Monday, January 30, 2012

Bab 24 Lima Pedang Butongpay


Keesokan paginya, Lai Lai ramai oleh orang-orang yang membicarakan kejadian di rumah Teng Teng semalam. Kalangan Bu Lim tidak ada satu pun yang pernah mendengar nama, atau mengetahui asal usul si Baju Putih itu.

Ilmu silatnya asing. Gerakannya aneh. Tindak tanduknya pun tidak kalah aneh. Mereka yang beruntung menyaksikan kejadian semalam, seperti menjadi orang terkenal karena banyak orang yang mencari mereka untuk meminta cerita yang jelas.

Sejak pagi itu munculah julukan baru: Dewa Pedang Berambut Merah, Ang Hoat Kiam Sian

Ang Hoat Kiam Sian. Nama yang indah, tapi terasa menakutkan.

Cio San tersenyum-senyum sendiri mendengar tamu-tamu di Lai Lai mulai membicarakan si Dewa Pedang ini. Banyak dari cerita itu yang dilebih-lebihkan. Malah semakin menambah rasa penasaran orang yang mendengarkan.

Kwee Mey Lan tak urung juga penasaran mencuri-curi dengar cerita ini. Memang kehadiran si Dewa Pedang yang amat sangat tampan, tidak hanya membuat kaum bu lim heboh. Bahkan orang paham yang tidak mengerti silat pun ikut tertarik membicarakannya.

Kebanyakan membanding-bandingkan si Dewa Pedang ini dengan Beng Liong,  Ji Hau Leng sang ketua Kay Pang, dan pendekar yang baru muncul juga belakangan ini, Cio San!

Cio San tertawa dalam hati. Kini namanya sudah disejajarkan dengan orang-orang itu? Tidak dapat dipercaya.

“Beng Liong lebih tampan” kata salah seorang

“Ang Hoat Kiam Sian lebih tampan!” kata yang salah seorang lagi

“Kay Pang Pang cu (ketua Kay Pang) Ji Hau Leng lebih gagah!”

“Kira-kira apa julukan orang kepadaku ya?” batin Cio San dalam hati. Ia tidak berani berfikir aneh-aneh khwatir dianggap sinting karena tertawa sendirian.

“Eh meymey (adik) apakah kau dengar cerita-cerita para tamu?”

“Iya aku dengar San-ko (kakak San), menarik sekali orang yang berjulukan Ang Hoat Kiam Sian itu ya” sahut Mey Lan

“Sebenarnya semalam aku menyaksikan juga. Cuma tidak sampai melihat saat ia bertarung. Saat aku datang, semua musuhnya sudah mati.” Kisah Cio San

“Benarkah dia sehebat itu?”

“Hebat sih aku tidak tau meymey, tapi kalau tampan sekali, memang benar. Seumur hidup aku setahuku yang paling tampan adalah pendekar Butong Beng Liong, yang beberapa hari lalu ke sini itu, meymey. Tapi ketampanan si Dewa pedang ini agak aneh. Mungkin dia bukan keturunan Han (orang china) asli.”

“Jadi menurut San-ko, lebih tampan si Dewa Pedang itu daripada Butong enghiong Beng Liong?” tanya Mey Lan lagi.

“Menurutku mereka sama tampannya. Cuma masing-masing punya ciri khas yang berbeda. Kalo Butong enghiong Beng Liong tampannya itu tampan yang membuat hati tentram. Melihat wajahnya orang pasti langsung kagum dan merasa nyaman. Tapi melihat wajah si Dewa Pedang, orang malah  kagum dan takut”

“Kalau dibandingkan dengan enghiong Cio San yang juga sempat bikin kehebohan di sini itu?”

“Ah kalau dia, tidak setampan mereka lah. Kau tidak pernah bertemu dia ya? Bukankah pada saat dia beraksi di Lai Lai, meymey sedang pergi mencari keluarga wanita yang meninggal itu?”

“Iya San-ko. Tapi dari yang kudengar dari orang-orang, pendekar Cio San ini pun tidak kalah tampan dengan Butong enghiong Beng Liong”

“Kalau tampan sih masih jauh dari Beng Liong, hahahaha. Tapi entahlah Meymey. Aku tidak pernah memperhatikan ketampanan seorang lelaki. Apa kau pikir aku ini penyuka sesame jenis? Hahahaha”

Mereka berdua bercanda dan tertawa sambil bekerja.

Jika dua orang saling mencinta, dan juga melakukan pekerjaan yang sama, bukankah sungguh menyenangkan?

Lai Lai hari itu sangat ramai. Semua tamu membahas kemunculan si Dewa Pedang yang menghebohkan. Beberapa pendekar ternama bahkan ada yang sempat mampir ke Lai Lai hanya untuk mendengarkan cerita tentang si Dewa Pedang ini. Lai lai memang kini sudah menjadi “tempat berkumpul tidak resmi” bagi kalangan Bu-Lim.

Cio San tidak mengenal beberapa orang ini. Tapi dari langkah mereka yang sangat ringan, dari wibawa yang terpancar di wajah mereka, serta sikap orang-orang Bu Lim yang sangat menghormati mereka, bisa disimpulkan mereka ini memang pesilat dan tokoh tersohor.

Ketika masuk tengah hari, datanglah 5 orang berpakaian putih dengan jubah hitam tipis. Di punggung mereka tersandang pedang. Karena Lai lai ramai sekali, mereka terpaksa berdiri menunggu. Cio San yang kala itu sedang membantu pelayan membereskan piring bekas makan di atas meja tamu, langsung mengenal mereka.

Mereka adalah bagian dari 15 Naga Muda Butongpay. Kelima orang ini, seingat Cio San, adalah bagian 15 Naga Muda yang mempunyai kekhususan belajar ilmu Pedang Butong. Bakat mereka memang berada di situ. Entah karena tertarik dengan kejadian Ang Hoat Kiam Sian (Dewa Pedang Berambut Merah), ataukah hanya karena kebetulan mereka berada di kota ini.

Ingin Cio San menyapa mereka. Karena walau bagaimanapun, mereka pernah bersama-sama hidup di Butongsan. Bahkan pernah menjadi saudara seperguruan. Walaupun dulu perlakuan mereka kepada Cio San kurang mengenakkan. Tidak ada dendam sedikit pun di hati Cio San.

Cio San bahkan masih ingat nama-nama mereka. Yang pertama adalah Gak Siauw Hong. Orangnya berperawakan sedikit kecil. Namun lincah. Cocok sekali dengan namanya, Siauw Hong yang artinya burung phoenix kecil. Seingat Cio San, Gak Siauw Hong berkelakukan baik terhadapnya. Walaupun tidak terlalu akrab, setidaknya Siauw Hong dulu tidak pernah mengganggunya.

Yang kedua adalah Sengkoan Pit. Orang ini sudah bertubuh besar sejak dulu. Sikapnya garang, berangasan, dan tidak sabaran. Dulu waktu di Butongsan, Sengkoan Pit ini termasuk salah seorang yang suka meremehkan Cio San. Kadang-kadang ia menantang Pi-Bu (latih tanding) Cio San hanya untuk menghajar Cio San saja. Dalam hati Cio San penasaran sekali apakah kelakuan Sengkoan Pit ini masih seperti dulu, ataukah sudah berubah?

Pendekar Butong ketiga adalah Lau Han Po. Walaupun sama-sama bermarga Lau, Han Po ini tidak ada hubungan dengan Lau-Ciangbunjin, sang ketua Butongpay. Lau Han Po juga berbadan tegap seperti Sengkoan Pit. Tapi jauh lebih pendiam. Cuma saja, sekali buka mulut pasti ucapannya tidak mengenakkan. Cio San sering dicercanya sebagai anggota naga muda yang “tidak becus”. Saat di Butongsan dulu, memang setahu Cio San dia ini salah satu yang paling berbakat dalam ilmu pedang.

Kho Kam Sing adalah yang keempat. Dia ini berkulit kecoklatan. Lahir dari keluarga nelayan, sejak kecil sudah ikut ayahnya melaut. Sinat matanya mencorong, tapi terlihat tulus. Kadang-kadang dia suka menyapa Cio San juga dulu. Tapi mereka tidak pernah akrab karena Kam Sing ini sibuk berlatih sendiri. Memang terkadang Cio San merasa kehidupan di Butongsan itu lumayan berat juga bagi 15 Naga Muda. Harapan terhadap mereka terlalu besar, sehingga tekanan untuk menjadi yang terbaik, membuat kadang mereka saling bersaing sendiri-sendiri.

Yang kelima, adalah salah satu yang paling muda dalam 15 Naga Muda. Biarpun termasuk yang muda, tubuhnya tinggi dan kurus. Orang-orang di Butongsan memanggilnya si Pohon Bambu. Dia senang-senang saja. Pemuda yang bernama Lu Ting Peng memang bersifat riang gembira. Ia hampir selalu tersenyum. Tapi biarpun riang gembira, Ting Peng ini selalu serius dalam belajar silat juga. Cio San ingat mereka memang tidak terlalu akrab juga. Ting Peng ini selalu berkumpul dengan sekelompok murid-murid tertentu. Sehingga jarang bertegur sapa dengan Cio San. Apalagi sekelompok murid itu memang tidak suka padanya.

Kelima orang ini menunggu lumayan lama sampai ada pelanggan yang selesai makan dan pergi dari Lai Lai. Pelayan kemudian membersihkan meja dan mempersilahkan mereka duduk. Setelah memesan makanan dan minuman, mereka duduk diam saja dan tidak mengobrolkan apa-apa.

Cio San memutuskan untuk memasak sendiri pesanan mereka. Karena sudah sejak lama Cio San tidak turun tangan langsung memasak jika tidak benar-benar diperlukan. Sudah ada banyak tukang masak di Lai Lai dan Cio San memang berencana untuk mendidik mereka sampai mahir.

Pesanan makanan 15 Naga Muda Butongpay ini adalah masakan yang sering mereka makan di Butongsan. Mengetahui apa pesanan mereka membuat Cio San tersenyum. Dalam hati ia memutuskan untuk membuat masakan ini seenak mungkin. Memang butuh waktu sedikit lebih lama. Tapi hasilnya pasti mencengangkan.

Dan benar saja. Suapan pertama membuat mata kelima orang itu berbinar binar.

“Benar kata Liong-ko. Masakan disini enak sekali.” Kata Lu Ting Peng.

Yang lain mengangguk-angguk.

Benar dugaan Cio San. Pasti Beng Liong yang menceritakan restoran ini kepada orang-orang di Butongsan. Ia lalu ke ruang depan, dan memberanikan diri menyapa mereka,

“Selamat siang tuan-tuan, nama saya A San, saya adalah koki disini. Boleh saya tahu pendapat tuan-tuan tentang masakan kami?”

“Hmmm…enak sekali A San. Masakanmu sungguh hebat”  Gak Siauw Hong memuji. Yang lain ikut manggut-manggut.

“Ah baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak tuan-tuan. Eh kalau boleh tahu tuan tuan ini berasal dari mana?” tanya Cio San lagi.

“Kami adalah Butongpay Ngo Kiam (5 Pedang Butongpay)” kali ini Lu Ting Peng yang menjawab.

“Butongpay? Wah jadi tuan-tuan ini adalah para enghiong dari Butongpay? Sebuah kehormatan bagi Lai lai bahwa para enghiong sudi mampir kemari”  Ia lalu bersoja, sambil melanjutkan, “Beberapa waktu yang lalu Butong enghiong Beng Liong juga mampir kemari. Serta ada beberapa murid Butongpay yang datang juga, sayang saya tidak sempat berkenalan dengan mereka”

“Iya kami tahu. Bahkan Beng Liong-ko sendiri yang menceritakan tentang restoran ini kepada kami. Dan ceritanya memang tidak salah. Tempat ini nyaman. Masakannya sangat enak. Dan tentunya ramai”

Yang dimaksud dengan ramai tentunya, ramai oleh orang Kang-ouw. Dari sini berkembang berbagai cerita dan kabar yang berkembang di dunia Kang-ouw. Itulah kenapa banyak orang Bu Lim rajin kesini. Mereka tidak ingin tertinggal berita.

Cio San meminta diri.

Dari obrolan singkat dia bisa melihat bahwa kelima orang ini sifatnya masih belum begitu berubah. Ia hanya ingin tahu saja. Tidak ada maksud sedikit pun untuk membalas perlakuan mereka. Bahkan jika bisa, ia malah ingin memperkenalkan siapa ia sebenarnya. Memeluk hangat mereka dan bertanya tentang kabar perguruan.

Kadang-kadang kerinduan bisa membuat orang lupa akan sakit hatinya.
Mengalami berbagai hal semacam ini kadang membuat Cio San berfikir harus ia mulai dari mana langkah-langkahnya. Apakah dia harus tetap diam di Lai Lai, ataukah memulai petualangan menyelediki segala kejadian. Meninggalkan Lai lai sungguh berat, karena terus terang dia berat meninggalkan Mey Lan. Tapi ada banyak pertanyaan yang harus segera dicari jawabannya, dan tak mungkin bisa ditemukan dengan hanya duduk menunggu di Lai-Lai.

Ia harus melakukan sesuatu.

Laki-laki memang jika sudah menemukan tambatan hati, terkadang susah untuk melakukan banyak hal. Bahkan impiannya sendiri ia lupakan jika sudah bertemu dengan wanita yang disukainya. Ini berbeda dengan perempuan. Mereka lebih suka meninggalkan cintanya demi impiannya.

Cerita begini siapapun mengalami tapi jarang ada yang menyadari.

Menyadari pun sudah terlambat.

Cio San memang tidak menyadari ini. Tapi ia sendiri berfikir menggunakan otaknya. Tidak mengikuti dorongan hatinya belaka. Oleh sebab itu ia memutuskan untuk mengambil pilihan kedua. Pergi dari Lai Lai. Entah bagaimana ia menjelaskan ini kepada Mey Lan dan ayahnya. Tapi sejak awal dia memang tidak berniat untuk menetap di sana. Sebab itulah mengapa ia ‘menularkan’ semua ilmu masaknya kepada koki-koki yang lain.

Ia merasa semua tugasnya telah selesai di Lai lai. Ia telah membuat Lai lai mampu berdiri tegak. Bahkan juga mendapatkan sedikit nama. Di sana ia telah mendapat banyak kabar perkembangan dunia Kang Ouw. Sekarang yang perlu ia lakukan adalah bertindak.

Entah dari mana memulai. Harus ada langkah yang diambil.

Maka malam itu, Cio San sudah membereskan beberapa barang-barangnya. Beberapa helai baju. Dan juga baju yang dipakainya saat menjadi “Cio San” yang sebenarnya. Baju itu ia simpan baik-baik di tempat tersembunyi. Kini semua miliknya telah rapih tersimpan di dalam buntalan kecilnya. Uang tabungan hasil bekerjanya selama ini pun telah ia masukkan ke dalam kantong khusus. Sebagian ia sisakan untuk ia berikan kepada Mey Lan, dan beberapa pelayan.

Kwee Lai, si pemilik restoran sedang menghitung-hitung pemasukan di meja kerjanya. Walaupun restoran sudah tutup dari tadi. Pekerjaan memang tidak serta merta selesai. Begitu melihat Cio San datang, segera Kwee Lai tersenyum dan berkata, “Hey, A San, pemasukan hari ini sungguh bagus. Ini sampai sekarang belum selesai ku hitung”

Sambil tersenyum Cio San berkata, “Syukurlah tuan. Koki-koki yang sekarang masakannya sudah sangat lezat. Saya saja yang mengajarai mereka malah terkagum-kagum”

“Eh,..duduklah. Kenapa kau masih seperti dulu? Terlalu sopan dan terlalu sungkan. Kalau dipikir-pikir seharusnya aku yang sopan dan sungkan terhadapmu. Ayo duduklah”

Cio San kemudian duduk dengan sopan. Ia memang orang yang sopan. Kepada siapa saja ia sopan. Melihat Cio San duduk saja dan lama tak berkata apa-apa, akhirnya Kwee Lai bertanya, “Ada apa A San? Ada yang ingin kau sampaikan?”

Meskipun agak ragu, Cio San akhirnya berani berkata,

“Tuan Kwee, sebenarnya saya sungkan mengatakan ini, tapi saya masih ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan. Sehingga dengan berat hati saya harus meninggalkan Lai Lai”

Kwee Lai biarpun tidak kaget, setidaknya ya berubah juga raut wajahnya.

“Sebenarnya aku sudah paham sejak awal bahwa suatu hari kau akan pergi. Tapi, apakah keputusanmu itu sudah kau bicarakan dengan Mey Lan?” tanya Kwee Lai

Belum sempat Cio San bilang “belum”, Mey Lan sudah menghambur dari belakang,

“Koko, apa maksudmu bilang begitu?”

Cio San tersenyum. Sejak dulu dia sudah tahu. Cara menghadapi wanita yang sedang marah adalah dengan diam. Mey Lan memang sedang marah. Tidak ada perempuan yang bahagia jika akan ditinggal pergi lelakinya.

“Koko mau pergi kemana?” Dahi dan alis matanya merengut. Jika ada perempuan memandangmu seperti itu, lebih baik segera lari atau minta ampun.

Tapi Cio San tidak melakukannya.

“Meymey duduk dululah. Mari kita bicarakan” katanya.

“Kalau aku tadi tidak kebetulan mendengar percakapan kau dan ayah, apakah kau akan mengajakku duduk dan bicara baik-baik” tanya Mey Lan masih dengan raut muka yang sama. Tapi dia sudah duduk.

Selain tersenyum, cara apa lagi yang bisa kau lakukan menghadapi perempuan yang sedang marah?

“Meymey, aku memang ingin membicarakannya dengan dirimu. Tapi bukankah aku disini bekerja sebagai pegawai tuan Kwee? Bukankah sudah seharusnya aku membicarakan dulu dengan beliau? Kata orang bijak seharusnya kita mengutamakan urusan pekerjaan dulu baru urusan pribadi. Meymey bisa mengerti?”

Meminta perempuan mengerti sesuatu, rasanya seperti minta harimau menjadi domba.

“Tapi bukankah kepergianmu ini karena urusan pribadi, San-ko? Jangan menggunakan alasan pekerjaan. Jika kau memang mau meninggalkan kami. Ya pergi saja. Tidak usah pakai alasan macam-macam” kata Mey Lan ketus sambil membanting kaki.

Melihat Cio San tidak berkata apa-apa, Mey lan malah tambah merajuk,

“Ya sudah kalau mau pergi ya pergi saja”

Ia lalu berdiri dari duduknya dan menuju kamarnya. Terdengar suara bantingan pintu.

Cio San dan Kwee Lai hanya bisa saling bertatapan. Lalu Kwee Lai berkata,

“Biarkan dulu saja. Ia mungkin sedang marah karena mendengar kau akan pergi. Jika marahnya sudah reda, ajak dia bicara baik-baik. Eh kapan kau akan pergi A San?”

“Paling lambat besok siang tuan. Saya mungkin akan membantu dulu pekerjaan besok. Jika sudah selesai, baru saya akan berangkat” jawabnya

“Ah tidak perlulah kau mengerjakan tetek bengek dapur. Cukup perhatikan saja segala keperluanmu, A San. Eh apakah sangu mu sudah cukup?” Sambil berkata begitu ia merogoh uang dari laci.

“Tabungan saya cukup banyak tuan”

“Ah sudahlah ambil ini sebagai tambahan. Dan jangan membantah. Haha, ku tau kau pasti menolak A San. Terimalah. Sekedar rasa terima kasihku atas segala yang kau lakukan di sini selama ini.”

Jika orang sudah memaksa, maka tak enak rasanya menolak. Cio San menerima uang itu. Jumlahnya sangat banyak. Entah mau dia apakan uang itu.

Dengan sopan ia lalu meminta diri. Cio San sebenarnya ingin berbicara dengan Mey Lan saat itu, tapi akhirnya memutuskan untuk menemui Mey Lan besok paginya saja.

No comments:

Post a Comment