Wednesday, February 8, 2012

Bab 30 Perjalanan Di atas Kapal



Rombongan yang berjumlah 50 orang lebih itu lalu menaiki kapal. Dalam hati Cio San kagum juga melihat pengaturan partai yang rapi seperti ini. Mereka selalu bersiap menghadapi segala macam persoalan. Ini sudah pasti karena kecerdasan dan kehati-hatian sang kaucu.

Kapal yang mereka naiki lumayan besar. Lebih dari cukup untuk menampung 50 orang. Pintarnya, mereka menyamarkan kapal ini seperti kapal nelayan biasa. Orang biasa akan mengira kapal ini sebuah kapal nelayan besar yang biasa berlayar di sungai Tiang Kang (sungai Kuning).

Para ‘nelayan’ yang ada di kapal ini pun ada. Mereka terlihat bekerja seperti biasa. Kotor, dan bau. Seperti kapal nelayan umumnya. Namun di bagian dalam kapal ini, rapi, wangi, dan mewah sekali. Bau amis dari bagian atas kapal sama sekali tidak tercium di dalam.

Di bagian dalam inilah, para anggota Mo Kauw yang terluka kini beristirahat. Sang Kaucu menempati kamarnya sendiri. Beberapa petinggi Mo Kauw ada yang satu kamar bersama sampai 4 atau 5 orang. Sisanya berkumpul dalam suatu bangsal yang luas di bagian dasar kapal. Walaupun Cio San diberikan sebuah kamar tersendiri, ia memilih bergabung dengan para anggota Mo Kauw yang ada di bangsal ini. Bercengkerama dengan mereka, bercanda, dan menikmati arak.

Sudah lama Cio San memang tidak minum arak. Dia merasa kadang orang Kang ouw terlalu mengunggulkan kemampuan minum arak. Tapi memang benar. Kemampuan bertahan minum arak adalah salah satu bentuk tingginya tenaga dalam seseorang juga. Oleh karena itu banyak pesilat tangguh yang gemar minum hanya untuk memperlihatkan kekuatan tenaga dalamnya. Cara minum yang sekali tenggak langsung habis.

Cio San tidak.

Baginya arak adalah seni. Dinikmatinya harus perlahan-lahan. Oleh sebab itu dia tidak pernah minum arak selama ini. Karena arak, haruslah dinikmati bukan untuk ‘ditelan’. Jika tidak ada waktu yang tepat, maka ia tak akan minum arak. Dan waktu yang tepat bagi Cio San saat minum arak adalah saat ia benar-benar sendiri. Bersama rembulan. Bersama awan kelabu. Itulah saat terbaik untuk minum arak baginya. Ia menganggapnya sebagai sesuatu yang sakral. Karena itulah ia tidak pernah minum. Karena saat benar-benar sendirian tidak pernah ada selama ini.

Kini, saat berkumpul bersama anggota Mo Kauw, Cio San menyaksikan banyak hal. Kesetiaan. Kesetiakawanan. Semua orang menolong sesamanya. Bahkan saat ketika ia mengobati yang terluka, setiap orang meminta ia mengobati temannya yang lain dulu. Mereka mendahulukan temannya untuk diobati daripada diri mereka sendiri. Kadang Cio San bingung harus mengobati siapa, karena setiap orang mendahulukan yang lain.

Hal seperti ini tidak pernah ia temukan di Butong pay. Kebanyakan mereka memang orang-orang terpilih, yang cerdas, berbakat, dan datang dari keluarga terhormat. Jika kau pintar, gagah, dan dari keluarga terhormat, maka tidak alasan bagimu untuk tidak sombong. Maka itulah yang terjadi pada murid Butongpay. Masing-masing merasa dirinya hebat. Masing-masing bersaing satu sama lain untuk menjadi yang terbaik. Memang ada beberapa murid baik yang berbeda dengan yang lain, seperti Beng Liong dan beberapa orang lainnya. Tapi jika dibandingkan dengan jumlah murid Butongpay yang mencapai ribuan, semua itu percuma.

Anggota Mo Kauw yang berdandang aneh, yang anggota-anggotanya adalah para Siauw Jin, yaitu orang-orang hina kelana, dari kalangan rendahan yang kotor, dan kumal. Tapi mereka bukan Kay Pang (partai Pengemis) yang suka minta-minta namun dianggap terhormat. Anggota partai Mo Kauw ini banyak juga yang bekerja. Sebagai kuli. Sebagai tukang sayur. Sebagai tukang roti atau tukang daging dan pasar.

Mereka bercampur baur dengan segala macam perampok, perompak, maling, dan tukang copet. Oleh sebab itu sangat sukar membedakan mana anggota Mo Kauw mana yang penjahat betulan. Maka itulah ada sebagian orang awam yang menyangkan semua orang Mo Kauw adalah penjahat. Bahkan banyak dari mereka yang “mengaku” pendekar merasa bahwa seluruh anggota Mo Kauw harus dilawan atau dimusnahkan.

Cio San pun awalnya berfikir seperti itu. Tapi begitu ia kenal dekat dan menghabiskan waktu bersama mereka, semakin sadarlah bahwa berita yang ia dengar tidak benar. Anggota Mo Kauw walaupun cara bicaranya tak tahu sopan santun, sering mengumpat, tidak pernah mandi dan membersihkan diri, adalah orang-orang paling tulus yang pernah ia temui. Semua orang mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.

Anggota Mo Kauw pun menerima kehadiran Cio San dengan tangan terbuka dan ramah. Tidak ada sekalipun Cio San merasa diperlakukan sebagai orang luar. Bahkan saking tulusnya orang-orang Mo Kauw ini Cio San jadi tidak enak sendiri.

Seorang anggota yang tubuhnya penuh kudis dan nanah datang kepadanya, “Ini aku hanya punya satu selimut yang kupakai setiap hari dan menamani malam-malam ku yang dingin. Kau pakailah biar tidak kedinginan”

Seorang anggota lainnya, yang tidak pernah mandi dan tidak pernah gosok gigi selama beberapa hari. Ada potongan cabe yang terselip di giginya selama beberapa hari. Datang kepadanya dan berkata, “Ini makanlah apel ini, maaf sudah ku gigit sedikit karena aku takut apelnya asam. Memberikan apel asam kepada sahabat sama saja dengan tidak menghormatinya”

Seorang anggota lain, yang rambutnya mengeras karena mungkin tidak pernah dicuci selama beberapa bulan, yang dipenuhi kutu, yang selalu ia garuk sehingga kulit kepalanya yang setengah botak banyak luka di sana sini, berkata kepadanya “Bawalah bantalku, sekedar unutk menyandarkan kepala jika kau keletihan”

Menghadapi kebaikan seperti ini, apa yang bisa kau lakukan?

Cio San menerimanya dengan senang hati. Karena cara terbaik membalas pemberian yang tulus, adalah dengan menerimanya dengan tulus juga. Selimutnya dipakai, apelnya dimakan, dan bantalnya digunakan.

Ia tidak merasa jijik, karena ia merasa dirinya tidak lebih tinggi dari siapapun. Ia menyukai kebersihan dan kesehatan. Tapi ia lebih menyukai ketulusan. Karena orang yang tulus akan tetap tulus. Dan orang yang bersih, kadang menyimpan kekotorannya tersendiri.

Siapa yang tidak tahu jika banyak wanita yang paling cantik dan pria paling tampan pun ternyata kotorannya bau, dan yang lebih menyedihkan adalah mereka menyimpan kebusukan di hatinya.

Dan siapa pula yang tidak tahu bahwa banyak orang yang paling bau pun ternyata hatinya bersih.

Karena itulah Cio San tidak merasa jijik. Baginya selimut yang dipakai orang najis namun diberikan secara tulus, jauh lebih bersih daripada selimut wangi yang diberikan wanita cantik yang licik.

Orang seperti Cio San ini akan mudah bersahabat dengan siapa pun. Tapi teman-teman terbaiknya selalu merupakan orang-orang rendah dan hina. Orang-orang yang dianggap hina seperti ini selalu menganggumkan baginya. Karena ia tahu, semakin miskin mereka, semakin sering mereka menjamu sahabat-sahabatnya. Semakin miskin mereka, semakin mereka sering membuat kebaikan kepada orang lain.

Selama ia tinggal di Lai Lai, sudah sering ia melihat dan mendengar kemunafikan. Herannya semakin kaya dan terhormat seseorang, semakin munafik juga lah dia. Semakin kaya, bajunya semakin jelek. Karena ia takut dianggap memboroskan uang. Semakin kaya ia semakin sering mengeluarkan derma, karena ia khawatir dituduh kikir. Semua perbuatan yang dilakukan karena TAKUT dicap jelek orang lain. Bukan karena hatinya yang menyuruhnya berbuat kebaikan.
Cio San bukannya benci kepada orang kaya. Ia tahu kekayaan jauh lebih baik daripada kemiskinan. Tapi ia hanya takut, kekayaan akan merubahnya. Merubah sahabat-sahabatnya. Merubah dunianya. Karena kekuasaan uang bisa merubah manusia. Karena selain kekuasaan, uang dan cinta, apalagi yang bisa merubah manusia?

Oleh sebab itulah ia memilih hidup sederhana.

Dan biasanya justru orang-orang sederhanalah yang hidupnya benar-benar bahagia.

Hidup mereka tidak dipenuhi oleh keinginan-keinginan. Mereka diliputi oleh rasa syukur. Mereka tidak pernah berdoa untuk meminta sesuatu. Mereka berdoa agar orang lain diberikan kebahagian. Mereka tidak berdoa bagi diri mereka sendiri.

Manusia-manusia sederhana seperti ini, tidak pernah menjadi orang kaya. Jika mereka menjadi kaya sekalipun, mereka akan berusaha sebaik-baiknya untuk membagi kekayaan itu sehabis-habisnya kepada orang lain.

Cio San lahir dari seorang ayah siucai (sastrawan). Seniman yang cara hidupnya berbeda dengan orang kebanyakan. Pola pikirnya menyelentang dari kebiasaan umum. Kebahagiaan mereka berada pada cara hidup yang bebas. Bebas dari keinginan, dari apapun. Mereka mengenal keindahan, kecantikan, dan kebahgiaan karena jiwa merdeka. Itulah kenapa banyak wanita mengagumi para siucai. Tertarik dengan hidup mereka yang bebas tanpa beban.

Dan itulah kenapa banyak wanita yang takut hidup bersama seniman. Karena jiwa yang bebas, pastilah dekat dengan kemiskinan. Seseorang yang jiwanya bebas, tidak akan pernah terikat dengan uang, ketenaran, maupun kekuasaan. Itulah sebabnya amat banyak seniman di dunia ini, tapi amat sedikit yang kaya.

Ibu Cio San adalah pendekar Gobi Pay. Walaupun wanita, ia paham tentang hidup yang bebas. Wanita seperti ini adalah wanita yang gemar mengarungi alam. Menantang kehidupan. Mereka menikmati alam, bukan untuk sekedar menyegarkan diri, atau berpesiar. Mereka menikmati alam karena mereka tahu, betapa kecilnya mereka dengan alam. Betapa tak berdayanya mereka di hadapan alam. Wanita-wanita seperti ini pun akan jarang mampu mengikatkan diri kepada apapun. Tapi jika ada lelaki tepat yang mampu memahami hatinya, maka wanita seperti ini akan mudah jatuh bagai anak kucing ke pelukan tuannya.

Dari keluarga seperti inilah Cio San berasal. Bukan dari kalangan terhormat. Karena bagi mereka kehormatan tidak terletak pada seberapa megahnya rumah yang dimiliki, seberapa banyak kuda dan hewan peliharaan. Seberapa bagus baju yang dipakai. Seberapa mewah makanan yang dinikmati. Melainkan terletak kepada seberapa mampu mereka berguna bagi orang lain. Seberapa mampu mereka menghormati orang lain yang tidak ada seorang pun menghormatinya. Itulah kehormatan yang sejati!

Maka dari itu, Cio San menggunakan selimut kotor dan bantal berkutu itu dengan nyaman. Ia menikmati apel separuh busuk yang sudah digigit dengan gigi yang kuning itu dengan nikmat. Karena kenikmatan tidak terdapat pada seberapa mewah dan lezatnya sesuatu. Kenikmatan terdapat pada rasa syukur.

Siapa yang bilang buang air itu tidak bau? Tapi siapa juga yang berani bilang bahwa buang air itu tidak nikmat? Siapa yang bilang tidak nikmat, silahkan menahannya selama seminggu. Lalu lihatlah apa kau masih bisa hidup dengan nyaman.

Cio San selalu bersyukur atas apa yang dia miliki. Ia selalu menghargai apapun yang ada di dalam hidupnya. Oleh sebab itu ia hidup tanpa beban. Tanpa prasangka. Tapi ia pun hidup dengan cerdas. Karena ia tahu dunia tidaklah seindah yang dibayangkan. Ada ketidakadilan. Ada penindasan. Pengkhianatan. Kecurangan.

Oleh sebab itu, ia hidup tidak sebagai orang yang polos dan lugu. Ia hidup sebagai orang yang gagah yang berbuat sesuatu kepada sesama. Karena ia paham, hanya itulah cara satu-satunya agar dunia menjadi lebih baik.

Ayahnya pernah berkata,

“Bangunlah rumah. Jangan merusaknya”
“Tapi ketahuilah, kadang untuk membangunnya, kau harus merusaknya terlebih dahulu”

Begitu banyak kita melihat hal ini dalam kehidupan kita.

Seperti sepasang kekasih yang bertengkar dan berpisah. Hanya untuk kemudian sadar bahwa mereka tak pernah bisa hidup tanpa satu sama lain.

Seperti pohon kering yang mati, namun kemudian dari ampasnya lahirlah tunas tunas baru.

Itulah kehidupan!

Terkadang kau harus menghancurkan sesuatu untuk menciptakan sesuatu.

Terkadang kau sendiri harus mengalami kehancuran, baru kemudian kau mengalami pencerahan.

Dalam seluruh kejadian yang pernah dialaminya, mulai dari kelahiran yang tidak normal. Pembunuhan keluarganya. Penghinaan, fitnah, pelarian dan pengusiran di Butongpay, Cio San percaya bahwa itu semua adalah ‘penghancuran’ untuk mencapai pencerahan.

Ia tahu dan paham, bukan berarti ia tidak sedih dan menderita.

Karena manusia memiliki hati. Karena Cio San adalah manusia biasa.

Kepahaman ini, hanya membuatnya sabar dan terus bertahan. Tidak membuatnya mati hati dan tak berperasaan.

Kini ia duduk dan bercanda bersama mereka. Menceritakan cerita cerita lucu yang biasanya diceritakan ayahnya kepada ibunya. Jika seorang laki-laki bisa membuat wanita tertawa, maka ia telah berhasil menarik perhatiannya.

Maka kini, seorang wanita Mo Kauw sedang berjalan ke arahnya. Cio San sedang di puncak geladak. Menikmati angin malam yang dingin. Ia ingin melihat bintang-bintang. Banyak lelaki yang suak memandangi bintang. Mereka merasa bintang mewakili cahaya mata kekasihnya. Cio San termasuk salah satunya.

“Sendirian?” kata wanita itu.

Sebua pertanyaan yang tidak perlu dijawab, tapi Cio San mengangguk sambil tersenyum.

“Aku punya arak. Maukan kau minum bersamaku?” wanita Mo Kauw adalah wanita yang rata-rata berfikiran bebas. Adab sopan santun pun kadang tidak mereka perdulikan.

Cio San paham ini. Karena itu ia tidak kaget dan tidak menolak.

Jika seorang wanita mengajak laki-laki mabuk. Itu karena ia butuh teman bicara.

“Engkau pasti merindukan kekasihmu? Siapa namanya” tanya si wanita

“Namanya Mey Lan” jawab Cio San.

Mereka duduk saling berdampingan. Bersandar di pagar kapal.

“Lalu siapa nama kekasih yang kau pikirkan juga itu?” tanya Cio San balik. Sambil menuangkan arak.

“Kau ingin tahu namanya? Kau tidak ingin tahu namaku?” tanya si wanita

“Aku sudah tahu namamu” jawab Cio San sambil tersenyum. Menyodorkan secangkir arak.

“Ooh” jawab si wanita pendek. Lalu meminum arak itu. Ia minum dengan cepat. Orang yang minum arak dengan cepat, hanya ada dua kemungkinan. Sedang bersedih, atau memang sudah ahli.

Sesudah minum ia lalu bertanya, “Siapa?”

“Kau sudah tahu namamu sendiri, kenapa tanya kepadaku?” Cio San menggoda. Wanita manapun suka digoda.

“Dasar! Ayo sungguhan. Dari mana kau tahu namaku?”

“Semua orang di sini tahu namamu, kenapa aku tidak bisa tahu namamu?”

Jika ada orang yang tidak kau kenal, mengenalmu. Kau pasti senang. Perempuan, jika ada orang laki-laki yang tahu namanya pasti juga senang.

“Sudahlah, mengaku saja kalau kau tidak tahu namaku!” ia tersenyum lalu menuangkan arak bagi dirinya sendiri. Lalu minum dengan cepat.

Minum arak memang paling nikmat dengan orang yang seperti ini. Pada awalnya Cio San selalu merasa minum arak harus dengan cara yang pelan. Tapi jika seorang lelaki sedang merindukan kekasihnya, maka ia tak akan mampu minum arak dengan pelan-pelan.

Akhirnya Cio San paham juga hal ini. Karena ia sendiri sedang merindukan Mey Lan. Dan ia sendiri menuangkan arak ke dalam mulutnya dengan cepat.

“Namaku Tio Sim Lin. Aku orang suku Miu”

Si wanita itu sendiri yang menjawab pertanyaannya. Memang jika seorang laki-laki bisa membuat wanita penasaran. Maka laki-laki itu menjadi lebih menarik di hadapan wanita.

“Aku tahu” jawab Cio San pendek.

“Kalau sudah tahu kenapa tadi tidak kau sebutkan namaku?”

“Kau sendiri sudah tahu namamu, mengapa harus kusebutkan lagi”

Mereka berdua tertawa. Cio San memang sudah tahu namanya. Ia tahu nama semua orang di kapal itu. Tanpa berkenalan pun ia tahu. Karena telinganya tidak pernah salah. Karena ia memperhatikan dan menyimak. Orang yang suka menyimak dan memperhatikan memang biasanya tahu lebih banyak.

Ia pun tahu Tio Sim Lin adalah orang suku Mui. Suku Mui adalah suku yang mendiami bagian barat Tionggoan. Gaya hidup mereka bertualang dan dekat dengan alam. Kebanyakan mereka beragama Islam. Perempuannya jauh lebih bebas dan terbuka dari pada orang Han umumnya.

“Awalnya aku hanya ingin berterima kasih kepadamu sudah menyelematkan kami tadi siang” kata Tan Sim Lin. “Tapi saat ku lihat kau duduk melamun di sini. Ku pikir lebih baik ku ajak kau minum arak. Supaya tidak kesepian. Kau nampaknya butuh teman”

“Haha. Sebenarnya aku yang kesepian atau engkau yang kesepian? Tapi itu tak penting. Ada sahabat dan ada arak, bukankah itu adalah hal paling nikmat di dunia ini?” sambil berkata begitu Cio San menuangkan lagi arak ke dalam mulutnya

“Kau benar. Ada sahabat dan ada arak. Apalagi yang perlu kau risaukan?” Tio Sim Lan pun mengangkat cangkir ke mulutnya.

Agak lama mereka terdiam, sebelum kemudian Cio San berkata,

“Eh kau belum memberitahukan siapa namanya.”

“Namanya siapa?” tanya Tio Sim Lin

“Nama kekasih hati yang kau rindukan itu” Cio San tersenyum. Untuk pertanyaan seperti ini ia harus hati-hati. Karena perempuan jika ditanyakan pertanyaan seperti ini, biasanya cuma ada dua reaksi. Yang pertama adalah senyum berbunga-bunga. Atau marah tak karuan. Untunglah Tio Sim Lin tersenyum,

“Kau pasti mengenalnya” matanya berbinar-binar dan senyumnya semakin manis.

Cio San menatapnya baik-baik. Ia sudah sangat sering melihat wajah seperti ini,

“Jangan bilang kau sedang jatuh cinta dengan Butongpay Enghiong Beng Liong?” kata Cio San

Tio Sim Lin kaget, “Bagaimana kau bisa menebak dengan tepat?”


Cio San sudah sering melihat raut muka wanita seperti itu jika mereka membicarakan Beng Liong. Cinta, kagum, namun juga sedih. Kenapa sedih? Karena wanita-wanita itu tahu Beng Liong terlalu tinggi bagi mereka.

Bila mencintai atau menyukai seseorang itu kadang begitu menyakitkan, mengapa masih banyak orang yang melakukannya?

Melihat Cio San hanya tersinyum saja, ia kembali bertanya,

“Kau kekasihnya?”

“Bukan. Tapi cepat katakan, bagaimana kau bisa tahu?”

“Semua perempuan di muka bumi ini suka Beng Liong. Semua perempuan di kolong langit ini sudah pernah mendengarkan namanya. Bahkan jika itu perempuan tuli pun, pasti sudah pernah mendengar namanya. Bukan hal aneh, jika kau pun suka padanya”

Sebenarnya Cio San ingin menenangkannya, tidak tahunya malah ia tambah marah,

“Jadi kau bilang, seluruh wanita menyukainya, dan aku tidak ada kesempatan? Begitu?”

“Siapa yang bilang begitu?” tanya Cio San heran.

“Kau tidak bilang. Tapi dari omonganmu sudah jelas tersirat seperti itu”

Cio San akhirnya diam. Ia sudah paham. Mengajak wanita berdebat, sama saja dengan mengajak harimau berkelahi.

“Kenapa kau diam saja?” tanyanya dengan pandangan mata yang tajam.

Tapi Cio San tidak tahu, jika wanita sudah mengajakmu bertengkar, maka segala cara yang kau lakukan untuk menghindarinya pun percuma.

Akhirnya ia tersenyum,

“Kalau kau terus memarahiku, aku tidak akan menceritakan sebuah rahasia Beng Liong kepadamu”
Dengan
Akhirnya ia paham, cara membuat tenang wanita yang sedang marah, adalah memberikan apa yang disukainya.

“Rahasia apa?” tanya Tio Sim Lin tertarik.

“Banyak rahasia, terutama rahasia untuk menarik hatinya. Apakah kau lupa, aku adalah mantan murid Butongpay. Setiap hari aku bertemu dan mengobrol dengannya. Bahkan ia adalah satu-satunya orang Butongpay yang baik kepadaku”

“Aku tahu kau mantan murid botongpay. Tapi aku tak tahu kau seakrab itu”

“Kami betulan akrab.” Cio San mengangguk serius.

“Pasti kau menipuku supaya aku tidak jadi marah bukan?”

“Aku memang takut kau marahi, tapi betulan aku tidak bohong. Kami memang akrab”

“Coba ceritakan semua tentang dia” tukas Tio Sim Lin. Wajahnya kena merona

Di dunia ini memang tidak ada yang paling menarik bagi perempuan selain membahas laki-laki yang disukainya.

Cio San bercerita. Tentang kebaikan-kebaikan Beng Liong. Tentang bakat silatnya yang luar biasa. Tentang makanan kesukaannya. Tentang tubuhnya yang selalu harum. Tentang kesetiakawannya. Tentang kegagahannya.

Ia tidak menambah-nambah dan mengurangi. Semuanya persis seperti yang diingat dan dikenangnya. Tio Sim Lin memperhatikan dengan senang.

“Eh ngomong-ngomong, dimana kau bertemu dengannya? “

“Aku..aku bertemu dengannya pertama kali saat ia menyelamatkan aku. Saat itu aku berkelahi dan terluka. Aku hampir mati terbunuh. Untunglah dia datang dan menolongku. Ia tetap sopan dan hormat padaku. Padahal ia tahu aku orang Mo Kauw.”

Beng Liong memang orang yang seperti itu. Tidak pernah memilih-milih kawan. Sedikit banyak ia memang mirip dengan Cio San.

“Lalu setelah itu?”

“Ia bahkan mengobatiku. Luka-lukaku cukup parah. Saat itu kami di hutan dan tak ada siapa-siapa yang mau menolongku. Ia akhirnya menemaniku selama dua hari sampai aku sembuh betul”

“Dua hari bersama Beng Liong? Jika ada perempuan yang mendengar ceritamu ini mereka akan tertawa terbahak-bahak karena tidak percaya, atau menangis meraung-raung karena iri”

“Sudah pasti” sahut Tio Sim Lin sambil tersenyum

“Dan sudah pasti setelah mendengar ceritamu, akan banyak perempuan yang berkelahi dan pura-pura terluka agar ditolong Beng Liong”

“Hahaha. Mungkin saja”

“Lalu kenapa kau masih bersedih?” tanya Cio San.

Tio Sim Lin terdiam lama. Lalu berkata,

“Kau kan tahu, harapanku kecil sekali. Jika dia pernah menolongku, sudah pasti ada lebih banyak lagi perempuan yang sudah ditolongnya, atau akan ditolongnya. Bertanya nama dan alamat saja ia tidak melakukannya.”

Cio San ikut bersimpati juga.

“Aku tidak menanyakan namamu, tapi aku tahu namamu. Bisa saja Beng Liong seperti itu”

“Tapi kau kan bisa tahu namaku, dari saudara-saudara yang lain. Kami semua mengobrol dan saling menyebut nama. Kalau mau mendengarkan sedikt, kau pasti tahu namaku. Tapi kalau dia? Kami sendirian di hutan. Ia menolongku, mengobati lukaku, bahkan menyuapiku makan. Dan ia sama sekali tidak menanyakan namaku!”

Jika laki-laki tidak menyanyakan nama perempuan, itu pasti karena dua hal. Ia tidak tertarik. Atau dia terlalu malu.

“Pastilah ia malu untuk menanyakannya. Beng Liong adalah orang yang menjaga kehormatan. Dia tidak menanyakan namamu, karena ia takut kau merasa sungkan menyebutkan namamu”

“Bagaimana ia tahu aku sungkan menyebut nama! Dia tidak mau bertanya!” Tio Sim Lin sudah mulai marah lagi.

“Kau lupa akan satu hal, nona Tio”

“Apa?”

“Ada sebagian lelaki, yang berterus terang kepada orang yang disukainya. Tetapi ada juga sebagian lelaki, yang malu kepada orang yang disukainya. Ia memilih seumur hidup menyimpan perasaannya”

“Kenapa juga harus menyimpan perasaan?”

“Karena lelaki itu tahu, jika ia mengungkapkannya, banyak hal-hal rumit yang akan terjadi.”

“Seperti?”

“Seperti permusuhan Butongpay dan Mo Kauw misalnya” jawab Cio San. Ia menenggak arak lagi. Sayangnya itu tetesan arak yang terakhir.

Tio Sim Lin terdiam.

Cio San pun terdiam. Dalam hati ia menyayangkan. Mengapa arak habis begitu cepat.

Malam gelap dan dingin. Arak mungkin hanya akan menghangatkan tubuh manusia. Tapi hanya cinta yang benar-benar bisa menghangatkan hati. Sayangnya. Karena kedua-duanya sama-sama memabukkan, kau jarang melihat kedua hal ini bersanding bersama. Biasanya orang minum arak, karena kehilangan cinta. Dan orang yang jatuh cinta melupakan arak.

Cio San mau tidak mau merasa kasihan juga dengan Tio Sim Lin.

“Apapun yang terjadi, kau tidak boleh menyerah. Jika dua orang saling mencinta, bukankah selalu ada jalan?” katanya kepada Tio Sim Lin.

“Aku suka dia, tapi dia tidak suka aku. Dari mana bisa kau bilang kami saling mencinta?”

“Dari mana juga kau tahu ia tidak suka kau? Sebelum kau benar-benar yakin atas perasaannya. Kau tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak. Bukankah jauh lebih mudah beranggapan dia juga suka padamu? Dengan begitu hatimu terasa lebih ringan. Melakukan sesuatu pun tidak diliputi kesedihan.”

“Lalu bagaimana jika ahirnya nanti aku tahu dia tidak suka aku?” tanya Tio Sim Lin

“Kalau nanti akhirnya seperti itu, yak au boleh bersedih setelah kau tahu. Tapi jika kau bersedih sekarang, bukankah kau hanya akan menyakiti hatimu setiap hari. Jika kau ingin menangis, bukankah kau masih bisa menangis esok hari? Dan bukankah esok hari pun masih ada esoknya lagi? Dan esoknya lagi? Hari esok tidak pernah selesai”

Tio Sim Lin berpikir lama.

“Kau benar. Tidak ada guna aku menangisi hal yang belum jelas benar”

“Nah. Lebih baik kita masuk ke dalam. Bertemu sahabat-sahabat. Bila kau memiliki sahabat-sahabat terbaik yang mencintaimu apa adanya, dan selalu ada saat kau butuhkan, untuk apa lagi berfikir tentang orang-orang yang mengkhianati cintamu? Orang-orang yang mneyakiti hatimu? Dan orang-orang yang tidak perduli denganmu?”

Saat mereka masuk kembali ke dalam geladak, kapal mereka berpapasan dengan sebuah perahu kecil. Awalnya Cio San tidak memperdulikan, Tapi timbul sesuatu di hatinya yang membuat ia kembali keluar. Perahu kecil itu dinahkodai seorang tukang perahu. Tapi penumpangnya, amat sangat menarik hatinya. Penumpangnya adalah si Dewa Pedang berambut merah!

“Apa yang dia lakukan di malam-malam seperti ini? Kemana tujuannya?”

Sang Dewa Pedang hanya duduk termenung memandang air. Tidak ada apa-apa di wajahnya. Tidak ada kemurungan, tidak ada kesepian, tidak ada apa-apa. Kosong.

Ingin Cio San memanggilnya, tapi ia tahu seluruh penghuni kapal ini sedang berlayar dengan sembunyi-sembunyi. Hal itu hanya akan menambah dan memperumit masalah, jika ternyata buruan si Dewa Pedang adalah beberapa anggota Mo Kauw.

Akhirnya si Dewa Pedang lewat begitu saja. Cio San hanya bisa memandang punggungnya yang tegap. Rambut belakangnya yang terurai ditiup angin.

Cio San masih berada di pinggiran kapal. Memandangi punggung sang Dewa Pedang sampai ia menghilang jauh, dan hanya menyisakan titik putih bajunya di kaki langit. Cio San masih termenung berfikir, ketika telinganya mendengarkan sesuatu di air.

Telinganya tidak pernah mengkhianatinya.

Dengan seksama ia memandang ke perairan gelap gulita itu.

Mayat!

Banyak mayat!

Segera Cio San menemui beberapa ‘nelayan’ yang bekerja di kapal untuk menjaring mayat-mayat itu. Ada 3 mayat. Tubuh mereka sudah mulai menggelembung, tapi mereka masih bisa dikenali. Cio San memang tidak mengenali mereka. Tapi hampir semua orang yang ada di kapal mengenali mereka.

Luk Hoan Tit, ketua Perkumpulan Golok Emas

Soe Sam Hong, ketua Perkumpulan Naga Lautan

Ban Lang Ma, murid terbaik Siau Lim Pay

Ada sebuah luka tusukan di dahi mereka!

Cio San memandang di kejauhan, tempat Dewa Pedang tadi menghilang.

Kali ini dunia Kangouw akan benar-benar heboh.

Tiga orang dari kalangan utama Kangouw!

“Luka ini, bukankah adalah perbuatan Dewa pedang rambut merah?” tanya Bun Tek Thian

“Iya benar” kata Cio San. Ia sedang duduk memeriksa mayat-mayat itu. Luka di dahi mereka begitu rapi. Begitu dingin. Tanpa darah. Ia memeriksa bagian tubuh yang lain. Sampai akhirnya Cio San merasa cukup dan ia hanya termenung. Dan berkata,

“Mereka bukan dibunuh si Dewa Pedang!!”


No comments:

Post a Comment