Tuesday, February 11, 2014

EPISODE 2 BAB 3 Sebilah Pedang Ungu



Si nona cantik memeriksa orang setengah tua yang tergeletak tak berdaya itu. Setelah memeriksa sebentar, ia tersenyum ketika tangannya mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam. Dengan hati-hati dibukanya kotak itu. Wajahnya berbinar-binar saat melihat isinya.

Sebuah benda kecil bulat agak lonjong. Hampir seperti mutiara tetapi benda ini lebih bening dan bercahaya. Si nona mengeluarkan benda itu dari kotak. Ia lalu mengeluarkan sejenis botol kecil yang bening pula. Dengan cekatan ia menggunakan botol itu untuk mengambil salju yang berada di dekatnya.

Si nona lalu menggunakan tenaga dalam untuk memanaskan botol itu dan merubah salju menjadi air. Walaupun buta, Suma Sun tahu apa yang sedang diperbuat nona ini. Dan hal ini membuat Suma Sun sangat kagum, karena kemampuan seperti ini hanyalah dimiliki oleh orang-orang yang tenaga dalamnya sangat tinggi. Walaupun ia sendiri sudah cukup bisa untuk melakukannya, namun si nona ini jauh lebih cepat dalam melakukannya. Ini membuktikan bahwa tenaga dalam nona ini memang sangat hebat.

Setelah salju mencair dan mengisi botol itu, si nona lalu mencelupkan benda seperti mutiara itu ke dasar botol. Ia memperhatikan. Mutiara itu tidak mengapung melainkan tetap berada di dasar botol. Si nona tersenyum. Kali ini, ia mengambil mutiara ini dan meletakkannya di permukaan air, tidak mencelupkannya langsung ke dasar. Mutiara itu kini malah mengapung di permukaan air. Ia menunggu agak lama, dan tersenyum puas ketika mutiara ini tetap mengapung dan tidak tenggelam.




“Aha..ini asli. Terima kasih orang tua”

Sambil begitu tangannya bergerak. Sebuah jarum emas langsung menancap di leher orang tua yang nahas itu. Jiwanya melayang saat itu juga.

Suma Sun menahan nafas, nona ini begitu kejam. Dengan segala cara ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk melepas totokan ini, namun tiada hasil.
“Kau tak perlu bersusah payah, aku menotokmu dengan ilmu totok terbaik. Pendekar paling hebat pun masih membutuhkan banyak waktu agar dapat membukanya” tukas si nona.

Ia tersenyum manis. Walaupun Suma Sun tidak dapat melihat senyuman ini, ia merasa ditelanjangi oleh tatapan nona itu. Nona ini pasti siluman. Tak terasa bulu kuduknya berdiri.

“Hmmm, aku suka kau. Penuh rahasia dan penuh tanda tanya. Membuat orang penasaran.” Ia tetap tersenyum sambil memandang Suma Sun, lalu berkata “Eh, menurutmu aku cantik tidak?”

Suma Sun hanya diam.

Si nona tertawa, “Haha. Laki-laki memang sama semua. Dari yang kecil sampai yang tua bangka, selalu tak mampu bersuara memandang kecantikan perempuan”

“Menurutku kau tidak secantik yang kau kira” kata Suma Sun.

“Haha. Itu juga yang sering dikatakan laki-laki ketika aku bertanya demikian. Mereka ini menyangkal kenyataan. Kau tahu, tidak? Perempuan itu memiliki sejenis perasaan khusus yang mampu menangkap isi hati laki-laki dan maksud mereka. Kau mau berbohong jenis bagaimanapun, kami kaum perempuan tetap tahu”

Perempuan memang selalu memiliki perasaan yang peka.

“Kau, aku penasaran dengan kau. Sedang apa kau sendirian di sini? Siapa orang tua mu?” tanya si nona.

“Orang tua ku sebentar lagi datang. Kau siap-siap saja” kata Suma Sun.

“Haha” ia tertawa sambil menutup mulut, “Kau pikir aku bodoh? Jika mereka berada di sekitar sini, aku sudah akan tahu dari tadi. Kau kira aku berani naik kemari tanpa melakukan perhitungan yang matang lebih dulu? Setiap jengkal yang ku lewati telah kuperhatikan. Tidak ada manusia yang naik turun kemari dalam jangka waktu 2 hari, kecuali si pengawal barang, dan kawanan perampok yang tadi ku bunuh. Menurut perhitunganku kau mungkin bersama orang lain di atas sini. Tapi mereka dari tadi tidak muncul. Oleh sebab itu, kau pasti sendirian di sini. Jika orang tua mu muncul, paling-paling mereka akan sampai saat malam atau fajar nanti”

Mendengarkan penjelasan ini Suma Sun sangat kagum. Si nona ini selain ilmu silatnya hebat, daya pikirnya juga mengagumkan.

Si nona berjalan ke arah Suma Sun. Ia mengambil pedang di pinggang Suma Sun. Dengan santainya ia memperhatikan pedang itu.

“Sebuah pedang unik yang ditempa dengan cara-cara yang unik pula. Hmmmm, pedang semacam ini hanya dimiliki beberapa orang di dunia ini”
Si nona berpikir sebentar.

“Pedang ini ditempa dengan ilmu dari barat.” Lalu dengan mengibaskan pedang, pohon besar di sebelah sang nona tertebas dalam satu gerakan.

Mata si nona berbinar-binar. Ia memperhatikan lagi pedang itu. “Walaupun ini pedang yang unik, pembuatannya masih di daerah Tionggoan (China daratan). Menggunakan bahan-bahan dari negeri India”.

Ia memperhatikan lagi.

“Aha. Ini ciri yang kucari sejak tadi. Tanda mata sang pembuatnya” matanya tertumbuk pada sebuah huruf kecil yang tertulis secara tersembunyi di ujung gagang.

Sebuah huruf ‘Langit’.

“Pedang ini dibuat oleh pandai besi jaman dahulu kala. Kehebatannya sangat tersohor karena pembuat pedang ini menimba ilmu cara membuat pedang dari barat. Namanya adalah Thian Kong-cianpwee (cianpwee berarti senior atau yang lebih tua).”

“Seumur hidup ia hanya membuat 5 pedang. Pedang pertama bernama Pedang Phoenix (Hong Kiam) pedang ini sekarang berada di gudang senjata istana kaisar. Pedang kedua bernama Pedang Naga (Liong Kiam), pedang ini berada di tangan pendekar pedang kelana Can Li Hoa, pedang yang ketiga dan keempat adalah sepasang, bernama Pedang Iblis (Mo Kiam) dan Pedang Dewi (Sian Kiam) berada di tangan suami istri keluarga Suma. Dan yang terakhir pedang.... ahaa.. pedang yang terakhir juga berada pada keluarga Suma. Pedang Serigala (Lang Kiam) ini pasti pedang yang kupegang ini. Kau adalah putra keluarga Suma!”

Lang Kiam



Betapa mengagumkan si nona ini mengurutkan pengetahuan untuk menarik kesimpulan. Suma Sun hanya bisa takjub dalam diamnya.

“Mengapa semua bisa secocok dan semulus ini? Semua usaha dan rencanaku sepertinya direstui oleh Thian (langit). Bertemu engkau di sini, malah semakin membuka jalan bagi rencanaku. Hahahaa” ia tertawa merdu sekali.

Tapi bagi siapapun yang mengerti kekejamannya tentu akan lebih bergidik lagi mendengar tawanya itu. Tawa perempuan apakah memang seperti ini? Sungguh merdu dan indah, tapi juga menyeramkan dan menggetarkan jiwa.

Empat hari kemudian mereka sudah sampai di kaki gunung. Si nona memanggul Suma Sun kecil dengan ringan. Selama perjalanan si nona bercerita dengan riang, seperti tak ada beban atas apa yang baru saja mereka hadapi. Membunuh orang nampaknya sudah merupakan hal yang amat biasa bagi nona ini.

“Kau selalu diam saat ku tanya. Siapa namamu? Berapa sih umurmu?” tanya si nona.

Suma Sun tak berkata apa-apa, pandangan matanya menyorot ke depan. Memandang api unggun yang sekarang berada di hadapannya. Tatapan matanya kosong namun dalam. Seolah-olah sebuah lubang hitam besar yang tenang namun siap menelan apa saja.

“Biar ku tebak, umurmu pasti antara 13 sampai 15 tahun” ujar si nona. “Kalau namamu pun tidak mau kau beritahu, aku akan memanggilmu Siauw-Suma (Suma kecil) saja. Eh, cepat kau makan daging kelinci, susah payah ku tangkap dan ku bakar untukmu” kata-katanya hangat, suaranya renyah dan menggoda hati.

Selama hidup, Suma Sun belum pernah berdekatan dengan perempuan lain selain ibunya. Kini setelah 4 hari ia lewatkan bersama si nona ini, ada perasaan aneh yang timbul di hatinya. Perasaan yang sebenarnya wajar bagi anak-anak seumurannya. Tapi Suma Sun bukan anak sembarangan, sejak kecil ia telah ditempa oleh kesulitan hidup, kemampuannya untuk menahan perasaan dan gejolak jiwanya jauh di atas rata-rata orang biasa.

“Kau ini, masih semuda ini sudah keras hati, kelak jika sudah dewasa, akan ada berapa banyak perempuan yang kau lukai? Dengan wajah setampan kau, aku yakin 3 atau 4 tahun lagi kau sudah ahli menaklukan perempuan” suaranya halus lembut, tapi sungguh menggetarkan sukma Suma Sun.

Ia masih tertotok, tak mampu bergerak. Suara dan nafas nona itu mendesah-desah di telinganya.

“Siauw-Suma kau tak boleh terlalu keras hati” katanya berbisik di kuping Sum Sun. “Jika nanti ada perempuan yang terluka karena sikapmu, kau akan repot sendiri” ia berkata begitu sambil tangannya memegang dada Suma Sun. Sentuhan iu sederhana saja, tapi bukan sentuhan yang dibuat-buat. Laki-laki manapun yang terkena sentuhan ini ditanggung lupa umur, lupa sanak saudara, bahkan lupa jika ia manusia biasa.

Anak seumuran Suma Sun yang baru akan beranjak dewasa, yang fungsi-fungsi kelaki-lakiannya telah tumbuh dengan sempurna, mana mungkin sanggup menerima sentuhan seperti ini.

Dan sentuhan ini turun dari dada ke perut, dan ke berbagai tempat lain.

Di luarnya wajah Suma Sun tetap kosong dan tenang, di dalam dadanya gejolak dorongan wajar seorang laki-laki telah menggedor-gedor jiwanya.

“Entah kenapa aku heran pada setiap laki-laki, jika kami para perempuan mendiamkan, kami dituduh bersikap dingin, jika kami membuka diri kami malah dituduh murahan. Kau tahu? Kami para perempuan ini cuma makhluk yang lemah. Butuh tempat bersandar dan berlindung” sambil berkata begitu ia merebahkan kepalanya di paha Suma Sun.

Rambutnya yang bersanggul indah menyeruakkan semerbak aroma bunga melati yang lembut. Wajahnya yang putih bersih jauh mengalahkan indahnya salju yang menempel di ujung-ujung rambutnya. Walaupun Suma Sun tidak dapat menyaksikan semua ini, bayangan yang timbul di dalam benaknya jauh lebih indah.

Lama sekali kepala itu bersandar di pahanya, saat kemudian si nona mengangkat kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Suma Sun.

Begitu dekat.

Begitu halus.

Begitu indah.

Begitu mendebarkan.

Jantung Suma Sun berdebar menggelora. Belum pernah ia mengalami hal seperti ini. Bibir si nona begitu sangat dekat sampai sampai hampir menyentuh bibirnya. Walaupun dalam keadaan tertotok, Suma Sun berusaha menjangkau ke depan.

Lalu nona itu menarik kepalanya. Bibir itu menjauh. Tak tersentuh.

Mengapa perempuan selalu seperti ini? Di saat ia begitu dekat, tiba-tiba terasa begitu jauh.

Si nona tertawa, “Kau ini, masih kecil-kecil sudah berani mencium bibir orang. Huh, aku tidak bisa membayangkan jika kau sudah sedikit lebih dewasa nanti” ia berkata begitu sambil tangannya memukul pundak Sum Sun dengan lembut.
“Kau mau makan tidak? Jika mau akan ku suapkan”

Tanpa menunggu jawaban, si nona lalu menyuapkan daging kelinci panggang ke mulut Suma Sun. Suapan yang halus ini membuat Suma Sun terpaksa membuka mulut dan mengunyahnya. Ia sendiri memang sudah beberapa hari ini menahan lapar.

“Enak bukan? Kau sih sok jual mahal tidak mau makan” bisiknya lembut.

Bisikannya tidak dibuat-buat untuk menggoda. Apa yang nona ini lakukan semuanya tidak dibuat-buat. Bisikannya, desahannya, tawanya, cara ia berbicara, semua dilakukannya dengan wajar. Justru hal semacam ini yang membuat ia semakin menarik.

“Kau masih tidak mau memberitahukan namamu?” tanyanya lembut.

“Aku akan memberitahukan namaku jika kau memberitahukan namamu” kata Suma Sun.

“Aaaah, mengapa tidak sejak tadi kau tanyakan? Namaku Bwee Hua”

“Namaku Suma Sun”

“Wah, jadi benar kau putra keluarga Suma? Aku hanya menebak-nebak saja tadinya. Hmmm, memang keluarga Suma bukan keluarga bernama kosong. Sejak dahulu kala nama mereka sudah bersinar terang. Sayangnya jarang ada orang yang bertemu keluarga ini. Bisa bertemu kau di sini, boleh dibilang rejeki cukup besar”

“Bwee-siocia (nona Bwee) bolehkah aku bertanya?”

Si nona mengangguk.

“Mengapa kau begitu kejam membunuh mereka semua?” tanya Suma Sun.

Si nona tersenyum, “Kau belum pernah membunuh orang?”

Suma Sun menggeleng.

“Jika nanti kau membunuh orang, kau akan tahu rasanya”

“Seperti apa rasanya?”

“Menyenangkan” tukas si nona sambil tertawa.

“Sungguh kejam”

“Bila aku tidak kejam, aku tak dapat hidup sampai sekarang” ujar Bwee Hua.
Suma Sun terdiam. Ia ingat kata-kata orang tuanya, bahwa di dalam hidup seorang pendekar, ada saat dimana ia harus membunuh orang. Walaupun tidak menyenangkan, hal itu harus tetap dilalui. Tapi si nona ini, menganggap membunuh itu menyenangkan.

“Sejak kecil aku terlunta-lunta. Ditolong orang, aku hanya dimanfaatkan. Orang-orang hanya membutuhkan kecantikanku. Kaum perempuan adalah kaum yang lemah. Kami tidak mempunyai kekuatan seperti laki-laki. Kaum masyarakat pun menempatkan perempuan di posisi yang lebih rendah daripada lelaki. Jika tidak bertindak kejam, apa kau pikir dunia ini akan lemah lembut terhadap kami?”

Suma Sun mendengarkan dengan seksama.

“Aku telah mengalami kehidupan yang menyenangkan, tapi setelah itu mengalami kehidupan yang penuh penderitaan. Penyiksaan, penodaan, dan segalam macam hal tak pernah bisa kau bayangkan, semuanya telah ku lalui. Semua yang ku lakukan saat ini, hanyalah bagian dari caraku mempertahankan hidupku. Jika kau mengalami yang ku alami, apa yang akan kau lakukan?”
Meskipun ia belum terlalu dalam memahami permasalahan dunia, mau tidak mau Suma Sun memahami juga perasaan nona cantik ini.

Justru inilah keselahannya.

Inilah kesalahan lelaki pada umumnya.

Terhadap penderitaan perempuan, mereka begitu mudah hanyut dan terbeli hatinya.

Sekarang Suma Sun telah sepenuhnya membuka dirinya untuk Bwee Hua.

“Di mana rumah keluargamu?” tanya Bwee Hua.

“Ada perlu apa nona dengan keluargaku?”

“Aku ingin menukarmu”

“Menukarku dengan apa?”

“Dengan sebuah pedang” jawab Bwee Hua.

“Apa nona pikir ayah ibuku mudah diancam?”

“Siapapun mudah diancam jika anaknya sedang disandera”

“Dengan pedang apa nona hendak menukarku? Sepasang pedang Iblis dan Dewi milik orang tuaku?”

Si nona menggeleng.

“Selain sepasang pedang itu, dan pedangku yang telah kau ambil, keluarga kami tidak memiliki pedang lagi”

“Memangnya siapa yang ingin mengincar pedang kalian” kata si nona sambil tertawa renyah. Lalu sambungnya, “Aku mencari pedang milik Tok Ko Kiu Pay.”
“Tok Ko Kiu Pay (sedih karena tak pernah kalah)?”

“Masa kau tak pernah dengar nama ini?” tanya si nona.

“Tentu saja, beliau adalah pendekar tanpa tanding di jaman dahulu. Ia dijuluki si Iblis Pedang (Kiam Mo). Dari namanya saja, beliau tak pernah terkalahkan. Sepanjang hayatnya beliau memiliki beberapa pedang. Pedang yang pertama digunakan saat beliau berumur belasan tahun. Dengan pedang ini, beliau menguasai daerah utara tanpa terkalahkan” jelas Suma Sun.

“Benar. Lanjutkan” tukas si nona.

“Pedang yang kedua berwarna ungu, sebuah pedang lemas yang sangat kuat. Dengan pedang ini, beliau menguasai dunia persilatan pada umur 20 tahunan. Beliau kemudian membuang pedang ini ke dalam jurang karena kesalahan tangan membunuh orang yang tidak bersalah”

Si nona mengangguk-angguk.

“lalu pedang ketiga, adalah sebuah pedang berat. Pedang ini kemudian ditemukan oleh leluhur Yo Ko saat beliau terjatuh ke dalam jurang. Seratus tahun setelah pendekar Yo Ko dan istirinya Siau LiongLie menghilang, pedang itu muncul dalam wujud dua buah senjata mustika bernama Golok Pembunuh Naga, dan Pedang Langit”

“Bagus sekali” sahut nona Bwee Hua.

“Tapi kedua mustika ini sudah patah. Pecahannya sekarang tersimpan di Bu Tong-pay dan Go Bi-pay. Nona mengincar pedang yang mana?”

“Tentu saja pedang yang kedua, pedang ungu itu adalah buatan para tetua di luar Tionggoan. Ilmu membuat pedang mereka sangat hebat sehingga pedangnya bisa menjadi sangat lemas, namun sangat kuat. Pedang ini bisa ditekuk sampai ke gagangnya, tapi mampu menebas batu karang. Bahkan memotong putus sutra yang dijatuhkan di atasnya.”

“Tak seorang pun tahu keberadaan pedang sakti itu. Entah berapa ribu jurang yang ada di tionggoan ini” kata Suma Sun.


“Justru itulah kedua orang tuamu harus mencarikannya untukku” ujar si nona sambil tersenyum.


1 comment: