Saturday, January 7, 2012

Bab 15 Pekerjaan Yang Disukai


Cio San tak bisa tidur sampai pagi. Pikirannya berputar untuk memecahkan permasalahan ini. Mengapa banyak sekali kejadian aneh? Mengapa banyak sekali orang yang membayang-bayangi dirinya?. Siapa orang yang meberikannya baju dan mengajarkannya cara membuat topeng? Siapa kakek yang memberikannya sepatu? Apakah MEREKA ORANG YANG SAMA?

Siapa dua orang yang menguntitnya? Apa mau mereka? Mengapa mereka dibunuh? Siapa pembunuhnya?

Berbagai macam pertanyaan dalam benaknya membuat ia tak bisa tidur. Berusaha sedemikian keras pun, ia tidak sanggup memecahkan jawabannya. Akhirnya Cio San memutuskan untuk tidur. Walaupun cahaya merah baru saja timbul di ufuk langit, dan kehidupan pagi sudah akan dimulai, Cio San memutuskan untuk tidur. Ia harus mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya. Perjalanan hidup yang penuh bahaya dan rahasia baru saja akan ia mulai. Ia harus mengumpulkan tenaga, dan menjernihkan pikirannya/ Ia telah memutuskan, apapun yang terjadi pada dirinya, ia akan tidur dengan pulas. Dan Cio San pun tertidur. Dengan tersenyum

Tengah hari baru Cio San terbangun. Tubuhnya terasa sangat segar. Ia lalu bangun, membuka jendela dan membiarkan matahari masuk. Cerah sekali hari itu. Suara orang ramai di luar menjadi suara hiburan baginya. Menyenangkan sekali mendengarkan keramaian setelah hidup sekian lama di dalam kesunyian,

Begitu membuka pintu kamarnya, ternyata sudah ada sarapan yang sudah disiapkan di meja depan pintunya. Tanpa ragu Cio San membawanya masuk, dan mulai menghabiskannya. Ia tidak perduli apakah makanan itu beracun atau tidak. Karena ia yakin, jika orang yang membuntutinya ingin membunuhnya, pasti bisa ia lakukan sejak dari lama, atau sejak Cio San tertidur. Ia malah menganggap orang yang membuntutinya itu adalah sejenis malaikat penjaga bagi dirinya.

Setelah makan, Cio San mulai meracik obat yang semalam dia beli. Ini sejenis obat untuk memulihkan tenaga yang ia baca dari buku resep A Liang. Tidak sampai menunggu lama, khasiat obat itu bekerja cepat sekali. Cio San tidak paham bahwa bukan obat itu yang bekerja dengan cepat, namun tubuhnya lah yang mampu sembuh dan bekerja dengan cepat. Karena tubuh Cio San bukanlah tubuhnya yang dulu yang sering sakit-sakitan. Di dunia ini, mungkin tubuh Cio San lah yang paling sehat, dan paling aneh kerjanya.

Dia lalu melatih segala gerakan-gerakan silat yang dipelajarinya, dan diciptakannya di dalam gua,

“Heran, kenapa setiap aku melatih gerakan-gerakan ini, rasanya seperti kaku dan kurang mengalir? Apakah karena aku salah menghafal, ataukah ada rahasia yang belum kupahami?” pikir Cio San dalam hati. Walaupun begitu ia tetap melakukan latihan sampai selesai.

Begitu latihan selesai, Cio San mandi dan membersihkan diri. Tubuhnya terasa sangat segar dan penuh kekuatan. Tampaknya tenaga dalamnya sudah pulih seluruhnya. Dengan tubuh yang segar, dan pikiran yang jernih Cio San kini telah siap menghadapi dunia.

Topeng kulit ular selalu dipakainya untuk menutup wajahnya.

“Hmmm, walaupun wajahku terlihat aneh dan pucat, topeng ini nyaman sekali dipakai. Orang tak akan bisa mengetahui bahwa ini adalah sebuah topeng.”

Begitu semua selesai, Cio San memutuskan untuk jalan-jalan. Walaupun ia belum bisa memecahkan rahasia-rahasia yang terjadi di sekelilingnya, ia tak menganggapnya sebagai beban lagi. “Apa yang terjadi, terjadilah.” Begitu pikirnya. Masalah akan selesai, jika saatnya tiba. Berpikir begitu, serasa langkahnya menjadi ringan, dunianya cerah, dan hatinya lapang.

Kota Liu Ya sama indahnya di waktu malam dan siang. Kota ini walau ramai, tapi bersih sekali. Belum pernah Cio San melihat kota sebersih ini, bahkan kotaraja pun mungkin kalah bersih. Walaupun tengah hari, kota ini terasa sejuk karena banyak pohon rindang.

Saat berjalan-jalan, ia melihat beberapa anggota Hai Liong Pang yang lewat. Wajah mereka sedikit tegang. Karena tertarik, Cio San memilih untuk membuntuti mereka. Seumur hidup Cio San belum pernah membuntuti orang. Pengalaman pertama ini membuatnya merasa bersemangat, dan berharap mendapatkan pelajaran dari pengalaman pertama ini.

Cio San mengerahkan konsentrasi pada pendengarannya yang sangat tajam itu,

“Siapa dua mayat ditemukan di gang sempit dekat toko Fuk Cay itu? Mereka berpakaian seperti perkumpulan kita, tapi bukan anggota kita” kata salah seorang

“Itulah makanya tadi kita semua dikumpulkan dan dihitung jumlahnya, lengkap 430 orang. Tidak berkurang satupun. Lalu mayat dua orang itu siapa, ya?”

“Menurutku mungkin itu orang yang ingin menyamar saja menjadi anggota kita, supaya bisa mengambil keuntungan menggunakan nama kita”

“Iya, ketua juga bilang begitu, makanya kita disuruh membuka mata dan telinga, supaya bisa lihat kalau-kalau ada yang mencurigakan.”

Mendengar ini Cio San merasa gembira, bahwa dugaannya semalam benar. Kedua orang yang mati itu bukan anggota Hai Liong Pang.

Cio San masih menguntit mereka beberapa lama, dengan hati-hati. Tapi ketika ia merasa bahwa apa yang diomongkan anggota-anggota Hai Liong Pang itu sudah tidak menarik hatinya lagi, ia memutuskan untuk berhenti menguntit mereka.

Ia kini berjalan-jalan saja sekenanya mengelilingi pusat kota. Sebagian jalan telah dihafalnya, ia memilih untuk mencari jalan yang belum pernah dilewatinya, Tak lama berjalan, mata Cio San tertumbuk kepada sebuah bangunan yang lumayan menarik hatinya. Bangunan itu terlihat kumuh, tua, dan tak terawat. Beda sekali dengan bangunan sekelilingnya yang megah, rapi, dan terawatt.

Setelah didekati, ternyata bangunan itu adalah sebuah restoran tempat makan. Tapi sepi sekali. Di dalamnya hanya ada dua orang. Pelayan yang menunggu di dekat pintu, dan seorang lagi yang duduk di balik meja kasir.

Karena tertarik, Cio San memasuki restoran itu,

“Wah selamat datang tuan…selamat datang..silahkan duduk, mau pesan apa?” sambut si pelayan yang berdiri di depan pintu.

“Apa saja masakan khas restoran ini?” Tanya Cio San sambil tersenyum

“Eh, kami punya berbagai macam masakan, tapi andalan kami adalah bebek peking panggang saus khusus. Juga sayuran manis kuah daging. Itu kesukaan tamu-tamu” jawab si pelayan sambil tersenyum ramah.

“Baiklah, bawakan aku makanan itu ya, dengan semangkok nasi dan seguci teh”

Cio San menunggu lama sekali, baru pesanan itu datang. Dari baunya pun Cio San tahu kalo masakan itu agak hangus. Dan sesuai tebakannya, masakannya rasanya tidak enak!

Perlu waktu yang lama sekali bagi Cio San untuk bisa makan masakan itu. Ia memakannya sedikit-sedikit. Tehnya pun rasanya hambar sekali. Karena tidak kuat akhirnya Cio San berhenti makan.

“Tuan, ada pesanan apa lagi, kami punya beberapa masakan yang patut dicoba” Tanya si pelayan

“Ah tidak, terima kasih, aku sudah kenyang. Berapa harga makanan ini?”

Si pelayan tidak menjawab, ia malah melihat ke arah meja kasir.

Orang yang berada di balik meja kasir itu pun juga tidak menjawab. Hanya melihat Cio San.

“Berapa?” Cio San bertanya sekali lagi masih dengan tersenyum.

“Eh, tuan….eh…” si kasir terbata-bata.

Cio San juga tidak berkata apa-apa. Ia hanya memandang dengan pandangan bertanya.


“Sebenarnya..sebenarnya…” si kasir masih terbata-bata

“Sebenarnya ada apa?” Tanya Cio San. Ia masih tersenyum, walaupun senyumnya kini juga diwarnai rasa ingin tahu.

“Ah aku tidak tahu harus bilang apa….” Kata si kasir.

“Katakan saja apa yang ingin anda katakana, tuan..” kata Cio San

“Bagaimana rasa masakan kami tuan?” Tanya si kasir

Cio San tersenyum, “Aku harus jujur tuan, tukang masak anda sepertinya harus banyak belajar lagi”

Garis wajah sendu di wajah kasir tua itu semakin terlihat.

“Se…sebenarnya..anda adalah pelanggan pertama kami, setelah dua bulan ini” kata kasir

“Dua bulan? Memangnya kenapa” Cio San tidak perlu bertanya, dalam hati dia tahu kalau tidak ada orang yang mau makan makanan yang rasanya seperti tadi.

“Eh….Istriku meninggal 3 bulan yang lalu. Awalnya restoran kami ramai. Tapi setelah dia meninggal, tidak ada lagi yang bisa masak enak.” Kata kasir

“Ah…” Cio San telah paham, “Jadi sekarang siapa yang masak?” Tanya Cio San.

“Anakku, Mey Lan…” kata kasir

“Kenapa engkau tidak menggaji tukang masak saja?” Tanya Cio San lagi

“Sudah ada beberapa kali. Tapi masakan mereka tidak seenak istriku, akhirnya pelanggan banyak yang pergi. Karena sepi, ta kahirnya aku harus memecat tukang masak. Aku tidak sanggup membayar gajinya. Bahkan untuk bertahan hidup kami saja susah sekali”

Tiba-tiba sebuah pikiran muncul di fikiran Cio San.

“Tuan, saya bukanlah seorang juru masak, tapi sedikit banyak saya mengerti cara masak. Bagaimana jika saya bekerja disini. Tuan tidak perlu mambayar saya selama 3 bulan. Jika 3 bulan restoran ini ramai, tuan baru membayar saya. Bagaimana?” kata Cio San

“Hah? Bagaimana bisa begitu? Saya sendiri belum pernah mencoba hasil masakan tuan. Tapi saya yakin tuan bisa masak. Tapi, terus terang saya tidak mungin mengerjakan orang tanpa digaji.”

“Saya adalah pengelana tuan. Saya sudah biasa hidup tak karuan. Begini saja, bagaimana jika saya memasak, dan tuan nilai rasanya. Kalau tidak suka masakan saya, ya sudah, tidak usah pekerjakan saya, tapi jika enak, silahkan pertimbangkan tawaran saya lagi” ujar Cio San.

Si kasir tua berfikir agak lama, lalu berkata, “Baiklah, mari kita ke dapur”

Seperti dugaan Cio San, dapurnya berantakan. Hal pertama yang dilakukan Cio San adalah menata ulang dapur itu. Membereskan peralatan masak, dan melihat bahan-bahan apa saja yang ada. Ia memutuskan untuk membuat masakan yang sama persis dengan yang ia pesan tadi.

Tak butuh waktu yang lama, karena ia bekerja dengan sangat cepat. Si kasir, anak perempuannya, dan si pelayan melihatnya sambil melongo.

Begitu makanan seslesai, dan mereka semua mencicpinya, mata mereka lebih melongo lagi.

“ini…ini..enak sekali” sambil bicara mulut mereka tak berhenti mengunyah.

“Terus terang, aku belum pernah merasakan masakan se enak ini. Mungkin justru lauh lebih enak daripada masakan istriku” kata si kasir masih dengan wajah terkagum-kagum.

“Bagaimana? Tuan menerima tawaran saya?”

“Ah..tapi bagaimana aku bisa menggajimu? Restoran ini sepi sekali, aku juga tidak tahu harus membayarmu berapa” kata si kasir

“Seperti yang saya tawarkan tadi, 3 bulan saya bekerja gratis disini, jika sudah ramai pelanggan baru saya dibayar” jawab Cio San

“Benar tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa tuan. Saya juga sebenarnya sedang mencari pekerjaan.” Jelas Cio San

“Baiklah baiklah. Mulai kapan kau bisa bekerja disini?” Tanya si kasir.

“Mulai sekarang juga bisa, cuma lebih baik besok pagi saja. Sekarang mungkin kita bisa menata ulang restoran, jika tuan tidak keberatan”

Begitulah. Akhirnya Cio San bekerja di restoran tua itu. Mereka berempat mulai menata ulang isi dapur, membersihkan banyak tempat, dan lain-lain. Pekerjaan yang seharusnya sudah dilakukan dari dulu, tapi mungkin semangat baru ini timbul saat kedatangan Cio San.

Cio San mulai memeriksa bahan-bahan apa saja yang tersedia. Ia memberi masukan banyak kepada si kasir. Kasir tua itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh semua saran Cio San. Termasuk membagi-bagi masakan secara gratis di jalan-jalan sebagai bentuk “perkenalan” atas masakan mereka. Walaupun berat si kasir tua itu menyetujuinya juga.

Selain itu Cio San diberi sebuah kamar di dekat dapur. Kamar itu dulunya untuk pegawai, namun kosong karena tidak ada pegawai lain selain si pelayan tadi. Si kasir tinggal bersama anak perempuannya di lantai atas bagian belakang restoran.

Cio San menerima pekerjaan ini dengan hati mantap. Sudah ada banyak rencana di dalam pikirannya.

No comments:

Post a Comment