begitu besar kekuasannya di kota ini sampai-sampai ia pun tahu apa yang Cio San lakukan sebelum datang menemuinya.

Lelaki muda berjulukan ‘Hongswee’ ini kemudian tersenyum, saat akan meminta diri, Khu-hujin berkata sambil tertawa, “Kau mandilah dulu dan bercukur. Tampangmu lebih mirip perampok daripada seorang enghiong (ksatria sejati).”

Ia hanya mengangguk dan tertawa. Sambil bersoja (bersujud) menghormati wanita tua yang cantik itu, Cio San meminta diri.

“Eh, nanti dulu. Ada sebuah hal yang lupa kusampaikan kepadamu,” tukas Khu-hujin. “Anggrek Tengah Malam, terakhir kudengar berada di puncak Himalaya. Seorang pendekar besar yang hidupnya cukup menderita, bernama Li Hiang adalah orang terakhir yang diketahui memiliki bunga ini. Sayangnya ia tewas di sana. Dari kabar yang kutahu, orang tua Suma Sun, dan Bwee Hua tua juga berada di sana saat kejadian itu terjadi. Hanya itu kabar yang ku ketahui. Jika kau ingin keterangan yang lebih jelas, kau dapat bertanya kepada Suma Sun.”

“Haha. Dari mana hujin (nyonya besar) tahu bahwa saya akan mencari bunga itu?”

“Aku kan yang memberikan kitab tentang wajah dan gerak gerik kepadamu. Ilmuku tentu jauh diatasmu,” si nyonya besar tertawa. Lanjutnya, “Kau boleh saja mencari bunga itu, asalkan kau berjanji bahwa kau tidak meninggalkan tugas-tugasmu yang lain.”

“Tentu saja, hujin. Terima kasih atas segala petunjuknya. Saya minta diri”

“Pergilah.”

Sang nyonya besar memandang pundak yang melangkah pergi menjauh. Entah permasalahan apa lagi yang akan menghadapinya di masa depan. Tetapi Khu-hujin yakin, pundak itu akan dapat menampung keseluruhan beban itu dengan gagah berani.


(catatan: Lirik lagu 'Bunga Bwee Merekah' (Hokkian: Ang Bwee Hua/ mandarin: Hong Mei Hua) yang dinyanyikan Khu-hujin dan dimuat di video itu dalam bahasa mandarin:

Hong yan shang hong mei kai,
qian li bing shuang jiao xia cai,
san qiu yan han he suo ju,
yi pian dan xin xiang yang kai。

Hong mei hua er kai,
duo duo fang guang cai,
an shou nu fang hua wang duo, 
xiang piao yun tian wai,
huan xing ban hua qi kai fang,
gao ge huan qing xin chun lai。

Sunday, July 27, 2014

EPISODE 2 BAB 26 KEMBALI MENJALANI HIDUP


Melangkah.

Kehidupan manusia pada intinya adalah melangkah. Kehidupan tidak pernah diam. Yang diam hanyalah yang mati. Jika seseorang tetap diam di masa lalunya, maka ia sebenarnya mati walaupun ia masih hidup. Cio San telah mati selama 3 tahun ini.

Tetapi ia sudah datang. Ia sudah pulang.

Melangkah memerlukan keberanian, sebab itu banyak orang yang memilih diam karena ia tidak memiliki keberanian. Bergerak memerlukan tenaga pula. Siapa yang tidak bergerak, maka dia orang yang malas atau sakit.

Diam hanya boleh dilakukan saat kita beristirahat dari gemuruhnya dunia. Setelah mengumpulkan kekuatan, seseorang harus bergerak lagi.

Perjalanan begitu panjang di hadapannya. Ia tidak tahu harus mulai dari mana, harus melakukan apa pula. Tapi dari kejadian yang lewat baru-baru ini, Cio San melihat adanya sebuah rencana besar lagi.

Kaum persilatan tidak akan mungkin tertarik dengan Kitab Bu Bok. Kitab ini adalah kitab tentang siasat perang. Tidak ada yang menarik bagi ahli silat. Tetapi kitab ini adalah kitab dambaan para jendral perang. Kitab dambaan para kaisar!

Siapa gerangan La Ma yang sakti itu? Apakah ia benar-benar tertarik dengan kitab Bu Bok? Ataukah dia hanyalah orang suruhan? Ataukah dia adalah bagian dari sebuah persekongkolan jahat yang mempunyai rencana besar?

Ia tahu hidupnya tidak akan tenang lagi. Ia sudah cukup menikmati ketenangan selama 3 tahun. Sekarang saatnya kembali pada kehidupannya yang sebenarnya. Kehidupan yang penuh bahaya sudah menantinya di depan. Jika gerombolan La Ma itu cukup cerdas untuk melacak siapa Sam Siu sebenarnya dan membuat rencana seperti peristiwa yang lalu, mereka pasti juga cukup cerdas untuk mengambil kesimpulan bahwa kitab Bu Bok pasti sekarang berada pada dirinya.

Dengan penuh semangat ia berjalan. Lupa bahwa ia tidak punya uang sepeser pun. Selama ini sepanjang perjalanan ia selalu memetik buah atau menangkap hewan liar. Tetapi jika sudah masuk kota, maka untuk makan, seseorang harus punya uang.

Hal inilah yang membuat Cio San sedikit heran. Saat kecil dulu, ayahnya sering menceritakan kisah-kisah kepahlawanan. Ia sendiri juga sering membaca kisah hidup pendekra-pendekar besar seperti Kwee Ceng, Yo Ko, dan lain-lain. Di waktu dulu, ia merasa sangat kagum dengan kehidupan mereka yang penuh keberanian dan petualangan. Kini, yang ada di dalam kepalanya hanyalah sebuah perasaan heran.

Ya. Heran.

Para pendekar besar ini berkelana kesana kemari, dari mana mereka punya uang? Mungkin mereka bisa memetik buah atau menangkap hewan liar untuk makan. Tetapi apakah mereka tidak butuh baju? Jika mereka masuk ke sebuah kota, di mana mereka makan dan menginap? Menggunakan uang siapa pula? Jika mereka harus menggunakan jasa tukang perahu, siapa yang membayar? Apa mereka tidak butuh kuda? Kuda yang bagus sangat mahal harganya. Setidaknya untuk ukuran kantongnya.

Cio San tersenyum-senyum sendiri. Kehidupan para pendekar memang penuh suka duka. Herannya tak sedikitpun ia pernah membaca atau mendengar bahwa mereka pernah mengeluh kesulitan uang.

Sebenarnya sebagai seorang yang diangkat sebagai jendral kehormatan kekaisaran Beng dengan julukan ‘Hongswee’, harusnya hidup Cio San sangat menyenangkan. Ia bisa hidup nikmat hanya dengan mengandalkan julukan itu saja. Apalagi sang kaisar pun menganugerahkan sebuah lencana naga padanya. Lencana naga ini memberi kekuasaan yang amat sangat besar kepadanya. Siapa yang memiliki lencana naga ini dianggap seperti perwakilan kaisar langsung. Orang yang menunjukkan lencana naga maka seluruh ucapannya harus dituruti. Ini sudah ada dalam undang-undang dasar kekaisaran. Hanya ada 2 atau 3 orang yang memiliki lencana naga kekaisaran. Hanya kaisar pula yang boleh memberi atau mengambil kembali lencana itu.

Sayangnya Cio San tidak suka membawa lencana naga kemana-mana. Ia juga berpikir lencana itu tidak ada gunanya. Kebutuhannya hanya makan dan minum, mungkin 2 helai baju, dan seekor kuda tunggangan. Jadi Cio San tak sanggup membayangkan jika ia tidak punya uang untuk membayar makan di sebuah kedai, ia lantas menunjukkan lencana naga itu.

Mau ditaruh dimana kewibawaan kekaisaran ini jika pembawa lencana naga tidak punya uang untuk membayar makan?

Oleh sebab itu ia menyimpan lencana naga itu di sebuah tempat rahasia yang hanya dirinya sendiri yang tahu.

Sebagai ketua perkumpulan terbesar di dunia, Kay Pang, ia juga sebenarnya mempunyai keuntungan yang besar. Partai ini adalah partai pengemis. Pengemis ada di seluruh dunia. Jika ia mau ia bisa memerintahkan para pengemis ini mencarikan makan untuknya. Markas perkumpulan ini pun tersebar di mana-mana. Asal ia memasukinya saja, akan ada ratusan orang berlutut di kakinya memberi hormat. Apalagi cuma urusan makan. Tetapi Cio San ini sudah bukan lagi pangcu (ketua) dari partai terbesar ini. Ia dulu sempat menyerahkan jabatan ini kepada orang lain, dan menyatakan mengundurkan diri dari partai ini. Jika ia dengan jumawa datang ke markas partai ini, ia tetap akan disambut oleh ratusan orang. Bedanya, mereka akan menyambutnya dengan serangan mematikan. Oleh sebab itu Cio San pun mengurungkan niat untuk menghubungi Kay Pang. Apalagi menghubungi partai terbesar sedunia itu hanya untuk urusan makan atau pinjam uang.

Cio San juga pernah menjabat dari partai nomer dua terbesar di dunia persilatan, yaitu Beng Kauw. Partai ini dulu amat berjaya, bahkan sempat berperan besar dalam mengusir penjajah dan mendirikan kekaisaran Beng. Nama kekaisaran ini pun diambil dari partai ini. Karena banyak kejadian, orang-orang menyebut partai ini Mo Kauw, atau partai ‘iblis’. Cio San dulu pernah tidak sengaja pula diangkat sebagai Kauwcu (ketua) nya. Tetapi ia sudah mengundurkan diri pula dari partai ini. Jabatan ketua ia berikan kepada sahabat baiknya, seorang wanita, Ang Lin Hua. Wanita ini adalah istri dari sahabat baiknya, Suma Sun.

Sebenarnya walaupun sudah tidak menjabat lagi sebagai ketua, banyak anggota Mo Kauw yang masih menganggapnya ketua. Hal ini terjadi karena mereka sangat mengagumi sepak terjang pemuda ini. Cio San pun mengetahui hal ini, karenanya ia mampu menggerakkan beberapa orang dalam pelaksanaan rencananya beberapa hari yang lalu. Tapi sungguh ia tidak punya muka untuk datang ke markas mereka untuk meminta makan atau meminjam uang. Karena ia tahu, orang-orang ini jauh lebih membutuhkan uang daripada dirinya.

Karena jika menyangkut hal hidup orang banyak, dan kepentingan umum, Cio San akan melakukan apa saja. Tetapi jika menyangkut dirinya sendiri, ia sangat sungkan merepotkan orang lain.

Selain ketiga ‘jabatan’ ini, Cio San pun masih memiliki suatu kelebihan. Yaitu ia telah dianggap bagian dari keluarga ‘Khu’. Keluarga ini adalah salah satu keluarga paling kaya di Tionggoan (China). Usaha mereka meliputi berbagai bidang. Toko dan tempat usaha mereka tersebar dimana-mana. Konon katanya, tempat usaha mereka ini jauh lebih banyak dari kantor pemerintah.

Kepala keluarga ini, yaitu Khu-hujin (Nyonya Khu) sudah menganggapnya seperti ‘anak’ sendiri. Bahkan juga menyetujui hubungannya dengan cucu sang Hujin, yaitu Khu Ling Ling. Mengingat nama ini, dada Cio San serasa sempit. Jantungnya bergetar tak karuan. Meskipun ia sudah melupakan nama ini, tetap saja dadanya terasa sakit saat mendengar namanya. Mungkin karena sebenarnya seseorang tidak bisa melupakan orang yang dicintainya. Ia hanya bisa mencoba untuk tidak mengingatnya.

Karena lupa dan tidak ingat sebenarnya adalah 2 hal yang berbeda.

Jika ia mau, ia bisa masuk ke kota mana saja, mencari cabang usaha keluarga Khu, dan mengambil apapun yang ia suka. Tetapi ia merasa amat tidak pantas jika seorang laki-laki memasuki toko mantan kekasihnya untuk meminta macam-macam. Selain tidak punya harga diri, laki-laki semacam ini juga tidak punya malu.

Oleh karena sebab-musabab di inilah, Cio San tidak melakukan apa-apa dan terus berjalan menyusuri jalanan kota yang ramai. 

Ia pernah menjadi tukang masak di sebuah kedai. Pekerjaan ini sangat disukainya, bahkan ia yakin ia memiliki bakat dalam hal ini. Saat bekerja sebagai tukang masak inilah ia bertemu dengan Kwee Mey Lan, cinta pertamanya. Dan umumnya, cinta pertama selalu berakhir tidak mengenakkan. Cerita Cio San pun seperti itu. Oleh karena itu Cio San memilih untuk tidak menjadi tukang masak lagi. Ia takut ia akan bertemu dengan Kwee Mey Lan-Kwee Mey Lan berikutnya.

Ia lalu berpikir untuk menjadi pesilat jalanan. Pekerjaan ini cukup menjanjikan. Seseorang cukup memilih sebuah tempat di kota, paling baik jika di pinggir jalan. Ia cukup mempertontonkan kepandaiannya bersilat. Jika penonton kagum atas kepandaiannya, mereka akan memberi uang.

Cio San berpikir sebentar lalu mengambil keputusan. Ya, ia akan menjadi pesilat jalanan!

Setelah berkeliling sebentar di pusat kota, ia akhirnya menemukan sebuah pojok jalanan yang tidak begitu ramai. Dengan suara diberat-beratkan, ia lalu berteriak:

“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian, perkenalkan nama cayhe (saya) adalah A San. Cayhe datang dari jauh bukan untuk memamerkan kepandaian. Cayhe hanya ingin memberi tontonan yang menghibur kepada tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian. Bagi saudara-saudara yang bisa ilmu silat, mohon maafkan cayhe yang sudah lancang. Sungguh cayhe tidak ingin menantang siapa-siapa, cayhe hanya ingin mencari sesuap nasi”

Setelah berteriak lantang, banyak orang yang berkumpul. Mereka penasaran ingin melihat kehebatan silat lelaki ini. Maklum, ilmu silat di jaman ini adalah sesuatu yang mengagumkan. Siapapun yang menguasainya akan memiliki nilai lebih di mata orang. Semakin hebat, semakin tinggi pula nilainya.

“Hooooop!” Cio San mulai bersilat.

Gerakannya mantap, luwes, dan lincah. Tentu saja ia tidak menunjukkan kemampuan silatnya yang sebenarnya. Jika ia mempertunjukkannya, tidak ada satu orang penonton pun yang akan sanggup melihat gerakannya yang sangat cepat itu.

Cio San mencampurkan banyak gaya silat. Ia bergerak dengan langkah gerakan Bu Tong yang terkenal ‘Melangkah Di Atas Awan’ tetapi menggabungkannya dengan pukulan khas Kay Pang, ‘Jurus Tongkat Memukul Anjing’.

Ilmu silat ini seperti asal-asalan, namun cukup indah juga dipandang. Tetapi ahli silat yang paham pasti tahu bahwa gerakan-gerakan seperti ini adalah gerakan ngawur yang tidak ada dalam pelajaran silat manapun.

Setelah bersilat cukup lama, penonton yang hadir pun semakin bertambah. Cio San menjadi semakin bersemangat untuk bersilat. Gerakannya tambah mengada-ada. Entah jurus apa yang sudah ia mainkan, intinya ia hanya ingin memperlihatkan keindahan bentuk, tanpa perduli gerakan itu benar-benar bisa dipakai dalam pertarungan sebenarnya.

“Berhenti!!!! Bubar! Bubar semua!”

Terdengar sebuah teriakan.

Saat orang-orang menoleh, ternyata mereka mengenalnya sebagai Tam-toako, atau kakak Tam. Tidak ada yang tahu nama panjangnya siapa. Semua mengenalnya dengan nama Tam-toako.

Kakak Tam.

Jika kau bertanya kepada seluruh orang-orang kecil di kota ini, mereka tahu siapa Tam-toako. Ia adalah kebanggan kota ini.

Ia adalah seorang pesilat jalanan pula, seperti Cio San. Dan tempatnya bersilat pun tepat di tempat Cio San bersilat. Seluruh orang yang ramai berkumpul di sini sebenarnya ingin tahu mengapa ada orang baru berani bersilat di tempat itu.

“Kau tahu siapa aku?” tanya Tam-toako sambil berjalan menembus kerumunan penonton. Tentu saja mereka semua memberi jalan kepadanya.

“Tidak” kata Cio San tersenyum sambil menggeleng.

“Jika tidak tahu, mengapa kau berani bersilat di sini?”

“Umpama aku mau buang air juga apa harus tahu siapa kau?” Cio San tertawa masam.

“Kurang ajar!” kata-kata dibarengi dengan serangan tendangan Tam-toako.

Untuk kalangan pesilat biasa, serangan ini cukup mengagumkan. Gerakannya cepat, dan tepat. Mengarah ke dagu Cio San. Tetapi mana bisa serangan pesilat biasa ini dipakai untuk menghadapi Cio San?

Ia menghindarinya dengan gaya yang dibuat-buat. Sedikit pura-pura takut dan menghindar ke belakang. “Aih, toako. Kenapa harus berkelahi? Semuanya kan bisa dibicarakan baik-baik.

Tam-toako tidak peduli. Berturut-turut ia melancarkan pukulan. Cio San menangkisnya sambil berpura-pura kesakitan.

Terjadi kekacauan karena semua penonton kini mulai memasang taruhan. Taruhan paling besar tentunya dialamatkan kepada Tam-toako. Selama ini tak ada seorang pun yang mampu menghadapi Ta.-toako!

Melihat ini Cio San bertanya, “Eh, jika aku menang, apakah aku akan dapat uang pula?”

“Tentu saja!” jawab para penonton.

“Kau tak akan menang!” Tam-toako menyerang tanpa kenal ampun.

Di umur 7 atau 8 tahun, saat Cio San masih sakit-sakitan dan belajar silat di Bu Tong pay, ia bisa mengalahkan Tam-toako dalam satu atau dua jurus. Apalagi dalam keadaan sekarang. Sayangnya Cio San sangat menikmati hal ini.

Ia menikmati dianggap remeh orang lain. Karena ia tidak pernah menyukai pujian. Ia mengerti betul bahwa dibalik pujian, terdapat kecemburuan dan iri hati yang besar.

Manusia amat sangat jarang memuji dengan tulus. Mereka memuji untuk menutupi rasa cemburu. Di dalam hati mereka tersimpan niat untuk menjadi lebih baik daripada orang yang dipujinya.

Tetapi memang ada juga orang yang tulus. Cuma jumlahnya amat sangat sedikit.

Mendengar kata ‘uang’ tentu saja Cio San bertambah semangatnya. Ia bukan mata duitan. Tetapi ia perlu makan dan berganti baju. Selama beberapa hari perjalanan, bau keringat dan debu sudah menempel cukup kuat di baju itu.

Dengan sebuah gerakan kecil, Cio San berhasil menjatuhkan Tam-toako. Gerakan ini dilakukan dengan cara pura-pura lari menghindar ketakutan. Tetapi si ‘kakak’ ini dengan cepat berdiri dan menyerang lebih ganas.

Mendapat serangan seperti ini Cio San seolah-olah tidak dapat menghindar. Ia menjadi tersudut karena tidak dapat mundur lagi. Sebuah pukulan memasuki ulu hatinya.

Duggg!

“Uhk!” terdengar suaranya merintih.

“Hahaha. Aku menang! Aku menang!” Tam-toako berteriak senang karena ia melihat Cio San terkapar dan tak dapat bangun lagi.

“Sekarang kau pergi! Jangan pernah bersilat di sini lagi. Tempat ini milikku! Jangan pernah bersilat di kota ini. Pergilah kau sejauh-jauhnya!” bentaknya.

Cio San menunggu agak lama baru ia berdiri. Dengan pelan ia berjalan meninggalkan tempat itu. Orang-orang memandangnya dengan penuh tawa dan cacian.

“Makanya, jangan sok jago! Hahahaha”

Sudah dihajar, tidak dapat uang pula. Ia melangkah dengan gontai. Udara sore bertiup sepoi-sepoi. Langit berwarna kuning cerah.

Ia duduk di pinggiran pantai. Mendengarkan deburan ombak dan angin pantai.
Lama sekali ia duduk di sana, hingga seseorang datang dan mengagetkannya dari lamunannya.

“Selamat sore” kata orang itu menjura.

Cio San tersenyum. Ia balas menjura pula.

“Dari 5 orang yang membuntuti ku sejak 3 hari yang lalu, hanya kau seorang yang tidak tertipu dengan sandiwaraku tadi”

Orang yang datang itu menunduk hormat. Ia masih muda. Pakaiannya rapi, dan wajahnya berwibawa. Sebelum ia berbicara, Cio San sudah membuka suara,

“Ada perlu apa kekaisaran mencariku?”

“Aih....sungguh hamba kagum. Tidak ada hal yang bisa disembunyikan dari Hongswee” kata orang itu menunduk kagum.

“Badanmu tegap. Raut wajah dan gerak tubuh menggambarkan pelatihan ketentaraan yang lama. Kau pasti tentara kerajaan. Apalagi aku baru saja melihat sebuah lencana ketentaraan tersembunyi di balik sakumu,” jelas Cio San.



Orang ini kembali tersenyum kagum. Katanya, “Sebaiknya hamba memang tidak perlu berbasa-basi kepada Hongswee. Nama hamba Nio Sin Kung. Sesungguhnya hamba mencari Hongswee karena ditugaskan oleh atasan hamba.”

“Siapa?”

“Kao Ceng Lun”

“Oh. Ada apa?” tanya Cio San penasaran.

“Telah terjadi pencurian di gudang istana kaisar”

Cio San terhenyak dan kaget. Kekagetannya bukan karena mendengar gudang istana dibobol maling. Melainkan karena ia heran mengapa mereka mencari dirinya, bukan Cukat Tong.

“Kenapa tidak bertanya kepada Cukat Tong? Aih....apakah ada sesuatu terjadi padanya?” ia bertanya cemas.

“Hamba hanya diperintahkan menyampaikan ini kepada Hongswee. Mengenai urusan lain, harap Hongswee tanyakan kepada atasan hamba, Kao-Bu Ciang (kolonel Kao)” jelas orang itu.

“Dia sudah berpangkat Bu Ciang? Hebat. Semuda itu. Di mana aku bisa menemuinya?”

“Beliau sedang berada di kota kelahirannya. Beberapa hari yang lalu, saat beliau sedang bertugas menyelidiki beberapa perkara, beliau mampir ke kota kelahirannya. Tak tahunya, di sana malah terjadi kejadian yang sama sekali tidak beliau duga. Ayah beliau dibunuh orang!”

“Hah?”

“Sebuah kejadian yang mengerikan sekali, Hongswee. Karena itu beliau tidak dapat menjemput sendiri dan memerintahkan hamba untuk menjemput”.

“Siapa yang memberitahukanmu tentang keberadaanku? Suma-tayhiap (pendekar Suma)?”

“Benar. Selama ini Suma-tayhiap selalu mengikuti perkembangan kehidupan Hongswee. Entah bagaimana caranya. Hamba mencari Hongswee sampai ke rumah Yan-wangwe, mendengar bahwa terjadi keributan. Lalu hamba mengusut hingga ke bio (kuil) di gunung timur. Kembali hamba terlambat pula karena ketika sampai di sana ternyata bio ini sudah kosong. Kemudian hamba mencari lagi hingga akhirnya sampai kemari”

Dalam hati Cio San tertawa. Memang tak ada satu hal pun yang bisa ia sembunyikan dari ‘serigala’. Ia juga cukup kagum dengan kecerdasan Nio Sin Kung yang mampu mencarinya sampai kemari.

“Aku akan segera berangkat. Kau pulanglah dahulu.” Kata Cio San kepadaa Nio Sin Kung.

“Apakah Hongswee akan berkunjung ke tempat Cukat-tayhiap (pendekar Cukat)? Beliau sekarang tidak menetap lagi di kota yang lama. Ini hamba bawakan peta tempat tinggalnya. Ini ada juga uang seadanya untuk perjalanan. Hamba juga suda menyediakan kuda. Itu yang tertambat di sana” katanya sambil menunjuk sebuah kuda putih yang amat gagah.

“Kalian para petugas kerajaan, memang sangat penuh perhitungan, sudah tahu apa yang akan kulakukan”

‘Semua ini atas petunjuk Suma-tayhiap, dan Kao-bun ciang (kolonel Kao). Mereka sudah memberitahukan kepada hamba bahwa Hongswee pasti akan mencari kabar Cukat-tayhiap dahulu. Oleh karena itu mereka berdua pun sudah menitip janji untuk bertemu dengan Hongswee di sana pada tanggal 14 bulan depan”

Cio San mengangguk.

“Untuk sekadar pengetahuan Hongswee, empat orang lain yang membuntuti Hongswee sudah pergi karena tertipu sandiwara Hongswee. Tetapi kami sudah mengirim orang juga untuk membuntuti mereka. Dalam satu dua hari, kami akan mendapatkan kabar jati diri mereka.”

Cio San tahu, yang dimaksud dengan ‘kami’ adalah ‘Kim Ie Wie’, yang berarti ‘Pengawal Baju Sulam’. Pasukan ini adalah pasukan rahasia milik kekaisaran. Bertugas untuk menyelidiki segala urusan rahasia. Mereka bahkan diberi kekuasaan untuk menangkap, menghukum, dan membunuh jika diperlukan. Mereka tidak membutuhkan ijin untuk melakukan itu semua. Kaisar telah memberi kekuasaan yang besar kepada pasukan ini.  Sebuah pasukan yang menakutkan.

Ia hanya mengangguk, dan berkata “Baik, terima kasih. Sekarang juga aku berangkat.”

“Selamat jalan. Semoga Thian (langit) memberi perlindungan hingga sampai di tujuan”


“Terima kasih”


(Kim Ie Wie/Jinyiwei: http://en.wikipedia.org/wiki/Jinyiwei)