Tuesday, February 3, 2015

EPISODE 2 BAB 40 KEGELAPAN HATI MANUSIA



Obrolan semakin hangat sang nona semakin mendekatkan tubuhnya kepada Cio San. Wajahnya yang putih halus kini memerah. Ia menggigit-gigit bibir bawahnya. Semakin sering pula ia memainkan rambutnya yang wangi dan indah. Tertawanya semakin renyah. Matanya pun tak lepas memandang Cio San.

“Setelah ku tatap lama-lama, tampangmu lumayan menarik juga” kata nona itu sambil tertawa manis.

“Tidak berani...tidak berani, nona” kata Cio San sambil menunduk malu-malu.
Nona itu semakin mendekat. Kehangatan tubuhnya justru membawa kesujukan di malam yang panas ini. Angin dari laut menghembuskan aroma pantai yang bercampur dengan wangi tubuh nona itu. Wajah mereka saling berdekatan. Bibir mereka pun hampir bertaut.

Lalu tiba-tiba nona itu bergerak dengan sangat cepat. Tangannya telah mencabut pedang dan menebas leher Cio San. Tentu saja Cio San sudah tidak berada di tempatnya.

“Katakan sebenarnya siapa kau? Mengapa kau menyamar menyusup kemari?”
Cio San tak dapat bicara. Di dalam hati, ia cukup kagum juga nona ini dapat membongkar penyemarannya. Si nona kemudian meniup sejenis sempritan. Dalam hitungan detik, ada beratus prajurit yang telah memenuhi halaman belakang benteng dan mengurung Cio San.

“Kau diutus suku Miao? Ku dengar memang mereka adalah suku yang paling pandai masak, dan memiliki ksatria-ksatria berilmu tinggi.”

Keramaian itu tentu saja telah membuat semua orang terbangun. Kini laksamana Bu bahkan sudah hadir. “Ada apa Lian-ji (anak Lian)?”

“Aku menangkap penyusup, ayah,” kata Bu Cin Lian. Pedangnya masih terangkat ke depan. Tubuhnya tak bergerak sama sekali. Ia tampak sangat gagah saat berdiri seperti itu.

“Juru masak ini? Hmmmm.....” Laksamana Bu hanya menggumam.

“Maafkan keramaian ini, nama cayhe adalah.....” Cio San belum sempat menyebut namanya ketika terdengar sebuah suara berat yang sangat berwibawa.

“Cio-hongswee”

Semua orang menoleh dan tampaklah pangeran Cu yang masih menggunakan pakaian tidurnya yang mewah. Cio San menjura lalu berkata, “Salam hormat, pangeran yang mulia.”

“Kau...,” Bu Cin Lian tidak bisa berkata-kata.

“Orang yang memiliki mata mencorong tajam seperti anda, yang tenang, yang memiliki ilmu silat setinggi ini, paling paling cuma ada 4 atau 5 orang saja di muka bumi ini. Dan yang berasal dari angkatan muda mungkin hanya anda seorang. Jika cayhe memang tidak salah menebak, tuan adalah Cio-hongswee, sang jenderal phoenix?”

“Benar sekali, yang mulia,” sekali Cio San menunduk memberi hormat. Di luaran ia tampak tenang sekali. Tetapi jantungnya berdebar kencang. Orang yang sekali pandang langsung bisa mengenal orang lain, padahal sebelumnya belum pernah berjumpa, memang ‘menakutkan’. Apalagi saat ini Cio San sedang menyamar. Kemampuan pangeran ini memang benar-benar tak dapat diremehkan sedikit pun.

“Mari silahkan masuk,” katanya sopan kepada Cio San.”Bu Sien, bubarkan pasukanmu,” perintah sang pangeran kepada laksamana Bu. Melihat sikap sang pangeran yang sangat hormat kepada Cio San ini, Bu Cin Lian menjadi serba salah. Akhirnya ia menyarungkan pedang dan membubarkan pasukannya.

Cio San berjalan dengan ringan dan santai. Ia menoleh kepada nona itu dan tersenyum lalu berkata, “Nona sungguh hebat bisa membongkar penyamaran cayhe,” Ia lalu menarik topeng tipis yang digunakannya untuk menyamar. Wajahnya yang lumayan tampan kini terlihat dengan jelas.

Nona itu hanya melengos dan pergi dari situ.

Kini Cio San sudah duduk berhadap-hadapan dengan pangeran di sebuah meja yang cukup besar. Arak pun sudah disajikan. Sang pangeran menatap Cio San dengan penuh kekaguman, lalu katanya “Jika cayhe (saya) memiliki beberapa orang seperti hongswee, tentu permasalahan yang negara kita hadapi dapat diselesaikan dengan cepat.”

“Tidak berani, pangeran. Cayhe cuma seorang rudin (pengelana) bagaimana mungkin menyelesaikan permasalahan-permasalahan besar,” jawab Cio San.

“Hahaha. Masih muda dan gagah, namun rendah hati. Aku suka,” tawanya sederhana saja. Ia melanjutkan, “Ada keperluan apa hongswee bisa kemari? Mengapa tidak datang secara terang-terangan?”

“Pertama-tama, hamba meminta maaf jika hal ini kurang pantas. Hamba tidak bermaksud apa-apa selain hanya ingin membantu negara di dalam peperangan. Tetapi dengan posisi hamba ini, pergerakan hamba menjadi sedikit kurang bebas. Mungkin dengan cara menyamar, hamba bisa lebih bebas menentukan langkah,” jelas Cio San.

Sang pangeran mengangguk dan merasa cukup puas dengan jawaban itu. Saat ia melihat Bu Cin Lian di ruangan sebelah, pangeran itu lalu memanggilnya.
“Bu-ciangkun (perwira Bu), bagaimana cara kau membongkar penyamaran Cio-hongswee?” tanyanya.

“Awal mulanya hamba hanya curiga, masakan orang ini sangat nikmat. Hamba lalu mencari tahu asal-usulnya dari catatan pendaftaran prajurit. Dari nama desanya, hamba lalu mengirim orang untuk mencari tahu kebenarannya. Ternyata orang di desa itu tidak ada yang mengenalnya. Bahkan nama orang tuanya pun tidak ada yang mengenal. Setelah itu hamba tetap mengajaknya bergabung dengan pasukan hamba agar hamba dapat memberi pengawasan yang lebih ketat terhadapnya. Tetapi petugas yang hamba utus untuk mengawasinya tidak menemukan apa-apa yang mencurigakan. Kemudian hamba memutuskan untuk membongkar saja penyamarannya sebelum ia melakukan apa-apa yang dapat merugikan pihak kita,” kata Bu Cin Lian memberikan penjelasan.

“Bagus. Kerja yang bagus. Aku sebenarnya ingin memberikanmu hadiah. Tetapi kau gagal mengenal Cio-hongswee, sehingga hadiah ini aku tangguhkan sementara,” kata sang pangeran.

“Hamba sangat berterima kasih atas kemurahan hati pangeran yang mulia,” kata Bu Cin Lian sambil menjura. Ayahnya pun sudah datang, dan telah diberi ijin sang pangeran untuk bergabung di meja itu.

“Karena hongswee sudah merepotkan diri untuk bergabung dengan pasukan kami, aku sunggu berterima kasih. Tetapi malam sudah sangat larut dan sebaiknya kita beristirahat. Besok pagi-pagi sekali aku mengundang hongswee untuk mengikuti pertemuan yang membahas langkah-langkah pasukan yang berikutnya. Mari silahkan,” ia berdiri dan mempersilahkan Cio San untuk pergi. Cio San menjura dan mengucapkan terima kasih.

Malam semakin larut dan Cio San ingin memasuki kamarnya. Tidak tahunya ada seorang penjaga yang menunggu di depan. Katanya, “Pangeran telah memerintahkan agar hongswee mendapatkan kamar yang pantas. Mari saya antarkan.”

Cio San menurut saja. Kini ia sudah berbaring di sebuah kamar yang indah dan wangi. Bulan bersinar terang di musim ini. Meskipun awan meliputi angkasa, sinar rembulan tetap bersinar dengan indahnya.

Ia tertidur sebentar.

Sebuah suara kecil membuatnya terbangun. Sebuah sosok membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Sebuah sosok perempuan!

Pakaiannya ringkas. Menempel ketat di tubuhnya sehingga membuat lekuk-lekuk yang indah terlihat dengan jelas. Meskipun malam pekat dan cahaya lilin di kamar itu sudah Cio San matikan, sosok itu masih bisa terlihat dengan jelas.

Lalu sosok perempuan itu membuka pakaiannya. Ternyata tidak ada sehelai benang pun dibalik pakaian hitam ringkas yang dipakainya. Tubuh yang indah dan mulus itu seolah-olah bersinar dengan terang benderang di dalam kamar yang gelap gulita.

Tanpa malu-malu, tubuh yang pedat berisi sudah menyelusup masuk ke balik selimut tipis yang digunakan Cio San.

“Kau nakal.....” bisik perempuan itu.

Suara milik Bu Cin Lian.

Cio San tertawa kecil, lalu berkata, “Kau sendiri yang malam malam masuk ke dalam kamar seorang lelaki. Membuka baju dan naik ke atas tempat tidur lelaki itu. Masa kau malah menuduh lelaki itu nakal?”

“Ya, lelaki itu nakal sekali. Kenapa selama ini tidak memberitahukan jati dirinya? Jika tahu, aku kan dapat memperlakukannya dengan berbeda....” suaranya halus dan sedikit serak mendesah.

Cio San tak dapat berkata apa-apa. Bu Cin Lian sudah membuka baju Cio San itu dengan bibirnya.

“Kenapa kau diam saja?” tanya si nona penasaran.

“Ada seorang bidadari cantik yang tak berpakaian, lalu naik ke atas ranjang seorang laki-laki, apa pula hal yang pantas diucapkan lelaki itu?” katanya sambil tersenyum. Bibirnya kini sudah tak mampu bicara lagi karena bibir si nona sudah memenuhi bibirnya.

Bibir yang tipis, indah, merekah, dan harum.

Karena walaupun Cio San bukanlah iblis yang bejat, ia pun bukan seorang malaikat yang suci.

Malam ini sungguh panjang.

Malam yang indah dan penuh kenikmatan.

***

Pagi-pagi sekali Cio San sudah bangun. Ia masih sempat menyiapkan masakan untuk hari itu. Si juru masak yang membantunya rupanya tidak mengetahui keributan semalam. Karena itu sikapnya kepada Cio San biasa-biasa saja. Cio San lalu bertanya kepadanya, “Eh menurutmu, bagaimana nona kita?”

“’Bagaimana’ bagaimana maksudmu?”

“Aku dengar ia seorang perempuan yang suka.....”

“Oh itu, hahahahah,” tawanya. “Semua orang sudah tahu hal itu. Nona kita yang cantik itu memang kesepian. Karena itu ia sering mampir ke kamar para perwira” bisiknya sambil tersenyum nakal.

“Oh?” sedikit banyak Cio San kaget juga mendengar kata-kata si juru masak benteng ini yang ‘kasar’ dan tak tahu aturan ini. Tapi Cio San maklum, orang desa memang jika bicara jauh lebih terus terang.

“Masa kau tidak tahu? Itu sudah menjadi rahasia umum. Nona kita memang amat suka dengan perwira-perwira gagah yang muda dan tampan.”

Sebenarnya Cio San sudah memahami hal ini. Sudah beberapa kali ia memergoki si nona keluar dari beberapa bilik perwira atau sebaliknya, perwira-perwira itu yang keluar dari bilik si nona.

"Sejak dulu, katanya sudah banyak lelaki yang kehilangan keperjakaannya karena wanita ini" kata si juru masak benteng.

Cio San hanya melongo heran. Di sepanjang hayatnya, baru pertama kali ini mendengar cerita seperti ini.

“Jangan takut, ia tak akan mengganggumu. Eh, rasanya kok ada yang berbeda dengan tampangmu. Jauh lebih bersih dan lebih segar. Kerutan-kerutan di wajahmu menghilang. Apakah kau baru habis minum pil dewa?”

“Aku baru minum pil dewi,” kata Cio San sambil tertawa dan pergi dari situ.
Saat ia kembali ke kamar, ia membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman untuk sang ‘dewi’. Nona itu ternyata sudah berpakaian, tetapi masih duduk di pinggiran tempat tidur.

“Kau dari mana saja? Apa tidak tahu kalau aku kangen?” katanya tersenyum manis.

“Aku menyiapkan sarapan untuk nona. Ini, makanlah dulu. Biar hari ini bisa dilalui dengan segar dan bersemangat.”

Raut wajah nona cantik ini terlihat berseri-seri,tetapi ia memonyongkan bibirnya dan berkata, “Masih berani panggil aku ‘nona’?’

“Eh, memangnya nona cantik ini ingin dipanggil apa?” mulut Cio San berbicara tetapi tangannya sudah menyuapkan sesendok roti berkuah daging yang gurih.
“Jika sedang berduaan seperti ini, kau harus memanggil ‘sayang’ kepadaku,” katanya manja sambil mengunyah roti yang disuapkan Cio San.

“Baiklah, sayang,” kata Cio San sambil tersenyum.

Nona itu mengunyah sambil menatap Cio San dalam-dalam. “Kau hebat,” katanya.

“Aku tahu” kata Cio San sambil tersenyum.

“Ish!” kata nona itu sambil memukul lengan Cio San dengan manja. Mereka tertawa dengan riangnya. Setelah seluruh makanan dihabiskan, si nona lalu berkata, “Aku mandi dulu. Sebentar lagi ada pertemuan dengan pangeran. Kau jangan sampai terlambat ya?”

Ia berdiri dan merapikan pakaiannya. Cio San membantunya merapikan pakaian itu, juga membantunya merapikan rambut. Si nona kembali menatapnya dalam-dalam saat Cio San sedang merapikan rambutnya. Lalu katanya dengan lirih dan penuh perasaan, “Aku sayang padamu....”

Sebenarnya Cio San ingin berkata, “Bukan cuma kau seorang yang pernah mengatakan ini kepadaku,” tetapi ia tertawa di dalam hati. Sudah terlalu lama dan terlalu sering ia mengucapkan kalimat itu di dalam hatinya sendiri. Ia telah memutuskan untuk menatap dunia dengan penuh pengharapan.

Ia tersenyum.

“Kau...., tidak sayang kepadaku?”

“Sudah sejak lama aku kehilangan kepercayaan kepada perempuan...” kata Cio San, si nona seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi Cio San sudah melanjutkan kalimatnya, “tetapi kali ini aku memiliki pengharapan.”

Cahaya yang hampir meredup di mata si nona kini bersinar lebih terang. Ia hanya terdiam sesaat, dan kemudian berkata, “Aku akan mmbuktikan bahwa pandanganmu kepada seluruh wanita di dunia ini tidaklah benar. Jika ada wanita yang melukaimu dan mengkhianatimu, mereka sendiri lah yang rugi dan menyesal. Lelaki seperti kau, amat sangat sayang jika ditinggalkan.”

“Kau miskin dan rudin sekarang. Tetapi dengan kegagahanmu, dengan kemampuanmu, kau akan mampu menaklukkan apa saja, siapa saja. Kau hanya butuh waktu untuk membuktikannya kepada dunia. Dan aku percaya bahwa kau bisa.”

Kata-kata dalam dan sederhana. Tetapi jika seorang perempuan mengucapkan hal ini kepada seorang laki-laki, perempuan itu akan menumbuhkan semangat hidup yang gempita di dalam jiwa dan raga lelaki itu. Jika seorang perempuan mengucapkan kalimat ini dengan sungguh-sungguh, ia sebenarnya telah memberi sebuah sinar yang terang di dalam jiwa seorang laki-laki.

Perempuan yang mengatakan hal seperti ini memang banyak. Tetapi yang mampu bertahan untuk hidup di dalam kata-katanya sendiri justru tidak banyak. Malahan teramat sedikit.

Apakah si nona ini termasuk yang banyak atau yang sedikit, Cio San tak dapat menebak atau menjawabnya. Tak ada seorang pun yang mampu menebak atau menjawabnya. Hanya waktu dan takdir yang mampu menjawabnya.

Kini gantian ia yang menatap nona itu dalam-dalam dan berkata, “Terima kasih.”

Kata terbaik dan tertulus yang bisa ia ucapkan di saat-saat seperti ini.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” kata si nona.

“Bukankah aku tidak perlu lagi menjawab pertanyaanmu?”

“Seorang wanita membutuhkan kepastian. Ia pun akan senang jika kalimat itu diucapkan sendiri oleh bibir orang yang disayanginya. Sekarang jawab, apakah kau sayang padaku pula?”

Jika ada seorang bidadari maha cantik, yang tela menyerahkan segalanya kepadamu, menanyakan hal ini kepadamu, masakah kau akan menjawab hal yang tidak ingin didengarkannya?

“Tidak,”

Seketika wajah si nona berubah. Malu, marah, penasaran, segala macam perasaan yang bercampur aduk di hatinya. Bahkan air mata pun sudah menggenang di pelupuk matanya yang indah.

“Mengapa?”

Cio San tidak menjawabnya.

“Kau pasti telah memiliki kekasih......”

“Pernah.”

“Apakah aku kalah cantik dari perempuan itu?”

“Tidak, kau justru seribu kali lebih cantik dari dirinya,” jawab Cio San.
“Lalu kenapa kau tidak menyayangiku?”

“Karena jika aku ingin menyayangi seorang perempuan, aku akan melakukannya bukan karena ingin membalas perkataan ‘sayang’ yang diucapkan oleh perempuan itu kepadaku. Aku ingin melakukannya karena aku sayang kepadanya.”

Lama perempuan itu terdiam. Air matanya meleleh, ia berkata, “Aku akan membuktikan cintaku kepadamu. Suatu saat kau akan mengatakan ‘sayang’ kepadaku bukan karena aku bertanya. Melainkan karena kau ingin melakukannya,”

“Bagus.”

Si nona itu keluar dari kamar Cio San.

Seandainya nona itu tahu betapa bibir Cio San itu ingin mengatakan ‘sayang’ kepadanya, seandainya nona itu paham betapa seorang lelaki membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan luka hati dan batinnya, seandainya nona itu mengerti bahwa cinta membutuhkan waktu untuk tumbuh dan berkembang, tentulah nona itu tak akan pergi dengan sesedih ini.
Lelaki berbeda dengan wanita.

Cinta dapat tumbuh di hati perempuan dengan sangat mudah. Kekaguman mereka terhadap kelebihan-kelebihan seorang lelaki, akan menyemai benih-benih perasaan dengan sangat cepat. Oleh karena itulah perempuan mudah jatuh. Jatuh ke dalam rayuan dan tipu daya. Karena perasaan adalah titik kelemahan mereka yang paling rentan. Apabila seorang laki-laki tahu memanfaatkan hal ini, ia akan dengan memudah memikat seorang perempuan. Jika ia mengerti cara berbicara, cara bersikap, cara menciptakan citra seperti yang diinginkan seorang perempuan, maka ia akan menjadi lelaki yang bergelimang perempuan. Hanya sedikit lelaki yang terlahir dengan kemampuan seperti ini, namun banyak pula yang kemudian belajar dan menguasai kemampuan ini.

Karena pada dasarnya, keinginan wanita itu sama saja. Mereka membutuhkan lelaki yang gagah dan mampu melindungi mereka. Yang mampu menghidupi mereka. Menyediakan tempat berteduh dari alam dan permasalahan antar manusia. Yang mampu menjadi tempat perempuan untuk bermanja, menumpahkan perasaan. Yang mampu memberikan rasa selalu diinginkan, karena perempuan butuh agar ‘diinginkan’, ia butuh ‘dicari’ dan ‘dirindukan’. Ia butuh merasa berharga. Ia pun membutuhkan kejadian-kejadian seru yang menggugahnya dari rasa bosan, ia membutuhkan lelaki yang dingin, namun hangat dan penuh perhatian.

Ia membutuhkan segalanya dari laki-laki.

Tapi di pihak lain, ia pun ingin agar laki-laki tidak terlalu mengobralnya dengan gampang. Justru lelaki yang sukar digapai adalah lelaki yang menarik dan mengobarkan perasaan mereka. Menjadi lelaki memang amat sangat sukar, tetapi menjadi wanita justru lebih sulit lagi.

Cio San menatap punggung wanitu itu. Tetapi jika dulu ia menatap punggung wanita sambil menangis, kini justru wanitanya lah yang menangis. Ternyata meninggalkan dan ditinggalkan itu rasanya sama saja. Sama-sama menyakitkan. Tetapi ia telah menguatkan hatinya, jika ternyata nona ini adalah jodohnya, ia akan berusaha melakukan yang terbaik. Jika bukan, toh ia telah melakukan yang terbaik.

Pagi telah menjelang. Bumi disinari cahaya matahari yang hangat dan terang.
Ia melangkahkan kaki keluar dari kamarnya. Kini ia telah memakai sebuah baju gagah yang sebelumnya dibawa oleh seorang prajurit ke kamarnya. Betapa tampan dirinya kini. Rambutnya tersanggul rapi. Wajahnya telah bersih dan bersinar cerah. Pandangan matanya mencorong dan langkahnya kini tegap. Bajunya berwarna kuning keemasan dengan rajutan seekor macan. Rajutan ini sangat halus dan terbuat dari benang emas. Sepanjang hidupnya baru kali ini ia memakai baju semewah ini. Sebenarnya ia sungguh rikuh memakai baju seperti ini, tetapi untuk menghargai pemberian orang, ia memakainya saja walau dengan sedikit gamang.

Sesampainya di ruang pertemuan, ternyata pangeran belum datang. Cio San memang sengaja datang lebih awal. Tetapi ternyata laksamana Bu Sien dan beberapa orang perwira tinggi sudah berada. Nona Bu pun sudah berada di sana.

“Ah, selamat datang hongswee. Mari silahkan duduk,” kata laksamana Bu.

Cio San menjura dan mengambil tempat duduk yang sudah disediakan laksamana itu. “Silahkan sarapan dulu, hongswee,” kata seorang jenderal yang dikenal Cio San yang bernama Cong Lui Ban.

“Terima kasih, Cong-ciangkun (jenderal Cong),”

Tampang seluruh orang yang berada di sini menampakkan rasa khawatir yang cukup dalam. Mungkin ada sebuah berita yang kurang mengenakkan. Dalam hati Cio San menduga-duga apa yang telah terjadi. Tetapi ia cukup tahu diri untuk tidak bertanya. Sebenarnya ia memang selalu merasa diri tidak penting. Di dalam hatinya ia selalu merasa rendah diri. Mungkin karena sejak lahir ia mengalami sakit berkepanjangan, hal ini berbekas di dalam kepribadiannya. Ditambah lagi orang tuanya mengajarkannya dengan ujaran-ujaran kuno tentang kerendahan hati. Oleh sebab itu meskipun posisinya sangat dihargai dan dihormati di dalam dunia persilatan, sikap Cio San memang selalu biasa-biasa saja, bahkan cenderung pemalu jika berhadapan dengan orang lain. Bahkan saat ia memegang lencana naga pemberian kaisar pun, sikapnya masih seperti ini. Padahal dengan menunjukkan lencana naga, ia bahkan bisa memerintah pangeran Cu sekalipun!

Tak berapa lama pangeran Cu pun tiba. Semua orang berdiri dan memberi hormat, padahal ia bukan pemimpin resmi tentara kerajaan. Tetapi seluruh perwira yang ada disini menghormatinya dan menganggapnya sebagai jenderal tertinggi.

“Ada laporan apa pagi ini?” tanyanya kepada jenderal Cong sebagai perwira tinggi yang diberi tugas di benteng itu.

“Sebuah laporan yang cukup buruk, pangeran,” kata Cong-ciangkun. “Pasukan kita belum mengirim kabar hingga pagi ini. Padahal menurut yang diperintahkan, ia harus sudah mengirim kabar melalui  merpati pos sebelum tengah malam.”

“Kau sudah mengirim orang untuk menyelidiki?” tanya sang pangeran.

“Sudah pangeran. Mungkin dalam waktu yang tidak lama lagi, kita akan menerima kabar darinya.”

Sang pangeran merenung sebentar. Tak ada seorang pun yang berani bersuara saat ini. Cio San pun berpikir dan membuat kemungkinan-kemungkinan tentang apa yang terjadi pasukan ini. Pasukan ini merupakan pasukan gabungan dari batalyon resmi kekaisaran, serta pasukan tambahan bentukan pangeran Cu.

“Untuk sementara kita tidak dapat melakukan apa-apa. Membuat kemungkinan-kemungkinan pun hanya akan membuat cemas. Yang bisa kita lakukan adalah menyiapkan pasukan yang tersisa terhadap segala perubahan yang ada,” kata pangeran Cu.

“Seluruh pasukan yang ada sedang menikmati makan pagi. Saya memberi sedikit kelonggaran agar mereka dapat mengisi tenaga dengan sempurna. Persenjataan sudah disiapkan seluruhnya di gudang persenjataan. Begitu pangeran mengeluarkan perintah, pasukan langsung siap bergerak,” kata Cong-ciangkun.

Pangeran Cu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah.Semua yang ada di sini kecuali Cio-hongswee harap kembali ke posisi masing-masing untuk menunggu perintah. Begitu kabar dari utusan yang kau kirim sudah datang, harap segera memberitahukannya kepadaku.”

“Siap!” seluruh perwira tinggi yang berada di sana lalu bergegas pergi. Dengan sendirinya hanya Cio San dan pangeran Cu yang berada di ruangan itu.

“Aku mempunyai firasat buruk. Seorang panglima yang baik tentunya harus mempercayai juga firasat dan perasaannya. Untuk hal ini, aku harus mengesampingkan rasa sungkan dan malu, untuk meminta Cio-hongswee melakukan sesuatu bagi pasukan kita,” kata pangeran Cu.

“Tentu saja, apapun perintah pangeran yang mulia, akan hamba laksanakan,” jawab Cio San.

“Kita harus bergerak lebih cepat. Aku curiga tentara kita telah mengalami musibah di tengah jalan. Untuk kali ini aku meminta Cio-hngswee untuk maju duluan ke garis depan peperangan dan menyelidiki keadaan sebelum kita melakukan pergerakan. Memang Cong-ciangkun sudah mengirimkan utusannya kesana, tetapi aku takut pula ia mengalami sesuatu di jalan. Jadi daripada menunggu dan kalah langkah, aku berharap hongswe mau sedikit turun tangan untuk masalah ini. Dan aku yakin, hanyalah hongswee yang sanggup melakukannya.”

“Siap,” kata Cio San sambil mengangguk.

“Tetapi aku berharap Cio-hongswee dapat bergerak secara diam-diam. Jangan sampai seorang pun di benteng ini yang tahu tentang kepergian hongswee. Aku curiga mungkin ada pengkhianat yang berada di benteng ini. Satu-satunya orang yang aku percayai hanya hongswee seorang.”

“Baik. Terima kasih atas kepercayaan yang mulia. Jika sudah sampai di sana, apa saja hal yang harus hamba lakukan?”

“Cukup memperhatikan saja keadaan di sana. Jika hongswee bisa menyusup sampai ke dalam pertahanan musuh akan lebih baik lagi. Aku akan menyediakan sebuah merpati pos milikku sendiri yang dapat hongswee gunakan untuk mengirimkan pesan. Pesan ini akan langsung kuterima sendiri. Apabila telah sampai di sana, aku yakin hongswee dapat bersikap sesuai keadaan dan perubahan. Ini kubekali peta untuk menunjukkan posisi pasukan dan medan pertempuran.”

Cio San mengangguk mengerti, “Baik yang mulia."

Sang pangeran keluar sebentar. Saat masuk kembali ia telah membawa peta dan seekor burung merpati, lalu diserahkannya kepada Cio San. “Nah berangkatlah hongswee, semoga langit melindungimu!” kata sang pangeran.

Cio San menjura dan berkata “Terima kasih.”

Kata-katanya masih terdengar, tetapi orangnya sendiri telah menghilang dari situ. Amat sangat cepat sehingga sang pangeran sendiri tidak tahu lagi lewat mana Cio San keluar. Entah lewat pintu samping, pintu depan, jendela, bahkan entah lewat atap.

Susah juga baginya untuk bisa keluar tanpa ketahuan dari benteng ini. Dengan penjagaan yang amat sangat ketat seperti ini, untuk keluar saja sudah hampir tidak mungkin, apalagi untuk memasukinya. Dengan mengandalkan kecerdasan dan kecepatannya baru lah Cio San dapat keluar dengan diam-diam dari benteng itu. Ia sebelumnya telah mengganti pakaiannya dengan sebuah pakaian berwarna gelap yang ringkas.

Setelah membaca peta sebentar, tahulah ia akan arah yang harus ditujunya. Ia melakukan perjalanan ini dengan sangat hati-hati sehingga ia tidak berani mengambil jalan utama. Ia menembus hutan yang sangat lebat sambil memperhatikan jejak-jejak yang sebelumnya ditinggalkan pasukan. Ia pun harus berhati-hati agar tidak sampai ketahuan orang lain, baik kawan maupun lawan.

Dibutuhkan waktu hampir satu hari untuk sampai ke tempat yang dituju. Bekas-bekas pertempuran telah tercium dari jarak yang cukup jauh. Bau darah, isi perut manusia, serta bau daging hangus yang sangat menusuk hidung. Dengan sendirinya langkah Cio San semakin berhati-hati. Ia kini memasuki daerah asing yang mungkin saja dipenuhi oleh pasu kan lawan. Hari telah menjelang gelap. Hal ini membantu Cio San agar dapat menyusup lebih gampang.

Ia terlebih dahulu memeriksa daerah di mana beberapa pasukan ini ditempatkan. Cio San memperhatikan keadaan dengan seksama sehingga ia yakin betul tak ada orang lain yang berada di tempat-tempat itu. Ada bekas-bekas perkemahan serta api unggun di setiap tempat yang ia singgahi. Tak ada seorang pun di sana.

Ia pun baru mulai masuk semakin dalam ke daerah peperangan saat malam sudah benar-benar gelap. Daerah pertempuran itu adalah sebuah bukit dengan padang rumput yang luas. Bau menyengat semakin menyengat, bahkan Cio San merasa perlu untuk menutup jalan penciumannya. Ia telah bertempur sebelumnya, dan telah melihat korban yang sangat banyak, tetapi bau busuk yang ia hadapi kali ini, jauh lebih busuk ketimbang hal busuk apapun yang pernah dialaminya.

Ia menyusup perlahan-lahan, dan tampaklah sebuah timbunan yang amat sangat tinggi. Tetapi timbunan ini bukan sebuah batu, atau timbunan tanah. Timbunan ini adalah timbunan tubuh manusia yang sudah gosong dibakar! Terasa hatinya mencelos melihat tumpukan mayat setinggi itu. Ada ribuan bangkai gosong yang berada di tumpukan itu.

Manusia mana yang membunuh orang sebanyak ini?

Berderai air matanya menetes, tetapi ia menguatkan hatinya untuk menyelidiki apa yang telah terjadi. Ia telah benar-benar memastikan bahwa tak ada orang yang masih hidup yang berada di sana. Di dalam suasana segelap itu, matanya malahan menjadi lebih tajam. Ia telah terlatih untuk hidup di dalam kegelapan saat ia masih remaja dahulu. Kini pun ia telah mematikan indera penciumannya. Jika sebuah indera tidak berfungsi, maka indera lainnya akan berubah menjadi tajam. Rupanya ini sudah menjadi hukum alam yang sudah dipahaminya dengan benar.

Ia memeriksa mayat yang gosong itu. Ia tidak dapat lagi membedakan mana mayat kawan dan mayat lawan. Jika manusia telah mati, hilang sudah gelar kebangsawanannya, warna kulitnya, latar belakang keluarganya, segala kebanggannya. Mereka menjadi bangkai yang bau dan hina. Lalu apa yang manusia cari di dalam kehidupan ini jika saat mati, mereka tak lebih dari seonggok daging busuk yang nantinya berubah menjadi tanah?

Cio San memandang pemandangan ini dengan berjuta-juta perasaan yang bercampur aduk. Peperangan selalu menghasilkan kematian. Perseteruan selalu membawa maut. Ini adalah kenyataan. Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk berperang dan menumpahkan darah.

Segala perasaan campur aduk ini kemudian menjadi amarah yang meluap-luap. Ia akan menemukan pelakunya. Dan ia akan menghukumnya seberat-beratnya. Jika perlu dengan tangannya sendiri.

Jika sang jenderal phoenix telah menetapkan sebuah keputusan, mungkin hanya langit yang dapat merubahnya. Karena tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang sanggup mengahalanginya, atau lari dari penghukumannya.


Karena ia adalah Cio San! 


2 comments: