Sunday, September 21, 2014

EPISODE 2 BAB 32 ISTANA BUNGA LANGIT


Cio San melangkah pergi. Ia begitu sering melangkah pergi. Tetapi kali ini perginya tidak seperti dulu yang penuh kesedihan. Kali ini perginya penuh harapan dan kebahagiaan. Ia menoleh ke belakang, Mey Lan masih menatapnya pergi.

Pergi seolah-olah tidak pernah datang. Datang seolah-olah tidak pernah pergi.

Kali ini tatapan Mey Lan pun mengandung banyak hal. Seorang laki-laki tak akan pernah mengerti arti tatapan mata perempuan. Walaupun seorang laki-laki itu bernama Cio San. Mey Lan masih tetap di sana, tersenyum padanya. Mengiringi langkahnya pergi. Alangkah bedanya saat dulu ia pergi meninggalkan Mey Lan, di atas sebuah jembatan merah di tengah hujan yang mulai menderas. Kini ia berangkat dengan ringan, cuaca cerah, rembulan bersinar dengan teduhnya. Perempuan yang ditingalkannya pun tidak menetaskan air mata, malahan kini tersenyum indah.

Bukankah kepedihan sebesar langit dan bumi dapat terhapus dengan sebuah senyum? Sebaliknya kebahagiaan sebesar langit dan bumi pun dapat terhapus oleh sebuah tangis. Luka sedalam samudera yang paling dalam pun akan hilang terhapus oleh waktu.

Waktu memang selalu menjadi obat penyembuh yang paling baik.

Cio San terus melangkah pergi. Hatinya dipenuhi kebahagiaan. Ia telah bertemu Mey Lan. Tak lama lagi ia akan bertemu sahabat-sahabat terdekatnya. Meskipun apapun yang akan terjadi di masa depan, saat ini tak ada satu pun hal yang menghalaunya bertemu sahabat-sahabatnya.

Tukang perahu sudah mulai bekerja di malam buta seperti itu. Memang angin yang membantu gerakan perahu mereka seringnya bertiup di jam-jam seperti ini. Karena itulah Cio San memang menunggu hingga saat ini agar perjalannnya jauh lebih cepat. Apalagi malam hari lalu lintas perairan tidak seramai siang hari.

Ia memilih perahu yang paling bobrok dengan tukang perahu yang paling tua. Ia tahu jenis seperti ini yang paling jarang dipakai orang. Tetapi justru perahu bobrok dan tukang perahu tua lah, yang biasanya berarti si tukang perahu amat berpengalaman, dan perahu itu telah teruji menghadapi gelombang dan angin yang kencang.

Harga telah disepakati, tujuan telah ditentukan. Cio San menaiki perahu, dan perjalanan di mulai!

Angin dingin di malam hari terasa sejuk menyegarkan. Suara derai arus sungai serta cahaya lampu-lampu di tengah sungai yang luas ini. Cio San tersenyum menikmati keindahan di dalam kesunyian ini. Ia lalu memilih untuk tidur.

Di tengah bahaya yang selalu mengancamnya karena ia membawa sebuah kitab pusaka, ia malah memilih tidur dengan pulas. Ini karena ia memang membutuhkan hal itu untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya. Jika orang lain tidak dapat tidur dengan tenang di dalam gemuruh permasalahan hidup yang mereka hadapi. Cio San justru selalu memilih untuk tidur. Karena saat tidur, tubuh manusia memperbaiki dan mengobati dirinya sendiri. Di saat tidur, pikiran manusia ‘didinginkan’ sehingga ketika bangun, ia dapat berpikir lebih jernih dan lebih tajam.

Lalu bagaimana dengan bahaya yang terus mengintainya setiap saat?

Cio San tahu tiada seorang pun yang begitu bodoh untuk menyerangnya di dalam tidur. Karena penyerangnya ini tentu berpikir bahwa Cio San sengaja tertidur pulas untuk memancing mereka muncul dan bergerak. Justru jika Cio San tidur dan berleha-leha seperti ini, ia mungkin sedang menyimpan siasat dan tipu daya tak terduga!

Tapi Cio San tidak menyimpan siasat apa-apa. Ia justru tidur dengan pulas. Mendengkur pula!

Tukang perahu menjalankan perahunya dengan tenang. Sungai Huang Ho yang luas ini terlihat seperti lautan samudera. Di tengah-tengah ‘samudera’ ini, apa yang terjadi, siapa yang tahu?

Perahu seperti berhenti di tengah-tengah kesunyian. Si tukang perahu yang tua menatap tubuh pemuda yang sedang tertidur di depannya itu dengan pandangan yang aneh. Pandangan seperti ingin membunuh.

Cio San membuka mata dan bertanya, “Kita sudah sampai?”

Si tukang perahu menggeleng. Melihat sinar matanya, Cio San telah mengetahui apa yang terjadi. Ia malah tersenyum dan berkata, “Orang yang menyuruhmu sungguh bukan orang sembarangan.”

Si tukang perahu mengangguk.

“Sepertinya seluruh tukang perahu yang ada di pangkalan tadi seluruhnya adalah orang suruhannya,” tukas Cio San. Lanjutnya, “Jadi siapapun tukang perahu yang kupilih, tuan mu itu pasti berhasil membunuhku.”

Si tukang perahu mengangguk lagi.

Cio San menjura dan menghormat, “Majikanmu memandang cayhe (aku) begitu tinggi, sehingga mengirim tayhiap untuk membunuhku. Untuk hal ini, pantas mendapat penghormatan.”

Kali ini si tukang perahu tidak menggeleng. Ia bertanya, “Kau tahu siapa aku?”
Cio San menggeleng.

“Kau tahu siapa majikanku?”

Cio San menggeleng pula.

“Jika kau tidak tahu, mengapa kau memberi hormat?”

“Yang aku tahu, tayhiap tidak berusaha untuk membunuhku saat aku tertidur. Dari hal ini saja, aku bisa menduga orang seperti apa tayhiap ini. Dan orang seperti tayhiap tidak akan salah memilih majikan. Tentu sang majikan ini bukan orang sembarangan pula,” jelas Cio San.

Si tukang perahu memandangnya dengan tajam. “Orang yang bisa tertidur pulas dan mendengkur di saat banyak orang yang ingin menyembelih lehernya pun bukan orang sembarangan,” katanya dingin.

Sekeliling perahu hanya air dan kegelapan.

Juga hawa kematian.

Si tukang perahu yang tua ini mengeluarkan pedang. Pedang itu tersembunyi di balik sebuah galah bambu. Pedang yang warnanya menghitam karena sudah karatan. Orang lain tentu akan malu memegang pedang seperti itu. Tapi si tukang perahu memegang pedang itu dengan bangga. Orang lain tentu akan tertawa melihat pedang itu. Tapi Cio San bukan orang lain. Ia tahu betul, tangan yang memegang pedang itu jauh lebih berbahaya daripada senjata apapun di muka bumi ini. Karena tangan itulah, orang yang memegang pedang itu amat yakin dan bangga dengan dirinya sendiri.

Jika kau memiliki tangan seperti dirinya, kau pun akan bangga memegang sebuah pisau dapur karatan.

Cio San bangkit berdiri.

Seorang pendekar pedang tua sedang mengacungkan pedang ke hadapannya. Matanya, gerak-geriknya, mengingatkannya pada Suma Sun. Tak terasa Cio San tersenyum.

Si tukang perahu keheranan, “Mengapa kau tersenyum?” Ia sepertinya amat tersinggung.

“Ah, ku mohon tayhiap jangan tersinggung. Melihat kuda-kuda tayhiap yang gagah, cayhe teringat salah seorang sahabat cayhe,” jelas Cio San.

“Siapa?”

“Suma Sun”

“Maksudmu Ang Hoat Kiam Sian (dewa pedang berambut merah)?”

“Benar”

“Kau sahabatnya?”

“Kau tidak tahu?”

“Jika aku ingin membunuh orang, aku tidak perlu mengetahui siapa sahabatnya, siapa keluarganya,” kata si tukang perahu.

Cio San tersenyum lagi. “Suma-tayhiap memang adalah sahabat dekat cayhe.”
Mata si tukang perahu bersinar terang, hawa kematian semakin menguar tajam. Katanya, “Aku justru semakin ingin membunuhmu”

Cio San mengangguk.”Tentu saja, itu satu-satunya cara agar Suma-tayhiap dapat bertempur denganmu”

“Benar. Aku telah lama mencarinya namun belum sempat bertemu.”

Kedua orang itu lalu terdiam. Kesunyian yang muncul sebelum dua orang jagoan bergerak. Kesunyian ini selalu menakutkan.

“Lihat pedang!”

Si tukang perahu menusukkan pedangnya. Gerakannya sangat cepat. Amat sangat cepat. Bahkan kecepatannya setara dengan Suma Sun!

Jurus yang ia keluarkan bernama ‘Menusuk Rembulan’. Amat sangat cocok dengan gerakannya yang sempurna. Satu tusukan yang cepat dan tepat sasaran. Tusukan itu mengarah ke ulu hati Cio San. Pendekar muda itu pun bergerak dengan amat cepat, dengan jarinya ia menyentil pedang karatan itu. Tusukan pedang itu berbelok arah, ke arah kiri Cio San. Tahu-tahu tusukan itu berubah arah menyerang lehernya.

Kekuatan sentilan jari Cio San seharusnya membuat serangan pedang itu buyar. Tetapi si jago pedang tua ini amat lihay sehingga ia tetap bisa mempertahankan serangannya dan malah membelokkan serangan itu ke arah leher lawannya.

 Amat sangat jarang orang memiliki kecepatan pedang seperti ini, di sepanjang hayatnya cuma dua orang yang pernah dilihat Cio San yang memiliki kecepatan ini. Suma Sun dan pendekar Kim Sian. Kini si tukang perahu tak bernama ini memiliki kecepatan yang hampir sama dengan mereka.

Serangan di leher itu lewat di atasnya saat Cio San memiringkan lehernya ke samping kanan. Tetapi pedang itu berhenti tepat di atas telinga Cio San lalu menghujam kebawah! Jarak pedang dan telinga Cio San cuma seujung jari! Tapi Cio San tidak panik. Dengan tangan kirinya ia menyentil lagi pedang itu. Kali ini dengan kekuatan yang lebih besar, sehingga pedang itu terdorong ke kanannya.
Anehnya, si jago tua ini selalu berhasil mengatasi kekuatan dorongan sentilan itu sehingga ia kembali menyerang dengan sabetan yang membacok kepala Cio San yang sedang miring ke kanan. Si kakek rupanya menggunakan tenaga sentilan Cio San untuk mempercepat gerakannya sendiri, sehingga serangan ini datangnya dua kali lebih cepat!

Tubuh Cio San yang sedang miring ke kanan itu sudah tidak sempat lagi menghndar. Untuk menangkis dengan menggnakan kedua tangannya pun tidak sempat, karena jarak kedua tangannya justru jauh dari pedang. Dalam sepersekian detik kepalanya pasti terbelah dua!

Dengan ketenangan yang luar biasa, Cio San menggunakan tangan kanannya yang saat itu sangat dekat dengan pinggiran perahu. Di hajarnya pinggiran perahu itu sehingga perahu menjadi olang. Saat perahu olang itu, si jago tua kehilangan kuda-kudanya dan serangan itu pun buyar seketika!

Dibutuhkan ketenangan, serta pemikiran yang amat sangat cepat untuk bisa melakukan hal yang Cio San lakukan. Dibutuhkan pula kemujuran yang amat sangat luar biasa.

Ketika kuda-kudanya buyar karena pergerakan perahu yang tiba-tiba seperti itu, si jago tua mampu mengendalikan gerakannya. Ia berjumpalitan ke udara, dan melesat melancarkan sebuah tusukan yang dahsyat!

Cio San yang saat itu juga tidak memiliki pijakan yang kuat karena gerakan perahu yang terombang-ambing, hanya dapat menjatuhkan punggungnya ke belakang. Hujaman hentakan punggungnya ini amat sangat kuat sehingga perahu melesak ke dalam air sungai!

Akibatnya, cipratan air yang muncul akibat gerakan ini pun menjadi dahsyat, menghambur ke udara menutupi serangan pedang si jago tua. Adanya cipratan air yang lumayan banyak ini sedikit memperpelan gerakan pedang si jago tua, juga sedikit mengaburkan pandangannya. Kejadian ini hanya sepersekian detik, tetapi yang sepersekian detik itu telah menolong Cio San terhindar dari tusukan pedang yang menakutkan ini.

Karena sepersekian detik itu memberi kesempatan bagi kaki Cio San untuk naik dan menendang pergelangan tangan si jago tua. Pandangan mata pendekar pedang itu tertutup cipratan air yang menghujam wajahnya sehingga ia tidak tahu betapa cepatnya kaki Cio San telah menghantam pergelangan tangannya. Pedangnya terlepas, terlempar jatuh ke dalam sungai.

Pedang itu menghilang bersama semangatnya pula.

Pendekar pedang tanpa pedang, bukanlah pendekar pedang. Ini adalah pemahaman hampir seluruh pendekar pedang di kolong langit.

Perahu kembali ke posisi semua. Air sungai membahasi mereka berdua. Seisi perahu telah berisi air sungai pula. Si jago tua berdiri membisu dan membeku. Sepanjang hidupnya, baru kali ini pedangnya terlepas dari tangannya.

Pandangan matanya kosong selama beberapa saat.

Ia lalu menjura kepada Cio San dan berkata, “Kau menang”

Cio San menggeleng. “Cayhe tidak menang, cayhe hanya tidak kalah.”

Tidak menang dan tidak kalah rupanya memiliki arti yang hampir serupa.

Si jago tua terlihat bersedih sekali.

Cio San berkata, “Dalam ilmu pedang, sesungguhnya tayhiap telah memiliki tingkatan yang tinggi sekali. Mungkin setara dengan Suma Sun atau Kim Kiam Sian. Cayhe sungguh takjub.”

“Karena kata-kata ini datang dari bibirmu, aku percaya,” ujar si jago tua. “Lalu apa kekuranganku?” tanyanya.

“Kekurangan tayhiap hanyalah bahwa tayhiap terlalu yakin dengan ilmu pedang sendiri, sehingga lupa satu hal yang teramat penting.”

“Apa itu?”

“Alam sekitar,” jawab Cio San.

Si jago tua berdiri lama dan berpikir. Lalu berkata, “Jadi kau bisa mengalahkan ilmu pedangku, bukan dengan menggunakan ilmumu sendiri, melainkan memanfaatkan alam?”

“Cayhe memanfaatkan kedua-duanya. Ilmu cayhe sendiri, dan juga alam sekitar. Saat memukul perahu, cayhe menggunakan pengerahan tenaga Thay Kek Kun agar perahu tidak pecah, dan tenaga tersalurkan sehingga gerakan perahu dapat berubah. Tanpa hal ini, perahu hanya akan pecah, dan nasib cayhe justru akan berakhir di ujung pedang tayhiap,” jelas Cio San.

Si jago tua itu mengangguk, lalu menjura. Lalu berkata, “Karena aku telah kalah, kau berhak melakukan apa yang kau inginkan kepadaku,” ia mengucapkan ini dengan suara yang gagah. Ia tahu Cio San dapat mengambil nyawanya kapan saja.

“Baiklah,” tawa Cio San. “Sejak awal kan kita sudah sepakat bahwa tayhiap akan mengantarkan cayhe sampai ke tempat tujuan.”

“Lalu?” tanya si jago tua heran.

“Seorang pendekar kan tidak akan menyalahi janji,” tukas Cio San sambil tersenyum. Lalu dengan santai ia bersandar di pinggiran perahu dan tidur!
Bahkan tak lama ia telah mendengkur pula.

Si jago tua ini tak dapat melakukan apa-apa selain menggelengkan kepala.
Perjalanan dilanjutkan, matahari pun muncul. Saat terang tanah, mereka telah sampai di kota tujuan. Si jago tua membangunkan Cio San. Ia begitu heran bagaimana Cio San dapat tidur sepulas itu. Saat terbangun Cio San menggeliat sebentar, lalu berkata, “Ah, sudah sampai.”

Si jago tua menatapnya dalam-dalam, “Kau benar-benar tidur.”

Kalimat itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. “Ya,” jawab Cio San. “Apakah suara dengkuran cayhe demikian keras? Aih, sungguh memalukan,” tukasnya tertawa.

“Kau terlalu percaya kepada orang lain,” kata si jago tua.

Pendekar muda di hadapannya mengangguk dan berkata, “Mungkin. Tetapi selama ini, cayhe tidak pernah salah mempercayai sahabat.”

“Aku bukan sahabatmu,” tukas si jago tua.

“Sekarang tayhiap adalah sahabatku. Meski tayhiap tidak mau menganggapku sahabat, tetapi cayhe menganggap tayhiap sebagai sahabat. Jika sudah begini kan, tayhiap tidak dapat melakukan apa-apa,” ia tertawa dengan ringan.

Si jago tua itu kembali menatapnya dengan dalam. Lalu katanya, “Orang yang bersahabat denganmu sungguh beruntung. Orang yang bermusuhan denganmu, sungguh sial.”

Cio San mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar perahu. Si jago tua pada awalnya tidak mau menerima. Tetapi Cio San mengingatkan bahwa mereka berdua sudah sepakat sejak awal.

Kemudian Cio San bangkit, lalu dengan sekali melompat ia keluar dari perahu. “Ikutlah, aku ingin mentraktir tayhiap minum arak,” katanya sambil tersenyum.
“Dari kabar yang ku tahu, kau datang ke kota ini untuk bertemu dengan sahabat-sahabatmu. Apakah Suma Sun salah satunya?” tanya si jago tua. Cio San mengangguk.

“Jika begitu, lebih baik jangan. Asal kau tahu saja, aku pernah bertemu dengannya saat ia masih kecil. Waktu itu ia masih belum bisa apa-apa. Sampaikan saja salamku padanya ” si kakek lalu mendayung perahunya pergi.

Cio San paham, jika dua jago pedang bertemu, tentu mereka akan bertempur. Itu sudah sifat dasar para pendekar pedang. Ia lalu berkata, “Baiklah. Jika suatu saat kita bertemu lagi, perkenankan cayhe mentraktir tayhiap, boleh tahu nama tayhiap yang terhormat?”

Si jago tua tidak menjawab, perahunya telah menjauh.

Cio San berbalik, lalu melangkah menyusuri pangkalan perahu yang sangat ramai itu. Dari kejauhan ia mengenal dua orang yang sedang berdiri di gerbang pangkalan perahu itu.

Suma Sun dan Kao Ceng Lun!

Mereka tersenyum memandangnya. Begitu hangat dan penuh persahabatan.

“Kau sudah datang,” kata Suma Sun. Meskipun ia buta, ia punya kemampuan ‘memandang’ pula. Memandangnya pun mungkin lebih tajam daripada orang yang tidak buta.

“Kenapa kalian repot-repot menjemput? Kalian kan bisa menanti di rumah Cukak Tong.”

“Kami sudah menginap di sana 2 hari. Tetapi Sun-toako (kakak Sun) sudah tidak sabar menanti, sehingga akhirnya kami menjemput San-ko (kakak San) kemari,” kata Kao Ceng Lun sambil tertawa hangat.

“Bagaimana kabarmu Lun-te (adik Lun)? Pekerjaanmu semakin merepotkan rupanya? Aku turut berduka atas kepergian ayahandamu,” kata Cio San.

Mereka lalu berpelukan dengan hangat.

“Ayo kita berangkat. Cukat Tong sudah menunggu,” kata Suma Sun.

Ada sebuah kereta mewah yang menanti mereka. Segera mereka naik kereta itu dengan penuh semangat. Di dalam kereta mereka saling bercerita membagi pengalaman. Cio San lalu bertanya kepada Suma Sun,

“Semalam aku bertempur dengan seorang jago pedang tua. Ia memakai pedang yang berkarat. Kau tahu siapa dia?”

“Setahuku, jago tua yang menggunakan pedang berkarat cuma satu orang. Namanya Hua Ko Lim. Ia adalah seorang pembunuh bayaran.”

Cio San mengangguk-angguk.

“Kau membunuhnya?” tanya Suma Sun.

“Tidak.”

“Baguslah.”

“Kenapa?” tanya Cio San.

“Aku ingin menjajal pedangnya sebelum ia atau aku mati.”

Sebenarnya Cio San ingin menceritakan jurus-jurus pedang si jago tua itu, tetapi ia tahu Suma Sun tidak akan tertarik mendengarnya. “Ia mengirimkan salam kepadamu. Katanya dulu pernah bertemu saat kau masih kecil.”

Suma Sun mencoba mengingat-ingat, tapi ia tidak berkata apa-apa.

“Jika ia pembunuh bayaran, tentu ada seseorang yang mengutusnya,” kata Kao Ceng Lun.

“Tentunya,” tukas Cio San.

“San-ko (kakak San) tahu siapa yang mengutusnya?” tanya Kao Ceng Lun.

Cio San menggeleng.

“Hmmmmm…..,” Kao Ceng Lun berpikir keras.

“Semua ini ada hubungannya dengan beberapa permasalahan yang kau tangani, ya?” tanya Cio San.

Kao Ceng Lun mengangguk, ia masih berpikir keras.

Cio San memang tadi tidak bertanya kepada si jago tua tentang siapa majikannya. Ia tahu hal itu adalah hal yang sia-sia. Si jago tua tentu tak akan membocorkannya.

 Mereka akhirnya tenggelam dalam pikiran masing-masing untuk beberapa saat. Setelah itu mereka kembali lagi saling bercerita tentang pengalaman masing-masing. Cio San sangat tertarik pada kisah Kao Ceng Lun terutama tentang urusan-urusan Kim Ie Wie (Pasukan Berbaju Sulam), pasukan khusus petugas rahasia yang amat sangat disegani. Kao Ceng Lun bahkan menjadi perwira di dalam kesatuan itu.

“Banyak hal yang terjadi sejak San-ko menghilang. Kekaisaran sekarang mendapat ancaman dari berbagai pihak. Di daerah selatan suku Miao sudah mulai berani mengacau. Di daerah barat mendekati utara, pergerakan kerajaan Mongol mulai membahayakan kota-kota kita. Saat mereka diusir dulu, bangsa Goan (Mongol) kembali ke daerahnya dan mendirikan kekaisaran yang cukup kuat. Sedangkan di dalam kekaisaran sendiri, banyak pejabat istana yang merencanakan hal-hal buruk. Kim Ie Wie yang awalnya cuma pasukan penjaga kaisar mulai dilebarkan menjadi pasukan khusus yang rahasia. Jumlah kami sudah cukup banyak. Ini memang bertujuan untuk menjaga keutuhan kekaisaran,” jelas Kao Ceng Lun.

Cio San menggut-manggut mendengar penjelasan Kao Ceng Lun. “Apakah karena ini, banyak orang mulai memperebutkan kitab Bu Bhok? Aku heran, banyak sekali ahli silat yang mencari kitab ini. Padahal orang-orang Bu Lim (dunia persilatan) jarang sekali ada yang tertarik dengan kitab siasat perang.”

“Kemungkinan besar memang demikian adanya, San-ko. Mereka mungkin saja adalah orang-orang suruhan dari bangsa Goan (Mongol). Sejak mereka terusir, mereka selalu membikin gara-gara dan berusaha menjatuhkan kekaisaran. Tapi aku masih belum berani mengambil kesimpulan. Ada kemungkinan juga mereka merupakan suruhan pejabat-pejabat istana sendiri,” kata Kao Ceng Lun.

“Kemungkinan itu justru lebih masuk akal bagiku. Karena jago-jago silat ini tidak mungkin mau diperintah oleh bangsa Goan (Mongol). Tidak mungkin juga bangsa Goan menggunakan cara yang sama seperti beberapa tahun yang lalu saat pemberontakan, ehm, Beng..,” Cio San tak sanggup meneruskan perkataanya. Ia lalu mengganti arah pembicaraan, “Aku dengar ada beberapa benda berharga yang hilang dicuri dari gudang istana?”

Kao Ceng Lun mengangguk, “Itulah yang menjadi perhatian yang sangat besar. Kejadian ini tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan orang ‘dalam’. Sampai sekarang kami masih belum menemukan petunjuk yang benar-benar pasti. Mungkin San-ko (kakak San) bisa membantu kami dalam hal ini.”

 Saat Kao Ceng Lun berkata begitu, ingin sekali Cio San bertanya mengapa mereka tidak meminta pertolongan Cukat Tong, si raja maling. Tapi Cio San menahan dirinya. Jika sahabat-sahabatnya tidak mau bercerita, ia memang tidak pernah mau bertanya.

Tak lama kemudian mereka sampai di tempat tujuan. Rumah milik Cukat Tong berada di tengah-tengah kota. Rumah itu pun tak pantas disebt rumah, lebih pantas disebut istana! Begitu megah dan mewahnya sampai-sampai Cio San mengira mereka salah alamat.

Karena ‘istana’ ini adalah sebuah tempat ‘hiburan’. Orang yang sudah berpengalaman tentu tahu arti kata ‘hiburan’ ini.

Istana ini adalah sebuah tempat judi, tempat minum arak, tempat makan, penginapan, dan rumah bordil!

Di tempat seperti ini, ramainya sungguh tak bisa digambarkan. Mereka yang datang kesini pun, paling tidak 3 hari baru pulang. Bahkan banyak pula yang menginap berminggu-minggu. Tempat ini sangat terkenal di seluruh penjuru kekaisaran. Namanya pun indah, Istana Bunga Langit.


Saat Cio San bertiga datang di pintu gerbang, mereka sudah disambut beberapa orang gadis yang amat sangat cantik. Cio San bahkan tak berani bernafas. Khawatir jika wangi tubuh gadis-gadis yang maha cantik ini akan membuatnya mabuk dan gila.

“Cio-hongswe sudah ditunggu sejak tadi. Mari masuk,” wanita yang mengatakan hal ini adalah wanita yang paling cantik diantara rombongan. Ia menggenggam tangan Cio San dengan lembut dan menariknya pergi. Gadis-gadis yang lain pun turut menggenggam tangan Suma Sun dan Kao Ceng Lun.

Mereka tidak masuk ke dalam, melainkan lewat samping dan menaiki sebuah tangga yang megah. Si nona cantik menggenggam tangan Cio San dengan lembut namun erat. Seolah-olah ia tak ingin lelaki itu pergi selangkah saja meninggalkan dirinya.

Tibalah mereka di depan sebuah pintu yang sangat megah. Si gadis cantik mengetuk pintu itu 3 kali. Terdengar suara dari dalam. “Masuk.”

Begitu pintu dibuka, tampaklah seorang laki-laki tampan yang sedang duduk di sebuah permadani indah diujung sebuah ruangan yang sangat luas. Lelaki itu tidak begitu muda, tetapi juga tidak begitu tua. Cio San hampir-hampir tidak mengenalnya, tetapi dari sinar matanya ia tahu, orang ini adalah Cukat Tong!

Cukat Tong berdiri. Perlu belasan langkah agar masing-masing bisa saling bertemu dan berpelukan hangat di tengah-tengah ruangan yang penuh perabotan mewah ini.

“Akhirnya kau datang juga,” kata Cukat Tong sambil menepuk pundak Cio San. Kebahagiaan jelas terpancar dari wajahnya. Tapi matanya meskipun memancarkan kebahagiaan pula, seperti menyembunyikan sebuah rahasia yang amat sangat dalam. Cio San tak berani menebak rahasia ini. Ia sungguh-sungguh tidak berani berpikir lebih jauh.

“Siapkan meja!” Cukat Tong memberi perintah. Salah satu pelayannya dengan sigap menjawab, “Meja telah disiapkan sejak tadi. Hidangan untuk menyambut tamu pun sudah siap, tuan.”

“Bagus!” kata Cukat Tong, ia menoleh dengan senyum lebar kepada Cio San,

 “Mari!”

Mereka berempat lalu duduk mengitari meja. Arak terbaik disuguhkan. Tawa mereka membahana. Berbagai macam cerita dikisahkan. Canda tawa, dan senyum ceria. Tetapi cahaya di mata Cukat Tong tidak berubah. Ada sesuatu di sana. Suma Sun dan Kao Ceng Lun mungkin sudah paham latar belakang cahaya mata itu, tetapi ia tidak. Ia benar-benar tidak ingin tahu. Oleh sebab itu ia menenggak arak banyak-banyak. Mencoba menggunakan arak untuk mengalihkan pikirannya.

Wajahnya memerah, tawanya membahana. Cio San masih jauh dari kata mabuk, walaupun puluhan guci arak telah ditenggaknya. Meskipun seluruh arak yang ada di dunia ini habis ditenggaknya, ia tak akan mabuk. Tetapi ia justru berpura-pura mabuk. Mungkin karena inilah alasan seseorang menghabiskan banyak arak. Agar ia dapat berpura-pura mabuk. Agar orang mengira ia telah dapat melupakan pikiran-pikiran dan permasalahannya. Agar ia dapat tertawa lepas melupakan segala hal yang meresahkan hatinya.

Melihat cahaya di mata Cukat Tong, jauh lebih pedih daripada memandang mata wanita-wanita yang telah meninggalkan dirinya. Jauh lebih menyakitkan daripada hal apapun juga. Dan ia tak berani bertanya. Sampai kapan pun ia tak akan bertanya. Cukat Tong adalah orang yang berbeda sekarang.

Wajahnya boleh bersih dan rapi. Ia sangat tampan pula. Cahaya wajahnya pun terlihat bahagia dan penuh kesenangan. Tetapi mata itu bersinar menyedihkan. Sepertinya mata itu tidak pantas diletakkan di wajah itu. Gerakan tubuhnya berbeda, tidak lagi seperti ahli silat utama yang lincah dan gagah. Gerakannya bagaikan orang berpenyakitan dan tak memiliki semangat hidup.

Sesuatu pasti telah terjadi kepada sahabat terbaiknya ini. Tetapi ia tidak mungkin bertanya. Ia tidak ingin bertanya. Jawabannya justru akan membuat hatinya lebih perih. Ia memilih tertawa dan tertawa, menikmati segala hidangan yang ada. Menikmati pelukan gadis-gadis maha cantik yang kini bergelayutan di pundaknya.

Hari hampir siang, dan pesta pun selesai.

Cukat Tong meminta diri untuk menyelesaikan urusan ‘dagang’. Tinggal ketiga sahabat ini duduk di permadani indah ditemani gadis-gadis cantik. Cio San memandang Suma Sun, lalu bertanya “apakah Bwee Hua pergi meninggalkan dirinya?”

Suma Sun menggeleng lalu tersenyum pahit, “Justru mereka berdua seperti tidak terpisahkan.”

Cio San memejamkan matanya dan menarik nafasnya. Sahabat yang berubah bukan Cukat Tong seorang. Berbagai macam sahabat di dunia ini suatu waktu mungkin akan berubah.

“Eh, kakak-kakak sekalian, maafkan aku terlambat datang,” suara ini terdengar sangat halus dan menggetarkan jantung.

Laki-laki manapun akan putus urat jantungnya jika mendengarkan suara perempuan ini dibisikkan di teliangnya dengan mesra. Pemilik suara ini pun muncul.

Langkahnya anggun, pakaian yang dipakainya sederhana tetapi sangat indah. Menonjolkan lekuk-lekuk tubuh khas perempuan.

Wajahnya.

Jika kecantikan seluruh perempuan tercantik di istana ini dikumpulkan, lalu dikalikan 1000, masih belum mencukupi separuh dari kecantikan perempuan ini. Bahkan memandangnya saja sudah merupakan sebuah dosa besar. Bahkan berada di dalam satu ruangan bersamanya saja sudah merupakan anugrah paling indah dari Yang Maha Kuasa.

Perempuan semacam ini jika mengucapkan sepatah kata saja, kau akan rela menyerahkan jiwamu, jiwa keluargamu, jiwa sahabat-sahabatmu, dan jiwa siapapun juga ke tangannya. Untunglah perempuan semacam ini hanya ada satu. Satu-satunya di atas bumi di kolong langit.

Siau Bwee Hua.

Bunga Bwee yang mungil.

Tetapi pemilik nama ini tidak mungil. Tubuhnya tinggi semampai. Di bagian tubuh yang harus langsing, ia terlihat langsing. Di bagian tubuh lain yang harus montok padat, maka montok padat pula bagian tubuh itu. Semuanya tepat, pas, dan sempurna. Siapapun yang menciptakan manusia, pasti hatinya sedang senang di kala menciptakan perempuan ini.

Cio San memberi salam kepadanya.

“Aih, San-ko mengapa begitu sungkan pakai salam-salam segala. Aku ini kan kakak iparmu,” ia lalu duduk di hadapan mereka pula. Suma Sun dan Kao Ceng Lun tersenyum memberi hormat.

“Bagaimana kabar San-ko?” pertanyaan sederhana diucapkan oleh bibir terindah di dunia, disuarakan oleh suara paling merdu dan menggairahkan sedunia.

“Baik. Bagaimana kabar Hua-cici (kakak Hua)?”

“Baik pula,” ia tersenyum sangat manis. Lalu menuangkan arak ke cawan milik Cukat Tong yang kosong sejak tadi. Begitu arak tertelan, wajahnya bersemu merah. Semakin membuat wajah sempurna itu bertambah cantik. Satu-satunya hal yang sudah sempurna, namun masih bisa disempurnakan lagi adalah wajah Bwee Hua. Entah bagaimana setiap apa yang ia lakukan membuatnya bertambah cantik. Minum arak bertambah cantik. Berkata-kata bertambah cantik. Tersenyum bertambah cantik. Bahkan jika tubuhnya dihancurkan golok lalu diberikan kepada anjing liar, ia mungkin akan tetap bertambah cantik.

Sungguh, penulis manapun yang mencoba menuliskan kecantikannya, hanyalah melakukan kesia-siaan dan menghabiskan umur.

Mereka bercakap-cakap sebentar. Tak lama kemudian seorang pelayan datang dan memberitahukan kepada Siau Bwee Hua bahwa ada sedikit urusan yang harus diselesaikannya. Ia lalu meminta diri, dan memerintahkan para pelayan untuk memenuhi segala permintaan ketiga orang tamunya.

Cio San tidak berani memandang tubuh yang berlalu pergi itu. Kao Ceng Lun pun hanya duduk terpekur memandang cawan kosong di hadapannya. Sejak tadi ia pun berpura pura sibuk dengan berguci-guci arak.

Hanya Suma Sun yang tersenyum dan berkata, “Untung saja aku ini buta.”












3 comments: