Tuesday, May 19, 2015

EPISODE 2 BAB 48 GEMURUH PASUKAN KAISAR



Sepanjang perjalanan mereka lakukan menggunakan sebuah kereta reot. Ilmu merias milik anggota-anggota Ma Kauw memang cukup tinggi, Cio San dan putri Syafina benar-benar terlihat sebagai dua orang pasangan renta yang sedang berpergian. Ada beberapa banyak tempat yang mereka singgahi, untuk mengelabui musuh mereka menyamar sebagai penjual dendeng (daging asap yang dikeringkan). Tempat-tempat yang mereka singgahi kebanyakan adalah rumah atau tempat milik anggota Ma Kauw juga.

Perjalanan menuju gunung Himalaya membutuhkan waktu beberapa bulan. Mereka telah menempuh perjalanan selama satu minggu. Perjalanan masih panjang, tapi semangat di hati putri Syafina tetap berkobar. Sepanjang perjalanan Cio San memperlakukannya dengan penuh perhatian. Meskipun hal ini bagian dari penyamaran, tetap saja Syafina merasa senang diperlakukan seperti itu.

Jika ingin membersihkan diri, Cio San sudah menyiapkan baskom dan wewangian. Jika ingin makan, Cio San sudah menyiapkan hidangan. Jika ingin tidur pun, Cio San sudah membereskan bagian dalam kereta sehingga menjadi hangat dan nyaman. Satu hal yang menyusahkan hati Syafina adalah secara agama ia tidak diperbolehkan tidur bersama Cio San. Tetapi saat itu mereka sedang menyamar dan keadaan sangat genting. Untunglah Cio San mengerti hal ini. Ia ‘pura-pura’ berjaga di luar saat nona itu tidur. Dengan begitu jika ada orang yang melihat mereka, hal ini tak akan menimbulkan kecurigaan.

Di hari ke sepuluh, mereka bertuduh di pinggiran hutan pinus. Cuaca saat itu tidak terlalu dingin sehingga mereka memutuskan untuk membuat kemah kecil di luar kereta dan menyalakan api anggun. Langit bersinar terang dan bintang bertaburan di angkasa. Syafina memandang bintang-bintang itu begitu lama. Seolah-olah mencari sesuatu pada jutaan bintang itu. Hati perempuan siapa yang tahu?

Cio San membiarkannya melamun. Ia sibuk memanggang seekor ayam hutan hasil buruannya. Baunya sangat wangi setelah diolesi bumbu olahan Cio San. Ketikasudah selesai, ia menyiapkannya di atas daun dan menyuguhkannya kepada Syafina. Nona cantik berwajah nenek tua itu baru tersadar dari lamunannya setelah Cio San menyentuh kakinya dan tersenyum kepadanya. Dengan mengangguk ia menerima suguhan itu dan berkata, “Terima kasih suamiku.”

“Nona tidak perlu bersandiwara lagi di sini,” kata Cio San. “Di sekitar sini tak ada orang yang menguntit kita,” katanya.

“Oh, baiklah. Maaf,” kata Syafina

“Tidak perlu minta maaf,” tawa Cio San. “Lama-lama jika kita terbiasa menyamar seperti ini memang bisa jadi keterusan. Hahaha.”

Syafina tertawa. Tetapi ada sesuatu di matanya. Cio San sudah mengerti. Ia telah terbiasa membaca sinar mata perempuan. Ada sesuatu di sana yang tidak bisa mereka ungkapkan melalui kata-kata. Ada kesedihan, ada harapan, ada tanda tanya, ada pula jawaban. Mata perempuan memang selalu seperti ini.

“Apakah Hongswee selalu bersikap seperti ini kepada perempuan?”

“Bersikap seperti apa?” tanya Cio San pura-pura tidak mengerti.

“Selalu memberi perhatian, dan selalu selembut ini?”

“Tidak,” jawab Cio San.

“Oh. Kenapa? Setiap wanita kan selalu senang diperlakukan seperti ini,” tukas Syafina.

“Sepertinya justru tidak,” kata Cio San sambil tersenyum lebar.

“Ah, apakah Hongswee merasa lebih mengerti tentang wanita ketimbang para wanita sendiri?”

“Oh itu tidak mungkin. Aku pernah mendengar orang bijak berkata: Laki-laki yang mengaku mengerti perempuan, jika bukan karena sudah pikun tentu karena sudah gila,”

“Haha. Orang bijak mana itu? Apakah perempuan memang selalu sesulit itu untuk dimengerti?” tanya si nona penasaran.

Cio San hanya tersenyum sambil memandangi rerumputan di depannya.

“Coba jelaskan padaku, aku belum mengerti,” kata putri Syafina.

“Perempuan selalu menginginkan semuanya. Seorang laki-laki tidak boleh hanya perhatian saja. Ia harus juga tidak perhatian. Ia tidak boleh lembut saja, tetapi di suatu waktu ia pun harus tegas dan sedikit keras,” jelas Cio San.

“Hmmmm...” Syafina memikirkan kata-kata ini. “Lalu?” tanyanya.

“Laki-laki tidak hanya paham ilmu bun (sastra), tetapi juga harus paham ilmu bu (silat). Harus tenang di rumah, tetapi juga harus berjiwa petualang. Harus baik, tetapi juga harus sedikit nakal. Harus memahami filsafat tetapi juga harus bisa menggunakan perkakas. Intinya, lelaki harus bisa segalanya untuk perempuan,” ujar Cio San.

“Wajar saja kan wanita menginginkan lelaki seperti itu. Kaum lelaki kan yang nanti menghidupi perempuan, melindungi mereka, dan bertanggung jawab atas mereka,” tukas Syafina.

“Menurut putri, ada berapa laki-laki di dunia ini yang sanggup memenuhinya?”
Syafina berpikir sebentar, lalu katanya, “Pasti ada!”

“Pernahkah putri bertemu dengan lelaki semacam ini?”

Si nona berpikir lagi, “Belum.”

“Jika belum, mengapa nona begitu yakin bahwa lelaki semacam ini pasti ada?”
“Setidaknya meskipun belum seluruhnya ia memenuhi persyaratan itu, sebenarnya aku telah menemukan satu orang,” kata Syafina.

“Siapa?”

“Hongswee sendiri,” jawab nona itu pelan.

“Haha,” Cio San sedikit kaget juga mendengar jawaban nona itu. Katanya, “Di masa lalu seorang perempuan meninggalkan aku justru karena aku tidak sanggup menjadi lelaki seperti itu.”

“Itu kan di masa lalu, di masa depan seorang manusia kan bisa menjadi lebih baik. Nona yang meninggalkan Hongswee mungkin tidak bisa melihat hal itu,” tukas si nona. Katanya, “Melihat Hongswee yang sekarang, aku yakin nona itu kini menyesal.”

Cio San hanya terdiam, butuh waktu cukup lama untuknya berkata, “Aku justru berharap ia tidak menyesal.”

“Seorang wanita yang menyesali pilihan cintanya, adalah seorang wanita yang menderita selamanya,” ujarnya pelan.

Jawaban ini begitu menusuk hati Syafina. Ia sendiri berada di dalam keadaan seperti ini. Apakah ia harus memilih bertahan dengan kekasih lamanya, ataukah memberi harapan kepada sebuah cinta yang baru?

“Mengapa laki-laki tidak pernah memahami perempuan?” tanyanya. Suaranya bergetar. Seolah-olah seluruh beban hidupnya berada di perkataan ini.

“Karena perempuan tidak pernah mengatakan keinginannya,” kata Cio San.

“Mengapa perempuan harus mengatakan keinginannya? Mengapa lelaki tidak dapat mengerti sendiri tanpa harus kami katakan?”

“Karena kami bukan tukang sihir,”

“Ish!” Syafina hanya dapat membanting tulang sisa makananya di tanah. “Kalian para lelaki memang sama saja!”

Cio San ingin tertawa di dalam hati. Tetapi ia menahannya. Hanya laki-laki yang pintar menutupi isi hatinya yang bisa bertahan ‘hidup’ di hadapan perempuan. Ia hanya bisa berkata, “Kami pun memiliki permasalahan yang sama dengan kaum perempuan. Kami merasa perempuan memang tidak pernah mengerti laki-laki, dan semua perempuan seluruhnya sama saja.”

“Laki laki kan yang memimpin perempuan, harusnya mereka bisa mengerti terhadap yang dipimpinnya,” tukas si nona.

“Jika yang dipimpin tidak mau mengatakan apa yang ia inginkan, dan melakukan hal-hal aneh lalu berharap keinginannya dimengerti, apa kira-kira pemimpinnya bisa mengambil keputusan dengan tepat?” kata Cio San.

Di dalam hati Cio San semakin tertawa. Selama ini ia menganggap Syafina adalah perempuan yang cerdas, berkeinginan kuat, mandiri, dan tabah. Tak tahunya jika menyangkut perasaan, semua perempuan memang sama saja.

Syafina diam saja. Cio San memandangnya dengan penuh senyuman yang lembut. Kata Cio San, “Aku tahu, seorang perempuan memang lebih suka jika segala keinginan dan maksudnya dimengerti laki-laki tanpa harus dikatakan. Dengan begitu ia akan merasalebih diperhatikan, lebih dicintai, dan merasa lebih cocok dengannya.”

“Nah. Hongswee sudah paham rupanya.”

“Mengenai rumus ini tentu saja sudah paham. Pelaksanaannya yang masih susah. Hahaha,” lanjutnya “Ketika ingin mengatakan sesuatu atau menginginkan sesuatu, kaum perempuan biasanya mengirimkan tanda-tanda. Entah dari perilakunya atau dari hal yang tidak dikatakannya. Seorang laki-laki harus selalu berusaha memahami tanda-tanda ini,” kata Cio San.

“Hmmm. Mungkin saja. Tapi tidak semua. Jika aku menginginkan sesuatu, aku akan mengatakannya,” sanggah si nona.

Ingin Cio San tertawa sekeras-kerasnya, tetapi ia hanya tersenyum dengan lembut lalu berkata, “Tentu saja. Nona memang berbeda dengan perempuan yang lain.”

Mendengar ini senang lah hati Syafina. Mungkin sejak tadi ia berharap Cio San mengatakan ini kepadanya. Untuk sampai pada perkataan ini seorang wanita mungkin akan melakukan perdebatan panjang dengan laki-laki.

Kenapa tidak meminta saja? Kenapa tidak langsung bertanya saja?

Karena perempuan sejak kecil dibesarkan untuk tidak mengungkapkan isi hatinya. Seorang perempuan mungkin harus tunduk dengan aturan. Jika mereka berkata atau melakukan sesuatu, orang lain akan mencap buruk. Takut dicibir orang. Oleh karena itu mereka terbiasa menyimpan isi hati. Laki-lakilah yang harus menebak dan memutuskan, agar kaum wanita sendiri ‘selamat’ dari aturan atau mungkin cibiran. Hal ini memang sudah menjadi permasalahan wanita sejak jaman dahulu. Diwariskan turun menurun sepanjang jaman.

“Beristirahatlah, putri. Besok kita akan mengubah penyamaran dan merubah arah perjalanan,” tukas Cio San.

“Merubah arah? Kemana kita akan pergi?”

“Sebuah tempat yang penuh petualangan. Putri percaya saja kepadaku,”

“Hmmm, rahasia lagi. Kenapa Hongswee selalu penuh dengan rahasia?’ kata Syafina.

“Bukankah hal itu membuat segala sesuatunya menjadi jauh lebih menarik?”

***

Pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat. Ketika hampir tengah hari, mereka tiba di sebuah rumah yang sangat besar. Begitu penjaga depan melihat kereta yang dikendarai Cio San datang, segera ia tersenyum dan menyambutnya, “Eh, kau baru datang sekarang? Wei-wangwe (juragan Wei) sudah menantimu beberapa hari ini? Majikan kami sudah rindu sekali dengan daging asapmu,”

“Waah, maaf. Banyak sekali pembeli yang minta diantarkan dagingnya satu persatu. Tubuh sudah sereot ini mana mungkin bisa cepat? Maaf sekali yaaaa...,” jawab Cio San.

“Sudahlah ayo cepat masuk dan bawa keretamu ke dalam. Wei-wangwe sendiri yang akan memilih dagingnya!”

Tidak menunggu lama Cio San dan Syafina kemudian sudah masuk ke dalam. Tak berapa lama pula Wei-wangwe sudah muncul dan memilih sendiri daging asap kering itu. Wajahnya tampak senang sekali. Rupanya makanan ini adalah kegemarannya. Hampir seluruh isi kereta dibeli oleh juragan yang badannya tambun ini.

“Eh, kakek dan nenek, kalian sudah makan?” tanya Wei-wangwe. “Makanlah dulu mumpung di dapur belakang sedang makan siang,”

Si kakek dan nenek saling berpandangan malu-malu.

“Aih tidak usah malu-malu. Hey, A Fan, antarkan mereka ke dapur belakang,” kata Wei-wangwe. Mau tidak mau akhirnya pasangan tua itu mengikuti saja saat diantarkan pembantu Wei-wangwe yang bernama A-Fan itu ke dapur belakang.

Begitu tiba di dapur belakang, alangkah kagetnya Syafina ketika ternyata di dapur itu sudah ada pasangan kakek nenek yang wajahnya mirip sekali dengan penyamaran dirinya dan Cio San. Bahkan baju yang mereka pakai pun sama persis. Ia hanya bisa menoleh kepada Cio San yang saat itu sedang tersenyum.

Cio San berkata kepada kakek di depannya, “Aku tahu kau pasti datang.”

Yang menjawab bukannya si kakek, tetapi si nenek, “Tentu saja ia datang. Jika kau yang memintanya, ia pasti datang.”

Cio San hanya bisa mengangguk. Di matanya terdapat bayang-bayang kesedihan. Tetapi ia segera menjura dan berkata, “Sekali lagi meminta pertolonganmu.”

“Kau cepatlah pergi,” kata si nenek. “Biarkan kami yang menanganinya dari sini.”

“Baik. Terima kasih. Berhati-hatilah.”

Cio San menarik tangan Syafina dan mereka segera ke ruang belakang. Di ruang belakang terdapat 2 buah bilik. Di masing-masing bilik itu ada penjaga. Laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki mempersilahkan Cio San masuk ke dalam, sedang yang perempuan mempersilahkan Syafina masuk ke dalamnya.
Tak berapa lama mereka keluar dari bilik itu, tampang mereka sudah berubah seluruhnya. Cio San kini berubah menjadi laki-laki muda bertampang kampung. Begitu juga dengan Syafina yang berubah menjadi perempuan desa yang wajahnya cukup buruk.

Cio San tersenyum memandangnya. “Mari kita pergi. Aku akan menjelaskannya kepadamu di tengah jalan.”

Syafina mengangguk saja dan mengikuti Cio San. Mereka lalu memasuki sebuah gudang jerami. Di gudang jerami pun sudah ada orang yang menunggu. “Mari lewat sini, Kauwsu (ketua).” Dengan cepat mereka sudah masuk melalui sebuah tingkap yang menghubungkan mereka dengan tangga ke bawah. Mereka berdua menuruni tangga itu dan kemudian sampai pada sebuah terowongan. Terowongan yang lumayan terang karena banyak obor penerang.

“Nah kita sudah aman,” sambil berjalan Cio San mulai bercerita.

“Putri tentu sudah paham bahwa mereka semua ini adalah anak buah Ma Kauw,” kata Cio San.

“Ya, cukup jelas.”

“Kita sedang menuju ke arah yang berbeda. Kita tidak pergi ke Himalaya,”

“Itu juga aku sudah paham. Yang pergi ke Himalaya adalah kedua kakek dan nenek yang penyamarannya sama dengan kita, bukan?”

“Benar sekali,”

“Mereka apakah teman akrabmu kah, Hongswee?”

“Dulu,” jawab Cio San sambil menerawang jauh langkahnya menjadi sedikit tersendat.

“Hmmmm....” nona itu tidak melanjutkan kata-katanya. Justru Cio San yang berkata, “Nama mereka adalah Cukat Tong dan Bwee Hua.”

“Ah, aku secara tidak sengaja mendengar Hongswee bercerita kepada Kao Ceng Lun....” kata putri itu lirih.

“Apa saja yang tuan putri dengar?”

“Bahwa...bahwa ia sekarang memusuhimu karena..eh...karena cemburu..,”

“Benar sekali,”

“Tetapi mengapa ia tetap datang saat kau meminta pertolongannya? Datang dengan istrinya pula kan?”

“Ya”
“Hmmm, mengherankan.”

“Tidak mengherankan. Karena ia adalah Cukat Tong.”

Si putri terdiam. Lalu tersenyum dan berkata, “Dan karena kau adalah Cio San,”

“Benar.”

Mereka berdua tetap melangkah di tengah kesunyian terowongan. Menyisakan banyak pertanyaan tentang persahabatan antar lelaki yang tak pernah bisa dimengerti Syafina. Persahabatan yang mendalam seperti ini telah mengakar di dalam hati. Tak akan pernah bisa terputuskan oleh apapun. Bahkan oleh permasalahan yang paling pelik sekalipun. Hanya kaum lelaki yang bisa bersahabat seperti ini. Di luar saling membenci tapi saling memperhatikan satu sama lain. Mungkin karena ini pula di dunia persilatan ada musuh bebuyutan yang saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Ada pula sahabat akrab yang tidak pernah menyapa satu sama lain pula.

Persahabatan kedua orang ini adalah persahabatan yang sejati. Sesuatu yang tak akan bisa dipahami manusia biasa. Hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah mengalami dalamnya persahabatan.

Meskipun mereka tak saling menyapa, tak saling cocok satu sama lain, tetapi jika salah seorang membutuhkan pertolongan, yang lain pasti tak akan ragu-ragu datang menyerahkan nyawa. Hanya karena kepercayaan terhadap hal ini lah Cio San berani mengatur rencana. Bayangkan jika Cukat Tong tidak datang, seluruh rencananya pasti sudah berantakan. Tapi ia yakin seyakin-yakinnya bahwa Cukat Tong akan datang. Ia pun yakin-seyakinnya jika saat selesai nanti Cukat Tong meminta kepalanya sebagai imbalannya, Cio San akan memberikannya dengan puas dan senang hati.

Karena mereka berdua adalah sahabat sejati!

Kalimat ini saja sudah cukup menjelaskan segala persoalan ini.

Ujung terowongan adalah sebuah pintu kecil. Ketika dibuka mereka sudah berada di tepi sungai kecil di pinggiran hutan. Sebuah perahu kosong menanti di sana. Segera kedua pasangan ini naik dan mengayuh. Syafina beristirahat di bilik kecil yang berada di perahu itu. Ia bertanya, “Kita kemana?”

“Kita akan bergabung dengan pasukan kaisar. Menghancurkan pemberontakan di Selatan.”

Syafina mengangguk. Kekagumannya terhadap laki-laki ini bertambah lebih dalam.

Air sungai mengalir bagai kehidupan manusia. Mengalir ke tempat yang tidak seorang pun tahu. Ada kalanya air itu ke laut. Namun ada kalanya air itu berhenti di tengah jalan. Perahu itu berjalan dengan kencang karena layarnya tertiup angin. Entah sudah berada di mana. Cio San tak bisa mengendarai perahu. Ia hanya pernah mendengar orang lain menjelaskan caranya kepadanya. Tetapi dalam situasi seperti ini, ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Toh ia sudah tahu tempat yang ditujunya. Aliran sungai ini pun hanya mengarah ke tempat tujuannya itu. Jika tidak memasrahkan takdir, apalagi yang bisa dilakukan manusia?

Ketika sore menjelang, Cio San melihat tanda yang dinantinya. Sebuah dermaga kecil dan tulisan nama kotanya. Kota ini yang memang ditujunya.

“Kita turun di sini,” katanya kepada Syafina. Dengan sedikit bingung Cio San akhirnya berhasil mendaratkan perahunya ke dermaga kecil itu. Tidak banyak orang di sana karena dermaga ini memang bukan dermaga umum. Hanya beberapa orang kampung yang menggunakannya. Sebagai mantan ketua Ma Kauw yang sangat besar, Cio San banyak memiliki pengetahuan tentang tempat-tempat khusus yang bisa mereka pakai dalam keadaan tertentu.

Cio San mengikat perahunya pada tiang kayu di tepi dermaga. Ia lalu mengambil bungkusan yang nampaknya sudah dipersiapkan di dalam bilik perahu. Setelah memperhatikan suasana sekitar, ia menjadi lega karena tak ada orang yang membayangi atau membuntuti mereka. Ia nampaknya cukup puas dengan rencana yang telah diaturnya ini.

“Menurut perhitunganku saat malam menjelang pasukan kerajaan akan tiba di daerah ini. Kita harus menyamar lagi menjadi tentara. Ku harap hal ini tidak merepotkan putri,” tukas Cio San.

“Ah tidak. Menurutku malah hal ini semakin seru dan menarik. Aku ingin tahu apa rencana Hongswee selanjutnya,” kata Syafina.

Mereka kemudian berganti baju. Syafina berganti baju di dalam bilik sedangkan Cio San berganti baju di atas perahu. Kedua orang ini memang adalah orang persilatan sehingga gerak-gerik mereka cukup cepat dan lugas. Setelah itu Cio San mengajak Syafina untuk pergi dari sana dan memasuki sebuah hutan yang cukup lebat.

Lama mereka menyusuri hutan dan tibalah mereka di sebuah hamparan padang rumput yang cukup luas. Syafina memperhatikan padang rumput itu dan berkata, “Tempat ini sangat bagus untuk tempat istirahat pasukan. Apakah Hongswee berpikir mereka akan beristirahat di sini?”

“Ya. Menurut keterangan mata-mata Ma Kauw, mereka pasti beristirahat di sini. Jika malam tiba kita harus segera menyusup ke dalam pasukan. Mungkin besok pagi-pagi sekali mereka sudah akan berangkat. Untuk sementara kita bersembunyi di atas pohon yang rindang. Biasanya sebelum pasukan tiba, ada pasukan kecil yang datang lebih dulu untuk memeriksa keadaan.”

Cukup lama mereka sembunyi sambil mengumpulkan tenaga. Rencana menyusup ini bukan sebuah rencana yang terlalu berbahaya. Jika ada apa-apa Cio San bisa menunjukkan lencana naganya. Ia hanya tak ingin penyusupan ini terbongkar agar ia bisa mengelabui musuh yang tak terlihat.

Saat malam tiba, suasana seluruh wilayah itu menjadi gelap gulita. Cio San meminta Syafina untuk bersemedi agar mereka dapat mengatur detak jantung dan nafas sekecil dan sepelan mungkin. Dalam keadaan bersemedi, seorang manusia dapat bersatu dengan alam sehingga kehadirannya cukup sulit untuk ditemukan.

Ketika menjelang tengah malam dari kejauhan  terdengar suara. Beberapa langkah kaki manusia yang hampir tak terdengar. Mereka memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sangat tinggi sehingga sangat sulit untuk mendengarkan langkah mereka. Tetapi telinga Cio San tak dapat dibohongi. Walaupun langkah itu hampir-hampir tak terdengar, ia dapat mendengar sedikit gesekan dedaunan saat beberapa orang itu melintasi hutan.

Cio San dan Syafina lalu memusatkan pikiran. Mereka menjadi semakin dalam bersemedhi. Rasa keakuan, nafsu, dan keinginan manusiawi yang berada di dalam jiwa mereka menghilang seluruhnya. Di dalam keadaan seperti ini seorang manusia akan dapat menyatu dengan alam, menjadi bagian dari alam yang maha luas tanpa batas dan tanpa dasar. Di saat-saat seperti ini bahkan jika Cio San ingin mencari dirinya sendiri, ia tak akan dapat menemukannya.

Saat bersemedi, seorang manusia memasuki kekosongan tanpa batas. Ada hal yang bertolak belakang yang terjadi jika seseorang bersemedi. Ia tak lagi mengetahui keberadaan dirinya. Tak lagi memiliki jiwanya, tetapi herannya alam bawah sadarnya semakin menguat dan semakin mengerti tentang apa yang terjadi di sekelilingnya. Inilah hebatnya bersemedhi. Hanya ahli-ahli silat tingkat tinggi yang sanggup melakukannya.

Dari alam bawah sadarnya Cio San mengetahui bahwa pemeriksaan yang dilakukan oleh pasukan pengintai sudah selesai. Mereka memberi tanda pada pasukan inti di belakang mereka bahwa keadaan aman dan dapat didatangi. Cio San dan Syafina masih tetap bersemedhi. Keadaan mereka seperti keadaan hewan buas yang tidur dan menanti saat yang tepat untuk bangun dan menerkam mangsa. Begitu tenang, tetapi begitu menakutkan.

Tak berapa lama terdengar derap kuda dari kejauhan. Pasukan kekaisaran sudah datang!

Suasana mulai terang benderang di kejauhan. Ribuan obor menyala. Bahkan meskipun gelap, debu terlihat jelas berterbangan di udara. Suara gemuruh kaki kuda, kereta perang, dan langkah kaki laskar perang yang menggetarkan bumi!

Hanya cukup mendengarkan suara gemuruhnya saja, seseorang dapat menangis ketakutan dan terkencing-kencing. Apalagi saat melihat gemuruh itu berubah menjadi puluhan ribu pasukan yang bergerak dengan gagahnya. Setiap tentara pun menyanyikan teriakan perang yang menakutkan!

Baju besi mereka berkilatan ditempa cahaya obor yang mereka bawa. Sinar mata mereka mencorong bagai harimau yang siap menerkam semua musuh. Dalam satu perintah, pasukan itu berhenti secara tiba-tiba!

Alangkah hebatnya panglima yang memimpin puluhan ribu pasukan ini!

Beliau adalah Khu-tai goanswe (Jenderal besar Khu), putra pertama dari Khu-hujin (Nyonya Khu) yang tersohor itu. Cio San mengenalnya. Ia adalah paman dari mantan kekasihnya, Khu Ling Ling. Jenderal yang usianya sudah lebih dari separuh baya ini terlihat gagah dalam jubah perangnya yang berwarna kuning keemasan. Pedang di pinggangnya, tombak di punggungnya. Ia mengendarai seekor kuda perang gagah yang berwarna hitam mengkilat.

“Kita beristirahat di sini! Dirikan tenda dan lakukan formasi khusus untuk pertahanan!”

“Siaapppp!” terdengar gemuruh puluhan ribu pasukan ini.

Setelah itu sang jenderal menuju ke sebuah titik di mana sebuah tenda untuk para jenderal didirikan.

Cio San membuka matanya. Ia mencari keberadaan kaisar. Penglihatannya kemudian tertuju pada sebuah kereta paling besar dan paling mewah di tengah-tengah pasukan. Pengawalan di sana pun sangat ketat. Dalam hati Cio San sedikit lega karena pengawalan ini sesuai dengan yang dibayangkannya. Sangat kuat, sangat rapat, dan sangat rapi.

Syafina pun sudah membuka mata dan melihat ke arah pandangan mata Cio San. Seolah-olah mengerti isi pikiran Cio San, ia bertanya, “Hongswee akan menemui kaisar?”

“Tidak. Kita hanya perlu menyusup di dalam rombongan pasukan. Tetapi ada hal yang cukup mengkhawatirkan,” katanya.

“Ada apa?”

“Semua pasukan ini adalah pasukan khusus. Mereka pasti saling mengenal satu sama lain. Aku khawatir jika kita menyusup, kita akan ketahuan.”

“Apakah Hongswee tidak memikirkan hal ini sejak awal?”

“Tidak. Aku baru mengetahui hal ini setelah melihat cara mereka menyusun barisan saat membuat tenda dan membuat formasi bertahan. Dari cara mereka, setiap orang memiliki tugasnya tersendiri. Jika tidak memiliki tugas pun, masing-masing berdiri di barisan yang jumlahnya tertata rapi. Tatapan mata mereka saling mengenal. Jika kita masuk menyusup ke dalam barisan itu, maka barisan itu akan kacau dan kita jelas akan ketahuan,” jelas Cio San.
“Hebat sekali pasukan ini!”

“Pasukan seperti ini meskipun jumlahnya sedikit, amat sangat sulit untuk dikalahkan. Gerakan mereka seperti satu tubuh dan satu jiwa. Hebat sekali Khu-tai goanswe membentuk pasukan seperti ini. Perlu latihan keras bertahun-tahun. Tak boleh ada salah sedikit pun. Tetapi melihat ini, aku cukup lega. Mudah-mudahan kita akan meraih kemenangan di Selatan nanti,” ujar Cio San.

“Jadi, apa rencana Hongswee?”

“Kita hanya bisa membayangi pasukan ini. Berjaga-jaga jika ada serangan pemberontak. Syukur-syukur perjalanan aman sampai ke Selatan. Jika sudah tiba di sana, musuh yang dihadapi akan lebih kelihatan.”

“Hmmm, jadi kita hanya berdiam di sini?” tanya Syafina lagi.

“Tidak. Kita harus bergerak di depan mereka. Setidaknya dengan cara ini kita akan lebih dulu mengetahui pergerakan musuh.”

“Baiklah.”

Kedua orang ini melayang turun perlahan-lahan tanpa suara. Baju tentara mereka sudah mereka tanggalkan di atas pohon. Dalam sekejap mata mereka menghilang di dalam kegelapan hutan itu.

Setelah cukup jauh Syafina berkata, “Ada yang ingin aku tanyakan kepada Hongswee.”

“Apa itu?”

“Bagaimana jika pasukan pemberontak menyusup ke dalam pasukan khusus itu?”

“Tidak mungkin. Seperti yang kubilang tadi, pasukan itu tidak mungkin bisa disusupi. Mereka saling mengenal satu sama lain. Gerak-gerik mereka tertata rapi.”

“Tapi bagaimana jika seluruh pasukan itu memberontak?”

“Jika mereka ingin memberontak, kenapa menunggu sejauh ini untuk melakukannya?” kata Cio San.

“Hmmmm, betul juga. Eh, ada lagi yang ingin kutanyakan,” tukas Syafina.

“Mengapa kita justru jalan ke belakang pasukan, kata Hongswee kita harus ke depan?”

“Ada satu hal yang baru kusadari,” kata Cio San enteng.

“Apa itu?”

“Kemungkinan besar kaisar tidak berada di dalam rombongan pasukan ini.”








Wednesday, April 22, 2015

EPISODE 2 BAB 47 SESEORANG DI SANA


Pagi-pagi sekali Syafina sudah bangun. Ketika ia membuka pintu, sudah ada seember air hangat di depan pintunya. Seember air ini beraroma harum karena sudah ada berbagai macam kembang dan akar-akaran yang dicampurkan di dalamnya.

“Tuan putri mandilah dahulu. Aku sudah mempersiapkan pakaian dan perlengkapan untuk menyamar. Setelah sarapan, kita akan langsung berangkat,”kata Cio San yang sedang duduk di ruangan tengah bersama beberapa orang. Syafina hanya mengangguk tersenyum dan berterima kasih.

Setelah ia mandi dan berpakaian, putri mongol ini terlihat cantik sekali. Pakaiannya sederhana dan biasa. Seperti yang biasa digunakan kaum perempuan jelata. Tetapi kecantikannya justru memancar dengan sempurna. Jika kecantikan Bwee Hua bercahaya penuh gelora, kecantikan Syafina justru halus dan lembut. Jika kecantikan Bwee Hua membuat dada lelaki berkobar-kobar penuh cinta, kecantikan Syafina membuat lelaki tunduk penuh keharuan.
Ia melangkah dengan penuh keanggunan. Segala rasa takut dan khawatir yang ia perlihatkan semalam, kini telah surut menghilang. Kini yang tertinggal adalah keanggunan dan kebesaran seorang putri bangsawan. Tanpa bersuara pun ia akan dapat menundukkan semua laki-laki. Tanpa mengerling ia dapat menjatuhkan hati mereka. Tanpa tersenyum ia mampu membawa kebahagiaan. Kecantikan perempuan yang paling sejati dan murni. Tak terasa semua orang yang berada di sana berdiri dan memberi hormat.

Cio san pun berdiri dan tersenyum, lalu berkata, “Mari silahkan duduk putri,”
Ia duduk dengan sederhana. Di sebuah kursi yang sederhana. Di sebuah rumah yang sederhana. Tetapi di sekitarnya seolah-olah berubah menjadi istana yang megah. Kursi tempat duduknya seperti berubah menjadi singgasana raja-raja. Ada sebagian perempuan yang memang dapat menampilkan kecantikannya tanpa riasan, tanpa bersikap, tanpa berdandan. Syafina boleh dibilang sebagai orang nomer satu di dalam jumlah yang sebagian itu.

“Jika putri ingin pulang ke Qara Del, aku dapat meminta anggota Ma Kauw untuk mengantarkan dan mengawal putri sampai di rumah. Aku sendiri harus kembali menyelidiki keberadaan sahabatku yang bernama Gan Siau Liong,” jelas Cio San.

“Suasana di selatan sudah seberbahaya itu, apakah Hongswee lebih mendahulukan kepentingan diri sendiri?” pertanyaan ini dilontarkan sangat pelan, namun sangat tajam. Mendengar ini, Cio San hanya tersenyum. Katanya, “Di dunia ini tidak ada urusan lain yang lebih penting selain menolong sahabat.”

Putri Syafina hanya diam saja, ia hanya mengangkat dagunya ke depan. Seperti mengerti isi hati putri itu, Cio San kembali berkata, “Keadaan di Selatan tidak semenakutkan yang kita kira. Setidaknya aku sudah dapat membaca keadaan. Yang aku takutkan justru keadaan ibu kota.”

“Ibu kota?”

“Benar. Ada kabar yang mengatakan bahwa kaisar sekarang sedang bersiap-siap meninggalkan ibukota untuk terjun langsung ke medan peperangan di Selatan.”

Putri Syafina dengan tanggap lalu berkata, “Apakah musuh menggunakan taktik memancing macan keluar sarang?”

“Benar. Jika kaisar sampai keluar ibukota, maka ditakutkan akan ada usaha ambil alih dari para pejabat pemberontak di dalam istana,” jelas Cio San.
“Lalu apa yang Hongswee lakukan?”

“Aku telah mengirimkan surat kepada para ciangbun (ketua partai persilatan), dan meminta mereka untuk mengirimkan wakilnya kemari,” kata Cio San. Lanjutnya, “Daerah ini adalah daerah pertengahan. Jika seseorang berkuda dengan sangat cepat, dalam 5 hari para perwakilan dari partai persilatan ini sudah akan dapat berkumpul di sini.”

Syafina mengerti, Cio San telah mengumpulkan perwakilan partai-partai besar untuk turut berjuang menjaga ibukota jika kaisar sampai harus pergi ke selatan. “Jika para enghiong (ksatria) ini mampu datang ke ibukota, mampukah mereka memasuki istana kaisar? Dengan banyaknya persekongkolan pejabat istana, aku yakin para pendekar ini akan menemui kesulitan.”

Mendengar perkataan ini, Cio San semakin mengagumi kecerdasan sang putri. “Aku telah mengirimkan surat pula kepada kaisar. Dalam satu dua hari, kita akan mendapatkan jawaban,” tukas Cio San.

“Oh..., aku lupa jika Hongswee memiliki lencana naga. Segala hal yang mengagumkan dapat Hongswee lakukan dengan lencana naga ini,” kata Syafina.

Sebenarnya tanpa lencana nagapun, jika Jenderal Phoenix sudah berbicara, kaisar pun harus mendengarkan.

“Kapan Hongswee akan berangkat?” tanya Syafina.

“Segera setelah aku bertemu utusan dari partai-partai besar.”

“Jika aku tidak ingin pulang?”

Jika seorang wanita tidak ingin pulang, seorang laki-laki memang tak akan dapat berbuat apa-apa.

“Putri ingin kemana?” tanya Cio San.

“Aku..., aku...masih belum tahu, ” jawab Syafina.

Jika seorang wanita tidak ingin pulang, tentunya ada masalah besar yang menantinya di rumah. Cio San tidak bertanya lagi. Jika sahabatnya tidak ingin bercerita, ia sendiri pun tak akan bertanya.

“Baik. Putri ikut aku saja,” tegas Cio San.

“Eh? Ke mana? Mencari sahabatmu itu?”

“Kita akan bertualang dan mengunjungi banyak tempat. Ku jamin banyak sekali ilmu dan pelajaran yang akan putri dapatkan dalam perjalanan. Ditambah lagi banyak sekali pemandangan indah yang bisa putri lihat,” ujar Cio San.

“Eh...aku...aku tidak boleh bepergian dengan lelaki yang bukan suami atau saudaraku,” kata Syafina terbata-bata.

“Bebarapa waktu yang lalu kan kita berpergian bersama-sama?”

“Benar. Tapi saat itu sedang dalam keadaan bahaya dan darurat,” sela Syafina.

“Keadaan sekarang justru jauh lebih berbahaya dan darurat,”

“Ehm..., beri aku waktu berpikir beberapa hari. Aku masih belum tahu apa yang harus kulakukan,” tukas Syafina.

“Baiklah. Kita punya waktu 5 hari. Setelah itu aku harus segera berangkat. Mari kita nikmati dulu sarapan ini.”

Waktu 2 hari ini kemudian mereka habiskan untuk menyelidiki banyak hal. Cio San banyak memberikan perintah kepada anggota-anggota Ma Kauw. Berita yang paling ditunggunya adalah tentang kabar Aghulai. Salah seorang anggotanya memberitakan bahwa Aghulai bersama rombongan ditemukan mati di sebuah hutan. Kepala mereka telah dipenggal dan dibuang. Tetapi si pelapor ini sangat yakin bahwa mayat-mayat ini benar adalah Aghulai dan rombongannya.

“Berarti tebakanku benar. Ia adalah kaki tangan orang dalam istana,” kata Cio San.  

Saat tengah malam di hari kedua, orang yang ditunggu-tunggu Cio San pun tiba, Kao Ceng Lun!

“Ah, bagaimana kabarmu?” tanya Cio San bahagia.

“Aku baik-baik saja, San-ko (kakak San). Bagaimana dengan kau? Setelah kejadian di barak istana, aku mati-matian mencari kabarmu. Alangkah bersyukurnya aku saat kudengar kau bergabung ke daerah selatan. Eh, bagaimana luka-lukamu?

“Sudah sembuh seluruhnya. Hanya saja sepertinya kekuatanku tidak bisa pulih seperti semula. Maaf aku harus merepotkanmu dan memintamu kemari,” tukas Cio San.

“Setelah Yang Mulia kaisar menerima suratmu, dan membaca seluruh penjelasanmu. Ia langsung memerintahkan aku kemari. Aku yakin ini pasti permintaanmu juga,” kata Kao Ceng Lun sambil tertawa.

“Benar. Hanya kau lah satu-satunya orang yang dapat kupercaya di dalam istana,”

“Aku belum membaca suratmu. Tetapi dari penjelasan yang kuterima, kau menulis bahwa kau khawatir ada pergerakan pemberontakan yang akan terjadi di dalam istana, sehingga kau meminta izin kaisar untuk mengerahkan beberapa partai persilatan terbesar. Ini bukan sebuah hal yang sederhana. Masuknya sebuah pasukan tangguh milik partai-partai ini ke dalam ibukota, justru akan semakin berbahaya. Malah mungkin pasukan ini akan bisa disusupi oleh pemberontak itu sendiri,” jelas Kao Ceng Lun. Lanjutnya, “Setiap keberadaan pasukan asing, justru akan menimbulkan permasalahannya tersendiri. Ini jika kita meninjau dari sudut ketentaraan.”

“Benar. Aku pun paham hal ini. Tetapi sejauh pengetahuanku, tiga partai besar yaitu Siau Lim-Pay, Bu Tong-pay, dan Go Bi-pay telah berhasil membersihkan unsur-unsur kotor dalam perkumpulan mereka. Kay Pang, sebagai perkumpulan terbesar di Tionggoan, mungkin masih belum bisa. Tetapi jika kita hanya mengandalkan ketiga partai besar ini, maka setidaknya penjagaan ibu kota akan lebih baik. Toh, sejauh ini tidak terdengar adanya kabar pasukan besar yang menyusup ke dalam ibu kota. Aku telah menyelidiki hal ini melalui penyelidikan anggota-anggota Ma Kauw,” ujar Cio San.

“Jadi bagaimana rencanamu sebenarnya, San-ko?” tanya Kao Ceng Lun.

“Para pendekar dari ketiga partai besar mungkin tidak perlu kau susupkan ke dalam istana. Jumlah mereka pun tidak perlu besar, seperti pasukan ketentaraan. Cukup tokoh-tokoh terkemukanya saja yang menjaga. Jika ada pergerakan mencurigakan, kau hanya cukup membukakan pintu agar mereka bisa masuk ke dalam istana.”

Kao Ceng Lun berpikir sebentar, lalu mengangguk.

Kata Cio San, “Yang perlu kaisar lakukan adalah menempatkan beberapa jenderal kepercayaannya untuk menjaga ibukota. Ia sebenarnya tidak perlu pergi ke selatan. Tetapi jika ia menggunakan hal ini untuk melatih kemampuan taktik tempurnya, ku pikir hal ini tidak terlalu menjadi masalah.”
“Benar. Kaisar kita memang masih cukup muda. Darah panasnya mendorongnya untuk terjun langsung ke peperangan. Setiap kaisar memang harus punya pengalaman peperangan. Jika ia hanya ongkang-ongkang kaki saja di istana, kekuasaannya akan cepat dijatuhkan dengan mudah,” kata Kao Ceng Lun.

Cio San mengangguk, katanya, “Tugasmu bukan hanya membuka pintu bagi barisan pendekar tiga partai saja. Tugasmu yang terbesar adalah membaca dan mempelajari pergerakan musuh. Jika kau salah mengambil keputusan, justru kau lah yang akan dituduh memberontak.”

“Ya. Aku paham sekali resiko ini. Memasukan sebuah pasukan yang tak dikenal ke dalam istana adalah sebuah perbuatan makar. Tetapi jika pasukan ini telah memiliki ijin dari kaisar, maka beban ini menjadi lebih ringan,” kata Kao Ceng Lun.

“Benar. Untuk sementara ini hanya itulah yang bisa kita lakukan. Dalam 3 hari, perwakilan dari ketiga partai besar akan datang. Kita bisa menyusun rencana yang lebih matang,” kata Cio San.

“San-ko sendiri apakah akan turut bergabung ke ibukota, atau pergi ke selatan?’

“Aku akan berangkat ke Himalaya,” jawab Cio San.

“Eh? Ada urusan apakah?”

“Aku mencari keberadaan Gan Siau Liong.”

“Ah ya. Kudengar ia sudah menghilang beberapa bulan. Apa yang ia lakukan di Himalaya?”

“Kemungkinan besar mencari tahu asal-usul seseorang,” jawab Cio San.

“Orang ini tentu sangat berkaitan erat dengan kehidupannya.”

“Kemungkinan besar begitu.”

Mereka berdua lalu bercengkerama sepanjang malam hingga pagi menjelang. Di balik biliknya, Syafina dapat mendengarkan percakapan kedua orang sahabat itu. Perlahan-lahan ia menjadi begitu kagum dengan kemampuan dan kecerdasan Cio San.

Pagi-pagi sekali Syafina sudah bangun dan mandi. Air hangat selalu tersedia saat ia membuka pintu kamarnya. Begitu selesai, ia pergi ke dapur belakang untuk membantu menyiapkan masak. Tahunya Cio San sudah berada di sana dan sibuk memasak.

“Putri sudah bangun? Kenapa kesini?”

“Aku mencium aroma yang sedap sekali. Jika sekiranya aku dapat membantu.......,”

“Membantu? Wah, kami baru saja selesai. Sebaiknya putri membantu kami menghabiskan hidangan ini. Hahaha,” tawa Cio San.

Lelaki ini bersikap apa adanya pada dirinya. Tidak menjilat, tidak tunduk menghormat. Memperlakukannya seolah-olah ia adalah sahabatnya yang sangat dekat. Bahkan terkadang bercanda pula terhadapnya. Baru kali ini Syafina menemukan lelaki yang seperti ini. Mengingatkannya kepada seseorang.

Seseorang yang mungkin sedang menantinya di kampung halamannya nun jauh di sana.

Seseorang yang sudah disukainya semenjak kecil. Kakak seperguruannya yang tampan dan gagah. Bahkan lelaki ini sudah mengungkapkan isi hatinya, dan Syafina telah menerimanya. Lalu kemudian keluarga Syafina menunangkannya dengan jenderal Aghulai. Bukannya memperjuangkan hubungan mereka, sang kakak seperguruan seolah-olah pasrah dan menerima nasib. Memang si kakak ini bukan dari keluarga bangsawan. Mungkin hal inilah yang membuatnya kecil hati dan menarik diri.

Karena kecewa dengan sikap sang kakak seperguruan dan keputusan keluarga, Syafina kabur dari rumah. Bertualang dan memasuki dunia persilatan. Petualangannya ini membawanya ke selatan dan bertemu Cio San di sana.

Seorang perempuan jika hatinya sedang sebal, biasanya akan berlegak pergi. Berharap agar lelaki yang dicintainya mengejarnya dan berjuang mendapatkannya kembali. Tetapi si kakak seperguruan malah tidak tampak batang hidungnya sama sekali. Hal ini malah membuat kesebalan hatinya semakin bertambah. Seolah-olah ia ingin menyakiti hati si kakak jauh lebih dalam.

Saat ia bertemu dan kenal Cio San, segala kesebalan hatinya mulai terobati oleh sang jenderal phoenix. Sikap, kegagahan, kecerdasan, serta perhatiannya akan membuat luluh hati perempuan. Perempuan mana saja. Dan Syafina adalah perempuan. Perempuan tulen yang molek dan indah. Permpuan yang hatinya sedang kesepian dan mendambakan cinta yang mampu menghangatkan hatinya.

Ia mulai tertarik pada Cio San. Hanya dibutuhkan waktu sekejap bagi seorang perempuan untuk menentukan bahwa hatinya tertarik atau tidak. Hanya dibutuhkan waktu sekejap bagi perempuan untuk jatuh cinta. Apakah hal inilah yang menyebabkan perempuan selalu dirundung permasalahan akan perasaannya sendiri? Perasaan perempuan adalah kekuatan sekaligus kelemahannya.

Karena itulah ia tak ingin pulang ke rumah. Ia sendiri tak bisa mennetukan perasaannya. Apakah ia ingin bersama Cio San karena ingin membuat kakak seperguruannya cemburu jika bertemu mereka? Ataukah ia ingin bersama Cio San karena ketertarikan hatinya terhadap lelaki itu? Ia jelas masih memiliki perasaan terhadap kakak seperguruannya, tetapi perasaan itu perlahan-lahan terkikis oleh kehadiran sang jenderal Phoenix.

Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan, dan bagaimana harus bersikap. Hal ini telah menjadi permasalahan perempuan semenjak dahulu kala. Hati mereka kokoh bagai karang, tetapi juga lembut bagai awan. Lelaki yang berpengalaman tentu tahu bagaimana cara menghadapinya. Tetapi lelaki yang berpengalaman jumlahnya sangat sedikit di kolong langit ini.

Jika ternyata ia harus memilih antara kakak seperguruannya dan Cio San, siapakah yang harus dipilihnya? Bagaimana caranya?

Ia tidak dapat menjawab. Perempuan manapun tak dapat menjawab. Ia hanya bisa membiarkan waktu dan takdir yang kan menjawabnya.

Syafina memakan hidangan dengan pikiran yang kalut. Selama beberapa hari ini ia memang tak dapat mengambil keputusan. Pulang ke rumah dan bertemu kekasihnya yang tenang dan pengertian, ataukah pergi bertualang bersama seorang lelaki gagah yang penuh gairah dan semangat?

Saat diperkenalkan dengan Kao Ceng Lun pun ia hanya acuh tak acuh. Segala perhatiannya hanya bisa terpusat pada perasaan hatinya. Waktu mereka selesai makan, Syafina segera kembali ke kamarnya dan berdiam saja di sana.
“Putri itu cantik sekali, San-ko,” bisik Kao Ceng Lun.

“Orang rabun pun mengatakan ia sangat cantik Hanya orang gila yang berkata sebaliknya,” bisik Cio San sambil tertawa kecil.

“Orang gila pun menjadi waras jika memandangnya. Kurasa ia cocok sekali menjadi pendampingmu,” kata Kao Ceng Lun lirih.

“Segala urusan ruwet ini masih kalah ruwet jika menyangkut urusan wanita,” bisik Cio San sambil tertawa.

“Aih, memangnya San-ko sudah ganti selera? Masa mau ‘berurusan’ dengan lelaki?” tawa Kao Ceng Lun.

“Hahaha. Tidak punya kekasih, jauh lebih baik daripada berlaku gila dengan sesama jenis. Tapi terus terang, aku sendiri masih belum tertarik untuk membina hubungan dengan perempuan manapun,” kata Cio San.

Lelaki yang sudah pernah terluka dengan demikian dalam, sebagian akan bersikap seperti Cio San.

“Jangan menyerah, San-ko (kakak San). Aku yakin ada seseorang di sana yang memperhatikanmu dan mencintaimu. Mungkin kau belum menemukannya sekarang, tetapi di masa depan, mungkin saja ia yang menemukanmu,” kata Kao Ceng Lun.

Cio San menerawang jauh. Selama ini ia telah membuat tembok tebal sekuat baja di sekeliling hatinya agar tidak terluka dan tersakiti lagi. Hanya perempuan terbaik yang mampu menembus tembok itu. Perempuan yang terbaik bukanlah perempuan sempurna. Perempuan terbaik adalah yang mampu menghidupkan kembali kepercayaannya akan cinta sejati. Selama ini ia belum menemukannya.

‘Belum’ bukanlah sebuah kata sederhana. ‘Belum’ adalah sebuah kata yang penuh pengharapan.

Jika seseorang ‘belum’ berhasil, ‘belum’ bahagia, ‘belum’ menemukan yang dicarinya, maka harapan akan masih tetap hidup sebelum ia mati. Jika ia masih bisa bernafas dan berpikir, maka selama itu pula harapan selalu ada. Bahkan jika seluruh tubuhnya remuk, dan ia menjadi lumpuh selamanya, selama ia masih bisa bernafas, ia masih memiliki harapan.

Karena pengharapan itu sangat agung. Putus asa adalah kehinaan!

Selama ini, apakah ia telah berputus asa, ia sendiri pun tidak tahu. Yang ia tahu, ia tak ingin membina hubungan cinta lagi. Ia telah pernah mengalami penderitaan yang dalam, dan telah bersumpah seumur hidupnya untuk tak lagi [ernah merasakan hal yang sama. Tetapi ia lupa, semakin seseorang menderita, semakin kebal pula jiwanya. Jika kemudian ia mengalami penderitaan yang sama, jiwanya telah mampu menghadapi hal itu dengan gagah dan tenang.

Penderitaan tak akan membunuh seseorang. Yang membunuh seseorang adalah hilangnya pengharapan. Selama kau masih punya impian yang ingin kau wujudkan, maka selama itu pula kau akan memiliki kekuatan untuk melanjutkan hidupmu. Membuktikan kepada dunia bahwa kau mampu menjadi manusia yang kau cita-citakan. Dengan atau tanpa cinta.

Pada saat itu tiba, mereka yang menyia-nyiakanmu akan mengagumimu. Akan ingin menjadi bagian dari hidup atau sejarah kehidupanmu. Pada saat itu kau akan tersenyum dan berkata, “Kau sudah lihat?”

Lihatlah orang yang kau anggap lemah, miskin, dan tanpa daya. Lihatlah orang ini telah menjadi ‘seseorang’ yang merubah dunia.

“Lihatlah!”

Kata ‘lihatlah’ ini harus kau simpan erat-erat di dalam hatimu. Agar kelak kau dapat mengatakannya dengan indah kepada siapapun yang meremehkanmu.

Cio San mengangguk dengan penuh pengertian. Dalam hati ia tertawa. Selalu ada pengertian baru di dalam kehidupan. Saat kau mengerti akan sebuah pengertian, selalu ada pengertian-pengertian baru yang menunggumu di depan sana. Siap untuk memberikan pelajaran kehidupan kepadamu.

“Mengapa kau tertawa, San-ko?” tanya Kao Ceng Lun.

“Aku tertawa karena aku baru mengerti satu hal,” kata Cio San.

“Apa itu?”

“Bahwa aku terlalu suka ikut campur urusan orang lain,” katanya terbahak-bahak.

“Kau baru sadar? Hahahaha,” Kao Ceng Lun pun ikutan tetawa. Katanya, “Kau tahu berapa banyak orang yang ingin menyingkirkanmu karena kebiasaanmu ini.”

“Itulah. Coba kalau aku duduk dengan tenang di rumah. Mungkin saja aku sudah memiliki istri yang cantik, dan anak yang mungil dan lucu-lucu,” tukas Cio San.

“Ada sebagian orang yang memang ditakdirkan untuk melakukan hal-hal besar. Hidup dengan tenang di dalam pelukan istri bukanlah kehidupan mereka,” ujar Kao Ceng Lun.

“Hidup tenang di dalam pelukan istri kan juga bukan sebuah hal yang memalukan,” sanggah Cio San.

“Benar. Tetapi mengorbankan diri agar orang lain bisa hidup tenang di dalam pelukan istri, justru jauh lebih tidak memalukan,” kata Kao Ceng Lun tersenyum.

“Mengapa orang itu harus aku?”

“Jika bukan San-ko (kakak San), lantas siapa?”

“Bisa saja kau,”

“Belajar seratus tahun pun kemampuanku tidak akan menyamai kau sekarang ini. Masa San-ko mau menyerahkan nasib umat manusia ke tangan orang tak becus seperti aku?” tawa Kao Ceng Lun.

“Kau boleh berkata dirimu tidak becus, tapi aku mengatakan justru kau orang yang sangat bisa diandalkan setiap saat.”

“Kau justru jauh lebih bisa diandalkan, San-ko. Bukankah sebaiknya kau saja yang melakukannya?”

“Hahaha. Omonganmu bau kentut!”

Mereka tertawa sambil menenggak arak yang cukup banyak. Beberapa hari ini mereka habiskan dengan santai dan tertawa-tawa. Syafina sungguh heran melihat mereka begitu santai menghadapi persoalan yang sudah menanti mereka. Ia tidak tahu, justru inilah cara mereka mempersiapkan diri. Dengan bercanda dan bersantai melonggarkan otot dan urat syaraf. Dengan begitu mereka akan mampu mengumpulkan dan mengeluarkan kemampuan terbaik mereka pada saat dibutuhkan.

Hari yang dinanti pun tiba. Perwakilan dari 3 partai besar datang hampir bersamaan, mereka pun datang secara menyamar ke rumah kecil yang merupakan markas tersembunyi partai Ma Kauw. Alangkah herannya Cio San ketika yang datang secara langsung adalah para Ciangbun (ketua) partai-partai tersebut!

Sambil menjura ia berkata, “Aih, boanpwee (saya yang lebih muda) sungguh kurang ajar. Tidak tahu bahwa para cianpwee (yang lebih tua) sendiri yang akan hadir. Jika begini boanpwee kan harusnya menyiapkan...,”

“Aih, Cio-hongswee jangan terlalu merendah. Jika Hongswee sendiri yang mengirim surat, masakah kami berani mengirim orang rendahan kemari?” kata perwakilan Siau Lim-pay yang bernama Hong Siu-taysu. Meskipun ia bukan ketua yang asli, ia adalah pejabat utama jabatan ketua. Mewakili ketua sebenarnya Siau Lim-pay yang sudah sangat tua dan mengundurkan diri dari dunia persilatan.

Cio San melihat perwakilan Bu Tong-pay yang datang agak belakangan bernama Yo-ciangbun. Orang ini dulu pernah menjadi gurunya secara tidak langsung saat ia berguru di Bu Tong-pay. Cio San dengan penuh hormat memberi salam perguruan Bu Tong-pay kepadanya. Bahkan ia sempat berlutut penuh hormat.

“Aih, Cio-hongswee berdirilah,” kata Yo-ciangbun mengangkat tubuh Cio San dengan penuh rasa sungkan. “Perguruan kita telah berbuat salah kepadamu, dan bahkan justru kaulah yang membersihkan perguruan kita. Justru seharusnya cayhe (saya) lah yang berlutut kepadamu.”

“Tidak berani...tidak berani ciangbun....,” Cio San buru-buru mencegah. Ia lalu menjura dengan dalam. “Selamat datang ciangbun,” katanya.

Tamu terakhir adalah ciangbun dari Go Bi-pay. Seorang Nikoh (padri perempuan) yang bernama Nan-nikoh. Ia datang bersama 2 murid wanitanya. Cio San menjura kepadanya dan Nikoh itu pun membalas dengan penuh hormat. Katanya, “Akhirnya aku bertemu juga dengan Cio-hongswee yang terkenal itu. Padahal selama ini perguruan kami sudah sedikit tidak tahu malu dengan mengakui Cio-hongswee sebagai bagian dari sejarah kami.”

Ibu Cio San adalah murid dari perguruan Go Bi-pay.

“Justru boanpwee lah yang bangga dapat menjadi bagian dari sejarah Go Bi-pay yang tersohor. Terima kasih sekali, ciangbun,” kata Cio San penuh hormat. “Mari silahkan duduk, cianpwee sekalian.”

Setelah bercengkerama sebentar, Cio San lalu memperkenalkan Kao Ceng Lun dan Syafina. Setelah perkenalan selesai, Cio San berkata, “Boanpwee merasa malu karena merepotkan para cianpwee untuk datang kesini secara menyamar. Sungguh hal ini amat merendahkan para cianpwee sekalian. Sekali lagi boanpwee meminta maaf.”

“Kau terlalu sering meminta maaf. Pinceng (saya-sebutan diri sendiri bagi bhiksu) memang memutuskan untuk datang sendiri karena memahami keadaan yang sudah semakin gawat. Pinceng yakin, para tetua yang lain pun berpikiran seperti itu. Demi bangsa dan negara, tak seorang pun yang boleh merasa terlalu tinggi untuk melakukan sesuatu,” kata Hong Siu-taysu yang ditimpali anggukan oleh tetua yang lain.

“Boanpwee juga merasa tidak enak karena akhirnya Yo-ciangbun harus datang. Sejauh yang boanpwee dengar, Bu Tong-pay telah menarik diri dari dunia persilatan beberapa tahun ini. Sungguh surat yang boanpwee kirimkan hanya sekedar pemberitahuan. Bu Tong-pay tidak perlu menerjunkan diri langsung....,” kata Cio San.

“Aih, Bu Tong-pay sudah terlalu lama menarik diri. Pinto (saya-sebutan diri sendiri bagi pendeta agama Tao) sendiri menganggap inilah saat terbaik bagi Bu Tong-pay untuk kembali turun ke gelanggang. Mencuci bersih nama Bu Tong-pay setelah selama ini dikotori penyusup-penyusup,” ujar Yo-ciangbun.

“Kau terlalu sungkan, Hongswee,” timpal Nan-nikoh. “Kaum persilatan seluruhnya kagum padamu. Bahkan berharap mampu melakukan perbuatan gagah seperti engkau. Saat kau mengirim surat seperti ini, tentu saja kami semua tertarik datang. Perbuatan bela negara seperti inilah yang harus dilakukan kaum persilatan. Jangan hanya saling berebutan nama dan kejayaan diri sendiri. Pinni (saya-sebutan diri sendiri bagi padri perempuan) sendiri memang memutuskan datang menyamar, karena pinni yakin kau pun pasti mengundang partai yang lain. Jika seluruh ciangbun (ketua) 3 partai besar keluar perguruan secara bersamaan, pastinya kan nanti menimbulkan kecurigaan orang. Rupanya tetua yang lain pun berpikiran yang sama,” ia tersenyum. Senyumnya tenang dan penuh kedamaian.

Ketiga tetua ini adalah orang-orang yang taat beragama dan hal ini sangat terlihat dari sikap mereka yang rendah hati. Kedudukan mereka pun adalah kedudukan tertinggi di dalam dunia persilatan. Jika mereka sudah mau jauh-jauh datang kemari, bisa dibayangkan betapa tingginya penghargaan mereka terhadap Cio San. Bahkan mungkin jika kaisar yang meminta pertolongan, belum tentu mereka mau datang sendiri!

Mereka duduk sambil menyantap makan siang yang sudah disiapkan Cio San. Ia memasak sendiri masakan-masakan itu. Semuanya terdiri dari masakan tanpa daging, karena ia tahu para tokoh yang datang ini berpantang daging dan arak. Setelah selesai, mereka semua lalu membahas segala perencanaan yang harus dilakukan. Cio San dan Kao Ceng Lun menjelaskan perencanaan mereka kepada ketiga tetua, sedangkan Syafina dan dua murid Go Bi-pay duduk agak ke belakang dan saling bercengkerama. Ketiga wanita itu menjadi akrab dengan cukup singkat.

Setelah semua perencenaan selesai, ketiga tetua itu meminta diri. Mereka ingin segera menjalankan perencanaan yang sudah disusun oleh Cio San dan Kao Ceng Lun. Tak lama setelah itu, Kao Ceng Lun pun meminta diri.

Kini hanya Cio San dan Syafina yang berada di ruangan itu. Kata Cio San, “Bagaimana? Sudah mengambil keputusan?”

“Aku...eh....aku....”

“Baiklah. Kuputuskan saja. Putri ikut denganku. Jika segala urusan selesai, aku sendiri yang akan mengantarkanmu pulang,” kata Cio San.

“Tapi...,”

“Sudah tidak ada waktu untuk berpikir. Percayalah padaku.”

Akhirnya Syafina mengangguk. Memang, perempuan amat sulit mengambil keputusan. Sebisa mungkin laki-laki sajalah yang mengambil keputusan. Apakah jika keputusan itu salah, perempuan dapat menyalahkan laki-laki?

Entahlah. Perempuan selalu benar.

Mereka berangkat dengan menyamar sebagai sepasang kakek dan nenek. Sepanjang perjalanan hati Syafina terbagi dengan senangnya menempuh petualangan yang mendebarkan, dan seseorang yang menunggunya pulang.

Seseorang di sana.