Wednesday, June 25, 2014

EPISODE 2 BAB 12 AYAH DAN ANAK


“Aih, orang-orang yang datang kebanyakan bukan orang sembarangan. Tapi aku yakin subo (guru perempuan) pasti sanggup menghadapi mereka semua” puji Sim Lan sambil menjura.

“Kau pintar menjilat, tapi aku suka padamu. Kelak, kau akan kuberikan sebuah rencana besar. Tapi untuk saat ini, kau masih perlu banyak latihan. Ilmu merayumu masih kurang sempurna. Jika kau sudah bisa memuji-mujiku tanpa aku merasa jijik, maka kau akan kunyatakan lulus” kata Bwee Hua sambil terkikik.

“Teecu (murid) memeinta ampun atas kebodohan dan kekurangan ini. Kelak tidak akan mengecewakan subo (guru perempuan)” Sim Lan berlutut dengan sungguh-sungguh.

“Pekerjaanmu kali ini sungguh bagus, karena itu kau kumaafkan. Untuk aku menugaskan kau sejak dahulu di sini. Jika tidak, kita tak akan pernah tahu bahwa bunga yang paling dicari-cari itu berada di sini. Sudahlah, ayo kita segera berangkat. Aku sudah membuat pos persembunyian tidak jauh dari sini. Tak lama lagi orang-orang akan segera datang” kata Bwee Hua.

Dengan segera mereka bergegas dari situ. Terlebih dulu mereka membunuhi semua murid yang ada di dalam kamar-kamar. Keadaan murid-murid malang yang dalam keadaan tertotok itu memang sangat menyedihkan, mati tanpa dapat berbuat apa-apa sedikit pun.

“Aku harus melukaimu. Kau akan menjadi penunjuk jalan bagi orang-orang yang datang. Katakan bahwa kalian semua telah diserang oleh Li Hiang dan kau adalah satu-satunya orang yang selamat. Katakan pula bahwa Li Hiang telah memiliki peta letak keberadaan bunga itu”

“Lalu subo sendiri bagaimana?” tanya Sim Lan.

“Tentu saja aku menghilang” kata Bwee Hua sambil tersenyum. Dari balik kantong perlengkapannya, ia mengeluarkan sepasang sepatu. Sepatu ini adalah sepatu khusus yang mampu membuat pemakainya berselancar di atas es!

Dengan sebuah gerakan yang amat cepat, ia telah menghantam dada Sim Lan. Gadis terhempas roboh ke belakang. Memuntahkan darah segar dari mulut dan hidungnya. Beberapa tulang rusuknya patah, tapi organ bagian dalamnya selamat.

“Maaf. Aku harus sungguh-sungguh memukulmu. Jika tidak, orang-orang akan curiga. Aku akan mengirimkan surat perintah berikutnya. Tunggu saja”

Sambil berkata begitu ia memakai mantel putih lalu melayang pergi. Di atas udara ia memakai sepatunya itu, lalu mendarat dengan ringan di atas danau yang membeku. Tubuhnya yang terbungkus mantel putih membuat Bwee Hua seperti hilang ditelan salju. Dalam sekejap mata saja, Bwee Hua sudah tidak kelihatan lagi.

“Pintar sekali subo mengambil jalur danau. Tak ada seorang pun yang mengira ada orang yang berjalan di atas danau. Ah, aku harus mempunyai sepatu seperti itu suatu saat nanti. Aih....subo memukul terlalu keras”

Ia lalu bangkit dan berjalan tertatih-tatih menuju arah yang berlawanan dengan Paviliun. Dengan begitu, ada kesempatan baginya untuk bertemu orang di tengah jalan. Dalam hati ia heran juga, bagaimana jika di tengah jalan ia bertemu orang jahat yang justru akan mencelekai atau bahkan membunuhnya? Tapi ia percaya sepenuhnya atas perintah gurunya.

Sim Lan berjalan menyusuri hutan sekian lama. Ia tidak berani membekali diri dengan makanan atau mantel tebal bagi perjalanannya. Semua kejadian ini harus terlihat alami, agar orang-orang percaya semua sandiwara yang diatur gurunya.

Setelah hampir 2 jam ia berjalan, akhirnya ia melihat titik hitam dari kejauhan. Titik itu berubah menjadi dua titik dan bergerak mendekatinya. Sim Lan lalu mempersiapkan segala sandiwaranya. Ia pura-pura tergeletak di atas salju. Darah yang mengucur dari mulutnya pun seolah muncul lebih banyak. Entah bagaimana ia melakukannya.

Tak lama kemudian kedua titik yang bergerak di kejauhan itu membentuk 2 sosok manusia. Laki-laki dan perempuan.

“Suamiku, tampaknya ada sebuah tubuh terkapar di depan” kata si perempuan.

“Hati-hati jebakan” kata suaminya dengan tenang.

Ternyata kedua orang ini adalah suami-istri keluarga Suma yang sedang dalam perjalanan menemukan anak mereka. Anak yang harus mereka tukarkan dengan sebelah pedang istimewa. Pedang belum ditemukan, tentu saja anak belum ditemukan pula.

Dengan cepat namun hati-hati mereka telah sampai di depan tubuh Sim Lan. Terlihat gerakan nafas gadis yang lemah dan tak berdaya.

“Ia masih hidup” bisik sang istri.

Tanpa memperdulikan perkataan istrinya, mata pendekar Suma menyapu sekeliling daerah itu.

“Tidak ada apapun yang mencurigakan di sini”

Kata-kata itu bagai pemberitahuan bagi sang istri agar segera bergegas menolong tubuh tergeletak itu. Ia mendekati tubuh yang lunglai itu lalu bertanya, “Siocia (nona), apakah siocia mendengar kata-kataku?”

Hanya terdengaran desahan kesakitan si nona. Sang istri memperhatikan keadaan nona itu lalu berkata kepada suaminya, “Ia terpukul di bagian dada. Beberapa tulang rusuknya patah.”

Sang suami hanya mengangguk.

Sang istri dengan sigap segera menempelkan tangannya ke dada nona itu dan menyalurkan tenaga dalam. Tak berapa lama Sim Lan mulai ‘pulih’ kesadarannya.

“Te...te..terima...ka..sih...inkong (tuan penolong)” katanya meracau.

“Nona beristirahatlah sejenak. Telan pil obat ini” kata sang istri.

Sim Lan menelan obat itu. Tak berapa lama tubuhnya terasa hangat. Berbaring lama di atas es membantu sandiwaranya dengan baik. Tubuhnya dingin dan wajahnya sangat pucat. Selain karena pukulan gurunya sendiri, dinginnya salju sangat berperan besar dalam hal ini.

Setelah si nona mulai pulih keasadarannya, barulah sang istri mulai bertanya,

“Siocia (nona) siapakah? Dan siapa yang melakukan ini terhadap nona?”

“Si ju...bah..me..rah”

Mendengar nama itu disebut, kedua suami istri itu menegakkan tubuh.

“Apakah ia berada di sekitar sini?” tanya si istri.

“Di..paviliun ka...mi....tak...ja...uh da..ri sini.....”

“Apakah yang dimaksud siocia (nona) adalah pavilliun milik Pek Swat Ceng (Perkampungan Salju Putih)”
Sim Lan hanya mengangguk.

“Siocia adalah anggota Pek Swat Ceng?”

Sim Lan mengangguk lagi.

Si istri menoleh kepada sang suami, “Jejak yang kita cari ternyata benar. Ia berada di sana”

“Inkong (tuan penolong)..siapakah? ada keper...luan..apa kemari?’ tanya Sim Lan

Sempat ragu sebentar, sang istri menjawab, “Kami berdua adalah sepasang suami istri. Kami dalam perjalanan mencari anak kami yang diculik”

“Di..cu..lik..sia.pa?”

“Aih ceritanya panjang. Tapi singkatnya, kami harus menemui si Jubah Merah sebelum bisa menemukan anak kami”

“Aih...bang..sat ja..hat..itu...telah meng..habi..si...selu..ruh..anggota ka..mi”

“Benarkah? Aih malang sekali nasibmu nona”

Ia lalu menoleh kepada suaminya, “Kita harus menolong nona ini”

“Kita sudah menolongnya” jawab sang suami pendek.

“Suamiku, kau ingin meninggalkannya di tengah salju seperti ini?” tanya sang istri.

“Dengan membawanya kesana, kita akan menambah beban. Kehebatan ilmu si Jubah merah ini masih belum bisa kuukur. Jika kita menambah beban, maka kita memberatkan keadaan sendiri”

“Lalu kau akan membiarkannya mati di sini?”

“Dia tak akan mati. Jika kau meninggalkan sedikit perbekalan kepadanya, ia akan bertahan dan selamat”

“Aih....bagaimana jika orang-orang yang dibelakang sana menyusul kemari? Mereka ada yang jahat dan baik. Jika kita tidak menolongnya, bisa jadi nanti ia jatuh ke tangan orang jahat”

“Empat orang yang berada di belakang kita adalah orang baik. Sebentar lagi mereka da...” belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, dari kejauhan terlihat sesesok manusia.

Manusia itu ternyata perempuan. Ia datang menggendong anak di punggungnya. Perempuan macam apa yang mengajak anak kecil ke dalam perjalanan seperti itu?

“Salam Suma-tayhiap (pendekar besar) dan Suma-liehiap (pendekar wanita)” kata perempuan itu menjura.
“Salam. Anda telah mengekor perjalanan kami sekian lama. Akhirnya bertemu muka, rasa-rasanya cukup pantas jika cayhe (saya) menanyakan siapa nama anda?” tanya pendekar wanita Suma dengan sopan namun tegas.

“Nama cayhe Hok Lian Si, dari Go Bi Pay” tangannya masih menjura. Lanjutnya, “Cayhe akui selama ini mengekor tayhiap berdua karena inilah satu-satunya cara bagi cayhe agar menemukan Li Hiang”

“Li Hiang si jubah merah?”

“Benar sekali, liehiap (pendekar wanita)”

“Anda apakah istrinya?” tanya Suma-liehiap

“Istri? Entahlah. Tapi cayhe adalah ibu dari anaknya yang cayhe gendong kemana-mana ini”

“Mengapa anda begitu tega membawa anak sekecil ini ke dalam perjalan yang seberat ini?” tanya Suma-liehiap lagi.

“Ini mungkin satu-satunya cara agar ia dapat bertemu ayahnya”

Harus Suma-liehiap akui, dengan nama buruk yang dimiliki Li Hiang, anak kecil ini memang amat sangat sukar bertemu ayahnya itu. Melihat bahwa pendekar wanita she (marga) Suma itu tertegun, Hok Lian Si menyambung, “Sudah tersabar di dunia persilatan bahwa tayhiap berdua sedang mencari Li Hiang agar dapat meminta pedangnya untuk ditukar dengan anak tayhiap berdua yang hilang. Cayhe pikir, dengan mengekor tayhiap berdua, cayhe dapat pula menemukan Li Hiang”

Suma-liehiap mengangguk.

“Menurut nona yang terluka ini, Li Hiang berada di paviliun di depan sana. Kami akan pergi kesana, namun tidak tega meninggalkan nona ini sendirian di sini”

“Li..Hiang...sudah...tidak..berada di paviliun...ia pergi..men..cu..ri bu..nga ra..ha..sia...ka.mi” Sim Lan menimpali.

“Anggrek Tengah Malam? Jika bunga itu jatuh ke tangannya, ia akan berubah seperti harimau diberi sayap(berlipat ganda kesaktiannya)”

“Kau jaga saja nona ini, aku yang berangkat ke sana” Suma tayhiap segera bergerak tanpa menunggu jawaban dari istrinya.

“Ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang mengagumkan” puji Hok Lian Si.

Suma-liehiap tidak mau menunggu. Suaminya tadi pergi meninggalkan beberapa perlengkapan. Di dalam perlengkapan itu terdapat kain panjang yang bisa dibuat tenda. Dengan cekatan ia membuat tenda, dengan dibantu Hok Lian Si.

Setelah membuat tenda, mereka memindahkan Sim Lan ke dalam tenda itu, lalu mencoba membuat api. Di cuaca yang sedingin itu, membuat api adalah sebuah hal yang hampir tidak mungkin. Tapi Suma-liehiap (pendekar wanita) bukan orang sembarangan. Pengalaman hidup telah mengajarkannya banyak hal. Ia ternyata membawa sejenis ramuan khusus yang berbau menyengat. Ia mengorbankan salah satu pakaian dalam perlengkapannya sebagai bahan bakar. Ramuan menyengat itu dituangkannya ke pakaian itu, lalu tangannya menyambitkan sesuatu. Tak berapa lama, api telah membesar!

Kehangatan menyelimuti tenda sederhana itu. Hok Lian Si sendiri telah menidurkan anaknya. Di umur yang belum lagi genap 5 tahun, anak kecil itu sama sekali tidak rewel dan bersikap sangat tenang.

Murid perempuan perguruan Go Bi Pay itu lalu mengeluarkan perbekalan agar dinikmati bersama. Seguci arak pun menghangatkan tubuh mereka. Mereka pun beristirahat sejenak. Badai salju sudah mulai turun. Untunglah Suma-liehiap mengingatkan tenda itu kepada sebuah pohon yang amat besar di sela-sela pohon lain, sehingga keadaan mereka sangat terlindungi.

Setelah beristirahat beberapa, Hok Lian Si meminta diri. Ia merasa harus segara menemukan Li Hiang untuk menyerahkan anak itu. Kata Suma-liehiap, “Kenapa tidak menunggu suamiku pulang saja, ia pasti berhasil menemui Li Hiang”

“Aih...bukannya cayhe (saya) berpikiran buruk, tetapi pertemuan kedua pendekar seperti Suma-tayhiap dan si Jubah Merah, tidak jarang menghasilkan pertempuran yang hebat. Cayhe (saya) takut...” ia tidak melanjutkan ucapannya.

Suma-liehiap mengerti sekali perasaan ibu muda itu. Ia akhirnya hanya bisa mengangguk dan menatap pendekar muda Go Bi Pay itu pergi dari sana.

“Cinta” hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Walaupun ia tidak muda lagi, umurnya juga tidak bisa dibilang sudah tua. Walaupun ia belum mengerti betul perasaan manusia, sedikit banyak ia tahu bagaimana cinta bisa menyebabkan hal-hal yang tak terduga dalam hidup manusia.

Cinta merubah banyak hal.

Cinta bisa membuat manusia waras menjadi gila. Membuat orang sehat menjadi tuli, bisu, dan gagu. Cinta pula yang bisa menumbuhkan semangat, dan melumpuhkan seseorang dalam saat yang bersamaan.

Cinta lah yang menggerakkan ia dan suaminya pergi ribuan li jauhnya untuk mencari anaknya yang hilang. Cinta pulalah yang membuat nona pendekar Gobi-pay menempuh badai sendirian untuk menemui kekasih hatinya.

Apakah cinta pula yang membuat seseorang pergi dari kehidupan orang lain?

Apakah cinta pula yang membuat seorang suami meninggalkan istri?

Membuat istri mengkhianati suami?

Jika cinta mengakibatkan hal-hal yang penuh duka, mengapa pula seluruh umat manusia sepenuh hati ingin menemukannya?

Salju jatuh dengan lembut. Angin dingin menusuk tulang. Dedaunan membeku. Ranting mengering. Cinta menghilang. Semua ini adalah hal-hal yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan manusia.

Tak jauh di sana, tampak bayangan datang dengan perlahan.

Siapa pula yang datang dalam cuaca sedingin ini?

Apakah karena cinta pula?

Bayangan itu kini menjadi nyata, berubah menjadi sosok kurus berbaju kuning emas. Kepalanya gundul, janggutnya sudah memutih seluruhnya.

“Salam, Suma-liehiap” kata orang itu.

“Salam. Apakah cayhe sedang berhadapan dengan yang mulia pendeta Hong Tang dari Siau Lim-pay?” kata Suma-liehiap balas menjura.

“Pandangan Suma-hujin (nyonya Suma) sungguh tajam. Pinceng (sebutan diri sendiri bagi seorang bhiksu) sungguh kagum”

“Apakah yang mulia juga sedang mencari si Jubah Merah?” tanya Suma-liehiap (pendekar wanita Suma)

“Aih, sungguh pertanyaan yang berterus terang. Semakin menambah kekaguman pinceng. Tebakan hujin (nyonya) memang benar. Pinceng memang sedang mencari si Jubah Merah, Li Hiang”

“Pemuda itu, begitu banyak manusia di dunia ini yang mencarinya?”

“Omitohoud....omitohoud...(Buddha berbelas kasih)” kata bhiksu Hong Tang sambil menunduk-nunduk. “Jika kita berbuat, maka kita akan menerima balasannya”

“Cayhe sudah mendengar berbagai perbuatan keji si Jubah Merah ini. Di mana-mana ia menculik dan memperkosa anak gadis. Setelah itu masih sempat membunuh mereka pula. Bagaimana mungkin ada manusia yang sekejam ini? Sungguh dia memang pantas mati” tukas Suma-liehiap.

“Omitohoud....sesungguhnya seluruh manusia akan mati. Maka sebaiknya bertobatlah dan memilih jalan Buddha”

Suma-liehiap merenung. Lalu berkata, “Suami cayhe, dan seorang pemudi dari partai Gobi-pay sedang mengubernya, ke arah sana” sambil menunjuk arah.

“Di belakang pinceng terdapat beberapa orang yang menuju kemari pula. Sebagian dari mereka, piceng khawatirkan akan menggangu hujin (nyonya), dan nona yang sedang tidur itu”

“Siapa mereka?”

“Ada beberapa orang yang pinceng kenal. Dan pinceng tahu mereka banyak sekali melakukan perbuatan yang menyimpang. Sebaiknya pinceng menanti mereka di sini”

“Jika mereka berniat jahat, cayhe berani menghadapinya” tukas Suma-liehiap. Ia adalah istri dari keluarga Suma. Jika ia berkata begitu memang bukan omong kosong belaka.

“Tentang keberanian dan kelihaian keluarga Suma, tidak ada seorang pun di kolong langit ini yang menyangkal. Tapi pinceng khawatir jumlah mereka lumayan banyak”

Tepat saat ia berkata begitu, terlihat sejumlah titik yang bermunculan dari jauh.

“Tujuh orang” pandangan mata bhiksu Siau Lim-pay memang tidak bisa diragukan.

Ketujuh titik itu semakin mendekat, lalu terdengarlah teriakan yang dipenuh tawa, “Seorang bhiksu tua berduaan dengan perempuan cantik di tempat sepi. Sungguh pemandangan yang menyenangkan”

“Eh, kau salah. Ia bersama dua orang perempuan” sahut salah seorang dari rombongan itu.

“Aih, besar juga nafsu kakek ini” sahut seorang yang lain, yang kemudian ditimpali dengan tawa yang membahana.

“Omitihoud....” hanya itu yang keluar dari bibir bhiksu Hong Tang.

“Liok Lim Chit Koay (Tujuh Orang Aneh Rimba Hijau). Sungguh beruntung sekali” sahut Suma-liehiap.
“Eh? Kau mengenal kami? Bagus juga matamu”

“Aku memang mencari kalian. Justru kalian yang datang sendiri kemari” jawab Suma-liehiap dingin.

“Hoho...Ada perempuan cantik mencari kami. Sungguh memang hal yang patut disyukuri. Hahahahahaha”
Tanpa banyak bicara, Suma-liehiap sudah melolos pedang.

Sian-kiam (pedang Dewi).

Semua orang di rimba persilatan mengenal pedang ini.

Lebih-lebih lagi, pasti mengenal pemiliknya.

“Ah, pelacur she (marga) Suma” kata salah seorang.

Kembali tawa mereka terdengar membahana. Tapi masing-masing sadar bahwa tawa ini bukanlah tawa bahagia. Ada sedikit rasa jerih melihat pedang itu.

“Mana suamimu? Apa sudah kau tinggal untuk kabur bersama bhiksu tua ini? Hahahaha”

“Tutup mulut. Lihat serangan!”

Begitu kata terakhir diucapkan, tubuh nyonya Suma ini sudah berkelebat secepat kilat menyerang ketujuh orang ini. Tangan kirinya menyapu pedang dengan ringan. Dalam satu serangan pedang, ketujuh orang ini sudah dibuat mundur seluruhnya!

Tapi gerakan mundur ini langsung dibarengi dengan gerakan maju menyerang pula!

Nyonya Suma terhenyak ketika menyadari bahwa kecepatan ketujuh orang ini tidak berada di bawahnya. Gerakan mereka cepat dan ganas. Terlihat sembarangan dan tidak teratur. Tapi seolah-olah saling mengisi.

Tak ada jalan lain baginya selain melangkah mundur. Pedang di tangannya ia angkat ke depan, sambil melayang mundur. Ketujuh orang itu pun melayang maju mengikuti gerakan sang nyonya.

Ini adalah kesalahan mereka. Karena gerakan mundur ini hanyalah sebuah pancingan belaka. Saat melayang ke belakang itu tahu-tahu sang nyonya melempar pedang ke depan. Lemparan itu merupakan sebuah lemparan yang teramat lihay sehingga pedang itu memutar bagaikan bor, dan menyapu ketujuh orang itu.

Mereka kaget. Namun mereka bukan anak kemarin sore dalam dunia persilatan. Nama mereka justru termasuk nama yang paling ditakuti. Menerima serangan itu mereka tidak panik. Walaupun sedang dalam posisi di udara, tubuh mereka tahu-tahu berhenti melayang dan berhenti seketika.

Di dunia ini, manusia yang mempunyai kemampuan berhenti di udara hanya bisa dihitung dengan jari. Dan tujuh jari untuk menghitung itu adalah milik ketujuh orang ini.

Sebuah pameran ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang sangat memukau!

Saat mereka berhenti di udara, tahu-tahu secara aneh pula mereka telah bergerak ke segala arah, keluar dari daerah serangan pedang yang memutar bagai angin puting beliung itu. Gerakan mereka malah jauh lebih cepat dan kali ini ketujuh tubuh mereka telah maju ke depan menghujam ke tubuh nyonya Suma!

Bhiksu Hong Tang yang melihat kejadian ini kaget bukan main. Ia bergerak menolong nyonya itu, tapi ia tahu ia pasti terlambat. Walaupun gerakannya tidak kalah cepat dengan ketujuh orang ini, ia telah kedahuluan mereka. Mereka bergerak lebih dulu. Dengan ledakan tenaga dan kecepatan yang mengagumkan pula!

Ia tahu ia terlambat!

Nyonya itu kini melayang mundur ke belakang tanpa pedang. Ia tak memiliki senjata apapun untuk bertahan dari hujaman serangan ketujuh orang aneh ini. Ia seolah-olah sudah tidak memiliki harapan lagi.

Tapi orang-orang yang berada di sini semuanya lupa. Ia adalah nyonya dari keluarga Suma.

Itu saja sudah cukup!

Entah bagaimana pedang yang tadi sudah dilepaskannya kini bisa kembali berbalik. Gerakan baliknya pun datangnya jauh lebih cepat dari saat perginya tadi. Ketujuh orang ini begitu mendengar suara gemerincing suara pedang yang meluncur cepat ke arah mereka serta merta membuyarkan serangan mereka.

Kembali secara aneh tubuh mereka berhenti di udara untuk kemudian melayang secara acak dengan cepat kembali ke tempat semula mereka tadi.

“Hebat!”

“Mantap!”

Mulut mereka memuji.

“Majulah!” teriak nyonya itu dengan berani. “Dosa kalian sudah terlalu banyak. Korban yang kalian bunuh sudah tak terhitung jumlahnya. Kejahatan yang kalian perbuat sudah tidak bisa dimaafkan lagi.”

“Eh? Memangnya kau tidak pernah berbuat dosa? Hahahaha. Dasar munafik!” tukas salah seorang. Mereka bergerak lagi. Gerakan mereka serampangan dan asal-asalan. Entah ke mana arah yang dituju. Tapi gerakan mereka serempak dan susul menyusul.

Kali ini bhiksu Hong Tang tidak tinggal diam. Ia melompat ke arah serangan ketujuh orang itu dan memotong gerakan mereka. Setiap gerakan anggota Siu Lim-pay selalu ringan dan penuh tenaga. Apalagi ia adalah pendeta dengan gelar ‘Hong’. Gelar itu adalah gelar bagi bhiksu-bhiksu utama dalam Siu Lim-pay.

Gerakan ketujuh orang ini menjadi kacau ketika bhiksu Hong Tang masuk ke dalam arus pusaran gerakan mereka. Sebagai salah satu pendekar terkemuka di dunia persilatan, kemampuan bhiksu ini memang sangat tidak bisa diragukan.

Terdengar suara gemuruh angin yang keluar dari tangannya saat ia melancarkan serangan. Padahal ia melancarkan serangan dengan ringan. Terlihat cahaya berwarna emas keluar dari telapak tangannya. Cahaya emas itu terlihat menyerupai tapak pula. Muncul dalam jumlah yang sangat banyak mengejar setiap anggota tujuh orang aneh itu.

“Tapak Budhha!” teriak mereka.

Nyonya Suma pun cuma melongo.

Ini adalah jurus yang dikabarkan telah menghilang dari dunia persilatan. Bahkan konon tak ada seorang pun anggota Siau Lim-pay yang menguasainya!

Cahaya telapak emas itu menghujam ke seluruh tubuh ketujuh orang itu. Tanpa ampun tubuh mereka terjengkang dan formasi serangan mereka berantakan.

Ilmu silat yang mampu membuat penggunanya mengeluarkan cahaya yang menyerupai sinar sampai saat ini hanya berupa dongeng belaka. Tak ada seorang pun yang pernah melihatnya apalagi menguasainya. Ilmu-ilmu ini adalah milik dari pendekar jaman dahulu yang diyakini telah menghilang dari dunia persilatan. Selain Tapak Buddha, jurus 18 Tapak Naga juga adalah salah satu jurus yang membuat penggunanya mampu mengeluarkan kekuatan yang menyerupai cahaya. Seperti juga ilmu tapak Buddha, ilmu 18 Tapak Naga ini diyakini menghilang dari dunia persilatan.

Namun ada kabar angin yang mengatakan bahwa Siau Lim-pay sebagai pusat ilmu silat, menyimpan kitab-kitab ilmu hebat ini di dalam perpustakaannya. Berhubung nama Siau Lim-pay adalah nama yang paling angker dan sangat dihormati di dalam dunia persilatan, tidak ada seorang pun yang cukup gila untuk bertanya keberadaan kitab-kitab itu kepada Siau Lim-pay.

Jadi saat Hong Tang-thaysu (Bhiksu Hong Tang) mengeluarkan jurus Tapak Buddha, yakinlah seluruh orang yang berada di tempat itu bahwa kuil Siau Lim-pay memang menyimpan kitab-kitab ini.

Ketujuh orang itu tergeletak di tanah. Darah muncrat dari mulut mereka. Sepanjang hayat mereka tak pernah menyangka bahwa gerakan mereka yang khas serta dahsyat itu sanggup dipatahkan hanya oleh sebuah gerakan.

Pertarungan ilmu silat kelas tinggi memang tidak memerlukan waktu yang lama. Sepersekian detik saja sudah mampu menentukan hidup dan mati seseorang.

“Buddha maha pengampun. Semoga sejak saat ini kalian tidak lagi melakukan dosa”

Lalu bhiksu itu berbalik badan dan meninggalkan mereka. Ketujuh orang yang terkapar itu tak tahu harus berbuat apa. Mereka telah kalah dalam satu jurus. Tapi orang yang mengalahkan mereka justru mengampuni mereka dan berbuat seolah-olah mereka tidak berharga untuk dibunuh.

Bagi mereka ini adalah penghinaan!

“Bhiksu keparat!”

“Kau pikir kami takut kepadamu?!”

Dengan sisa-sisa kekuatan mereka, ketujuh orang ini berdiri. Harus diakui kekerasan hati mereka. Siapapun yang terpukul oleh ilmu Tapak Buddha akan mengalami luka dalam yang sangat parah. Jika tidak segera memulihkan tubuh, organ-organ bagian dalam tubuh mereka akan rusak selamanya.

“Manusia yang tidak tahu terima kasih ini memang sepertinya harus dipenggal lehernya agar bisa diam” sahut Suma-liehiap (pendekar wanita Suma).

Pedang di tangan kiri nyonya Suma terangkat lembut.

Matanya terang memandang ketujuh orang di hadapannya. Rambutnya berkibar mewangi. Walaupun pedang adalah sebuah senjata yang kejam, di tangan nyonya ini berubah menjadi anggun dan penuh kelembutan.
Ketujuh orang ini bergerak serentak!

Tapi apa daya, tubuh mereka telah terluka berat, gerakan mereka menjadi lamban, serangan mereka kehilangan kekuatannya.

Sian Kiam (Pedang Dewi) melayang. Masih tetap cepat, masih tetap mengagumkan, masih tetap indah dipandang mata.

Pedang itu melayang, tujuh leher pun meninggalkan tempatnya.

Lalu setelah selesai, dengan aneh pedang itu pun kembali ke tangan nyonya muda nan cantik ini, seolah-olah peliharaan yang memiliki sayap terbang kembali pulang ke pemiliknya.

“Omitihoud.......” sang bhiksu hanya bisa menghela nafas menyaksikan pemandangan ini.

“Musuh yang sudah kalah, pantas untuk diampuni. Tetapi musuh yang sudah kalah namun tidak tahu diri, memang pantas untuk mati” suara nyonya ini lembut namun dalam. Ia yakin benar terhadap setiap patah kata yang dikatakannya.

“Ilmu pedang yang sungguh hebat sekali. Apakah ini adalah ilmu pedang keluarga Suma?”

“Bukan, thaysu (bhiksu).Ini adalah ilmu pedang asli milik keluarga ibu cayhe saat cayhe belum menikah”

“Sungguh mengagumkan. Tetapi nyonya harus mencari cara untuk menutup kawat halus lembut yang menyambungkan pedang itu dengan jemari nyonya. Bagi orang yang pandangannya cukup tajam, kawat itu adalah titik kelemahan ilmu pedang ini” ujar Hong Tang-thaysu.

Seketika nyonya itu terhenyak. Sang thaysu menemukan kunci ilmu pedangnya hanya dengan sekali pandang. Tingkat ilmu silat dan kepandaian bhiksu ini amat sangat sukar untuk diukur. Dalam seumur hidupnya, mungkin bhiksu inilah orang yang paling hebat yang pernah ditemuinya.

“Terima kasih atas petunjuk thaysu (bhiksu), semoga kelak cayhe bisa lebih menyempurnakan lagi ilmu ini.” Jawab nyonya Suma penuh terima kasih.

“Suami nyonya tidak membantu nyonya dalam hal ini?” tanya sang thaysu.

“Aih, sepanjang hidupnya dihabiskan untuk mendalami ilmunya sendiri, bagaimana sempat mengurusi ilmu orang lain?” kata nyonya itu sambil tertawa. Walaupun ia seperti ‘mengejek’ suaminya, cahaya mata dan senyum dibibirnya menunjukkan kebanggaan dan cinta yang amat dalam terhadap suaminya itu.

Bhiksu itu hanya tersenyum. Ia mengerti sekali sifat para pendekar. Menghabiskan seluruh hidup untuk mendalami ilmu silat, untuk kemudian menemui ajal karena silat pula. Ia sendiri pun seperti itu.

Kadang-kadang menertawakan orang lain sebenarnya adalah menertawakan diri sendiri.

Tahu-tahu dari balik balik pepohonan, muncul sesosok tinggi jangkung yang rambutnya telah memutih. Melihat ini nyonya Suma dan Hong Tong-thaysu terhenyak. Sejak tadi mereka tidak tahu jika sudah ada orang lagi yang datang di tempat itu. Ini menunjukkan bahwa sosok yang baru datang ini ilmunya masih berada di atas Hong Tang-thaysu!

“Omitohoud....apakah pinceng sedang berhadapan dengan Pendekar Pedang Kelana, Can Li Hoa-tayhiap?”
Pendekar jangkung yang sudah tua itu hanya mengangguk. “Hong Tang-thaysu terlalu sungkan”

“Ayah? Buat apa kemari?” sahut nyonya Suma.

“Kau sudah menemukan anakmu?” tanya Pendekar Pedang Kelana

“Belum. Tapi Tian-ko (kakak Tian) sudah hampir berhasil menemukan Li Hiang”

Yang dimaksud Tian-ko adalah suaminya sendiri, Suma Tian.

Pendekar Pedang Kelana lalu berkata, “Mainkan kembali ilmu pedangmu!”

Nyonya Suma paham. Tadi ilmu pedangnya sempat ‘dikritik’ oleh Hong Tang-thaysu, oleh karena itu ayahnya ingin membenahi ilmu pedang itu di hadapan Hong Tang-thaysu.

Ia lalu bergerak dengan cepat. Pedang melayang, berputar, dan bergerak dengan indah. Meluncur dari tangannya seperti anak panah, lalu berputar kembali dan ditangkap oleh nyonya itu.

Saat melihat gerakan itu, ada perasaan tersendiri yang timbul di hati Pendekar Pedang Kelana. Ilmu itu adalah ilmu istrinya. Merupakan warisan dari keluarga istrinya. Ia dulu tidak punya waktu untuk membenahi ilmu itu, karena ia sendiri terlalu sibuk mendalami ilmu pedangnya. Saat istrinya meninggal dalam pertempuran, itu karena lawan berhasil memecahkan rahasia ilmu itu. Dirinya sendiri berhasil membalas dendam, namun kesedihan yang mendalam membuatnya menghilang dari dunia persilatan.

Kini saat melihat anaknya sendiri memainkan ilmu itu, perasaan Can Li Hoa, sang Pendekar Pedang Kelana seolah-olah terbang melayang. Begitu besar kemiripan anak semata wayangnya ini dengan istri yang sangat dicintainya. Gerakannya begitu sama, wajahnya begitu sama pula.

Anak-anak harusnya mengerti, bahwa betapa mereka adalah bayangan dari orang tuanya sendiri.
“Mana pedangmu?”

Nyonya muda itu menyerahkan pedang tersebut kepada ayahnya.

“Perhatikan!”

Sang ayah lalu bergerak. Gerakan yang amat sederhana namun luwes. Hampir tidak ada keistimewaan apa-apa. Tapi Hong Tang-thaysu dan nyonya Suma ini paham betapa gerakan itu sanggup menghadapi ilmu tinggi mana pun.

“Kau sudah paham?” tanya sang ayah.

“Sudah!” tukas si nyonya sambil tersenyum.

Seorang wanita, umur berapapun, jika bertemu ayah yang sangat disayanginya, pasti akan bersikap semanja ini.

“Ayo kita cari anakmu” kata sang ayah.

“Aku harus menjaga nona itu....kasihan” jawab si nyonya.

Sang ayah menatap nona yang tertidur di dalam tenda kecil itu cukup lama.

“Baiklah. Aku sendiri yang akan menyusul suamimu” ia lalu menoleh kepada sang bhiksu, “Hong Tang-thaysu, mari” ajaknya.


“Mari!”



1 comment: