Sunday, January 15, 2012

Bab 19 Sang Nyonya Besar


Cio San tidak menghilang.

Dengan satu kali loncatan. Ia telah tiba di atas atap Lai Lai. Lalu kemudian turun ke bagian belakang restoran itu. Lalu masuk ke kamarnya. Semua orang sedang sibuk di bagian depan, sehingga tak seorang pun yang tau jika ia telah masuk ke kamarnya. Berganti pakaian dan memasang topengnya kembali.

Tubuhnya kini tidak lagi tegap seperti tadi. Melainkan sedikit bungkuk. Rambutnya sudah diikat pula. Kini ia duduk saja di samping mayat gadis yang tadi meninggal diatas tempat tidurnya. Menunggu Mey Lan datang. Dan tak berapa lama Mey Lan memang sudah datang. Tidak datang sendirian melainkan bersama beberapa orang. Rupanya orang-orang ini mungkin keluarganya.

Cio San mempersilahkan mereka masuk. Tak berapa lama terdengarlah tangisan. Nampaknya memang benar gadis itu bagian keluarga mereka. Cio San tak tega berada di situ, ia segera ke halaman belakang. Dalam kepalanya berkecamuk berbagai macam pikiran.

Apakah yang dilakukannya ini sudah benar?
Mengapa ia tadi tidak sigap menolong gadis itu?

Apa yang terjadi beberapa saat yang lalu memang membawa tantangan sendiri baginya. Ia menikmati ‘peran’ nya sebagai Cio San. Ia menikmati bersikap gagah. Tapi saat semua sudah usai, kini yang ada hanya tangisan keluarga yang ditinggalkan. Mengingat ini, memang rasa-rasanya ia ingin membunuh saja sepasang iblis suami istri itu.

Tapi Cio San memang tidak suka membunuh orang. Ia selalu teringat pesan ayahnya. Melakukan kekerasan terhadap orang lain saja ia tidak tega. Apalagi membunuh. Mengapa orang tidak bisa duduk dan membicarakan segala permasalahan baik-baik? Mengapa semua masalah harus diselesaikan dengan air mata dan pertumpahan darah?

Pertanyaan ini sejak jaman dahulu kala, tidak pernah bisa terjawab.

Cio San masih terlalu hijau. Walaupun ilmu silat, dan otaknya cemerlang. Tetap saja tidak bisa menemukan jawabannya.

Hari ini begitu banyak pelajaran yang ditemuinya. Bahwa waspada saja tidak cukup. Sikap siaga dan bersikap harus dilatihnya. Ia harus selalu menggunakan akal dan tenaganya untuk mencegah hal hal ini terulang lagi. Jika ia bisa menggunakan akalnya agar dapat membaca keadaan lebih jelas. Tentunya ia bisa mencegah agar gadis itu tidak meninggal.

Mulai pahamlah ia bahwa manusia tidak seperti kelihatannya. Ada orang yang terlihat lemah lembut, ada orang yang kelihatan acuh tak acuh, ternyata menyimpan banyak rahasia. Sepasang iblis tadi terlihat seperti pasangan suami istri biasa. Siapa tahu mereka ternyata penjelmaan iblis.

Cio San terus mengingatkan dirinya sendiri untuk selalu waspada dan sigap dengan segala situasi. Hari ini adalah pelajaran berharga baginya. Maka ia bangkit dan berdiri. Walaupun beban dalam dadanya tidak bisa terangkat seluruhnya. Setidaknya semangat baru untuk mencegah kejadian seperti ini terulang lagi, membuatnya jauh lebih kuat.

Ia lalu membantu keluarga yang berduka itu sebisa mungkin. Sampai mereka pulang membawa jenazah gadis yang malang itu. Kwee Lai, Mey Lan, dan pegawai yang lain juga ikut membantu keluarga itu. Padahal mereka juga dipusingkan dengan keadaan Lai Lai yang hancur berantakan.

Terkadang membantu orang lain yang sedang tertimpa masalah, membuat masalahmu sendiri terasa ringan.

Lai Lai tutup lebih siang pada hari itu. Kwee Lai dan seluruh penghuni mendapat kunjungan dari petugas kota. Mereka diberi pertanyaan macam-macam seputar kejadian tadi. Sepasang suami istri iblis tadi sudah dimasukkan ke dalam penjara. Adipati akan menurunkan hukuman beberapa hari lagi di pengadilan. Legalah hati mereka semua yang ada di situ.

Malamnya seluruh penghuni Lai Lai merapatkan apa yang harus dilakukan. Kwee Lai mengatakan bahwa dana untuk perbaikan memang ada, tapi jelas mereka menderita banyak kerugian. Walaupun kejadian ini tidak terlalu memukul keuangan Lai Lai, setidaknya cukup menggoncangkan hatinya juga. Mereka memutuskan untuk menutup Lai Lai selama beberapa hari, untuk memperbaiki segala kerusakan.

Tepat ketika rapat ditutup, seseorang mengetuk pintu depan.

“Siapa?” Tanya Kwee Lai

“Selamat malam. Salam hormat. Saya utusan dari perusahaan dagang Kim Hai (Lautan Emas). Mohan ijin untuk bertemu Kwee Loya (Tuan Kwee)” sahur suara dari luar.

Cio San bergegas membukakan pintu.

Orang yang datang tadi punya penampilan rapi. Wajahnya tampan walaupun sudah cukup umur.

“Perkenalkan nama saya Huan Biau. Saya membawa pesan dari Khu-Hujin (nyonya besar Khu) kepada Kwee Loya (Tuan Kwee)” kata si orang tadi.

“Mari silahkan masuk, saya Kwee Lai” kata Kwee Lai sambil tersenyum ramah.

Semua orang di situ tahu apa itu perusahaan dagang Kim Hai, dan siapa itu Khu Hujin.

“Ada pesan apa dari Khu Hujin?” Tanya Kwee Lai.

“Hujin berpesan bahwa semua kerugian yang ada di restoran anda akan kami ganti. Mulai besok, kami akan mengirimkan beberapa pekerja dan bahan-bahan bangunan. Hujin juga mengucapkan permintaan maaf sebesar-besarnya, karena perbuatan cucunya yang berbuat onar di sini, Kwee Loya”

“Ah pertengkaran kecil begini saja, Khu Hujin sampai turun tangan langsung? Aku si tua begini terlalu diberi muka oleh Khu-Hujin. Sudah tidak perlu diganti. Jangan sampai membuat repot Khu Hujin”

“Tidak apa-apa Loya. Khu Hujin memaksa Loya harus menerima permintaan maafnya. Jika ada waktu Hujin sendiri yang akan datang berkunjung”

“Waah, sebuah kehormatan besar jika beliau berkunjung. Harap beri kabar sebelum beliau datang, agar kami bisa menyiapkan masakan terbaik bagi beliau” kata Kwee Lai, lanjutnya,

“Iya, kebetulan beliau memang ada rencana ke kota ini. Ada urusan dagang yang harus beliau selesaikan sendiri. Sekarang beliau masih di kediamannya di kota Tho Hoa.

“Tuan Huan silahkan istirahat sebentar dulu. Kami siapkan arak, dan beberapa pengisi perut”

“Terima kasih Loya, tapi saya harus segera pulang untuk mempersiapkan pekerjaan besok. Sebenarnya sukar sekali saya menolak tawaran ini, mengingat masakan disini sudah terkenal sampai ke luar kota. Tapi apa daya, banyak pekerjaan menumpuk” kata Huan Bian menolak dengan halus

“Ehh..kalau begitu mau kah tuan Huan membawa beberapa guci arak? Sekedar sebagai teman istrirahat saat bekerja. Mungkin bisa diminum bersama-sama saudara-saudara disana” kata Kwee Lai

Belum sempat Huan Bian menolak, Mey Lan sudah muncul dengan beberapa guci arak. Ia tak dapat menolak. Akhirnya setelah memberi salam, segera ia mohon diri.

Setelah orang itu pulang, Cio San bertanya kepada Kwee Lai,

“Loya, berapa jarak antara kota ini dengan kota Tho Hoa?”

“Perjalanan memakai kuda sekitar sehari semalam, ada apa?”

“Ah tidak apa-apa” jawab Cio San sambil tersenyum.

Dalam hati ia berkata, “Orang suruhannya saja punya langkah kaki yang demikian ringan. Aku baru tahu kehadirannya saat ia sudah 10 langkah di pintu depan. Kejadian di kota lain yang jaraknya jauh saja pun, ia tahu begitu cepat. Bahkan sudah mengirim orang untuk mengurusi urusannya. Bisa dibayangkan betapa berpengaruhnya Khu Hujin ini”

Malam itu Cio San tidur dengan berbagai macam pikiran. Tapi entah kenapa ia tidak menutup jendela kamarnya.



Pagi-pagi sekali orang-orang dari Kim Hai sudah tiba. Mereka datang sekitar sepuluh orang. Dengan berbagai macam peralatan dan perkakas. Orang-orang ini memang nampaknya pekerja bangunan yang pekerjaan sehari-harinya mengurusi bangunan. Maka tak heran jika sampai tengah hari saja, Lai Lai sudah terlihat begitu rapid an bersih seperti semula.

Meja dan kursi yang rusak sudah diganti baru. Tembok yang pecah sudah diperbaiki. Goresan-goresan karena pertempuran kemarin sudah terhapus semuanya. Cio San tidak membantu. Ia memang tidak diperbolehkan membantu oleh orang-orang ini. Ia juga paham, justru kalau membantu bisa-bisa pekerjaannya jadi molor lebih lama.

Maka tengah hari, ketika jam makan siang, seluruh pekerjaan sudah selesai. Pihak Lai Lai menyiapkan makanan yang enak bagi pihak Kim Hai. Hian Bian yang datang semalam, juga hadir memenuhi janjinya mencicipi masakan di Lai Lai.

Mereka makan dan mengobrol dengan santai, Cio San iseng-iseng  bertanya,

“Tuan Huan, kemana nona Khu setelah kejadian kemarin?”

“Setelah menyerahkan dua iblis itu, Khu Siocia (nona Khu) langsung pulang ke Tho Hoa.” Jawan Huan Bian.

“Oh, pantas saya tidak melihatnya lagi setelah itu. Nona Khu gagah sekali kemarin. Dengan berani ia melawan si wanita iblis”

“Nona kami memang begitu perangainya. Sejak kecil sudah suka ilmu silat. Dia bahakn sudah dua tahun ini berkelana sendirian. Eh, saudara A San, apakah kau tahu siapa pendekar gagah yang bernama Cio San itu? Ia muncul tiba-tiba dan menghilang tiba-tiba. Menurut cerita Khu siocia, ilmu silatnya sungguh hebat”

Cio San tersenyum dan menjawab,

“Saya hanya melihatnya saat dia berbicara saja. Kalau sudah bergerak, saya cuma melihat bayangan saja. Pertarungan dahsyat kata orang-orang bagi saya cuma bayangan-bayangan berkelebatan saja”

Huan Bian mengangguk-anggukan kepala. “Memang menurut nona kami, pemuda bernama Cio San itu sakti sekali. Sayang asal usulnya tidak diketahui orang. Kalau tidak, kami pasti akan menemuinya dan mengucapkan terima kasih yang amat dalam”

Mereka mengobrol cukup lama lalu kemudian Huan Bian dan anak buahnya meminta diri.

Tak berapa lama, orang orang Hai Liong Pang (Perkumpulan Naga Lautan) yang menguasai daerah dermaga kota Lau Ya datang berkunjung.

“Kami dengar ada keributan di sini kemarin ya?” Tanya salah satu dari mereka

“Iya. Tapi semua urusan sudah dibereskan Khu Hujin dari perusahan dagang Kim Hai” jawab Cio San. Ia sengaja menggunakan nama Khu Hujin untuk melihat reaksi orang-orang Hai Liong Pang.

Benar saja. Mendengar nama Khu Hujin disebut, wajah mereka berubah.

“Apa hubungan Khu Hujin dengan keramaian kemarin?” Tanya salah seorang

“Kebetulan yang bertempur dengan sepasang iblis kemarin adalah cucu Khu Hujin, namanya nona Khu Ling Ling” jawab Cio San.

“Kudengar ada pendekar muda lain yang turun tangan juga. Siapa namanya?”

“Sejauh yang hamba tau, namanya Cio San” jawab Cio San pelan

“Siapa dia? Apakah ada hubungan dengan restoran ini?”

“Kami semua di Lai Lai tidak kenal dengannya dan baru sekali itu melihatnya. Tampaknya dia kebetulan sedang mau makan di sini. Lalu terjadi keributan itu”

“Baiklah. Kalau begitu. Jika ada apa-apa, segera kalian lapor kepada kami. Mungkin Hai Liong Pang bisa membantu” kata salah seorang.

“Terima kasih sekali, tuan tuan dari Hai Liong Pang, sudah sudi untuk memberi muka kepada kami. Tanpa perkumpulan tuan-tuan, kota ini tentu tidak aman” Cio San berkata sambil bungkuk-bungkuk memberi hormat.

Orang-orang itu tertawa senang lalu pergi.

Cio San menduga, akan banyak orang yang akan datang menanyakan permasalahan kemarin. Mereka tentu saja tidak tertarik dengan pertempuran kemarin. Nama Cio San lah yang menarik perhatian mereka. Dan betul saja, berturut-turut orang dari berbagai macam perkumpulan dan partai semua datang. Dengan alasan memesan makan dan minum. Mereka mulai bertanya hal-hal yang sama. Tentu saja dijawab yang sama pula oleh Cio San dan penghuni Lai Lai.

Rupanya orang Kang Ouw sudah mulai mendengar kabar kemunculan pemuda sakti bernama Cio San. Dari umurnya, ciri-cirinya, dan kesaktiannya, bisa jadi inilah Cio San murid pelarian BuTong pay yang buron sambil membawa lari kitab sakti.

Di dunia ini, tidak ada yang menarik perhatian kalangan bu lim (persilatan) selain kitab sakti. Selain harta karun, dan senjata pusaka tentunya.

Sejak awal, Cio San memang telah memikirkan segala keputusan yang diambilnya. Ia telah memilih menggunakan nama aslinya, saat pertempuran kemarin. Pikiran yang timbul sekejap saja, namun telah ia pikirkan baik-baik. Tidak mudah untuk memikirkan segala sesuatu dengan matang dalam waktu singkat, tapi otak Cio San memang sejak dulu cemerlang.

Ia sengaja menggunakan nama itu untung memancing reaksi orang-orang kang ouw. Apakah mereka masih mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu itu? Apakah mereka masih mengincar kitab sakti itu?

Dari sedikit keramaian itu, Cio San bisa mengambil peluang. Ia bisa mulai menyelidiki rahasia segala kejadian ini.

Karena itu Cio San merasa bersemangat. Begitu banyak kejadian aneh yang terjadi seputar dirinya, entah kenapa ia merasa semua saling berkaitan.

Dan memang sesuai dugaannya. Semakin banyak orang yang datang ke Lai Lai pada hari hari berikutnya. Pihak lai Lai bahkan harus mempekerjakan tenaga koki dan pelayan tambahan. Saking ramainya sampai ada yang bersedia duduk dan makan di halaman depan dan belakang.

Rupanya nama Cio San ini sangat menarik bagi orang. Entah Cio San harus tertawa gembira atau menangis sedih.

Rombongan yang ditunggu-tunggunya datang juga. Yaitu rombongan dari Bu Tong pay. Ada 5 orang yang datang, Cio San mengenal mereka semua. Kelima orang ini adalah anggota 15 naga muda. Ia sempat mengobrol dengan mereka. Tentu saja obrolannya seputar pendekar muda misterius bernama Cio San. Mereka bertanya tentang ciri-ciri “pendekar muda” ini. Semua ini dijawab dengan jujur oleh Cio San.

Lima hari setelah kejadian pertempuran itu, datanglah juga tamu yang dinanti-nanti. Siapa lagi kalau bukan Khu Hujin. Beliau bersama rombongan datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Untung saja datangnya di sore hari ketika Lai Lai tidak begitu ramai. Tetap saja penghuni Lai Lai kelimpungan juga. Khu Hujin datang bersama beberapa pendampingnya. Ada yang laki-laki, ada yang perempuan. Dari langkah kakinya saja, Cio San tahu ilmu silat mereka tidak bisa dubuat main-main.

Cio San ketika pertama kali melihat Khu Hujin teramat kaget, Nyonya tua yang merupakan salah satu orang paling kaya di Tionggoan ini tidak terlihat tua sama sekali. Kata orang umurnya sekitar 70 sampai 80an. Tapi nyonya yang duduk makan dengan tenang di hadapannya sekarang ini terlihat baru berumur 40 sampai 50 tahunan. Jika tidak melihat sendiri, Cio San tidak akan mau percaya.



“Ah, engkau kah koki muda yang hebat itu? Kabar yang kudengar selama ini memang benar rupanya. Seorang koki muda berbakat yang masakannya terkenal sampai ke kota-kota sebelah” puji Khu Hujin.

“Hujin terlalu memuji. Siauw jin (sebutan untuk merendahkan diri sendiri) hanya memasak sekenanya saja. Amat beruntung jika Khu Hujin berkenan mencicipinya” kata Cio San terbungkuk bungkuk.

“Kau belajar masak di mana?” Tanya Khu Hujin

“Leluhur siaw jin sejak dahulu memang tukang masak. Ada yang sempat buka restoran juga.”

“Oh bagus. Makananmu enak sekali. Sekali waktu bolehkah aku mengundangmu memasak di rumahku? Tapi untuk itu aku harus minta ijin dulu kepada Kwee Loya”

Kwee Loya yang berdiri di samping Cio San menyahut,

“Tentu saja boleh hujin. Mana mungkin siau ceng menolak permintaan hujin” rupanya ia ketularan Cio San, berbicara sambil menunduk-nunduk.

Khu hujin mengangguk-angguk senang, lalu bertanya

“Siapa namanu tadi, anak muda? Maafkan aku yang sudah tua, susah sekali mengingat nama orang” Tanya Khu Hujin kepada Cio San

“Nama siau jin, A San, she (marga) Tan” jawab Cio San.

Ia memilih marga Tan, karena marga itulah marga yang paling umum di tionggoan. Ada jutaan orang bermarga Tan.

Mereka masih mengobrol sebentar. Cio San dan Kwee Lai sambil berdiri. Khu hujin sambil duduk menikmati sajian makanan dan minuman. Makanan dan minuman ini adalah sajian terbaik buatan Cio San. Untuk orang seperti Khu Hujin, semua memang harus yang terbaik. Bahkan posisi duduknya saja, adalah posisi terbaik di bangunan restoran Lai Lai ini. Tepat ditengah-tengah ruangan.

Ketika selesai menikmati hidangan, Khu Hujin berkata,

“Terus terang, sudah lama sekali aku tidak pernah makanan se enak ini sejak aku masih muda sekali.  Dulu sekali aku pernah punya kenalan yang pintar sekali masaknya. Sayang dia sudah meninggal. Terakhir ku dengar ia dikuburkan di Butong san”

Khu hujin terdiam sebentar, pandangan matanya menerawang.

“Ah sudahlah. Cerita lama tidak boleh dikenang-kenang” katanya sambil tersenyum. “Entahlah kenapa masakan ini mengingatkan aku kepada sahabatku itu”

Tak berapa lama kemudian, rombongan Khu Hujin meminta diri untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Pengunjung pun sudah mulai ramai.
Cio San sebenarnya terhenyak dari tadi. Dia tahu bahwa yang dimaksud Khu Hujin adalah A Liang. Guru sekaligus sahabatnya. Di dunia ini tidak ada orang lain yang pintar masak, dan dikuburkan di Butongsan selain Kam Ki Hsiang, alias A Liang.

Sampai malam, Cio San tidak dapat bekerja dengan tenang. Pikirannya masih menerawang memikirkan cerita Khu Hujin tadi. Apa yang harus dilakukannya?

Akhirnya dia memutuskan untuk melakukan sesuatu.

No comments:

Post a Comment