Monday, December 19, 2011

Bab 1 Duka Datang Bertubi-tubi



Pemandangan dari atas gunung Bu-Tong san memang tiada duanya. Saat ini musim semi, matahari  sore bersinar dengan cerah. Angin sepoi-sepoi menghembus menyejukkan hati siapa saja yang berada diatas gunung ini.

Tapi angin sejuk itu tidak mampu menembus ke dada ratusan murid Bu Tong pai (partai silat Bu-Tong) saat ini. Guru besar mereka, sekaligus pendiri perguran Bu Tong dan juga ketua partai itu, Thio Sam Hong, baru saja meninggal dunia. Beliau adalah salah satu tokoh terbesar pada jamannya. Bahkan kebesaran nama beliau tidak saja menggetarkan dunia kang ouw (dunia persilatan), tapi bahkan juga mampu menembus hati orang-orang biasa, dan rakyat jelata.

Thio Sam Hong memang adalah orang yang sangat dihormati. Para pendekar aliran lurus sangat mengagumi beliau. Tokoh aliran sesat juga kagum, dan gentar mendengar namanya. Thio Sam Hong adalah pencipta ilmu-ilmu hebat. Salah satu ilmu ciptaannya adalah Thay Kek Kun. Ilmu dahsyat ini menggetarkan dunia persilatan, dan jarang bisa ditemui lawannya.

Ia juga adalah seorang tokoh pendeta Tao yang kedalaman pengetahuan agama serta filsafatnya jarang mempunyai tandingan. Banyak orang yang ketika mendengar namanya saja akan tunduk dan merasa takluk.

Selain itu, beliau juga memiliki umur yang sangat panjang. Beliau mencapai umur lebih dari 170 tahun. Konon kabarnya karena ilmu silatnya itu sangat hebat sehingga mempangaruhi usia dan kesehatannya.

Kematian tokoh seperti ini sudah pasti akan menggemparkan seluruh Tionggoan (Cina daratan). Sudah bisa diramalkan berita kematiannya akan membuat dunia Kang ouw gempar. Proses penguburan jenazahnya akan mengundang keramaian besar.

Namun, Thio Sam Hong adalah tokoh bijaksana yang sangat rendah hati. Sebelum kematiannya beliau menulis surat wasiat agar berita kematiannya baru disebarkan ke dunia kang ouw  3 bulan setelah proses pemakaman beliau.

Surat wasiat itu juga menunjuk Lau Tian Liong sebagai Ciangbunjin (ketua) partai yang baru. Murid-murid Butong pay menerima isi surat wasiat itu dengan rasa haru.

Mereka merasa guru besar mereka itu pantas mendapatkan pemakaman seperti seorang kaisar. Namun sang guru memilih dikuburkan dengan suasana yang khidmat. Memang proses pemakaman beliau sangat sederhana. Walaupun dihadiri ratusan murid Bu-Tong Pai, pemakaman itu sakral dan sederhana. Hanya diurusi beberapa orang yang sudah ditunjuk, dan beberapa pendeta Tao yang membaca kitab suci.

Butong pay memang sedang bersedih. Guru besar mereka meninggal. Sedangkan murid-murid hebat mereka banyak yang gugur saat pertempuran melawan bangsa Goan. Saat itu Butong, yang bergabung dengan berbagai perguruan persilatan dari berbagai aliran, memutuskan untuk menumbangkan bangsa penjajah.

Gerakan perlawanan itu dipimpin oleh murid Butong yang paling hebat. Murid legendaris itu berhasil menyatukan berbagai golongan bulim, dan berhasil memimpin perang melawan Goan (mongol). Padahal istrinya sendiri adalah putri dari jendral Goan yang masih punya hubungan saudara dengan Kaisar.
Sebuah penghianatan dari bawahannya, membuat murid terbaik Butong itu kecewa dan mengundurkan diri ke sebuah pulau terpencil beserta istrinya. Kenyataan itu membuat Thio Sam Hong sangat terpukul karena ia menaruh harapan besar terhadap muridnya itu.

Selain bakat yang sangat besar, murid kesayangan Thio Sam Hong itu adalah orang yang sangat lurus sifatnya. Ia juga memiliki ilmu tinggi dari berbagai macam aliran. Namun kerendahan hati membuatnya ia disukai banyak orang, sehingga orang-orang mau mengangkatnya sebagai Bu Lim Beng Cu (pemimpin dunia persilatan).

Murid lain asal Butong memang tidak sehebat murid kesayangan Thio Sam Hong itu, namun mereka juga memiliki ilmu yang dahsyat. Sayang banyak sekali dari mereka yang gugur dalam peperangan sehingga murid-murid yang tersisa di Butong memang bukan mereka yang terlalu istimewa.

Karena kenyataan ini Thio Sam Hong tidak mampu menurunkan ilmu-ilmunya yang paling hebat kepada murid-murid yang tersisa. Ia memang berusaha menurunkan ilmu-ilmu itu, namun bakat dan pemahaman dari murid-muridnya memang tidak ada yang sedalam dan sebesar murid kesayangannya itu.

Setelah sang murid mengasingkan diri ke pulau terpencil, Thio Sam Hong yang sangat kecewa berusaha memendam kekecewaannya, mengucilkan diri dengan menciptakan ilmu-ilmu baru yang lebih dahsyat. Para murid yang mengerti dengan keadaan ini, berusaha untuk tidak menyebut-nyebut nama murid kesayangan Thio Sam Hong itu. Karena sering mereka lihat Thio Sam Hong berubah wajahnya menjadi sedih ketika ia mendengar nama muridnya itu disebut. Akhirnya karena lama tidak disebut, nama murid kesayangan itu mulai terlupakan. Bahkan mungkin kini tidak ada lagi orang yang tau siapa sebenarnya nama sang murid kesayangan itu.

Lau Tian Liong, sang ciangbunjin baru, adalah salah satu dari murid Thio Sam Hong yang paling hebat, yang masih hidup. Ia sudah berusia 70 tahunan. Saat terjadi kejadian besar peperangan pengusiran penjajah Goan itu, ia mungkin baru berusia belasan tahun. Thio Sam Hong sendiri sudah berusia sekitar 100 tahun lebih saat itu.

Lau Tian Long tidak ikut berperang, karena termasuk dalam golongan murid pemula yang masih belum cukup ilmu untuk turun ke kancah perang. Ia memiliki bakat yang besar juga. Thio Sam Hong sudah melihat hal ini, dan mengajarkannya ilmu-ilmu yang sangat tinggi. Sekarang ini memang nama Lau Tian Long juga menggetarkan dunia kang-ouw, karena dianggap sebagai salah satu orang yang paling tinggi ilmunya.


Lau Tian Liong, sang Ciangbunjin baru
Namun tingginya ilmu Lau Tian Liong ini tidak diikuti dengan tingginya ilmu murid-murid Bu-tong saat ini. Oleh sebab itu, tepat setelah 3 bulan, batas yang diberikan Thio Sam Hong untuk memulai memberitakan kabar kematiannya ke dunia ramai, ia juga memerintahkan murid-murid utama Bu-tong untuk mulai mencari murid lebih banyak lagi.

Para calon murid ini harus memiliki bakat yang besar, dari keluarga yang lurus dan berasal-usul jelas. Orang-orang yang ditugaskan untuk mengumpulkan murid ini adalah murid dari angkatan ketiga. Mereka ini adalah terdiri dari murid-murid hebat yang ditugaskan untuk berkelana ke segala penjuru Tionggoan untuk menegakkan kebenaran. Tegasnya, mereka adalah pendekar-pendekar yang turun langsung ke dunia kang ouw.

Murid yang bisa tembus sampai angkatan ke 3, adalah murid-murid yang sangat hebat. Dalam Bu-Tong Pay, ada 7 angkatan. Angkatan ke 7 adalah angkatan pemula. Begitu seterusnya sampai keatas. Mereka yang ingin naik angkatan harus melewati ujian berat. Jika tidak lolos maka ia diberi kesempatan mencoba sampai 3 kali. Jika 3 kali itu tidak lulus, maka ia tidak bisa lagi naik tingkat, dan selamanya menjadi murid angkatan itu.

Mereka yang bisa lolos sampai angkatan ke 3, hanya beberapa orang. Mungkin tidak sampai 20 orang. Untuk bisa naik menjadi angkatan ke 2, mereka harus turun gunung. Berkelana selama bertahun-tahun. Membantu rakyat dengan ilmu yang sudah mereka miliki. Setelah itu baru mereka berhak mengikuti ujian naik ke tingkat ke 2.

Tujuh orang terbaik dari angkatan ke 3 ini akan dilatih ilmu barisan pedang Butong yang sangat terkenal itu. Ke 7 orang ini tidak turun gunung, dan menetap di Butong sebagai penjaga utama perguruan ini. Sedangkan sisanya, diwajibkan turun gunung, mengabdi untuk rakyat.

Tugas baru untuk mencari murid-murid berbakat ini dibebankan kepada mereka yang turun gunung, termasuk Tan Hoat. Dia adalah salah satu murid Butong yang namanya mulai terkenal di dunia kang-ouw. Tindak tanduknya yang gagah membuat nama besar Butong semakin disegani.
Tan Hoat

Hari itu hari yang cerah, ia menyusuri padang rumput di sebuah desa terpencil. Perintah dari ciangbunjinnya yang baru sudah ia dengar. Cara anggota Butong menyampaikan berita memang unik. Jika pusat perguruan menurunkan perintah atau berita, maka cukup satu orang saja membawa kabar itu ke sebuah desa di kaki gunung. Tidak sampai 5 hari, berita itu sudah tersebar luas di Bulim (kalangan kaum persilatan). Kebesaran dan ketenaran Butong memang jarang ada bandingannya.

Itu termasuk berita-berita rahasia. Para murid angkatan Bu-tong memiliki sandi-sandi rahasia dan bahasa-bahasa tertentu yang hanya bisa dipahami mereka. Setiap angkatan memiliki sandi rahasia tersendiri. Biasanya sandi atau pesan-pesan rahasia ini tertulis di tempat yang sering dilewati orang namun tidak mudah untuk diperhatikan.

Begitulah cara mereka bertukar berita. Begitu pulalah cara Tan Hoat menerima berita kematian guru besar, dan perintah mencari murid. Sebenarnya ia ingin pulang secepatnya untuk menziarahi makam gurunya, namun perintah ketua Lau mengharuskannya mencari murid dulu. Sebelum mendapatkan murid hebat, maka para murid tidak diijinkan naik ke Butong san.

Perasaannya sedih sekali. Kecintaan rakyat jelata kepada mendiang Thio Sam Hong saja sudah besar sekali. Apalagi kecintaan para muridnya sendiri. Itulah mengapa Tan Hoat merasa terharu dan sedih sekali. Ia bangga menjadi murid Butong. Sepanjang jalan, ia mendengar nama Thio Sam Hong disebut-sebut dengan penuh rasa hormat.

Di mana-mana orang-orang berdoa untuk kedamaian arwah Thio Sam Hong. Dimana-mana orang memuji-mujinya. Tan Hoat bangga dan terharu. Kabar beritanya sendiri ia lihat melalui goresan pedang di pintu sebuah rumah makan di kotaraja . Goresan pedang itu kecil saja. Tidak akan kelihatan jika mata tidak awas. Tapi sebagai murid Butong angkatan ketiga, hal-hal begini sudah menjadi bagian hidupnya sehari-hari.

Membaca pesan-pesan rahasia itu hatinya bagai teriris-iris. Tapi sebagai pendekar, ia sudah mampu menahan perasaannya. Ia tidak meneteskan airmatanya di tengah keramaian. Ia berlari secepatnya. Namun begitu sampai di luar gerbang ibukota, air matanya tumpah bagai air bah.

Butuh waktu lama sekali bagi Tan Hot untuk menguras air matanya. Baru ketika ia sudah merasa tenang dan kuat. Ia melanjutkan lagi perjalanannya. Kali ini ia punya tugas baru dari sang pangcu. Mencari murid baru. Padahal ia sedang dalam perjalanan menumpas perampok-perampok yang mulai berani menggerayangi ibu kota.

Tan Hoat memutuskan untuk mengunjungi rumah salah seorang kerabatnya, bernama Cio Kim. Cio kim adalah sahabat lama Tan Hot sejak mereka masih kecil. Ayah Cio Kim adalah salah seorang pemimpin pasukan perlawanan yang berhasil mengusir penjajah. Ia berfikir mungkin ayah Cio Kim belum mendengar kabar meninggalnya Thio Sam Hong.

Desa di mana rumah Cio Kim adalah sebuah desa yang terkenal. Para penghuni desa ini adalah para petani yang berhasil membangun pertanian mereka menjadi sebuah perdagangan yang lumayan besar. Mereka membentuk perkumpulan tani yang berhasil mengurusi hasil tani mereka dengan baik. Pengelolaan yang baik ini membuat desa mereka makmur, dan sangat terkenal di Tionggoan.

Bagitu menyusuri padang rumput yang luas, Tan Hoat teringat pada masa kecilnya. Ia adalah anak seorang petani. Keluarganya bukan asli orang desa itu, tapi merupakan perantauan dari daerah lain. Karena mendengar nama desa itu yang terkenal, ayahnya memutuskan untuk memboyong keluarganya kesana dan mulai berusaha disana.

Di sanalah Tan Hoat yang baru berusia 10 tahun itu bertemu dengan Cio Kim. Mereka yang memang seumur memang langsung akrab. Setelah itu mereka menjadi sahabat dekat. Ayah Cio Kim adalah kepala desa.

Pergolakan perang pengusiran bangsa Goan, membuat ayah Cio Kim yang bernama Cio Hong Lim bergabung dengan tentara perlawanan. Dengan bakat dan kecerdasannya, Cio Hong Lim malah mempunyai pangkat tinggi dalam ketentaraan itu, padahal ia memang tidak bisa ilmu silat.

Cio Hong Lim memiliki otak yang sangat cerdas, sehingga ia diangkat menjadi ahli strategi. Ia bahkan menjadi salah satu tokoh penting berhasilnya pengusiran itu. Tidak seperti kebanyakan orang, ia memilih mundur dari jabatannya setelah perjuangan selesai. Ia memilih bertani, membangun perkumpulan petani yang dulu sempat terbengkalai di jaman perjuangan itu.

Usahanya kemudian berhasil. Desanya berkembang lagi. Sejak saat itu Cio Hong Lim menjadi orang yang termasuk kaya. Kekayaan yang didapatkannya secara jujur, melalui kerja keras.

Ayah Tan Hoat sendiri, yang bernama Tan Leng meninggal beberapa bulan setelah sebelumnya ibu Tan Hoat juga meninggal karena sakit. Kepergian ayah Tan Hoat itu mungkin disebabkan rasa cinta yang mendalam dan kesedihan karena ditinggal ibu Tan Hoat.

Sejak saat itu Tan Hoat menjadi yatim piatu di usia 15 tahun. Ia kemudian diasuh oleh keluarga Cio selama hampir setahun. Oleh Cio Hong Lim, Tan Hot dikirimkan ke perguruan Butong pay. Posisinya dulu saat menjadi ahli strategi membuatnya dekat dan kagum dengan para pendekar Butong. Cio Hong Lim sendiri, walaupun tidak menyukai ilmu silat, mempunyai pandangan yang luas. Ia melihat Tan Hot memiliki bakat unutk mempelajari ilmu silat, sehingga mengirimkannya ke Butong.

Cio Hong Lim tidak memaksakan pandangannya yang anti ilmu silat itu terhadap Tan Hoat. Bahkan juga kepada anaknya semata wayang, Cio Kim. Namun Cio Kim memang tidak memiliki bakat ilmu silat. Cio Kim malah memiliki otak cerdas sehingga Cio Hong Lim mengirimkannya belajar ke ibukota dan mendapat gelar siucai (sastrawan).


Kini Tan Hot sudah berusia 32 tahun. Ia belum menikah. Pada jaman itu, usia begitu sudah dianggap sangat terlambat untuk menikah. Tan Hoat sendiripun tidak perduli. Walaupun tidak ada larangan menikah bagi anggota Butong angkatan ke 3, Tan Hoat sendiri memang lebih suka menjadi bujang. Menurutnya itu malah membuatnya bisa lebih bebas dan tidak terikat.

Walaupun sudah menjadi murid Butongpay, dulu Tan Hot beberapa kali masih sempat mengunjungi desa itu. Yang pertama, saat ia menemani salah seorang gurunya mengerjakan sebuah keperluan. Dan yang kedua, saat ia menjadi murid angkatan ke 3 dan turun gunung untuk pertama kalinya. Itu sudah 7 atau 8 tahun yang lalu.

Desanya pun tidak banyak berubah. Walaupun ini desa yang makmur, penduduknya tidak serta merta langsung berubah gaya hidupnya bergaya seperti saudagar kaya. Memang ada beberapa yang seperti itu. Namun sifat sebagian besar penduduknya yang sederhana, membuat desa itu tetap asri walaupun diakui sebagai salah satu desa yang paling makmur di Tionggoan.

Setelah melintasi padang rumput, kini Tan Hoat menyusuri jalan setapak menuju desanya. Tadi saat di padang rumput, desanya terlihat dari jauh. Kini semakin dekat, rasa haru yang ada di hati Tan Hoat semakin menguat. 

Begitu sampai di gerbang desa. Ia sudah disambut oleh beberapa penduduk desa yang sedang menggarap sawah. Sebagai 'bekas' penduduk desa itu, apalagi ia murid perguruan Butong, ia memang lumayan dikenal di desa itu.

Setelah mengucap salam, dan menanyakan kabar orang-orang yang tadi menyapanya, ia menanyakan kabar keluarga Cio.

Wajah orang-orang itu segera berubah. Kata mereka, “Tan-tayhiap (pendekar Tan) belum dengar? Wah kalau begitu tayhiap secepatnya saja kesana”

“Memangnya ada apa?” tanya Tan Hoat penasaran

“Lebih baik tayhiap kesana dulu. Nanti pasti ada yang bercerita disana....” jawab salah seorang penduduk desa dengan wajah khawatir.

Penasaran, Tan Hoat segera menggunakan Ginkang (ilmu meringankan tubuh). Nalurinya sebagai seorang pendekar mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Ia berlari. Bahkan mungkin melayang. Karena kakinya hanya menginjak tanah sekali-kali. Orang-orang desa hanya melihat kelebatan bayangan. Tapi mereka tidak tahu bayangan apa itu sebenarnya yang baru melewati mereka.

Sebuah belokan lagi, Tan Hoat tiba di depan rumah keluarga Cio. Begitu ia berbelok, ia kaget setengah mati. Tempat yang dulunya berdiri rumah keluarga Cio sudah ksosng melompong. Tidak ada lagi rumah di tempat itu. Berganti onggokan kayu-kayu kering bekas terbakar.

Seorang penduduk yang kebetulan lewat disitu mengenal Tan Hoat, “Ah Tan-tayhiap baru datang rupanya”

“A..apa yang sudah terjadi? Apakah ada kebakaran?” tanya Tan Hoat terbata-bata

“Bukan kebakaran tayhiap...bukan kebakaran...” jawab orang itu

“Lalu apa?” tanya Tan Hoat lagi penasaran

“Bencana besar...rumah Cio-wangwe (saudagar Cio) dirampok orang” orang itu menjawab juga dengan terbata-bata

“Siapa yang berani?” Dalam amarahnya Tan Hoat mengerahkan tenaga dalamnya sambil menghentakkan kakinya. Orang di depannya merasa seperti sebuah gempa bumi dahsyat sedang terjadi

“ti..tidak tahu..tayhiap..., kejadiannya cepat, sekali” jawab orang itu kini ketakutan

“Lalu dimana keluarga Cio sekarang?” tanya Tan Hoat lagi, kegarangannya belum berkurang

“Su..su..sudah....” ia terbata-bata

“Sudah apa?” Tan Hoat sudah maju mendekat orang itu

Orang itu ketakutan, tanpa sengaja ia mundur perlahan-lahan

“Su...sudah...” ia ketakutan

Menyadari orang yang dihadapannya itu ketakuitan, Tan Hoat mulai menghaluskan bahasanya,

“Jawablah lopek (orang tua), tidak usah takut, maaf tadi saya tidak bisa menjaga aturan...” kata Tan Hoat

“Su..sudah meninggal semua tayhiap” jawab orang itu

“Apa?” kata-kata itu keluar bersamaan dengan jatuhnya tubuh Tan Hoat ke tanah. Ia berlutut matanya memandang ke tanah. Ia seperti tidak percaya atas apa yang didengarnya.

Berita kematian guru besar Thio Sam Hong saja sudah menguras tenaganya. Ia butuh waktu lama untuk bisa menguasai hatinya. Bahkan sepanjang perjalanan dari ibukota ke desa ini, yang membutuhkan waktu 5 hari, ia kadang menangis. Kini ditambah lagi berita ini, Tan Hoat seperti kehilangan separuh nyawanya. Kekuatan hati yang berusaha dikumpulkannya sepanjang perjalanan akhirnya hilang, buyar begitu saja. Tan Hoat lemas seketika.

Lopek di depannya kemudian mengangkatnya dan menuntunnya ke dalam rumahnya. Diletakkannya Tan Hoat diatas dipan, dan ia mengambil air dan memberikannya pada Tan Hoat.

“Minumlah, mungkin bisa membuatmu sedikit tenang” kata si orang tua itu

“Maaf saya tidak bisa menahan diri lopek” jawab Tan hoat, ia masih berbaring diatas dipan. Tapi kesadaran jiwanya sudah mulai ia coba pulihkan, lanjutnya “Saya mengalami hal-hal besar akhir-akhir ini sehingga tidak mampu menguasai diri lagi, lopek. Maafkan saya lopek”

“Tidak apa-apa tayhiap. Sejak tayhiap masih kecil aku sudah kenal tayhiap. Aku dulu bekerja sebagai buruh Cio-wangwe. Tapi setelah punya uang, aku membuka sawahku sendiri” kata lopek itu, ia meneruskan, “Tan-tayhiap adalah kebanggaan desa ini. Kau maafkanlah aku yang tidak bisa berbuat apa-apa atas kejadian keluarga Cio-wangwe”

“Sebenarnya bagaimana kejadiannya?” tanya Tan Hoat, ia bertanya sambil bangun untuk duduk.

“Kejadiannya berlangsung cepat. Ada rombongan perampok yang masuk desa ini. Jumlahnya puluhan orang. Mereka memakai topeng. Ilmu silat mereka tinggi sekali. Kami orang desa yang mencoba melawan tidak bisa melakukan apa-apa. Kami dibekuk dan diikat.” kisah si lopek

“Kapan kejadiannya? Kenapa aku tidak pernah mendengar” tanya Tan Hoat

“Baru beberapa hari tayhiap. Mungkin baru 4 atau 5 hari. Kami sudah mengirim laporan ke kotaraja. Mungkin dalam beberapa hari mereka akan mengirimkan petugas-petugas kemari.” jawab lopek itu.

Tan Hoat bertanya-tanya dalam hati. Kenapa ia tidak mendengar kabar perampokan ini. Cio wangwe adalah tokoh yang lumayan terkenal. Jasa-jasanya dalam perjuangan membuat ia patut mendapat pemakaman layaknya pahlawan negara. Tapi Tan Hoat akhirnya paham bahwa kabar ini tertutupi oleh kabar kematian mendiang guru besarnya sendiri, Thio Sam Hong.

“Benar tidak ada keluarga tersisa? Cio Kim bagaimana?” tanya Tan Hoat

“Kami sudah mengirim orang untuk memberitahukan kabar ini kepadanya, dalam beberapa hari ini Cio-siucai pasti sudah kesini.

“Syukurlah. Kupikir ia berada disini juga menjadi korban. Dimana dia tinggal sekarang? Terakhir yang ku tahu ia tinggal di sini” tanya Tan Hoat lagi

“Beliau pindah mengikuti istrinya”

“Ke tempat Li Swat Ing? Dimana itu? Apakah di Gobipay (partai Gobi)?”

“Iya, beliau ikut Li-liehiap [pendekar wanita Li] ke puncak Go bi. Dengar-dengar ketua Gobi sedang sakit keras dan memerintahkan seluruh murid Gobipay untuk kembali” jawab lopek itu

“Ah iya benar. Kenapa aku bisa lupa. Aku dengar Gobi-ciangbunjin (ketua partai Gobi) memang sedang sakit keras beberapa tahun ini. Jadi Cio Kim ikut ke Gobi?”

“Iya benar. Menurut kabar yang saya dengar, mereka sekeluarga tinggal di kaki gunung Gobi, jadi bila ada apa-apa Li-liehiap bisa langsung naik ke atas” kata lopek.

Tan Hoat menghela napas, pikirannya berkecamuk. Ia memikirkan langkah-langkah yang harus ia lakukan,

“Apakah penguburan Cio-wangwe sudah dilaksanakan?" tanyanya tiba-tiba

“Sudah tayhiap. Kondisi mayat mereka mengenaskan. Mereka diikat dan dibakar hidup-hidup. Kami langsung menguburkan mayat mereka begitu para perampok itu kabur” jawab si lopek

“Tolong antarkan aku ke kuburan mereka” kata Tan Hoat menahan kegeramannya. Hatinya membayangkan penderitaan Cio-wangwe sekeluarga

“Baiklah. Mari ikut saya”

Kuburan anggota keluarga Cio-wangwe terletak di halaman belakang rumah mereka sendiri. Mereka dikumpulkan dalam satu liang, karena kondisi mayat mereka tidak lagi dapat dibedakan. Si Lopek menceritakan hal itu kepada Tan Hoat, yang mendengarkannya sambil meneteskan air mata.

Hatinya teringat Cio Kim. Bagaimana perasaannya mendengar kabar pembantaian ini. Tan Hoat ikut bersedih pula memikirkan nasib Cio Kim

Saat pikirannya melayang-layang itulah terdengar suara orang minta tolong,

“Tolong...tolong” gaduh sekali karena ketambahan lagi suara orang yang minta tolong.

Secepat kilat Tan Hoat berlari ke arah suara gaduh itu.

Ternyata suara itu berasal dari gerbang selatan desa. Tan Hoat berlari kesana. Nampak penduduk desa sedang mengelilingi kuda dan keretanya.

Alangkah kagetnya hati Tan Hoat ketika melihat isi kereta itu adalah Cio Kim beserta istrinya. Mereka sudah berlumuran darah. Tapi masih hidup. Walaupun wajah Cio Kim berlumuran darah, Tan Hoat masih mengenal wajah saudara angkatnya ini.

“Cio Kim apa yang terjadi?..ya Tuhan..apa yang terjadi?” Tan Hoat bertanya sambil menyalurkan tenaga murni ke dada Cio Kim

“Jangan..salurkan ke istriku saja...” kata Cio Kim. Walaupun tidak mengerti ilmu silat, istrinya adalah seorang pendekar, tentunya Cio Kim paham maksud tindakan Tan Hoat

Segera Tan Hoat menyalurkan tenaga dalamnya melalui punggung Li Swat Ing. Saat itu posisinya memang tidur tertelungkup. Tubuh Li Swat Ing sudah penuh luka bacokan. Darah ada dimana-mana. Keadaannya mungkin lebih parah dari suaminya

“Selamatkan anakku...selamatkan anakku” kata Li Swat Ing terbata-bata

Ternyata ia menelungkup sambil memeluk anaknya. Beberapa penduduk langsung mengangkat anak ini. Ia menangis meraung-raung saat dipisahkan dari pelukan ibunya

“Aku mau ibu..aku mau ibu..” tangisnya

“Sudahlah Tan-tayhiap....jangan memaksa diri...aku sudah tidak mungkin tertolong” kata Li Swat Ing. Dengan perlahan ia mendorong tangan Tan Hoat.

“Siapa yang melakukan ini semua?” tanya Tan Hoat

“Tidak tahu....kami diserbu orang ditengah jalan...enam sampai 8 orang. Koko (kakak, panggilannya terhadap suami) terus menggeber kuda...aku menahan penyerang-penyerang itu...” jawab Li Swat Ing. Nafasnya sudah satu-satu.

“Aku titip anakku kepadamu. Bawa dia ke Butong...” kata Cio Kim

“Thia...(ayah)...” teriak sang anak yang sedang dalam gendongan salah seorang penduduk.

“San-ji ('Ji' adalah panggilan untuk anak),...kau jadilah manusia yang baik...jangan jadi orang pendendam...tidak usah kau balas ini. Semua terjadi ada karmanya...tidak usah kau teruskan dendam mendendam...” kata Cio Kim kepada anaknya.

“Thia...thia...Cio san dengar thia....”

“Kau harus patuh kepada Tan-Gihu..mulai sekarang dia adalah Gihu (ayah angkat) mu....” kata Cio Kim

“Iya thia...” si anak menjawab sambil menangis

“Ayah pergi dulu..ingat kata-kata ayah ya...., Ing-moay aku pergi duluan...ku tunggu kamu adindaku sayang” Cio Kim mengecup kening istrinya dengan bersusah payah, saat itu juga nyawanya melayang pergi.

Li Swat Ing tersenyum, ia seperti berbicara kepada arwah suaminya, “Aku bahagia bisa mati bersamamu koko...” ia lalu menoleh kepada Tan Hoat

“Tan-tayhiap di Gobi-san ada..ada” Li Swat Ing terbata-bata

“Ada apa Li-liehiap?” tanya Tan Hoat

“Ada..ada...” nafasnya berhenti

“Ayah....ibu......” tangisan si kecil membahana. Tangisan orang-orang desa pun membahana.

Hari ini adalah hari yang terlalu berat bagi Tan Hoat. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

No comments:

Post a Comment